Apa sih GLAMPING?

Pertanyaan itu terus terngiang ketika diajak salah seorang teman blogger untuk ikutan ngumpul di TRIZARA RESORTS bareng rombongan blogger lainnya. Salah satu tempat yang berkonsep Glamping?  Wes, mendadak langsung menuju Mbah Google untuk cari info.  Ooohh maksudnya Glamorous Camping alias perkemahan mewah.  Wah, belom pernah nih merasakan nginep di tempat yang seperti ini.  Batere tenaga mendadak terisi penuh.  I am on my way to a new place, new experience and new atmosphere. Let’s go!!

 

Minggu, 8 Januari 2017

Ketika jadwal bis sudah diatur, saya pun meminta untuk dijemput di km.33 tol Cikampek ketimbang harus “mundur” kembali ke arah Plaza Semanggi.  Wajah sumringah teman-teman yang masih muda-muda menyapa dengan riang gembira, dan pembicaraan akrab pun mengalir diantara kami.  Situasi mulai berubah ketika bis kami tidak diperkenankan melewati Tol Cipularang, kemudian beralih ke Tol Cikampek, masuk Cibungur dan terjebak macet berkepanjangan di jalur lama Cikampek – Bandung yang menguras tenaga dan waktu.

Terbiasa merasakan rute Cikarang – Bandung hanya dalam 1.5jam, perjalanan ke Bandung kali ini sungguh menyiksa.  Terutama ketika menyadari bahwa kami masih jauh dari tempat yang dituju, sementara waktu sudah menunjukkan jam 2 siang dengan cacing di perut yang mulai menjerit-jerit minta makan.  Duuhh urusan “kampung tengah” ini bener-bener bikin kasus ya kalo sudah lewat waktu. Damn I am so starving!!  Jadi inget pernah ngeliat tulisan “Sayang, sudah makan siang belom? Ayok buruan makan, ntar mati lo” … dan…mendadak saya jadi teringat liang kubur (lebay sangat).

Penyiksaan ternyata gak sampe di situ.  Pak supir ternyata mengajak kami untuk melewati rute yang sungguh penuh tantangan, menguji emosi, menantang jiwa (tepok jidat).  Entah dimana itu ya, karena menghindari macet disana sini, supir memutuskan mengambil jalan tikus, yang ngepas banget 2 jalur mobil ukuran biasa, cor-corannya masih tinggi, meliuk-liuk dan nanjak pulak.  Jadi ketika berpapasan dengan kendaraan lain, supir kudu pelan-pelan melipir sementara penumpang meringis serasa mau jatuh.  Saya dan Rien yang kebetulan duduk di kursi depan, sampe ngilu hati ngeliatnya.  Duuhh mana acara makan udah gak jelas, jantung pulak disuruh olah raga.  Indahnya dunia (nyengir).

**********************************

Mari sudahi drama di atas ya.  Kita kembali ke soal Glamping itu tadi.  Ya itu Trizara maksudnya

Entah sampe jam berapa, saking senengnya terlepas dari jok bis yang berjam-jam saya duduki dan kebelet yang tak terkira, saya ngacir turun gak nengok-nengok lagi.  Disambut dengan gerbang ala ala bagian tengah Taj Mahal, kekaguman saya mengalir tanpa disadari.  Tetiba terlintas Indiana Jones.  Ketemu sesuatu yang fenomenal di tengah-tengah hutan (efek nonton film berlebihan).  Padahal sih bukan di hutan, lah wong sebelum nanjak sampe di Trizara, kita akan melewati deretan rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar Pasir Wangi Wetan, Lembang.  Jadi gak jauh-jauh amat kok dari peradaban (catet).

Gerbang Masuk Trizara (tampak depan)

Puas tersepona eh terpesona dengan gerbang yang anti-mainstream, kaki kita akan disambut dengan rumput buatan/imitasi yang bertuliskan Trizara Resort.  Rumput ini belakangan saya tau, menjadi ground zero di Trizara alias jadi pusat/sentral dimulainya kegiatan-kegiatan yang diadakan.  Seperti program zumba yang selalu diadakan hampir tiap hari untuk penginap dan games pemanasan sebelum kami berlatih menjadi anak buahnya Robin Hood.  Di seputaran rumput juga ditaruh bangku ijo plastik goyang (one of my favorite things) dan deretan sepeda yang bisa kita gunakan.

