Menghabiskan sisa hari tinggal di Malang setelah mengikuti Malang Expo 2017, saya memutuskan untuk mengunjungi Kota Batu.  Kota administratif dengan luas sekitar 202.30km2 ini dulunya adalah bagian dari Kabupaten Malang.  Tapi sejak 2001, dinyatakan sebagai daerah otonom yang berdiri di atas kaki sendiri.

Dulu, di akhir tahun 80-an dan masih sekolah di Malang  [jadul bener yak], saya dan teman-teman hampir setiap weekend motoran [baca: naik motor] kemari.  Berjaket tebal, sambil menikmati dinginnya udara, kami makan jagung bakar di penjual pinggiran jalan seputaran Selecta dan beberapa titik tertinggi kota Batu.  Rumah penduduk dan lokasi wisata pun masa itu tidak banyak.  Jadi ketika sampai di Batu, suasana sepi dan udara dingin sangat menusuk raga.  Bernafas pun sering mengeluarkan asap/embun saking dinginnya.

Di sepanjang akhir minggu atau musim liburan, Batu selalu menjadi salah satu pusat wisata bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Timur.  Sebagian besar wisatawan bertandang ke Batu untuk menikmati udara segar sambil bermain ke kebun apel dan kebun sayur yang tumbuh subur.  Lahan terluas yang bisa terlihat adalah ya kebun apel itu tadi.  Bahkan, jika kita berkunjung di musim panen, kita bebas memetik dan makan apel sepuas hati.

Membayar kangen setelah belasan tahun tidak melihat indahnya dan merasakan dinginnya udara di Batu, saya terpana dengan cepatnya perubahan-perubahan yang telah terjadi, terutama untuk industri wisata.  Penduduk dan rumah pendudukpun semakin banyak dan padat.   Tempat menginap bertebaran mulai dari hotel berkelas sampai guest house yang murah. Macetnya lalu lintas muncul sebagai efek dari kemajuan-kemajuan yang ada.  Semua terlihat melesat maju.

Setelah beberapa kali membaca tentang beberapa obyek wisata hiburan masa kini melalui sosial media, dan sempat mampir 2hari 1malam sekitar 5 tahun yang lalu, Batu, bagi saya, telah memiliki “wajah baru”.  Pusat kunjungan wisata pun ditawarkan dengan sangat bervariatif dan mengusung tema yang sangat beragam.

 

PROFIL MUSEUM ANGKUT

Mobil kenegaraan yang digunakan oleh Presiden Soekarno dan patung hidup yang berpenampilan ala presiden ke-1 RI

Menelusuri jalan berliku khas pegunungan dari Batu Flower Garden, mencapai Museum Angkut tidaklah sulit.  Diantar oleh salah seorang keponakan yang memang suka ngider dan ngukur jalan, destinasi hiburan yang satu ini sudah sangat populer, dan mudah dikenali.

Baca juga: BATU FLOWER GARDEN | Keindahan Alam di Coban Rais | Jawa Timur

Berdiri di atas tanah seluas 3.8hektar, sebuah gedung besar sudah terlihat dari jarak jauh. Memasuki area parkir, bukan hanya gedung ini yang menjadi pusat perhatian, tetapi ada juga Pasar Apung Nusantara dengan gerbang yang tinggi menjulang.  Di sisi kanan dan kiri gerbang dengan atap yang mirip dengan rumah khas Toraja ini, terdapat sepasang patung dengan tangan terlipat layaknya sedang menyambut tamu.

Dari beberapa tautan berita yang saya baca, visi dan misi utama dari pendirian destinasi wisata edukasi ini adalah sebagai bentuk penghargaan kepada para pencinta moda transportasi.  Dengan menampilkan berbagai produk transportasi mulai dari yang tradisional sampai yang modern, Jatim Park Group, pemilik dan pengelola Museum Angkut, ingin agar kecintaan kita akan dunia otomotif dapat menjadi salah satu jalan untuk mengungkapan terimakasih kita kepada mereka [perusahaan atau negara] yang sudah menciptakan berbagai sarana transportasi ini.

