Bolak balik kek setrikaan ke Bali, berkali-kali pula gak pernah berhasil mengujungi desa adat yang satu ini.  Selalu ada pengkondisian yang membuat saya tak bisa datang ke sana, mulai dari cuaca yang tidak bersahabat, janji ketemuan yang tumpang tindih, sampai kemacetan berlebihan yang akhirnya membatalkan saya meluangkan waktu ke sana.  Tapi kunjungan ke Bali di awal Februari 2017 yang baru lalu, walaupun hujan terus menerus sedari melek mata, berhasil dikalahkan oleh niat yang kuat untuk (tetap) ke Penglipuran.  Masak sih harus batal lagi.

Digempur hujan yang tiada henti dan rasa malas yang menyerang untuk bangkit dari tempat tidur, pagi itu Bali terasa adem dan lebih sepi dari biasanya.  Kantuk pun menyelimuti selama perjalanan sambil terus berdoa agar hujan mau berhenti sesampainya kami di Penglipuran.  Hampir 2jam kemudian, kami sampai di Desa Kubu, Kecamatan Bangli, setelah sempat ragu dengan rute yang kami tempuh.  Tapi gara-gara salah rute inilah, akhirnya kami bisa menikmati indahnya lautan/hutan bambu yang memang adalah sumber daya alam kerajinan khas Bangli. Saya pun tak melewatkan kesempatan ini untuk mengambil beberapa shoot indahnya hutan bambu yang luas berdiri sepanjang hampir 1km.  Sepinya kendaraan yang melewati jalur ini, memanjakan saya bermain dengan lensa sepuas mungkin.

hutan bambu menuju Penglipuran
hutan bambu menuju ke Penglipuran
hutan bambu menuju ke Penglipuran

Menghabiskan waktu sekitar 15menit di hutan ini, lingkungan bersih pun menyambut kami di parkiran bagian belakang Desa.  Beberapa rumah dan pura besar yang ternyata berada di bagian paling atas desa ini, terlihat indah dan cantik banget.  Sambil membayar HTM sebesar Rp 10.000,-/orang, langitpun menjawab doa kami.  Hujan deras berubah menjadi rintik-rintik.  Betapa beruntungnya kami.  Cuaca berubah menjadi adem, tanaman terlihat hijau, dan warna jalanan setapak pun jadi lebih tegas tertangkap kamera. Untuk beberapa lama saya menikmati waktu-waktu yang kami habiskan untuk memandang keseluruhan desa dari bagian atas.

lahan hijau yang berada di sekitar tempat parkir atas
beberapa rumah yang terlihat sangat terawat di dekat halaman parkir atas
dinding pinggir Pura yang indah
tampak depan Pura di dekat parkiran atas
gerbang depan Pura di bagian atas kompleks desa

Dari beberapa literature yang sempat saya baca, ada beberapa informasi yang layak kita ketahui mengenai Desa ini.

Secara ETIMOLOGI, kata PENGLIPURAN mempunyai makna sebagai berikut:

Penglipuran berasal dan kata “pangeling” dan “pura” menjadi kata penglipuran berarti masyarakat penglipuran membangun pura seperti di Bayung Gede untuk mengingat pura di Bayung Gede dan mengingat leluhurnya;

Penglipuran berasal dan kata “pelipur” dan “lara” menjadi penglipuran, berarti penglipuran menjadi tempat menghibur di kala duka (lara) di samping karena penduduk sering dapat menghibur saat raja menghadapi masalah;

Penglipuran berasal dan kata “pangleng” dan “pura” menjadi penglipuran berärti bahwa barang siapa ke penglipuran akan melewati pura di empat penjuru mata angin yaitu utara, timur, selatan dan barat, dengan kata lain bahwa penglipuran di kelilingi oleh pura-pura.

Tangga yang berada persis di depan Pura. Pada sisi kanan dan kiri tangga terdapat 8 buah patung penjaga
Keindahan yang terekam dari atas tangga (foto di atas)

Sebelum akan dirubah menjadi sebuah Desa Wisata mulai tahun 1989/1990, Penglipuran tadinya adalah sebuah Desa Koservasi. Makna dari konservasi tersebut adalah MENJAGA suatu tempat sedemikian rupa agar tetap terpelihara dengan baik sesuai dengan MAKNA dari tempat tersebut.  Para jurudesa dan tokoh masyarakat pun berdiskusi agar keputusan pengembangan desa tidak meninggalkan kekhasan topography yang dimiliki oleh Penglipuran, seperti jalan yang turun naik serta deretan rumah yang saling bersambung satu dengan lainnya.

Keputusan merubah Penglipuran sebagai desa wisata ini adalah berkat campur tangan Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang pada tahun itu menjalankan proyek penataan pemukiman dan lingkungan pada tahap awal.  Selama proyek ini berjalan, desa ini mendapatkan sentuhan mahasiswa Universitas Udayana yang menjalankan Kuliah Kerja Nyata pada tahun 1990.  Para mahasiswa inilah yang akhirnya bergotong royong dengan masyarakat setempat membuat taman telajakan dan penataan lingkungan di sekitar desa. Perubahan secara fisik ini diikutkan dalam beberapa lomba desa bersih di tingkat kecamatan hingga akhirnya tingkat nasional.  Lambat laun, popularitas Penglipuran pun mulai merangkak ke atas, wisatawan yang berkunjungpun semakin banyak, hingga akhirnya masuk sebagai salah satu dari 10 desa terbersih di dunia.  Pencapaian ini tidak terlepas dari peran Bupati Bangli, Anak Agung Made Putra, yang terus memberikan sokongan dana agar konsep wisata untuk Desa Penglipuran dapat terealisasi.  Apapun itu, siapapun yang terlibat dalam setiap gerak perubahan, tentunya adalah hasil dari kerjasama yang baik dari banyak pihak.  Baik itu pemerintah, pengayom masyarakat, dan rakyat itu sendiri.

