Sebelum berangkat ke Macao saya sempat membaca beberapa tautan wisata yang sebagian besar menceritakan dan melukiskan betapa indahnya sebuah kota kecil yang merupakan bagian dari RRC dan pernah diduduki oleh Portugis ini. Banyak banget bangunan-bangunan cantik yang menjadi tujuan wisata. Tapi karena mengingat saya hanya punya kurang dari 1 hari untuk menjelajah, berhari-hari saya terduduk, browsing kesana kemari, berusaha menemukan hanya beberapa tempat saja yang paling populer yang dapat dikunjungi dengan waktu yang sangat terbatas itu. Dan Senado Square akhirnya menjadi juaranya selain Lord Stow’s Bakery yang sudah lama jadi incaran saya.

Baca juga Lord Stow’s Bakery | Pencipta Egg Tart Khas Macao yang Terkenal di Seluruh Asia

Senado Square | Potret diambil dari depan Leal Senado Building

Disiplin dengan hitungan waktu, pagi hari setelah sarapan dan merasakan nikmat dan lezatnya egg tart milik Lord Stow’s Bakery di Coloane Village, kami, saya dan Ratu, bersegera menuju Senado Square yang berada di pusat kota Macao. Destinasi wisata yang masuk dalam UNESCO Historic Centre of Macao World Heritage Site ini sungguh sangat memukau di saat kali pertama kami melihatnya dari kejauhan.

Lautan manusia dan teriknya matahari sesiangan itu sama sekali tak menghalangi kami untuk menjelajah. Langit yang terang benderang dan dilengkapi dengan awan-awan putih justru menyempurnakan sekian banyak foto yang kami abadikan saat itu. Keindahan tempat seluas 3.700m2 ini pun makin menarik dengan lantai paving yang dibuat dari batu berwarna dan disusun bergelombang laksana mosaic. Dari referensi yang saya sempat saya baca, ide lantai berkonsep wave-patterned ini dirancang oleh beberapa ahli tata luar ruang yang berasal dari Portugis dan dikerjakan di awal tahun 1990.

Dari titik tempat kami menyeberang, di sisi kanan berdiri gedung General Post Office yang tampak gagah dan rimbun oleh beberapa pohon yang menjulang tinggi di sekitarnya. Sementara beberapa langkah ke depan ada sebuah air mancur dan rangka besi berbentuk bola dunia yang merupakan bagian dari sebuah kolam kecil berbentuk bulat. Dulu, di sini, di tempat yang sama, berdiri patung Vicente Nicolau de Mesquita. Seorang tentara Portugis yang diketahui bertanggung jawab atas tewasnya ratusan tentara China di jaman Dinasti Qing (1644 – 1911). Tapi kemudian patung ini dihancurkan dan diganti dengan air mancur yang ada hingga saat ini. Karena itu taman di sekitar ini juga dikenal sebagai The Fountain.

The General Post Office building
The Fountain

Hanya beberapa langkah dari The Fountain, dengan warna bangunan yang putih bersih, berdiri The Holy House of Mercy yang dibangun pada 1569. Gedung nan cantik ini di masa sekarang banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan klinik pengobatan dan aktivitas sosial yang diadakan oleh Uskup Macao dan juga adalah penanggungjawab Gereja Katholik Romawi yang berada di Macao.

The Holy House of Mercy

Menyebarkan pandangan dari titik The Fountain saya menyadari bahwa semua bangunan yang berada di sekitar kami ini berwarna pastel, didirikan membawa konsep bangunan neo-clasical dengan mediteranian atmosphere. Jendelanya dibuat tinggi dengan pinggiran kayu berkualitas yang dicat hijau. Lantai bawah dari beberapa bangunan fenomenal ini telah disewa oleh beberapa jenama internasional. Baik itu dari industri fashion maupun produk-produk daily needs. Tentu saja, menurut dugaan saya, dapat digunakan dengan ijin khusus tanpa merubah struktur asli bangunan.

Senado yang adalah taman terbesar (the largest square) di Macao juga dikenal dengan nama Largo Do Senado. Kompleks wisata yang luar biasa ini tak menyelipkan sedikitpun bangunan modern. Jadi saat kita berada di sini, kita seperti terbawa ke suasana berlibur di negara Eropa dengan ciri khas style bangunan mewah dan megah, pedestrian yang lega, dan tentu saja ceiling (plafon) gedung yang tinggi.

Tak jauh dari gedung-gedung utama di bagian depan, berbelok ke arah kiri, kami bertemu dengan St. Dominic’s Church dengan bagian atas berbentuk lukisan mahkota. Dinding depannya berbentuk pipih dengan 3 pintu kayu berwarna hijau menjulang tinggi, beberapa tiang penyanggah kokoh hingga 3 lantai dan beberapa titik ukiran filigree semen putih di atas pintu. Mengagumkan.

Gereja yang dibangun di 1587 kemudian diperbaharui pada 1828 ini menyimpan banyak sejarah di bagian dalam. Ada satu jalur terbuka bagi para pengunjung di sisi kanan gereja yang mengarahkan kita ke dalam sebuah ruang perjamuan. Masuk dalam World Heritage List terhitung mulai July 2005, kemudian ditetapkan sebagai 31st World Heritage of China, saya sempat melirik ke beberapa foto lama dari bagian dalam gedung yang ditempelkan di sepanjang jalan. Tapi kemudian kami memutuskan untuk tidak masuk karena padatnya grup wisatawan dari cina daratan. Bukan main bejubelnya. Wah, gak sanggup saya bersaing dengan mereka dan pasti bakalan sulit untuk mendapatkan foto-foto clear tanpa bocor dan atau gangguan.