Rangkaian sejarahpun bisa kita dapatkan di setiap tulisan yang sengaja dirangkum dan dipasang bersebelahan dengan obyek yang kita kunjungi.  Catatan-catatan tentang sejarah yang bernilai tinggi ini pun bisa membawa kita ke peradaban lampau, ke dunia teknologi transportasi pada masanya.

Menjaga konsistensi alur pengetahuan dan hiburan, Museum Angkut dibagi atas beberapa zona.  Selain dipisahkan atas nama zona negara seperti yang tertuang di dalam peta berikut ini, terlihat juga beberapa area terbuka untuk menampilkan pertunjukan-pertunjukan ala broadway, dan obyek-obyek yang terlalu besar jika dimasukkan ke dalam ruangan tertutup, seperti pesawat terbang RI-1 di era Presiden Soekarno.

Sumber: http://jtp.id/museumangkut

Melihat petanya saja, sudah kebayang betapa luasnya tempat yang satu ini.  Menyadari bahwa kami kemungkinan besar tidak akan mampu mengelilingi semuanya, saya dan Mbak Yayuk, travelmate saya saat itu, memutuskan untuk menjelajah Main Hall dan Pasar Apung saja.

 

LANTAI DASAR | MAIN HALL

Kami tiba di museum ini mendekati pkl 12:00 wib, waktu dimana tepat pintu masuk sudah dibuka. Kamipun memutuskan untuk menjelajah gedung museum terdahulu baru setelah itu melihat-lihat sekeliling kompleks yang ada.  Membayar tiket senilai Rp 100.000,-/orang, melewati pintu yang besar, sebuah pemandangan tematik langsung terpampang di depan mata.

Menebarkan pandangan sejenak, terlihat berjejer obyek transportasi berbagai jenis baik asli maupun replika.  Mulai dari mobil, sepeda, motor, bahkan delman besar.  Semua adalah koleksi klasik dan berasal dari berbagai negara dengan rangkaian sejarahnya masing-masing.

Mentasbihkan diri sebagai Museum Transportasi Pertama di Asia Tenggara, Jawa Timur Park  Group, tampak sangat serius menghadirkan sekian banyak koleksi moda transportasi dengan berbagai merk dan asal negara. Semua tampak terawat dengan warna yang selalu disemir mengkilat.

Yang langsung pertama kali menarik perhatian saya adalah mobil Chrysler Windsor Deluxe tahun 1952.  Mobil dengan tenaga 4.100cc ini dulunya dipakai oleh Bung Karno sebagai mobil resmi kenegaraan.  Banner besar bergambar beliau pun sengaja dipasang di samping mobil ini.  Atraktif dan provokatif.  Menambah keseruan penampilan mobil keren ini, berdiri tidak jauh dari mobil, ada  “patung manusia” berbalut cat yang senada dengan warna mobil.  Berpakaian ala Soekarno dan berpeci persis seperti kebiasaan mantan orang No. 1 di Indonesia ini, sang aktor terkadang bergerak bagai robot mengikuti arahan pengunjung yang ingin berfoto ataupun memotret dia dan mobil Chrysler sekaligus.

Mobil-mobil antik dengan body kokoh, tebal dan dibalut warna-warna berani tampak bertebaran di lantai dasar gedung ini.  Kalau saya tidak salah, hampir 90% adalah merk Ford yang berasal dari Amerika.  Gampang sekali untuk mengenali asal dari setiap kendaraan karena pengelola memang sebuah bendera kecil negara produsen di salah satu sudut display.  Waahh, setelah beberapa kali hanya melihat mobil-mobil seperti ini di layar lebar, di film-film koboi, akhirnya saya bisa menyentuh langsung.  Dan kalau memang benar ini adalah asli ataupun replika, ukurannya benar-benar di luar dugaan saya.  Keren-keren banget lagi.

