LAKSAMANA CHENG HO atau yang bernama asli SAM POO TAY DJIEN / ZHENG HE adalah nama besar yang jadi magnet terkuat ketika saya tiba di Semarang.  Seorang pejuang muslim ternama berdarah Cina tapi terperangkap pembentukan karakternya di dalam sebuah kuil, dan diangkat sebagai Dewa oleh etnis Tionghoa di Indonesia.  Pertanyaan besarpun berlari-lari di dalam benak saya.  Apa yang sesungguhnya ada di Klenteng ini?

Patung Laksamana Cheng Ho yang berdiri bersebelahan dengan Gerbang Merah. Gerbang ini adalah replika dari Klenteng di Yunan

Sebelum mengulas hasil pandangan mata saya untuk Klenteng ini secara keseluruhan, yok kita ulas dan simak siapa Sam Poo Tay Djien dan sejarah hidupnya, sehingga mendarat dan berjaya di Indonesia.

Salah satu pintu masuk Klenteng. Lahan parkir yang luas menyambut kita

 

SIAPA ITU SAM POO

Sumber foto: sariraclub.blogspot.co.id

Sam Poo atau Sam Poo Thay Kam Ha See Jang adalah seorang bijaksana yang dijuluki Sam Poo Thay Kam.  Beliau bermarga THE (baca: she) dengan nama Hoo.  The Hoo/Sam Poo sudah lahir di jaman kerajaan Tay Bing, di desa Khoen Jang Tjioe yang terletak di provinsi Hoen Lam (Yunnan).

Sam Poo berwajah tampan, dengan muka luar biasa lebar tetapi hidungnya kecil, mata dan alisnya rada jeli serta suaranya keras dan kedengarannya keren (deskripsi dari tour guide yang sampai sekarang saya tidak begitu paham).

Seperti yang tercatat dalam sejarah, The Hoo/Sam Poo mengabdi dan bekerja kepada Bing Thay Tjouw.  Belakangan dia dicinta oleh putranya Baginda Raja yang bernama Tee.  Jadi ketika Tee dianugrahkan sebagai Raja Muda Jan Ong yang bertempat di Pekking (Peiping) maka Sam Poo ikut Jan Ong berdiam di Peiping.

Sementara putra mahkota Bing Thay Tjouw, Thay Tjoe Piauw meninggal dunia, beliau mengangkat anaknya yang lain yaitu Tay Tjoe Piauw yang bernama Oen Boen sebagai Thay Soen.  Anak inilah yang akhirnya menjadi raja ketika Bing Thay Tjouw wafat dan diberi julukan Hoei Tee.

Ketika Jan Ong, tuan dari Sam Poo, yang tinggal di Peiping, mendapat kabar bahwa Hoei Tee sudah terlalu percaya pada budak-budaknya, dan sudah mengatur rencana untuk memusnahkan pengaruh-pengaruh raja muda,  Jan Ong pun ketakutan dan menggerakkan tentaranya untuk memberontak.  Jadi ketika Jang Ong mengepalai laskarnya untuk menyerang ke Nanking (tempat dimana Hoei Tee tinggal), Sam Poo bekerja giat sekali membantu pemberontakan ini.  Dari pemberontakan ini akhirnya Jang Ong berhasil menjatuhkan Nanking dan menjadi Raja dan bergelar Bing Sing Tjouw (Tjoe Hong Boe)

 

SAM POO dan KEHIDUPAN PELAYARAN

Pada masa kekuasaan Raja Bing Sing Tjouw, Sam Poo sudah ditugaskan oleh baginda raja untuk melakukan pelayaran ke luar negri untuk memperlihatkan kekuatan dan kejayaan Tiongkok.  Menurut Liang Chi Chao, penulis Tionghoa yang tersohor di jamannya, pelayaran Sam Poo ini memiliki berbagai tujuan sebagai berikut:

Mencari hal yang berhubungan dengan Benua Eropa.  Selain Sam Poo, raja juga menugaskan Ong King Hong sebagai utusan ke Eropa.  Ke-2 utusan ini diperintahkan untuk mengembangkan pengembaraan pelayaran bangsa Tionghoa ke arah barat, yang sebelum hanya sampai sebatas Arab, dan ke selatan yang tadinya hanya sampai Jawa.  Di jaman kerajaan Goan, perhubungan laut antara Tiongkok dan negara-negara Barat sudah terbangun, menyusul kejayaan perdagangan melalui jalan darat.  Hal ini terbukti dengan pelayaran Marco Polo dengan rute Spanyol – Tiongkok yang tertulis di dalam beberapa buku.  Melalui tulisan-tulisan inilah, dapat diketahui bagaimana Marco Polo sudah melakukan perdagangan di Tiongkok berkat jasa dari Sam Poo sebagai utusan.

