Kunjungan kali ini adalah pertemuan ke-2 saya dengan Tidore, setelah 4 bulan sebelumnya sempat bertandang dalam waktu yang cukup lama.  Di akhir tahun 2016, kedatangan saya waktu itu, adalah mengumpulkan sebanyak mungkin foto dan informasi untuk memberikan referensi terbaru kepada para peserta lomba menulis blog.  Materi-materi ini juga dibutuhkan dalam rangka acara Launching Lomba Menulis tentang Tidore bertemakan Tidore Untuk Indonesia, sehingga ketika event ini meluncur, para tetamu dapat melihat foto-foto terbaru yang menggetarkan hati, dan juga bisa digunakan sebagai (referensi) materi tulisan.

Bukan itu saja.  Dengan mengenal terlebih dahulu tempat atau daerah yang akan dikunjungi , setidaknya saya dapat menjadi tour leader yang sudah mengantongi info-info dalam sebuah garis besar.  Pengetahuan umumlah setidaknya, sehingga para pemenang lomba menulis, yang diajak menjelajah keindahan Bumi Marijang ini, bisa memantik percikan-percikan awal untuk bahan menulis.  Sebuah tugas yang harus selangkah lebih maju dan bermakna untuk sebuah perjalanan yang sarat akan kesan.

 

LOMBA MENULIS BLOG

Melewati hampir 1.5bulan periode penulisan dan sekitar 7hari proses penjurian, akhirnya terpilih 5 orang Travel Blogger  yang akan menemani saya dan Katerina (www.travelerien.com), seorang blogger yang sudah berkibar namanya, serta Tim Ngofa Tidore dari Jakarta untuk menghabiskan waktu selama 6hari 5malam di Tidore.  Mereka adalah Rifqi Faiza Rahman/Rifqi asal Sidoarjo (www.papanpelangi.com), Deddy Huang/Deddy asal Palembang (www.deddyhuang.com), Haryadi Yansyah/Yayan asal Palembang (www.omnduut.com), Eko Nurhuda/Eko asal Pemalang (www.bungeko.com), dan satu-satunya pemenang wanita asal Gresik yaitu Attini Zulfayah/Zulfa (www.makmbolang.com).

Ke-5 blogger ini terpilih diantara 93 orang peserta yang mengikuti lomba, dimana di dalamnya termasuk 10 orang penulis finalis lain.  Jumlah penulis sebanyak ini, sangat di luar dugaan. Mengingat bahwa, selain topik/obyek penulisan yang minim informasi, obyek wisata di Maluku Utara sebagian besar belom banyak diulas di media nasional.  Sehingga para peserta harus bekerja extra mencari referensi, baik itu literature sejarah dan atau ilmiah, maupun foto-foto.  Alhamdulillah beberapa foto hasil jepretan saya, IG penyelenggara yaitu @visit.tidoreisland, Twitter @VTidore dan tim Ngofa Tidore yang berada di Tidore bisa banyak membantu mengatasi kendala ini.

Proses penjurian pun bukanlah gampang.  Menyeleksi 93 tulisan dengan membaca satu persatu, memilah, dan mengelompokkan setiap tulisan juga bukan pekerjaan singkat. Terkadang, ketika membaca sebuah tulisan yang cukup panjang dengan sentuhan sejarah yang kental, saya terbentur pada kebosanan membaca, dan harus mencari kebenaran akan tulisan yang sedang dibaca, sebelum akhirnya menentukan penilaian.  Lain waktu, ketika membaca beberapa tulisan dengan isi yang “tidak berat”, otak pun terhuyung ringan tanpa beban.  Di kesempatan lain,  ikut tertawa ketika membaca tulisan dengan sentilan-sentilan lucu, dan kadang juga harus memutar otak, berulangkali membaca ketika menghadapi tulisan yang tidak konsisten akan runut cerita.

