Buku Antologi ini sejatinya adalah cermin dari budaya gotong royong yang sesungguhnya.  Dikerjakan bersama oleh beberapa Travel Writer dan Blogger (Zulfa, Deddy, Dwi, Eko, Evy, Yayan, Katerina, Rifqy, Tati, dan saya) dengan bonus 2 orang budayawan dan sejarawan hebat (Ibu Woro dan Ko Sofyan Daud), 1 orang PNS Bea Cukai (yang sejatinya juga adalah seorang penulis hebat) (Shiddiq Gandhi), serta putra putri daerah Tidore (Ko Burhan Faroek, Saddam “Bams” Abdul Azis, Syafril Idrus, Putra Putri Jou Lamo/Sultan Tidore, dan Anita Gathmir).

Adalah seorang Bapak Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatra), berwajah sumeh dan selalu penuh semangat, Eko Nurhuda, yang mendadak dalam satu ketika kejatuhan wangsit, mendapatkan ide, untuk memberikan hadiah istimewa kepada Tidore.  Hadiah khusus meramaikan Hari Jadi Tidore (HJT) ke-910 yang jatuh pada 12 April 2018.  Kenapa saya bilang istimewa? Karena sangat jarang terjadi, di sebuah ulang tahun, yang ulang tahun dapat kado buku sarat ulasan cinta tentang dirinya.  Ditambah lagi, buku yang dibuat adalah proyek Indie, tanpa sponsor, dan murni swadaya. Tuh coba.  Kalau bukan karena cinta, rasanya gak ada alasan logis lain yang mampu menjelaskan.

Dengan persiapan tidak lebih dari 2 bulan, di bawah koordinasi Eko yang menyusun kerjasama dengan penerbit Sixmidad Lamongan, gawean apik penuh perjuangan ini akhirnya bisa selesai tepat waktu, dan gencar disosialisasikan persis H-1 sebelum kemegahan HJT berkibar seantero nusantara.  Mau nanya upaya jungkir balik usaha Eko untuk proyek ini? Sila hubungi beliau langsung atau main-main lah ke blog beliau www.bungeko.com ya.

 

MENGUPAS ISI BUKU

Perlu saya sampaikan bahwa kupasan dan atau ulasan remah rempeyek jagung berikut ini adalah sudut pandang pribadi, gado-gado antara memori saya dengan penulis (nama yang disebutkan), isi tulisan yang bersangkutan di dalam buku, dan catatan kenangan akan Tidore yang tertoreh dan terekam tanpa bisa dilupakan.  Bahasan juga dibuat atau dipilih secara acak tanpa tendensi prestasi atau urusan penilaian apapun.

Haryadi Yansyah (Yayan)

TIDORE | Bukti Betapa Indonesia Itu Kaya

Tulisan Yayan yang bercengkrama dengan Aunty Jamilah ini adalah salah satu dari 5 tulisan jawara pada Lomba Menulis bertemakan Tidore Untuk Indonesia.  Menempatkan seorang Aunty sebagai sasaran bercerita, saya mengagumi cara Yayan mencampurkan cara berkisah dengan seseorang sambil mengulik sejarah yang cukup panjang untuk diurai.  Ide unik pencuri hati juri yang tidak saya temukan di 90an tulisan blogger lain untuk Tidore.  Dan kalo melihat, membaca rinci untaian kalimat yang dibagi atas beberapa segmen (Sejarah, Rempah, Keindahan Alam, Budaya, Kuliner, dan Peradaban Islam) Yayan setidaknya mencangkul sekian banyak informasi, membaca referensi berulang kali, sampai akhirnya cerdik memilih apa yang patut dicantumkan.  Demi apa? Yaaahh demi menang lomba lah.  Dari yang hanya tau melalui tulisan sampe akhirnya benar-benar menginjakkan kaki di Tidore.

Sosok-Sosok Misterius di Pulau Seribu Jin

Saya terpapar dengan tulisan Yayan yang satu ini.  Membaca judulnya aja, langsung penasaran dengan isinya.  Seperti yang sering Sultan Husain Sjah sampaikan di hampir setiap orasinya, Tidore bukan hanya sering disebut sebagai negri seribu masjid, tapi juga negri seribu jin.  Jadi ketika sedikit demi sedikit, akhirnya “berkenalan” dengan “mereka”, ulasan lugas Yayan membuat artikel ini sesuatu banget.

