Tanggal 25 Juli 2019 menjadi salah satu tanggal bersejarah dalam hidup saya karena inilah kali pertama menginjakkan kaki di Macau. Kota surga perjudian mantan jajahan Portugis dan administrasi khusus dari Republik Rakyat Tiongkok ini sebenarnya hanya 1 jam berlayar dari Hong Kong. Gak jauh. Tapi meskipun sudah berulang kali ke Hong Kong, gak pernah ada niat dan atau rencana untuk nyebrang plus menginap di Macau.

Tapi ternyata nasib berkata lain. Mendapatkan undangan dari Konsulat Jendral RI di Hong Kong untuk ikut serta dalam Guangdong Macau Branded Product Fair 2019 yang diadakan di Hotel The Venetian, akhirnya saya pun tinggal selama 5 hari di Macau. Tepatnya di Regency Art Hotel (Regency) yang berlokasi di kawasan strategis, Taipa.

Hotel ini bekerjasama dengan EO pameran dalam menyediakan fasilitas akomodasi bagi seluruh peserta. Jadi setiap hari selalu tersedia shuttle bus yang membawa kami ke (pagi hari) dan dari (malam hari) The Venetian Hotel (Venetian) yang juga berada di kawasan Taipa. Hanya butuh 15 menit untuk mencapai Venetian. Tapi jika naik taxi kami harus merogoh kocek sekitar MOP 50 atau sekitar IDR 90.000 per sekali jalan.

Patung batu pahatan di lobby depan hotel | Yang baju merah bukan patung ya

Awalnya saya berfikir untuk naik pesawat dari Jakarta yang langsung mendarat di international airport milik Macau. Tapi ternyata rute ini sudah dihapus dalam 1 tahun terakhir. Pilihan berikutnya adalah terbang ke Hong Kong kemudian menyambung naik speed boat dari pelabuhan ferry yang menempel di Hong Kong International Airport dengan biaya HKD 270/orang atau sekitar IDR 486.000/orang. Kepada petugas ferry saya menyerahkan slip bagasi dan langsung mereka handle free of charge. Turun dari pelabuhan ferry di Macao, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan shuttle bus menuju Venetian. Semua berlangsung sangat mudah dan lancar. Kapal ferry nya nyaman begitupun dengan bis yang digratiskan oleh Venetian.

Tak butuh waktu lama untuk tiba di Venetian. Mungkin tak lebih 15 menit. Yang menguras tenaga adalah berjalan membawa 4 koper menuju Exhibition Hall B di atas karpet tebal yang terpasang di hampir semua sudut hotel. Saking tebalnya butuh tenaga ektra untuk menarik koper. Roda jadi berat bergulir. Apalagi ternyata hall yang dimaksud berada jauh di dalam keseleruhan kompleks Venetian. Capek banget mak.

Selesai mengurus persiapan fisik (loading-in) di Hall B The Venetian Hotel serta bertemu dengan seluruh anggota tim delegasi Indonesia, saya dan Ratu (travel companion saya saat itu), bergegas menuju pangkalan taxi untuk mengejar waktu istirahat di Regency. Biaya yang harus kami bayar adalah MOP 52 sudah termasuk tambahan biaya untuk koper sekitar MOP 3/bh.

Lobby dalam dan reception area Regency

Waktu sudah menunjukkan pkl. 8 malam waktu setempat ketika kami tiba di Regency. Tidak ada yang istimewa di halaman depan hotel. Hanya 2 buah patung dengan pahatan kasar yang berwajahkan tentara Cina seperti yang sering saya lihat di serial kungfu. Dari tempat kami turun terlihat 3 pintu dengan masing-masing akses. Pintu paling kiri adalah akses menuju gambling lounge. Pintu tengah, yang paling besar, menuju lobby dalam hotel. Kemudian pintu paling kanan membawa kita memasuki galeri lukisan.

