Keponakan saya, Camelia (Amel), semangat luar biasa ketika mendapatkan berita bahwa kedatangan saya ke Cipanas tujuannya adalah untuk menabung foto-foto cantik buat ditulis di blog.  Diskusi hangat pun berjam-jam terjadi.  Pengennya sih pergi ke tempat-tempat yang belum (pernah) saya kunjungi tapi cantik untuk difoto dan pantas untuk dibagikan.  Dan mengingat bahwa saya hanya akan stay selama 3hari 2malam saja, jadwal ketatpun mulai tersusun rapih dengan berbagai pertimbangan.

Kunjungan pertama adalah mengulangi main ke Taman Bunga Nusantara.  Walaupun telah berulangkali ke sana, nyatanya belum sama sekali menyimpan hasil jepretan yang layak untuk masuk blog.  Dan karena posisinya paling jauh dari rumah kami di Cipanas, rasanya lebih pas kalo main ke sana dulu.

Tulisan mengenai Taman Bunga Nusantara ini bisa Anda baca di tautan berikut ini “Taman Bunga Nusantara | Discover Beautiful | Where the Flowers of the World Grow”.

Kunjungan kedua adalah memenuhi undangan untuk beranjangsana ke Istana Cipanas.  Tetangga dekat yang jaraknya tak lebih dari 500m dari rumah.  Menimbang waktu pagi hari yang dialokasikan untuk Istana dan bisa berakhir menjelang makan siang, kami pun sepakat bahwa kunjungan ketiga adalah untuk sebuah tempat nongkrong dengan pemandangan indah, makanan enak, dan tentu saja bertebaran sisi photogenic plus istagramable.

Tulisan saya tentang Istana Cipanas dapat dibaca di tautan berikut “Menikmati Kemegahan Hunian Berkelas dan Penuh Sejarah di ISTANA PRESIDEN Cipanas”

Tak butuh waktu lama bagi Amel untuk berfikir dan menyebutkan THE ROOFPARK Cimacan ketika pembicaraan mencapai topik ini dengan kualifikasi yang telah disebutkan di atas.  Kegemaran dan taste-level nya akan dunia photography pun memudahkan saya untuk mengambil keputusan.  Kami pun sepakat berkunjung ke Roofpark setelah rampung dari Istana Cipanas.

Gundukan bunga ukuran besar yang berada di sisi kiri lift/pintu masuk Resto | Penuh warna dan jadi spot foto yang cantik

Referensi yang jitu dan sama sekali tidak mengecewakan.  Beberapa detik keluar dari lift yang membawa kami ke lantai paling atas, interior cantik penuh warna dan bertebaran bunga pun menyambut kekaguman kami, selain tentu saja, beberapa staf concierge yang siap mengarahkan ke tempat duduk dengan keramahan yang tidak berlebihan.

Beberapa rak dengan tumpukan bunga dan sebuah bouquet bunga (sangat) besar mentereng nongkrong di sisi kiri.  Sementara di sisi kanan, rak besi sejenis juga penuh dengan beberapa taman kecil di dalam sebuah box kayu, membelakangi area permainan bilyard yang luas.

Semua bunga artificial ini ternyata bukan hanya terdapat di bagian dalam resto, tapi juga hampir di setiap sudut resto yang saya temukan kemudian.

 

Box taman kecil yang ditaruh di rak besi | Berada di sisi kanan pintu masuk

Cafe dan Resto dengan konsep yang sangat matang hadir memanjakan mata dan membuka ruang foto yang sangat luas.  Tak ada sudut yang tak cantik untuk dijepret.  Saya pun terbenam berjam-jam di setiap sudut, dan meminta Amel untuk sigap memotret saya hingga hasilnya cantik maksimal hahahaha.  Dan kali itu saya cukup beruntung karena datang di hari kerja.  Roofpark tidak sedang kebanjiran pengunjung yang biasa membludak memenuhi Puncak dan sekitarnya.

Di bagian dalam, tempat duduk didominasi dengan berbagai bentuk sofa.  Sebuah bar kayu besar berada di dekat lalu lintas dapur.  Counter khusus kasir diletakkan tidak jauh dari ruang permainan bilyard dan rest rooms.  Ada beberapa meja dengan kursi tegak untuk dine in, dicat rustique, tapi jumlahnya tidak sebanyak couch dan sofa.

