Undangan Mengajar yang Tak Terduga

Saya sedang berjibaku menyiapkan beberapa proposal, ketika sebuah WA dari seorang teman lama mampir di handphone.  Tidak banyak basa basi yang mampir karena teman ini juga adalah seorang pekerja dan waktunya sangat terbatas.  Pesan yang penting dia sampaikan adalah agar saya (segera) menghubungi seseorang yang sedang mencari guru ketrampilan untuk sebuah perusahaan besar di Bontang.  Bontang? Kalimantan Timur? Wow, jauh bener ya.  Tempat yang sama sekali belum pernah terlintas dalam benak.  Saya pun semangat 45 dengan sejuta penasaran menggelayut di kepala.  Apalah artinya jarak,  karena mengajar dimanapun, dengan siapapun, dan kapanpun, dalam skala besar maupun kecil, telah menjadi prioritas saya dan penyegar batin yang sangat sulit ditolak.

Adalah Mbak Christiana Ishak orang yang dimaksud.  Walaupun belum pernah dan tidak sempat bertemu secara langsung sampai saya menginjakkan kaki di Bontang, kami beberapa kali berdiskusi berjam-jam via telepon dan tentu saja via WA.  Belakangan akhirnya saya tau bahwa beliau adalah salah seorang penting di kepengurusan Persatuan Wanita Patra (PWP) BADAK NGL, institusi yang mengundang saya untuk mengajar di Bontang.

Hampir 1 bulan proses negosiasi berlangsung, hingga akhirnya ditetapkanlah bahwa saya akan mengajar wire jewelry untuk 30 orang peserta yang dibagi atas 2 tim/batch (@ 15orang).  Mengingat bahwa seluruh peserta adalah mereka yang sama sekali belum mengenal wire jewelry, maka pada setiap batch akan belajar beberapa materi basic selama 1 hari dan early intermediate selama 2 hari.  Ketrampilan dasar ini mencakup semua teknik yang dibutuhkan dalam mengerjakan perhiasan kawat, seperti membuat loop, pengait, jump-ring, dll, berikut beberapa produk perhiasan yang menggunakan teknik-teknik dasar seperti (swirl bracelet, swirl ring, dan 2 bros sederhana).  Sementara untuk teknik lanjutan, saya mengajarkan wrapping dan netting.

Acara mengajar kali ini saya ditemani oleh Mbak Yayuk (Rahayu Andayani) yang telah seringkali mendukung saya di setiap kontrak melatih dan Dewi (Dewi Damayanthi) yang ke Bontang adalah kali ke-2 membantu saya setelah memberikan pelatihan untuk warga Rusunawa Marunda di daerah Tanjung Priuk.  Berangkat dengan tim yang sudah menyatu, alhamdulillah tambah menguatkan semangat dan kekuatan untuk memberikan yang terbaik.

 

Materi Kelas Dasar (Basic)

 

 

 

Materi Kelas Lanjutan Awal (Early Intermediate)

 

 

Perjalanan Menuju Bontang

Mengetahui bahwa untuk mencapai Bontang kami harus transit dulu di Balikpapan, dan karena setelah sekian lama saya belum pernah (lagi) menginjakkan kaki di kota yang dulu terkenal dengan bisnis minyaknya ini, saya memutuskan untuk menyediakan waktu agak lama agar bisa sedikit bernostalgia.  Apalagi ketika tahu bahwa bandar udara yang baru adalah salah satu yang terbaik di Indonesia, keinginan menjelajah bandara disela-sela waktu transit yang cukup pun jadi sesuatu yang sangat saya tunggu.

Pose dulu di area ketibaan Bandara Sepinggan Balikpapan

Jadilah hari itu,  21 November 2017, pagi hari kami sudah tiba di Bandara Internasional  Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan atau yang lebih dikenal dengan nama Bandara Udara Sepinggan Balikpapan.  Menunggu penerbangan penyambung sekitar 5 jam di kota ini, kami habiskan dengan mengunjungi Pasar Inpres Kebun Sayur yang fenomenal di kalangan pecinta craft, merasakan sedapnya seafood di Resto Kenari, kemudian ngobrol sepuas-puasnya dengan seorang sahabat saya, Hertanto, yang sudah beberapa tahun ditugaskan ke Balikpapan.