 

Selain Ford, saya juga menemukan mobil Dodge Series 116 yang diproduksi tahun 1924.  Mobil ini sedikit lebih pendek dari mobil jenis Ford dengan hanya 2 tempat duduk dan atap yang bisa dibuka tutup. Ada juga mobil yang lebih kecil produksi Dodge dengan dudukan 1+ alias hanya bisa diduduki oleh 1 orang gemuk dan 1 orang ceking [baca kurus pake banget] atau 2 orang kurus.  Moncong mesinnya terlihat pendek tapi ruang bagasi di belakangnya panjang melebar, dan atapnya terbuat dari terpal yang sangat tebal.

 

Tak ingin kalah dengan kendaraan bermotor yang besar dan gagah, di lantai dasar yang megah dan berlangit-langit tinggi ini, juga tampak berbagai koleksi sepeda.  Mulai dari sepeda onthel dengan berbagai model dan merk, sampai sepeda dengan teknologi yang lebih modern merk Douglas yang sudah bermesin tapi tidak masuk ke dalam golongan motor.

Kalau saya perhatikan dari setiap rodanya, tampaknya jaman dulu, produsen sepeda lebih memilih menggunakan “roda mati”.  Roda keras full karet dan tidak perlu dipompa atau diisi dengan angin.  Saya sempat merasakan punya sepeda dengan roda mati seperti ini.  Kalau gak salah sih sepeda roda tiga di usia-usia TK.

 

Niihh ada pertanyaan yang menggelitik. Tapi saya belum menemukan jawaban pabrik apa yang dimaksud.

Melanjutkan keseruan mengexplore lantai dasar, saya bertemu dengan sebuah kereta kencana atau andong dengan box belakang sederhana dan hiasan rumbai-rumbai. Menyempurnakan penampilannya, dibuat patung kuda lengkap dengan ikatan kulit dan pecut yang diletakkan di bagian depan.  Ada 1 lagi kereta kuda yang lebih mewah.  Tapi karena mulai padatnya pengunjung dan berfoto di obyek ini, saya pun memutuskan untuk berpindah ke 2 buah mobil yang terletak persis di bawah tangga menuju lantai 2.

 

Sebagai penggemar racing Formula 1, bertemu dengan mobil balap kecil Australia dengan rancangan yang khas, menghadirkan kesan tersendiri.  Tampil dengan bentuk seperti peluru dengan bagian depan yang bulat pipih panjang, tampaknya konsep meluncur kencang bak peluru di dalam pistol yang ditembakkan, menjadi ide utama pada saat pembuatannya.  Midget Race Car.  Begitu nama yang disematkan kepada mobil balap ini. Memiliki mesin dengan tenaga besar dan body yang ringan, mobil ini sering digunakan untuk lomba-lomba balapan di Australia.

 

Berikut adalah mobil penuh gaya.  Mobil Ford dengan garis-garis badan yang jelas, seringkali tampil di film-film mafia dan gangster seperti The God Father, Good Fellas, Scarface, American Gangster, dan lain lain.  Mendadak terbayang Al Pacino, Denzel Washington, dan Robert De Niro, duduk di bagian depan, berkendara memakai tuxedo kemudian menghembuskan asap dari cerutu.  Tuh liat, foto backgroundnya aja tampak anggota mafia dengan tuxedo, jaket panjang, plus topi dengan model yang sama.  Jadi gak salah dong ya kalau imajinasi saya meluncur ke action dar der dor.

 

LANTAI DUA | MAIN HALL

Mengaso meluruskan betis yang mulai lelah, kami duduk sebentar di deretan tangga menuju ke lantai 2.  Keseruan jalan-jalan di Batu Flower Garden yang luas tampak mulai berasa dari ujung jari sampai ke dengkul.  Tapi rasa penasaran untuk melihat keseruan di lantai 2 ternyata mampu mengalahkan kaki yang mulai keok dan mendiamkan cacing yang mulai berontak di dalam lambung.  Mari Mak, kita lanjut petualangan hari ini.