Di lain pihak, blogger yang berkenan ikutpun sebagian besar adalah para langganan juara, blogger senior, dan beberapa lagi adalah mereka yang memiliki kemampuan diksi yang indah tak terkira.  Dengan waktu yang sangat terbatas, jumlah 3 juri seakan begitu padat dan sarat akan diskusi serta tukar pendapat.  Jadi ketika keputusan quorum para pemenang tercapai, perasaan lega membuncah di dalam hati.  Alhamdulillah, satu lagi tahap pekerjaan selesai setelah Launching Lomba Menulis yang diadakan persis 1.5bulan sebelum lomba menulis berakhir.

Mengapresiasi 10 Travel Blogger lainnya yang menjadi finalis dari Lomba Menulis ini, kami mengadakan pemilihan tulisan favorit pembaca melalui Facebook yang disponsori oleh FIBI Jewelry dan Ngofa Tidore Tour & Travel.  Berikut adalah para finalisnya

Pemilihan/Voting via FB ini dimenangkan oleh: Dessy Muchlinta (www.karendis.com) dengan 126 suara, Yudi Randa (www.hikayatbanda.com) dengan 94 suara, dan Dian Radiata (www.adventurose.com) dengan 66 suara.  Ketiga blogger ini mendapatkan hadiah masing-masing berupa perhiasan karya FIBI Jewelry dan 1bh suvenir dari Ngofa Tidore

Sementara untuk ke-7 blogger lainnya mendapatkan masing-masing 1bh kaos dari Ngofa Tidore.

 

TRAVEL BLOGGER GOES TO TIDORE

BERKUMPUL DI TERNATE

Karena peserta (akan) datang dari beberapa penjuru tanah air, proses pengurusan tiket pesawatpun dipersiapkan dengan sangat hati-hati.  Selain agar peserta bisa mencapai tempat keberangkatan dengan mudah, faktor lain yang turut mempengaruhi adalah pertimbangan financial yang tidak boleh keluar dari jalur utama.  Berangkat serentak dari berbagai daerah dan tiba dalam waktu yang hampir bersamaan di Ternatepun ikut menjadi bahan keputusan yang harus hati-hati dijalankan.

Untuk kami yang berangkat dari Jakarta, tentunya tidak ada hambatan yang berarti. Berangkat sedikit melewati dini hari, pkl. 02:00wib, saya, Katerina, Gathmir, dan Anita, meninggalkan Jakarta menuju Ternate berbarengan dengan 2 orang tamu kehormatan yaitu Ibu Woro Mastuti, seorang dosen budaya dari Universitas Indonesia, dan Ayu Masita seorang peneliti yang bekerja untuk sebuah NGO di Indonesia.

Tim kecil kami kemudian dilengkapi dengan Dwi Widodo, juga seorang peneliti, berangkat dari Denpasar untuk kemudian bertemu di Ternate.  Dan seorang travel blogger dari Jakarta, Tati Suherman, yang bergabung melalui Ngofa Tidore Tour & Travel.

Sementara Deddy dan Yayan berangkat dari Palembang menuju Ternate via Jakarta (ternyata sempat delay 2jam ketika berangkat dari Palembang), Eko harus menempuh jalan darat selama 8jam dari Pemalang untuk terbang dari Jogya.  Dua blogger lain yaitu Rifqi dan Zulfa berangkat bersama dari Surabaya, untuk kemudian bertemu dengan Eko yang transit di Makassar, kemudian bersama-sama menikmati connecting flight menuju Ternate.

Pengaturan jadwal terbang ini menjadi sangat ketat dan diatur sedemikian rupa agar semua bisa menyentuh Bandara Sultan Babullah Ternate di jam-jam yang hampir berdekatan dan di tanggal/hari yang sama pula.  Sekali lagi, syukur kepada Allah SWT, yang sudah memudahkan dan melancarkan perjalanan kami, sehingga berkumpulnya kami semua di Ternate terlaksana dengan baik.