Majunya teknologi pelayaran.  Kapal yang waktu itu digunakan oleh Sam Poo untuk berlayar ke Eropa panjangnya adalah 132 meter dengan lebar 54 meter.  Jumlah kapalnya ada 62 buah.  Kapal sebesar ini mampu menampung 27.800 orang.

Meneruskan politik luar negeri dari Baginda Tjoe Hong Boe.  Semenjak mengalami kekalahan perang melawan Jepang, Hoeng Be mulai menyadari pentingnya pelayaran.  Beliau sudah dapat menduga lebih dulu bahwa Tiongkok di hari kemudian tentu akan mengalami kegentingan-kegentingan dengan luar negri yang terjadi di laut.  Untuk itu kemudian beliau memerintahkan untuk menanam pepohonan sebanyak-banyaknya di seluruh Tiongkok sebagai bahan pembuatan kapal.  Beliau juga mendirikan departemen khusus yang memperhatikan bahasa-bahasa dari seluruh negeri, mempekerjakan orang-orang terpelajar dari luar negeri untuk menyiarkan pengaturan-pengaturan modern.

Semasa pemerintahan Hong Boe, menurut hikayat, Sam Poo setidaknya sudah 7 kali melakukan pelayaran ke luar negeri atas perintah sang Raja.  Berikut adalah catatan-catatan yang dibuat oleh Liang Chi Chao tentang tahun-tahun yang berhubungan dengan pelayaran Sam Poo:

Pertama.  Berangkat pada tahun ke-4 bulan Kauwgwee dan kembali pada tahun ke-9 bulan Lakgwee (antara 1408/1407 Masehi).  Berangkat dari Souw-tjioe via Hokkian dan terus ke Siam dan Palembang.  Dari sini kita jadi tahu bagaimana dan mengapa masyarakat/keturunan asli Palembang sipit-sipit dan berkulit putih.

Kedua.  Berangkat pada tahun ke-6 bulan Kauwgee dan kembali pada tahun ke-9 bulan Tjhietgwee (antara 1412/1415 Masehi).  Membuat perjalanan ke India dan Ceylon.

Ketiga.  Berangkat di tahun ke-10 bulan Tjapitgwee dan kembali di tahun ke-13 bulan Tjhietgwee (antara 1412/1415 Maseh).  Untuk perjalanan ke Sumatera, Malaka, dan tempat-tempat lain yang berjumlah 19.

Keempat.  Berangkat pada tahun ke-14 di musim winter dan kembali di tahun ke-17 bulan Tjhietgwee (antara 1413/1412 Masehi.

Kelima. Berangkat pada tahun ke-19 di musim semi dan kembali di tahun ke-20 bulan Pekgwee (1421/1422).

Keenam.  Berangkat pada tahun ke-22 bulan Tjiagwee dan kembali pada tahun itu (sekitar 1424 Masehi).

Ketujuh.  Berangkat pada tahun ke-5 bulan Lakgwee dan kembali di tahun ke-8 bulan Tjhietgwee (1430/1433 Masehi).  Pelayaran ke Bormug dan 17 tempat lainnya.

Dari rentetan pelayaran di atas, kita dapat melihat bagaimana kehidupan Sam Poo dengan dunia pelayaran yang berjalan hampir 28tahun.  Bahkan ketika Bagian Bing Sing Tjouw/Hong Boe wafat dan digantikan oleh Bing Soan Tjong (raja berikutnya), tugas Sam Poo untuk berlayarpun masih diteruskan.  Pada masa itu tantangan pelayaran tidak bisa disamakan dengan jaman sekarang.  Dengan keterbatasan peralatan komunikasi dan peralatan canggih, tentunya berlayar banyak menyentuh keselamatan jiwa.  Selain itu, menurut catatan sejarah, Sam Poo pernah mengalami beberapa kali peperangan hebat di tengah perjalanan.  Salah satunya berakhir dengan ditawannya raja-raja Palembang dan Ceylon serta membuat tentramnya tanah Sumatera.

