pic02

Setelah sempat mewakili Dinas Koperasi dan UMKM Bekasi pada event Fashion and Craft 2015 di Jakarta Convention Centre, kali ini FiBi Jewelry diberikan kesempatan kembali mewakili Kabupaten Bekasi untuk acara Palembang Expo 2016 yang diadakan di Benteng Kuto Besak pada 4 s/d 8 Mei 2016.

 

Yang namanya “mewakili” tentunya menjadi suatu kehormatan tersendiri karena membawa nama baik institusi tempat kami bernaung. Pun harus tampil dengan sebaik mungkin agar, setidaknya masyarakat Palembang, mengetahui bahwa Kabupaten Bekasi memiliki UKM yang patut ditampilkan di ajang setingkat Provinsi dan berharap mendapatkan apresiasi, baik untuk brand image maupun dari segi penjualan.  Persiapan pun dilakukan dengan sebaik mungkin, mulai dari produk, perlengkapan fisik stand, materi promosi dan juga yang cukup penting penampilan booth yang tidak boleh mengecewakan.  Alhamdulillah berkat bantuan seorang sahabat yang memang berdomisili di Palembang, Rasmini Rusdi, lalu lintas pengaturan materi-materi di atas dapat dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum datang ke kota tempat kelahiran saya ini.

 

Berangkat H-1 sebelum event berlangsung dan dengan jadwal padat bersama tim DisKop dan UMKM Bekasi yang berjumlah 8 orang + 2 orang dari kami, alhamdulillah tidak terjadi kendala atau keterlambatan dalam pengaturan waktu.  Hanya saja pelannya kerja EO setempat dalam pembangunan area pameran memaksa kami untuk berkali-kali mengecek kesiapan tempat agar tidak tumpang tindih dengan puluhan tenaga kerja yang sedang mendirikan stand daerah/kabupaten yang berada di dalam cakupan Provinsi Sumatera Selatan.  Loading In akhirnya bisa kami laksanakan hampir mendekati tengah malam, tentu saja dengan timbunan peluh yang menempel di baju.  Kalo seandainya ada ember, mungkin perasan keringat bisa sampe penuh dengan bonus debu-debunya.  Jangan tanya soal gerah luar biasa.  Panas di Palembang yang mungkin mencapai 40 derajat  bisa mewakili resahnya kami yang ingin lebih baik mandi dan ngadem di kamar ber AC daripada berada di satu gedung yang tumplek bleg dengan sekian banyak tukang yang kerja tanpa kipas sama sekali dan harum semerbak body yang tak terbantahkan.

 

Alhamdulillah, walaupun mandi keringat, manjat dan ngangkut sana sini, setting up stand selesai malam itu juga.  Kami yang tadinya sempat kekurangan meja, akhirnya ketiban rejeki nomplok 2 meja panjang milik Rasmini, yang gagal dipake. Rejeki anak-anak sholeha hahahaha.  Malam itu stand kami tinggalkan kosong untuk kemudian dilanjut dengan penataan produk (wire jewelry dan decoupage) pagi-pagi sekali, bahkan sebelum stand kabupaten selesai tertata.  Sebagai kuli dagang yang sering ngamen di beberapa tempat, terlihat sekali etos dan irama kerja antara orang-orang yang terbiasa berkejaran bersama waktu dan lalu lintas dengan mereka yang tinggal di kota yang tidak merasakan hal yang sama.  EO nya pun (yang belakangan kami tahu datang dari Jakarta), jadi ikut-ikutan melambat atau terpaksa ikut melambat dan tega membiarkan proses display pagi itu menjadi kerja penuh peluh karena pendingin ruangan yang seperti enggan untuk dinyalakan.  Gerah dan hujan keringat pun mendera.  Baju seragam batik lengket plek di badan.  Plus dempul muka pun merontok di sana sini hahahaha.  Padahal saya sudah dandan keceh badai aaeehhh …..