Tak lupa saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Luh dan istri yang sudah mengatur penjemputan kami di Ternate, dan menyediakan 4 mobil yang sangat nyaman untuk membawa kami ke Pelabuhan Bastiong.

Kiri ke Kanan: Gathmir, Rifki, Eko, Katerina, Yayan, Zulfa, Anita Gathmir, Fia, Tati, Ayu, Deddy, Annie Nugraha, Dwi Duduk: Ibu Woro Mastuti

 

BASTIONG – PELABUHAN LAUT DI TERNATE

Setelah menyegarkan diri dengan camilan dan kopi/teh di kantin bandara, kamipun bersegera menuju mobil yang sudah dipersiapkan.  Perjalanan darat selama kurang lebih 20menit kami lalui hingga mencapai BASTIONG, salah satu pelabuhan laut di Ternate yang akan membawa kami menuju Tidore.

Pagi itu suasana pelabuhan yang nyaris sepi, pecah oleh riuh rendah celoteh, jepretan kamera, dan decakan kagum dari anggota tim yang baru pertama kali menginjakkan kaki mereka di Ternate. Air laut yang jernih dan hamparan pulau-pulau yang terbentang di hadapan mata seakan menyihir mata dan hati semua yang datang, tak terkecuali saya.

 

Puas membingkai keindahan alam melalui kamera, kamipun menaiki 2 buah speed boat yang bersandar di pojokan pelabuhan, dimana juga terparkir sebuah kapal besar milik Polisi Laut dan beberapa kapal asing yang tersandera karena melanggar batas berlayar.

IN FRAME: speed boat yang membawa sebagian besar para lajang dan koper-koper kami

 

TO ADO RE – KAMI SUDAH SAMPAI WAHAI TIDORE

Tak lebih dari 15menit kemudian, kami pun menginjakkan kaki di PELABUHAN RUM, salah satu pelabuhan tersibuk di Tidore Kepulauan.  TO ADO RE TIDORE!!  Saya sudah sampai wahai Bumi Marijang, tempat bertuah penuh dengan kebajikan.

Tak sadar bergetar hati, menitik air mata bahagia, tersengat nurani karena akhirnya bisa kembali ke sini bersama 6 Travel Blogger favorit saya.  MasyaAllah!!  Lengkap sudah janji saya kepadamu Tidore.  Kembali lagi ke daerah yang teguh mempertahankan kearifan lokal, menjunjung tinggi iman Islam, erat persaudaraan, dengan sederet rekan-rekan penulis yang akan membawa namamu lebih berkibar.

Menatap ibu-ibu yang duduk rapih berderet menjajakan buah dan makanan ringan, mata sayapun melahap pemandangan sama yang pernah saya nikmati di akhir 2016.  Bapak-bapak penawar jasa angkut, laki-laki perkasa yang memindahkan motor untuk dinaikkan ke atas perahu, dan lelaki sabar yang berkutat dengan jasa transportasi.  Semoga Allah menjawab ikhtiar kalian saudara-saudaraku.  Berusaha di jalan Allah yang Maha Pemberi rejeki dan Maha Pengasih.

Puas “mengasah” hati dan menghajar nurani agar tetap berpijak ke bumi, sahutan untuk berpose bersamapun nyaring mampir ke telinga saya.

Selesai berpose, menjawab perut yang notabene belum terjajal sarapan, kamipun tanpa jengah dan sungkan, duduk melantai di jejeran papan yang kuat berdiri menyanggah lalu lintas dan kesibukan Pelabuhan Rum.

