Matahari terik menyerang ubun-ubun saat Ridha menjemput saya, mengejar janji untuk bertemu tim The Keranjang sesuai waktu yang disepakati. Lalu lintas relatif lancar karena tak lebih dari 30 menit ke depan kami sudah berada di Jl. Raya Kuta, dimana The Keranjang berada.

Parkiran masih sepi. Jam operasional juga belum lama dibuka. Seorang petugas perempuan menempelkan stiker nomor di bahu kanan saya seraya tersenyum manis mengucapkan “Selamat datang di Keranjang”. Keramahan sebuah sambutan bersahabat sesaat setelah saya turun dari kendaraan. Saya mencoba membalas senyuman ini di tengah mata memicing karena sinar matahari yang menghujan tepat di atas kepala.

Tampak luar gedung The Keranjang

Sebelum turun dari mobil, persisnya setelah melewati gerbang pengambilan karcis parkir, saya terpaku melihat bangunan megah yang saat itu ada di depan mata. Sesuai dengan jenama yang dikenalkan kepada publik, gedung yang berada di lahan sekitar 1 hektar ini, persis berbentuk keranjang rotan dengan 2 pegangan di kanan dan kiri. Konsep rancang bangun yang sangat apik, atraktif, menarik, dan yang penting mencerminkan identitas dari The Keranjang itu sendiri. Jadi jikapun tulisan The Keranjang yang ada di posisi teratas bangunan itu tidak ada, masyarakat pun akan langsung mengenali tempat yang mereka lihat. Pujian tinggi saya sampaikan untuk arsitek dan tim yang terlibat dalam kelahiran bangunan The Keranjang, yang telah mengolah ide, membuat rancangan, hingga mewujudkannya dalam sebuah karya seni yang nyata di sini, di Bali, dimana geliat bisnis pariwisata terus berkembang dari hari ke hari.

Di lahan bagian depan ini, selain tempat parkir yang sangat luas yang bisa menampung puluhan kendaraan roda empat bahkan beberapa bis 45 seats, tersedia meja bulat beratapkan tenda kain dengan tempat duduk kayu bagi para pengunjung. Di tangga yang landai, yang menghubungkan lahan parkir dan meja bertenda ini, ada beberapa patung dengan warna gradasi tembaga untuk berfoto ria. Agar hasil fotonya maksimal, pihak The Keranjang memberikan arahan titik foto (angle) terbaik di setiap patung yang ada. Patung-patungnya pun beragam. Mulai dari mbok penjual jamu, tangan tengadah yang bisa diduduki, bermain catur, pembawa keranjang, berfoto selfie, keranjang buah dengan stik bambu panjang, dan masih banyak lagi. Saya juga dong pengen berfoto. Memilih untuk berpose dengan Mbak-mbak penjual jamu bisa jadi bukti bahwa saya bener-bener dah sampe di The Keranjang.

Bersama patung Mbok Jamu di teras depan The Keranjang

Fasilitas di Lantai 1

Melewati sarapan di rumah, saya dan Ridha (terutama saya yang keroncongan banget) memutuskan untuk bersantap di Restoran Goerih yang berada di lantai 1. Mengisi lambung sambil menunggu tim The Keranjang datang sekaligus menetapkan tempat diskusi yang nyaman. Berada di dekat deretan kasir, penentuan lokasi resto dan sebuah coffee shop bernama Kopi Kebon di sebelahnya ini udah tepat banget. Cocok untuk bapak-bapak penguasa dompet yang “tersandera” nungguin istri dan anak-anak belanja. Makan, ngemil, atau ngopi, sambil deg-degan nunggu kira-kira belanjaan istri habis berapa. Atau bisa juga jadi titik kumpul untuk sebuah rombongan yang datang sekompi. Janjian di resto ini gak bikin bete karena lingkungannya nyaman, tempat duduknya convenient, dan masakannya juga enak, plus jelas jaminan Halalnya.

Saya memutuskan untuk memesan sepiring Nasi Uduk Komplit seharga 55 ribu yang isinya beraneka rupa. Nasi uduknya semangkok kecil (tapi ternyata padet banget loh) dilengkapi dengan suwiran telor dadar, ayam, rendang ati ayam, sayuran, dan bihun goreng. Beralaskan daun pisang dengan piring putih keramik yang unik, tampilan santapan yang saya pesan ini cantik banget buat dipotret. Ngeliat penampakannya aja bikin ngiler. Makannya pun jadi semangat.

