Balek kampung!!

Yup.  Palembang, ibukota provinsi Sumatera Selatan ini, adalah kota kelahiran saya.  Menikmati masa kecil di sini (sampai SD kelas 4) dan setelah beberapa kali pindah ke kota lain mengikuti Ayah yang dimutasi/berpindah tugas, saya kembali ke Palembang ketika kelas 3 SMP dan kelas 1 SMA.

Jaman-jaman itu, ketika saya masih piyik, tidak banyak wisata di dalam kota yang bisa ditawarkan kecuali wisata kuliner, Jembatan Ampera, dan Masjid Agung.  Selebihnya Palembang lebih dikenal sebagai kota dagang.  Walau terhubung dengan laut dari Sungai Ampera dan dengan keberadaan 2 BUMN besar yaitu PUSRI (Pupuk Sriwijaya) dan Pertamina yang berada di Plaju, Palembang tidak memiliki pantai indah buat rekreasi dan destinasi wisata andalan.

Kemeriahan yang sering saya ingat adalah Bidar, lomba balap perahu menyusuri Sungai Musi dengan rute melewati kolong Jembatan Ampera.  Acara ini biasanya diadakan pas 17 Agustus atau hari-hari yang berdekatan dengan perayaan hari kemerdekaan RI.  Dari acara ini, biasanya anak-anak berebut membeli Telok Abang (Telur Merah) yang ditojos bambu panjang dan dihias dengan bendera warna warni.

Tapi ketika di awal tahun 2017 saya pulang ke Palembang, cerita kemeriahan Bidar sudah tidak saya dengar lagi.  Yang happening justru wisata kuliner dan beberapa tempat wisata yang sudah dikembangkan dan (lebih) dikenalkan kepada wisatawan, termasuk sebuah Museum yang berada di Jl. Srijaya I No. 28, km. 5.5, Alang Alang Lebar, Sukaramai.

Ukiran kayu di daerah lobby | Cantik dengan details dan komposisi warna yang apik
Selamat datang di Museum Balaputera Dewa

Berada di daerah Alang Alang Lebar, museum ini tidak begitu jauh dari rumah Bibi/Tante saya di Pakjo dan rumah saya semasa kecil di km 5 (sayangnya rumah seluas 600m2 ini sudah terjual seiring dengan kepindahan kami ke Jakarta).  Dijemput 2 adik-adik blogger famous yang super ganteng (Deddy Huang dan Haryadi Yansyah/Yayan), kami meluncur ke museum ini sambil ngobrol-ngobrol seru yang tak putus selama perjalanan.

Layaknya sebuah museum yang jarang sekali dikunjungi oleh anak-anak jaman now, kesan sepi begitu terasa mulai dari halaman parkir.  Memasuki daerah lobby (penerimaan tamu) dan tempat pembayaran tiket masuk, saya dibuat terkagum dengan ukiran kayu (pintu dan dinding), megah dengan perpaduan sentuhan warna emas dan merah yang menjadi ciri khas Sumatera Selatan.  Ada juga sebuah dinding besar lukisan diorama budaya bumi Sriwijaya dengan kejayaan ukiran emas yang menjulang tinggi.

Lukisan diorama bumi Sriwijaya | Tampak ukiran emas menjulang tinggi di bagian atas lukisan

Meneruskan langkah ke bagian dalam, tepat di belakang lukisan besar ini, ada beberapa arca (yang sudah direproduksi dari aslinya) dengan berbagai bentuk dengan ukiran yang masih kasar.  Deretan arca dari jaman Megalith ini tersusun rapih di atas sebuah kolam kecil dan beberapa pot tanaman untuk memberikan kesan alami.  Lukisan sawah dengan gunung dan hijaunya pohon menjadi latar belakang jejeran batu ukir yang ada di sana.

Sejajar dengan area selasar ini, kita akan bertemu 3 (tiga) ruang pamer dengan berbagai obyek sejarah, mulai dari jaman pra-sejarah, kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, dan beberapa barang peninggalan dahulu kala.  Satu yang menarik perhatian saya adalah Tempayan Kubur yang ditemukan di Kampung Muara Betung.