Sambil menunggu rekan-rekan Ngofa Tidore yang berencana menjemput kami, sebungkus besar nasi uduk dengan lauk ikan goreng, mie goreng, telor balado, dan sejumput sambalpun, dilahap pelan-pelan.  Sesekali kami harus menggeser posisi duduk karena diminta untuk memberikan ruang gerak bagi yang lain.  Geser sedikit, suap berkali-kali hahahaha.  Perlahan tapi pasti, nasi sebungkus besar pun akhirnya begah mengisi lambung.  Selanjutnya, diriku pun bengong, ngambang kekenyangan.  Penglihatan yang tadinya lamur karena kelaparan, mendadak melotot karena nasi berlebihan.  Entah apa kejadian yang sama menimpa teman-teman lain.  Tapi bagi saya, yang berumur skala maghrib, makan terlalu kenyang dengan porsi nasi ala kuli, bikin otak dan badan lebih lemas hahahaha.

 

DAN PENJELAJAHAN HARI KE-1 DIMULAI

Menyelesaikan baku dapa dengan saudara-saudara di Rum, kami melanjutkan perjalanan hari ke-1 ini dengan semangat yang tetap membuncah.  Saya sempat berteriak ketika mobil melaju ke arah kiri pelabuhan.  “Loh, kok mutarnya menjauh?”, tanya saya ke supir kami.  “Minta diarahkan ke Cobo dulu Ci”.  Aahh, saya cuma mengangguk dengan kening berkerut.  Mau ke Soasio, kok ngambil rute keliling sih yak, kan jadi lebih jauh.  Tidak sampai 5menit berikutnya, rasa penasaran saya terjawab.

Tetiba dan lagi-lagi  perasaan haru mampir ke relung kalbu. Di hadapan saya berdiri Bapak Yakub Husain (Kepala Dinas Pariwisata Tidore Kepulauan), Alloed/Gogo dan ke-2 temannya berbaju putih siap membawakan Tari Kapita, serta beberapa bujangan-bujangan ganteng yang sudah seperti anak-anak saya sendiri.

Kembali, sendu cengeng pun menghinggapi saya.  Menyaksikan bagaimana sebuah tarian adat untuk menyambut tamu agung yang dipersembahkan kepada ke-5 pemenang lomba menulis blog.  Dilanjutkan dengan pengalungan bunga persahabatan kepada penulis-penulis handal ini, kemudian dilanjutkan untuk saya dan untuk Ibu Woro Mastuti.  Kepalan tangan kuat sengaja saya berikan kepada Ko Yakub sambil berkata “Ko, ini janji saya untuk Tidore ya”

 

 

 

Melewati upacara penyambutan yang tak terduga dan penuh keakraban ini, semua yang hadir pun saling bersapa, dan saling berkenalan, terutama untuk teman-teman bloggers dan para tetamu yang ikut dalam rombongan kali ini.  Obrolan demi obrolan pun mengalir begitu saja seolah semua sudah pernah bertemu bertahun-tahun yang lalu.

Acara pun dilanjutkan dengan mengunjungi Tugu Kedatangan Bangsa Spanyol yang menandakan kedatangan bangsa ini pertama kalinya di Tidore, yang di pimpin oleh Juan Sebastian Elcano.  Membawa 2 kapal besar yaitu Trinidad dan Victoria, Elcano dan awak kapalnya, merapat ke Tidore pada 8 November 1521.  Untuk mengenang sejarah ini, Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia, membangun sebuah tugu peringatan yang dilengkapi prasasti berbatu hitam di kelurahan Rum (dekat pelabuhan) pada 30 Maret 1993.  Tak mau melewati saat penting ini, kami pun mengabadikan kebersamaan di tempat ini.

Foto : Rifki Faiza Rahman (www.papanpelangi.com)

Menghabiskan waktu sekitar 30menit untuk beramah tamah, perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Cobo.  Mobilpun melaju pelan seakan mengerti bahwa kami ingin menyaksikan setiap inci keindahan laut yang terus mendampingi selama perjalanan.  Decak kagum tak henti muncul dari mulut kami.  Saya pun lepas bercerita ke teman-teman lain bahwa cantiknya laut Tidore akan bisa tetap dinikmati di setiap kedipan mata, dimanapun kita nongkrong, dimanapun kita berada.  Dan gak usah menunggu terlalu lama, dalam beberapa menit kemudian, kami terpapar dengan pesona Tanjung Mafututu dengan dinding tikungan jalan dan keindahan sudut foto yang terlalu cantik untuk dilewatkan.