Sepiring Nasi Uduk Komplit
Resto Gurih di lantai 1 | Di sisi kiri foto ada Coffee Shop Kopi Kebon

Selepas menuntaskan diskusi dengan tim dari The Keranjang, penjelajahan pun dimulai dari lantai 1. Rak-rak segitiga setinggi pandangan mata bertebaran disana-sini, menampung sekian banyak (mungkin puluhan) jenama camilan. Sebagian besar sudah terkenal di jagat penyediaan oleh-oleh Bali. Di tengah padatnya makanan yang ditawarkan, ada 1 kaleng kerupuk raksasa bertuliskan Kriukin Aja menandakan kalau di tempat saya berdiri saat itu adalah pusatnya camilan-camilan pelatih kekuatan rahang. Kacang dan keripik terutama. Banyak banget jenisnya. Setelah saya perhatikan lagi rak-rak di pinggir pun dibuat dalam bentuk kaleng dan dicat berwarna warni. Jadi selain eye-catchy, gampang terlihat dari kejauhan, juga pas untuk foto-foto keren di media sosial.

Banjir dengan aneka panganan kecil
Kaleng kerupuk grande | Kriukin Aja

Masih di spot yang sama, saya melihat aneka coklat batangan dengan packaging/cover yang cantik-cantik banget. Begitupun dengan kopi dari berbagai jenama. Langsung teringat dengan anak saya yang pecinta coklat dan suami yang hobi banget nyobain berbagai kopi, terutama kopi produk dalam negri. Yang membuat saya kagum adalah bagaimana kreatifnya para produsen ini menciptakan “sampul produk” yang saya yakin, bahkan kabarnya, bisa menjadi salah satu faktor penentu nilai penjualan.

Salah satu produk coklat dengan packaging yang menarik
Coconut Chips | Jarang-jarang banget nih nemu yang seperti ini

Berdampingan dengan snack yang bejibun ini, kita akan disuguhkan dengan aneka pilihan produk perawatan kulit, badan, dan kecantikan. Salah duanya adalah produk spa dan kesehatan (jamu dan sejenisnya). Pilihannya pun beragam. Dibungkus dengan sangat menarik, saya tenggelam dalam keasikan melihat dan mencium berbagai produk sabun dan body treatment dalam berbagai wewangian. Sebagai pecinta lulur dan penggila bersih-bersih kulit, bisa dah tuh habis waktu keliling di sini aja. Variant nya luar biasa banyak. Jadi jangan khawatir mati gaya kalau kurang menyukai jenis essense tertentu. Pengelompokkan dan peletakan produknya pun rapih dan menarik. Bisa jadi tergoda untuk membeli karena udah jatuh cinta duluan sama tampilan luarnya. Nah yang gini ini nih berlaku untuk produk sabun. Dduhh cantik-cantik bener. Warna-warnanya juga menggoda.

Beberapa natural soaps untuk spa | Wanginya tercium walaupun masih terbungkus
Berbagai produk sabun batangan dengan keranjang bambu

Selain snacks, health and beauty stuffs tadi, di lantai 1 juga dapat kita temukan produk fashion (dari ujung rambut sampai ujung kaki) dan mainan anak-anak. Materi jualan yang kalau saya amati merajai lantai terbawah ini. Disediakan juga tempat bermain dan display kekanakan agar bocah-bocah yang nemenin emaknya bisa anteng dan betah menunggu. Tempat duduk yang nyaman pun ada. Jadi acara ngobrak ngabrik belanjaan untuk dan bersama putra/putri tercinta berubah menjadi waktu-waktu berkualitas.

Kids fashion and toys
Aneka dekorasi untuk mempercantik rumah

Fasilitas di Lantai 2

Sesuai petunjuk yang dipasang di dekat jalan setapak menuju ke lantai 2, di lantai berikutnya kita dapat menemukan kerajinan tangan (craft), accessories (aksesoris termasuk produk dari jenama saya, FIBI Jewelry), tas, batik, koleksi kaos (T-Shirt) juga produk fashion bagi pria dan wanita.

Jalan penghubung antara lantai 1 dan lantai 2 ini bukanlah tangga, tapi sebuah pijakan melingkar yang terbuat dari semen dengan pagar kokoh dan beberapa kantong keranjang yang digantungkan di setiap sisi pagar. Saat saya berkunjung, dipasang juga beberapa penjor dan tumpukan keranjang bambu dari lantai 1 yang menjulang tinggi.

