Tulisan ini adalah rangkaian presentasi dari Bpk. M. Amin Faaroek, Jajou atau Perdana Mentri Kesultanan Tidore di masa pemerintahan Sultan Tidore ke-37, Bpk. H. Husain Sjah.

Beliau menyampaikan uraian yang sangat berharga ini agar para pembaca dapat mengikuti sejarah panjang Kesultanan Tidore. Semua materi adalah sambutan Beliau pada acara Launching Lomba Menulis Blog bertemakan Tidore Untuk Indonesia yang diadakan di Fola Barakati pada 12 Februari 2017

 

GAMBARAN UMUM TENTANG MALUKU UTARA

Letak Geografis dan Lingkungan Alam

Maluku utara adalah daerah kepulauan yang terdiri dari 353 buah pulau dengan luas 90% adalah laut kurang lebih 107.381.Km2. Wilayahnya berbatasan dengan sebelah utara dengan samudra pasifik, di sebelah selatan dengan laut Seram, sebelah timur dengan Laut Halmahera, dan di sebaelah barat dengan laut Maluku. Wilayah daerah ini terletak pada lintas garis khatulistiwa dan berada di antara 1240 -1290 bujur timur dan 30 lintang Utara 30 lintang selatan.

Fisiografis Maluku Utara dibentuk oleh relif-relif yang besar dimana palung-palung oseanis dan punggung-punggung pegunungan saling berganti dengan sangat menyolok. Kepulauan ini terdiri dari dua lingkungan kesatuan kepulauan yang berjalan melalui Filipina, Sanghie Talaud, Minahasa yang dilingkupi oleh Lekuk Sulawesi palung Sangihe yang berwatak vulkanis dan lingkungan kontinen Melanesia yang bergerak dari gugusan yang melalui Papua bagian Utara. Halmahera Timur dan berakhir pada Maluku Utara bagisn utara yang berciri non vulkanis.

Ciri topografis sebagian besar terdiri dari pulau-pulau vulkanis dan pulau karang dengan jenis tanah dominan adalah tanah kompleks, brown forest soil, tanah mediteran, tanah latosol dan tanah renzina. Penyebaran daratan terdiri dari kelompok pulau besar seperti Halamahera, pulau sedang seperti pulau Morotai, Bacan, Obi, Taliabu dan Mangoli, serta pulau-pulau kecil seperti Ternate, Tidore, Moti, Makean, Kayoa, dan sebagainya. Wilayah perairan Maluku Utara yang meliputi luas 107, 381 Km3. Sebagian besar adalah laut dalam yang dibagi atas perairan yaitu;

  1. Laut Maluku berhubungan dengan lautan Pasifik pada pintu gerbang di antara pulau Morotai dan pulau Talaud di posisi barat laut. Alur penghubung dengan laut Seram terletak antara pulau Lifmatola dan pulau Obi besar. Titik terdalam adalah 14000 m.
  2. Laut seram, bersatu dengan laut Halmahera melalui pintu antara pulau Tobalai dengan pulau Misol, sedang pada posisi Barat Laut berhubungan dengan alur laut Banda, dibagian selatan pulau-pulau Sula dari unjung barat laut pulau Buru. Titik terdalam laut Seram terletak di tengah pulau Buano dan pulau Obi Masyor dengan kedalaman lebih dari 4000 meter.
  3. Laut Halmahera, terletak di bagian timur daerah Maluku Utara, laut ini pada unjung alur utara berhubungan dengan samudra Pasifik dan pada alur selatan dengan laut Seram.

Mengenai dunia flora dan fauna dari wilayah ini dapat dijumpai di pantai laut maupun di daratan. Jenis flora darat diwakili oleh beberapa atau berbagai jenis kayu-kayuan yang mempunyai nilai ekonomis penting. Fauna laut terdiri dari berjenis-jenis biota laut.