Kenapa jadi istimewa? Karena jarang sekali sesuatu di luar nalar mau tampil “menyapa” manusia, begitupun sebaliknya.  Tapi harus kita sadari bahwa mereka pun sesungguhnya benar-benar ada entah kita sadari atau tidak.  Buat yang (sempat) ragu, seperti awalnya Yayan yang tidak begitu mengindahkan peringatan untuk tidak melihat sebuah sumur besar di Benteng Torre, akhirnya benar-benar dicoel sama yang punya tempat hahahaha.  Ketawa kecut saya pun pecah ketika Yayan berlari kecil kemudian membisikkan bahwa “barusan ada yang menyapa“, saya pun tergelak, walau terus terang yang Yayan dan saya liat itu berbeda.  Tapi sutralah, mungkin rejekinya Yayan ya ketemu versi junior nya.  Bagian saya ketemu dengan embahnya  (((salam kompak Mbak))).

Satu lagi yang sangat berkesan adalah ketika kami mengikuti prosesi Rora Ake Dango yang diadakan di Kelurahan Gurabunga.  Suasana menjadi semakin menggetarkan ketika semua lampu PLN harus dimatikan dan semua yang hadir hanya menikmati cahaya lilin dan atau obor yang dipasang di sekeliling lapangan luas milik Gurabunga.  Bahkan sempat tercekat ketika di tengah-tengah sambutan Sultan, terdengar suara beberapa (catet ya … beberapa…) anjing melolong panjang dan cukup lama.  Saya cuma bisa menunduk dan beristighfar.

Satu yang pasti, sebagai mabesnya para tetua adat, Gurabunga, meninggalkan memori tak terkira.  Keramahan kepada tamu, kekeluargaan, kebersamaan, dan rasa gotong-royong yang tak bisa tergantikan dengan apapun.  Itulah Gurabunga.

Tapi walaupun sempat diliputi kejadian horor, seperti kata Yayan, tidak ada secuil pun rasa menyesal tersimpan di hati.  Malah pengennya balik lagi ke Tidore.  Lagi dan lagi  (((bukan iklan))).

 

Dwi Setijo Widodo (Dwi)

TO ADO RE | Mengenal dan Mengenang Tidore

Dalam tulisannya, Dwi mengajak kita menemukan apa dan bagaimana dia bisa menyentuh Tidore.  Berangkat dari moto kaki gatel dan gelitikan penasaran akan tempat-tempat baru di Indonesia Timur, adalah Ayu Masita (rekan Dwi, sesama peneliti) yang akhirnya berhasil mengajak Dwi untuk bergabung dengan Tim Blogger yang datang dari beberapa penjuru tanah air.

Melengkapi apa yang sudah ditulis Yayan, paparan sejarah tentang Tidore teurai sempurna berbarengan dengan apa yang dirasakan Dwi dibalik keputusannya untuk berangkat dan pertemuan heboh pertamanya dengan seluruh anggota rombongan sirkus.  Disinilah pembaca diajak untuk tahu lebih jauh tentang Tidore, lembar per lembar.  Kota administratif berukuran kecil yang merupakan bagian dari Provinsi Maluku Utara dan sedang berjuang untuk lebih mensosialisasikan dirinya di kancah pariwisata domestik dan internasional.

Tak lupa, Dwi pun menceritakan pengalaman kuliner yang berbeda selama di Tidore dan beberapa tips bagaimana menuju dan menjelajah Tidore.  Bagian penting dari keseluruhan cerita yang patut disimak oleh wisatawan dan tentu saja para pembaca.

 

Dwi Woro Retno Mastuti (Woro)

Pesona Manisan Buah Pala Tidore

Sebelum membaca lengkap tulisan Bu Woro, saya sering tertawa sendiri mengingat beberapa kejadian lucu dan penuh tawa bersama beliau selama berada di Tidore.  Akademisi UI sarat pengetahuan mengenai wayang ini, tampak selalu bersemangat di usianya yang sudah lebih dari 1/2 abad.  Benar-benar perlu dicontoh dan jadi panutan bagi semua anggota tim.

