Menjamurnya tempat nongkrong di Seminyak memang bikin takjub.  Perasaan, meski sering mondar mandir menyisir daerah penuh sesak ini, selalu aja ada yang baru.  Mulai dari hotel dengan berbagai kelas, deretan outlet kecil dan besar, sampe tempat nongkrong mulai dari yang nyempil sampe berukuran grande.  Jadi ketika mau janjian sama Asha, sohib lama sesama crafter yang sekarang memutuskan tinggal di Bali, kita bingung sendiri menentukan tempat.

Googling cari referensi di berbagai tautan wisata jalan-jalan dan medsos (terutama IG) malah bikin mabok.  Semua pengen didatengin.  Semua foto-fotonya terlihat begitu menggoda.  “Iiiihh keren banget ini”.  “Duuhh bakal istagramable bingit yang satu itu”. Padahal cuma punya waktu sore itu aja buat ketemuan.  Nentuin tempatnya rempong pake berhari-hari.

Dan pada akhirnya saya menyerahkan masalah perlokasian dengan yang jelas-jelas tinggal di Bali aja.  Bukan kepada yang ingin tinggal di Bali seperti saya.  Pilihan pun jatuh pada Sea Vu Play.  Sebuah cafe di Petitenget yang belakangan ngetop karena pizza vegetarian dan banyak dipuji oleh sebagian besar pengunjungnya.  Plus tentu saja, tempatnya ciamik untuk dijadikan obyek foto-foto dan narsis berjamaah.

Sampai di tempat sore hari, Sea Vu Play tampak masih sepi pengunjung.  Kami lah customer pertama.  Tapi gapapa.  Justru ini kesempatan saya berkeliling dan memotret beberapa sisi ciamik dengan cahaya natural yang masih terang benderang.

Mengedarkan pandangan ke seluruh arah, saya mendapatkan kesan kalau rancang ruang tempat ini condong bertemakan laut kecuali sebuah sentuhan kecil bajaj yang nongkrong di salah satu sudut area dining utama. SEA yang menjadi awalan nama memang bermaksud LAUT, bukan s’il vous plait dalam pengucapan bahasa Perancis yang berarti please atau silahkan.

Di area makan utama, dengan atap yang mirip dengan tenda sarnafil ukuran jumbo, tamu akan langsung disambut dengan bar besar dengan deretan tempat duduk tinggi berwarna biru dan lukisan bernuansa laut.  Sementara di samping bar tersebar dudukan kursi kayu dengan meja kecil-kecil dan beberapa fixed sofa yang terlihat begitu hidup dengan bantalan beraneka motif dan kaya warna.  Semua tampak begitu colorful, padat, dan mampu menampung sekelompok tamu dalam jumlah banyak di sekali waktu.  Jadi kalau datang sekompi atau serombongan sirkus, kita gak bakalan khawatir untuk narik kursi sana sini biar bisa ngeriung di satu tempat.

Sambil menunggu kedatangan Asha, saya menjelajah ke sisi lain yang juga menarik perhatian.  Di sebuah sudut tampak jejeran gantungan karang-karang dan kerang-kerang kecil yang tergantung di sebuah kayu, sebagai pembatas menuju toilet.  Penasaran, saya pun melangkah masuk.  Dan waaahh ternyataaaa kamar mandinya ciamik banget.  Mural dedaunan hijau memenuhi salah satu sisi dinding, keramik cantik, ornamen binatang laut di sana-sini, dan kebersihan yang tampak terjaga, bikin nyaman banget buang hajat di sini.  Jangankan “setor”, untuk sekedar foto-foto aja, bisa berlama-lama karena gak bau.  Iiihh nyenengin ya.  Buat mereka yang kekeh memegang pedoman bahwa toilet adalah cerminan kebersihan sang tuan rumah seperti saya, liat rest room di sini, bakal angkat topi.

Kelar pepotoan di ruang penuh privacy barusan, acara nongkrong sore pun jadi semakin seru dengan kedatangan Asha.  Setelah hampir 3tahun tidak pernah bertemu muka, kali itu obrolan pun membahana dari Sabang sampai Merauke.  Segala hal dibahas.  Mulai dari keberadaan dan kabar masing-masing berikut teman-teman lama yang kita kenal, sampai urusan craft yang gak pernah bakal ada habisnya untuk dibahas.  Karena craft inilah, terutama wire jewelry, kami jadi sefrekwensi dan berada di jalur yang sama.  Apalagi di jaman itu (taela kek tua banget) crafter yang menguasai wire jewelry masih sedikit banget.