Sesaat menuju check in counter, lobby dipenuhi orang sekelompok besar wisatawan asal Cina dengan koper-koper kecil bertebaran di sana-sini. Tampaknya mau berangkat berjudi ini sih. Dan koper-koper itu berisikan uang hahahaha. Sementara kami menggunakan koper cabin untuk membawa baju, ngakalin koper besar untuk bawak dagangan, segerombolan gambler ini punya kebutuhan yang lain. Suasana pun riuh rendah oleh suara mereka. Walaupun petugas hotel berkali-kali mengingatkan untuk tidak bersuara keras, tetep aja puyeng denger suaranya. Untung check in nya gak makan waktu lama.

Fasilitas Kamar

Tempat tidur kami untuk 4 malam

Kamar standard twin bed yang kami pesan ada di lantai 9. Ukuran kamarnya cukup luas dan dipenuhi dengan interior design bergaya eropa. Untuk sekelas hotel bintang 5, apa yang kami dapatkan sudah lebih dari cukup walaupun nuansanya (masih) beraliran jaman dahulu kala. Dari info yang saya dapatkan, kamar di area kami ini memang kamar-kamar lama. Regency memiliki deretan kamar baru dengan rancang dalam ruang yang sudah lebih modern di area yang berbeda. Mungkin karena dapat harga khusus peserta pameran, fasilitas beginilah yang sesuai untuk itu.

Selain jendela kamar yang terbuat dari kayu dengan tarikan dan lipatan yang unik, saya langsung jatuh cinta sama sofa single berbahan kulit asli berwarna merah dengan senderan tinggi. Berada di dekat jendela, spot ini jadi favorit saya selama di kamar. Nyaman banget duduk di sini sambil menikmati teh Cina dalam sachet yang disediakan tiap hari. Socket listrik pun ada 2 titik di sini. Jadi bisa sambil masak air, masak mie, seraya melepas lelah, dan mengisi tenaga HP yang sudah digunakan hampir seharian penuh. Bahkan setiap pagi, saat bangun tidur, saya sering melongok ke jendela dan menikmati pemandangan bangunan-bangunan tinggi (kemungkinan besar adalah apartemen) dengan beberapa bukit yang terlihat dari kejauhan.

Sofa merah favorit saya
Kamar mandi yang luxury

Tengok kamar mandi nya yok.

Setelah berkali-kali mengunjungi beberapa kota di daratan Cina termasuk Hong Kong, saya tadinya berfikir akan mendapatkan ukuran kamar yang sama, termasuk kamar mandinya. Tapi ternyata di Macau kenyataannya berbeda. Kebijakan ukurannya sama dengan Indonesia. Untuk bintang 5, kamar mandinya sangat luas walaupun tetap dengan toilet tanpa air siram. Satu hal yang cukup mengganggu untuk kita yang terbiasa cebok dengan air mengalir.

Fasilitas kamar mandinya nyaman. Toiletries nya lengkap dan selalu terisi dengan yang baru setiap harinya. Hair dryer terpasang permanen. Sliper pun selalu diganti. Dan yang paling menyenangkan adalah ada rel panjang untuk menggantung baju atau handuk. Bisa banget nih buat nyuci dan njemur daleman.

Tragedi Gas Meledak di Dapur

Di malam kami pertama datang, karena sudah terlampau lelah untuk mencari makan malam, kami menggunakan fasilitas room service dengan memesan sepiring nasi goreng komplit. Porsinya pas, rasanya juga enak, lengkap isinya (telur, potongan ikan, seafood, dan sayuran). Pilihan yang pas untuk perut yang benar-benar kosong dan kondisi badan yang sungguh lelah. Malam itu, sebelum tidur, saya langsung membayangkan pasti sarapan pagi esok bakal seru dengan pilihan aneka hidangan yang enak-enak.