 

Sejarah peradaban Cina di bidang transportasi laut menguasai sebagian besar lahan di lantai dua ini.  Terdapat 2 replika kapal laut di jaman kejayaan Cina sewaktu mereka mengelilingi hampir seluruh bumi dan berdagang ke beberapa belahan dunia.  Nama Laksamana Cheng Ho tersebut sebagai seorang pelaut muslim yang berhasil menelusuri beberapa negara dengan menaiki sebuah kapal besar dan berlayar bertahun-tahun mengarungi samudra luas.

Melihat replikanya saja saya sudah merinding.  Decak kagum terus membalut dada saya selama berada di spot ini.  Dibuat sepanjang [mungkin] sekitar 5 meter, kapal layar besar ini dibuat dengan sangat rinci.  Mulai dari dinding kapal, tali layar, ruang nahkoda, sekoci penyelamat, bambu penyanggah, dan lain lain.  Sebuah pekerjaan, yang menurut saya, luar biasa menguras usaha dan energi, serta kesabaran tingkat tinggi. Angkat topi deh buat seniman yang mengerjakan replika 2 kapal besar ini.

Melepas kekaguman dan memindahkan pandangan ke seberang 2 kapal fenomenal ini, saya menemukan sisi warna warni dengan 2 becak yang tampil begitu menarik.  Satu diletakkan di atas undak-undakan setinggi lutut manusia dewasa [sekitar 75cm dari lantai], sementara 1 lagi digantung tinggi dengan kaitan ke atap gedung.  Keren iihhhh.

Menyudahi eksplorasi di lantai 2 yang mulai penuh sesak dengan pengunjung, kami memutuskan untuk segera keluar hall, dan menuju Pasar Apung untuk mengisi perut yang sudah berontak tanpa ampun.

 

PASAR APUNG NUSANTARA

Berlari-lari kecil menuju Pasar Apung di tengah rintik hujan, kemudian berbelok ke kanan setelah gerbang besar, kami menemukan Resto Cheng Ho yang mirip dengan Kapal Jung milik Laksamana Cheng Ho yang berada di lantai 2 Main Hall.  Konsisten dengan nama restonya, menu yang ditawarkan pun adalah masakan Cina.  Tempat duduk yang disediakan bukan hanya di dalam kapal saja, tapi juga dipinggiran kolam kecil di sepanjang jalan seputaran kapal.

Selain Resto Cheng Ho, di sekeliling tempat ini bisa kita temukan beberapa food stall yang menawarkan beragam makanan dan minuman berat maupun ringan.  Sementara di bagian tengah, ada sebuah sungai buatan dengan perahu kecil yang disewakan untuk berkeliling Pasar Apung dan beberapa toko art and craft yang memenuhi beberapa slot petakan.  Saya menemukan penjual kaos, kerajinan tangan, camilan-camilan, di pasar kecil yang dikelilingi oleh alur sungai buatan tersebut.

 

Rencana menikmati makan siang yang sudah telat di sini pun buyar karena mendadak rasa lapar yang sudah tertahan menjadi hilang dalam sekejab.  Gitu ya.  Kalo lapar ditahan-tahan.  Giliran mau makan eeehhh semangatnya lenyap seketika.  Kami pun memutuskan untuk beranjak dan ngebakso di luaran biar melek mata.

Sayang memang, saya tidak berkekuatan penuh [speed boat kali] untuk berkeliling ke seluruh fasilitas yang ada.  Tapi mudah-mudahan ini adalah pertanda bahwa saya akan kembali lagi ke sini dan motret-motret di beberapa spot yang katanya istagenic habis dan saya lewatkan dikunjungan pertama ini.

Above all, Museum Angkut benar-benar pas untuk liburan keluarga.  Jika biasanya perasaan monoton menjadi momok ketika kita mengunjugi museum, berada di sini, kita dihibur dengan berbagai kekaguman dan edukasi berkualitas yang bermanfaat untuk mengisi pengetahuan.

MUSEUM ANGKUT – MOVIE STAR STUDIO | Jl. Sultan Agung No. 2, Ngaglik, Kota Wisata Batu, Jawa Timur | Jam Operasional: 12:00 wib – 20:00 wib | Telp.: +62 341 595 007 

Facebook Comment