DSC_0029-crop

Kata pertama ketika sampai ditempat ini adalah ISTAGRAMABLE.

Yak, setuju pake banget!!  Buat yang hobi difoto atau memfoto, tempat ini layak dapat bintang (bukan iklan bir).  Berada di bibir pantai Purnama yang berpasir hitam, The Standing Stones sebenarnya tidak terlalu luas, tapi berkat penataan lahan yang ciamik, penggabungan antara restoran, kolam renang, hamparan hijau rumput dengan beberapa tempat ngumpul-ngumpul di kanan pintu masuk, menjadikan tempat ini pas untuk ngobrol-ngobrol plus menghabiskan waktu berjam-jam dengan privacy yang patut diacungin jempol.

Berkendara dari arah Denpasar, kita akan bertemu dengan restoran ini di daerah Gianyar dalam waktu 1-1.5jam (kondisi traffic normal).  Melewati outer ring road yang tidak begitu ramai, yang harus kita ikuti adalah arah Pantai Purnama kemudian belok ke kanan menuju The Royal Purnama Art Suites & Villas.  Dengan jalan masuk yang cukup untuk 1 kendaraan, The Standing Stones berada di dalam villa ini.  Parkir di area yang sangat terbatas, kita wajib masuk ke receptionist dan membeli voucher 200K/orang sebagai modal untuk menikmati konsumsi selama berada di restoran, baru setelah itu berjalan kaki sekitar 300m melewati jalan setapak di pinggir villa yang siap disewakan.  Dinding yang cukup tinggi menjadikan penghuni villa tidak terganggu dengan hadirnya tamu-tamu yang datang hanya untuk ke restoran.  Buat yang segan jalan kaki, pihak manajemen menyediakan golf car yang bisa mengangkut sekitar 6orang sekali jalan.  Buat saya? Duh sayang banget kalo cuma duduk mental-mental di bangku belakang.  Mending jalan kaki sambil menikmati setiap sudut komplek villa sambil foto-foto.

Kantor Receptionist di depan area parkir. Di sini tempat kita membeli voucher
Kantor Receptionist di depan area parkir. Di sini tempat kita membeli voucher
Jalan setapak menuju resto
Jalan setapak menuju resto

Disambut oleh pintu masuk yang kecil khas Bali, mata kita akan langsung dimanjakan oleh lapangan hijau dilengkapi dengan bar-house dan beberapa tempat duduk nyaman dengan pohon kelapa yang melambai-lambai diterpa angin laut di bagian kanan.  Sambutan hangat bersahabat terasa ketika memasuki resto.  Saya dan 2orang teman, memutuskan untuk keliling membayar rasa penasaran, puas berfoto-foto sebanyak mungkin, baru masuk ke dining-room yang memberikan kesan hommy.

Bagian sisi kanan dari pintu masuk Restoran. Nampak beberapa area kongkow2 yang luas.
Bagian sisi kanan dari pintu masuk Restoran. Nampak beberapa area kongkow2 yang luas.

Sejalan dengan judul dari resto, di beberapa sudut terutama bagian depan yang berada di bibir pantai, kita akan menemui sekian banyak batu granit berdiri kokoh.  Sebagian diletakkan di area hijau (seperti foto di atas), sebagian lagi di depan kolam renang kecil dan ada beberapa yang sengaja diceburkan ke dalam kolam. Sungguh ide yang out of the box.  Jadi teringat, dulu, sering melihat batu-batu granit berdiri ini di beberapa titik  Sunset Road. Eeehh…ternyata diungsikan ke sini toh hihihihihi.  Berikut beberapa shoot amatir saya di seputaran/area resto

dsc_0039  dsc_0037

dsc_0021  dsc_0009

dsc_0033  dsc_0022

dsc_0027

Resto ini terpisah menjadi 2 bagian.  Pertama adalah area khusus untuk tamu-tamu resort.  Rumah-rumah kayu berkelambu, area pool (khusus berenang) dan bagian depan persis di pinggir pantai yang menyediakan tempat duduk panjang berikut payung-payung penghalang sinar matahari, hanya dapat diakses oleh penghuni resort.   Sementara pengunjung (tanpa menginap) dapat menikmati area-area lainnya, seperti resto dengan kursi tegak (dining area), 2 sisi tempat untuk nongkrong-nongkrong sebelum kolam dengan sofa-sofa dan astray untuk merokok, serta beberapa spot yang saya sebutkan di atas.  Cukup puaslah untuk kita-kita yang ingin menghabiskan waktu berkualitas dengan menikmati waktu bersama sahabat, ngobrol disertai dengan angin sepoi-sepoi yang menyapu muka dan tentu saja bisa berfoto-foto dengan nuansa yang berbeda.

Untuk restonya sendiri, menurut saya, tidak ada yang terlalu istimewa, baik untuk design interior maupun untuk makanan dan minumannya.  Saya memesan spaghetti.  Piringnya besar seukuran 2x muka saya (padahal muka saya dah lebar banget nih hahahaa) dengan cekungan yang dalam banget di bagian tengah.  Awalnya saya sedikit kecewa karena dengan harga yang cukup mengganggu dompet kok keliatannya dikit banget. Eeeh ternyata, isinya “tersimpan” penuh di dalam cekungan yang tadinya saya kira cetek.  Kemudian saya memesan 1 piring lumpia isi 3, segelas fresh orange juice, 1 kopi hitam, untuk melanjutkan episode ngobrol-ngobrol kami bertiga setelah selesai menyantap hidangan utama di dalam resto.  Semua lebih dari 200K.  Jadi saya akhirnya harus membayar cash kelebihan/selisih tagihan.  Cukup mahal sih menurut saya.  Tapi jangan lupa, selain makanan dan minuman, kan kita juga “membayar” fasilitas dan keindahan view yang disediakan resto.  That’s un-countable.  Oia, satu hal yang perlu diingat, terutama buat emak-emak, di sini tidak disediakan jasa bungkus membungkus sisa makanan yak.  Jadi kudu dihabiskan di tempat.  Saya yang tadinya merasa mampu melibas lumpia, nyatanya harus menyerah karena kekenyangan…aaeehh….

dsc_0057  dsc_0058

Menjelang pkl. 15:00 wita kami pun bergegas meluncur ke Legian untuk menikmati sunset.  Pengennya bertahan di sini, tapi gak mungkin banget.  Bisa-bisa memfosil keberatan dan kekenyangan hahahaha.  But overall, saya suka dengan The Standing Stones Resto ini.  Not to mention about their artistic spot, rasa nyaman dan suasana untuk ngobrolnya itu yang oke banget dan bakal bikin kangen. I’ll be back for sure!!

Facebook Comment