Seperti yang saya duga, Bu Woro pasti akan menulis soal Pala.  Salah satu tanaman yang menjadi idola para penjajah yang sempat menduduki Tidore di jaman dahulu kala dan buah yang jadi favorit beliau dalam setiap jejak perjalanan.  Adalah manisan pala, dikupas dalam sebuah cerita panjang kali lebar yang tak pernah habisnya.  Mulai dari bagaimana pertama kali bertemu dan membelinya di Pelabuhan Rum, rentetan kosa kata akan kelezatan si manisan, kesan penuh cinta akan buah yang mengandung atsiri 7-14%, sampe segala rincian tentang khasiat dari buah ini.  Di bagian ini, saya baru tahu kalau pohon pala itu ada yang jantan dan ada yang betina.  Ya ampun.  Daaan ketawa saya pun berlanjut tanpa bisa ditahan.

 

Rifqy Faiza Rahman (Rifqy)

To Ado Re, Sultan

Tulisan Rifqy tenang Sultan Nuku mendapatkan nilai tertinggi di skala pengukuran penjurian saya, ketika tulisannya saya baca pada Lomba Menulis Tentang Tidore tahun lalu (2017).  Sebagai seorang akademisi yang sering bergulat dengan karya ilmiah, menemukan sebuah “tulisan serius” yang berkiblat pada sebuah Disertasi, untuk sebuah lomba dengan aliran diksi yang berbeda, bagi saya, memunculkan nilai plus tersendiri.

Dibesarkan oleh sepasang orang tua yang berpendidikan tinggi, Rifqy tentunya sudah terbiasa beradaptasi dengan lembar-lembar tulisan berbobot.  Paragraf demi paragraf mengantarkan kita untuk mengenal Sultan Nuku dengan lebih jauh.  Baik itu sekilas tentang kehidupan pribadi beliau dan, tentu saja, sejarah perjuangan beliau membebaskan Tidore dari pelukan beberapa negara penjajah.  Ada satu paragraf yang begitu mengesankan

Sultan Nuku bukanlah yang pertama dalam tahta Kesultanan Tidore.  Tapi lewat Revolusi Tidore lah namanya melambung.  Ia seakan ditakdirkan Tuhan untuk membuka mata dunia bahwa Tidore tak bisa dipandang sebelah mata

Untaian kata dan kalimat yang menohok kalbu.  Jadi ketika pemerintah RI mengangkat beliau sebagai Pahlawan Nasional dari Maluku Utara, sebuah keputusan tepat sudah dibuat.  Apalagi ketika pembaca menemukan uraian singkat Rifqy tentang bagaimana strategi Sultan Nuku dalam berjuang dan sebuah fakta yang menyebutkan bahwa lebih dari seperempat abad usianya, beliau langsung terlibat dalam peperangan dan tidak tinggal di dalam Kadato (Keraton) Kesultanan Tidore, demi terbebas dari para penjajah.

 

Kidung Sahaja Orang-Orang Gurabunga

Selesai rangkaian HJT ke-909, sebagian besar dari kami menghabiskan waktu di Ternate sementara Rifqy dan Eko tetap tinggal di Tidore dan menghabiskan waktu-waktu berkesan di Gurabunga.

Selain melebur dengan warga desa (para pemuda dan anak-anak), Rifqy menceritakan bagaimana dia dan Eko diajak untuk membuat alas kalasa (tikar tradisional Tidore) di rumah Bapak Ibrahim Ahmad, salah seorang Sowohi dari marga Tosofu Malamo.

Mengutip sebuah kidung indah tentang Gurabunga yang tertulis di sebuah buku Biografi berjudul Laki Laki Dari Tidore karya Alberthine Endah, Rifqy mengulas betapa istimewanya hidup warga Gurabunga di tengah kekayaan alam dan menghidupkan diri juga dari alam.  Keistimewaan Gurabunga sebagai kiblat peristiwa penting dalam sejarah Tidore juga diceritakan Rifqy.  Seperti pemlihan Sultan dalam sebuah tradisi dan proses pengangkatan sumpah yang diselenggarakan dalam sebuah acara adat (bobeto).  Sungguh sebuah peran yang sangat penting dalam menjaga adat istiadat dan tradisi tanah leluhur.