Patung Sam Poo Kong/Laksamana Cheng Ho yang berdiri di depan Klenteng terbesar yang berada di dalam kompleks ini. Di belakang Klenteng ini terdapat Goa yang pada awalnya adalah tempat Sam Poo mendarat pertama kali di Simongan

Pengarang Liang Chi Chao pernah menulis tentang rute pelayaran Sam Poo sebagai berikut:

Berlayar ke lautan Tiongkok sebelah selatan sampai selatannya Indo China (Saigon).  Berlayar ke pesisir sebelah timur dari Teluk Siam sampai ke Bangkok.  Berlayar ke pesisir sebelah barat dari Teluk Siam, menuju ke sebelah selatan Malay, Peninsula sampai Singapore.  Memutari pulau Sumatera dan Jawa.  Berlayar ke kepulauan Benggala melalui kepulauan Andaman sampe ke sebelah timur India (Calcutta).  Berlayar dari pesisir timur Benggala, ke selatan menuju Ceylon dan memutari Ceylon.  Berlayar dari pesisir timur lautan Arabia, terus ke utara sampai ke sebelah barat India (Bombay).  Dari Bombay dia mengitari Utara terus sampai di Klein Asia.  Dari pesisir sebelah barat dari Teluk Persia, berlayar ke selatan serta mengitari satu kali pesisir sebelah barat lautan Arabia, terus sampai ke Aden.  Via teluk Aden mengitari sebelah timur Lautan Merah, kemudian berlayar ke utara sampai di Mecca.  Dari pesisir barat Lautan Merah berlayar mengitari sebelah selatan untuk keluar dari Teluk Aden.  Kemudian berlayar pula dari pesisir sebelah timur Afrika menuju selatan Selat Magadexa lalu kembali ke Tiongkok.  Melihat luas dan panjangnya rute pelayaran, kita bisa membayangkan berapa besar usaha yang dilakukan oleh Sam Poo dan tak ternilai jasanya pada waktu itu.

 

NEGERI-NEGERI YANG PERNAH DIKUNJUNGI OLEH SAM POO

Buku-buku Tionghoa yang menceritakan tentang pelayaran Sam Poo telah terbit dalam 2 versi.  Versi pertama ditulis oleh Ma Huan dengan judul Yang Ya Sheng Lan.  Sementara yang kedua ditulis oleh Hoeij Sien dengan judul Xia Cha Sheng Lan.  Buku Ma Huan diterbitkan di tahun ke-14 yang menuturkan kejadian-kejadian di 19 negeri, sedang buku yang ditulis oleh Hoeij Sien diterbitkan di tahun ke-1 dengan penuturan kejadian-kejadian di 40 negeri.

Ma Huan dan Hoeij Sien keduanya beragama Islam.  Mereka fasih berbahasa Arab dan diangkat sebagai Juri Salin oleh Sam Poo.  Buku yang ditulis oleh Ma Huan diterbitkan duluan.  Walaupun penuturannya tentang negeri-negeri lebih sedikit tapi tentang hal-hal lain ternyata lebih lengkap.  Sementara buku yang ditulis oleh Hoeij Sien diterbitkan belakangan, maka isinya bersifat kebalikannya.  Menurut buku Hoeij Sien, pelayaran Sam Poo sudah berhasil membawa barang-barang unik dari luar negeri, misalnya tanaman yang tidak bisa tumbuh di Tiongkok, gambar-gambar asing dan patung-patung yang terukir indah dan langka sekali.  Karena barang-barang itu tidak pernah tedapat di Tiongkok, orang-orang menamakannya sebagai Mustika.

Berikut adalah negeri-negeri yang pernah dikunjungi oleh Sam Poo berdasarkan catatan dari Liang Chi Chao: 15 negeri yang terletak di timur Malaya Peninsula, 4 negeri di sekitar Mallaca, 7 negeri di sekitar Sumatera, 6 negeri di sekitar India, 5 negeri di sekitar Arabia, dan 3 negeri di sekitar Afrika.  Dari pelayaran-pelayaran ini, banyak jalur2 laut yang akhirnya ditemukan oleh Sam Poo.  Bahkan dari beberapa peninggalan sejarah Sam Poo telah melakukan pelayaran lebih dulu dari Columbus.

