“Kalo orang lain terjebak oleh cinta dan kasih sayang yang bikin hati berbunga-bunga, saya terjebak rasa di GranDhika Hotel Medan yang bikin betah ngunyah dan naik timbangan”

Aaiihh ada apa gerangan sih? Baiklah. Saya cerita dari awal dulu ya.

Setelah beberapa kali “mencoba ngintil” suami yang dinas ke luar kota namun gagal, akhirnya untuk yang kali ini modus per-ngintil-lan sukses berat. Dulu ada aja yang jadi penghalang. Waktunya sering gak kloplah, saya pas kurang sehat lah, sampai terikat oleh rasa gak tega meninggalkan anak sendirian di rumah. Tapi ternyata alasan yang terakhir saya sebutkan itu hanya lebaynya emak-emak tanpa alasan. Si anak malah nyantai ditinggal dan anteng aja ketika “dititipkan” ke ibu saya yang sementara ngungsi ke rumah.

“Adek udah SMA Bun. Biasanya kalo Bunda (sering) jelong-jelong juga, Adek gapapa.” begitu kata si bungsu. Makjleb. Maka terang benderanglah semangat saya untuk ngekor suami ke Medan selama 3 hari 2 malam.

Memilih Hotel yang Sesuai Budget, Keinginan, dan Kebutuhan

Karena menyangkut dana operasional yang harus dipertanggungjawabkan, memilih hotel pastinya wajib mengikuti budget yang sudah ditetapkan sponsor (baca: kantor suami). Gak sulit memang kalo standard penentuannya adalah dana. Karena di setiap fasilitas booking on line, ada satu link khusus yang mengarahkan kita memilih tempat sesuai kemampuan kantong. Tapi mencari yang lingkungannya sesuai keinginan, tentunya butuh waktu yang gak sedikit. Apalagi untuk kita yang tidak atau belum mengenal dengan baik kota yang akan kita datangi.

Medan. Salah satu kota besar di tanah air ini sebenarnya memori masa lalu saya. Saya dan keluarga pernah tinggal di sini di awal tahun 80-an (saat saya SMP). Setelah itu pernah dua kali berkunjung dalam rangka mengajar dan reuni dengan teman-teman semasa SMP. Tapi seiring dengan cepatnya berbagai perubahan dan pembangunan kota, melacak dan membangkitkan lagi memori masa lalu sepertinya gak akan memberikan hasil yang maksimal.

Call a friend akhirnya jadi senjata terakhir. Beruntung saya mengenal seorang blogger yang tinggal di Medan. Mollyta Mochtar namanya. Wanita bersahaja dan sering berkomunikasi lewat dunia maya. Molly juga “rekan kerja” saya karena kami terhubung oleh kegiatan promosi brand FIBI Jewelry. Molly sudah 2 tahun berturut-turut menjadi Brand Ambassador untuk jenama perhiasan kawat saya ini. Jadi saat saya menghubungi Molly, asupan energi untuk sampai di Medan, semakin membuncah dari sebelum keberangkatan.

“Waaah akhirnya kita bisa ketemu langsung ya Mol,” yang diajak ngobrol via WA membalas dengan emoticon peluk dan senyum. Dduuhh senengnya.

Lewat Molly saya akhirnya mendapatkan info up-date tentang Medan. Informasi tentang wisata dan tentu saja hotel yang sekiranya klop dengan keinginan dan kebutuhan saya. Selain ya masalah budget di atas, hotel yang dipilih setidaknya menggampangkan saya untuk berkegiatan lain dengan cara berjalan kaki. Dekat dengan berbagai pilihan kuliner dan mini market jika kurang sesuatu. Plus hotelnya sendiri valuable enough untuk difoto dan diliput. Gak butuh waktu lama untuk kami berdiskusi sampai akhirnya Molly mengusulkan GranDhika Hotel (GranDhika) yang berada di Jl. Setiabudi.