Menghabiskan waktu beberapa hari berinteraksi dengan beberapa pemuda yang sangat menjunjung tinggi kejayaan Gurabunga, saya terharu membaca tulisan Rifqy akan kesan mendalam dia dan Eko selama disambut sebagai bagian dari keluarga besar Gurabunga.  Sungguh adalah catatan sejarah pribadi yang akan terkenang seumur hidup.

 

Burhan Faroek (Ko Burhan)

Sejarah Ringkas Hari Jadi Tidore

Sebagai seorang putra daerah dan anak dari Jojau (Perdana Mentri) Kesultanan Tidore (Bpk. M. Amin Faroek), ulasan beliau akan tanah leluhur tentunya tidak diragukan.  Entah sudah berapa banyak diskusi-diskusi berkualitas saya habiskan dengan beliau selama kami mengenal satu sama lain.  Saya terkagum ketika mengetahui bahwa Ko Burhan sudah banyak menulis tentang Tidore dan begitu concern akan dunia pendidikan.

Keputusan Ko Burhan, begitu saya memanggil beliau, untuk menulis topik di atas, sangat tepat.  Selain agar kita tahu bagaimana sejarah keputusan ditetapkannya 12 April sebagai Hari Jadi Tidore (HJT), memasukkan artikel ini ke dalam buku To Ado Re menjadikan bacaan ini sangat pas dijadikan kado HJT yang ke-910.  Jejak catatan yang wajib tersimpan dan diketahui tidak hanya oleh anak keturunan Tidore, tapi juga untuk publik luas yang ingin mengetahui lebih banyak akan sejarah administratif berdirinya Tidore.

 

Attini Zulfayah (Zulfa)

Merayakan Hari Jadi Tidore

Zulfa adalah satu-satunya pemenang wanita dalam lomba menulis tentang Tidore.  Populer dengan skill membuat video-video cantik dan berkali-kali terlibat dalam nge-vlog nya keluarga besar Net TV, Ibu seorang bocah laki-laki ini tampak gesit merekam setiap kegiatan yang kami ikuti selama di Tidore, yang kemudian tertuang dalam sebuah tulisan yang berkualitas.

Melalui artikel ini, Zulfa mengkisahkan semua yang dialaminya mulai dari Bambu Gila di acara festival makanan di Gurabunga (dipersiapkan khusus menyambut Tim Blogger), Rora Ake Dango, Parade Juanga (Napak Tilas Perjuangan Melawan Penjajah), Paji Nyili Nyili, dan Acara Puncak HJT ke-909.  Semua terurari dengan kalimat-kalimat apik, rinci, dan membawa kita seakan-akan berada di tempat kejadian.

Bacalah tulisan Zulfa yang satu ini pelan-pelan agar setiap catatan sejarah penting yang terdapat di dalamnya bisa memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang tanah seribu kebajikan yang tenang dan damai ini.

Kekayaan Hayati Laut Tidore

Berulangkali membaca ulasan Zulfa akan indahnya laut Tidore dan seisinya, saya jadi tercenung mengenang keceriaan kami ketika menikmati laut yang mengelilingi pulau kecil ini.  Indahnya Zulfa mengekspresikan keistimewaan kekayaan hayati melalui kata-kata “berisi” meninggalkan memori penuh makna.  Jangankan kami yang mengalami sendiri, saya yakin para pembaca yang walaupun belum sama sekali menginjakkan kaki di negeri penuh ma’rifah ini, akan terkesan dengan semua yang Zulfa tulis.

Satu paragraf yang jadi perhatian dan mengesankan saya adalah

Menatap harmoni kehidupan di depan mata, diiringi pancaran sang mentari mengawali hari pertama di Tidore, membawa kesan kehangatan tersendiri.  Sejenak saya termenung, sebuah pemaknaan tentang arti kekayaan hidup sesungguhnya.  Dalam kesederhanaan hidup masyarakat Tidore, justru saya menemukan bahwa mereka adalah sebenar-benar orang kaya sesungguhnya.  Sebuah kenikmatan tersendiri ketika lautan dengan ribuan ikan serta tanaman yang tumbuh bahagia semua ada di halaman rumah

Berharap, jika buku ini bisa menembus angka penjualan tinggi dan bisa dicetak dengan foto-foto berwarna, Zulfa bisa menambahkan foto-foto snorkeling dengan keindahan wajah bawah laut yang indahnya tak terkira.

