Taman yang bersentuhan dengan Sungai/Tukad Badung ini jadi salah satu pilihan wisata tak berbayar di dalam kota Denpasar. Diapit oleh 2 pasar berukuran besar yaitu Pasar Seni Kumbasari dan Pasar Badung, konsep river walk yang diterapkan untuk taman ini, kabarnya, terinspirasi dari taman Cheonggyecheon yang ada di Korea Selatan.

Berlokasi di Jl. Gajah Mada yang hiruk pikuk dengan kegiatan perkantoran dan aktifitas pasar pada umumnya, sore menjelang maghrib saya tiba di sini untuk memotret keindahan taman dalam 3 situasi. Mulai dari kondisi terang benderang, menikmati nyala lampu taman dan sepanjang jalan saat sunset, hingga matahari benar-benar jatuh di peraduan. Pilihan terakhir inilah yang katanya adalah kondisi tercantik untuk mengabadikan Taman Kumbasari, dan tentu saja, Tukad Badung, dalam lensa kamera.

Pasar Badung saat itu sudah tutup. Jadi kami bisa memarkirkan mobil di halaman pasar yang baru saja dipercantik ini tanpa hambatan sama sekali. Kegiatan di pasar ini memang sudah berhenti saat itu. Hanya tersisa barisan parkiran motor yang mulai padat berjejer dan sebuah bangunan megah, bangunan baru yang lebih mirip mall, milik Pasar Badung.

Kegiatan pasar dan perdagangan tradisional selanjutnya malah terlihat di pinggir Pasar Seni Kumbasari dan di jembatan penyeberangan yang menghubungkan pasar ini dengan Pasar Badung. Tenda-tenda biru terpasang berjejer dengan lampu-lampu penerang yang mulai benderang di sana sini. Saya sempat menilik sebentar para pedagang di sini setelah mengambil beberapa foto dari atas jembatan. Pasar “pinggiran” yang beroperasi mulai dari jam 5 sore sampai subuh berlalu ini, tampak mulai dijejali oleh pengunjung dan tentu saja para pedagang dengan aneka jualan. Semua berbaris tanpa sekat. Saya yang memang tak kuat dengan kepadatan dan bau khas pasar tradisional, memutuskan untuk segera melangkah, menuruni tangga, dan kembali ke Tukad Badung, menanti perpindahan warna langit.

Taman Kumbasari sore hari | Dipotret dari sebuah jembatan | Tampak sebuah tangga dengan pijakan batu yang menghubungkan antara Pasar Badung (tidak terlihat di sebelah kanan foto) dengan Taman dan sungai yang berada di bawah
Jembatan terapung membelah Tukad Badung

Melangkah turun menuju Tukad Badung, saya bertemu beberapa pengunjung yang mulai memenuhi pinggiran sungai. Lampu cantik mulai menyala di seluruh sudut. Mumpung masih belum terlalu padat manusia, saya merekam kenangan di sebuah jembatan terapung yang membelah salah satu sungai di Denpasar ini. Dilengkapi dengan loncatan beberapa titik air yang berada di atasnya, spot foto yang satu ini begitu sempurna untuk diabadikan saat langit masih terlihat terang karena warna pijakan dan pegangan jembatan tidak akomodatif untuk nuansa malam.

Penyusuran saya berlanjut ke pinggir sungai. Melangkah pelan di jalan setapak seraya menyusuri pinggiran sungai yang dibuat berkelok, saya terkagum dengan tapak yang terbuat dari ribuan batu coral. Di beberapa titik, batu injak kecil-kecil ini ditata sedemikian rupa seperti lukisan bunga besar dan kecil. Taman-taman, beberapa kelompok tempat duduk, bangku-bangku panjang, pancuran air dan beberapa lukisan serta pahatan dinding, tampak melengkapi kesempurnaan tata taman. Kabel berseliweran yang menggenggam lampu-lampu gantung yang tadinya cukup mengganggu pengambilan foto di saat benderang, sekarang mulai tak terlihat karena tertutup gelapnya malam dan berganti dengan cahaya lampu di sana sini.

Dari setiap sudut yang saya perhatikan, taman-taman pun dibuat meliuk mengiringi alur sungai. Pohon palem yang mulai meninggi serta rumput gajah yang terlihat gemuk subur, menempel rapih pada dinding kanal. Tidak terlihat bunga-bungaan. Tapi nuansa hijau yang terhidang di depan mata sudah cukup sempurna untuk menyengarkan mata. Air sungai yang mengalir hening, terurus dengan baik, bersih tanpa sampah pun melengkapi keindahan kanal Tukad Badung dan tampilan Taman Kumbasari secara keseluruhan.

Selesai mengisi hati dengan cantiknya kanal kebanggaan warga Denpasar ini, saya bertemu dengan beberapa orang Ibu yang membawa keranjang besar. Sambil duduk-duduk di selasar atas sungai, mereka tampak saling bercanda dan berbicara bahasa daerah. Terlihat sangat ramah, riang gembira, walaupun hanya dibalut pakaian yang sangat sederhana.

“Gak belanja ke pasar Bu?” Saya membalas sapaan ini dengan senyum dan gelengan. “Mumpung di sini Bu, belanjanya lebih murah.” Lagi-lagi saya hanya mampu tersenyum.

“Ibu jualan apa?” tanya saya menyambung pembicaraan

“Bukan jualan Bu. Kami ini kuli angkut barang belanjaan” Aaahh itu alasan kenapa mereka membawa-bawa keranjang bulat besar yang terbuat dari anyaman bambu ini. Cukup besar untuk mengangkut berplastik-lastik belanjaan.

Tak lama, Fuli, sahabat yang menemani kunjungan saya ke Taman Kumbasari, tampak berjalan kembali menuju mobil kami. Di belakangnya melangkah seorang kuli angkut perempuan dengan keranjang bambu yang ditaruh di atas kepala. Isinya penuh dan padat segala macam belanjaan. Tetiba saya teringat rangkaian cerita yang mengulas betapa kuat dan gigihnya wanita Bali bekerja menjadi tulang punggung keluarga. Bukan hanya pekerjaan ringan tapi juga kerja berat seperti menjadi buruh bangunan, buruh pembangunan jalan, termasuk seperti yang satu ini, buruh angkut barang.

“Berapa bayarnya Ful?” tanya saya penasaran ketika kami sudah berada di dalam mobil. “Seikhlasnya aja katanya,” Saya mengangguk mahfum. Penutup akhir perjalanan yang begitu berkesan dan tidak akan terlupakan.

Bali memang penuh dengan timbunan cerita. Selalu hadir dengan kejutan yang kadang tidak terduga. Taman Kumbasari ini salah satunya. Di tengah meriahnya kemajuan wisata berbayar dan merogoh kocek, Pemda Bali ternyata begitu peduli menciptakan sarana hiburan gratis yang cantik dan bisa dinikmati oleh seluruh publik. Pasar tradisional dan seluruh usaha yang mendukung pun tetap dipertahankan agar roda ekonomi terus bergulir selaras dengan industri pariwisata.

Saat langit masih terang benderang
Langit yang mulai gelap | Tampak hiasan bunga yang tersusun dari batu koral
Potret saat malam | Gedung megah di kanan foto adalah Pasar Badung
Potret malam | Sisi kanan adalah Pasar Seni Kumbasari | Jejeran terpal di sisi bawah bangunan itulah yang melindungi para pedagang pasar tradisional
Salah satu taman diantara jejeran taman sepanjang pinggiran Tukad Badung