 

Persis di depan banyaknya ruangan yang tampak seperti kelas-kelas sekolahan, terlihat taman dengan ukuran cukup besar.  Berhiaskan kolam ukuran sedang dengan sebuah perahu kecil dari semen, taman ini terlihat bersih dan nyaman buat ngobrol-ngobrol sambil beristirahat.

Puncak kunjungan ke tempat pencatat sejarah bumi Sriwijaya ini justru ada di bagian belakang.  Di sebuah halaman besar dan luas, kita dapat melihat Rumah Limas, rumah adat atau tradisional Suku Palembang, Sumatera Selatan dan dijadikan profil uang kertas Rp 10.000,- Republik Indonesia tahun emisi 2005 yang kemudian dicetak ulang pada 2010.  Penampilan Rumah Limas dalam uang Rp 10.000,- ini menyertai wajah Sultan Mahmud Badaruddin II  yang juga ditampilkan sebagai salah seorang pahlawan nasional.

Disebut Rumah Limas karena memang bentuknya limas.  Rumah ini biasanya dibangun dengan luas sekitar 400 hingga 1.000 m2 berupa rumah panggung. Karena luasnya itu, rumah ini seringkali digunakan untuk mengadakan acara adat dan pesta pernikahan.  Menggunakan kayu tembesu yang digunakan untuk dinding, lantai, dan pintu, kayu unglen sebagai tiang rumah yang tahan air dan kokoh, serta kayu seru sebagai bagian bawah rumah. Jendela dan tiang-tiang rumah dibuat sangat indah dengan mengangkat adat budaya dan ciri khas Palembang.

 

Melangkah masuk ke dalam rumah, saya merasakan pijakan kayu yang kokoh tanpa berderit. Tampak sebuah ruangan luas dengan berbagai jejak sejarah yang sangat layak untuk dilindungi.  Ukiran-ukiran berwarna emas bertebaran di sana sini.  Di sebuah sudut tampak pelaminan kecil (tempat duduk sepasang) dilengkapi dengan peralatan perjamuan pernikahan jaman dulu serta beberapa lemari ukir khas Palembang yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.  Tepat di depan tangga masuk, terdapat sebuah piano kayu tua dan pembatas ruang berwarna yang luar biasa indah.  Persis di bagian tengah ruangan, ada sebuah kotak kayu yang ketika dibuka, kita dapat melihat ukiran, lagi-lagi dengan warna emas.  Menurut penjaga yang kami temui kotak ini biasa digunakan untuk menyimpan kain songket, kain khas Sumatera Selatan, yang adalah salah satu kekayaan budaya tanah air.

 

 

Kita dapat menemukan beberapa kamar yang masih lengkap dengan tempat tidur.  Ada yang berangka besi, ada juga yang beralaskan kayu, dan ada juga yang tetap dipertahankan dengan kelambu.  Saya memasuki sebuah kamar utama dan sarat materi-materi “berisi” di dalamnya seperti pakaian, sepatu, bantalan kursi, bantalan duduk warna warni, atap kain persegi panjang, dan tentu saja kitab suci Alqur’an.

Beberapa langkah kemudian kami menjejak ke sebuah jembatan kayu penghubung disanggah oleh besi dan kayu yang kokoh.  Jembatan ini menghubungkan antara 2 bagian rumah (depan dan belakang).  Di tempat ini saya, Deddy, dan Yayan menghabiskan waktu mengabadikan kenangan kami karena sudah berada di sini dan menjadi saksi hadirnya salah satu peninggalan sejarah yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai permata budaya Sumatera Selatan.

Selesai beramah tamah dengan seorang Bapak yang menjaga Rumah Limas dan mendengar sedikit cerita tentang pemeliharaan jejak budaya yang satu ini, saya menitipkan harapan agar tindakan pelestarian, perawatan, dan pengangkatan nilai-nilai luhur kekayaan adat istiadat tetap dipertahankan dan dijaga dengan sekuat tenaga.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here