Entah kenapa pengen banget menulis sesuatu tentang film ini.  Salah satu film yang meninggalkan kesan luar biasa buat saya.  Menghanyutkan dengan tema dan alur cerita yang tidak kacangan.  Genre Thriller tapi tetap membangun Romance yang bikin hati kita tersentuh.  2 genre yang seharusnya bertolak belakang satu sama lain tapi bisa menyatu dengan sempurna.

Saya baru sempat nonton 1 kali via HBO HD.  Itu pun tanpa disengaja karena saya tidak menonton promo tayang seperti biasanya.  Tapi walaupun baru kali itu nonton, hati seperti terpenjara untuk terus mengikuti adegan demi adegan dan karakter demi karakter yang sangat kuat dari setiap pemeran.  Bahkan ketika sampai di bagian-bagian akhir, tanpa sadar air mata berderai.  Mewek sampe pilek karena  surprise dengan happy ending yang tak terduga.

ATAS: Rose (muda) dan Michael McNulty (suami Rose) BAWAH: Dr. Stephen Grene dan Rose (tua)

Diangkat dari sebuah novel laris yang ditulis oleh Sebastian Barry di 2008, film ini, menurut saya, greget banget mulai dari awal sampai akhir.  Kita terlarut dalam alur cerita ciamik yang membuat kita tidak bisa memalingkan mata di setiap loncatan adegan.

Dibuka dengan hidangan adegan di sebuah Rumah Sakit Jiwa, adalah seorang Psikiater, Dr. Stephen Grene (Stephen), mengunjungi seorang pasien yang sudah dirawat di RSJ ini selama kurang lebih 40tahun.  Pasien ini, Roseanne McNulty (Rose), seorang wanita sepuh yang dituduh telah membunuh bayinya puluhan tahun yang lalu dan mengalami tekanan jiwa.  Mereka dipertemukan agar Dr Grene, yang diutus oleh gereja katolik, untuk mengevaluasi Rose.  Karena RSJ tersebut telah dijual untuk dijadikan sebuah hotel, pihak gereja meminta Stephen agar Rose bisa dipindahkan ke RSJ lain, atau dilepaskan jika memungkinkan atau jika ada anggota keluarganya yang menjemput.

Ketika di awal saya melihat wajah Rose (tua), terlihat sekali sorot mata tegas, lantang, tetapi adem.  Walaupun dalam beberapa adegan Rose (tua) bertingkah layaknya orang kehilangan arah, tapi kita juga ditunjukkan saat-saat dimana Rose (tua) ingat akan masa lalunya dan berkata “Mereka (pihak RSJ) yang telah menghilangkan ingatan saya dengan setrom listrik”.  Dan berkali-kali Rose (tua) tampak kesal karena tidak bisa “memanggil kembali” memori atas dirinya sendiri.

Setelah pertemuan ini, para penonton diajak untuk menikmati 2 masa cerita.

Pertama adalah cerita masa kini, dimana Stephen yang dibantu oleh seorang perawat, mencoba menyelami, mengikuti, dan membangun komunikasi dengan Rose (tua) melalui sebuah Injil tua yang sudah tercoret-coret tulisan tangan Rose.  Injil inilah yang akhirnya membimbing mereka menggali apa yang sudah dialami Rose sepanjang hidupnya.  Judul fim pun diambil dari keberadaan Injil ini, yang sejak menjadi pasien RSJ menjadi tempat Rose menumpahkan isi hatinya.

Kedua adalah masa-masa awal Perang Dunia II di Irlandia, dimana Rose (muda) hidup di sebuah desa dan mengalami serangkaian cerita-cerita tragis karena kecantikan dirinya.  Bahkan hingga seorang biarawan katolik, Father Gaunt, merasa bisa dan berhak untuk turut mengatur hidup Rose.

Kedua episode cerita ini ditayangkan berimbang sehingga dalam 2/3 film berjalan kita mulai bisa menyambungkan benang merah sejarah hidup Rose yang pelan-pelan mulai nyata terlihat.

Dr. Stephen Grene, seorang perawat, dan Rose (tua)

Cantik yang membawa petaka.  Ini yang bisa saya ungkapkan untuk seorang Rose.

