Kalau tahun-tahun sebelumnya libur lebaran kami habiskan di Cikarang dan seputaran Bandung, tahun ini (2018) ngelencer ke Cirebon jadi pilihan bersama (maunya si Emak sebenarnya hahahaha).  Mumpung libur anak-anak dan suami cukup panjang, jadilah keputusan untuk “mudik” ke kampung halaman orang lain cus dibuat jauh-jauh hari sebelum puasa.

Karena belum pernah sama sekali merasakan nginep di Cirebon, memilih hotel pun jadi PR tersendiri untuk saya.  Dua poin penting yang jadi request khusus adalah mudah dijangkau dari dan ke tol Cipali PLUS walking distance dengan pusat jajanan atau beberapa resto pilihan.  Keduanya menjadi isu hangat supaya acara jalan-jalan aman tanpa perlu tersesat dan menderita karena “kampung tengah” (baca: perut) gagal dipuaskan.

Dengan persiapan dalam rentang waktu yang masih lumayan lama, ask some friends jadi jurus awal menemukan tempat menginap yang tepat.  Setiap personal yang menurut saya capable untuk ngasih info yang tepat pun mulai ditelusuri.  Mulai dari yang lahir di Cirebon, punya keluarga di Cirebon, sering bolak balik ke Cirebon, dan beberapa travel blogger yang konditenya terjamin sudah 80% menjelajah setiap kota di Indonesia.  Networks worked.  Judul pastinya sih gak rugi punya banyak teman dimanapun.

Singkat cerita, sekitar 80% diantaranya mengusulkan The Luxton Cirebon Hotel & Convention Centre (Luxton) sebagai pilihan terbaik.  Berada di Jl. R. A. Kartini, saya menemukan hotel bintang 4 ini dikelilingi oleh beberapa hotel bintang 3, mall besar, berbagai resto baik yang cepat saji ataupun yang menghidangkan makanan rumahan, 2 mini market yang ingin selalu dekat satu sama lain (Indomaret dan Alfamart), Jogya shopping arcade, dan banyak fasilitas umum lainnya.  Untuk menuju hotel juga tidak membingungkan.  Keluar di Tol Plumbon, kami hanya perlu mengikuti jalan lurus ke arah dalam kota, bertemu lampu merah/perempatan besar, dan mencapai hotel hanya 200 meter setelahnya.  And that’s all so simple and very helpful.

Meski tetap mengandalkan GPS sebagai petunjuk arah, nyatanya jalur menuju Luxton jadi hiburan dan pemandangan menarik tersendiri bagi kami.  As a barely new visitors, Cirebon, menurut saya, berhasil menata, mengatur, dan memanfaatkan jalan yang menghubungkan tol dan tengah kota.  Mengemudi dengan kecepatan rendah karena lebar jalan yang tidak begitu luas, banyak hal-hal menarik yang bisa kami lihat.  Terutama resto makanan khas Cirebon, Empal Gentong dan Nasi Jamblang, yang berderet dengan berbagai merk.  Semua penuh tamu.  Jadi sepertinya semua dijamin enak.  Warung oleh-oleh pun berbaris rapih di sisi jalan menuju tol.  Jumlahnya pun gak sedikit.  Jadi bisa dibayangkan ya gimana padatnya lalu lintas di sini kalau pas musim liburan seperti yang kami alami.

Tak mengalami hambatan yang berarti, kami disambut dengan gedung kaca dengan warna khas Luxton dan kolam dengan deretan patung ikan mengambang di depan lobby.  Melangkah menuju counter reception yang tampak jauh dari pintu utama, saya menemukan “sepi sentuhan design interior.  Lahan seluas 1/3 lapangan bola itu hanya diisi oleh sofa berkelak-kelok dengan cover bunga-bunga (yang bisa banget buat leyeh-leyeh beberapa masehi), meja dan area kerja concierge, plus booth bertemakan Idul Fitri yang menempel dengan tangga menuju convention hall.  Ornamen bernuansa lebaran pun minim terlihat.  Jadi terus terang, saya tidak menemukan kesan pertama yang wah standard hotel bintang 4 di tempat ini.

 

Mengobati kesan biasa yang barusan lewat, area penerimaan tamu cukup menarik hati.  Dari jauh terlihat ukiran motif batik Mega Mendung menjulang tinggi.  Satu ciri khas Cirebon yang belum tergantikan.  Sementara sebagai backdrop tempat berdirinya para petugas reception berjejer berbagai topeng yang masing-masing ditaruh di dalam kotak kayu dengan sisi depan terbuka dan dilengkapi dengan lampu sorot kecil berpendar.

