“Rezeki itu rahasia Allah, tapi kita wajib berikhtiar untuk membuka rahasia itu. Rezeki akan datang kepada orang yang tepat, di saat terbaik, dengan nilai yang dicukupkan oleh sang Maha Pemberi”

Rangkaian kalimat ini terus terngiang dan saya teriakkan berulang-ulang di dalam hati terutama pada saat melihat dompet sudah diambang sakratul maut. Seiring dengan berjalannya waktu, lama kelamaan makna “rezeki” akhirnya diperluas untuk hal lain. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya saya memahami bahwa rezeki bukan hanya tentang urusan finansial. Berbagai perkara lain seperti pertemanan, kesehatan, termasuk mendapatkan business network juga bisa digolongkan sebagai rezeki.

Poin terakhir ini menjadi begitu penting untuk saya dan teman-teman yang memiliki usaha sendiri. Apalah artinya produk yang berkualitas, jika tidak mendapatkan kesempatan manggung dan dikenal oleh khalayak. Apalah artinya “buka warung” jika tidak ada satupun jejak langkah publik yang masuk ke dalam warung. Karena sejatinya berdagang itu adalah sebuah produk kerjasama dan saling membutuhkan antara 2 pihak bahkan lebih, serta bagaimana kita mengolah tentang semua hal yang berhubungan dengan hal ini.

Adalah suatu ketika, rezeki network itu mampir lagi ke saya. Atas jasa seorang teman, crafter khusus produk-produk perhiasan Kalimatan, saya dikenalkan dengan Mbak Ira, seorang pecinta craft yang bertanggungjawab untuk kegiatan promosi beberapa restoran premium yang ada di Jakarta. Mereka secara berkala sering mengadakan bazaar yang menghadirkan beberapa produk handmade di restoran yang mereka miliki. Dan kali ini, brand FIBI Jewelry, yang menaungi belasan wire worker (hingga saat ini), diajak untuk mengikuti event Pasar Pasaran yang diadakan di Restoran Shanghai Blue 1920.

Tanpa berpikir dua kali, saya pun langsung meng-iya-kan ajak Mbak Ira. Tujuannya tak lain dak tak bukan adalah agar jenama dan produk dari FIBI bisa lebih dikenal publik. Dapat temen baru, dapat jaringan baru. Syukur-syukur juga bisa dibarengin dengan penjualan, baik sedikit maupun dalam jumlah besar. Karena kadang harapan yang terakhir tadi disebutkan, bisa terjadi dimana saja dan dalam acara apa aja.

Menu angkringan yang turut meramaikan Bazaar | Disediakan di dalam Resto Shanghai Blue

Tentang Shanghai Blue 1920

Sepagian itu, menembus kemacetan dari Cikarang menuju pusat kota, saya dan Dewi mempersiapkan 1 koper penuh berisikan peralatan ngamen (display, kain penutup meja), 1 koper khusus membawa barang-barang jualan, dan 1 meja tambahan. Menuju kawasan Wahid Hasyim yang berada di dekat Monas dan Gambir, ternyata butuh waktu perjalanan yang tidak sedikit. Kami sempat terkantuk-kantuk di atas mobil sewaan, membayar waktu tidur yang dipangkas sepagian itu. Buat kami yang berada di Jakarta coret (baca: Kabupaten Bekasi), melewati tol Cikampek aja sudah menguras tenaga dan waktu. Jadi begitu sampai di venue pameran dan melihat kesibukan peserta-peserta lain yang asyik mempersiapkan jualan, mendadak kami merindukan kopi hitam untuk menyemangati perjuangan kami di hari itu.

Sempat berputar 1 kali karena terlewat, Shanghai Blue 1920 ternyata berada tak jauh dari perempatan lampu merah yang menghubungkan jalan ini dengan jalan Sabang, yang memang sarat dengan lalu lintas. Dari luar resto ini terkesan biasa saja. Malah, kalau mau jujur, tampak seperti bangunan tua yang tetap dipertahankan ke-tua-annya, tanpa sentuhan renovasi modern sedikitpun. Tapi saya yakin, dijamannya, saat Indonesia belum merdeka, resto ini jadi tempat kongkow yang berkelas. Hal ini terjabar dengan jelas jika kita melangkahkan kaki ke dalam resto. Sarat dengan furniture dan atmosphere jaman penjajahan Belanda, Shanghai Blue menghadirkan wajah resto berkelas dengan pengaturan dining set lengkap di setiap meja. Satu kebiasaan yang selalu dipertahankan oleh high-class resto.