 

pic05

pic06

Satu hal yang sering saya lihat ketika menghadiri (hadir sebagai tamu) pada pameran yang diadakan di daerah adalah kebiasaan mereka memasang wajah pemimpin, kadang wajah istrinya, di setiap sudut dinding stand.  Bahkan nyaris backdrop pun dikuasai oleh foto-foto pemimpin dan pejabat-pejabat daerah dibandingkan dengan tampilan/foto produk unggulan, atau setidaknya pemandangan alam daerah yang bersangkutan.  Jika ada teman-teman yang bisa menguraikan efek manfaat dan kelebihan satu hal ini, dengan senang hati (sangat) ingin saya dengarkan.  Barangkali dengan keterbatasan ilmu komunikasi yang saya miliki, ada beberapa hal yang terlewatkan dan kurang/belum saya pahami.

 

Terlepas dari perlunya ditingkatkan kualitas fisik pameran, seperti toilet yang harus nyebrang jalan dan berbayar (sehari kira-kira Rp 20.000,-), ada mushola tapi gak ada air, AC yang ditaruh di langit-langit dan menghadap ke angkasa seakan-akan ingin mendinginkan tenda bukan orang yang di dalam, karpet yang bolak balik rembes karena air AC dan tumpuhan hujan mendadak, acara ngamen kami di sini, dari segi penjualan, sesungguhnya di luar dugaan.  Dengan mulai merangkak naiknya pengetahuan produk wire jewelry dan decoupage, strategi untuk tidak menawarkan jualan dengan kelas premium sepertinya sudah sangat tepat.  Dari sekian pelanggan yang kami temui, mereka masih sebagian besar berkutat pada produk dengan rentang harga di bawah Rp 250.000,-.  Jikapun ada yang datang untuk membeli produk premium, negosiasi sebagian besar berlangsung alot, diikuti dengan nyengir kuda, sampe akhirnya deal dan terbungkus rapih.  Bahkan ada 1 ibu yang sangat ramah menjamah dan bertanya satu persatu.  Alhamdulillah, beliau membeli dalam jumlah banyak plus memaksa saya melepas 2 cincin perak, yang sebenarnya koleksi pribadi.  Melihat ukuran beliau yang sulit menemukan cincin yang pas (You know what I mean hihihihi), akhirnya cincin-cincin kesayangan itu saya lepaskan.  Produk decoupage pun dapat apreasiasi yang sama.  Tapi tentu saja dengan rentang harga yang berbeda jika pameran di Jakarta. Ya sutralan, lain lubuk lain pulak kebijakan dan rejekinya.  Pelajaran dagang yang harus dicamkan kedepannya karena sejatinya berdagangpun harus setidaknya mengembalikan modal yang dikeluarkan disamping mendapatkan kesempatan untuk bertemu pelanggan baru dan memperluas network.

 

pic03

 

Above all, pengalaman pertama pameran di bumi Sriwijaya, telah menjadi catatan yang tidak akan terlupakan.  Terutama ketika kami harus loading out dengan barang bejibun kek orang mau pindah rumah, sementara tidak ada kendaraan pribadi yang bisa membantu.  Beberapa alternatif mampir ke benak kami dengan mempertimbangkan kemacetan di depan venue dan jarak venue ke hotel yang nanggung banget.  Pertama, nyewa ojek atau becak, yang otomatis harus dalam jumlah banyak sekali jalan atau hanya 1 dengan rute bolak balik.  Kedua, nyewa odong-odong wisata yang musti dikayuh dengan sekali jalan.  Yen dipikir-pikir sepertinya pilihan kedua lebih efisien dan efektif karena bisa menampung barang-barang sekaligus angkut.  Tapi membayangkan ngengkol sendiri dalam kondisi lelah kok yaaaa gimana gitu.  Apa boleh buat, daripada ngider mondar mandir untuk jarak dekat tapi macet, pilihan kedua sepertinya adalah solusi yang terbaik.  Jadilah malam terakhir kami pameran ditutup dengan naik odong-odong comel, meriah berlampu kerlap kerlip tapi bentuknya sama dengan VW kodok jadul hahahaha.  Tentu saja dengan perjanjian ibu-ibu manis ini tidak ngengkol.  Lah trus gimana jalannya? Ttuuuhh ada ojek motor yang ndorong dari belakang yang unyu-unyu. Yang pegang setir odong-odong pun serasa bocak yang lagi main bom-bom car tapi dapat bonus penumpang emak-emak STW yang sibuk kakakikik sepanjang jalan. Ttuuhh kapan lagi coba disetirin dengan moda transportasi unik kek gini.  Situ aja gak pernah kan?? hahahaha

 

pic01

 

 

 

Facebook Comment