Walaupun overall bangunan fisiknya rada kaku, wajah dan sambutan semua staff ground floor hari itu sangat hangat dan bersahabat.  Proses check in pun gak lebih dari 10menit.  Tidak bertele-tele dan tidak dengan keramahan yang over acting.  Secara raga sudah rontok melewati 8 jam perjalanan darat yang melelahkan.  Gerah, pengen mandi, dan bersegera selonjoran sudah melambai di depan mata.

Melangkah masuk ke kamar tipe deluxe yang sudah kami pesan, kesan pertama yang mampir adalah kebersihan dan ukuran kamar yang sangat leluasa.  Didominasi oleh warna coklat dan turunannya, sentuhan natural membumi begitu terasa.  Furniture maupun keramik lantai menonjolkan warna yang begitu menyatu satu sama lain.  Untuk mereka yang menyukai keteduhan dan tidak menyukai warna yang ramai bertubrukan, pasti suka dengan interior di kamar deluxe ini.  Kamar mandi pun cukup luas dengan toiletries yang lengkap dan perlengkapan yang berfungsi dengan baik seperti pengering rambut, shower air panas dan dingin, ketel memasak air dll.  Hanya ada sedikit yang kurang yaitu handuk.  Karena (mungkin) sudah terlalu lama, handuk terasa kasar menyentuh badan.  Bahkan diantara 2 handuk yang disediakan, salah satunya bolong di beberapa titik.

 

Berada di lantai 6, kamar kami persis di atas kolam renang yang berada di lantai 5.  Dari balik kaca, jeritan kegembiraan anak-anak terdengar membahana.  Alih-alilh mau istirahat dan selonjoran di kamar, kami malah tergoda untuk ikutan nyemplung.  Oke lah.  Mari kita kemon.

Di kolam yang tidak begitu besar ini, Luxton membuat beberapa gazebo kayu yang persis berada di atas kolam.  Antara kolam dengan kedalaman 120cm dan khusus untuk anak-anak dipisahkan oleh sebuah jembatan kayu dengan rel besi.  Beberapa meja dengan tempat duduk bertebaran di 2 sisi.  1 sisi mendekat ke fitness centre dan sebuah restoran yang melayani tamu-tamu yang sedang berenang, sementara yang 1 lagi berada di ruang tanpa atap yang langsung terlihat dari kamar-kamar di atasnya.  Kalau tadi di awal lobby terlihat sepi, hal ini tidak berlaku untuk kolam renang.  Walaupun tidak berukuran grande, taman yang dibangun di pinggir kolam menjadikan tempat ini asri dan menawan.  Bahkan menurut saya, kolam renang adalah venue paling menarik yang dimiliki Luxton.

 

 

Menginap 3 hari 2 malam, kami mengalami 2 kali makan pagi dengan kualitas yang berbeda di resto utama mereka, Xquisite.  Di hari pertama, nyaris sebagian besar makanan rasanya flat.  Tapi di hari ke-2, dengan pergantian beberapa menu, kualitas rasa jadi ok banget.  Waktu sarapan hari pertama, layanan masak telur (egg counter) terasa mengecewakan karena yang didapat hanya rasa asin aja.  Jadi ketika pas sarapan ke-2, tak lirik dulu chef nya hahaha. Bukan apa-apa.  Dididik orang tua harus menghabiskan makanan, saya takut sudah ngambil terus terbuang.   Tapi begitu tau chefnya diganti, saya pun mencoba scramble egg.  Hasilnya? Good.  Akhirnya it’s tasted perfect.

Dengan ragam hidangan yang sangat variatif dan tamu yang sangat banyak, saya ajukan 2 jempol untuk kesigapan tim dapur dan personal yang melayani tamu di bagian depan.  Setiap makanan cepat direfresh saat mendekati habis.  Tak ada plate atau bowl yang kosong dan terlepas dari perhatian.  Meja pun ditata dan ditambah sedemikian rupa sehingga mampu menampung tamu yang masuk banyak dan lambat keluar.

Satu yang menarik perhatian saya adalah space khusus untuk sambal.  Bukan soal banyaknya pilihan jenis sambal, tapi justru Luxton mengajak tamu untuk membuat sambal sendiri dengan bahan-bahan yang sudah disediakan di tempat, seperti bawang merah, bawang putih, 3 jenis cabe, gula, dan garam.  Cobekan dan ulekannya juga disediakan.  Nyoohh nguleg aja sendiri hahahaha.  Hari ke-1 kelima cobek tak ada yang berisi.  Tapi di hari ke-2 saya liat seorang ibu (tamu) asyik motong cabe dan meramu sambal versi dia, melengkapi 4 cobekan lain yang sudah terisi.  Saya gak berani mencoba.  Sepagi itu kok ngeri ya ngisi lambung sama yang pedes-pedes.