Bagian dalam resto (difoto dari luar) | Tampak sebuah bar kayu yang berhadap-hadapan dengan banyak sofa
Area khusus bilyard di bagian dalam

Lepas menjelajah bagian dalam, saya bergegas melangkah ke area teras di bawah terik matahari yang mulai menghambur.  Decak kagum meluncur tanpa ragu.  Terbentang di depan mata teras luar resto, open air, dengan penataan ruang yang ciamik.  Tampak lampion warna warni bergelantungan mendampingi lampu sorot yang kokoh terikat di tiang besi.  Musti keren banget nih kalau malam hari di saat semua lampu menyala.

 

 

Persis di bagian pinggir, lagi-lagi tampak jejeran sofa dengan atap, tempat duduk kayu dengan payung taman yang besar, ayunan kayu, serta meja dan kayu besi.  Semua tampak sempurna dan begitu menarik untuk dijadikan obyek foto.  Melipir ke pinggir pagar yang sudah dibentengi kaca tebal, kita dapat melihat Gunung Panderman, bukit-bukit kecil yang masih tampak hijau, dan sebagian kecil kampung-kampung yang berada di sekitar Roofpark.

Melihat banyaknya fasilitas duduk, sepertinya Roofpark telah menyiapkan diri menerima tamu dalam jumlah banyak, terutama pengunjung rombongan yang biasanya, menurut info waitress, sering menghabiskan waktu-waktu bersama di saat-saat peak hours.  Pengunjungpun biasanya membludak di saat weekend.  Bahkan area ini sering dibooking untuk acara-acara pribadi (private parties).  Iya juga sih.  Dengan kapasitas yang cukup besar, nyaman juga mengundang sekian banyak teman untuk berkumpul di sini.  Apalagi kalau acaranya malam hari.  Selain cantik berhias lampu-lampu, menikmati udara dingin, matapun dimanjakan dengan keindahan alam Cimacan dari ketinggian.

Puas memotret area dining, mata saya terpana pada sebuah sudut yang penuh dengan bunga-bunga.  Ukuran booth nya yang cukup besar, sebuah bangku panjang, sepeda, dan rak-rak besi, sangat menarik perhatian.  Warna putih pajangan dan semua kelengkapan di sana, menjadikan efek warna yang keluar dari setiap kuntum bunga dan dedaunan keluar mendominasi pandangan.  Tak ingin melewatkan kesempatan sepi pengunjung, puluhan menit saya habiskan waktu di “kebun bunga buatan” ini.

 

Sebagian besar pot bunga yg dipajang terlihat memiliki barcode.  Jadi boleh dibeli oleh para pengunjung.  Beberapa bouquet yang tergantung pun tampak diberi stiker harga.  Sayang saya tidak terlalu memperhatikan.  Gak ngeh harganya berapa aja.  Terlalu bersemangat untuk foto-foto aja soalnya hahahaha.

 

Capek berpose di sekeliling resto, pesanan makanan kamipun datang satu persatu.  Karena sudah niatan pengen makan sate maranggi, sate penuh lemak, di dekat rumah, kami hanya memesan makanan riangan yang pas untuk 1/2 lambung.  Kentang goreng dengan topping keju dan irisan daging, pizza ukuran kecil (personal), dan pancake berteman ice cream.  Semua dalam ukuran kecil dan memang diniatkan untuk berbagi bertiga (saya, Fiona, dan Amel).

 

Mengejar waktu ke tempat selanjutnya, kami bertiga pun bergegas turun.  Racun foto berikutnya lagi-lagi berkat ucapan Amel yang menyampaikan bahwa di lantai bawah (ground floor), tempat penjualan aneka pernak pernik dan fashion, ada spot foto yang bagus.

Awalnya saya tidak begitu yakin.  Tapi begitu digeret Amel ke tempat yang dimaksud, saya lagi-lagi harus mengakui kejituan gadis remaja ini memberikan referensi.  Ruang ganti dan coba pakaian yang dilengkapi dengan ruang tunggu kecil, menghadirkan kekaguman tersendiri.  Di sebuah ruang abu-abu, terlihat berbagai materi dekorasi lucu menemani sofa kulit yang sepertinya memang disediakan untuk berfoto.  Tumpukan handuk warna warni dan buku-buku dengan gambar atraktif menyempurnakan sentuhan seorang designer dalam ruang yang mumpuni.  Bikin betah deh judulnya.

 

So, buat teman-teman yang (ingin) menghabiskan waktu selama berekreasi di Puncak dan sekitarnya, tempat ini bisa jadi referensi yang tepat untuk cuci mata sekaligus belanja.  Menghabiskan waktu 1/2 hari di sini pun rasanya terbayar dengan wisata belanja di lantai bawah, dilanjut dengan wisata kuliner dengan bonus keindahan resto dan alam sekitarnya di bagian atap.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here