Gimana rasanya nginep di hotel yang menyatu dengan mall besar?.

Jawabannya: Mengganggu stabilitas dompet (pake nyengir).

Bener banget.  Tujuan utamanya sih menarik barang jualan saya di outlet yang berada di Cirebon Super Block Mall (CSBM).  Tapi demi efisiensi dan efektifitas waktu, suami memutuskan untuk menginap di hotel yang menyatu dengan CSBM.  Yup.  Swiss-BelHotel, hotel bintang 4 ini jadi bagian dari CSBM, sebuah mall besar di tengah kota Cirebon.

Tampak depan hotel dililhat dari pintu masuk mall menuju area parkir

Kok mengganggu stabilitas dompet Mbak? (ngelap keringet)  Ya iyalah.  Lepas check in tengah hari, tanpa buang waktu, anak remajaku langsung ngajak tawaf di mall.  Kalo sekedar ngider sih gapapa.  Tapi karena ketemu banyak outlet pernak pernik cantik, jajanan kekinian, dan outfit shop (baca: baju tunik dan muslim) yang keceh design dan harganya (ini kemauan emaknya hahahaha), jadilah episode belanja dan jajanpun tidak terhindarkan.

Tapi menurut saya dan (pasti) sebagian besar emak-emak, bisa jalan bareng anak remaja yang sudah sibuk dengan kegiatan sendiri, kesempatan mendapatkan quality times jadi saat-saat yang sudah dinantikan.  Alhamdulillah, emak juga ada rejeki lebih.  So, kenapa enggak?  Secara ya bagi (mungkin) sebagian besar wanita (termasuk saya di dalamnya), shopping atau sekedar window shopping adalah obat hati yang menyegarkan jiwa.  Apalagi untuk menyenangkan anak? Ya apa iyaaaa emak-emak (kedip-kedip bukan cacingan).

Oia, selain deretan beberapa merk yang sudah terkenal nangkring di setiap mall besar di Indonesia, CSBM juga menampung supermarket besar dan studio nonton yang akhirnya menggiring saya untuk menyaksikan film Fantastic Beasts.  Jadi selama menginap jangan khawatir kekurangan konsumsi, hiburan atau kebutuhan sehari-hari.  Apalagi selama mall beroperasi, setiap penginap hotel diberikan akses khusus untuk keluar masuk melalui lantai 3.  Jadi asyik aja mondar-mandirnya.

 

Review Kamar dan Fasilitas Hotel

Disambut dengan rancang ruang yang sederhana di area lobby, saya jadi teringat dengan Luxton Hotel yang juga berada di Cirebon.  Tempat luas yang diperuntukkan untuk menerima tamu benar-benar minim dengan aksesoris ruangan layaknya hotel berkelas.  Begitu masuk pintu depan berkaca tinggi, yang terlihat hanya sebuah sofa merah setengah lingkaran, sebuah dinding hijau tinggi dengan sedikit hiasan, satu lagi sofa merah di ujung, dan meja receptionist yang cukup simpel.  Less attractive menurut saya.

Baca juga Staycation di Luxton Cirebon | Hotel Strategis di Tengah Kota Wisata

Menebarkan pandangan sekali lagi ke sekeliling ground floor sambil menunggu proses check in, saya melihat satu tiang khusus yang menggantung sekian banyak frame berwarna emas dengan berbagai tulisan tangan.  Mengamati lebih dekat, ternyata bingkai ini berisi kesan dan pesan para public figure yang pernah menginap di Swiss-BelHotel.

Menempati kamar di lantai 8, pemandangan yang kami dapatkan adalah sekian banyak rumah penduduk dan lahan parkir mall di bagian belakang hotel.  Dengan dinding full kaca setinggi sekitar 3m, pihak hotel memasang krey penahan sinar matahari yang bisa diturunnaikkan dan gorden (apa horden?) tebal standard hotel bintang 4.

Kamarnya sendiri spacious, lega, dengan pewarnaan yang teduh.  Tidak banyak ornamen dinding jadi kamar tidak terasa sempit.  Yang membuat kamar terasa adem adalah lantai kayu (parquet) dengan warna alam senada di seluruh ruangan dan sinar lampu yang redup.  Jika ingin merasakan terangnya ruangan tanpa harus menghabiskan energi listrik, salah satu caranya ya adalah membuka krey penghalang sinar matahari itu.  Tapi kami tidak mencobanya karena panas terik luar biasa yang bikin silau mata.

Kesan adem dan homy juga terasa di kamar mandi.  Lengkap dengan toiletries dan pengering rambut (hanya ada di hotel bintang 4 ke atas), berada di dalamnya terasa betah.  Dengan luas yang cukup, dan intonasi warna alam yang seragam, ruangan pribadi ini tampak bikin betah.  Yang suka menghabiskan waktu berlama-lama mandi, pasti tambah lama nongkrong di dalam.

 

Untuk fasilitas umum yang diberikan bagi para penginap, sebagian besar ada di lantai 3.  Di lantai ini selain ada sebuah restoran besar yang melayani makan pagi, juga ada kolam renang, business centre, mini shop (menjual batik khas Cirebon, aneka buah tangan), drug store, cafe kecil menjual cake, kudapan, kopi, dan teh, juga menghadirkan beberapa lukisan di beberapa titik yang eye catchy.  Dan yang penting, seperti yang saya tulis di atas adalah akses jalan menuju CSBM.  Satu poin yang menjadikan para penginap mendapatkan eksklusifitas service.

