MAKAM SULTAN NUKU

 

Muhammad Amiruddin alias NUKU adalah putra Sultan Jamaluddin (1757-1779) dari Kesultanan Tidore.

Pada tanggal 13 April 1779, Nuku dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehadrl Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan”. Nuku juga dijuluki sebagai “Jou Barakati”  yang artinya adalah Panglima Perang.

Pada zaman pemerintahan Nuku (1797-1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kekuasaan yang luas.  Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah air.  VOC yang berpusat di Batavia dengan gubernur-gubernurnya yang ada di Kota Ambon, Kepulauan Banda dan Pulau Ternate, harus berhadapan dengan perlawanan dari Pangeran Nuku. VOC menghadapi konfrontasi Nuku dan Kesultanan Tidore dalam usahanya menguasai Maluku.  Nuku sulit ditaklukkan. Beliau bertempur melawan Belanda di darat maupun di laut.  Atas jasa-jasanya kepada Negara, Nuku Muhammad Amiruddin Kaicil Paparangan di anugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995 pada tanggal 7 Agustus 1995.

Makam ini terletak di pusat Kota Tidore Kepulauan dengan gerbang masuk yang cukup megah.  Berjarak 24 km dari pelabuhan Rum Tidore sedangkan dari pusat pemerintahan lebih kurang 5 km. Untuk menjangkau makam ini dari pelabuhan Rum memerlukan biaya angkot Rp. 12.000, ojek Rp. 25.000 dan mobil sewa Rp. 150.000.  Makam Sultan Nuku juga terletak tidak begitu jauh dari Pelabuhan Sultan yang berada di Tanjung Soasio dan Masjid Kesultanan Tidore yang berada di Kelurahan Soasio.  Di dalam kompleks makam, juga terdapat makam Sultan Tidore H. Jafar Syah.

SUMBER: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tidore Kepulauan

Dari tempat saya menginap, Penginapan Seroja, yang berada di Kelurahan Soasio, kita dapat mengunjungi Makam ini dengan berjalan kaki saja.  Makam ini berada hanya sekitar 200meter dari Masjid Kesultanan dan Tanjung Soasio dimana Pelabuhan Kesultanan berada. Di dalam kompleks makam, terlihat beberapa makam lain.  Sayangnya saya belum berhasil mendapatkan informasi, makam siapa saja yang ada di situ, selain Sultan Tidore H. Jafar Syah.

 

 

KEDATON/KADATON KESULTANAN TIDORE

  

Kadato Kie /Kadaton Sultan Tidore dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Taher yaitu Sultan Tidore yang ke 28, pada tahun 1812.  Pembangunannya memakan waktu selama 50 Tahun akibat politik adudomba Belanda. Kadaton ini hancur total pada akhir masa pemerintahan Sultan Syah Juan pada Tahun 1912.  Kemudian pada masa pemerintah Sultan Jafar Syah, Kadaton mulai dibangun kembali.

Pada tahun 2006, Kadaton ini menerapkan aturan berkunjung bagi wanita harus menggunakan busana muslim atau sarung dengan penutup rambut.  Sedangkan pria harus menggunakan songkok.

Ada beberapa koleksi Kesultanan Tidore yang bisa dilihat di dalam Kadaton ini.  Salah satunya adalah Mahkota Kesultanan Tidore yang dihiasi oleh beberapa batu mulia  serta rambut Mahkota yang dapat tumbuh dan selalu diadakan ritual untuk memotong rambut tersebut.

Kadaton ini terletak di pusat Kota Tidore Kepulauan (Soasio).   Berjarak 24 km dari pelabuhan Rum Tidore sedangkan dari pusat pemerintahan lebih kurang 5 km. Untuk menjangkau bangunan ini dari pelabuhan Rum memerlukan biaya angkot Rp. 12.000, ojek Rp. 25.000 dan mobil rental Rp. 150.000, apabila menyeberang dari Kota Ternate menggunakan speed boat kita harus merogoh kocek Rp. 10.000 sekali jalan.

SUMBER: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tidore Kepulauan

Kadaton, pada saat saya berkunjung di akhir Desember 2016, sedang dipercantik untuk menyambut Hari Jadi Tidore ke-909 yang jatuh pada 12 April 2017.  Dari foto lama yang saya dapat, perubahan utama terlihat pada cat dinding.  Kalau dulu cat didominasi oleh warna biru, cat yang baru adalah putih dengan warna-warna kayu sebagai pendukung.

Di halaman kiri Kadaton terdapat makam Sultan Zainal Abidin Syah.  Beliau adalah Gubernur ke-1 Irian.  Makam terlihat sangat terawat dan dibuat dalam area khusus yang berdinding dan bercat putih.