Tiba di Medan

Saya dan suami tiba di bandara Kuala Namu International Airport (KNIA) di Deli Serdang persis di jam-jam sibuk orang pulang kantor dan jadwal kedatangan berbagai penerbangan yang lumayan tinggi. Bandara pun padat oleh manusia. Inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di KNIA. Bandara internasional milik Provinsi Sumatera Utara yang sudah beroperasi sejak 2013. Berarti 6 tahun atau mungkin lebih saya tidak pernah kembali ke sini. Lama banget yak.

Selesai mengurus bagasi, suami mengajak saya mencoba kereta api (Railink) yang menghubungkan KNIA ke pusat kota Medan. Keretanya bersih, aman, dan nyaman banget. Untuk menikmati fasilitas ini kami harus membayar Rp 100.000,-/orang. Masih pas untuk pengeluaran maksimal 2 orang seperti kami. Tapi kalau untuk keluarga besar, sepertinya lebih murah jika menyewa mobil. Bener gak sih?

Hanya dalam 30 menit ke depan kami sudah tiba di Medan dan menunggu Gocar untuk menyambung perjalanan darat menuju GranDhika. Sepanjang perjalanan, saya merasakan Medan sudah jauh berubah dari saat saya datang. Beberapa tempat yang dulu saya ingat masih sepi dan jarang penduduk, sekarang padat bangunan dan pedagang pinggir jalan. Sebagian besar jalan-jalan utama terisi dengan ruko yang didominasi oleh usaha kuliner. Dengan ruas jalan yang tidak terlalu lebar hampir di setiap blok, dari atas kereta api, saya melihat banyak titik kemacetan yang tersimpul tanpa celah untuk bergerak.

Ketika mobil kami datang, kami pun tercebur juga dalam kemacetan tadi. Dan ini terjadi di hampir sepanjang jalan menuju hotel. “Subhanallah, Medan dah macet seperti Jakarta ya Bang,” saya berusaha memecah kebosanan. “Iya Kak.” jawab di Abang cepat. Padahal apa bener dia tau seperti apa macetnya Jakarta. Yang penting kalau macet ya identik dengan Jakarta hahaha. Obrolan-obrolan seru pun mengalir setelahnya. Dan baru bener-benar berakhir ketika kami menginjakkan kaki di lobby hotel GranDhika.

Maghrib sudah berlalu saat kami tiba di hotel. Dari fasad bangunan dan tanjakan kecil untuk mencapai drop area di sisi depan, saya dapat melihat bahwa hotel ini (sengaja) dibangun jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gedung-gedung lain yang berada di sekelilingnya. Ada warung makan, warung kopi, toko kelontong, laundy coin, dan sederetan penjaja makanan dorongan. Aaahh ini nih yang saya suka.

Tak lama sejenak menaruh koper, ke toilet, dan berganti alas kaki di kamar, kami pun bergegas menikmati makan malam di sebuah warung sederhana yang berada persis di depan hotel. Sepiring nasi goreng spesial dan mie goreng Aceh nikmat akhirnya menutup kisah ngebolang kami ke Medan di hari itu.

Hotel Bintang 3 yang Bersahaja

Area depan Hotel GranDhika
Lobby area | Tampak tangga menuju lantai 3 dimana function room berada

Saya baru bisa memotret fasilitas hotel di pagi keesokan harinya. Tidak ada sesuatu yang istimewa untuk lantai dasar. Malah menurut saya sangat minim sentuhan seni. Semua dibuat praktis sesuai fungsi saja. Selain counter resepsionis dan beberapa banner tentang wisata dan layanan tour dalam kota, di lantai ini ada beberapa sofa kayu, space atau counter khusus untuk melayani informasi paket pernikahan, KOI lounge buat ngopi-ngopi cantik, Resto Andaliman yang luas memanjang, serta kolam renang kecil di bagian paling pinggir bangunan. Ada juga tangga menuju lantai 3 (function room) yang cukup tinggi. Salah satu solusi praktis bagi mereka yang beraktifitas di lantai tersebut hingga tidak terjebak manja atau berebutan menaiki lift. Semuanya terlihat bersahaja. Walaupun ada hiasan hiasan berlapis kain di langit-langit lobby, nyatanya kurang begitu menarik perhatian atau memberikan sentuhan kemewahan.

