Hari mulai beranjak siang ketika kami meninggalkan rumah salah seorang sahabat, Sari Marlina, penggiat wisata dan budaya khususnya di Lampung Timur.  Dari rumahnya di Labuhan Ratu, kami mencapai Desa Sriminosari sekitar 1.5jam perjalanan darat.  Jarak 55km dengan bonus jalan berkawah kecil disana-sini jadi kenangan tersendiri ketika kita melalui jalur antar provinsi di Lampung.  Jalan yang harus kami lewati untuk mencapai Sriminosari.

Saya sangat jarang berkunjung ke area hutan bakau karena sebagian besar hidup banyak dihabiskan jauh dari laut.  Plus sepertinya tidak banyak hutan bakau di Indonesia yang serius disiapkan sebagai daerah tujuan wisata.  Jadi ketika mendengar bahwa kami akan diajak mengunjungi hutan bakau yang “sudah jadi” tempat wisata, saya merasakan semangat yang luar biasa.

Setelah 1 hari sebelumnya kami batal mampir ke Sriminosari karena keterbatasan waktu, pagi itu kunjungan pertama di hari kedua kami berada di Lampung Timur adalah menikmati waktu-waktu berharga untuk sebuah Ekowisata yang sudah terkelola dengan baik oleh Koperasi Konsumen Nelayan Rukun Sido Mampir.  Koperasi inilah yang secara mandiri dan professional mengelola tempat wisata ini.  Atas biaya sendiri dan berdiri di atas kerjasama para anggotanya, Ekowisata Mangrove mencetak kesuksesan baik dari segi financial maupun dari jumlah pengunjung.

Pemandangan Hutan Bakau di bagian depan dekat pintu masuk

Parkir di ujung kampung berpayung pohon-pohon tinggi, kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki motor melalui jalan sepanjang kira-kira 300 meter dan melintas persawahan yang tampak sedang kering di kiri dan kanan jalan.  Jalur yang kami lalui sudah dibeton selebar kurang lebih 2 meter.  Pas untuk lalu lalang 2 sepeda motor.

Sekitar 5 menit kemudian, kami sampai di bagian depan.  Terlihat sebuah rumah bambu kecil yang melayani pembayaran HTM senilai Rp 5.000,-/orang.  Saya sempat takjub ketika Ibu Wahyu, pendamping kami saat itu, memberitahukan bahwa pada saat libur lebaran, kawasan wisata ini mampu mendulang pendapatan 10juta rupiah.  Waaahh, dengan HTM yang murah begitu berapa banyak ya jumlah pengunjungnya?

Menunggu Ibu Wahyu berkoordinasi dengan beberapa petugas jaga dan teman-teman yang datang satu persatu, saya memperhatikan jalan setapak bambu dengan pegangan kayu yang diwarna dengan hiasan payung dan bunga-bunga artificial.  Dibangun sebuah gerbang bambu tinggi dengan tali berjuntai.  Air yang mengelilingi kawasan ini terlihat surut hingga memunculkan akar-akar pohon bakau di sana sini.

Melewati gerbang ini, terhampar hutan bakau luas di setiap sisi jalan setapak bambu yang tertancap sepanjang 800 meter.  Tak jauh dari gerbang masuk, di sisi kiri disediakan beberapa area untuk foto-foto.  Unik serba bambu dan istagenic.  Satu yang paling saya suka adalah hiasan/dekorasi berbentuk hati, lagi-lagi terbuat dari bambu dengan beberapa bunga pink bernuansa romantis.

 

 

Apa itu Mangrove dan Hutan Mangrove?

Sebelum melanjutkan penjelajahan menyusuri pijakan bambu, yok kita sedikit menambah pengetahuan yang bisa disimak dari IG @mangrove_sriminosari.

Mangrove sejatinya adalah bukan nama tumbuhan.  Kata mangrove berasal dari kata MANGUE (bahasa Portugis) yang berarti tumbuhan dengan GROVE (Bahasa Inggris) yang berarti belukar.  Hutan Mangrove adalah suatu kelompok jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis dan subtropis yang terlindung dan memeliki semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob.  Salah satu ciri tanaman mangrove adalah memiliki akar yang menyembul ke permukaan.  Penampakan mangrove seperti hamparan semak belukar yang memisahkan daratan dengan lautan.