Negeri-negeri yang terletak di timur Malay Peninsula: Chamber atau Campa (menurut peta bumi/dunia sekarang disebut Fransch Indo Chine), Cannauh (lebih dikenal sebagai Siam), Cambaja (tanah jajahan Fransch), Pulau Condore (pulau kecil yang terletak di ujung bawah dari Indo China), Cape Padaran (terletak di ujung Selat Cambaja), Siam, Penang, Singapore, Strait of Lingga, Billiton, Carimata, Pulau Bintang, Jawa, Madura, Timor.

Negeri-negeri di sekitar Mallaca: Mallaca, Kepulauan Aru (terletak di pesisir sebelah utara Sumatra dan bersender pada Selat Mallaca), dan Pulau Sembilan.

Negeri-negeri yang terletak di Sumatra: Palembang, Sumatera (catatan namanya tidak begitu jelas), Lambi (menurut catatan Marco Polo terletak di sebeluh utara baratnya Sumatra), Nagor, Letai, Pulau Weh (Aceh), dan Kepulauan Andaman.  Beberapa nama memang tidak begitu jelas pengejaan dan penamaannya.

Negeri-negeri di sekitar India: Bengala, Cochin, Quilon, Calcutta, Ceylon, dan Kepulauan/Pulau Maldaire.

Negeri-negeri di sekitar Arabia: Djeffer (Jaffa), Aden, Bormurg/Ormug, Mecca, Lasan (kira-kira dekat dengan Mesopotamie).

Negeri-negeri di pesisir Afrika: Magedexa (pesisir timur Afrika, menghadap lautan Indische Ocean), Barava, dan Juba.

 

BEBERAPA CERITA MENARIK SEHUBUNGAN DENGAN PELAYARAN SAM POO

GUNUNG POSAT.  Letaknya di bawah pegunungan yang curam.  Dimasa Baginda Bing Sing Tjouw, telah dibuat 1.000 patung Thian Koan yang sangat indah.  Ketika Sam Poo melakukan pelayaran untuk mengangkat sekian banyak partung Thian Koan ke klenteng, mendadak ditengah-tengah lautan terjadi angin topan.  Lantaran para klasi kapal merasa sangat ketakutan, Sam Poo memutuskan untuk membuang 500 patung ke dalam laut untuk mengurangi beban kapal.  Tapi ketika kapak mendekati pesisir dimana terletak klenteng yang dituju, patung-patung yang dibuang tersebut ternyata telah lebih dulu sampai di pesisir dan berada di klenteng yang dituju.  Menurut penuturan orang yang tinggal di dekat situ, beberapa malam berselang, tampak ratusan patung Thian Koan dengan pakaian serba indah, bersama-sama naik ke pegunungan.  Di dekat klenteng, di atas pegunungan tersebut, terdapat sebidang tanah yang sampai sekarang tidak bisa ditanami tumbuhan.  Menurut dongeng yang dipercayai oleh masyarakat, tempat itu dulu untuk menjemur pakaian Thian Koan yang basah karena diterjunkan ke laut.

CALCUTA.  Ketika Sam Poo mengunjungi Calcuta, Sam Poo menerima cap kebesan dari perak yang dipersembahkan oleh Raja di Calcuta. Selain cap ini, Sam Poo juga menerima berbagai barang-barang kehormatan yang akhirnya dikumpulkan dan dibuat dalam bentuk batu peringatan atas hubungan yang baik antara dua negeri (Tiongkok dan Calcuta).

KELASI SAKIT.  Ketika dalam pelayaran, salah satu kelasi/klasi kapal Sam Poo terkena penyakit parah dan hampir mati, dan menurut kelasi lainnya pria itu hendak diceburkan ke dalam laut.  Untung pada saat itu ada satu juru mudi kenalan lama dari pria yang sakit ini yang meminta agar pria ini didaratkan saja di satu pulau, ditinggali ransum dan keperluan dapur agar dia bisa hidup di situ.  Setelah lama tinggal di pulau, pria yang sakit ini pun sembuh lalu mencari goa-goa besar sebagai tempat tinggal.  Pada suatu hari pria ini berhasil membunuh seekor ular dan menemukan sekian banyak mustika di dalam perut ular tersebut.  Satu tahun kemudian, ketika kapal Sam Poo dalam perjalanan pulang dan melewati pulau ini, sang pria menyerahkan sebagian mustika yang dia temukan tersebut.  Pria ini akhirnya kaya raya karena memiliki mustika ini.

