“Salah satu tempat nongkrong/hangout yang tetap (baca: lagi) hits di Bali.  Lo wajib foto-foto dan meninggalkan jejak di sana An”, begitu pesan salah seorang teman, blogger yang rajin berburu tempat-tempat unik dimanapun, terutama di beberapa daerah wisata penuh kejutan seperti Bali.  Dari dialah akhirnya meluncur beberapa foto yang bener-bener menggelitik jiwa.  Wah, bener nih, keknya kudu sampe sini kalo pas ke Bali.

Motel Mexicola Official Website | www.motelmexicolabali.com

Menggali info dari website milik Mexicola, mengejar waktu buka pkl. 11:00 wita, ternyata rada susah kalo dibarengin dengan kegiatan bekerja.  Kudune, cari waktu yang bener-bener free, holiday time, biar langsung ngelencer ke sana dulu sebelum pergi ke tempat lain.

Tapi nyatanya, berulangkali niatan datang siang, tetep aja kalah dengan pertimbangan menjelajah alam selama langit cerah, dibanding dengan harus setor muka ke sebuah cafe pagi-pagi.  Apalagi saat itu saya harus menemani seorang teman dari Jerman yang rutin liburan ke Bali sekali dalam setahun dan pengen mlaku-mlaku dulu ngukur jalan.  Jadilah akhirnya, kami baru berhasil menjejakkan kaki di Mexicola buat makan malam.

Dekorasi khas Mexico jalanan menyambut pengunjung di area depan

Bermodalkan 50rb naik Uber dari rumah di Denpasar menuju daerah Petitenget, Seminyak, kami bertiga (saya, Mbak Yayuk, dan Michael) menembus kemacetan khas daerah hiburan malam di Bali.  Menelusuri jalanan dengan ukuran pas 2 arah 2 mobil dengan beberapa titik parkir motor yang mendominasi badan jalan, kami akhirnya sampai di Mexicola dalam 1 jam perjalanan.

Lampu kelap kelip berkilauan tampak dari kejauhan.  Kerumunan manusia berjejer di pintu masuk.  Sigap melayani pengunjung yang semakin tumpah ruah dan mengurai kemacetan, beberapa security  berjaga di halaman depan.  Bijak menyediakan satu tempat khusus untuk turun naik mobil tanpa harus mengganggu kendaraan yang lalu lalang, Mexicola patut dicontoh oleh club/cafe lain yang seringkali tidak memikirkan soal ini.

Menginjakkan kaki di pintu masuk, seorang waitress menggiring kami ke lantai atas.  Melewati area dekorasi dengan pernak pernik ala Latino di bagian tengah lobby dan counter yang menjual aneka gift (kaos, mug, dll), sambutan musik hingar bingar pun mendakak merasuk gendang telinga.

Lantai dasar | Area pintu masuk | Tampak outlet kecil yang menawarkan beberapa gift seperti kaos, mug, pin, dll

Lantai dasar sudah penuh dengan pengunjung. Tampak puluhan pelayan sibuk mondar mandir membawa baki.  Nyaris berlari bukan berjalan saking sibuknya. Menebarkan pandangan sejenak sambil melangkah ke lantai atas, terlihat dinding warna warni dengan sorotan lampu menyempurnakan tampilan cafe.  Mendadak teringat sebuah film horor  yang kalo tidak salah judulnya “From Dark Till Down””, film tentang sekelompok vampire haus darah di dalam sebuah cafe, yang kira-kira interiornya (hampir) mirip dengan Mexicola hahahahaha.

Thanks buat waitressnya.  Mengarahkan kami untuk duduk di lantai atas adalah sebuah keputusan yang tepat.  Selain tidak terlalu pekak karena suara musik yang keras, duduk di sini, persis di pinggir pagar pembatas, membuat kami gampang menghamburkan pandangan sambil menikmati indahnya interior sarat warna.  Apalagi dari tempat kami duduk, terlihat jelas sebuah dinding dan tangga fenomenal yang menjadi A Must Spot To Picture.  Wah keren nih.