  

Sambil ngobrol bangku panjangnya bisa digoyang-goyang. Apalagi kalo pas ngakak2, tambah seru goyangnya

Melewati hamparan rumput, di sisi kanan kita akan ketemu area receptionist yang sentuhan Hindustan nya kental banget.  Patung kecil metal gajah yang pernah saya temukan ketika ke New Delhi bertengger dengan cantiknya.  Background shocking yellow di area penerimaan tamu ini juga eye-catchy dan dilengkapi dengan berbagai informasi fasilitas-fasilitas yang bisa dinikmati oleh penginap dan rencana-rencana/program yang bisa kita atur dengan Trizara team.  Setidaknya ketika sedang menunggu proses check-in, kita disuguhkan berbagai informasi yang bermanfaat right to the point, tanpa harus membolak-balik brosur.

Background receiptionist yang atraktif dan informatif

Selain apa yang tertulis di dinding ini, Trizara juga menawarkan beberapa entertainment packages seperti picnic (minimal 10pax), birthday (minimal 30pax), Arisan (minimal 30pax) nih penting banget buat emak-emak yang doyan arisan berjalan plus foto-foto hahaha, dan Farewell Party (minimal 30pax).

Mau meeting sambil menikmati udara segar dan suasana berbeda supaya diskusi jadi lebih santai dan asyik? Trizara juga menyediakan 3 meeting room yaitu Sabha Room untuk kapasitas 40 orang, Melana Room untuk 40 orang dan Lagna Room untuk 90 orang.

  

Menengok ke sisi kiri setelah masuk, tepatnya di depan receptionist, pemandangan matapun diisi dengan Indriya Cafe & Resto, resto open-air dengan hiasan dinding print out postingan Instagram dari para pesohor yang pernah menginap di sini.  Waah kapan ya foto saya dipajang disitu (halah ngimpi).

  

Melengkapi resto Indriya, Trizara juga menyediakan Trizara Bar buat menikmati kopi, wine, beer, dan lain lain, plus Terrace Cafe untuk barbeque yang berhadap-hadapan dengan salah satu meeting room.

  

Di malam kedatangan, kami sempat menghabiskan waktu di Terrace Cafe sampai berjam-jam untuk menikmati makan malam.  Posisi cafe yang sangat strategis menghadap pegunungan dan dihiasi tumpahan lampu-lampu sekeliling Lembang, membuat suasananya makin menyenangkan.  Nikmat udara dan pemandangan yang jarang sekali bisa kita rasakan.  Pas banget nih untuk honeymoon.  Iih beneran.  Kebayang ya, duduk berdekatan dengan pasangan, makan-makan, terus cari alasan buat peluk-pelukan mengusir hawa dingin di Lembang….akkuurr….

Eeehh ternyata beneran loh.  Nyambung sama tulisan di atas, Trizara menyediakan fasilitas pre-wedding, bebas menggunakan semua fasilitas dalam hitungan jam untuk foto-foto di beberapa spot cantik yang dilengkapi dengan changing room (ruang ganti), coffee break, dan makan siang/malam.

Mau honeymoon? Ada juga nih paketnya, mau stay 1 malam aja bisa, mau 2 malam juga ada, mau lebih lama boleh banget.  Yang pasti dengan suasana nyaman, lokasi “tersendiri”, udara segar, dan yang penting tingkat privacy juga terjaga, menghabiskan waktu berdua dengan pasangan (halal) adalah keputusan yang tepat.

********************************************

Setelah sempat menghabiskan waktu menikmati hidangan makan yang serba tanggung waktunya karena terlambat buanget sampai di sana, kami dipersilahkan untuk rehat sebentar di kamar.  Saya, Katerina, Levina dan Uni Dzalika ditempatkan di kamar tipe SVADA 06 yang berkapasitas 4 orang dengan 1 buah double bed dan 1 buah two in one bed.

Menuruni puluhan tanggga dan turunan yang asik melatih otot, beginilah kira-kira tampak luar dan dalam kamar kami:

  

  

Kamar berukuran 38.5m2 ini cukup besar bagi kami ber-4 yang imut-imut (kecuali saya yang amit-amit).  Luas ranjang lebih dari cukup.  Ada sebuah peti di depan ranjang double bed.  Saya kira tadinya itu berisi emas peninggalan Raja Sulaiman yang memang dipersiapkan untuk kami.  Udah seneng aja tuh bakal dapat warisan. Tapi ternyata kosong ya bok..eeeh..enggak ding…ada colokannya (catet).