Jalan penghubung antara lantai 1 dan lantai 2

Sampai di lantai 2 atmosphere berbelanja terlihat berbeda dengan lantai 1. Yang sangat menarik perhatian adalah produk-produk craft dalam berbagai bentuk. Surga yang pas untuk pecinta barang-barang istimewa yang dihasilkan dari para perajin atau mereka yang berkecimpung di dalam dunia kreatif. Banyak tempat, khususnya di Bali, menawarkan hal yang sama. Tapi untuk The Keranjang, kata kreatif kemudian digabungkan dengan sentuhan unik plus etnik, yang kemungkinan hanya kita temukan di tempat-tempat tertentu saja. Termasuk diantaranya adalah sederetan koleksi Batik yang khusus dibawa ke sini dari Cirebon, salah satu kota kecil di Jawa Barat yang sudah puluhan tahun menjadi barometer batik di Indonesia.

Tas pom pom warna warni
Tas berbahan dasar eceng gondok dengan berbagai ragam sentuhan etnik

Berbeda dengan tempat oleh-oleh lain yang ada di Bali, setiap keindahan produk ditampilkan sangat terbuka, bertumpuk teratur, serta diletakkan di dalam berbagai rak yang tak kalah rapihnya. The Keranjang membimbing kita untuk melihat setiap jengkal belanjaan dalam kondisi gampang terlihat satu persatu. Memudahkan semua konsumen untuk memilih dan memutuskan item mana yang pas di hati serta pantas untuk dimiliki.

Begitupun dengan aksesories. Salah satu karya handmade yang satu ini dikelompokkan dalam satu area dan diletakkan sesuai dengan jenis dan kelasnya. Rentang harga dan materi pembuatannya pun beragam. Mulai dari produksi massal dengan harga yang sangat ramah di kantong hingga yang bernilai tinggi dan berkelas. Perhiasan manmade seperti wire jewelry yang FIBI Jewelry tawarkan, hingga kerajinan perak yang menjadi andalan utama dan wajah perhiasan Bali, juga ada di lantai 2 ini. Dijaga oleh beberapa petugas, konsumen diperkenankan untuk mencoba dan berbagi informasi mengenai perhiasan yang ingin diadopsi. Dijamin. Acara shopping selama berjam-jam pun berasa seperti baru belasan menit.

Counter khusus perhiasan | Foto diambil dari sisi display produk wire jewelry milik FIBI
Kacamata ukiran kayu | Salah satu produk kreatif yang menarik hati

Cahaya ruangan yang pas, sirkulasi udara yang melegakan (karena antara lantai tidak dibatasi oleh atap), serta pendingin udara yang cukup, menjadikan kegiatan berbelanja di The Keranjang begitu menyenangkan. Bahkan semakin lengkap dengan hadirnya wahana edukasi, Kampung Langit, yang berada di lantai 3.

Untuk Kampung Langit akan saya tulis dalam artikel terpisah

Ngomong-ngomong, lokasi tempatnya juga sangat strategis loh. Berada di ring-road dari dan menuju airport Ngurah Rai, memungkinkan kita bisa mampir dalam waktu-waktu terbatas, khususnya sebelum mencapai airport untuk kembali ke kota masing-masing. Siapkan sisa waktu khusus setidaknya 2 jam agar bisa benar-benar merasakan leganya waktu berbelanja tanpa harus tergesa-gesa.

Bingung memilih yang mana | Semuanya unik dan cantik

Mengusung visi menjadikan kawasan wisata di Bali yang fun, iconic, juga unik, The Keranjang yang dimiliki oleh 4 pemegang saham ini (Trusmi Cirebon, musisi kondang Anto Hoed/Melly Goeslow, motivator beken dan sukses (coach plus trainer) Bapak Ary Ginanjar, dan warga Bali pemilik lahan), menawarkan pengalaman one-stop experience untuk seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Sementara misi yang ingin diwujudkan adalah menghadirkan beraneka pilihan wisata (belanja, kuliner, relaksasi hingga edukasi). Segala kebutuhan wisata bisa kita dapatkan di sini, di satu tempat, yang menjadikan pengalaman berlibur di Bali kaya makna dan kesan dalam Satu Keranjang.

Ingin menyimak lebih lanjut tentang Bali in One Basket, silahkan berseluncur ke official website mereka www.thekeranjangbali.com

The Keranjang Bali | Jl. Raya Kuta No. 70-72, Badung, Bali

Ddduhh banyak bener panganan yang pengen dibeli
Ada yang nyari kutu | Ada juga yang pusing main catur
Spot foto yang keren banget dan cuma ada di The Keranjang