Cikarang? Duh jauh amat.

Itu kalimat pertama yang saya dengar ketika memutuskan untuk “hijrah” ke Cikarang.   Bahkan saking jauhnya, sekitar 30 km dari bagian timur Jakarta, Cikarang dan sekitarnya sempat diberi gelar “daerah jin buang anak”.   Masih sepi, minim fasilitas, dan jarang pemukiman.

Terus ngapain pindah ke sini?   Di tahun awal 2000an, saya dan suami memilih untuk ngungsi ke Cikarang mengikuti pindahnya perusahaan tempat kami berdua bekerja.  Keputusan yang diperkuat dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas waktu, tenaga, dan biaya.  Apalagi saat itu, anak sulung kami belum lama lahir dan kami masih sangat menikmati waktu-waktu berharga sebagai orang tua baru.

Tak ingin merasa jauh dari “peradaban” dengan beberapa fasilitas yang dibutuhkan sehari-hari, saya dan suami memutuskan untuk tinggal di kawasan Lippo Cikarang.  Selain memiliki beberapa cluster (unit perumahan) yang beragam dan terpelihara dengan baik, sebuah mall dengan berbagai outlet dan big market untuk kebutuhan sehari-hari, juga ada beberapa fasilitas hiburan seperti Waterboom, plus sebuah hotel bintang 5, Hotel Sahid Jaya Lippo (Sahid), yang memunculkan kesan kemegahan di kawasan ini.  

Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang | Gedung 6 lantai yang tetap megah dengan taman bagian depan yang hijau terawat

Di tahun segitu, ketika perkembangan industri perlahan menggeliat seiring dengan bergeraknya roda perekonomian, Cikarang hanya memiliki beberapa hotel untuk menampung para tamu dan atau tenaga ahli (expatriate), khususnya dari beberapa pabrik atau perusahaan yang berlokasi di sini.   Sahid adalah satu-satunya hotel bintang 5, selain beberapa hotel bintang 3 dan hotel melati di beberapa titik, yang masih bisa dihitung dengan jari.  Bahkan, saat pembangunan berbagai usaha meningkat pesat, keberadaan Sahid jadi idola reservasi.  Waiting List nya panjang tak terkira.  Hadir dengan fasilitas lengkap, layanan food and beverage yang prima dan service quality yang selalu dipuji.  Beberapa perusahaan Jepang dan Korea, khususnya di EJIP, kawasan yang bersentuhan dengan Lippo Cikarang, bahkan sengaja membuat kontrak khusus agar mereka mendapatkan fasilitas kamar tanpa hambatan reservasi.  Continuance Availability Agreement  yang mengikat satu sama lain.

Itu dulu.  Terus gimana kabar Sahid sekarang?

Setelah 19 tahun berlalu, memenuhi undangan untuk bertamu, saya pun kembali menjelajah, merasakan pelayanan apik, untuk kemudian menuliskan kesan saya atas Sahid yang masih kokoh berdiri di tengah gempuran persaingan bisnis penginapan yang semakin menjamur di Cikarang.

Lobby Area

Ground Floor dan Fasilitas Publik

Dalam Ruang | Gedung/Bangunan Inti

Wajah pertama untuk sebuah hotel selain front gate adalah area resepsionis.  Dengan struktur yang tidak berubah, receptionist working unit masih berada di sisi kiri pintu masuk utama.  Selain area penerimaan tamu, di lantai bawah ini ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan oleh publik.  Guest Lounge dengan sofa-sofa yang nyaman di bagian tengah.  Sekar Kedaton Resto yang melayani kebutuhan bersantap para penginap dan tamu-tamu dari luar di sisi kanan.   Salon untuk pria dan wanita, ruangan khusus untuk Wedding Organizer, serta Bushido restoran Jepang di sisi kiri.  

Sementara dari titik utama saat masuk, kita juga terhubung dengan Sukamdani Ballroom.  Ruang berukuran grande yang biasa digunakan untuk acara-acara besar, seperti pernikahan, company’s annual dinner, wisuda, dll.

