Fenomenal? Yup. Bener banget. Ada beberapa poin yang menurut saya pantas untuk dijadikan standard ke-fenomenal-an nya. Pertama, mampu bertahan puluhan tahun (bahkan hingga saat saya menulis ini). Kedua, bisa tetap eksis tanpa membuka cabang dan atau menjual konsep yang dalam bahasa kerennya franchise. Ketiga, selalu berkembang sesuai kebutuhan yang ada.  Keempat, jumlah pengunjung yang selalu membludak tak kenal waktu.

Yok mari kita kupas pengalaman saya dulu dan kini tentang rumah makan ini.

Cerita Dulu

Saya tau dan sering mampir ke rumah makan ini sejak ukuran fisiknya masih kecil banget.  Masih skala warteg lah istilahnya.   Hanya punya ruang makan semi terbuka berukuran sekitar 150m2, rumah makan ini berada (persis) di pinggir jalan dengan hutan pinus lebat di bagian belakang, yang sering digunakan sebagai tempat parkir dengan jumlah terbatas.  Masakan yang ditawarkan juga gak banyak dan gak ada buku menu. Sate kambing, sate ayam, ikan bakar, karedok, dengan es kelapa muda yang jadi jagoan.  Ya cuma ini-ini aja sih yang bolak balik dipesan tamu.  Ada juga gorengan (bakwan, tahu isi, combro) dan menu lain, tapi gak banyak. 

Untuk duduk hanya ada beberapa deret (sekitar 10 – 12 buah) meja dan kursi kayu panjang yang bersisian. Kursi dan mejanya berat bukan kepalang. Kayu jati kayaknya (barangkali).  Mejanya dipatok permanen, jadi gak gampang bahkan tidak mungkin dipindah-pindahkan. Saking gedenya itu meja, satu jejer itu bisa muat sekitar 10-12orang. Kalau datang sekeluarga besar, udah pas banget.

Pokoknya serba terbatas. Sampe sering sekali kita harus berdiri menunggu untuk beberapa lama supaya dapat duduk. Makanya, dulu, saya sering datang tidak di jam-jam makan. Biar rileks ngunyah dan menikmati makan tanpa harus terburu-buru.  Apalagi kalo sambil ditungguin oleh sejuta umat.  Haddeehh bakal seret dah nelen nasinya.  Tapi kalau weekend, strategi gini tuh gak berlaku. Mau jam berapa aja ya tetap penuh. Kadang suka kasian liat pelayan-pelayannya. Tampak kemringet gak ada jeda waktu istirahat karena tamu yang tiada henti. Khususnya yang bertugas ngulek sambel tomat dan mbelah kelapa muda. Capek banget loh itu kerjanya.  Dan karena tidak dengan dapur tertutup, pengunjung bisa melihat langsung dan merasakan betapa sibuknya rumah makan ini.

Pertama kali ke sini saya masih bujangan. Gak inget tapi tahun berapa itu. Pergi dengan teman-teman kantor. Kebetulan kantor kami berada di Cikarang. Lumayan jauh sih. Mungkin sekitar 40an kilometer. Tapi kala itu Tol Cikampek gak semacet dan seheboh sekarang. Bolak balik perjalanan, dulu cuma sekitar 30-45menitan. Kalo boss lagi meetingdi Jakarta atau traveling ke luar negri, biasanya kami, para pion penjaga kantor, suka ngabur kemari hahahaha. Pulang-pulang badan bau asep sate, bahkan sampe ke rambut. Eeettdaaah.

Volume kunjungan jadi semakin sering setelah menikah karena rumah mertua ada di Cimahi, Bandung Barat. Saat itu belum ada jalan tol Purbaleunyi – Cipularang, so setiap mau ke Bandung ya musti ngelewatin Cibungur setelah keluar dari Tol Cikampek. Kecuali masa-masa puasa, setiap lewat ya wajib mampir. Saya, saat menulis ini, sudah menikah selama 20 tahun. Jadi bisa dipastikan, rumah makan ini sudah ada lebih dari usia pernikahan saya. Luar biasa ya.

Itu dulu. Terus sekarang gimana?

Sate kambing Maranggi | Jagoannya rumah makan Hj. Yetty
Ikan gurame bakar | Pilihan menu yang juga laris
Es Kelapa Muda | Sang menu jagoan yang gak pernah berkurang peminatnya

Cerita Sekarang

Setelah tol ke Bandung jadi, saya sempat berfikir bahwa rumah makan ini akan collapseberbarengan dengan yang lain. Sangat menurunnya volume kendaraan yang lalu lalang ke dan dari Bandung, terutama kendaraan roda empat, sempat melemahkan perekonomian usaha kuliner dan oleh-oleh yang berlokasi di sepanjang jalur. Tapi ternyata dugaan saya salah. Sate Maranggi Hj. Yetty tetap berjaya. Bahkan setahap demi setahap semakin maju.

Dari spaceyang saya ceritakan di atas, yang tadinya cuma seuprit, akhirnya meluas merambah lahan hutan. Ruang terbuka membakar sate dan ikan nya juga makin luas dan berderet-deret. Meja kursi dengan tipe sama pun jumlahnya dah gak terhitung seiring dengan ruang semi terbuka yang dibangun di sana sini. Bahkan dari pinggir jalan sudah tidak terlihat lagi luasnya ruang makan. Kecuali asap yang terus mengepul tinggi bak awan kecil di sana sini, terlihat dari pinggir jalan, bahkan dari kejauhan.