Di satu dinding kita bisa menikmati ukiran kayu besar dengan tulisan nama resto di bagian tengahnya. Beberapa foto dan tulisan dengan aksara Cina menguatkan kesan bahwa resto ini (dulunya) dimiliki oleh warga keturunan (Tionghoa). Begitupun dengan foto-foto lama yang banyak dipajang di beberapa sisi dinding. Semua mengajak kita kembali mengingat lembaran-lembaran sejarah dimana pada 1920 jejak penjajahan Belanda masih menguasai Indonesia. Masa dimana perdagangan dan atau bisnis masih didominasi oleh penjajah dan warga Tionghoa. Buat mereka yang menyukai sejarah, akan dengan sendirinya, menangkap image peranakan yang bisa disimpulkan bukan hanya dari penamaan saja.

Shanghai Blue 1920 yang dulunya dimiliki oleh seorang pebisnis keturunan Tionghoa (Chan-Mo Sang) dan istrinya yang asli Betawi (Siti Zaenab) ini sekarang bergabung di dalam Grup Tugu. Satu jaringan jenama populer yang juga memiliki resto Tugu Kunstkring Palaeis dan beberapa jaringan Tugu Hotel yang ada di Malang, Bali, Blitar, dan Lombok. Dari info sekilas yang saya dapatkan dari Mbak Ira, pemilik baru Shanghai Blue 1920 memang menyukai tempat-tempat atau bangunan-bangunan yang sarat sejarah dengan mempertahankan kejayaan dan keindahan sentuhan arsitektur eropa. Jadi jangan kaget saat berkesempatan beranjangsana ke sini, kita lalu menemukan sekian banyak hal yang membawa gambaran eksklusif seolah berada di masa lampau, sebelum Indonesia merdeka.

Saya dengan latar belakang pahatan kayu yang panjang di dinding dan ukiran jenama resto

Pasar Seni

Pasar Seni yang saya ikuti ternyata bener-bener full of handmade items. Produknya beragam dan tidak ada yang sama. Bersebelahan dengan saya, ada batik tulis dengan harga eksklusif. Motifnya pun cantik-cantik dengan harga di atas 500an ribu. Mahal? Gak juga. Karena memang batik tulis harganya segitu. Saya yang pernah mengerjakan (baca: berlatih) sejumput batik aja pegelnya sampe seminggu. Dan proses memindahkan malam ke kain lewat canting itu perlu ketekunan yang luar biasa. Melukisnya pun harus dengan hati dan mood yang pas, pelan-pelan, serta konsentrasi tinggi. Belum lagi proses setelah pewarnaan yang gak cuma dalam hitungan menit.

Menguping obrolan beberapa pengunjung tentang batik ini, sebagian besar rata-rata berkomentar, “Duuhh warnanya cantik banget deh. Soft dan tidak norak. Dipegang pun bahannya halus banget. Walaupun bukan sutra.” Saya yang awalnya tidak terlalu memperhatikan, lama-lama memahami kenapa si Ibu ngomong begitu.

Ada juga beberapa finished products yang dibuat dari batik. Yang nungguin stand nya ibu-ibu dan katanya rutin mengikuti bazaar yang diadakan Mbak Ira. Yang saya perhatikan beliau dominan menjajakan boneka, mainan anak-anak, serta kelengkapan rumah tangga berbahan dasar batik seperti taplak, lap tangan, dan lain-lain. Ada satu yang menarik perhatian saya yaitu kuda-kudaan, yang kepalanya terbungkus dari kain batik sementara badannya terbuat dari kayu. Sekilas kita akan ingat dengan kuda lumping. Lucu deh. Kalau masih punya anak balita, bisa dipastikan saya akan membeli satu.

Di sebelahnya lagi ada produk perlengkapan sehari-hari seperti tas, ikat kepala, topi, dompet, syal, sapu tangan, baju, dan lain lain yang menampilkan image dari Provinsi DKI Jakarta khususnya fiture ondel-ondel. Ibu yang satu ini produknya sudah menjelajah seluruh negri hingga ke luar negeri bersama Dekranasda DKI Jakarta. Mendengarkan uraian beliau yang usianya selisih banyak dari saya, rasa kagum pun langsung melonjak. Apalagi melihat semangat dan gesitnya beliau menguraikan rentetan pengalaman dan bagaimana beliau akhirnya konsisten menghadirkan produk-produk yang mengangkat kekayaan budaya Betawi.

Keperluan sehari-hari dengan mengangkat image budaya DKI Jakarta
Berbagai produk eco print

Lain halnya dengan meja yang satu lagi. Di stand yang ini kita disuguhkan dengan berbagai produk eco print. Ada yang masih berbentuk kain, pakaian , tas, cover bantal duduk, dan lain lain. Si Mbaknya juga pakai atasan cantik dari eco print dengan warna indigo. Duuhh keren banget loh.