Tentang iklim, daerah Maluku Utara beriklim tropis yang dapat dibagi empat daerah iklim yaitu:

  1. Daerah iklim Halamahera Utara, musim hujan berada pada bulan Desember s/d Februari, musim kemarau dalam bulan Agustus s/d November, sedangkan musim pancaroba pada bulan November s/d Desember
  2. Daerah iklim Halmahera Barat dan Tengah, dipengaruhi musim Utara pada bulan Oktober s/d Maret, musim pancaroba pada bulan April, musim selatan pada bulan April s/d September yang diselingi angin timur, dan musim pancaroba pada akhir bulan September.
  3. Daerah iklim Halmahera Selatan atau Bacan, dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim Utara pada bulan Oktober s/d Maret yang diselingi angin barat dan pancaroba pada bulan April bulan April, musim selatan pada bulan pada bulan September diselingi angin Timur dan pancaroba dalam bulan September.
  4. Daerah iklim kepulauan Sula terdiri atas dua musim, musim utara pada bulan Oktober s/d bulan Maretdiselingin angin Barat dan pancaroba pada bulan April, musim selatan pada bulan April s/d September, diselingi angin timur dan pancaroba di bulan September. Curah hujan di Maluku Utara rata-rata 1000-3000 mm. (Drs. A.B. Andili. Profil Daerah Maluku Utara 1980).

 

Potensi Ekonomi dan Mata Pencaharian Penduduk.

Daerah Maluku Utara yang terdiri dari wilayah perairan dan daratan memiliki sumber daya yang secara ekonomis mempunyai nilai penting. Wilayah perairan yang memiliki ciri-ciri oceanografik dan biologis tersendiri mengandung ikan yang berpotensi produksi. Disamping ikan dan biota lainnya terdapat pula mineral yang sangat penting sebagai sumber kekayaan alam. Diwilayah daratan terdapat tanah yang dapat diolah untuk berbagai usaha pertanian. Dari tanah yang telah diolah sebagian digarap untuk tanaman pangan, sedangkan sebagian yang lainnya untuk tanaman perkebunan seperti cengkih, pala, kopi, coklat dan kelapa, lagi pula hutan merupakan potensi yang tidak kecil artinya sebagai komoditi eksport. Daratan mengandung juga sumber-sumber bahan tambang yang cukup penting seperti nikel, mangan, bokasit, dan asbes.

 

Kehidupan Sosial Budaya.

Daerah Maluku Utara pada masa lampau sebelum bangsa-bangsa Eropa datang disekitar abad ke 16, telah mempunyai system pemerintahan Kesultanan. Dikenal sebagai system pemerintahan Maluku Kie Raha (empat kerajaan), masyarakat budaya Maluku Utara dan daerah Halmahera bagian Tengah dan Timur memperlihatkan keterkaitannya kepada tata cara adat istiadat yang merupakan identitas kesatuan tersendiri. Dalam hal tersebut dapat dibedakan tiga wilayah cultural, yaitu;

  1. Wilayah cultural Ternate yang meliputi kepulauan Ternate, Halmahera Barat, Halamahera Utara, dan kepulauan Sula dan sekitarnya.
  2. Wilayah cultural Tidore yang mencakupi kepulauan Tidore, Halmahera bagian depan, Halamahera Tengah, dan Halmahera Timur.
  3. Wilayah cultural Bacan yang meliputi kepulauan Bacan obi dan pulau-pulau disekitarnya.

Pembagian wilayah cultural di atas pada dasarnya tidak menunjukan suatu perbedaan prinsipil tetapi gradual dilihat dari ciri-ciri adat istiadat dan seni budaya. Keragaman suku bangsa yang mendiami daerah Maluku Utara yang berawal asal dari bangsa Melanesia dan polinesia terdiri dari kurang lebih ada 25 suku bangsa yang antara lain adalah Suku Tobaru, Tobelo, Togutil, Wayoli, Galela, Loloda, Madole, Sahu/Sau, Sawai, Buli, dan Bajo (Drs. A.B. Andili. Ibid 1980).

Bahasa daerah dikepulauan Maluku Utara memperlihatkan keanekaragaman yang besar. Menurut para ahli bahasa, untuk wilyah bagian utara Halmahera, bahasa-bahasanya tidak termasuk dalam rumpun bahasa Melayu.

Keseluruhan bahasa daerah yang berpuluh bahkan satu buah pulau kecil dapat memiliki bahasa yang berbeda seperti pulau Makean ada bahasa Makean Dalam dan bahasa Makeal Luar yang tidak saling mengerti dan memahami satu dengan yang lain. Begitupun dengan seperti pulau Gebe yang memiliki bahasa daerah tersendiri. Namun demikian bila ditelusuri lebih jauh dapat ditarik kesimpulan umum bahwa penduduk dalam setiap wilayah cultural selalu dapat menggunakan bahasa kesatuan.

Kekayaan budaya yang berjenis-jenis tersebut masih hidup dikalangan luas masyarakat Maluku Utara dan daerh pengaruhnya hingga dewasa ini