Photo taken by: Rifki Faiza Rahman

 

Sesuai dengan agenda Tidore Festival 2017 dalam rangka Hari Jadi Tidore ke-909, tanggal 9 April 2017 mulai pkl. 20:00 wib s/d selesai, akan digelar Upacara Pembukaan atau RORA AKE DANGO dari rangkaian perlehatan besar ini di Gurabunga.

Hari itu, selepas membersihkan diri dari kegiatan basah-basahan di Tanjung Konde dan serentetan keceriaan di Cobo, rombongan kami sempat beristirahat sejenak di penginapan Seroja dan mempersiapkan diri untuk menuju Gurabunga.  Bagi saya, inilah kali ke-2 menapakkan kaki di Gurabunga pada malam hari dan kali pertama merasakan sebuah upacara sakral dengan nuansa yang sangat kental akan adat istiadat.

RORA AKE DANGO yang dilaksanakan di Sonine Gurua (Gurabunga) ba’da Isya hingga menjelang Subuh, adalah upacara menyatukan air yang telah disemayamkan di masing-masing rumah Sowohi Soa Romtoha Tomayou sebelumnya.  Air ini diambil malam hari di Kie Mari’jang, setelah Malam Ramah Tamah yang diadakan 1 hari sebelumnya.  Dalam ritual Rora Ake Dango anak keturunan Soa Romtoha Tomayou akan melakukan MORO MORO dan KABATA (seni berbalas pantun) yang berisikan pesan-pesan leluhur untuk dijaga oleh seluruh masyarakat adat Tidore.

Dihadiri oleh Sultan H. Husain Syah, Walikota Tidore – H. Ali Ibrahim, para 6 Sowohi, para Bobato Adat, jajaran pejabat kota Tidore dan Ternate, tamu-tamu khusus termasuk kami, para Travel Blogger, dan beberapa perwakilan dari Kementrian Pariwisata RI (Jakarta) serta masyarakat Tidore, acara ini dikelilingi oleh ratusan obor tergenggam sumbu-sumbu yang terpasang di bambu-bambu.  Aliran listrik yang dimatikan penuh di desa ini, menjadikan upacara ini semakin khusyuk.  Beberapa menit, setelah listrik total dipadamkan, saya merasakan begitu banyak manusia mengelilingi lapangan sepakbola, tempat dilaksanakannya acara, berpakaian putih dan mengenakan Besu (topi khas Tidore).

Besu ini dibuat dan dikenakan sesuai dengan jabatan/kedudukan laki-laki yang memakainya.  Untuk Tetua Adat (Para Sowohi) seperti foto di bawah ini, Besu berwarna putih dengan tutup memanjang ke belakang.  Begitu sempurna melengkapi jubah full putih yang menjadi ciri khas Sowohi.  Sementara untuk Sultan, bagian tutup dibuat berdiri tinggi, yang memposisikan bahwa beliaulah pimpinan tertinggi (lihat foto atas).

Para Sowohi (Tetua Adat) Tidore. Photo taken by: Rifki Faiza Rahman

Mengikuti doa yang begitu bermakna dengan untaian kalimat-kalimat penuh harapan akan keselamatan, kebahagiaan, dan kemakmuran bagi Tidore, suasana hening begitu merasuk hingga ke lubuk hati yang paling dalam.  Walau sempat terkantuk-kantuk karena kenyang menyantap sayur lilin yang dihidangkan oleh Ibunya Alud (Gogo), kami menyaksikan prosesi Rora Ake Dango dengan penuh hikmat.

Terdengar suara kencang memanggil dari arah Masjid, kemudian disusul dengan kedatangan Sowohi beserta anak keturunan, satu persatu, dari arah yang berbeda-beda.  Beberapa detik setelah panggilan tersebut menggema (ini bikin saya merinding), Sowohi akan berjalan diikuti oleh sekitar 8-10 orang wanita berbaju putih, mengenakan rok batik, mengikatkan dadanya dengan kain batik, dan beberapa dari mereka membawa obor.

Persis di belakang Sowohi, ada 1 wanita yang khusus membawa air suci di dalam bambu.  Air ini kemudian dimasukkan ke dalam sebuah Bambu Besar.  Tampak bambu ini berdiri miring, diselimuti kain putih dan dikelilingi oleh pagar setinggi sekitar 1.5meter berhiaskan janur.  Penuangan air ini dikawal dan disaksikan oleh seorang Baboto Adat berbaju hitam.

Photo taken by: Rifki Faiza Rahman
Photo taken by: Rifki Faiza Rahman

Proses ini terus berlangsung hingga ke-6 Sowohi hadir dengan upacara yang sama.  Para wanita pengiring ini kemudian berdiri di sekeliling area upacara dan hening membubarkan diri setelah prosesi penuangan air suci selesai dilaksanakan.