Kadaton juga menjadi pusat dimulainya acara adat LUFU KIE.  Di Kadaton inilah seluruh marga (berjumlah 5) membawa air suci dalam sebuah bambu, untuk diserahkan kepada Sultan sebagai pertanda kesiapan mereka menjalani rangkaian upacara yang diadakan setiap tahunnya ini.

Duduk di teras depan di lantai 2 Kedaton ini, kita dapat menikmati indahnya laut dan hamparan Pulau Halmahera, pulau terbesar di Maluku Utara. Hembusan angin mengusap wajah dan menghadirkan kenyamanan bagi jiwa.  Berdiri di teras ini sambil memandang puluhan rumah penduduk yang berada di depannya, menumbuhkan jiwa kepemilikan, penguasaan dan spirit menyatukan sekian banyak nyawa dalam sebuah Kesultanan yang terukir manis dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

MASJID KESULTANAN TIDORE

 

 

Sore itu, ketika saya berkunjung ke Masjid ini, udara sejuk menyelimuti.  Rasa adem juga menyeruak ketika melangkahkan kaki ke teras Masjid.  Tersedia sederetan sajadah untuk kita gunakan.  Sementara untuk wudhu, ada sebuah kolam kecil dengan air bening di sudut kiri Masjid, dan disediakan beberapa gayung bersih yang bisa kita gunakan.  Sayangnya pintu masjid terkunci rapat padahal saya ingin sekali sholat Ashar di dalam.  Saya sempat tertegun menatap betapa kokoh dan tingginya pintu utama Masjid, yang terlihat terbuat dari kayu berkualitas tinggi.  Lafaz Allah terukir pada pintu tersebut.  Sungguh suatu tanda yang membuktikan bahwa inilah rumah Allah. Rumah yang dirindukan oleh umat Islam untuk beribadah dan berserah diri kepadaNya 5 kali dalam 1 hari.

Menengok ke halaman masjid dan memandang keluar Masjid, terlihat deretan keramik tersusun rapih. Saya menduga bahwa halaman ini sengaja dikeramik agar jika umat yang datang membludak dan tidak tertampung di dalam Masjid, mereka masih bisa mengikuti sholat berjamaah di halaman ini. Pada bagian depan halaman terdapat bangunan seperti menara yang di bagian atasnya ditaruh bedug. Sementara pada bagian bawah adalah pintu masuk Masjid dengan sebuah prasasti peresmian Masjid (renovasi terakhir) yang ditandatangani oleh Gubernur Maluku Utara, Drs. Thaib Armaiyn, pada tanggal 9 September 2010.

Melalui prasasti ini dapat diketahui bahwa Masjid Kesultanan Tidore dibangun tahun 1700 s/d 1710 dengan atap daun kusu-kusu atau alang-alang, direnovasi 1 pada tahun 1725 s/d 1750 dengan atap daun alang-alang dan daun rumbia dengan sebutan Sigi Palang karena beratap corak, direnovasi ke-2 tahun 1750 s/d 1884 dengan atap daun rumbia, direnovasi ke-3 tahun 1884 s/d 1914 menggunakan atap seng (tahap I), renovasi ke-4 tahun 1979 pergantian seng (tahap II), renovasi total tahun 2006 s/d sekarang dan diresmikan pada tanggal 9 September 2010 oleh Gubernur Maluku Utara.

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, Masjid Kesultanan Tidore berada di Kelurahan Soasio.  Letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Kesultanan dan Makam Nuku.

 

BENTENG TORRE

 

 

 

Benteng Torre adalah bukti bahwa Portugis pernah menjajah dan atau menempati Tidore.  Dari beberapa literature yang saya baca, benteng ini oleh Portugis dijadikan hanya untuk pertahanan keluarga mereka sebagai penguasa pada saat itu karena ketatnya persaingan monopoli atas penguasaan rempah-rempah (terutama cengkeh) di Tidore antara Portugis, Spanyol, Jepang dan Belanda.

Terletak di Kelurahan Soasio, untuk mencapai Benteng Torre, kita harus melalui puluhan anak tangga yang cukup curam dengan batu-batu besar yang menyanggah kokohnya tangga tersebut.  Tapi perjuangan untuk naik ini terbayar ketika sudah sampai di halaman depan benteng.  Di sepanjang tanjakan menuju pintu masuk benteng, kita dapat melihat 2 gazebo yang dipenuhi oleh tanaman-tanaman (penghijauan) disana sini.  Jika kita membalikkan badan, hamparan laut luas dan Pulau Halmahera terbentang di depan mata.

