Weekend kala itu, pertengahan Agustus 2018, saya dan suami memenuhi 3 undangan yang gak bisa ditolak untuk dihadiri.  Pertama adalah arisan keluarga di daerah Cicaheum, Sumedang.  Kedua pernikahan kerabat (keponakan) di daerah Cimuncang, Bandung.  Dan ketiga adalah pernikahan rekan kantor suami di Solokan Jeruk, Rancaekek.  Semuanya di seputaran lokasi yang tidak berjauhan walau tidak juga terlalu dekat satu sama lainnya.  Dan menimbang efisiensi dan efektifitas, kami akhirnya memutuskan untuk menginap di titik terdekat dan berada di tengah-tengah ketiganya, ketimbang harus mondar-mandir dari rumah di Cimahi atau Cikarang (ini lebih gak mungkin lagi).

Waktu suami mengajukan untuk nginep di Jatinangor, saya merasa gak yakin.  Apa ada tempat bermalam yang representatif di seputaran sana?  Tapi setelah ditunjukkan sekian banyak pilihan, waahh saya baru ngeh.  Ternyata banyak juga loh hotel, apartemen dan penginapan di area ini, yang dulu banget sering dijulukin “tempat jin buang anak” saking jauhnya.  Dan kalau boleh berasumsi, ini mungkin disebabkan oleh banyaknya sekolah (terutama universitas negri) yang cukup terkenal di Jawa Barat dengan ranking 10 besar di Indonesia.  Sebutlah 3 diantaranya IPDN, ITB, dan UNPAD.

Gak butuh waktu lama untuk memutuskan menginap di Appartel (Apartemen dan Hotel) Taman Melati Jatinangor.  Pergi hanya berdua, kamar tipe studio pun pastinya sudah cukup.  Kami melakukan pemesanan lewat Airy Rooms ternyata bisa dapat kamar dengan harga yang pas di kantong (sekitar Rp 325.000,-/malam untuk kamar saja).  Lokasinya pun sesuai dengan harapan kami di atas.

Sesuai skenario yang sudah dirancang, Sabtu pagi kami akan langsung ke Sumedang dari Cikarang.  Arisan dan makan siang bersama keluarga besar suami.  Lalu check in di Appartel Taman Melati untuk istirahat sebentar, kemudian kondangan ke daerah Cimuncang, Bandung, di malam harinya.  Tapi keruwetan lalu lintas berkata lain.  Tak menduga akan ada pawai tujuh belasan di sepanjang Jl. Raya Jatinangor, kami terjebak kemacetan luar biasa dan akhirnya menyerah persis di seputaran Appartel.

Kenyang karena ngemil tahu Sumedang dan lontongnya di mobil selama macet, kami pun memutuskan untuk langsung menuju Appartel tanpa makan siang terlebih dahulu.  Dengan bangunan yang menjulang tinggi, tidak ada kesulitan yang berarti untuk menandai tempat ini.  Signage besar di lantai tertingginya aja sudah terlihat sekitar 300 meter dari posisi mobil kami saat itu.  Dan walaupun masuk melalui jalan naik turun yang cukup untuk lalu lintas dua kendaraan kecil saja, Appartel ini terlihat megah berdiri dari pinggir jalan.  Lobby nya tidak begitu besar tapi cukup tertata dengan sekian banyak materi promosi.  Tampak jelas bahwa Appartel ini sedang gencar dipasarkan.

 

Disambut ramah oleh salah seorang petugas dari Airy, kami diinformasikan bahwa fasilitas sewa untuk Airy Rooms (hanya) berada di lantai bawah (basement) dengan jumlah total sekitar 22 unit.  Lantai ini menyatu dengan sebuah function area di bagian tengah, kolam renang besar, tempat duduk-duduk yang luas, minimarket, dan warung makan (sayang saat saya menginap mereka tutup).  Semua menghadap ke sebuah pemandangan bukit dengan jembatan tua yang digunakan sebagai fasilitas jalan bagi penduduk sekitar dan motor.