Keasyikan ngobrol bikin kami lupa kalau perut mulai minta diisi.  Sesuai rencana dan referensi yang sudah kebayang-bayang, kami memesan 1 pan besar Vegetarian Pizza yang tipis dan renyah pake banget.  Toppingnya? Yang pasti baru kali ini saya makan pizza dengan potongan terong yang sudah dibumbui dan kriuk-kriuk di lidah.  Ada juga potongan jamur, kemudian ada sobekan kasar sayur hijau (gak tau namanya), dan tentu saja keju mozzarella yang menggugah selera.  8 slices pun meluncur ke dalam perut kami bertiga (saya, Asha, dan Fuli) dengan cepatnya.  Endes maksimal.  Bener banget usulan yang ditulis dan direview oleh para pengunjung sebelumnya.  Pizza ini, walaupun gak keroyokan toppingnya, rasanya tetap “berisi” dan gak mengecewakan.

Menyadari hari beranjak gelap, kami pun bersegera menyebar, memotret dan mencari angle-angle cantik di ruang terbuka, sisi berbeda dari tempat kami ngumpul tadi.  Dengan luas lahan sekitar 250an m2, di tempat ini pihak Resto menyediakan beberapa ruang duduk semi private dengan kapasitas sekitar 20an orang.  Di setiap ruangan ada mural tematik kelautan yang berbeda satu sama lainnya. Pencahayaan redup melengkapi dudukan semen dengan alas duduk gonjreng yang lagi-lagi dipenuhi dengan banyak bantal kursi warna warni.  Tempat yang pas untuk ngumpul sebatalion tanpa harus misah-misah duduknya atau ngobrol ngalor ngidul sambil selonjoran hahahaaha.

 

Bagian tengah lahan terbuka lah yang akhirnya membuat saya keranjingan bereksplorasi dengan foto.  Tempat yang lega dan dengan tamu yang masih sedikit, tetiba memantik keinginan untuk berfoto levitasi.  Jepretan berkali-kali dari Fuli dan nafas ngos-ngosan karena beberapa kali meloncat, akhirnya menghasilkan 1 foto “terbang” yang saya sukai.  Yang motret juga seneng banget katanya, jadi keranjingan, cuma sayang yang dipotret nafasnya sudah senen-kemis hahahaha.

Nah ngomongin arena ngumpul yang gede banget ini, pihak Sea Vu Play menyediakan banyak tempat duduk, bangku-bangku kayu berbentuk balok dan persegi panjang.  Pohon-pohon kelapa menyempurnakan suasana atau sentuhan tema laut yang diusung.  Di salah satu dinding besar, terpampang tulisan besar Sea Vu Play dengan mural kecil-kecil binatang laut.

Saat kami menghabiskan sisa waktu dengan memotret ini, langit terlihat mulai gelap, lampu-lampu kecil yang mengelilingi resto pun tampak mulai berpendar di sana-sini.  Seandainya saya sudah fasih memotret dalam kondisi malam hari, pasti bakal nongkrong lebih lama untuk menjajal kamera mirroless saya.  Suasananya berubah menjadi begitu adem dan lebih nyaman, jauh dari teriknya matahari yang belakangan begitu menghujam Bali.

 

 

Oia untuk teman-teman yang pengen ke sini, saya usulkan untuk naik motor (ngojek), taxi reguler, atau taxi on-line.  Gak ada tempat parkir untuk kendaraan besar di sini.  Kalaupun setir sendiri, ada sih toko fashion yang berada cuma beberapa langkah dari resto.  Tapi gak tau apakah boleh numpang parkir di situ.

Kalau seandainya on-line map tidak berfungsi karena signal atau kehabisan batere HP, Sea Vu Play ini bersebelahan dengan Alila Hotel Petitenget dan Potatoe Head yang sudah lebih dulu jadi tempat nongkrong favorit wisatawan mancanegara.  Jadi gampang banget njelasinnya ke siapapun yang mengantarkan kita.  Dari flyer kecil yang saya dapatkan, Sea Vu Play juga suka mengadakan bazaar pernak-pernik dengan konsep Sunday Market gitu.  Tapi sayang karena taxi on-line kami sudah datang, saya tidak sempat bertanya lebih lanjut soal ini.  Pengen tau lebih jauh tentang tempat ini, berselancar aja ke official website mereka www.seavuplaybali.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here