Patung yang merupakan replika para pengawal Sam Poo Kong/Laksamana Cheng Ho. Terletak di pinggir bangunan terbuka serbaguna yang berada berseberangan dengan Klenteng

 

KUNJUNGAN SAM POO KE SEMARANG

Pada beberapa ratus tahun yang lalu, ketika pelabuhan Semarang belum berdiri sebagaimana adanya sekarang, semua kapal-kapal yang berlabuh di Semarang harus berhenti di Simongan.  Tempat ini di jaman dulu adalah pelabuhan yang berada di pinggir laut.  Tapi karena perkembangan darat yang sangat pesat, lambat laun pesisir itu berubah menjadi tanah daratan yang subur.  Goa yang bermula terletak sedikit jauh dari goa yang ada sekarang.

Klenteng Sam Poo Kong pada awalnya didirikan hanya dengan maksud sebagai peringatan tempat mendaratnya kapal Sam Poo di Semarang.  Sementara kuburan Juru Mudi yang terletak di samping Goa Sam Poo adalah bekas kuburan Ong King Hong.

Selain mendarat di Simongan, Sam Poo juga pernah mendarat di Desa Mangkang.  Nama Mangkang berasal dari kata Wakang yaitu nama dari salah satu perahu yang digunakan oleh Sam Poo.  Menurut cerita penduduk yang bermukim di sekitar situ, sampai sekarang, setiap 1 dan 15 Imlek, orang masih bisa mencium harumnya hio di sekitar sawah-sawah belukar yang berada di sekitar pesisir, dimana dulu pernah menjadi tempat pendaratan kapal Sam Poo Kong.

Menurut keterangan yang saya baca dari sebuah buku sejarah yang dipersiapkan dan diterbitkan oleh Yayasan Sam Poo Kong, masyarakat Tionghoa mengangkat hio dan sembahyang di hadapan Sam Poo adalah untuk mengenang semangat besarnya dan jasa-jasanya yang tidak dapat dilupakan.  Mengingat perjuangan dan pengembaraan Sam Poo hingga akhirnya menghabiskan nafas terakhir di Semarang.

Klenteng Sam Poo pada masa itu masih berupa Goa.  Dalam tahun Kaksien, Yong Tjeng kedua atau 1724 Masehi, telah diadakan upacara sembahyang besar-besaran untuk menyatakan terimakasih kepada Sam Poo.  Berbarengan dengan upacara itu lalu diadakan pengumpulan uang untuk membangun sebuah emperan agar dapat meneduh setelah habis sembahyang.

Dalam sejarahnya, tanah Samongan jatuh di bawah kekuasaan bangsa Yahudi bernama Johanis dan jalan menuju Klenteng ditutup oleh Johanis.  Sejak adanya pintu itu, orang-orang yang ingin sembahyang di Sam Poo Kong sangat tidak leluasa karena mereka diharuskan membayar.  Penduduk Tionghoa lalu saling bahu membahu mengumpulkan uang dan rutin mengadakan sembahyang tahunan setiap 29 Lakgwee untuk memperingati mendaratnya Sam Poo di Semarang.  Tapi setelah meninggalnya Johanis, tanah Samongan kemudian dibeli oleh Oei Tjie Sien (ayah dari Mayor Oei Tiong Haun) di tahun 1883.  Tanah Gedung Batu pun diberikan cuma-cuma kepada Sam Poo.

Pada tahun 1937, atas usaha Lie Hoo Soen, Klenteng Sam Poo Kong diperbaiki dan diperbaharui. Didirkanlah gapura dan taman suci, dibuat jalan yang menghubungkan klenteng dengan tempat pemakaman juru mudi.  Berbareng dengan itu Yayasan Sam Poo pun dengan resmi didirikan.