Tangga dan dinding yang jadi spot foto favorit pengunjung

Memutuskan untuk memesan makan terlebih dahulu sebelum keliling berfoto ternyata perlu waktu juga.  Makan di resto Mexico yang hanya dalam hitungan jari seumur hidup dan banyaknya pilihan menu yang tersedia dengan istilah-istilah yang tidak dikenal, bikin acara menentukan asupan jadi pe-er tersendiri.  Jangankan kami, Mike yang sudah keliling duniapun, tampak mengerutkan dahi membaca halaman demi halaman buku menu.  Waahh alamat lama ini sih.

Dan benar saja, sampe 30menit kemudian, tak ada seorangpun dari kami yang bener-bener jejeg sama pilihan makanan.  Bolak balik nanya ke Mas pelayan yang setia berdiri di dekat kami pun, nyatanya malah menambah keruwetan hahahahaha.  Saya pun akhirnya menyampaikan jurus pamungkas “Wes Mas, tolong pilihkan aja, yang penting halal buat saya”.

Rampung mengambil keputusan soal makan dan minum, saya dan Mbak Yayuk bergegas meninggalkan meja dan Mike yang masih bingung mau makan apa.  Bahkan sampe kami kembali pun, bujangan 45tahun penggemar masakan Indonesia ini belum berhasil memesan apa-apa kecuali bergelas-gelas Coke kegemarannya.  Rempong bener dah ah hahahahaha.

Makanan pesanan saya | Enak | Tapi saya lupa judulnya

 

Memotret di tengah Keramaian

Sebelum menjelajah lantai dasar, saya menyapu pandangan di lantai ini.  Sebuah bar panjang menemani beberapa meja panjang yang dicat rustique.  Padat dan penuh bahkan nyaris sempit dengan space lalu lalang yang pas-pasan banget.  Sepertinya memang disiapkan untuk mengakomodir pengunjung yang jumlahnya banyak.

Di dekat meja kami, dekat tangga, ada sebuah dinding dengan lukisan padat warna plus frame foto yang ditempel bebas tanpa aturan.  Rada sulit memfoto dinding ini karena meja-meja di depannya beralaskan kaca yang membuat timbunan dekorasi silau terpantul cahaya.

Melangkah pelan ke area utama di lantai dasar, kami disambut dengan keriuhan luar biasa.  Selain kami hanya terlihat sedikit orang Asia.  Dominan terdengar bahasa-bahasa warga Eropa karena memang di bulan kami berkunjung memang waktunya liburan di sana.

Kondisi yang penuh sesak dan lalu lalang para pelayan, membuat acara jeprat jepret perlu perjuangan.  Beberapa kali saya harus menunggu dan menghapus foto karena tetiba ada aja orang yang lewat persis ketika saya merekam gambar.  Minimnya cahaya terang dan timbunan banyak warna, menyadarkan saya untuk belajar memotret lagi.  Gak gampang ya ternyata.  Saking banyaknya manusia, hasil foto lebih condong kepada kerumunan manusia ketimbang mengabadikan indahnya interior, yang sepertinya bakal lebih kelihatan keindahannya kalo dipotret pada siang hari.

 

 

Beberapa meja panjang dengan bangku tanpa senderan bertebaran memenuhi lantai dasar.  Di satu sisi dalam ada beberapa ruangan-ruangan kecil yang juga penuh dengan pengunjung dalam grup kecil.  Berisiknya juga gak kalah dengan area besar yang ada di tengah.  Sofa-sofa yang ada di pinggirpun terisi penuh.  Gak salah kalau banyak yang bilang Mexicola jadi venue makan-makan favorit wisatawan Bali saat kami berkunjung.

Semakin sesaknya tempat dan tandasnya makanan dengan sentuhan pure Mexican, plus nyengir asemnya Mike karena merasa tidak cocok sama makanan yang sudah dia pesan, menggiring kami untuk segera pulang.  “I prefer Indonesian food infact” gitu deh komennya hahahaha.  Ya iyalah, wong nganyang nasi padang aja merem melek kok.  Gimana mau cocok sama menu yang menang di potongan sayur, cabe, roti tipis dengan bumbu yang “tidak berani” aja.

Tapi, somehow, someday, saya pengen balik lagi ke sini siang hari.  Belum puas motret dan menikmati keindahan dekorasi di bawah cahaya natural matahari.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here