Mau intip kamarnya? Yok, sila nikmati foto-foto kamar deluxe yang kami tempati.

Tempat tidur queen size dan sofa empuk yg sangat nyaman

Kamarnya sangat apik untuk hotel bintang 3 dengan nuansa dominan abu-abu. Selain ranjang queen size dengan 4 bantal yang besar dan empuk, tambahan sofa yang berada di ujung kasur jadi bonus kenyamanan gegoleran di dalam kamar. Sofa ini bisa difungsikan juga sebagai kasur single untuk orang ke-3 (1 orang dewasa) atau 2 anak kecil. Amenities nya juga lengkap dan selalu terisi lengkap keesokan harinya. TV layar datar dan sebuah lemari kecil dengan safety box di dalamnya juga ikut melengkapi layanan kamar.

Kamar mandinya terlihat bersih dengan toiletries yang sangat lengkap dan dalam ukuran yang cukup 2 kali mandi untuk 2 orang. Untuk skala ukuran ruangan menurut saya cukup luas. Semua peralatannya pun berfungsi dengan baik. Air hangat di shower dan wastafel cepat mengalir begitu diputar. Hanya saja jepitan pengunci shower yang mudah merosot. Jadi terkadang saya cukup kesulitan untuk memposisikan kepala shower nya untuk bertahan/terkunci di satu titik.

Setiap tamu diberikan 2 kartu kunci. Bener-bener sangat membantu untuk kami yang memiliki jadwal kegiatan terpisah. Jadi tidak usah menunggu dan mengganggu satu sama lain.

Dari sekian yang sudah saya alami, ada beberapa hal yang sekiranya bisa ditingkatkan oleh GranDhika. Pertama adalah sistem pemograman TV yang tidak user friendly. Kudu mencet sana sini, bolak balik, baru bisa nonton program yang kita pilih. Ukuran layar TV nya juga terlalu kecil. Untuk jarak yang lumayan jauh antara tempat tidur dan dimana TV digantung, besarnya layar tidak seimbang dengan daya lihat mata kita. Kedua adalah menyediakan kepala shower kamar mandi yang lebih permanen agar tidak gampang merosot/jatuh. Terutama ketika air mengalir deras dari corong shower. Ketiga adalah sambung internet yang kurang lancar. Secara ya, semua orang sangat tergantung dengan fasilitas yang satu ini. Jadi kalo wifi nya lemot bahkan sampai tidak bisa digunakan, boros dah tuh pemakaian mobile data nya.

Toiletries yang cukup untuk berdua

Si Penjebak Rasa

Udah nih urusan kamarnya? Lalu apa sih yang bikin saya terjebak rasa karena hotel ini? Layanannya? Biasa aja. Masih dalam level bagus sih. Acceptable enough. Kenyamanan tidurnya? Nyaman sih tapi gak terlalu istimewa juga. Terus apa dong? MAKANANNYA (sengaja pake huruf kapital dan ditebalkan). Terutama sarapan yang banjir dengan kelezatan. 2 hari berturut-turut makan pagi di Resto Andaliman, saya dan suami sangat dimanjakan oleh banyak pilihan. Mulai dari makanan pembuka, makanan utama, hingga kudapan penutup. Dan di 2 hari itu pula, hampir 60% nya bukan menu yang sama. Salut!!

Jadi saat ngeliat tamu-tamu cowok berbadan tambun mondar mandir dengan piring yang isinya beda-beda, saya cuma bisa senyum. Membayangkan kemampuan lambungnya menampung sekian banyak asupan, bikin saya mendadak kenyang. Tapi siapa yang mampu menolak dan tidak tergoda dengan hidangan nikmat tanpa ampun ini? Kalau sudah sampe pada kesimpulan itu, saya yakin semua akan memaklumi. Seperti saya yang selama 2 hari berturut-turut asyik mohon ampun kepada diri sendiri karena sudah makan melebihi kuota dan kuantitas seperti biasanya.