Perjalanan berikutnya adalah terbang dengan pesawat ATR (pesawat baling-baling dengan 40 seats) Pelita Air Service yang sudah bekerjasama dengan BADAK NGL untuk mengangkut pegawai, keluarga pegawai, dan tamu-tamu perusahaan dari Balikpapan.  Penerbangan selama 30menit antara Balikpapan ke Bontang saya habiskan dengan bertukar cerita bersama teman duduk bersebelahan, Ibu Hertaty Yendha, istri dari COO (Chief Operational Officer) Badak NGL Bontang yang juga secara otomatis adalah Ketua PWP Badak NGL.

Sambutan meriah dari ibu-ibu panitia sekaligus pengurus PWP Badak menjadikan sore itu penuh tawa dan warna.  Suasana kekeluargaan langsung tercipta seperti semuanya sudah mengenal satu sama lain bertahun-tahun.  Terutama antara saya dan Mbak Chris yang menjadikan acara mengajar kali ini bisa terjadi.  Pelukan hangat kami pun langsung menyergap hati saya.

Obrolan-obrolan dari sabang sampai merauke khas ibu-ibu mengisi setiap menit sejak ketibaan kami hingga menginjakkan kaki di Apartemen Sawo Kecik, tempat tinggal kami selama di Bontang, yang hanya berjarak sekitar 1km dari bandara.  Mulai saat itu saya merasakan kehadiran kuasa Allah yang sangat berarti dan bermakna.  Betapa beruntungnya saya hingga bisa menjejakkan kaki di sebuah kota kecil yang bernilai tinggi bagi negara dalam rangka membagikan ilmu dan menjadi bagian dari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) mereka.

Pesawat ATR yang membawa kami terbang ke Bontang

 

Badak Knowledge House

Tiba 2 hari sebelum acara berlangsung menjadikan seluruh persiapan, termasuk kondisi fisik, betul-betul prima.  Setelah setengah hari kami habiskan untuk mengatur seluruh perlengkapan dan materi workshop, kami pun meluncur ke Badak Knowledge House, sebuah tempat yang memang dipersiapkan Badak NGL  untuk berbagi pengetahuan, ilmu, dan informasi dengan masyarakat luas.

Gedung 2 lantai yang berada di jalanan besar ini, berada tidak jauh dari kompleks utama Badak NGL.  Dilengkapi dengan area receptionist, ruang tamu, rest rooms, ruang theatre di lantai bawah, sejuknya hembusan AC akan menyambut kita begitu membuka pintu utama. Gak bisa dipungkiri, tingginya suhu udara Bontang, membuat kita sering mengejar dinginnya AC untuk kenyamanan.

Bergaya di depan Badak NGL Knowledge House. Tempat workshop berlangsung selama 6 hari
1 set sofa unik terbuat dari drum yang merupakan hasil karya dari salah satu perajin mitra binaan BADAK NGL. Kehadiran sofa ini memberikan sentuhan berbeda untuk Badak Knowledge House

Menaiki sebuah tangga di kiri pintu masuk, pemandangan penuh informasi menyambut kami di lantai 2.  Dinding dipenuhi dengan foto-foto bersejarah tentang Badak NGL, 2 maket ukuran sedang menampilkan kompleks perusahaan secara keseluruhan, perpustakaan mini dengan berbagai jenis buku dan hamparan karpet yang terlihat nyaman, sebuah ruang kantor, dan tentu saja ruang yang cukup besar untuk meeting atau pelatihan yang mampu menampung sekitar 30-35 orang.

Disela-sela mengajar, saya menyempatkan diri membaca beberapa buku, salah satunya adalah sebuah buku hard cover berjudul Bontang yang diterbitkan oleh perusahaan.  Buku ini meninggalkan kesan mendalam buat saya, karena dari setiap lembarannya saya menyerap berbagai informasi penting terutama sejarah terbentuknya kota Bontang dan PT BADAK NGL yang mulai resmi beroperasi pada 1974.  Selain buku ini, saya juga sempat menghabiskan bacaan tentang Annual Report PT BADAK NGL tahun 2015.  Tampak terbaca beberapa pergerakan kebijakan dan strategi organisasi untuk selalu berkembang.

 

Kembali ke lantai bawah, di bagian luar gedung, dekat pintu masuk, kita akan menemukan area khusus, seperti warung kecil, yang menampilkan produk-produk mitra binaan perusahaan.  Saya sempat mencoba Sirup Mangrove yang merupakan hasil dari budidaya hutan bakau yang berada di beberapa tempat di Bontang.  Beberapa dari merekapun adalah binaan dari PT BADAK NGL.