Ingin mengadakan meeting, pelatihan, ataupun acara-acara dengan jumlah peserta yang lebih sedikit? Sahid memiliki 4 function rooms di lantai 2 yang bisa disewakan dengan kapasitas 10-30orang per ruangan.

Luar Ruang | Halaman Belakang Hotel

Untuk fasilitas luar ruang, di halaman belakang hotel ada beberapa fasilitas yang bisa dinikmati oleh para penginap.  Kolam renang ukuran besar dengan bentuk meliuk cantik.  Bangunan khusus untuk olah raga (fitness centre) dan spa (Star Spa).  Tempat bermain dan ayunan warna warni untuk anak-anak. Sebuah kandang besar berisikan 2 ekor burung merak cantik.  Beberapa bangunan dua lantai untuk Villa yang berdampingan dengan  3 Tennis Court.  

Tak jauh dari villa, ada satu open air parquette floor (Wooden Floor Garden) dengan surrounding hutan kecil di sampingnya.  Tampak nyaman dan kaya oksigen, tempat ini bagus banget untuk mereka yang menyukai pesta dengan konsep alam terbuka.  Daya tampungnya juga lebih dari lumayan. Kalau untuk standing party dengan dekorasi yang tidak terlalu bertumpuk, bisalah menampung sekitar 100an orang.  Dan karena langsung terhubung dengan sisi luar atau area parkir hotel, lalu lintas party goers untuk event pun tidak akan menggangu para penghuni hotel.

Persis di depan Wooden Floor Garden ini, ada satu gedung berlantai 2 yang juga berfungsi sebagai function rooms melengkap 4 ruangan yang sudah ada di bangunan inti.  Ruang Suri 1 dan Suri 2 ini diset theatre untuk memenuhi kebutuhan akan kegiatan seminar, pengajaran, atau pelatihan.

Bangunan ruang olah raga (fitness centre) dan Spa (Star Spa) yang berhadapan dengan kolam renang di halaman belakang
Wooden Floor Garden | Tempat yang pas untuk open air party
Bangunan/Gedung Inti yang menaungi beberapa public facilities dan kamar-kamar Deluxe, Suite dan Prince Suite
Villa Suite yang berhadapan langsung dengan kolam renang

Fasilitas Kamar

Kamar-kamar yang disewakan terbagi atas 2 kelompok.  Pertama adalah yang berada di dalam gedung inti berlantai 6.  Kedua adalah beberapa bangunan villa di halaman belakang hotel.

Gedung inti menampung kamar-kamar dengan tipe Deluxe, Suite, dan Prince Suite.  Kesemua unit dilengkapi dengan bathtub dan berlantaikan karpet tebal, empuk dan bersih.  Kedua fasilitas yang sudah jarang sekali kita temui untuk kelas kamar terbawah.  

Semua kamar suite disediakan mini kitchen, living room, dan restroom dengan fasilitas premium.  Amenities lengkap layaknya standard hotel bintang 5.  Yang memberikan ciri khusus hotel setaraf ini adalah tersedianya body lotion, cotton bud, shower cap, safety box, dan kimono cantik.

Deluxe Room | Cantik dengan warna membumi yang bikin adem hati
Suite Room | Meja rias yang menghubungkan tempat tidur dan kamar mandi
Prince Suite | Tempat tidur dengan dekorasi cantik dan warna kamar yang adem dengan kesan hangat
Prince Suite | Living Room dengan fasilitas lengkap

Kamar-kamar villa dari beberapa bangunan di halaman belakang juga tak kalah cantiknya.  Sore itu, ditemani Mbak Naya, PR Manager, saya berkeliling memanjakan visual akan keindahan beberapa kamar yang diberi nama Villa Club dan Villa Suite.  Keduanya memiliki pengaturan privacy yang apik, teras yang terhubung dengan taman atau kolam renang, dengan ukuran dalam ruang yang sangat lega.  Kebersihannya pun sangat terjaga. Wangi ruangan pelan menyeruak selama saya memotret.