Yang sempat membuat bulu kudu berdiri adalah ketika di tengah-tengah acara berlangsung, terdengar lolongan anjing yang sangat panjang dalam beberapa menit.  Lolongannya menyayat hati dan sahut menyahut dari beberapa ekor anjing.  Walaupun sudah berkali-kali diberitahu bahwa Tidore (juga) adalah tanah dengan seribu jin, rasa ngilu tetap menyerang diri.  Apalagi ditambah dengan lantunan musik yang mendayu dan mengalun tanpa henti.  Seakan setiap note nada mengajak kita untuk merenung, menginstropeksi diri, dan larut dalam kerendahan hati.

Musik ini digunakan oleh Ko Sofyan Daud untuk video BORERO GOSIMO yang dapat Anda nikmati melalui link ini.  Alunan nada yang mengiringi pembacaan Pesan Leluhur yang dibacakan oleh Sultan inilah yang turut melengkapi acara Rora Ake Dango.

 

SAMBUTAN SULTAN H. HUSAIN SYAH

Di dalam sambutannya pada malam itu, Sultan mengajak seluruh yang hadir untuk ikut serta secara aktif melestarikan budaya bangsa, khususnya Tidore.  Beliau berseru agar kita mau dan mampu merawat kekayaan identitas Bumi Marijang yang sarat akan makna dan nilai sejarah.  Menjadikan Tidore sebagai bumi bermartabat dan tetap diingat sebagai salah satu daerah pemersatu negara Republik Indonesia.

Salah satu nokhtah sejarah yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa Tidore memiliki sejarah masa lalu yang penting sebagai kawasan satelit maritim dunia selain Ternate, Jailolo, Bacan dan Loloda karena menjadi pusat perniagaan rempah dunia pada abad ke-16.  Tidore juga berkontribusi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan geografi, karena menjadi titik nol dunia yang membuktikan bahwa bentuk bumi adalah bulat bukan datar, setelah ekspedisi keliling dunia pertama yang dilakukan oleh Magellan Del Cano sekitar 493 tahun yang lalu.  Karena itulah, pada perayaan Hari Jadi Tidore ke-909 ini, semboyan Merawat Tradisi, Mempertegas Jati Diri Bangsa Maritim, diusung sebagai tema utama dari rangkaian Tidore Festival 2017.

Disela-sela pidato beliau yang sangat menggugah, saya cukup dikagetkan dengan ucapan terimakasih yang disampaikan beliau kepada Ngofa Tidore, saya pribadi, dan seluruh Travel Blogger yang telah turut membantu mensosialisasikan Tidore.  Mendapatkan apresiasi seperti ini, terutama dengan menyebutkan nama kita, bagaikan berdiri diantara hujan emas yang turun tanpa henti.  Air mata pun menggantung di pelupuk mata saya seiring dengan tepuk tangan yang menggema di sekitar saya berdiri.

Rasa terimakasih sesungguhnya harus berasal dari saya Jou.  Penghargaan tak terhingga karena saya, seorang ibu yang biasa-biasa saja, bukan berdarah keturunan Tidore, dan bisa menjadi bagian dari kemegahan Tidore Festival 2017.  Merupakan suatu kehormatan dan pengalaman yang tidak akan terlupakan dalam sejarah hidup saya, karena telah diberikan kepercayaan untuk membantu Ngofa Tidore, agar lebih bergaung di sektor pariwisata nasional dan internasional.  Semoga Allah SWT merahmati setiap jengkal langkah bumi yang penuh dengan kearifan ini, menjadi salah satu tonggak sejarah yang bernilai.

 

KEBERSAMAAN dan MEWARISKAN BUDAYA LELUHUR

Menutup rangkaian acara yang sangat berkesan ini, kami semua menikmati Tarian Kapita dalam formasi 30 penari pria.  Berpakaian putih dengan ikat kepala putih dan ikat kepala merah, tarian ini tidak saja menghibur, tapi juga memberikan tanda betapa budaya tari di Tidore adalah salah satu warisan yang harus tetap dijaga.

Sanggar Rau Gabi Gurabunga nampaknya telah sangat memperhatikan mengenai ini.  Tampil menari di depan khalayak dari berbagai usia, bahkan penari termuda masih berusia 5tahun, Tarian Kapita dihujani tepuk tangan yang menggema dari awal hingga akhir.  Rasa bangga bukan hanya untuk warga Gurabunga, tapi juga untuk kami yang mencintai kekayaan budaya tanah air Indonesia.

Photo taken by: Rifki Faiza Rahman

Selain tarian penyambut tamu agung yang penuh semangat ini, kami juga dihibur dengan salah satu budaya tradisional berupa rangkaian pantun penuh nasihat yang disebut KABATA.  Pantun indah ini disampaikan melalui sebuah nyanyian sambil menumbuk padi.  Hentakan-hentakan kayu (Dutu Ma Ngofa) ke dalam lumbung padi, yang dibawakan oleh beberapa orang pria dan wanita ini, mengiringi pantun yang bersahut-sahutan dalam irama yang memanjakan telinga.  Satu lagi budaya asli Tidore yang wajib dilestarikan.

 

Rora Ake Dango.  Perayaan sejuta makna yang akan terukir indah tanpa cela di dalam catatan sejarah hidup saya.

 

BERSAMBUNG

Facebook Comment