Ada yang pernah merasa bosan melihat atau berada di satu tempat dengan bunga-bunga cantik di sekitar kita?  Kalaupun ada, hal ini tidak berlaku untuk saya.  Karena menikmati indahnya bunga, entah kenapa, memberikan kenyamanan sendiri di hati.  Pokoknya sukak aja.  Dan saya percaya dengan peribaratan yang katanya bunga itu mewakili rasa cinta, ungkapan kasih sayang, dan berbagai rasa yang sarat dengan energi positif.

Kalau berada di sebuah tempat dengan aneka bunga yang seluas samudra gimana perasaanmu?  Lagi-lagi buat saya, jangankan yang tumpah ruah, berdiri di warung abang-abang penjual bunga yang cuma sepetak aja, saya betah gak kepengen pulang.  Itulah yang saya rasakan selama berkali-kali mengunjungi Taman Bunga Nusantara di Desa Kawung Luwuk, sekitar (hanya) 10km dari rumah kami di Cipanas atau 30menit berkendara jika jalanan menuju ke tempat ini tidak terlalu penuh.

 

Menuju Taman Bunga Nusantara 

Nih ya saya tampilkan aja denah lengkap menuju Taman Bunga Nusantara.  Ada beberapa alternatif yang bisa kita gunakan untuk mencapai Desa Kawung Luwuk.  Kalau dari rumah kami, yang berada sejajar dengan Istana Cipanas, kami lebih suka mengambil jalur melewati Green Apple Garden.  Menelusuri Desa Cibadak.  Kemudian belok ke kanan melalui Desa Ciwalen, baru setelah itu menyusuri jalanan Desa Kawung Luwuk.  Walaupun lebar jalan tidak lebih dari 10meter alias hanya cukup untuk lalu lalang 2 mobil, rute ini relatif lebih dekat.

Memasuki Desa Kawung Luwuk, jalan sudah dicor ketika terakhir saya berkunjung di pertengahan Juli 2017.  Signage/petunjuk arah tidak begitu banyak, tapi terpasang di beberapa tempat strategis, seperti pertigaan maupun perempatan.  Jadi jangan khawatir akan hilang arah kalo sudah di seputaran sini.  Anyway busway, hari gini kan sudah ada google map atau waze yang bisa digunakan sebagai penunjuk arah.  Gak mempan pake suara si Mbak yang jerit-jerit via HP, sok atuh bisa tanya-tanya masyarakat sekitar.  Cubit deh kalo masih nyasar juga.

 

Halaman Depan | Bagian Luar Taman Bunga Nusantara

Bertemu dengan sebuah belokan tajam, jalan menurun melewati sebuah jembatan, kemudian jalan yang sedikit menanjak, kita akan disambut dengan sebuah gerbang besi besar bertuliskan Taman Bunga Nusantara.  Berada di sisi kiri jalan, sebuah pagar kokoh akan menyambut kita.  Tampak terhampar di depan mata lapangan luas parkir dengan sebuah patung Angsa Hitam (The Black Swan) yang menjadi icon dari Taman Bunga Nusantara (Garden Icon).

Patung ini dikelilingi oleh berbagai tumbuhan dan berada di dalam sebuah kolam bertingkat dengan air yang terus mengalir.  Karena banyak titik air yang jatuh, deru suara airpun terdengar jelas ketika kita berada di dekatnya.

Angsa Hitam atau dalam bahasa latinnya Cygnus Attratus, dipercaya memiliki kekuatan tubuh yang sangat tinggi, mudah berinteraksi dengan hewan lain, dan gampang berkembang biak meneruskan keturunannya.  Unggas ini menjadi simbol bahwa Taman Bunga Nusantara adalah sebuah wisata agro dengan kekayaan jenis flora dan fauna, bertumbuh dalam lingkungan yang harmonis dalam rangka melestarikan lingkungan.

Tidak jauh dari patung ini, ada beberapa loket tiket dan loket informasi.  Semua berhiaskan ratusan bunga dan daun-daun dengan warna yang sangat cantik.  Bahkan di pintu masuk aneka tanaman rambatpun tampak begitu sehat menjuntai.  Datang di waktu pagi hari dan di hari kerja, kami membayar tiket masuk seharga Rp 40.000,-/orang.  Harga yang menurut saya sangat pantas untuk sebuah tempat rekreasi yang butuh perawatan maksimal.

Berada di sisi kiri loket tiket, terdapat toko yang menjual aneka tanaman, baik bunga maupun buah-buahan.  Sebagian besar adalah bibit dari sekian banyak bunga yang bisa kita nikmati di dalam taman.  Di bagian atas toko ini, ada sebuah resto dan warung kopi (Marigold Cafe & Hana Resto), yang memanjakan kita dengan pemandangan halaman depan dalam.  Sayangnya, niatan untuk nongkrong sebentar di tempat ini setelah pulang, tidak dapat terlaksana karena padatnya pengunjung.