Jembatan ini, walaupun terlihat sudah berumur, bentuknya sangat menarik hati. Kalau dilihat dari stuktur bangunannya sih sepertinya dibangun di jaman Belanda.  Dengan beberapa “kaki” tinggi menjulang berbentuk U, tampilan fisiknya seperti jalur kereta api Jakarta Bandung dengan besi baja dengan bagian bawahnya jurang tinggi.   Pagi besoknya saya baru ngeh kalo di bawah jembatan ini, dikelilingi oleh pohon-pohon ukuran sedang, terdapat kuburan umum yang cukup luas.  Tapi kalau malam sih relatif gak keliatan karena cahaya lampu hanya terlihat di bagian atas sementara kotak-kotak makam tertutup kegelapan.  It’s not too spooky actually.

 

 

Kamar Studio

Karena ini kali pertama saya menginap via Airy Rooms, baru saat itu saya melihat semua compliment yang disiapkan oleh mereka.  Pouch biru yang berisi berbagai toiletries, sekotak besar snack dan minuman, dan bantalan-bantalan kecil di tempat tidur.

 

Layaknya sebuah studio apartment, begitu masuk kita akan langsung ketemu dengan dapur kecil tanpa kompor.  Bowl cuci piring yang besar, kulkas kecil, dan tentu saja cerek penanak air.  TV layar datar dibuat menggantung untuk menghemat ruang.  Furniture pun minimalis dan cenderung fixed tertempel ke dinding.  Sama seperti sebuah lemari besar di sisi kiri ranjang dan meja kerja di sisi satunya lagi yang menghadap ke arah jendela besar. Mengakali ruangan seukuran sekitar 20an m2 ini agar terkesan tidak terlalu sempit, disediakan sebuah teras kecil yang menghadap ke luar.  Cukuplah untuk menaruh sebuah kursi dan meja kecil.  Yang menurut saya over-size adalah tempat tidurnya.  Dengan lahan yang terbatas sepertinya ranjang ukuran Queen (160cmx200cm) lebih pas ketimbang ukuran King (180cmx200cm).  Selainnya cukuplah untuk nginap berdua.  Tapi kalau bawak rombongan sirkus, bisa dipastikan kamar ini terlalu sempit.

 

Karena status booking adalah room only, pagi itu mencari sarapan jadi pe-er tersendiri.  Warung yang biasa buka di dekat minimart kali itu tutup.  Jadi solusinya adalah mencari makan di luar Appartel.  Gak banyak pilihan sepagi itu kecuali lontong sayur yang dijual oleh sebuah warung yang berada persis di depan Appartel.  Not too good but fair enough for a light breakfast.

Menghabiskan waktu sebelum berkemas keluar Appartel menuju resepsi salah seorang teman kantor suami di Rancaekek dalam beberapa jam kedepan, saya sekali lagi menikmati pemandangan yang terhampar di sekitaran kolam renang.  Kali ini terdengar suara riuh rendah anak-anak yang menikmati main air di tengah sinar matahari yang cukup bersahabat.  Ratusan unit apartemen siap huni terlihat tinggi menjulang.  Cahaya matahari pagi tampak tembus diantara jendela.  Posisi hadap yang bagus dan sehat untuk sebuah hunian vertikal.

 

Saya dan suami di Function Room

 

Powerful and Quality Words

Ada 1 hal yang berkesan ketika saya sempat melongok sebentar ke lobby Appartel di lantai dasar.  Di sini, selain receptionist, ruang tunggu, meja dealing, materi dan perangkat promosi, dan beberapa lemari locker untuk penghuni, saya menemukan 1 buah tiang yang bertuliskan kata-kata berbobot dan berkualitas.  Beberapa kata yang layak selalu kita ingat dalam kehidupan sehari-hari.  Jangan sampe ya melewatkan kesempatan berfoto di sini.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here