 

Syafril Idrus (Il)

Tradisi Jumat Mad di Tidore

Bujangan yang mengelola media on line untuk tanah leluhurnya ini menuliskan sebuah tradisi, adat istiadat, yang menjadi kebiasaan masyarakat Tidore yaitu Jumat Mad.  Malam Jumat dimana masyarakat Tidore keluar rumah, berpakaian rapih dan wangi, untuk melakukan pengajian.  Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga sudah dianggap sebagai tradisi.

Begitupun keesokan harinya, yaitu hari Jumat, yang dalam agama Islam adalah hari istimewa (sayyidul ayyam), masyarakat pun melakukan berbagai kegiatan doa dan ibadah hingga bertemu dengan hari esoknya lagi.  Tradisi ini dilakukan turun temurun berpadu dengan nilai luhur keagaaman Islam.  Agama satu-satunya yang dianut oleh masyarakat Tidore.

 

Deddy Huang (Deddy)

Ratib Taji Besi | Tradisi Debus Tidore

Inilah satu-satunya prosesi adat yang tidak ingin saya hadiri.  Berulang kali mendengar ulasan acara ini dari berbagai sumber, saya memantapkan diri untuk (lebih baik) tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.  Cukup melihat foto dan mendengarkan ceritanya saja.  Dan itu saya dapatkan dari seorang Deddy Huang, seorang Travel Blogger si pelanggan juara, termasuk lomba menulis tentang Tidore.

Melengkapi rangkaian HJT ke-909 dengan mengundang rekan-rekan penulis, Ratib Taji Besi (RTB) diadakan di Kadato Kie yang dipimpin oleh Imam kesultanan.  Kegiatan shalawat berjamaah yang diikuti dengan ritual serupa debus ini dikisahkan oleh Deddy dengan sangat hati-hati.  Kekuatan magis itu semakin terpapar, ketika para pembaca melihat foto salah seorang jamaah yang sedang menusukkan dirinya dengan 2 buah besi berujung tajam yang disebut sebagai Taji Besi itu, sementara di sekelilingnya terdapat puluhan jemaah lain yang memukul rebana ambil memanjatkan puja puji syukur kepada Allah SWT.

Failonga | The Unspoken Beauty of Tidore

Saya lebih dari sekedar setuju dengan julukan yang Deddy berikan untuk Failonga.  Karena kesan yang terpatri dalam hati saya, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Failonga di akhir 2016, sama persis seperti apa yang  Deddy rasakan.

Rincian perjalanan dan kebersamaan kami ditemani oleh beberapa sahabat Tidore, menyuntikkan energi luar biasa untuk semua yang ikut.  Deddy pun mengkisahkan waktu-waktu berharga di pulau tak berpenghuni ini dengan sangat apik, termasuk makan bareng di atas selesai panjang daun pisang sambil berebutan.  Menunya sederhana aja.  Goboro (ketupat ala Tidore berisi ketan dan nasi), ikan tude bakar, dan sambal dabu-dabu ala Presiden Tidore (baca: Bams).  Tapi nikmat kebersamaan nya itu yang tidak akan pernah terlupakan.

Selayaknya penulis kekayaan wisata Indonesia, Deddy pun mengajak para pembaca untuk menjaga pulau indah seluas hanya sekitar 1km2 ini.  Jauhkan dari sampah-sampah, jangan kotori dinding batu/tebing dengan tulisan-tulisan yang merusak keindahan, dan tidak merusak ekosistem yang sudah terbangun di Failonga.

Pengalaman indah yang dialami Deddy Huang tentang Failonga, dituangkan dalam In-Flight Magazine Sriwijaya Air.

 

Evy Priliana Susanti

A Place That I Call Home

Sampai detik saya menuliskan ulasan ini, saya dan Evy belum sama sekali bertemu muka.  Komunikasi kami terbangun ketika Evy menghubungi saya via WA dan bertanya banyak mengenai Tidore.  Saat itulah kunjungan pertama Evy bersama beberapa temannya ke Tidore yang kemudian berlanjut ke kunjungan-kunjungan berikutnya.  That’s why she call Tidore as her own hometown.