Tak jauh dari toko tanaman, terdapat beberapa kios jajanan dan pernak pernik kerajinan tangan untuk oleh-oleh.  Ada juga beberapa penjual buah dan penjual gorengan, yang tampak sibuk diserbu para wisatawan.  Nuansa dan tampilan khas tempat rekreasi di Indonesia.

 

Halaman Depan | Bagian Dalam Taman Bunga Nusantara

Walaupun sudah berkali-kali kemari dalam jangka waktu yang agak berjauhan, taman depan selalu meninggalkan kesan tersendiri buat saya.  Dalam beberapa langkah dari pintu masuk, biasanya saya berdiri di titik tengah dan menghabiskan sekian belas menit untuk menebarkan pandangan ke segala penjuru arah.

Walaupun secara struktur bangunan tidak ada perubahan, bunga-bunga yang ditanam di sini selalu diganti secara berkala.  Tentu saja dengan komposisi warna yang istagenic banget.  Itulah mengapa saya selalu menyempatkan diri berada di sini dulu dalam beberapa waktu, baru setelah itu berjalan kaki menyusuri kompleks.

Prasasti peresmian Taman Bunga Nusantara

Dari tempat saya berdiri, ada sebuah batu besar yang menjadi prasasti peresmian taman.  Prasasti ini ditandatangani oleh Presiden ke-2 RI, Bpk. Soeharto, pada tanggal 10 September 1995.  Tanggal ini pulalah yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya Taman Bunga Nusantara.  Dan biasanya, di setiap perayaan ulang tahun, Taman Bunga Nusantara akan memberikan tiket gratis bagi para pengunjung.

Toko souvenir juga ada di area ini.  Kemudian di sisi kiri pintu masuk ada restoran dengan cita rasa Timur Tengah dan coffee shop (Albustan Resto & Coffee Shop), yang tempat duduknya menjorok ke arah Taman Air (Water Garden), taman yang penuh dengan bunga teratai dan Carpet Display Flower yang kalo difoto dari satu ketinggian tertentu, benar-benar tampak seperti karpet buatan Arab.

Duduk di tempat makan ini, pada bagian tengah, terlihat kolam panjang dengan beberapa undakan dan barisan bunga-bunga di sisi kanan dan kiri.  Dengan tapak jalan berbatu dan susunan bunga kembar di masing-masing sisi, kolam ini tak henti-hentinya menjadi obyek foto para pengunjung.  Bahkan, menurut saya, tempat inilah yang menjadi sentral kemegahan Taman Bunga Nusantara.

Tak hanya itu, melengkapi kekayaan flora yang menjadi andalan fisik dari destinasi edukasi alam yang satu ini, bersebelahan dengan kolam berundak, kita dapat menikmati hamparan bunga dengan patung Burung Merak yang tinggi besar terbalut tanaman hijau.  Laksana seekor Merak dengan buntutnya yang cantik, kita dapat melihat lebih dari 25.000 buah bunga untuk melukiskan ekor yang sedang mekar.  Dari info yang saya dapatkan, Peacock Topiary, begitu penamaannya, setiap 2-3bulan, bunga-bunga ekor ini selalu ditata dan diatur kembali agar warna yang muncul selalu indah.

 

Tak terhitung berapa lama saya harus menunggu, hingga mendapatkan momen dan spot foto terbaik, bahkan duduk di bangku kayu dengan titik foto yang strategis.  Bergiliran dengan pengunjung yang semakin memenuhi taman dan beberapa calon pengantin yang sedang berfoto pre-wedding, kejayaan burung langka yang berasal dari negara-negara tropis di Asia Tenggara ini sangat terasa.  Benar-benar menjadi surga dunia bagi para pecinta tanaman khususnya flora dan para pecinta photography.

 

Keliling Taman Bunga Nusantara | Melatih Otot Kaki dengan Jalan Sehat Ditemani Ribuan Flora

Selesai memenuhi relung hati dengan jutaan kekaguman, yok sekarang kita berkeliling taman seluas 23 hektar yang mentasbihkan dirinya sebagai tempat dengan ratusan jenis bunga dari seluruh dunia ini.  Tapi sebelum memutuskan untuk mengadu kekuatan kaki, kita intip dulu deretan 49 wahana tematik yang ada di keseluruhan kompleks seperti terurai di bawah ini.

