Suka ngopi sambil kumpul-kumpul dan menghabiskan waktu berjam-jam ngobrol dengan kolega, teman, atau saudara? Starbucks biasanya jadi salah satu pilihan favorit. Merambah hampir di setiap kota-kota besar, jaringan coffee shop yang satu ini sering tumpah ruah oleh pengunjung terutama di saat-saat brunch, sore hari, hingga malam hari.

Nongkrong sambil ngopi nampaknya mulai menjadi rutinitas yang biasa bagi beberapa kalangan di tanah air. Thus, dengan kondisi ini kemudian menjamurlah sekian banyak tempat nongkrong. Baik yang pure hanya menyediakan minuman (baca: kopi dengan berbagai versi) sampai ada yang melengkapinya dengan pilihan santapan ringan maupun berat. Ukuran tempatnya pun bermacam-macam. Mulai dari yang berukuran “hanya” sebesar warung dan tampak sederhana sampai yang grande dengan tampilan yang paripurna.

Untuk yang begitu menyadari kebutuhan milenial masa kini, fasilitas pun ditingkatkan. Bukan cuma sekedar rancang bangun dan interior yang ciamik, tapi juga area-area yang nyaman untuk bekerja, diskusi, atau meeting, dengan koneksi wi-fi yang oke punya. Udah deh. Tambah betah ngejogrok di tempat seperti ini.

Starbucks sepertinya sangat responsif terhadap perkembangan tuntutan-tuntutan ini. Setelah 400 kedai terdahulu di seluruh tanah air, kali ini, di pertengahan Januari 2019, telah hadir Starbucks Reserve Dewata di Sunset Road Bali. Outlet yang merupakan kerjasama antara Starbucks dengan PT. Sari Coffee Indonesia ini, diakui sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan merupakan Starbucks Reserve Bar ke-10 di Indonesia plus 1 dari 185 gerai terbaik di dunia. Wow!!

Coffee Brewing di lantai bawah

Setelah sempat nyasar ke Beachwalk, mall dimana Starbucks sudah memiliki 2 gerai yang rame pengunjung, kami tiba di tempat ini dengan 1 kali berputar karena kelewatan. Kami, saya dan Fuli, sempat tidak mengenali karena kalau dilihat dari jalanan Sunset yang luas, Starbucks Reserve tidak kelihatan besar melebar. Cara terbaik untuk menandainya adalah sebuah jejeran kayu-kayu tinggi dengan motif bergelombang di beberapa sudut, logo Starbucks dan sebuah dinding batu tinggi dengan tanaman rambat. Luasnya gerai yang dicatat sebesar 1.850m2 ini ternyata memanjang ke belakang. Main entrance nya pun tidak berada di jalanan besar tapi di sisi kiri bangunan di saat kita masuk.

Disambut dengan area tunggu dengan meja penerimaan tamu di sebelah kiri dan sebuah dinding tembaga di sebelah kanan bertuliskan ideologi berdirinya Starbucks Reserve Dewata dalam berbagai bahasa (Bali, Indonesia, Inggris, Jepang, dan China), beberapa petugas berbadan kekar berseragam akan menyambut kita dengan ramah dan luwes.

Dinding tembaga dengan tulisan mengenai Starbucks Reserve Dewata

Saya mengangguk dan membalas keramahan yang luar biasa ini dengan senyum semanis mungkin (halah). Iya dong. Sapaan baik kudu dibalas juga dengan sama baiknya. Setuju?? Baiklah. Setelah ngobrol basa-basi dan memotret tulisan singkat tentang tempat ini, langkah awal saya kemudian disambut dengan megahnya wall mural di sebuah dinding tinggi. Mural ini didominasi oleh lukisan seorang ibu tua yang tampak memegang biji kopi dan sebuah kebun kopi yang luas membentang. Persis di depan mural ini ada lahan seluas 10x10m yang ditanami beberapa pohon kopi dan sebuah kantong besar dengan ukiran khas Bali. Mengintip lewat lubang-lubang kecil, saya menemukan biji-biji kopi mentah dalam jumlah yang cukup banyak.

Wall murah dengan kebun kopi kecil di depannya | Difoto dari teras belakang lantai 2

Dari tempat saya berdiri saat itu, saya melihat tempat ini terbagi atas 2 bangunan dengan masing-masing 2 lantai. Di bagian depan (sisi kiri) bangunan didominasi oleh kaca yang belakangan saya temukan sebagai pusat pelayanan dan area khusus para penikmat kopi. Sementara bangunan belakang (sisi kanan) adalah restoran berdinding bata merah. Menurut informasi tempat ini juga bisa dibooking sebagai function room untuk event-event tertentu.