 

Sarapan Yang Istimewa dan Sarat Kualitas

Layaknya sebuah hotel dengan peringkat tinggi, layanan dan pilihan menu sarapan, tidak perlu diragukan lagi.  Terutama untuk bakery dan pelengkapnya.  Pengelompokan jenis makanan pun tampak sangat tertata mengingat luasnya ruangan.  Mendekati dapur, pengunjung dilayani dengan sarapan khas orang Indonesia yang selalu mengatakan “belum makan kalau belum ketemu nasi”.  Disampingnya ada pelayanan khusus untuk mie ayam dan pembuatan aneka telor (yang ini sudah gak diragukan laris manis).

Gak jauh dan sangat mengesankan adalah Nasi Jamblang dan Empal Gentong. Sajian khas Cirebon dengan pilihan lauk dan sayur yang banyak dan sangat beragam. Menggunakan wadah tembikar, penampilan hidangannya pun cakep banget.  Cantik untuk dilihat dan difoto.  Sayangnya saya sudah gak kuat untuk mencoba karena perut sudah full dengan aneka roti dan scrambled egg.

Melipir lagi ke tempat yang tidak jauh dari sajian khas Cirebon ini, ada 2 counter kecil yang menarik banget.  Satu meja lumayan gede dengan 5 toples kaca besar yang isinya aneka kerupuk.  Sementara satu lagi khusus Jamu Tradisional yang dijaga oleh seorang petugas yang siap membantu untuk meramu.

 

Pindah ke satu meja kaca panjang yang bikin saya ngiler mulai dari datang adalah deretan produk bakery.  Bermacam roti, cake, beserta aneka selai, keju, cream, plus olesan tasty lainnya, benar-benar serasa dimanjakan oleh surga makanan yang luar biasa menyelerakan.  Buat saya yang lebih menyukai bakery ketimbang nasi, ngeliat “pemandangan” penggugah selera seperti ini rasanya seperti mendapatkan bonus yang hanya bisa dinikmati ketika menginap di hotel berbintang 4 atau di atasnya.  Tak ingin melewati kesan ini, saya bolak balik memotret sambil mengimbangi selera yang berlarian dengan keisengan pengen nyomot semua yang saya foto.  Duuuhh sayang ya lambung ini terlalu sempit untuk mampu menampung laper mata.

 

 

Berseberangan dengan meja panjang favorit saya ini, pihak hotel menyediakan menu berimbang dengan menghadirkan salad dan buah-buahan.  Salad ini tampaknya laris banget karena 3 kali saya bolak balik selalu keduluan orang lain.  Susu, juice, teh, dan kopi pun melengkapi makan pagi yang terasa mewah dengan rasa tak tercela.

Satu lagi yang meninggalkan kesan adalah tata ruang dengan selera industrial bercampur retro.  Luas ruangan yang grande, memungkinkan pihak hotel menaruh banyak meja dan kursi dengan tata letak tidak berdesakan satu dengan lainnya.  Dekorasi yang mencuri pandangan adalah lampu gantung hitam yang berjejer mengiringi meja makan yang juga rapih lurus di dekat pintu masuk, plus keramik dengan warna gonjreng yang menghidupkan lantai tanpa plester di sampingnya.

Waktu hampir 1 jam memanjakan lidah dengan sarapan berjuta pilihan bonus 30 menit memotret sepuasnya, akhirnya mengajak saya untuk melangkah ke luar, menikmati hangatnya matahari pagi di pinggir kolam renang.

Dulu, ketika anak-anak saya masih di balita sampai Sekolah Dasar, selain berlama-lama menikmati sarapan, kesenangan berikutnya adalah nyebur ke kolam renang.  Jadi ketika melihat kolam renang besar, tempat duduk berjejer di pinggir kolam, dan anak-anak yang berlarian dengan baju renang, saya tetiba kangen dengan segala kerepotan ketika memiliki anak-anak yang masih kecil.  Dan berenang di hotel adalah salah satu pilihan rekreasi yang dinanti oleh mereka.

Rindu juga dengan saat-saat duduk menunggu, terpapar matahari, dan bolak balik kudu tereak karena terkadang anak-anak becandanya berlebihan.  Anak-anak hanya menganggap acara berenang selesai ketika ketemu 2 hal.  Pertama, badan sudah keriput dan berwarna abu-abu.  Kedua, rasa lapar yang tak terkira.  Nah kalo sudah begini yang ada pada ribut dan gak sabar mesan makanan untuk makan di pinggir kolam renang atau lewat Room Service, makan di kamar setelah mandi.  Kerjaan emak? ya menikmati kehebohan ngeberesin koper dengan baju-baju basah sampai saatnya waktu check out.

Tapi kali ini berbeda, sarapan menjadi acara terakhir selama menginap di Swiss-BelHotel.  Saya harus meninggalkan hotel dengan kesan yang tak terlupakan dan menyambung acara selama di Cirebon dengan memuaskan diri di toko buku sebelum berkunjung ke rumah kreatif dan workshop Bikin Bikin milik salah seorang crafter.

Baca juga SANTIKA Cirebon | Hotel Lawas Ramah Lingkungan di Kota Udang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here