Toko kecil di ground floor Badak Knowledge House yang menyajikan beberapa produk mitra binaan

 

Pelaksanaan Workshop

Mengawali rangkaian pelatihan, seperti biasa, di hari pertama diadakan acara formal pembukaan yang dihadiri oleh seluruh peserta workshop batch #1, pengurus PWP Badak, serta perwakilan dari Divisi Corporate Communication PT BADAK NGL yang turut mensponsori terlaksananya pelatihan.

Selain menyampaikan visi dan misi diadakannya pelatihan yang adalah bentuk kepedulian perusahaan untuk masyarakat setempat yang dituangkan dalam slogan Moving Forward with The Society, penyelenggara juga mengharapkan agar ilmu dan keahlian yang didapat bisa membawa manfaat maksimal bagi seluruh peserta.  Begitupun harapan-harapan dari FIBI Jewelry, bendera yang menggawangi kehadiran saya, Mbak Yayuk, dan Dewi.  Semangat untuk memberikan pelatihan yang terbaik pun menyala-nyala seiring dengan pemberian kenang-kenangan dari Ibu Hertaty Yendha dan tepuk tangan yang meriah dari seluruh hadirin.

Serah terima kenang-kenangan dari Ibu Hertaty mewakili PWP Badak NGL

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, program pelatihan dibagi menjadi 2 batch/rombongan.  Setiap batch terdiri dari 15 orang peserta yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, seperti: para pengusaha/penjual produk-produk craft, beberapa organisasi kewanitaan yang ada di Bontang, PNS, pengurus PWP Badak, termasuk 2 orang penghuni lapas wanita.  Semua terlihat sangat antusias mempelajari kerajinan tangan yang sama sekali belum pernah mereka coba.

Mulai pkl. 08:30 dan berakhir pada pkl. 16:00 wita setiap harinya, sebagian besar peserta seringkali pulang ke rumah selama jeda 1.5 jam istirahat makan siang.  Jarak ke rumah yang dekat dan lalu lintas tanpa macet, tidak menjadi penghalang untuk semuanya tetap disiplin dengan waktu yang disediakan.

 

Belajar dan berangkat dari kemampuan dasar. Membuat LOOP adalah salah satunya

 

Workshop tidak melulu terlilit keseriusan. Tertawa bersama membawa suasana menjadi lebih bersahabat dan hidup

 

Bersama para peserta pelatihan Batch #1

 

Dalam 2 hari pertama, di setiap batch, para peserta diajak terlebih dahulu mengenali dan melebur dengan seluruh peralatan yang telah disediakan.  Kemudian menguasai beberapa teknik basic untuk membiasakan tangan bekerja dengan cara yang tepat untuk menghindari cedera, tapi tetap bisa berproduksi dengan ritme yang cepat.  Seperti misalnya bagaimana cara memposisikan/memegang round nose plier agar dapat membuat loop dalam bentuk bulat sempurna dengan 1 kali gerakan tangan.

Hampir sebagian besar peserta terlihat menikmati kelas dasar ketika mulai lihai menguasai trik-trik yang diajarkan.  Tanganpun walau pada awalnya kaku memegang tang, dalam tidak lebih dari 2 jam kemudian, sudah tampak luwes.  Teknik SWIRL yang digunakan untuk membuat gelang, cincin, bros dagu dan bros dengan cabochon, benar-benar menjadi materi yang tepat untuk pemula di dunia pembuatan perhiasan kawat.  Setidaknya dengan penguasan dasar dalam ke-4 jenis produk ini, para peserta memproduksi wire jewelry di rentang harga yang sangat kompetitif dengan pangsa pasar yang sangat luas.

Kesulitan dan tantangan yang lebih tinggi mulai terasa ketika menginjak hari ke-2.  Teknik WARPPING yang masuk ke dalam salah satu teknik awal lanjutan (early intermediate), mulai mengajak para peserta untuk mendalami bagaimana mengolah cabochon (batu tanpa lubang) menjadi bros atau pendant/bandul.  Dari puluhan kali mengajarkan wrapping untuk pemula, hampir 90% berhasil dengan hasil maksimal.  Untuk teknik ini, tantangan terberat justru adalah bagaimana menyelesaikan 6 buah kawat yang telah disatukan. Di tahap ini, setiap murid mulai diajak untuk bereksplorasi dan berkreasi mengkombinasikan wrapping dengan swirl yang sudah diajarkan sehari sebelumnya, selain tentu saja dengan tambahan ilmu berupa Teknik COILING dan Teknik WOVEN dengan pola sederhana.