Puas berfoto-foto di tengah sengatan matahari cabang Tanjung Mafututu, roda mobilpun membawa kami berkeliling sebagian pulau untuk kemudian menuju ke RESTORAN SAFIRA di Kelurahan Cobodoe.  Shafira adalah salah satu sponsor event ini.  Resto dengan menu utama hidangan khas Tidore ini juga adalah salah satu produsen kue LAPIS TIDORE yang sangat digemari untuk dijadikan buah tangan para wisatawan.

 

RESTORAN SAFIRA BEACH – COBODOE

Memasuki gerbang besar di pinggir jalan utama dan melewati rumah pemiliknya yang terlihat adem dan nyaman, kami menuju saung dengan deretan tempat duduk di pinggir pantai untuk menggali kuliner khas Tidore di resto ini.

Di tengah kepungan teriakan kami, tamu tanpa malu, yang dahaga dan butuh air dingin, berbagai macam hidangan telah lengkap tersaji rapi di meja panjang tanpa kami sadari.  Mendadak air liur meluncur di pinggir bibir.  Teringat nasi uduk yang baru 2jam lalu parkir di lambung, saya pun melewati masa galau yang terhubung antara logika, selera, dan niat baik cacing serta naga yang terpelihara dengan baik di dalam perut MELAWAN hidangan super duper menggoda.

Coba aja liat makanan-makanan ini, gimana coba mau menolak? Ada KASBI (roti parutan singkong yang sering disebut sebagai sagu singkong).  Terus ada GOHU (sashimi ala Tidore alias ikan mentah dicampur beberapa bumbu masak dan dibiarkan matang dengan cara disiram minyak kelapa mendidih),  SOP IKAN yang kuahnya seger pake banget, IKAN KAKAP yang disiram sambal dabu-dabu dan satu lagi diolah dengan sambal uleg kasar, plus OSENG sayur yang melengkapi keseluruhan sajian siang itu.

 

Dari sekian banyak menu, saya punya kesan tersendiri untuk KASBI dan GOHU.

Pada kunjungan pertama ke Tidore, saya sempat diajak ke Kelurahan Jaya untuk melihat dan menyaksikan secara langsung proses pembuatan roti ini.  Tulisannya bisa dilihat di tautan ini  Pembuat Kasbi atau roti singkong parut ini, menurut informasi yang saya dapat, hanya membuat penganan khas yang tetap dipanggil sagu ini, sehari sebelum hari pasar.  Jadi kita tidak selalu bisa meliput ke tempat/rumah si pembuat.  Kelangkaan jumlah pembuatnya pun menorehkan cerita betapa sulitnya menemukan kesempatan untuk berbaku sapa dengan yang bersangkutan.

Untuk Gohu, pernah juga saya tuliskan sebelumnya.  Tautannya ada di sini. Setelah awalnya sempat kedap kedip liat potongan ikan berselimut putih, saya pun memberanikan diri untuk mencoba lauk yang satu ini di rumah makan milik orang tua Sadam/Bams.  Hasilnya? Sejak saat itu, makanan pertama yang saya tanyakan di setiap tempat, adalah Gohu hahahaha.

Saya pun akhirnya menemukan strategi makan yang paling pas untuk ke-2 santapan di atas.  Pertama, harus dimakan dalam keadaan masih hangat dan baru selesai dimasak alias fresh from the oven.  Kedua, bikin tumpukan sandwich layaknya roti ala Amerika.  Kasbi di lapisan bawah, Gohu berderet rapih di tengah, dan ditutup dengan Kasbi (lagi) di bagian atas.  Mantab kiamat!! Ngana pasti terkapar keenakan jika mengikuti saya punya cara.