Jadi saat membaca tulisan Evy akan kesannya tentang Tidore mulai dari sejarah, destinasi wisata, dan keramahan masyarakat setempat,  mengingatkan saya akan kelimat-kalimat kegembiraan yang disampaikan Evy lewat WA.  Yang pasti semua kata yang terlukiskan dalam artikel ini semuanya Evy melukiskan bagaimana dia menemukan tempat berkunjung yang senyaman rumahnya sendiri.

 

Sofyan Daud (Sofyan)

Amina Sabtu | Fatmawatinya Tidore

Pria yang jago motret, bikin puisi, dan membuat video ini, adalah salah seorang pembina Garda Nuku, anak-anak muda yang mempunyai visi dan misi untuk melestarikan kejayaan Tidore.  Ko Sofyan adalah salah seorang juri, yang bertugas menilai “isi” tulisan pada saat lomba menulis tentang Tidore.  Kepiawaian beliau dalam mengolah dan merangkai kata menjadi kalimat-kalimat bermakna sudah tidak diragukan lagi.  Kalau boleh saya memberikan julukan, rasanya gelar seniman akan lebih pas untuk beliau.

Saya sempat mengunduh video yang Ko Sofyan buat, berjudul Borero Gosimo.  Pesan Para Leluhur yang selalu dibacakan oleh Sultan pada setiap upacara-upacara resmi kesultanan.  Selain sarat akan makna yang mendalam, Borero Gossimo juga terekam dengan diiringi musik tradisional Tidore yang menyayat dan menyentuh hati.  Suasana magis pun semakin terasa.

Sila simak video nya ditautan Borero Gosimo berikut ini.

Untuk buku To Ado Re, Ko Sofyan mengajak kita untuk lebih mengenal Nenek Amina Sabtu yang mendapat gelar sebagai Fatmawatinya Tidore.  Kok gitu? Ya!! Karena Nenek Na lah, begitu beliau dipanggil oleh cucu-cucunya, yang menjahitkan bendera Merah Putih dari serat nanas, seperti halnya Ibu Fatmawati yang menjahitkan Sang Saka Merah Putih untuk dikibarkan di Gedung Joeang/Proklamasi dan masih disimpan sampai saat ini di istana negara.

Melalui tulisan Ko Sofyan, kita diajak menjelajah cerita bagaimana seorang Amina bersama teman-teman sebayanya (Abdullah Kadir, dkk) berusaha mengibarkan bendara serat nanas tersebut di sebuah tanjung yang berada di Kelurahan Mareku.  Tercatat juga rangkaian cerita heroik tentang perjuangan Nenek Na dan kawan-kawan melawan penjajah demi bertahan pada sikap mendukung dan bergabung kepada negara kesatuan RI yang baru saja memerdekakan diri.

Bagi saya, tulisan ini patut dimasukkan sebagai salah satu materi buku pelajaran sejarah yang wajib dibaca oleh generasi muda di Indonesia.

 

Eko Nurhuda (Eko)

Perjumpaan Dengan Nenek Bendera

Melengkapi artikel yang ditulis oleh Ko Sofyan, Eko memperkenalkan Nenek Na dengan diksi yang berbeda.  Alur deskripsi seorang nenek Na ditangan seorang blogger senior seperti Eko, membuat kita mengenal sang nenek dari sisi yang tidak sama seperti apa yang sudah dilukiskan oleh Ko Sofyan.

Kesan mendalam Eko atas Nenek Na yang berawal dari kunjungan kami ke rumah Nenek sebelum mengiri acara Paji Nyili Nyili, kemudian berlanjut dengan pengumpulan tanda cinta kasih (donasi) melalui kitabisa.com.  Hasil donasi ini kemudian dibawa sendiri oleh Eko ke Tidore pada peringatan Hari Kemerdekaan RI di Mareku tahun 2017.

Sayangnya saya salah tanggal.  Maksud hati menemani Eko untuk hadir di upacara bendera dan pemberian penghargaan yang saya kira diadakan tepat tanggal 17 Agustus, ternyata baru diperingati keesokan harinya, 18 Agustus.  Sementara tanggal 18 pagi, saya sudah harus kembali ke Jakarta.

The most important thing is.  Saya ingin menghaturkan hormat, dan penghargaan setinggi-tingginya untuk Eko atas curahan kasih yang diberikan untuk seorang nenek, seorang pejuang kemerdekaan dari Tidore, negeri penguasa daerah Timur Indonesia yang sungguh bernilai.  Sebuah peristiwa dalam hidup yang akhirnya bisa Eko alami karena mendapatkan salah satu tiket gratis ke Tidore bersama 4 pemenang lain dari lomba menulis tentang Tidore.