Melanjutkan langkah ke bangunan kaca, kita juga akan disajikan sebuah teras dengan beberapa dudukan dan kursi gantung rotan. Di salah satu kelompok kursi, Starbucks Reserve meletakkan beberapa karung kopi mentah di lantai sebagai daya tarik dan pelengkap sentuhan kebun kopi kecil yang ada di depan mata. Sementara mengarah ke salah satu pintu masuk berikutnya, ada juga taman-taman kopi yang dihiasi dengan patung petani yang terbuat dari kayu.

Decak kagum tak berhenti ketika benar-benar berada di dalam gedung utama ini. Dengan ceiling yang tinggi menjulang dan minim sekat, ruangan pun terasa luas dengan sirkulasi udara yang sangat melegakan. Sebuah space khusus menjual berbagai gimmick dan handicraft tampak berada di tengah-tengah. Counter pemesanan terbentang panjang menguasai salah satu sisi gedung utama. Sementara di sisi yang berbeda, terlihat bar khusus coffee brewing dengan meja kayu dan kursi-kursi untuk para tamu yang ingin menyaksikan langsung proses pembuatan dan pengolahan kopi, sekaligus menikmati pesanan mereka di sana.

Saat memesan minuman, mata saya terpaku pada dua tempat yang sangat mencuri perhatian. Pertama adalah sebuah hiasan kerajinan macrame yang berukuran jumbo dan diletakkan membelakangi sofa. Pekerjaan ketrampilan yang luar biasa cantik. Kedua adalah sebuah ukiran kayu berwarna kecoklatan dan emas setinggi 2 lantai yang berdampingan dengan tangga dengan pegangan kayu yang menghubungkan antara lantai bawah dan lantai atas. Jika dicermati, ukiran ini tampaknya melukiskan kebon kopi yang meliputi pohon kopi, biji kopi, para petani, dan tentu saja beberapa binatang yang sering kita lihat dihubung-hubungkan dengan kopi itu sendiri. Ukiran yang sangat detail ini tampak begitu megah dan sarat akan seni ukir tingkat tinggi. All that respect to the Sculptor. This one is really amazing and outstanding.

Karya seni pahat yang sarat seni setinggi 2 lantai
Tangga penghubung lantai bawah dan atas | Tampak ukiran kayu yang menjulang tinggi

Selesai menikmati segala keindahan di lantai bawah, dengan membawa minuman yang kami pesan, saya dan Fuli membagi waktu untuk menjelajah lantai atas. Ada space mezzanine yang mengijinkan kita memotret coffee brewing bar di lantai bawah dengan beberapa sofa couple dalam jumlah terbatas. Ada juga library dan beberapa ruang kecil. Di salah satu ruangan ini saya sempat mengintip seorang barista yang sedang menyampaikan beberapa ilmu tentang kopi kepada segelintir pengunjung. Belakangan saya akhirnya tau bahwa Starbucks Reserve Dewata ini juga menawarkan paket edutainment bagi masyarakat yang ingin mengetahui, mendalami, bahkan mempelajari beberapa teknik penyajian kopi.

Kami memutuskan untuk tidak duduk di ruang dalam. Seorang waiter dengan ramahnya membukakan pintu dan mempersilahkan kami untuk duduk di teras luar lantai atas. Ternyata tempatnya cukup luas. Meskipun tidak beratap penuh dan siang itu udara lumayan panas, hembusan angin ternyata cukup membantu mengusir teriknya matahari. Buat para perokok, sepertinya teras ini pas banget. Ruang terbuka tentunya tidak menyebabkan asap rokok mengganggu yang lain. Selain nyaman buat ahli hisap, dari teras ini, wall mural, kebon kopi kecil, dan teras belakang lantai bawah, terlihat lebih jelas.

Sayangnya saya tidak punya waktu lebih banyak untuk nongkrong di sini. Janji ke tempat lain sudah menunggu. Setelah selesai “nyetor” ke toilet yang ramah untuk para disabilitas, saya dan Fuli melanjutkan perjalanan siang menuju sore hari itu ke tengah-tengah kota Denpasar. Oia, satu hal yang mengurangi penilaian tentang tempat semegah ini adalah area parkir yang sangat terbatas. Kendaraan roda empat, selain bisa nangkring di pinggir jalan hanya bisa parkir sejajar di sisi badan gedung. Jadi, kalau gak mau repot, mending mesan taxi on-line aja.

Kerajinan Macrame yang digantung di lantai bawah
Area khusus handicraft dan gimmick | Tampak di bagian belakang pusat pelayanan pesanan minuman dan makanan
Teras lantai atas
Teras luar bagian belakang di lantai bawah
Beberapa karung kopi yang diletakkan di teras belakang lantai bawah