Pintu belakang Pasar Kanoman | Sesak dengan kendaraan roda dua dan aktifitas angkut barang

Tak ingin menghabiskan waktu sekedar leyeh-leyeh di kamar hotel, selesai sarapan, suami mengajak saya dan Fiona (putri kami), untuk mengeksplorasi Pasar Kanoman.  Pasar Tradisional di Cirebon yang katanya segala ada.

Mendadak saya meriang disko.  Secara dari melek sampai hampir setengah abad begini saya selalu berusaha menghindari pasar, terutama pasar tradisional.  Kenapa emang Buk?  Sumpah.  Gak kuat banget sama sesak, bau sejuta variant, dan sirkulasi udaranya.  Jangankan ngider, masuk lebih dari 15 menit aja, mata langsung berkunang-kunang dan pengen muntah.  

Berbeda dengan suami yang sedari kecil memang sudah biasa mengawal almarhumah Mama (mertua) belanja ke pasar.  Sampe yang becek sumrecek sekalipun.  Duuhh bumi dan langit banget dah dengan saya.  Jadi teringat cerita Ibu saya ketika mengajak saya, yang saat itu berusia 5 tahun, ke pasar Cinde, salah satu pasar tradisional di Palembang.  Begitu diajak masuk, saya langsung nangis sekencang-kencangnya dan minta diantar pulang.  Naahh akhirnya nama “pasar” pun jadi senjata ampuh kalau saya nakalnya mulai kumat.  “Ayo lagi lagi.  Kalau masih bandel, ntar dibuang di pasar”  Makjleb.  Saya pun langsung diam seribu bahasa.  Biasanya kalo sudah gitu, saya ngacir maen ke luar rumah hahahaha.  Baliknya entar entar kalo keselnya dah ilang.  Bahkan kadang-kadang sengaja “menghilangkan diri” dan baru pulang kalo ada yang cari (dasar).

Kolam Ikan Koi | Sempet nangkring lama di sini sambil nungguin suami belanja buah

Sesungguhnya, Pasar Kanoman gak jauh-jauh amat dari Swiss-BelHotel tempat kami menginap.  Segede-gedenya Kota Cirebon, yah masih dekatlah kalau mau kesana kemari.  Tapi, seperti yang diceritakan teman, lalu lintas ke dan dari pasar tradisional ini memang butuh perjuangan.  Macet tidak bisa dihindarkan karena memang jalan aspal yang seyogyanya diperuntukkan bagi kendaraan (terutama roda empat), penuh sesak terisi parkir motor, parkir mobil, loading dan unloading barang, dan pedagang-pedagang kecil yang berjualan di sepanjang badan jalan dan trotoar.  Lajur yang kalau dalam kondisi normal bisa untuk 2 arah dan 1 sisi parkir, kini hanya bisa digunakan untuk 1 arah saja.

Baca juga Swiss-BelHotel Cirebon | Hotel Berkelas, Nyaman, di Tengah Kota Cirebon

Si Ayam Jago | Berbagai perlengkapan makan dengan gambar Ayam Jago | Sayang dilewatkan untuk tidak dibeli

Menikmati macet sambil mencari slot parkir, saya menebarkan pandangan ke segala arah.  Ruko-ruko yang kami lewati tampak dicat berwarna-warni.  Sudah gak keliatan plang nama tokonya karena di bagian depan toko-toko ini, hampir sebagian besar, sudah ditutupi oleh pedagang emperan.  Yang dijual pun bervariatif.  Mulai dari kebutuhan pokok sampe warung-warung kecil yang menjual makanan khas Cirebon.  Beberapa pembeli tampak berkumpul, asyik menikmati jajanan sambil duduk di kursi plastik tanpa senderan.  Asap kuah soto pun mengepul, berasap, dan wanginya tercium menggoda.  Tapi apa daya.  Seandainya mobil ini bisa dilipat atau dititipkan.  Cusss pasti langsung nangkring manis di situ.

Saya melirik ke arah suami yang tampak antusias menebarkan pandangan kesana kemari.  Berkomentar ringan tentang apa yang kami liat sepanjang jalan sambil sesekali protes kenapa jalan tidak diatur rapih.  Tapi tampaknya antusiasme bakal menjelajah pasar lawas yang berada di Kampung Pekalipan ini sudah mengalahkan segalanya.  Menyetir tetap dengan kesabaran sampai akhirnya menemukan tempat parkir di bagian belakang pasar.

Tak jauh dari tempat kami menitipkan mobil, saya langsung terpesona dengan pedagang piring, mangkok, gelas, hiasan dinding, dan guci antik.  Ada yang dilukis dengan corak bunga, binatang, sampai ayat suci Qur’an khusus untuk hiasan dinding.  Barang-barang pecah belah ini tampak aman dengan hanya digelar sebagian besar di trotoar yang notabene penuh sesak.