Sejak kedatangannya ke rumah bibinya di sebuah desa, perempuan cantik yatim piatu ini, menjadi sorotan dan pusat perhatian para pria lajang yang hidup di sana.  Mulai dari seorang Romo muda (Father Gaunt), Michael McNulty (pemuda tampan yang mengabdi kepada AU Great Britain), dan sekelompok pejuang garis keras anti-British Catholic.  Rose, cewek pemberani dan jagoan renang ini, akhirnya terpaksa diungsikan ke sebuah pondokan tua oleh bibinya, jauh dari kehidupan sosial, karena dalam sebuah pesta, kehadiran dirinya menimbulkan perkelahian antara Father Gaunt dan seorang pemuda bernama Jack (anggota anti-British Catholic).  Kecantikan Rose diperkarakan dan dianggap sebagai sumber masalah.

Dibuang dan tinggal di sebuah gubuk kecil,  Rose hidup dalam kesendirian.  Ada 1 photoshoot yang sangat saya sukai.  Rose tampak menggenggam secangkir teh hangat dengan badan berbalut sweater rajut yang cantik banget.  Make up nya natural.  Keindahan sentuhan foto tampak sempurna karena Rose duduk menghadap sebuah jendela dengan sinar matahari lembut di hadapannya dan pendar sinar api dari kayu bakar di bagian belakang.  Sebuah foto yang banyak berbicara untuk diri Rose saat itu.

Rose McNulty | Hidup dalam kesendirian di sebuah gubuk kecil | Kecantikan, sorot mata yang tajam, dan matanya kemampuan acting, membuat peran Rose (muda) begitu pas diberikan kepada Rooney Mara

Kehidupan Rose di rumah pembuangan kemudian menjadi tambah complicated ketika dalam suatu waktu ada seorang penerbang yang pesawatnya tertembak dan jatuh tidak jauh dari gubuknya.  Sigap menolong, Rose pun menemukan bahwa penerbang tersebut adalah Michael McNulty.  Sejak saat itu mereka hidup bersama di gubuk tersebut hingga cinta sejatipun tumbuh diantara keduanya.

Kebahagiaan ini tidak bertahan lama.  Semua cerita romansa pun akhirnya terenggut saat keberadaan Michael diketahui oleh Father Gaunt, seorang imam yang dari awal sudah terlihat sangat ingin memiliki Rose.  Terbakar cemburu, Father Gaunt mengajak para pemuda anti-British Catholic untuk menangkap dan membunuh Michael, plus melaporkan kehidupan Rose dan Michael kepada bibinya Rose.  Father Gaunt malah meminta sang bibi untuk menandatangi surat permohonan agar Rose dirawat di RSJ dengan alasan nymphomania (kelainan jiwa karena seks) dan merubah alur hidup Rose dari titik ini.

Perlakuan-perlakuan ala RSJ pun dipertontonkan.  Sampai suatu saat Rose diketahui hamil dan kemudian dipisahkan dalam kelompok tertentu.  Gossip bahwa bayi yang dikandung Rose adalah anak Father Gaunt pun beredar.  Tapi Rose tidak menghindahkannya karena dia tidak menceritakan bahwa sebelum Michael dibantai, dia dan Michael sudah diresmikan sebagai sepasang suami istri.

Cerita pun kembali mengalami gejolak, ketika dengan nekatnya Rose kabur dari RSJ.  Berlari melintasi hutan kecil hingga akhirnya berenang di laut yang sedang pasang untuk mencapai sebuah pulau kecil.  Rose yang sedang hamil tua akhirnya mendadak melahirkan di pulau kecil tersebut.  Father Gaunt dan beberapa petugas RSJ mengejar Rose dengan sebuah sampan.  Persis ketika Rose kelelahan karena melahirkan mendadak, Father Gaunt melarikan bayi yang baru dilahirkan.  Sementara ke-2 petugas RSJ mengungsikan Rose kembali ke RSJ dan menyampaikan laporan bahwa Rose telah membunuh bayinya sendiri.