Tapi tak disangka dan diduga, paginya, ketika kami mendatangi resto yang berada di ground floor, kami disambut dengan keriuhan para tamu dan wajah panik para petugas hotel, khususnya yang bertanggung jawab untuk sarapan. Beberapa tamu, termasuk saya dan Ratu, tetap tenang dan memutuskan untuk tetap duduk. Kondisi yang tidak biasa ini baru saya pahami setelah seorang petugas berjas rapih, dengan bahasa Inggris yang cukup fasih, mendatangi kami dan menjelaskan bahwa telah terjadi hal serius di dapur sehingga mereka tidak bisa menghidangkan sarapan untuk 3 sampai 4 hari ke depan. Sebagai pengganti adalah tetap makan di resto dengan menu pop mie (yang ukurannya 2x lipat dari yang ada di Indonesia), menggantinya dengan uang cash senilai MOP 100/hari, atau dengan voucher makan 2bh/hari yang bisa digunakan di food court milik Venetian.

Kami menggunakan ke-3 pilihan yang diajukan. Pagi pertama, saya dan Ratu tetap sarapan dengan menu pop mie plus pilihan minuman air mineral (bisa juga memesan kopi atau teh). Pagi kedua dan ketiga, selama pameran berlangsung, kami memilih menggunakan voucher makan di food court Venetian. Sementara di pagi terakhir, kami meminta reimburse sarapan dengan uang cash MOP 100.

Regency bekerjasama dengan 3 counter di food court untuk menerima voucher dengan pilihan terbatas. Sementara kalau ingin sarapan atau membeli makanan di counter yang lain, biaya per menu rata-rata MOP 80 ke atas. Dan itu tidak dapat menggunakan voucher. Regency juga sepertinya tidak terlihat akan mengembangkan ide melayani sarapan darurat dengan menu-menu ekspres seperti roti, aneka bakery dan telur. Mereka hanya terpaku pada mie instan itu aja. Jadi no wonder kalau kemudian banyak tamu yang ngomel, bahkan ada yang langsung menuliskannya di tautan review hotel.

Saya sendiri gak mau mempermasalahkan, walaupun sejatinya nilai penggantian berada jauh di bawah standard pengeluaran sekali makan di Macau. Kesel sih karena jadi tidak bisa menikmati breakfast kelas hotel bintang 5 yang kok ya perbaikan dapurnya pas banget dengan periode kami menginap. Apalagi kehilangan kesempatan memotret dan mereview menu yang dihidangkan. Tapi melihat bagaimana pucat dan canggungnya sang restaurant manager berbicara pelan dan hati-hati di hadapan kami, hati saya melembut dan berusaha menerima keadaan yang ada.

Shuttle bus yang setiap pagi dan sore membawa kami dari dan ke Regency

Mengatasi kekosongan pelayanan room service, terutama saat makan malam, saya dan Ratu memutuskan untuk berjalan kaki sambil mengobrol, kemudian mengisi perut di McDonald yang berada sekitar 1.8km dari Regency. Kalau dihitung-hitung sih lumayan juga tuh jalan bolak-baliknya. Tapi kami menikmatinya dengan celoteh panjang lebar tentang topik apapun sepanjang jalan. Keamanannya juga sangat kondusif. Bahkan saat melewati taman yang berada di tengah-tengah perjalanan, kami sering melihat orang-orang berolah raga dan membawa piaraan mereka untuk berkeliling dan membuang hajat. Jadi yah dibawa asik aja sih.

Kalau ditanya apakah ingin kembali ke Macau? Yak!! Mau banget. Tentunya dengan mencoba sisi lain dari kota ini dengan waktu tinggal yang lebih panjang. Sebagai tempat yang pernah menjadi jajahan bangsa Eropa, kita dapat menikmati peninggalan-peninggalan bangunan yang megah dan indah. Setidaknya, kalau ingin mengunjungi spot wisata Macau yang atraktif dan menarik, lepas dari tugas pameran, waktu 2 hari adalah rentang waktu yang paling pas dan tepat.

Suasana lobby hotel yang selalu rame dengan turis