Sebelah kiri ada meja kayu yang elok menyanggah segala perlengkapan minum, yang anehnya sampe pulang gak disentuh-sentuh sama kami ber-empat.  Keseluruhan kamar berdinding dan beratap terpal kualitas tinggi.  Khusus atapnya ditambahkan ornamen bintang-bintang.  Mungkin supaya kita bisa membayangkan melihat bintang ketika lampu kamar dimatikan (beneran ini).  Di salah satu dinding ada foto Taj Mahal. Sisi kanan kiri ada masing-masing 2 jendela ala tenda yang kudu digulung untuk buka tutup.  Di tengah ada pintu kayu yang menghubungkan kami dengan kamar mandi. Di bagian teras yang cukup luas disediakan kursi malas, meja kecil, dengan pemandangan yang tak bisa ditolak keindahannya.

Selain SVADA, Trizara juga menyediakan 3 tipe kamar lain yaitu: NETRA dengan kapasitas untuk 2 orang, NASIKA untuk dihuni oleh 4 orang, dan ZANA yang juga bisa dihuni oleh 2 orang.  Setiap kamar, walaupun Trizara berkonsep away from electronics, tetap bisa menikmati jaringan wifi 24 jam dan pelayanan kamar yang juga 24 jam.  So jangan kuatir akan berasa seperti di tempat jin buang anak hahahaha.

Berbenah sebentar, panggilan untuk kumpul pun membuat kami semua terseok-seok melangkahkan kaki ke ground zero.  Seperti dugaan saya, sudah ada 2 mas-mas yang siap ngerjain kami, ngasih pemanasan dengan permainan lucuk lucuk (baca: kocak dan nggemesin) baru setelah itu diajak menjajal perang memanah atau bahasa kerennya Archery Battle.  Ternyata ya memanah itu bukan perkara gampang.  Walaupun terlihat mudah (halah) dan gagah ngeliat di tipi, megang panahnya aja butuh konsentrasi luar binasa.  Dan olah raga ini menjadi salah satu kepandaian yang sangat disarankan oleh Nabi selain berkuda, karena benar-benar membutuhkan fisik yang kuat selain masalah konsentrasi tadi.

 

Capek main perang-perangan, hari pertama kami tutup dengan api unggun, memanggang marshmallow, dan berbincang-bincang hangat dengan team Trizara.  Membicarakan masa depan? Ya bukanlah!! Ngomongin acara besok maksudnya

 

Senin, 9 Januari 2017

Dasar onderdil lapuk, setelah digojlok perang panah dan pinggang remuk kelamaan di jalan, pagi itu muales pol untuk berkeliaran seputar resorts.  Selain karena keturunan bangsawan (bangsa tangi awan), cuaca yang nyaman dan kasur yang empuk, sepertinya lebih mengajak badan menghabiskan waktu untuk ngelingker badan, ketimbang keluyuran hunting foto (tobat).  Hingga panggilan perutlah yang akhirnya mengalahkan segalanya hahahahaha.

Melibas sarapan yang endes hasil racikan juru masak penduduk lokal, rencana kami hari ini adalah OFF ROAD. Yeaaahh.  Walaupun sempat punya pengalaman jumpalitan, menunggang four-wheels drive, memberikan sensasi sendiri buat saya.  Tak apalah kan jarang-jarang juga disiksa sama jalanan penuh lumpur yang jahanam.

Kami pun dibagi menjadi 4 tim dengan 4 mobil dan sempat-sempatnya narsis di depan tunggangan masing-masing

   

 

Melewati indahnya perkebunan teh, tanaman pinus, badan terbanting-banting hampir selama 4 jam penuh. Badan yang rontok dan kondisi tempuh yang menurut saya lumayan sulit, nyatanya tidak tertutupi dengan canda tawa di dalam mobil beroda tank yang kami naiki.  Saya kurang berselera mengambil beberapa shoot terpontang-panting selama perjalanan, kecuali foto bergaya jagoan di depan mobil (awas muntah) dan 1 “foto keluarga” dalam formasi penuh/seluruh travel blogger yang ikut nginep bareng.

Hasil dari off-road: badan rontok dari atas sampai bawah hahahaha

Berikut adalah beberapa foto keindahan Trizara yang berhasil direkam melalui kamera saya

  

  

     

Satu hal lagi paling berkesan yang saya ketahui mengenai Trizara milik Mr. Kunal ini adalah kepedulian mereka yang sangat tinggi akan masyarakat sekitar.  100% pekerja pada level operasional dan tekhnis pemeliharaan dan pelayanan di sini adalah warga yang tinggal di seputaran resort. Bukan hanya memberikan kesempatan kerja, mereka juga dilibatkan untuk turut melestarikan lingkungan dan keindahan Lembang, salah satu daerah tujuan wisata yang populer di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

TRIZARA RESORT, Jl. Pasirwangi Wetan, Lembang, Indonesia | Telepon: (022) 8278.0085, 0858.7169.8923 | trizararesort@gmail.com | www.trizara.com | IG: trizararesorts