Bencoolen.  Salah satu area favorit saya untuk menginap di Singapore.  Daerah ini tidak begitu rame tapi juga tidak begitu sepi.  Berada di seputaran Bugis yang jadi sentra kunjungan hampir sebagian besar pejalan dari Indonesia, plus paling gampang menemukan resto yang aman untuk muslim, Bencoolen hampir selalu jadi pilihan saya.

Peta lokasi SUMMER VIEW HOTEL | Diambil dari official website mereka www.summerviewhotel.com.sg

Biasanya saya menginap di Ibis Hotel.  Tapi sekali ini pengen nyoba Summer View.  Hotel yang berada persis di seberang Ibis dan sekali ini jadi pilihan saya serta Melia untuk menghabiskan 3 hari kunjungan ke Singapore.  Tetap gak jauh-jauh supaya bisa menikmati berbagai tempat yang sudah khatam di luar kepala ketika menginjakkan kaki di kota kecil ini.  Seperti tukang buah di Bugis Market seberang Albert Complex Food Centre.  Yang jual biasanya 3-4 orang babang tamvan (baca: engkoh-engkoh) judes gak ketulungan hahahaha.  Tapi karena buah-buahan yang dijual emang bagus, pembelinya pun sepertinya tutup telinga akan kejudesan yang jual.  Trus resto India Arab halal yang buka 24 jam, berada cuma 50 meter dari Summer View.  Resto ini terkenal banget karena roti cane yang dihidang dalam berbagai rasa.  Selalu penuh diwaktu-waktu makan, pagi, siang, ataupun (terutama) sore/malam.

Berdampingan dengan Ibis Hotel yang berada di seberang, ada outlet Seven Eleven (Sevel) yang walaupun berukuran sedang, isinya cukup lengkap, terutama untuk aneka cooled meals (yang bisa dihangatkan kembali di sana) dan berbagai pilihan minuman, yang difasilitasi dengan 4 buah meja makan dengan kursi-kursi yang banyak.  Kalau sore biasanya dipenuhi oleh anak-anak kuliahan.  Kok tau? Karena mereka selalu larut dalam obrolan soal tugas-tugas kuliah.

Dari depan Sevel, berderet bus shelter dengan berbagai tujuan.  Kalo tidak salah ada 4 buah. Lengkap banget.  Tinggal kita aja yang cermat membaca petunjuk yang tercantum di salah satu sisi tempat duduk.  Saya, terus terang, jarang sekali memanfaatkan fasilitas bus selama di Singapore karena seringnya pergi berombongan.  Jadi lebih memilih naik taxi dan sharing cost.  Lebih cepat pulak.  Kalaupun pengen naik transportasi umum atau pas pergi dengan teman yang baru pertama kali ke Singapore, baru deh naik MRT.  Moda transportasi yang sampai saat saya menulis ini, belum pernah saya naiki di negara sendiri.

Trus ke tempat-tempat wisata lain deket juga gak Mbak? Taaah etaaa.  Sebesar apa sih Singapore itu kawan? Dengan sarana transportasi beragam, lalu lintas gak ruwet, di kota yang juga berfungsi sebagai negara ini, apa sih yang “dianggap jauh”?  Males turun naik tangga ngejar MRT, taxi adalah solusi yang tepat.  Apalagi kalau ada 3 orang travel mate.  Sharing SGD 10-20 pasti gak masalah.  Catatan:  di Singapore, 1 taxi hanya diperbolehkan dinaiki oleh 4orang penumpang.

Tapi biar dapat informasi yang lengkap tentang apa aja yang berada tak jauh dari Summer View, bisa dibaca ditautan berikut ini ya.  Apiknya, di website mereka ini, ada rincian/keterangan tentang seberapa jauh destinasi-destinasi menarik di Singapore (dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum) plus ulasan singkat tentang tempat tersebut.  Lengkap dan nyenengin banget mbacanya.  Setidaknya, dapat deh beberapa referensi tempat-tempat apik yang bisa dikunjungi.

SEVEL | Saya foto dari depan Hotel Summer View | Tampak jalan kecil diantara SEVEL dan bangunan sebelahnya | Jalan pintas yang selalu saya lewati menuju area Bugis
Deretan Bus Shelter yang berada di seberang hotel Summer View | Sementara di depan lobby ada spot khusus untuk menunggu taxi

Oia, buat yang mau naik taxi, pihak hotel menyediakan spot khusus untuk menunggu persis di depan lobby.  Minta bantuan concierge atau receptionist juga bisa.  Tapi khusus buat tamu ya.  Kalau booking via hotel, biasanya dikenakan surcharge sekitar SGD 2/trip.