Terus terang, walau sudah berkali-kali kemari, saya tidak pernah berhasil benar-benar mengelilingi seluruh fasilitas yang ada.  Gempor meeennn.  49 titik wahana yang walaupun dibuat berdampingan satu sama lain, jarak antara satu spot dengan yang lain itu lumayan luas.  Dan intinya sih saya selalu kalah menahan panas dan haus yang mencekam (((berlebihan))).  Maklum ya.  Umur memang selalu berbicara mengenai kenyataan.  Menjelang lima puluh tahun a.k.a Jelita, kemampuan mengukur jalanpun sudah harus diselingi dengan beberapa kali ngaso, minum, dan leyeh-leyeh barang sejenak.

Lucunya meskipun tidak berdaya menjelajah dari ujung ke ujung, saya nyatanya mampu dan bersemangat mengunjungi setiap warung kecil yang ada di dalam taman.  Ada yang jual bakso, ya berhenti dulu.  Ada yang jual gorengan, yok aaahh dibeli.  Trus ada penjual burger, monggo mampir.  Apalagi kalo ketemu warung yang menawarkan minuman dingin berkeringat.  Aeeehh kerongkongan mendadak melambai-lambai minta digelontorkan air segar.  Jadi intinya lebih banyak ngunyah dan minumnya daripada olah raga.  Tapi gapapa.  Namanya juga rekreasi.  Ya enggak? (((membela diri))).

Sebenarnya sih pihak pengelola Taman Bunga Nusantara menyediakan 3 kendaraan yaitu Dotto Train, Mobil Wara Wiri atau Garden Tram yang mengajak kita keliling taman sambil duduk manis tanpa capek dengan biaya Rp 30.000,-/orang.  Tapi kurang seru ah.  Jalan kaki sambil sesekali berhenti dan foto-foto nyatanya membangkitkan sensasi menjelajah tersendiri.

 

 

Yok ah mari kita lanjut jalan-jalannya.

Berbelok ke kanan dari kolam dengan beberapa undakan, kami melewati jalan paving setapak dengan barisan pohon cemara di kanan dan kiri.  Dari sini kami lantas berbelok ke kiri, masih dengan pijakan paving tapi dengan ukuran yang lebih besar.  Dari ujung kami berdiri, terlihat sebuah gedung megah bernama Dutch Green House.  Berhiaskan beberapa bendera warna warni di sekitarnya, dan bunga-bunga berwarna kuning di setiap sisi jalan, gedung ini tampak megah.  Sayang kami tidak bisa masuk ke gedung ini karena sedang dalam perawatan.  Tapi dari informasi penjaga yang saya temui, di dalam gedung/rumah yang dibangun atas kerjasama dengan negara Belanda dan berdinding serta beratapkan kaca ini, terdapat ratusan bunga warna-warni yang butuh penanganan dan udara khusus serta beberapa koleksi anggrek.

Dutch Green House

Tak begitu jauh dari Dutch Green House, kami tiba di Japanese Garden.  Berdinding semen, dan pintu kayu dengan nuansa Jepang, bagian dalam taman ini sudah sangat berubah dibanding dengan kunjungan saya sebelumnya.  Dulu terdapat beberapa rumah khas Jepang.  Kalau tidak salah ada 3-4 buah.  Tapi di kunjungan sekali ini, saya hanya melilhat 1 rumah berwarna merah, berukuran kecil, dan hanya digunakan untuk ngaso sementara.  Profil khas Jepang sepertinya tidak terlalu dominan sehingga nama dari tempat ini berubah menjadi  Taman Gaya Jepang.

 

Tapi, walaupun gaya ke-jepang-an nya sudah minim, saya menemukan sebuah jembatan kayu, dibuat zig zag, yang dikelilingi bunga dengan padanan warna mencolok dengan sungai kecil buatan di bawahnya.  Saya pun bersigap pose di sini.  Dan sebuah foto cantikpun tercipta dari tangan keponakan saya, Amel.

Acara jalan kaki pun berlanjut.

Berbelok ke kanan, dengan kontur tanah yang naik turun, kami bertemu dengan Taman Mediterania (Mediterranean Garden) dan Taman Koleksi Aneka Palem (Palm Garden).

Di Taman Mediterania kita dapat melihat sebuah rumah tanpa atap dengan dinding plester kasar yang berwarna kombinasi kuning-oranye-hijau  (((aduh susah ya njelasin warnanya itu))).  Saya merasakan sentuhan Mexican dari beberapa ornamen tua yang diletakkan di dalam rumah dan aneka tanaman kaktus di seputaran rumah.  Kehadiran kaktus ini seperti hendak mengkiaskan nuansa belahan dunia dengan cuaca panas dan sulit menemukan sumber air.  Karena sejatinya tanaman kaktus banyak menyimpan air di dalam batangnya dan kuat berkembang biak di tanah yang kering sekalipun.