Yang pasti, bagi saya, apa yang saya lihat ketika berkunjung ke Penglipuran adalah hiburan mata, hati, dan jiwa.  Rintik-rintik yang membasahi jalan setapak, tanaman (rumput dan bunga), serta dinding-dinding bangunan, membuat hari itu begitu bermakna bagi saya pribadi.  Setiap tapak saya jalani pelan-pelan, mengambil foto juga tanpa terburu-buru, sampai tak ada satupun yang terlewatkan.

Ada beberapa rumah yang memiliki Pura pribadi di halaman mereka sendiri, baik besar maupun kecil. Rumah yang berada di deretan kanan (dari arah saya datang) bernomor ganjil dan di sebelah kiri dengan nomor genap.  Dan nomor terakhir yang saya catat adalah 72, berada di paling ujung kiri.  Semuanya bersih dan bersahaja.  Walaupun ada beberapa warga sudah membangun rumah dengan style lebih modern tapi tetap bernuansa Bali, rumah adat yang dibangun dari bahan bambu, yang menjadi bagian dari halaman rumah, masih tetap dipertahankan.  Malah ada 1 rumah yang berdinding ukiran kayu yang bikin saya tidak berhenti berdecak kagum.  Luar biasa cantiknya.

rumah berpintu dan berdinding ukiran kayu

Lelah berkeliling, kami pun menerima tawaran seorang ibu yang bagian depan rumahnya digunakan sebagai warung.  Tenggorokan kering dan pegel kaki, menggiring kami masuk, menerima undangan beliau, dan bergegas  menuju teras yang berada di halaman belakang.  Dan ternyata keputusan ini memberikan kejutan yang lain tak terkira.  Di teras dengan ubin dingin, tempat duduk panjang tersebut dari bambu, dan pintu kayu ukir berwarna hijau tua dan keemasan, kami memandang ke 2 rumah adat bambu yang tampak terpelihara, walaupun sudah tidak digunakan untuk aktifitas rumah tangga sehari-hari.

Di antara teras dan rumah adat, terhidang berwarna warni tanaman dan bunga, bahkan sempat lewat mengelilingi kami beberapa ekor kupu-kupu berbagai warna.  Selain menjual berbagai jenis minuman (panas atau dingin), dan aneka jajanan, pemilik rumah juga ternyata menjual beberapa bibit pohon atau bunga yang ditaruh rapih persis di depan teras kami duduk-duduk.  Siang itu, bersamaan dengan semakin derasnya rintik-rintik turun, kami memutuskan untuk menikmati kopi sambil mengobrol ngalur-ngidul dengan topik yang konsisten mengenai desa yang sedang kami kunjungi ini.

Bagian belakang rumah salah seorang penduduk tempat kami istirahat. Terlihat di bagian kiri, teras rumah yang kami singgahi
2 rumah adat di depan teras yang kami singgahi
Rumah Adat yang tetap terurus dengan baik

Hampir 30menit mengobrol sambil terkantuk-kantuk menahan tubuh yang lebih mengajak menggelar karpet, menarik bandal, dan kerukupan dengan selimut, kami pun beranjak memaksakan diri untuk berkeliling lagi.  Sekali ini kami menemukan sebuah Guest House di bagian tengah dari keseluruhan deretan rumah.  Rumah untuk diinapi ini terbuat dari bambu dengan halaman yang penuh dengan tanaman.  Sayang saya tidak sempat bertemu petugas yang dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang tempat ini.  Hanya selintas info didapat dari petugas kebersihan bahwa rate sewa adalah senilai Rp 500.000,-/malam. Harga pasaran lah.  Keknya boleh juga sekali-sekali menghabiskan 1 malam di sini sambil menggali lebih jauh cerita sejarah mengenai desa adat yang satu ini.

Pintu masuk menuju Guest House
Guest House yang terlihat sangat terawat

Selesai menjelajah dari ujung barat menuju timur, saya pun pelan-pelan mencoba membuat secuil video tentang Penglipuran.  Sambil merekam dan melongok sesekali ke arah beberapa rumah yang membuka warung, sudut mata saya menangkap kerajinan bambu SOKASI, besekan bambu, yang biasa digunakan untuk membawa bahan-bahan sembahyangan umat Hindu.

 

Sebelum kembali ke mobil untuk menikmati bebek crispy di Restoran Made Joni, saya sempat mendengar obrolan seorang tour guide dengan tamu bulenya.  Dalam penjelasan sang tour-guide, Penglipuran mengadakan festival tahunan dan beberapa acara/upacara adat.  Di saat-saat seperti ini, terutama saat Galungan dan Kuningan, desa akan dipenuhi dengan hiasan-hiasan dan penjor yang indah di setiap pintu depan rumah penduduk.  Wah, catatan penting nih buat saya.  Sepertinya harus kembali lagi ke sini di saat hari besar itu dan kalau bisa sekalian nginep biar bisa merekam semua kegiatan tanpa jeda.

Facebook Comment