Pedagang pecah belah di trotoar jalan
Kepiting yang sudah digoreng | Ditawarkan berikut dengan bumbunya

Baiklah.  Mari kita teruskan perjalanan mengawal suami menjelajah pasar.

Sempat lama berhenti di beberapa gerobak buah-buahan yang menjual aneka mangga, saya asyik menatapi kolam plastik lumayan besar yang berisikan ikan koi berukuran sedang.  Hanya mengamati hingga lamunan terpecah karena suami mengajak melanjutkan langkah.  Kali ini, di sepanjang jalan dari gerbang masuk (mungkin bagian depan), saya menemukan aneka jajanan siap saji.  Mulai dari jajanan pasar (jajanan terenak ketika saya masih kecil), aneka pepes, kepiting, udang yang sudah digoreng tepung, aneka kerupuk mentah, ikan asin, dan bawang goreng.  Untuk yang terakhir ini, akhirnya berujung dengan penyesalan karena belinya terlalu sedikit (2 toples aja kalo gak salah).  Ternyata begitu sampe di rumah dan dicoba …eehh… lah kok enak banget (ngekek).  Entah berapa harga dari masing-masing yang sudah berplastik-plastik digenggam suami.  Maklum.  Komunikasinya dengan bahasa Sunda.  Sementara gak ada satupun dari bahasa daerah asal suami ini yang saya pahami.

Aneka pepesan | Ayam, ikan, teri, dan entah apa lagi
Udang yang sudah digoreng tepung | Aslik, ini menggoda buanget
Kue tradisional dan jajanan pasar | Pengen beli tapi badan kerap kedorong-dorong orang lain | Yaahh gak jadi deh

Beberapa langkah selanjutnya adalah salah satu makanan favorit saya.  Apa itu? Jengkol.  Yup.  Dijual dalam berbagai variasi.  Ada yang masih mentah lengkap dengan kulitnya.  Ada yang sudah direndam, dikupas, kemudian dibungkus dalam plastik, dan ada juga yang sudah berbumbu.  Menyelerakan.

Jengkol | Makanan favorit saya | Ditawarkan dalam berbagai variasi

Sampai setakat ini badan saya mulai bereaksi.  Kalimat “Udahan Yok” akhirnya meluncur dari mulut saya.  Kami pun mempercepat langkah walaupun seringkali terhenti karena lewatnya becak dan motor yang maksain banget (gemeess).  Bayangin.  Ditengah-tengah padatnya orang jalan kaki berdesakan, 2 moda transportasi ini tampak seliweran tanpa dosa.  Menghindar dari kena tabrak, saya ngebut berpijak dan menemukan sudut jalan yang lebih luas dengan udara yang lebih lega.  Aaahh.  Lumayanlah.  Akhirnya bisa mengganti kualitas oksigen.

Berhenti dalam hitungan detik, mata tertuju ke arah penjual baju-baju serba merah khas Cina.  Untuk orang yang sangat jarang blusukan ke pasar, ngeliat ini tetiba ingat Sincia (baca: tahun baru Cina) dan Glodok.   Warnanya yang gonjreng jadi mencolok banget dibandingkan dengan sederetan pedagang yang baru saja tak lewatin.

Penjual baju tradisional Cina | Mencolok diantara pedagang lainnya

Lepas dari busana serba merah ini, saya melirik ke arah suami yang sudah tampak kerepotan dengan berbagai kantong plastik di tangan kanan dan kiri.  Kalimat pamungkas “Udahan Yok” akhirnya keluar berulang dari mulut saya, yang kemudian disambut dengan anggukan suami.  Aaahh.  Saya pun membuntuti suami yang berusaha menemukan pintu keluar diantara barisan ratusan pembelaja dan penjual.  Butuh waktu ekstra buat kami menemukan jalan yang satu ini.  Tapi setelah melalui pedagang serba basah (ikan mentah, dll) dan sebuah gang yang cukup sempit, kami akhirnya tiba di jalan keluar yang berada sekitar 100 meter dari tempat mobil kami dititipkan.

Menelusuri bagian akhir dari perjalanan, saya bertemu dengan abang-abang penjual mainan anak.  Tak ingin melewatkan keindahan dan kekayaan warna serta bentuk dari setiap mainan yang dijajakan, saya pun mengeluarkan kembali kamera untuk mengabadikan kesempatan ini.  Sayang si abang penjual gak mau dipotret.  Padahal scene human interest dan bonding antara si abang dengan seorang anak kecil yang membeli bakal keren banget sebenarnya.

But it’s ok.  Saya menebarkan senyum semanis mungkin.  Bukan hanya kepada si anak kecil yang melambai kepada saya, tapi juga karena lega sudah terlepas dari “perjuangan kecil” menelusuri pasar tradisional di tengah hari panas kejengkang yang sungguh menguji mental.

Aneka mainan anak | Kaya warna dan bentuk
Mainan Anak | Yang ini kepala Hanoman bukan ya?