Memasuki bagian dalam benteng, kita akan menemukan bagian tengah benteng yang dipenuhi oleh batu-batu besar dan pohon-pohon yang tertananam seperti sumur terbuka, dengan kedalaman sekitar 6-8 meter.  Ada beberapa anak tangga memanjang menghadap ke dalam cekungan ini.  Pada sisi kiri, dinding benteng terlihat menanjak.  Dari sudut ini, jika kita berdiri di bagian ujung, terlihat ada lubang yang cukup dalam.  Saya tidak berani menengok karena sangat gelap.  Tapi dari sisi ujung ini, pemandangan laut dan Halmahera semakin terlihat jelas.

 

BENTENG TAHULA

 

 

Kalau Benteng Torre dibangun oleh Portugis, Benteng Tahula dibuat oleh Spanyol.

Menurut arsip dari Spanyol, pada sekitar tahun 1607, satu tahun setelah Spanyol menaklukkan Ternate, Juan de Esquivel (Gubernur Spanyol pertama di Maluku, Mei 1606 – Maret 1669), memerintahkan untuk membangun sebuah benteng di Tidore.  Namun pembangunan ini tidak terlaksana karena kurangnya tenaga kerja.  Pembangunan benteng Tahula atau dikenal juga dengan Benteng Tohula atau Kota Hula ini baru dimulai pada tahun 1610 oleh Cristobal de Azcqueta Menchacha (1610-1612), Gubernur Spanyol pada saat itu.

Akan tetapi pembangunan ini juga tidak selesai.  Pada tahun 1613 barulah pembangunan diintensifkan hingga selesai pada tahun 1615 oleh Gubernur Don Jeronimo de Silva (1612-1617).  Benteng ini kemudian diberi nama Santiago de los Cabaileros de Tidore atau Sanctiago Caualleros de los de la de ysia Tidore.

Benteng ini dihuni oleh 50 tentara Spanyol lengkap dengan artileri untuk melindungi kapal-kapal mereka yang sedang berlabuh.  Spanyol menggunakan benteng ini hingga tahun 1662.  Setelah kepergian Spanyol pada 1707, Belanda yang berkuasa saat itu meminta Sultan Tidore untuk menghancurkan Benteng Tahula ini.  Namun sebelum Benteng Tahula ini sepenuhnya dibongkar, Sultan Tidore Hamzah Fahroedin (1659-1700) meminta benteng ini dipertahankan sebagai tempat tinggal kerajaan.

Walaupun sama-sama berada di Kelurahan Soasio, Benteng Tahula letaknya lebih strategis dibandingkan dengan Torre.  Tahula berada persis di pinggir pantai dan terlihat lebih tinggi dari injakan tanah pertama.  Hal ini terbukti dari jumlah anak tangga yang harus dilampaui untuk mencapai puncak.  Jika Torre jumlanya masih puluhan, di Tahula jumlah anak tangga yang harus dilalui adalah 123 buah.  Jadi untuk yang mau ke sini, ada baiknya olah raga yang banyak dulu supaya nafas gak senen kemis seperti mau putus oksigen.

Layaknya sebuah bangunan warisan dari sekian abad yang lalu, sudah banyak bagian-bagian dari benteng ini yang mulai hancur.  Tetapi secara keseluruhan benteng ini masih terawat dengan baik.  Pohon pun tumbuh subur mulai dari tangga terbawah hingga mencapai pintu masuk benteng.  Tanaman bunga Matahari juga terlihat disana-sini. Tabungan oksigen yang bagus buat paru-paru kita.

Benteng Tahula, berada di jalan utama Kelurahan Soasio.  Situs sejarah yang langsung terlihat ketika kita melewati jalur angkutan umum dari Pelabuhan Rum sampai Tugulufa.  Jika berdiri dari benteng ini, kita juga dapat melihat Tanjung Soasio, jalan protokol Soasio, dan tentu saja Pulau Halmahera.  Pintu gerbang masuk ke benteng juga terlihat dari jalan raya yang hanya beberapa langkah dari Penginapan Seroja (satu-satunya penginapan yang ada di Kelurahan Soasio).

Dari foto ini terlihat Pelabuhan Kesultanan (anjungan panjang putih dengan 2 atap di kedua sisi) serta Masjid Kesultanan Tidore yang atapnya berwarna biru.

Sunrise biasanya akan terlihat jelas dari Tanjung Soasio, dan tentu saja akan lebih indah terekam jika kita berdiri di Benteng ini.  Ketika gerhana matahari melewati Indonesia di 2015, banyak pihak, terutama institusi penelitian, yang menunggu dan merekam peristiwa bersejarah ini dari titik ini.

Tidore, mutiara dari utara Maluku. Semoga setiap situs sejarah yang saat ini menjadi kekayaan budaya akan tetap terawat dengan baik dan menjadi bagian dari obyek pariwisata Tidore selain keindahan pulau-pulau dan bawah lautnya yang luar biasa indah.

Facebook Comment