Balik lagi soal Safira (sambil ngelap iler membayangkan Kasbi dan Gohu).

Salah satu resto besar di Tidore milik H. Awat ini, memberikan kesan teduh dengan banyaknya tanaman di berbagai sudut.  Gazebo tempat makan pun terbuat dari bambu, sehingga dapat menahan sinar matahari yang ada kalanya menyengat dari atas kepala.  Duduk di gazebo ini, kita bisa memandang laut lepas dan Pulau Failonga yang terlihat hijau dan kecil.  Di sudut kanan, terparkir beberapa speed boat milik Shafira dan tambak penangkapan ikan yang harus didoakan dulu oleh orang pintar agar dapat ikan yang banyak.  Laut yang terlihat tenang, terasa pas sekali untuk bercengkrama dengan keluarga sambil menikmati makanan yang menyelerakan.

Sesekali saya tercenung melihat seekor bebek yang berjalan santai di atas pasir dengan anak-anaknya yang mengekor di belakang.  Ketiadaan ombak sepertinya memberikan kenyamanan untuk mereka mondar mandir.  Bahkan ada beberapa saat, emak dan anak-anak ini berhenti di bawah pohon dan mencoba mencari sesuatu untuk disantap.

 

 

Siang menuju sore di Safira ini, membawa kami berlama-lama terhuyung kantuk dengan perut yang penuh terisi.  Langit sudah mulai gelap ketika kami terkapar kekenyangan.  Hujan rintik-rintik hingga deras pun menghujan bumi pada akhirnya.  Tapi keseganan untuk beralih tergeser dengan liputan membuat kue Lapis Tidore di salah satu dapur milik resto.

Seperti yang disampaikan kepada kami, Lapis Tidore ini dibuat dalam beberapa tangkap bolu dengan selai diantaranya.  Kekhasan lapis dari Tidore adalah selainya terbuat dari kacang kenari (kacang yang sering sekali digunakan di setiap menu masakan khas Tidore), gula aren merah, dan kayu manis.  Selai ini dikenal dengan nama Kica.

Tak tahan godaan iman melihat kue yang sudah terhidang di piring kecil, saya pun kabur sambil menggondol 3 potong kue ini.  Enak pake bingit!!

Menunggu teman-teman blogger menunaikan tugas meliput Lapis Tidore Safira, mata saya yang mulai menyipit menahan kantuk, tetiba terbuka kembali ketika duo Glen Fredly asal Tidore favorit saya (Koken dan Erros) mulai memainkan gitar dan melantunkan suara merdu mereka memecah kesunyian.  Lengkap sudah kesenangan kami di Safira hari ini.  Malu-malu meong, saya pun menyambut ajakan Koken untuk bernyanyi.  Cukup 1 lagu aja ya Mas Bro.  Kalo lebih takutnya saya khilaf gak mau turun panggung.  Ngeri kalo-kalo bebek yang lewat tadi mendadak mati mendengar suara saya.

Kaki terseok-seok mengiringi kepulangan kami dari Shafira menuju PENGINAPAN SEROJA yang berada di Keluarahan Soasio.  Mari istirahat dulu sebelum bersiap menghadiri jamuan makan malam yang diadakan panitia di Gurabunga untuk menyambut kedatangan kami.

BERSAMBUNG

 

Jika teman-teman berkenan mencoba dan atau memesan Lapis Tidore, silahkan menghubungi IG dan nomor berikut ini.  Saya cantumkan juga nomor telepon Resto Safira Beach jika ingin mampir menikmati sajian lezat khas Safira.

Safira Beach:  IG @safirabeachresto, Telepon: 0813-2698-4446

Lapis Tidore: IG @lapistidoresafira, Telepon: 0811-1010-444

Facebook Comment