Di masa-masa perjuangan RI dan kondisi politik yang keruh, periode 1945-1950, klenteng Sam Poo Kong tidak mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya, hingga di beberapa tempat terdapat kerusakan-kerusakan.  Maka pada 1950, Klenteng ini pun direnovasi kembali.  Gapura lama, yang terbuat dari kayu, dipindahkan dan diganti sebuah gapura beton, yang merupakan sumbangan dari Ong Tjwei Tien (pemilik pabrik rokok kretek cap Pompa).  Biaya yang dikeluarkan pada saat itu adalah sebesar Rp 40.000,-.  Toko Djie Wo Fai di Gang Warung membangun sebuah Pat Kwa Ting dengan biaya Rp 10.000,- yang kemudian disusul pula dengan sebuah Pat Kwa Ting sebagai pasangannya, yang didirikan atas tanggunan Nyonya The Koei Liem dari Pekojan dengan biaya yang sama besarnya.  Kemudian pemilik Jamu Cap Jago menyumbang pembuatan kolam ikan dan taman bunga.  Thio No Moij, pemilik pabrik rokok keretak cap Perahu Layar juga menyumbang satu Si Kak Ting, begitupun yang dilakukan oleh Tjiong Kim Seng yang membuat Si Kak Ting pasangan dari yang sebelumnya.

Di Klenteng Sam Poo Kong dan Gedung Batu ini setiap tahunnya diadakan upacara ritual sebagai berikut:

Hari lahir Sam Poo Kong/Sam Poo Tay Djien yang diperingati setiap tanggal 29 bulan 11 tahun Imlek atau Cap It Gwee 29 Imlek.  Pada hari itu diadakan sembahyang secara kolektif.

Hari kedatangan Sam Poo Kong/Sam Poo Tay Djien yang diperingati setiap tanggal 29 bulan 6 tahun Imlek atau Lak Gwee 29 Imlek.  Pada hari tersebut diadakan peringatan Kong Co Sam Poo Tay Djien yang dimeriahkan dengan kesenian tradisional seperti kesenian wayang kulit, Barongsay dan Naga Rai dari berbagai kumpulan yang ada.  Pada tanggal 30 Lak Gwee pkl. 5 pagi diadakan arakan Barongsai dan Liang Liong dari Klenteng Gang Lombok ke Klenteng Sam Poo Kong.

Sumber: Buku Merah – Riwayat Singkat Sam Poo Tay Djien.  Kutipan dari Buku Peringatan Berdirinya Yayasan Klenteng Sam Poo Kong, tahun 1937

 

MENIKMATI KEKAYAAN BUDAYA TIONGKOK DI KLENTENG SAM POO KONG

Ruang rekreasi dan tempat beristirahat. Di dalam ruang rekreasi ini terdapat booth yang menjual pernak pernik/souvenir, penyewaan baju2 kolosal, juga penjualan makanan kecil dan minuman

Sore itu, setelah menikmati makan siang yang sudah lewat dari waktu di Kampung Laut, kami (saya dan Resa) menaiki taxi untuk mencapai Klenteng ini.  Berkendara sekitar 15menit, kami disambut oleh rintik hujan yang terlihat malu-malu membasahi bumi.  Benar aja, gak lebih dari 5menit kemudian, setelah membayar HTM sebesar Rp 25.000,-/orang, kami memasuki gerbang klenteng tanpa hambatan dan disambut dengan warna merah membara di setiap sisi.

Tempat pertama yang menyambut kami adalah ruang rekreasi yang berada di sisi kanan pintu masuk dan tempat duduk-duduk dengan batu berukir dan warna-warna yang mencolok.  Di ruang rekreasi ada penjual suvenir, makanan dan minuman ringan, serta penyewaan baju-baju kolosal untuk berfoto.  Saat itu, karena bukan musim liburan, pengunjung tidak begitu banyak.  Wuuiihh seneng banget.  Proses foto-foto pun jadi tidak ada hambatan yang berarti.  Tapi sayang kesenangan saya ternyata harus terhenti sampai di titik ini karena sebagian besar klenteng sedang dalam proses renovasi.  Duuhh jadi belum begitu puas menjelajah klenteng ini.

Bertanya kepada Tour Guide yang mendampingi kami saat itu, untuk mendekati rangkaian klenteng dan Goa Batu di belakang Klenteng terbesar yang berada di ujung, kami harus membayar tiket masuk tambahan.  Tapi apalah artinya kesempatan itu, jika di banyak titik, bagian-bagian menarik klenteng ditutupi oleh terpal.  Tentu saja foto pun tidak akan maksimal hasilnya.  Jadi saya dan Resa memutuskan untuk tidak mendekat dan hanya menikmati kompleks klenteng dari halaman besar yang ada di tengah dan dibatasi oleh sungai kecil yang berada diantara halaman dan rangkaian klenteng.  Saya pun akhirnya butuh perjuangan ekstra untuk mengabadikan setiap sudut klenteng.