St. Dominic’s Church yang menjulang tinggi
Pintu depan St. Dominic’s Church

Lepas dari gereja St. Dominic, kami mengakhiri langkah di atas paving bermotif bergelombang ini dengan berjalan pelan di tengah ratusan turis Asia yang tampak memadati setiap jengkal toko. Semakin ke ujung, jalanpun semakin sempit. Bangunan berlantai 2 atau 3, dan sebuah klenteng pun ikut memenuhi jalan setapak. Rutenya juga makin menanjak. Lautan manusia mulai (kembali) menyemut dan teriakan-teriakan para pedagang pun terdengar bersahut-sahutan di setiap sudut. Menengok ke kanan kiri, jualan terlaris yang saya perhatikan adalah dendeng daging (yang pasti non-halal). Mbak-mbak SPG yang menawarkan pun jejeritan sekenceng mungkin. Salut saya sama suara tenornya. Heboh sureboh menjajakan dagangan sekuat tenaga.

Jualan lain yang tampak sangat diminati para wisatawan adalah kue-kue, termasuk berbagai minuman ringan seperti ice cream dan fresh juice. Sampai di titik ini, saya melihat dan merasakan suasana Hong Kong yang pindah ke Macao. Toko di lantai bawah dengan tempat tinggal di bagian atas. Padat dan hectic banget. Tapi suasana ini justru terus terang kaya akan kekhasan tersendiri. Apalagi yang ditawarkan itu sangat beragam. Sangat menarik untuk dijelajahi dan dinikmati melalui indera penglihatan kita.

Balik lagi ngomongin soal dendeng tadi. Iiihh sungguh menggoda (iman) banget. Tampak juicy dan tasty. Ada yang digantung dan banyak yang ditaruh bertumpuk-tumpuk di dalam keranjang. Kebayang makannya dengan berpiring-piring nasi anget (ngetiknya sambil ngelap iler). Sayang gak ada yang halal.

Pintu gerbang memasuki gereja (sisi kiri foto)
Jalan menanjak dan beberapa gedung yang tampak rapat

Mengimbangi nafas yang mulai ngos-ngosan, keringet yang membanjiri badan, dan udara panas, kami memutuskan untuk berhenti sebentar di depan penjual minuman. Saya membeli ice cream ala Turki tapi ternyata gak cucok di lidah saya. Rasanya terlalu manis dan too sticky ketika dikunyah.

Puas ngaso beberapa menit, saya melirik ke jalan yang terlihat mulai berakhir tanjakannya. Semangat pun kembali melonjak, apalagi melihat langit biru dan awan putih yang kembali terbentang di depan mata. Sebuah kejutan indahpun kemudian menyambut kami. Akhirnya the most want-to-visit venue ada di depan mata. Setelah puluhan tahun hidup di dunia yang fana ini, akhirnya nasib mengantarkan saya untuk bisa menyaksikan sendiri kemegahan Ruins of St. Paul’s yang sudah mendunia.

Ruins of St. Paul’s yang megah

Bangunan gereja katholik yang juga dikenal dengan nama Sam Ba Sing Tzik ini pertama kali dibangun pada 1580. Sempat mengalami dua kali kejadian kebakaran (1595 dan 1601), gereja ini kembali didirikan pada 1637 yang membawa nama besarnya sebagai Gereja Khatolik Terbesar di Timur Asia. Serangan angin typhoon di 1835 dan kebakaran ke-3 akhirnya benar-benar meruntuhkan seluruh kemegahan bangunan dalam dan hanya menyisakan sisi depan gereja. Itupun terlihat rada miring menurut saya.

Ada puluhan anak tangga untuk mencapai sisi depan sisa gereja. Sementara ada satu area khusus yang padat tanaman hijau untuk melengkapi indahnya destinasi wisata yang satu ini dalam lensa kamera. Melalui berbagai tulisan yang saya baca dari beberapa blogger yang pernah kemari, Ruins of St. Paul’s selalu banjir dengan jumlah manusia, terutama rombongan tour dari negara-negara Asia. Saya pun merasa cukup menikmati keindahannya dari tempat dimana saya mengambil foto di atas. Berdiri dalam diam sambil menebarkan pandangan ke berbagai sudut touristic plus sebuah bangunan berwarna kuning cerah dan listing putih yang tegak berdiri di halaman depan gereja. Terlihat begitu kontras dengan warna sekitar dan sangat cantik dipadupadankan dengan biru bersihnya langit dan putihnya awan. Mata saya terpaku pada kedua keindahan tak terhingga ini untuk waktu yang cukup lama.

Waktu yang terpakai selama hampir 3 jam di Senado Square akhirnya memaksa kami untuk kembali ke Regency Art Hotel. Dari itinerary yang sudah kami sepakati di hari sebelumnya, sore itu kami harus mengejar speed boat yang akan membawa kami menyeberang menuju Hong Kong.

Baca juga : Regency Art Hotel | Lawas, Berbintang 5, di Pusat Kota Macao

Berjalan kaki kembali ke tempat awal kami turun dari taxi, sejuta kenangan dan pengalaman berkesan sudah saya dapatkan dari Senado Square. Banyak hal yang ingin saya ulangi. Terutama kegiatan berjalan kaki menyusuri jalan setapak diantara padatnya bangunan, serta menikmati waktu-waktu memotret dalam keadaan yang jauh lebih santai. Tentu saja dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah lain yang pastinya akan sama indahnya dengan Senado Square. I see you when I see you Macao.

Bersama Ratu | Travelmate trip ke Macao
Weave patterned paving yang menjadi ciri khas Macao
Menyempatkan diri berpose dengan kalung hasil karya sendiri di Senado Square