Oia sebagai tambahan info, untuk sarapan tambahan, di luar jatah 2orang/kamar, Luxton menarik biaya 100rb/orang.  Dengan menu yang sangat beragam dan kualitas yang didapat, rate segini menurut saya masih acceptable.

 

 

Seperti yang sudah diinfo di awal-awal, Luxton dikelilingi oleh berbagai fasum (fasilitas umum) yang sangat beragam.  Buat yang ingin melihat koleksi baju muslim dan kerudung cantik milik designer Ivan Gunawan, outlet Mandjah milik cowok berbody kulkas 3 pintu ini berada hanya 200 meter dari hotel.  Selain outfit, di sini juga ada berbagai koleksi parfum (saya beli salah satunya) dan pernak pernik cewek lainnya.

KFC juga tidak jauh.  Restorannya gede banget.  Berseberangan dengan Mc Donald yang juga gede space nya.  Ada juga toko roti, restoran seafood, dan Ayam Geprek Bensu yang lagi laris.  Saya tidak sempat mampir karena antrian yang panjang.  Padahal pengen banget nyobain.  Ini kalau kita berjalan ke kiri begitu keluar dari hotel.  Tapi kalau melangkah ke arah kanan, di seputaran lampu merah, kita bisa ketemu sebuah warung Nasi Jamblang yang laris banget.  Beberapa kali menengok dan pengen makan di situ, selalu nyerah duluan karena antrian mengular.  Di depan hotel, adalah Hotel Grage yang menurut teman asli Cirebon, masuk urutan ke-2 terlaris di Cirebon.  Hotel ini memiliki mall sendiri yang cukup besar.

Berkendara ke arah (dalam) kota, sekitar 1km kita akan bertemu Masjid Raya At-Taqwa yang adalah masjid besar kota Cirebon.  Persis di samping masjid ini, ada foodcourt yang menyajikan aneka makanan khas Cirebon.  Kami sempat mencoba Tahu Gejrot dan Mie Koclok.  Tahu gejrot sudah tau dong.  Secara sudah banyak beredar hampir di seluruh provinsi di pulau Jawa.  Tapi Mie Koclok, baru kali ini saya ketemu langsung di daerah asalnya.  Mie ini menurut saya ada sedikit sentuhan laksa nya tapi lebih kental karena campuran maizena dalam jumlah yang sedikit banyak.

 

Kembali ke Luxton.  Saya menemukan beberapa spot foto yang unik di area depan lift.  Di lantai 6, dekorasi besi tembaga berbentuk lingkaran dengan potongan-potongan tipis nyaris menipu mata.  Di ground floor, bentuknya malah lebih abstrak.  Cakep banget jadi sasaran berfoto narsis.  Kemungkinan besar dekorasi dengan nilai seni tinggi ini ada di setiap lantai.  Seandainya saya punya akses ya.  Pasti dah nekat foto di depan lift di setiap lantai.

 

Oia, di ground floor, selain Xquisite Resto, ada juga counter pastries and bakeries bernama Sugar & Spice.  Kemudian ada drug store, outlet batik, dan outlet craft.  Di dekat berbagai ruangan ini ada sederetan couch merah dan bantalan duduk hijau, berjejer nyenderin pembatas Xquisite.  Saya baru menyadari indahnya pembatas ini setelah meng-edit foto-foto yang tersimpan di kamera saya.  Potongan-potongan kaca blur dan besi-besi penyanggah ternyata disusun sangat cantik sedemikian rupa.  Aaahhh sayang banget harus saya lewatkan.  Padahal kalau berdiri di bagian dalam kemudian di foto dari bagian luar, hasil fotonya pasti keceh badai.

Hari itu masih jam 10 pagi ketika kami harus pulang ke Cikarang.  Rencana untuk mampir berbelanja oleh-oleh di sebuah pasar tradisional dan memikirkan jalur tol yang mulai penuh oleh pemudik yang kembali ke Jakarta, membuat kami bersegera berkendara.  Semoga bisa kembali lagi ke Cirebon dan mengexplore kuliner serta destinasi wisata alam plus edukasi yang belum sempat saya jelajahi.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here