 

Menjelang penutupan hari ke-2, para peserta diajak untuk mengenal dan mencoba Teknik NETTING.  Salah satu teknik di level Intermediate dengan kesulitan tertinggi.  Jadi sebelum mempraktekkan teknik ini dengan cabochon, peserta dilatih membuat netting dengan cara yang benar di sebuah kawat 1mm yang masih lurus.  Trik ini dalam 4tahun terakhir selalu saya praktekkan untuk mereka yang ingin menguasai netting.  Karena pada kenyataannya dengan berlatih terlebih dahulu di sebuah bidang lurus, murid lebih mudah beradaptasi ketika netting diaplikasikan pada sebuah cabochon.

Perjuangan berat, seperti yang sudah saya duga, terjadi di hari terakhir, dimana setiap peserta wajib menyelesaikan netting hingga akhirnya juga mampu mengerjakan bail dengan menggunakan Teknik WEAVING.  Di tahap ini, jelas terlihat wajah-wajah dalam berbagai ekspresi yang terkadang sulit ditebak.  Ada yang tampak tekun, ada yang mulai kelelahan, ada yang mulai mengalah dengan keadaan, tapi ada juga yang sangat antusias menyelesaikan salah satu materi tersulit di hari terakhir.

1 jam sebelum menutup kelas di setiap batch, saya selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan beberapa teori yang menurut saya penting untuk selalu disampaikan dan diingatkan.  Pertama tentu saja mengenai formula atau tata cara penghitungan harga jual produk.  Kedua adalah etika dan moralitas dalam berbisnis perhiasan.  Ketiga adalah mengajak teman-teman sekalian untuk menentukan kelas diri sendiri atau dalam artian menentukan brand image baik untuk diri sendiri maupun untuk strata produk perhiasan yang kita buat.  Keempat adalah mengenal, paham, dan mampu mempromosikan produk mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.

Penyerahan Buku BONTANG dan Sertifikat tanda terimakasih dari PWP BADAK NGL
Penyerahan Sertifikat Workshop Basic dan Early Intermediate untuk para peserta yang diwakilkan oleh salah seorang peserta Batch #2

Acara penutupan pada 29 November 2017 diadakan dalam suasana bersahaja namun penuh kesan.  Pada kesempatan ini, saya memberikan Sertifikat untuk Tingkat Basic dan Early Intermediate yang secara simbolis diwakilkan oleh salah seorang peserta batch #2.  Dipimpin oleh Ketua PWP Badak NGL, para pengajar menerima Sertifikat sebagai tanda terimakasih atas kesediannya mewujudkan salah satu kegiatan CSR perusahaan.  Acara ditutup dengan makan dan berfoto bersama, plus edisi wawancara dengan Bontang TV yang melibatkan saya, Ibu Hertaty Yenda, dan Ibu Sidra yang mewakili para peserta workshop.

Ibu Sidra menyampaikan kesan-kesannya di depan Bontang TV. Ibu Hertaty Yendha tampak cantik mengenakan kalung crochet mutiara baroq, yang saya buat khusus untuk beliau

Kesan mendalam sangat saya rasakan selama 12 hari berada di Bontang termasuk di dalamnya 6 hari mengajar untuk semua peserta yang istimewa di hati saya.

Syukur yang tak pernah putus saya haturkan kepada Allah SWT yang dengan kuasanya saya dapat kembali berbagi ilmu di satu tempat atau daerah yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh saya.

Terimakasih untuk suami dan anak-anak tercinta yang sudah mengijinkan saya untuk (lagi-lagi) meninggalkan rumah, berhari-hari, sehingga saya bisa merajut mimpi-mimpi saya sebagai seorang guru.

Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Mbak Yayuk dan Dewi yang sudah dengan setia mendukung setiap pergerakan saya, membantu dengan sepenuh hati, dengan seluruh tantangan dalam suka dan duka.

Satu harapan yang tak pernah luruh adalah semoga ilmu yang sudah dibagikan membawa manfaat semaksimal mungkin bagi seluruh peserta workshop.  Semoga suatu saat saya diberikan kesehatan, panjang umur, dan kesempatan-kesempatan lainnya untuk berada lagi di Bontang dalam kelas-kelas lanjutan.

Sukses untuk PWP BADAK NGL.  Semoga terus konsisten berkegiatan positif dan memberikan ribuan kebaikan bagi masyarakat Bontang plus tentu saja untuk para anggotanya.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here