Kamar-kamar dengan bangunan terpisah ini menjadi favorit para penginap yang tinggal dalam jangka waktu lama.  Selain karena memiliki akses yang tidak bercampur dengan tamu-tamu gedung inti, ruangannya pun lebih terasa homy, benar-benar seperti di rumah sendiri.  Apalagi untuk Villa Suite yang dilengkapi dengan mini kitchen dan living room untuk bercengkrama, serta kemewahan layaknya sebuah villa dengan kelas teratas.

Villa Suite | Suasana kamar yang mewah, bersih, dan nyaman
Villa Suite | Bathtub mewah yang disediakan di kamar tipe ini

Saya mendapatkan complimentary untuk stay di kamar deluxe di lantai 5 yang spacious dengan pemandangan menghadap ke halaman belakang.  Di malam saya menginap, libur tahun baru Cina (imlek), Cikarang diguyur hujan lumayan deras.  Udara dingin di luar menyempurnakan gempuran AC kamar yang juga sedingin kulkas.  Niat untuk motret malam pun jadi terpaksa dibatalkan.  Tapi kekecewaan saya terbayar dengan pemandangan adem yang menyejukkan hati di pagi harinya.  Tetesan embun yang masih betah menempel di jendela kamar, begitu sempurna menemani secangkir kopi panas yang saya peluk dalam genggaman.  A perfect morning!!

What a Perfect Morning | Embun sisa hujan semalam yang memunculkan dan membangkitkan kesan luar biasa

Yok Sarapan!!

Rampung merendamkan diri di dalam bathtub, dilanjutkan dengan berleha-leha sambil menyeruput secangkir kopi hangat, kenikmatan staycation pun begitu terasa.  Tidur nyenyak melahirkan energi yang berbeda.   Pagi itu, saya bersemangat turun ke Sekar Kedaton Resto untuk menikmati sarapan.

Layaknya standard hotel berkelas, menu yang ditawarkan banyak banget pilihannya.  Sajian ala Indonesia di salah satu sisi dalam berdampingan dengan hidangan aneka salad.  Roti, sereal, berjejer dengan 2 juice pilihan berserta kopi dan teh.  Satu counter khusus melayani olahan telor, bersebelahan dengan sajian makanan hangat seperti bakso dan bubur serta soto ayam.  Bener-bener deretan pengisi lambung yang menggugah selera.

Tak ingin melawatkan matahari pagi yang pelan-pelan muncul setelah semalam hujan, saya memutuskan untuk menikmati sarapan di pinggir kolam renang.  Sayang rasanya jika harus melewati kayanya sinar matahari setelah hampir sekian jam bergumul dengan udara dingin di dalam kamar.

Sarapan saya dan Fiona pagi itu

Saya memilih untuk menyantap semangkok besar bubur ayam, sepiring kecil salad dengan beef slices, omelette, dan sepasang roti.  Sementara Fiona, staycation partner saya kala itu,  tetap dengan menu lambung khusus orang Indonesia yang cinta nasi beserta lauk pauknya.  Bonus kerupuk tentu saja.

“Sosisnya enak banget loh Bun,” Fiona memberikan masukan.   Saya pun berpendapat sama ketika sempat mencoba.  Tampilannya sih tidak begitu cantik, cenderung keriput seperti kulit yang jarang kena body lotion (atau nggorengnya kelamaan kali ya). Tapi kelebihannya justru terasa di lidah.  Dagingnya empuk dengan rempah-rempah yang sudah meresap.

Dari keseluruhan makanan yang kami coba, semua terasa enak.  Bumbunya kuat dan sangat terasa.  Tasty tapi tidak berlebihan.  Jadi buat yang daya tampung perutnya lebih dahsyat dari orang kebanyakan, kemungkinan besar bisa bolak balik nambah.