Beranjak ke tempat lain, ada pernak-pernik perempuan seperti jepit rambut, bros, pouch yang terbuat dari kain flanel warna warni. Yang bikin menarik adalah cara mereka memajang produk. Dengan meja ukuran terbatas, setiap item tidak terlihat berdesakan dan enak untuk dipandang. Hal sama yang saya rasakan ketika mengunjungi meja penjual sabun batangan dan fragrance oil. Rapih banget nyusun sabun yang dikerjakan dengan efek dekorasi cantik. Saya diperkenankan mencium fragrance oil dalam botol-botol kecil yang mewakili essense yang digunakan untuk mengerjakan sabun. Tetiba teringat kalau saya sempat 5 tahun bekerja di perusahaan yang memproduksi essense fragrance dan flavour. Dari latar belakang ini, obrolan saya dengan si pedagang pun nyambung banget. Saling bertukar dan bercerita tentang banyak hal terutama bagaimana runutnya mereka mengerjakan sabun batangan tersebut.

Bersebelahan dengan penjual handmade bath soaps ini ada satu stand khusus yang menjual tas dan kantong belanjaan. Tas belanjaanya ada yang berbentuk keranjang model jadoel, ada juga yang gampang dilipat dan bisa digunakan bolak balik. Perlu juga nih punya tas beginian. Bisa dimasukkan ke dalam tas kita dan dibawa kemana aja. Tujuannya yah lagi-lagi mengurangi sampah plastik. “Praktis banget loh Bu buat dibawa kemana-mana,” Saya pun mengacungkan jempol untuk strength point yang disampaikan oleh si pemilik dagangan.

Pernak pernik dari bahan flanel
Handmade bath soap dan beberapa fragrance oil

Beberapa langkah berikutnya saya bertemu dengan jenama Jemi Bumi. Mereka menyajikan berbagai produk yang ramah lingkungan, seperti cotton net bags yang bisa kita gunakan untuk berbelanja. Berbicara dengan yang menjaga stand ini, saya mendapatkan penjelasan bahwa visi mereka adalah mengajak publik untuk lebih mencintai bumi, mengurangi sampah-sampah yang tidak dapat terurai, dan tentu saja menghadirkan rangkaian produk yang mendukung program go green dengan menggunakan bahan-bahan organik.

Jemi Bumi dengan produk-produk yang ramah lingkungan
Shopping bag yang bisa digunakan bolak balik dan gampang dilipat

Satu yang paling berkesan adalah saya bertemu lagi dengan Mami Ribka Paja dan Ina Paja pemilik jenama Manik Kalimantan. Setelah lama tidak bersua, kami banyak menghabiskan waktu berbagi cerita dan menuntaskan rasa rindu. Saya mengenal Manik Kalimantan hampir 10 tahun yang lalu dan sudah beberapa kali ngamen bareng baik di dalam negri maupun di luar negri. Mengangkat budaya Kalimantan, kedua wanita hebat ini konsisten memproduksi semua pernak-pernik perhiasan dan produk fashion menggunakan manik-manik aneka warna yang memang menjadi ciri khusus dari pulau terbesar di Indonesia. Mami Ribka Paja sendiri adalah salah seorang role model untuk bisnis saya. Banyak yang saya pelajari dari beliau, dimana salah satunya adalah konsisten di jalur yang sama dan tetap gigih berusaha walau usia sudah tidak lagi muda.

Manik Kalimantan
Aneka produk dari FIBI Jewelry

FIBI Jewelry. Jenama yang saya kembangkan bersama dengan beberapa teman yang juga aktif memproduksi perhiasan kawat (wire jewelry) seperti biasa menghadirkan berbagai jenis produk perhiasan dengan rentang harga yang juga bervariatif. Handcrafted jewelry stuff yang kami tampilkan banyak mendapatkan apresiasi terutama dari ibu-ibu yang berkantor tidak jauh dari Shanghai Blue. Wanita-wanita pekerja yang memang berdasarkan data yang kami buat adalah 80% dari total loyal customers yang kami miliki. Untuk event ini, walaupun belum ada penjualan secara fisik, kami tetap menghitung seluruh biaya yang sudah dikeluarkan sebagai biaya promosi dan menjaring lebih banyak network, khususnya di seputaran DKI Jakarta.

Aneka produk dari FIBI Jewelry

Secara keseluruhan acara Pasar Seni yang diselenggarakan oleh Shanghai Blue 1920 ini cukup bagus. Walaupun tidak terlihat padat pengunjung, mereka sudah melakukan usaha maksimal untuk menjaring para pembeli seperti dengan menghadirkan 2 orang MC yang sangat komunikatif dan terus menerus melakukan promosi di seputaran venue. Dengan sound system yang cukup powerful, setidaknya banyak masyarakat yang mampir untuk melihat-lihat.

Terimakasih saya ucapkan kepada Mbak Ira dan Shanghai Blue 1920 yang sudah berkenan mengajak FIBI Jewelry untuk berpartisipasi di dalam acara ini. Semoga kedepannya, kami dapat membangun kerjasama yang erat di berbagai kegiatan yang diadakan oleh Shanghai Blue 1920.