 

Selain stuktur bangunan yang terlihat megah, ada beberapa hal yang bikin kita berdecak kagum, antara lain: Ukiran-ukiran yang cantik di tiang klenteng dan diorama dinding yang berada di belakang klenteng yang paling besar (jalan menuju Goa pemakaman Juru Mudi).  Atap-atap mengerucut khas budaya Tiongkok ini juga dilengkapi dengan patung-patung kecil dari berbagai SHIO yang dikenal dalam budaya Cina (seperti ayam, kambing, kelinci, dll)

Karena jarak antara titik foto dan klenteng yang cukup jauh, sementara saya tidak memiliki lensa tele, memotret kali ini menjadi sesi perjuangan yang gak gampang.  Dengan kemampuan melihat yang terbatas, saya bisa mengamati ada bedug besar, dan aneka peralatan sembahyangan.  Dengan jumlah pengunjung tidak banyak, suasana klenteng jadi tidak hiruk pikuk, tenang dan tampak teduh di bagian dalam.  Tentunya kondisi demikian telah diatur agar umat Budha yang ingin bersembahyang di sini mendapatkan kenyamanan.

Menyudahi keterbatasan memotret, saya beralih ke patung Laksamana Cheng Ho, yang berdiri tegak dan kokoh di depan klenteng terbesar dan sebuah gerbang berwarna merah yang adalah replikasi dari sebuah gerbang klenteng yang berada di Yunan.  Saya jarang sekali punya kesempatan mendekati sebuah patung besar.  Tapi kali ini rasa takjub pun mampir di pikiran dan gak berhenti berpikir bagaimana proses pembuatan patung seorang Laksamana gagah perkasa ini.  Efek mengkilat yang timbul dari bahan pembuat patungpun tampak mewah tiada tara.  Sungguh suatu sentuhan seni dan budaya Cina yang indah tak terbantahkan.

Sesi berikutnya adalah melihat sebuah gedung serbaguna dengan area panggung dengan tinggi sekitar 5meter.  Gedung ini dibuat terbuka dan beratap dengan lagi-lagi design atap yang menyerupai klenteng dengan tiang-tiang kokoh terukir.  Menurut info dari tour guide kami, gedung ini sering digunakan sebagai spot foto wedding dan prewedding warga Tionghoa, tempat resepsi pernikahan warga klenteng, bahkan terkadang dipakai untuk pertunjukan-pertunjukkan seni khas Tionghoa.  Di sekeliling panggung terdapat beberapa patung prajurit-prajurit Cheng Ho dengan balutan baju, peralatan perang, dan ekspresi yang berbeda-beda.

Aula/gedung serbaguna dengan panggung tinggi yang berada berhadap-hadapan dengan kompleks klenteng

Turun dari gedung dan panggung ini, saya melihat beberapa karya seni yang berbahan dasar besi-besi bekas dari kendaraan bermotor.  Ada yang berbentuk kuda, kelinci, dan lain lain.  Tapi patung kuda yang berada persis di depan sebuah pohon besar tempat beristirahatlah yang menarik perhatian saya.  Terlihat betapa hebatnya seorang seniman menggabungkan semua onderdil besi bekas menjadi sebuah karya cantik.  Hebat banget.

Patung kuda yang terbuat dari rangkaian besi bekas

Wisata kami sore itu berakhir dengan satu pertanyaan yang sudah sedari awal berputar di otak saya.  Pihak Yayasan tentunya tahu bahwa Laksamana Cheng Hong/Sam Poo Kong/ Sam Poo Tay Djien adalah seorang muslim, tapi mengapa kesan keislaman beliau sama sekali tidak terlihat? Dengan mimik serius dan bahasa yang tertata, tour guide kami menjelaskan bahwa walaupun Sam Poo dianggap sebagai Dewa kebaikan dan contoh kejayaan seorang Tionghoa yang mendunia, semua warga Budha yang bersembahyang di sini sangat menghormati agama yang beliau anut.  Jadi jika ada persembahan sembahyang, tidak ada menu babi yang ditaruh menemani proses sembahyang mereka.

2 botol Teh Botol pun mendarat di kerongkongan saya sore itu, menutup kunjungan kami ke Klenteng Sam Poo Kong.

Facebook Comment