Saya dah lama banget ingin menjelajah Bali bagian Timur, Karangasem khususnya. Satu sisi dari pulau dewata yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan malam tapi kaya akan peninggalan sejarah kerajaan Bali jaman dahulu kala. Daerah, yang menurut cerita teman-teman, sangat jauh dari hingar bingar dan menjadi pusat tumbuh kembang saudara-saudara muslim di Bali.

“Kalau ke Karangasem, lo bakal denger adzan di setiap waktu sholat An. Dan mencari makanan halal di sana jauh lebih gampang ketimbang di tengah kota,” Begitu pesan yang saya dapat dari teman ini. Tambahlah makin penasaran. Secara, selama tinggal dan atau menginap di Denpasar, mendengarkan lantunan adzan hanya bisa dinikmati lewat alarm HP. Dan itu harus saya aktifkan sebagai pengingat karena adanya perbedaan waktu dengan WIB yang selama ini jadi acuan. Begitupun soal asupan makanan. Kecuali beberapa brand franchise yang sudah umum, makan di tempat lain kudu dapat referensi dulu dari saudara-saudara muslimah. Kalau sudah yakin, baru deh saya berani makan di resto itu.

Dari beberapa referensi, saya mendapatkan info bahwa untuk mencapai Karangasem dari Denpasar, butuh waktu kurang lebih 2-3 jam berkendara. Itu dengan asumsi kita tidak menemukan hambatan lalu lintas yang berarti dan nyetirnya dengan kecepatan sedang. Kalau liat di peta sih jaraknya sekitar/kurang lebih 65km. Not really far actually. Apalagi buat yang terbiasa hidup di ibukota. Waktu tempuh 2 jam sepertinya hitungan standard untuk mencapai satu tempat yang kemungkin besar jaraknya jauh lebih dekat ketimbang dari Denpasar ke Karangasem.

Perjalanan kali ini jadi salah satu cerita yang istimewa buat saya. Ada 3 alasan tepat untuk menyebutnya sebagai kunjungan istimewa. Pertama karena saya baru saja pulih dari sakit HNP (sakit saraf kejepit) berkepanjangan. Sakit yang cukup menyiksa karena menyerang badan bagian belakang sehingga saya sulit bergerak dan beraktifitas seperti biasa. Kedua karena ditemani oleh 2 kawan yang gak putus dengan ribuan cerita (Dian dan Dwi) sepanjang perjalanan. Ketiga adalah karena kami (saya, Dian, dan Dwi) dijamu dengan sangat apik oleh Pak Eko, seorang aparat negara yang begitu telaten memberikan bimbingan sosial kepada masyarakat Karangasem. Saking ngetopnya Pak Eko ini, hampir di setiap sudut tempat yang kami kunjungi, selalu ada orang yang mengenali dan menyapa. Seorang bapak 1 anak yang sudah sering bekerjasama dengan Dian dan sering melakukan kegiatan sosial bersama di Karangasem.

Pintu gerbang depan/utama Taman Soekasada

Sambil menunggu kedatangan Pak Eko, saya memperhatikan lingkungan sekitar tempat kami menitipkan kendaraan. Bergabung dengan salah satu area parkir, banyak warung-warung dan meja-meja penjual makanan plus minuman. Teriknya matahari sepagian itu tampaknya tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap berjualan, berikhtiar mencari rejeki, dan menawarkan refreshment bagi banyak wisatawan, termasuk saya yang merasakan dahaga yang luar biasa.

Menghamburkan pandangan ke sekeliling tempat saya berdiri, taman yang juga dikenal dengan nama Taman Ujung Water Palace (Taman Ujung) ini dikelilingi oleh pagar semen berukir. Pintu gerbang utama, persis di depan tempat kami berdiri, tampak tinggi, gagah, dengan pintu besi berpagar hitam. Menempel pada gerbang ini, ada 1 unit rumah/loket untuk melayani para pengunjung. Tiket masuknya murah. Hanya Rp 10.000,-/orang.