Hanya ada 1 kurangnya.  Soal penyajian dan banyaknya pilihan bakery.  Untuk saya yang penggemar karbohidrat yang satu ini, sajian berbagai pilihan rotinya kurang greget dan kurang menggugah selera.  2 roti yang saya ambil pun masih terasa dingin.  Jadi saya perlu waktu sekian menit untuk menikmatinya.  Yah hitung-hitung ronde ke-2 lah ya.  Eehh apa ronde ke-3 ya?

Tuna Sandwich dan American Burger Yang Oke Punya

Malam hujan deras plus dingin sampai menyusup tulang, bener-bener ngundang perut bergolak.  Padahal sesiangan tadi sudah makan sop buntut dengan porsi heboh tiada tara, plus ditambah 2 potong cake pelengkap obrolan sore.  Mau ke resto kok rasanya segen banget ya.  Secara sudah pake baju kebesaran (baca: piyama).  Solusinya? Apalagi kalau bukan room service.

Hotel di hampir seluruh belahan Indonesia tuh ya, bener-bener memanjakan tamunya.  Khususnya untuk pelayanan makanan.  Beda banget dengan di Taiwan contohnya.  Sarapan aja teng selesai jam 11 karena pegawai yang bekerja di dapur harus menyambung kerja di tempat lain.  Selebihnya, ya tidak ada lagi kesempatan kita untuk memesan makanan.  Jadi, kalau malam-malam tetiba berasa lapar, kita kudu ngelencer ke luar hotel atau nyetok makanan sebelum balik ke kamar.

Di Sahid ini tertera 24 jam service untuk layanan kamar.  Musuh besar buat yang berusaha keras berjuang dalam program diet atau mimpi makan enak di tengah tidur pulas.  Jadi ceritanya  malam itu, dengan alasan kedinginan yang menggerogoti lemak (maksa), saya pun akhirnya memesan sepiring Tuna Sandwich, sementara Fiona semangat (berusaha) menghabiskan sepiring besar American Burger.  

Porsinya ternyata bikin saya terkaget-kaget.  Melimpah ruah ya teman-teman.  4 potong segitiga tersusun dari 3 lapis roti, lengkap padat terisi telor, daging, keju, bersalut mayonaise.  Kentang goreng dan setumpuk sayuran tak kalah berjubel mengisi piring.  Sandwich paling “sumpek” yang saya temui sepanjang hidup.  Burgernya juga bernasib sama.  Maksudnya sama banyaknya.  Sama enaknya.  So next time, kalau menginap di sini, perhitungkan bahwa 2 menu yang saya pesan ini, lebih pas jika dinikmati oleh dan untuk 4 orang.

Ada yang kurang gak?  Ada.  Makanan seenak ini nyatanya tidak terpotret dengan cantik di buku menu.  Untuk yang mengerti food photography pasti akan menyayangkan  kalau jualan via fotonya tidak mampu mewakili kualitas masakannya.  Saya aja sampe harus berkali-kali bolak balik menu untuk menentukan pesanan.  Foto-fotonya cenderung flat dan tidak menggugah selera.  Kalo biasanya ada resto yang berderet foto cantik di dalam menu tapi ternyata gak banget pas makanannya sampe, naahh ini malah kebalikannya.   Cantikan dan enakan aslinya daripada di foto.

Tuna Sandwich | Roti, kentang goreng, dan salad yang berebut tempat dalam 1 piring besar
American Burger | Padat, penuh, dan enak maksimal
selalu dan selalu menyempatkan diri berpose levitasi

Sekotak besar Pizza hangat dan sapaan ramah menemani langkah saya keluar dari Sahid.  Layanan compliment yang sangat berkesan dan tak akan terlupakan, bahkan sampai saya menuliskan artikel ini.  Terimakasih Sahid.    Pujian untuk kualitas layaknya hotel berkelas yang tetap sama seperti yang saya rasakan ketika sempat menginap di sini 19 tahun yang lalu.