Dari sinilah akhirnya, Rose dianggap benar-benar gila dan harus mendekam permanen di RSJ tersebut.  Tapi walaupun berkali-kali ingatannya dicoba dihapus, beberapa kilasan memori yang tertanam membuat Rose (tua) begitu antusias bercerita kepada Stephen bahwa dia tidak membunuh bayinya.  Darah yang berceceran di tempat adalah darah dari akibat dia memotong tali pusar yang menghubungkan dia dan anak laki-lakinya.

Satu demi satu sejarah hidup Rose terungkap ke permukaan serentak dengan terbukanya profil Dr. Stephen Grene.  Obrolan-obrolan Stephen dengan sang perawat yang terus terexpose di 2/3 jalannya film, membuat kita menangkap beberapa petunjuk di luar dugaan.  Melihat tanggal lahir anak laki-laki Rose yang ternyata sama dengan tanggal lahirnya, Stephen akhirnya menemukan jati diri sebenarnya.

Lahir di desa yang sama, dibesarkan di desa tersebut, kemudian disekolahkan ke luar desa oleh gereja hingga jadi seorang psikiater, Stephen tadinya berniat untuk menjual rumah orang tua (angkat) nya di desa ini.  Tapi begitu menemukan surat wasiat Ayah (angkat) nya dan kalung salib besar dengan pesan “Kalung ini adalah milik Ayah kandungmu”, Stephen pun membatalkan niat awalnya.  Kalung salib ini adalah milik Michael McNulty yang diberikan kepada Rose (muda) saat dia akan kembali bertugas sebagai penerbang.  Kalung ini dibawa Rose saat melahirkan di pinggir pantai sebuah pulau, kemudian diambil oleh Father Gaunt bersama dengan seorang bayi laki-laki, yaitu Dr. Stephen Grene.

Saat semua sudah begitu nyata, Stephen baru menyadari alasan sebenarnya dari pihak gereja yang mengirimnya ke RSJ dan membangun bonding dengan Rose, ibu biologis, ibu kandungnya sendiri.

Scene terakhir yang membuat saya semakin menitikkan air mata adalah saat Stephen menggandeng erat tangan Rose sambil berjalan menyusuri pantai dimana dulu ibunya berlari dan mulai berenang menuju pulau kecil di depannya.  Semburat sunset menambah keindahkan photography yang tak terbantahkan indahnya.

Father Gaunt | Orang yang memporakporandakan cerita hidup Rose | Dimainkan dengan apik sekali oleh aktor Theo James

Pertama kali ditayangkan VIP (premiere) pada 2016 di Toronto International Film Festival, The Secret Scripture, mulai dipertontokan kepada publik Irlandia dan Inggris pada May 2017, kemudian di Amerika pada Oktober 2017.

Semua aktor dan aktris di film ini, menurut saya, sudah sangat pas banget.  Tapi ada 3 karakter yang menurut saya begitu mendominasi keseluruhan cerita.

Eric Bana dengan mukanya yang kebapakan, ketenangan, dan sorot mata penuh kasih, sangat pas berperan sebagai seorang psikiater (Dr. Stephen Grene).  Eric memang sering mendapatkan peran cerita-cerita “berisi” dan “sarat makna”.  Salah satu film Eric yang saya sukai adalah The Time Traveler’s Wife.

Rooney Mara si Rose (muda).  Garis muka dengan tulang yang tegas, bola dan sorot mata yang tajam tapi terkadang jatuh sendu, adalah ciri khas dari orang Irlandia, walaupun tidak sedikit pun Rooney berdarah Irlandia.  Kecantikan natural dengan karakter wajah yang khas.  Cantik tapi tidak berlebihan dan tidak membosankan.  Untuk acting, Rooney belum maksimal dalam hal sorot mata.  Tapi body language nya lebih banyak berbicara dengan sempurna.

Theo James (Father Gaunt).  Aktor asal Inggris ini punya dahi, tulang alis, dan sorot mata bagai elang.  Tampan tapi outlook nya memang mengarah ke karakter antagonis.  Profile yang dia perankan di film ini, menurut saya, justru adalah peran kunci dari sejarah hidup Rose.  Kalau dalam film gangster, Father Gaut adalah Godfather nya.  Dan Theo berhasil menyatu dan melebur dengan sempurna.  Pujian maksimal saya untuk Theo James.

 

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here