Beberapa langkah memasuki taman yang dibangun oleh Raja Karangasem di tahun 1901 ini, saya langsung terpesona dengan keindahannya. Berbarengan dengan diadakannya Festival Subak Karangasem & International Coconut Festival, Taman Soekasada tampak semakin cantik dengan hadirnya berbagai macam jenis tanaman, baik itu bunga maupun buah-buahan unggulan dari Kecamatan Karangasem. Di atas sebuah danau yang luas membentang, tampak 2 bangunan rumah tradisional yang terhubung oleh sebuah jembatan yang juga tak kalah indahnya. Satu rumah tertutup berjendela kayu berukuran tinggi besar. Sementara satu lagi seperti gazebo atau pendopo besar tanpa dinding dengan atap genteng yang sudah semakin menua. Bangunan dan jembatan inilah yang sering saya lihat di beberapa tautan wisata dan berbagai materi promosi wisata Bali khususnya Karangasem. Danau yang luas ini terlihat begitu menawan dan menjadi bagian paling bawah dari keseluruhan Taman Soekasada karena dari pinggir danau saya melihat sebuah bukit yang tampak hijau dikelilingi oleh ribuan tanaman.

Jembatan yang terhubung dengan sebuah Gazebo atau Pendopo dengan dinding terbuka
Jembatan yang terhubung dengan sebuah rumah yang penuh dengan informasi/sejarah Kerajaan Karangasem
Salah satu jembatan yang cantik itu | Wajib nih berfoto di sini

Menelusuri jembatan yang tampak dibiarkan dengan cat yang mulai terkelupas agar terlihat rustik, saya menikmati waktu-waktu berharga dengan berjalan pelan sembari diterpa kencangnya hembusan angin. Tiupan angin inilah yang membuat danau di bawah jembatan yang saya pijak ini bergelombang kecil. Saya mendadak bergegas menuju sebuah rumah putih di ujung jembatan karena demikian banyaknya pewisata yang sudah ngantri dan ingin mengabadikan diri di jembatan yang baru saja saya lalui.

Sesampainya di dalam rumah kecil yang kaya dengan jejak-jejak keindahan arsitektur Bali yang berpadu dengan Eropa dan China ini, saya terpaku dengan beberapa foto yang dipajang di dinding. Jepretan hitam putih yang banyak berbicara tentang Raja I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Agung Anglurah Ketut Karangasem, berikut dengan kondisi beliau dan keluarga di saat masih berada di bawah penjajahan Belanda. Tangkapan kamera yang bikin saya merinding, membayangkan betapa indahnya pakaian adat yang dikenakan dan bagaimana beliau bertahan, menjaga sebuah kerajaan dari sekian banyak raja-raja yang ada di Bali, dari dominasi Belanda. Beberapa ukiran diorama yang tersebar di beberapa sudut dinding seolah berbicara banyak tentang sejarah itu. Uniknya lagi, selain bertaburan dengan ukiran pada badan bangunan, kaca-kaca rumah asli dengan sentuhan warna ala peranakan menjadi pertanda bahwa ada keterlibatan arsitektur China di sini. MasyaAllah. Sungguh sebuah peninggalan sejarah yang sangat berharga dan wajib kita jaga.

Raja Anak Agung Bagus Djelantik saat dinobatkan sebagai raja bersama ke-3 istrinya | Berpakaian lengkap adat Bali | Salah satu foto yang menyita perhatian saya
Seorang wisatawan mancanegara yang tampak larut menikmati indahnya rumah ini
Ukiran/diorama yang memadati dinding bangunan | Jendela kayu dengan kaca berwarna yang khas dengan sentuhan peranakan

“Mbak, ayok jalan. Kita harus ke atas nih. Masih banyak yang cakep-cakep buat dilihat,” sapaan Dian membuyarkan keterpanaan saya. Waah ternyata masih jauh nih acara ngidernya. Tapi mendadak saya tertegun. Alamak. Ternyata untuk mencapai sisi atas yang sempat saya lihat ketika berada di pinggir danau tadi, ada puluhan anak tangga yang lumayan curam untuk dikalahkan.