 

Seperti apa dalamnya Summer View?

Sepengalaman saya, tempat menginap dengan strata bintang 4 ke bawah, lahannya sangat terbatas.  Bahkan boleh dikatakan sempit.  Jarang banget ketemu hotel dengan area penerimaan tamu yang luas dengan tempat duduk besar-besar seperti di Indonesia.  Boro-boro bisa ketemu taman yang penuh dengan bunga atau pohon-pohon rindang.  Yang ada cuma sepetak tempat kecil, seukuran parkir 2-3 mobil, dan dipercantik sedikit dengan tanaman-tanaman artificial.

Pernah menginap di Holiday Inn.  Hotel bintang 5 di daerah Bugis.  Awalnya tak kira bakal ketemu lobby yang lapang.  Tapi nyatanya, walau terlihat wah, dengan sentuhan interior design yang sophisticated, tetap aja ga ada seujung kuku luasnya dibanding dengan Holiday Inn di Indonesia.

Seringnya malah, di jam-jam tanggung sebelum check in maupun check out Budget Hotel (seperti Amaris, dll), area receptionist justru dipenuhi oleh deretan koper-koper para tamu daripada pernak pernik cantik.    Begitupun yang kami alami ketika sampai di hotel.  Sepanjang koridor, segala macam jenis dan ukuran koper berjejer rapih.  Orangnya jalan-jalan menghabiskan waktu tapi kudu check out.  Sementara jadwal penerbangan masih lama.

Gak butuh waktu lama untuk proses check in karena kami sudah booking kamar jauh-jauh hari sebelum berangkat.  Sambil menunggu Meli mengurus administrasi, saya menebarkan pandangan di ground floor ini.  Berdampingan dengan receptionist, dibatasi oleh kaca, ada resto yang berukuran sekitar 4x8m.  Satu-satunya resto milik hotel dan tempat kami makan pagi.  Di antara ke-2 ruang ini, ada lorong menuju lift.  Seperti yang tadi saya tulis. Lorong dipenuhi oleh berbagai koper.  Jadi kudu miring-miring jalannya.

Ada sofa ukuran sedang dan kursi electic besi warna warni buat menunggu. Ditemani oleh berbagai bunga artificial, baik di dalam maupun di luar.  Tapi yang penting semuanya tampak bersih.  Kalaupun sempat terlihat berantakan, lebih disebabkan oleh tapak-tapak alas kaki kotor akibat hujan.  Yap.  Di 3 hari kunjungan kami, 70% waktu diisi oleh hujan.  Terutama malam hari.  Duuhh padahal banyak tempat yang ingin saya foto dalam suasana kaya lampu.

Walaupun berasa sempit di bagian bawah, untuk kamarnya sendiri cukup berasa luas.  Setidaknya dengan adanya jendela yang menghadap ke jalan depan hotel, kamar seluas 16m2, tidak menimbulkan efek sesak.  Kebersihan juga apik banget meskipun secara interior biasa aja.  Standard dan minimalis.

Yang lebih menyenangkan lagi adalah fasilitas coffee, tea dengan (tentu saja) alat penanak air, dan beberapa camilan yang disediakan gratis.  Awalnya kami kira 2 bungkus crackers dan 2 mie cup yang ditaruh itu berbayar.  Tapi nyatanya gratis.  Menolong banget ketika satu malam hujan deras dan kami berdua sudah terlalu mager untuk cari makan keluar.

 

Untuk breakfast tidak banyak pilihan.  Dengan ukuran resto yang terbatas, area hidang juga jadi gak banyak.  Tapi selama 2x makan pagi, makanan yang ditawarkan tidak mengecewakan.  Setidaknya beberapa menu pas dengan lidah saya (sweet beans, bihun goreng, dan scramble egg) cukuplah untuk mengisi lambung di pagi hari.  Awalnya, kalau gak menyelerakan, saya mau ngungsi aja ke resto India halal yang letaknya cuma sejangkauan atau nonkrong di Sevel seberang jalan.

Lepas dari itu, kamar dan makanan, Summer View, adalah hotel yang nyaman sesuai dengan rate yang dikenakan sekitar 1.800K/malam.  Keramahan juga jadi milik mereka.  Poin plus yang saya lihat disetiap review hotel plus tentu saja lokasinya.  Bila diminta untuk menginap kembali, saya ingin mencoba kamar family room yang pas untuk 4orang.  Pergi dengan suami dan anak-anak atau dengan 3 orang teman lainnya.

Ingin melihat profile Summer View secara utuh, silahkan berselancar ke website mereka www.summerviewhotel.com.sg

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here