Tamara Estelle

Mengunjungi Bali sepertinya sudah menjadi a must listed place to visit bagi hampir sebagian besar traveler. Kalo tidak bisa beberapa kali yaah berarti paling tidak satu kali dalam 1 tahun. Bahkan ada yang “sampe muntah” bolak balik ke sana, menikmati low-cost budget airline hanya untuk menikmati weekend dan mencoba beberapa tempat hang-out baru yang direferensikan oleh orang lain. What a life!!

Buat yang suka keramaian, menikmati lautan toko pinggir jalan yang bejejer, lebih suka pantai ketimbang gunung, pastinya memilih Kuta, Seminyak, Sanur, Nusa Dua untuk menginap. Tapi buat yang memilih suasana yang lebih adem, menyukai hawa dingin pegunungan ketimbang panasnya pantai, jauh dari hiruk pikuk tapi tetep bisa belanja dan menikmati uniknya toko-toko souvenir/kerajinan tangan, lukisan dan ukiran, UBUD masih jadi favorit sebagai pilihan.

Daerah yang didominasi oleh resort atau villa berkelas di daerah Gianyar ini, memang menyajikan suasana wisata yang berbeda. Kenapa dibilang berbeda? Nah, barusan ini  saya melakukan wisata berjalan kaki mulai dari Monkey Forest sampai ke Pasar Ubud yang rutenya menanjak. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya karena memang turis lokal (termasuk saya loh ya) terkenal paling malas berjalan kaki. Pengennya nyaman naik mobil, ketemu tempat yang dituju, turun dari mobil, belanja atau makan and that’s it. Bener kan? Padahal kalo kita mau coba berjalan kaki, banyak banget hal-hal baru yang bisa kita nikmati. Tentu saja dengan pengorbanan betis pegel dan kudu duduk beberapa kali untuk minum, istirahat sebentar dan harus bisa mengalahkan kemalasan plus nafas yang naik turun karena tidak biasa olah raga hehehehehe (saya banget ituh!!).

Tapi kali itu saya bener-bener nekad ah. Masak sih, satu rute aja saya gak bisa. Apalagi setelah disemangati oleh Bli Putu, supir yang mengantar “Ayok Bu, nikmati wisata jalan kaki, pasti deh seneng ngeliat aneka dagangan seni. Saya tunggu di atas (maksudnya Pasar Ubud)”.  Yoweslah, kenapa enggak. Setelah berkali-kali ke Ubud dan cuma jejeritan di dalam mobil mengagumi etalase-etalase yang indah-indah, pasti lebih asyik bisa dinikmati pelan-pelan dan satu persatu. Semangat!!!

Omongan Bli Putu ternyata bukan pepesan kosong. Baru aja memulai etape pertama dari parkiran depan Monkey Forest, kemudian belok ke kanan sekitar 50m, saya sudah kepincut berjam-jam di dalam toko yang unik luar binasa.

MONKEY 1 MONKEY 18

MONKEY 19

Toko yang diberi nama TAMARA DANIELLE ini, menilik dari materi-materi jualan yang diletakkan di depan/teras jalanan toko, sudah bisa ditebak menjual barang-barang unik yang bagus banget buat interior dan eksterior rumah. Sebagian besar didominasi oleh ukiran-ukiran kayu yang pengerjaannya dibuat dengan sentuhan jaman baheula atau nuansa antik. Keunikannya ditambah dengan tulisan-tulisan yang bikin kita tersenyum dan berkhayal “aahh,  cocok nih kalo ditaruh di ruang tamu”, “wuik pasti sedap nih ditaruh di halaman depan”… yang mendadak menyulap kita seolah-olah menjadi designer ruang yang professional …hahahaha….

MONKEY 3 MONKEY 4

MONKEY 5 MONKEY 6

Yang paling saya kagumi dari toko ini, selain tingkat kreatifitas yang tinggi, mereka mampu menciptakan suasana di dalam toko yang bikin kita betah dan tidak bisa menolak diri untuk tidak mengamati setiap item tanpa melihat lebih dekat dan memegang barang satu persatu. Walaupun ukuran toko terlihat “penuh” dan padat plus kudu bersabar karena harus berdiri dan ngambil posisi berganti-gantian dengan pengunjung lain, entah kenapa kita betah aja berlama-lama di sana. Apalagi tidak ada larangan dari penjaga toko untuk melakukan hal itu. Waaahh, buat yang doyan dengan barang-barang seni yang tititmelinti (apa ya bahasa Indonesianya yang tepat hihihihi), dijamin 1 jam pun serasa tidak cukup untuk (mungkin) sekedar mengamati.

Soal harga?? mmmm….jangan diperbedatkan deh. Dibandingkan dengan pengerjaan, nilai seni dan keunikannya, saya rasa harga hiasan dinding berupa potongan kayu dan tulisan unik, sekitar Rp 125.000,- – Rp 200.000,-, tergantung jenis dan kualitas kayu, pasti masih bersahabat dengan kantong. Apalagi ini bener-bener handmade dan dirancang eksklusif (one of the kind). Jadi bisa dipastikan cuma kita yang punya satu dari karya tersebut.

MONKEY 7 MONKEY 8

Sistem pembayaran pun dibuat mudah oleh toko ini. Mau cash, credit maupun debit, disediakan dengan baik. Pelayannya pun sangat cekatan dan pintar memberikan masukan-masukan jika kita inginkan. Mau dipaketkan karena mborong barang begitu banyak? no problem. Waaah bener-bener menggoda untuk belanja besar kalo begitu yaaaa ….hehehehehe. Tapi bagi saya, yang saat itu, masih akan menempuh rute yang masih panjang, membawa beberapa produk aja, sepertinya sudah cukup. Walaupun ada tenaga tambahan 2 remaja tanggung yang ikutan saya tour-de-betis bisa dijamin mereka pasti ngomel berkepanjangan di tengah jalan.

MONKEY 9 MONKEY 10

MONKEY 11 MONKEY 12

MONKEY 13 MONKEY 14

MONKEY 15

Keluar dari toko ini memberikan kesan khusus bagi saya. Gak berlebihan dong ya, secara sesama seniman (taelah) tentunya suka banget nongkrong di tempat-tempat yang dikerubungi oleh sekian banyak benda seni. Mudah-mudahan di jadwal kunjungan ke Ubud yang berikutnya, toko ini bisa lebih diperluas dan dilengkapi dengan beberapa meja dan cafe kecil, jadi bisa nongkrong berlama-lama gitu loh. Bener gak?

INFO: jika ingin melihat koleksi home decoration milik TAMARA DANIELLE, silahkan intip INSTRAGRAM milik mereka http://instagram.com/tamaradaniellebali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here