Kasusnya, sanggup gak nih banyak bergerak tanpa “mancing-mancing” beberapa saraf yang baru pulih dari masalah hahahaha. Aaahh tapi kapan lagi bisa menikmati Taman Soekasada dari satu ketinggian. Justru di titik ketinggian itulah taman ini lebih terlihat kecantikannya. Jadi biarpun hanya mampu menjejak setiap anak tangga dengan cara “mencicil” satu persatu dan nafas yang kembang kempis, akhirnya usaha penuh peluh itu membuahkan hasil yang bener-bener tidak mengecewakan. Anyway urusan tangga ini ternyata bersambung untuk acara turunnya juga loh. Ya iyalah. Naiknya lewat tangga, masak turunnya merosot hahaha.

Tangga turun yang membawa kami ke surga tanaman yang menjadi bagian dari Festival Subak | Tangga naiknya gak sempat difoto | Dah keburu ngos-ngosan

Usai mengatur nafas yang ngos-ngosan tak beraturan, berada di kulminasi dari bukit kecil ini rasanya nikmat luar biasa. Terpaan angin sepoi sepoi lembut menyentuh wajah. Segar terasa. Seandainya aja ada gazebo kecil berkasur, berbantal, dan berguling, dijamin, saya ikhlas kemping di sini. Jadi saat bertemu segerombolan wisatawan yang betah duduk, meng-angin-kan wajah, plus menyapu pandangan ke hampir seluruh isi taman, bahkan ada yang termenung sambil ngopi, saya paham tanpa ragu.

Beberapa langkah dari tangga terakhir tadi, ada sebuah taman dan terselip sebuah warung kecil yang menawarkan camilan, minuman dingin, minuman hangat, dan kelapa muda. Lokasinya juga oke banget. Di tengah padatnya tanaman dan beberapa pohon besar nan rimbun. Sungguh menggoda siapapun yang lewat untuk berhenti barang sejenak. Kamipun, khususnya saya, termasuk salah seorang yang tergoda itu. Menuntaskan kerongkongan yang tandus, kami memutuskan untuk berbincang akrab di bawah salah satu pohon yang rindang, menyeruput kelapa muda, sambil bolak balik merasakan berbungkus-bungkus gurihnya kacang rebus. Saat yang juga pas bagi kami ber-empat untuk ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, segala macam topik.

Hanya sejengkal dari tempat kami duduk-duduk ini, terhampar kebun sayur dan buah yang memang sengaja ditanam untuk merayakan Festival Subak. Sayur dan buah unggulan dengan ukuran yang tidak seperti biasa. Ada petunjuk nama dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Latin dari setiap produk sebagai media komunikasi. Sebuah pemandangan khusus yang awalnya tidak saya duga.

Lepas dari berpetak-petak tanaman sayur dan buah ini, Taman Soekasada juga menghadirkan hamparan bunga dalam berbagai jenis dan warna. Semua tampak subur, tertata sangat rapih, dengan komposisi warna yang luar biasa cantiknya. Surga photography yang sangat memanjakan pengunjung. Mendadak saya merasa sangat beruntung. So very lucky. Karena selain bisa menikmati cerita sejarah dan peninggalan arsitektur lama dari jaman Raja Karangasem, eh dapat bonus keindahan flora yang berbeda dari biasanya.

Festival Subak Taman Soekasada
Festival Subak Taman Soekasada
Festival Subak Taman Soekasada
Festival Subak Taman Soekasada | Hamparan flora warna warni yang sangat indah

Kekaguman saya tak berhenti sampai di sini. Di bagian teratas dari keseluruhan Taman Soekasada, saya bertemu satu spot foto yang begitu fenomenal di jagat IG. Yup. As I’ve seen exactly a lot before. Object photography yang satu ini istagenic dari segala sisi. Salah satu yang terbaik dari sekian banyak spot unik yang ada di Bali menurut saya.