Kasir yang dulunya solo karir, tertancap duduk di salah satu sudut dengan antrian mengekor, sekarang berganti dengan bangunan kecil permanen dan beberapa petugas. Ada jalur khusus pembayaran cash/debit plus disediakan juga untuk pelayan kartu kredit.  Bahkan untuk mempercepat antrian dan transaksi, sekarang ada beberapa asisten yang membantu menghitung total biaya yang akan kita keluarkan selama kita berdiri dalam antrian.  Jadi ketika sudah sampai ke depan kasir, kita tinggal membayar.  Membungkus makanan juga diarahkan self service.  Disediakan plastik di atas meja. Jadi gak perlu ngantri khusus untuk membungkus.

Salah satu ruang makan semi terbuka di bagian depan
Kasir yang sudah semakin banyak dengan counter permanen

Tambahan bangunan bukan hanya untuk makanan tapi juga diramaikan dengan rumah khusus penjualan oleh-oleh dan craft, masjid, toilet, tempat bermain anak, pondokan kecil koleksi tanaman, dan tempat mencuci tangan berjejer dengan keran-keran yang jumlahnya puluhan. Di satu sudut kedatangan utama sekarang juga dibuat tempat khusus berfoto dengan design kayu. Walaupun cuma seemprit, banyak juga pengunjung yang menyempatkan diri menorehkan kenang-kenangan di sini.

Es buah dan es campur yang menyelerakan

Bagaimana dengan makanan dan pelayanannya sekarang?

Sistemnya sudah banyak berubah menurut saya. Di masa perpindahan antara warung kecil menjadi warung besar, konsumen sempat diminta untuk mengisi dulu lembaran pesanan, berdiri dalam antrian, membayar, baru setelah itu mengambil sendiri pesanan yang sudah ditulis. Jadi posisi kasir membelakangi pusat pengumpulan makanan jadi. Saya sempat mengalami. Jujur, sistem gini bikin pegel pake banget. Antrian pun sering mengular sampe ke parkiran.

Tapi di kunjungan berikutnya sistem ini akhirnya dihapus. Baguslah. Tega amat nyuruh konsumen berbaris kek ngantri beras hahahaha. Mungkin banyak konsumen yang protes tuh ya, makanya akhirnya sistem pelayanan dirubah kembali. Kali ini, pihak rumah makan memutuskan untuk menambah pekerja. Naaahh gini nih yang mantab.

Jadi sekarang, dibentuk beberapa tim dengan tugas masing-masing yang diidentifikasikan dengan berbagai warna seragam. Satu tim khusus untuk menerima pesanan, mengenakan celemek berkantong yang isinya buku menu plus pulpen. Satu tim khusus untuk mengantarkan makanan dengan kaos lengan pendek dan logo rumah makan. Satu tim khusus untuk bersih-bersih (biasanya bawak ember berukuran gede dan lap meja). Satu tim lagi menjajakan makanan tambahan. Tim yang terakhir ini banyak sekali beredar. Mondar mandir kesana kemari sambil membawa baki berisikan makanan atau minuman di luar menu.

Gorengan yang larisnya bukan kepalang

Yang laris bukan kepalang itu tukang gorengan. Kemudian berbagai minuman seperti es campur, es duren (ini gak sempat kefoto), es jeruk, dll. Asinan buah atau sayur. Ada juga aneka sop. Untuk transaksi, sebagian besar bisa ditulis manual di kertas bon yang kita pegang. Tapi ada juga yang langsung dibayar tunai di tempat. Gorengan nih yang biasa begini.

Untuk menu utama (menu yang ada di dalam kertas bon), akan dilayani oleh tim khusus yang saya sebutkan di atas. Selesai mengisi petugas ini akan membawa list tersebut ke bagian penerimaan pesan, tentu saja dengan mencatat no meja dan nama pemesan. Bon akan ditandai apabila pesanan sudah sampai ke meja kita. Nah, bon ini jangan sampai hilang yak karena ini modal untuk setor muka ke kasir.

Saya dan keluarga biasanya pesanannya gak neko-neko. Sate kambing yang dilengkapi dengan irisan sambal tomat, plus karedok aja. Palingan ditambah dengan gorengan yang dibeli terpisah. Plus tentu saja es kelapa muda. Tapi karena porsinya lumayan gede, kami paling mengambil 1 mug saja. Semua sajian authentic yang dimiliki Sate Maranggi Hj. Yetty. Oia pesanan sate biasanya juga dibarengan dengan nasi dalam bungkus daun pisang.

Karedok dengan kekentalan bumbu yang paling pas menurut saya
Sambal tomat yang sedap banget

Ingin tahu harga-harga terbaru dari rumah makan ini? Nih saya kasih lembaran bon edisi terakhir ya (dari terakhir saya berkunjung di Juli 2019).

Daftar harga makanan dan minuman
Beberapa makanan yang siap untuk dibawa pulang

Tidak jauh dari kasir dan di beberapa titik yang biasa dilewati oleh pengunjung, ada beberapa baki berisikan anek makanan yang siap untuk dibawa pulang. Gak gratis yak hahahaha. Bayarnya? Yah tinggal dibawa langsung ke kasir. Saya sempat pengen ngambil manisan kolang-kalingnya. Tapi jadi kelupaan karena gak sengaja ketemu dengan Tante (adik almarhumah Ibunya suami) yang akhirnya ngajak ngobrol ngalor ngidul.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat melirik ke bagian atap pondokan yang menghadap ke jalan besar. Ada spanduk besar yang bertuliskan bahwa Sate Maranggi Hj. Yetty tidak membuka cabang dimanapun. Mmmm bisa jadi ya banner merah besar ini sengaja dibuat karena banyak resto-resto gadungan yang mengaku cabang dari rumah makan ini.