Jangankan makanan beratnya, seperti Lontong Sayur dan Mie Gomak khas Medan dan sederetan nasi plus lauk pauk yang berderet, saladnya aja komplit dan selalu penuh terisi. Belom lagi deretan bakery yang variatif penuh godaan, ditambah bubur yang kuahnya aja bisa dicampur kemana aja. Nasinya? Nah ini. Si biang karbohidrat ini juga edan enaknya. Disajikan dengan 2 opsi pulak. Ada yang putih juga ada yang sudah digoreng. Ya Allah, nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan?

“Eh, cobain dulu tuh ikan kembungnya. Enak banget loh,” usul suami yang asik mencampur segala lauk dalam 1 piring. Saya cuma nyerah sambil bertereak di dalam hati, “Pengen sih. Tapi mau ditaruh di sisi lambung mana ya?” Mata sih mupeng berat tapi sayang lambung golden age saya lebih memilih untuk menyerah.

Selintas sempat terpikir dan nanya sama si Mbak yang selalu siaga menanyakan nomer kamar di pintu masuk resto, “Mbak, boleh gak, saya makannya 2 ronde? Habis ini duduk-duduk dulu di lounge, ngopi ngeteh bentaraaan aja terus 1 jam berikut makan lagi di sini,” Bletaaakk!! Emang warung nenek lo coy (ngetiknya pake tanduk di kepala).

Gado-gado komplit
Sederetan sajian buffet yang selalu berbeda di 2x saya sarapan (kecuali tentu saja nasi putih dan nasi gorengnya)
Bakery dan gorengan yang juga menggoda | Pengen sih | Tapi lambung saya selalu kepenuhan setiap ngelirik kemari
The outstanding salad yang super duper lengkap termasuk dressingnya

Yang kuat dan terbiasa makan di resto all you can eat dan punya selera makan yang tinggi, cobain deh nginep di GranDhika. Atau sengaja “numpang makan pagi” dengan rate khusus tamu di sini. Pasti pulangnya bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasaan memanjakan lidah seperti yang saya alami.

Eksplorasi kuliner hotel yang sama serunya ketika saya mencoba menilik arti kata Andaliman sembari menunggu kedatangan Molly, terduduk kekenyangan, sambil menyeruput kopi hitam asli Mandailing. Ternyata pemberian nama resto ini memiliki sejarah sendiri pada hal yang berhubungan dengan kuliner Sumatera Utara. Andaliman ternyata adalah tumbuhan rempah yang pertama kali ditemukan di daerah Toba Samosir dan Tapanuli Utara dan hingga saat ini digunakan sebagai bumbu pembangkit selera (catet ya) untuk hampir semua masakan suku Batak, seperti Arsik (gulai ikan mas), Natinombur (ikan panggang), Sangsang (masakan daging), dll.

Jadi memang antara penamaan dan doa untuk kepuasaan jelajah kuliner pelanggan jadi satu paket yang saling berhubungan erat. Lupakan sejenak jarum timbangan yang bakal bergerak ke kanan mendadak dan biarkan indera pengecap kita hanyut dalam buaian kenikmatan. Mantab kali kawan!!

Galeri Foto

Mie Gomak khas Medan
Tahu crispy yang krenyes-krenyes maksimal
Deretan asinan buah, buah segar, dan potongan sushi, si penutup makan
Lampu-lampu gantung yang mempercantik tampilan Resto Andaliman
Piring pertama saya
Piring kedua | Bonus omelette dan roti manis yang sudah duluan meluncur ke lambung
Lorong panjang di samping Resto Andaliman
Lukisan tinggi di dinding area tunggu depan lift | Lancang Kuning mengingatkan saya akan eksistensi suku Melayu di Sumatera Utara
Lorong antar kamar yang sederhana
Pemandangan dari arah kolam renang | Di bawah ini adalah area parkir yang sangat luas
Nyebur enggak | Nyebur enggak

#GranDhikaHotelMedan #HotelDiMedan #VisitMedan #TripToMedan #ExperienceMedan #MainKeMedan