Kalau menilik dari ukuran, posisi, dan beberapa tiang yang mengelilinginya, sepertinya sih tempat yang sudah tidak utuh ini adalah rumah kecil yang digunakan untuk beristirahat. View nya aja luar biasa. Berdiri di sini, kita dimanjakan dengan hamparan keseluruhan taman berhektar-hektar dan bentangan laut biru yang terlihat sejajar dengan Gunung Agung. Gunung berapi aktif yang sempat meletus dan meluluhlantakkan sebagian besar otentitas Taman Soekasada sebelum akhirnya direvitalisasi.

Layaknya tempat yang begitu dikenal karena ke-istagramable-nya, untuk mendapatkan foto ciamik di sini butuh perjuangan. Meskipun tidak padat, mendapatkan foto clear, murni sorangan wae, tanpa satupun gangguan, nyatanya gak begitu gampang. Beruntungnya saya pergi dengan Dwi yang paham bener soal estetika photography. Jadi yoweslah pasrah aja dengan hasil jepretan ciamiknya. Hence, some shoots were actually more than perfect. Thanks a ton my friend.

Saya dan Indah Isdiana (Dian) | Membelakangi hamparan laut biru dari satu ketinggian Taman Soekasada yang mengesankan

Matahari beranjak tepat di atas kepala, saat kami memutuskan untuk turun, kembali ke titik awal saat kami masuk pagi tadi. Tak diduga, di satu halaman kecil, saya menemukan deretan lukisan yang entah bagaimana, menjadi bagian dari Festival Subak ini. Digantung di dinding papan putih, mata saya langsung terpesona dengan cantiknya lukisan-lukisan yang berkarakter kuat, menceritakan budaya Bali, orang-orang Bali, dan tentu saja landscape beberapa destinasi wisata yang ada di Karangasem. Saya melangkah mendekat dan segera larut dalam kekaguman. These paintings were definitely gorgeous. Hasil karya seni yang seharusnya, menurut saya, dipajang di dalam ruangan. Bukan di tempat terbuka dan terpapar langsung dengan sinar matahari. Apalagi dengan suhu udara luar biasa panas di saat kami berkunjung.

Oia, hampir kelupaan. Di salah satu rumah pendamping, ada satu ruangan khusus yang menghadirkan kain-kain tenun khas Bali. Cantik digantung dalam berbagai warna dan motif. Tidak untuk diperdagangkan. Jadi benar-benar hanya berfungsi sebagai display, menambah pengetahuan wisatawan tentang kain Bali. Tidak banyak. Tapi cukuplah sebagai “pintu pengenal” bahwa Balipun memiliki kekayaan dan warisan budaya di bidang wastra dengan berbagai corak, karakter, dan tentu saja sentuhan seninya. Ruangan ini juga dijadikan sebagai pusat informasi jika kita ingin mengadakan event di Taman Soekasada. Dari 2 foto album yang sempat saya intip, di sini pernah diadakan upacara dan pesta perkawinan adat, baik bagi warga lokal maupun warga negara asing, serta beberapa acara yang mengetengahkan konsep budaya untuk membangkitkan pariwisata di Karangasem.

Waktu dzuhur dan perut keronconganlah yang menuntaskan kunjungan kami ke Taman Soekasada. Bagi saya, taman yang sarat akan rangkaian sejarah ini bukanlah sepenggal cerita bermakna di Karangasem saja tapi juga untuk semua orang yang pernah menginjakkan kaki di sini. Tamannya juga sangat terawat. Salah satu destinasi wisata pilihan yang sangat berharga untuk direferensikan kepada kenalan (wisatawan domestik) maupun untuk teman-teman dari negara lain yang mencari tujuan berlibur di Bali dengan nuansa berbeda seperti Kuta, Seminyak, Nusa Dua, dan area-area lain.

Ingin mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang Taman Soekasada, silahkan mengunjungi website www.ujungwaterpalace.com.

#TamanSoekasadaBali #TamanUjungBali #UjungWaterPalace #SoekasadaWaterPalace #KarangasemBali #WisataBali #BaliTourism #VisitBali #ExperienceBali