 

Sadam Abdul Azis (Bams)

Emiria Sunassa Yang Terlupakan

Anak ini, bikin saya berhari-hari berhenti menuliskan resensi (tulisan ini) karena tulisannya tentang sesosok Emiria Sunassa.  Puisi panjang dengan tambalan catatan sejarah di sana sini, tambah bikin saya jungkir balik untuk menangkap pesan yang diulas oleh Bams tentang perempuan istimewa bagi seniman-seniman Tidore.  Otak mendadak korslet, ruwet, seruwet rambut Bams yang melambai-lambai ketika sedang naik motor.

Di tengah kekeritingan otak yang mulai membeku, akhirnya, saya “mengenal” Emiria sebagai seorang pelukis perempuan asal Tidore yang merengkuh kesuksesan di jaman penjajahan Jepang.  Mudah-mudahan gak salah ya.

Bams tampaknya begitu terkesan dengan Emiria karena memang saat ini sepertinya sangat jarang menemukan wanita Tidore yang konsisten bergelut di dunia seni, berkarakter kuat, dan memiliki DNA sendiri khas wanita yang berasal dari timur nya Indonesia.

 

Katerina S. (Rien)

Goyang Lidah di Safira Beach Restaurant

Membaca judulnya aja jelas tersirat bahwa Rien ingin bercerita tentang satu tempat (restoran) yang menyambut dengan aneka makanan khas Tidore di hari kedatangan kami.

Sempat terisi sebungkus nasi kuning khas Maluku dan nongkrong manis di Pelabuhan Rum, mengikuti acara penyambutan yang dikoordinir oleh Pak Yakub Husain (Kadispar Tidore), kami pun sampai di Safira Beach, salah satu rumah makan yang berada di Kelurahan Cobodoe persis tengah hari.

Meskipun perut masih berat karena  tewas kekenyangan akibat nasi kuning sejatah abang-abang kuli, melihat aneka hidangan siap santap yang tidak ditemukan dimanapun kecuali di Tidore, insting blogger pun langsung mengalir.  Rien yang memang piawai memotret menyuguhkan foto-foto mengundang selera di dalam buku ini, juga memberikan ulasan khas blogger.  Sajian foto dan rangkaian kata terurai menemani beberapa menu istimewa seperti Kasbi (roti tawar dari bubuk parutan singkong tapi tetap disebut sagu), Gohu (sashimi ala Tidore), Kakap dengan sambal dabu dabu, dan sup ikan yang menyegarkan.

Rien pun menulis tentang Lapis Tidore yang menjadi salah satu andalan kuliner produksi Safira Beach.  Kue lapis (3 lapis) dengan selai kenari, kacang yang hampir selalu menemani aneka kuliner dan minuman Tidore ini, menjadi andalan untuk oleh-oleh jika kita berkunjung ke sini.  Bisa nih jadi referensi kuliner untuk para wisatawan.

 

Drama Dari Desa-Desa di Ketinggian Tidore

Melalui tulisan ini, Rien menceritakan beberapa tempat di Tidore yang berada di ketinggian tertentu dan memiliki keindahan setara dengan tempat-tempat di pinggir pantai yaitu Gurabunga, Kalaodi, Ngosi dan Lada Ake.

Setiap coretan yang Rien berikan begitu mengesankan.  Kontributor untuk beberapa inflight magazine, majalah-majalah pariwisata, dan langganan juara ini, juga adalah salah seorang juri untuk lomba menulis tentang Tidore, selain saya dan Ko Sofyan Daud.  Layaknya blogger senior dan professional, Rien menggarap setiap ekspresi dengan cita rasa yang tinggi.  Seperti pengalaman berjuang mengalahkan ganasnya “tangga jahanam” di Ake Celeng yang membawa saya mengembangkan senyum puas penuh strategi hahahaha.  Tapi cerita kemudian berbeda ketika mencapai Lada Ake.  Di tebing yang menghubungkan antara Kelurahan Jaya menuju Gurabunga ini, kita berhenti di satu spot dengan pijakan bambu, yang memanjakan mata kita untuk menikmati indahnya Pulau Maitara dan Pulau Ternate.