Taman Mediterania. Sumber: www.tamanbunga-nusantara.com

Sementara Taman Koleksi Aneka Palm (Palm Garden) berada persis berseberangan dengan Taman Mediterania.  Melihat taman yang satu ini, saya merasakan kelegaan pandangan.  Rumput gajah yang ditanam tampak tebal dan sehat, menemani puluhan pohon Palem yang sebagian besar sudah tinggi besar.

Lanjut beberapa langkah dari titik ini, kami bertemu dengan sebuah menara yang disebut Menara Observasi (Observation Tower).  Dengan ketinggian sekitar 29 meter dengan 3 lantai, berdiri dari puncak menara, kita dapat melihat keseluruhan Taman Bunga Nusantara.  Pemandangan terdekat yang bisa dinikmati adalah sebuah taman bulat dengan bunga kuning, merah dan oranye yang persis berada di bawah menara,  Taman Labirin (Labirynth Garden), serta taman terbuka dengan air mancur yang bisa menari (Musical Fountain).

Sempat terdengar jeritan-jeritan kencang dari dalam Taman Labirin.  Tampaknya acara tersesat jadi hiburan tersendiri buat yang doyan tarik suara.  Saya hanya mesem-mesem menunggu mereka keluar dengan cerita-cerita dan celoteh-celoteh seru sambil menikmati 2 botol air dingin di sebuah mini grocery di dekat taman ini.  Saya yang sudah 2x mencoba menelusuri labirin ini dak tidak pernah berhasil, memutuskan untuk hanya menunggu keponakan saya memotret, ngejongrok minum, ngelap keringet yang ngucur tanpa ampun dengan pemandangan orang-orang Arab yang berseliweran kesana kemari.

Ketika tiba giliran tim hore (Fiona, Amel, dan Ella) ngejongkrok melahap hot dog di dekat Taman Air Mancur yang bisa menari, saya mengelilingi dan memotret taman ini dari berbagai sisi.  Badanpun tambah ambles dengan mandi keringat dan muka terbakar matahari.  Tapi semua terbayarkan dengan aneka wajah kebahagiaan dan keseruan foto-foto dari para wisatawan.

Ada rombongan ibu-ibu dengan dress code yang sama dan tampak centil berpose.  Ada sekawanan anak muda yang bolak balik berebutan berfoto levitasi  (((jadi teringat Deddy Huang))).  Ada anak-anak kecil yang memanfaatkan tanah yang luas untuk bermain bola.  Dan ada, lagi-lagi, segerombolan keluarga Arab dengan ibu-ibu berniqab, serta anak-anak mancung mereka yang juga asyik berfoto.  Untuk hal yang terakhir ini, memang saya sadari bahwa daerah Puncak, Cipanas, dan Cianjur, banyak warga keturunan Arab yang tinggal, menetap permanen maupun hanya untuk liburan.  Semakin banyaknya resto timur tengah di seputaran 3 tempat yang saya sebutkan tadi, menandakan bahwa komunitas ini juga semakin banyak.  Tak terkecuali di Taman Bunga Nusantara.  Bukan tanpa alasan jika pengelola, PT. Usaha Bunga Nusantara, membuka resto dengan nama  dan menu timur tengah, jika bukan karena semakin tingginya wisatawan dari negara ini.

Dalam perjalanan pulang, kami menikmati keindahan taman luas yang diberi nama Taman Perancis (French Garden).  Taman yang mengutamakan geometrikal dan berikblat pada konsep taman Renaiassance yang menjadi ciri khas konsep penataan taman dari negara-negara Eropa ini, acapkali dijadikan spot foto istimewa bagi para penggemar dunia photography.  Keseimbangan yang tercipta antar dan dari berbagai sisi adalah titik istimewa dari taman ini.  Saya pun tidak melepaskan kesempatan berfoto dengan lagi-lagi harus bersabar menunggu agar pose pribadi bisa tertangkap kamera.

Sinar matahari yang semakin terik dan kelelahan lah yang akhirnya memaksa kami untuk mengakhiri kunjungan ke Taman Bunga Nusantara.  Menilik slogan mereka yang bertuliskan Discover Beautiful Where The Flowers of The World Grow, tampaknya tugas berat untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan hidup ribuan bunga di sini, harus jadi perhatian utama.

 

Taman Bunga Nusantara | Jl. Mariwati Km 7, Desa Kawungluwuk, Sukaresmi, Cianjur, Jawa Barat | +62 263 581 617, +62 263 581 618 | info@tamanbunga-nusantara.com | www.tamanbunga-nusantara.com | Operational Hour: 08:00-17:00 wib (weekdays) dan 08:00-17:30wib (weekend)

Facebook Comment