cropped-pangandaran-beach-5.jpg

Menempuh waktu sekitar 8 jam non-stop dari Bandung, perjalanan ke Pantai Pangandaran yang terletak di Kabupaten Ciamis, kami tempuh dari jam 01:00 wib lepas tengah malam hingga 09:30 wib dengan hanya 1x berhenti untuk sedikit istirahat di daerah Tasikmalaya.

Jalan yang berkelok-kelok terasa begitu mengayun badan dan kaki yang menggantung selama perjalanan, ternyata hanya cukup untuk mengakomodir tidur-tidur ayam selama berada di bis. Ukuran lebar jalan dan tetap banyaknya kendaraan lain yang melintas di saat yang sama walaupun dijam-jam berkendara yang tidak lazim, membuat kami tetap terjaga setiap saat. Walhasil, begitu sampai di hotel/villa tempat kami menginap, nyaris hampir semua anggota rombongan melanjutkan waktu tidur hingga menjelang tengah hari, dan terpaksa bangun karena naga-naga di perut yang sudah berteriak-teriak minta makan.

Tanpa mempertimbangkan jam mandi pagi yang sudah terlewatkan, nasi dan lauk pauk yang disediakan disantap habis hingga hanya menyisakan piring-piring kotor dan bergelas-gelas air mineral yang berserakan. Moto “yang paling kecil cuci piring” nyatanya tidak berlaku kali ini karena pantai yang berada persis di depan villa sudah memanggil manggil minta dikunjungi.

PANGANDARAN BEACH 2 edited  PANGANDARAN BEACH 7 edited

Walaupun sudah beberapa kali ke pantai Pangandaran bagian barat ini, dan selalu datang bukan dalam musim liburan (peak season), nyatanya antusiasme pengunjung tetap luar biasa. Lautan manusia, baik pengunjung maupun pedagang, membuat saya harus jeli mencari tempat berteduh, sedikit meluangkan waktu untuk menyeruput kopi dan memandang luasnya pantai yang tidak bisa saya nikmati jika berada di rumah.

PANGANDARAN BEACH 3 edited  PANGANDARAN BEACH 8 edited
Menikmati duduk yang tenang di sebuah warung, bangku dan meja kayu serta payung pantai yang melambai-lambai, saya sempat dihampiri oleh berbagai pedagang barang maupun jasa. Penjual pecel, ikan asin, mainan anak, cilok, jasa sewa perahu, kuda, bahkan ada mamang pelukis siluet yang saking keren dan miripnya sempat saya kira Kaka Slank yang iseng menyamar buat reality show televisi.

Diantara semua pedagang yang ada akhirnya tukang pecel lah yang menarik perhatian saya. Selain kelihatan menyelerakan dan berulangkali gak percaya kalau saya sudah makan, rombongan emak-emak yang duduk di sebelah saya dan menikmati pecel dengan lahapnya sambil mengobrol, akhirnya meruntuhkan iman untuk tidak makan lagi. 1 pincuk pecel pun disiapkan buat saya plus tambahan 2 buah bala-bala (gorengan) dan 1 tusuk sate kerang dara yang sudah dibumbui kuning (laaah katanya sudah makan). Rp 10.000,- pun akhirnya saya donasikan kepada penjual pecel ini. Perut yang kekenyangan dan mondar mandirnya beberapa penjual yang mampir di tempat saya duduk, akhirnya memaksa saya untuk segera berkeliling pantai dan meninggalkan deposito Rp 20.000,- kepada pemilik warung untuk menitipkan sandal dan beberapa minuman yang sempat saya nikmati sebelumnya.

PANGANDARAN BEACH 13 edited

Mendekati bibir pantai, saya sempat mengamati beberapa penjual ikan asin yang mengerumuni ibu-ibu yang sedang asik menunggui suami dan anak-anak mereka. Jambal roti Rp 100.000,-/kilo (rekor harganya mengalahkan daging/kilo), segala macam jenis ikan asin mentah lainnya seperti ikan layur, teri, dll. yang perbungkusnya dihargai Rp 10.000,- – Rp 20.000,-, dan beberapa hasil laut lainnya yang sudah dibumbui dan digoreng garing siap makan (teri besar, cumi, dll) yang ditawarkan dengan harga Rp 40.000,-/bungkus. Bergerak beberapa langkah, ada beberapa penjaja barang-barang kreatif dengan bahan baku laut. Aneka gelang, kalung, bandana, bahkan hiasan meja, ditawarkan dengan harga yang berkisar antara Rp 10.000,- s/d Rp 50.000,-.

Setelah puas cuci-cuci mata dengan para pedagang, saya didekati oleh mamang yang menyewakan perahu dan penyewaan kuda. Tawaran mereka senilai Rp 75.000,-/orang langsung saya tolak dengan berat hati. Bukan karena takut tenggelam atau kudanya jadi kapok akibat terlau kelelahan membawa penumpang setara 3 buah tong ekspor, tapi lebih kepada kemungkingan muntah akibat terlalu kekeyangan.
Beberapa tolakan halus hasilnya membebaskan saya dari para pedagang. Sambil merasakan sentuhan-sentuhan kecil air setinggi mata kaki di bibir pantai, saya menelusuri pantai di bagian barat ini sambil mendengarkan teriakan-teriakan senang anak-anak yang berenang dengan seluncur busa. Dengan hanya memberi Rp 10.000,-/seluncur, mereka sudah bisa menikmati main di air sepuas-puasnya. Sementara yang sudah lebih berumur, hanya duduk basah kuyup dan bermain pasir yang basah sambil memperhatikan keluarga mereka menikmati akhir pekan yang luar biasa.

PANGANDARAN BEACH 10 edited  PANGANDARAN BEACH 4 edited

Facebook Comment