Manfaat Mangrove

Berikut adalah manfaat dan peranan Hutan Mangrove bagi lingkungan dan kehidupan: 1. Mencegah Intrusi Air Laut, 2. Mencegah erosi dan abrasi pantai, 3. Sebagai pencegah dan penyaring alami, 4. Sebagai tempat hidup dan sumber makanan bagi beberapa jenis satwa, 5. Berperan dalam pembentukan pulau dan menstabilkan daerah pesisir, 6. Memberikan dampak ekonomi yang luas, 7. Sumber plasmanutfah (kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi), 8. Sarana pendidikan dan penelitian, 9. Rekreasi dan Pariwisata, dan 10. Penyerap karbon

Nah, jadi dah pada tau kan ya apa itu hutan mangrove dan mengapa kita wajib melestarikan ekowisata yang sangat berharga bagi alam semesta.  Sekarang mari kita lanjutkan hasil eksplorasi di destinasi wisata ini.

Melewati beberapa ratus meter dari tempat foto-foto tadi, mata akan dimanjakan dengan pohon-pohon tinggi dan ribuan akar-akar bakau yang menyembul ke atas karena surutnya air laut di sekitar sini.  Menambah cantik suasana, pengelola memasang payung warna warni di sepanjang jalan.  Derit bambu yang terpijak memunculkan sensasi tersendiri.  Saya sempat bertanya apakah jalinan bambu ini cukup kuat menampung pengunjung yang membludak.  Pertanyaan ini dijawab dengan yakin oleh Ibu Wahyu.  Menurut beliau, bambu yang dipakai dan dianyam dengan padat sangat sesuai dengan kondisi hutan bakau.  Jadi kita tidak perlu khawatir.

 

 

Mendekat ke laut, hutan bakau pun terlihat tumbuh lebat dan sehat.  Kami pun kemudian disambut oleh beberapa pondokan-pondokan yang berjejer rapih dan disediakan khusus untuk duduk-duduk sembari menikmati beberapa panganan dan minuman segar oleh beberapa resto/warung berukuran kecil.  Rombongan kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk ngobrol ngalur ngidul, bersenda gurau, dan tentu saja menikmati bergelas-gelas juice segar dan pisang goreng yang nikmat tiada tara.  Entah karena lapar atau memang pisgor nya enak, pesanan pun mengalir berbungkus-bungkus.  Wajahpun tersapu hembusan angin yang bakal jarang dirasakan kalo tidak kemari.  Kenyang dan bikin ngantuk.  Seandainya disediakan bantal, mungkin saya bisa tepar di tempat ini berjam-jam.

Pisang goreng crispy coklat keju yang nikmat maksimal. Foto courtesy dari Atanasia Rian

Puas menjalin keakraban dan ngoceh dengan ribuan topik, plus sudah ditunggu untuk mampir ke rumah Ibu Wahyu yang sudah siap dengan aneka hidangan laut, kami pun menyeret langkah untuk segera beranjak.  Dari obrolan yang panjang ini, kami mendapatkan info bahwa jembatan bambu akan diperpanjang hingga 1.000 meter, menyentuh pinggir laut.  Pondokan-pondokan besar dalam jumlah lebih banyak pun akan dibangun untuk mengakomodir para pewisata yang semakin membludak dari hari ke hari.  Tentu saja dengan tetap mempertahankan keasrian lingkungan dan menjaga agar ekosistem yang sudah terbangun dapat bertahan dan terjaga dengan baik.

Kembali mengutip tulisan yang ada di IG @mangrove_sriminosari, kawasan ini kaya sekali akan sumber daya alam.  Ada beberapa hewan khas ekosistem mangrove, seperti beberapa jenis kepiting.  Salah satunya adalah kepiting bakau, tumbuhan khas pesisir seperti pohon api-api, bakau, jeruju, dll.  Ada pula beberapa jenis burung pantai dan ikan glodok yang menjadi maskot Ekowisata Mangrove dan hobi menari-nari di atas lumpur.  Fasilitas lain yang juga disediakan adalah track mangrove yang bisa membawa kita ke sebuah pulau kecil, gazebo (tempat kami berleha-leha), saung kuliner, mushola, MCK, dan beberapa perahu untuk berkeliling area wisata.

Saya sudah kesini.  Kamu kapan?

 

 

 

Facebook Comment