 

Tati Suherman (Tati)

Menyusuri Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Tati adalah “tamu” dalam rombongan kami.  Blogger yang bergabung dengan tim Ngofa Tidore dan para blogger pemenang lomba menulis, seperti halnya Ibu Woro, Ayu Masita, dan Dwi.  Selesai mengikuti rangkaian upacara di Tidore, Tati akhirnya bergabung dengan Dwi dan Ayu ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Kecamatan Oba Utara, yang secara administratif masuk dalam Kotamadya Tidore Kepulauan.

Mengikuti ke-2 peneliti ini dan seorang bule Jerman (suami Ayu), Tati menceritakan serunya menelusuri Pelabuhan Sofifi di Halmahera, Resort dan Sungari Tayawi, kemudian membelah hutan bertemu dengan aneka burung yang jarang, bahkan mungkin tidak ditemukan di tempat lain.  Pengalaman trekking rombongan ini pun berlanjut menuju Air Terjun Havo.  Buat yang memang penggemar wisata jalan-jalan di tengah alam yang masih alami, tulisan Tati ini mengajak kita tenggelam ke dalam pengalaman yang tak terlupakan.

 

Shiddiq Gandhi

Jejak Pencarian Leluhur Yang hilang

Pada saat kunjungan ke-3 saya ke Tidore dalam rangka bertemu dengan Eko Nurhuda, kami berdua diundang Jou Boki (Permaisuri Sultan) untuk makan malam di Kadato Kie.  Diantar Ai dan Alex, kami menuju Kadato dan bertemu dengan rombongan dari Kesultanan Kelantan, Malaysia.  Dari Jou Boki lah kami mendapatkan informasi bahwa pihak Kelantan akan mengadakan perlehatan besar dengan mengundang ribuan masyarakat Tidore.  Gawean besar ini dalam rangka mempererat silaturahim setelah pencarian panjang kerabat sedaging sedarah yang hilang berabad-abad.

Melalui artikel yang ditulis dengan sangat hati-hati dan sarat dengan rincian sejarah yang wajib terekam secrara tertulis.  Gaya penulisan berkualitas dengan alur cerita yang sangat rapih, kisah penuh memori Tuanku Karameng Sakti dari Kesultanan Kelantan ini, mengajarkan kita untuk tetap mengingat jejak leluhur dimanapun kita berada, terutama di saat kita dihujani rejeki dan nikmat berlimpah dari Allah SWT.

Sebagai seorang abdi negara yang bekerja di salah satu intitusi penting milik negara, saya selalu mengagumi kecintaan Gandhi untuk terus menulis dengan apik peristiwa-peristiwa penting yang berada dalam jangkauannya, walaupun sibuk dengan rangkaian tugas ASN yang harus diembannya.  Terimakasih Gandhi.

 

Anita Gathmir dan Putra Putri Sultan Hi. Husain Sjah (Sultan ke-37 Tidore)

Melengkapi semua tulisan berkualitas di atas, adalah Anita Gathmir dan 3 Putra Putri Sultan Tidore (M. Arraudy Do. Husain, Zahra Azzaitun Do. Husain, dan Mustika Fadhillah Ramadhani) yang menulis tentang kecintaan dan kesan mereka atas pribadi dan budi baik Joul Lamo.  Rangkaian kalimat yang sungguh menyentuh dan membiarkan para pembaca untuk mengenal lebih jauh Ko Husain sebagai manusia biasa.

Melengkapi apa yang mereka sampaikan, saya pun ingin menghaturkan memori yang begitu mendalam akan seorang pria yang begitu berwibawa, terlihat kuat dengan kepribadian khas seorang Raja, tapi juga terselimuti dengan keramahan dan kerendahan hati.  Masih terpatri dengan baik di alam hati ketika mendengarkan pidato beliau di Gurabunga, mengucapkan terimakasih, salah satunya kepada saya secara pribadi sebagai koordinator kegiatan lomba menulis tentang Tidore.  Semoga rahmat Allah SWT selalu tercurah kepadamu wahai Sultan.  Teruslah memimpin Tidore dengan sejuta kebaikan, kelembutan hati, dan lindungan kedamaian bagi seluruh rakyat Tidore.  Suba Jou!!

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here