Setelah hampir 2 tahun tidak mengunjungi kota ini, awal April 2016, kaki melangkah ke sana menjawab ribuan benih rindu yang sudah tidak tertahankan.  Taelaaa..puitis banget yak hahahaha.  Tapi bener loh.  Beberapa kali menginap dan bekerja untuk Pacitan memenuhi kontrak mendidik dengan instansi pemerintah, kabupaten ini sudah menjadi rumah ke-3 bagi saya.  Biar sudah 8 kali tinggal untuk setidaknya 7 hari dalam setiap kunjungan, selalu ada keinginan kuat untuk kembali lagi dan lagi. Ngangenin pokoknya.

Setiap diberi kesempatan pindah tidur ke Pacitan,  sebenarnya tidak ada perubahan yang sangat signifikan untuk fasos dan fasum, tapi selalu terlihat ada perbaikan-perbaikan di tempat-tempat yang diminati oleh wisatawan.

Alun-alun kota misalnya.  Dulu, di 2014, alun-alun terlihat kering kerontang karena hanya ditutupi tanah berdebu, tanaman-tanaman yang tak terurus, juga warung-warung yang berada di bahu alun-alun yang terkesan hidup segan mati tak mau.  Sampe beneran saya segen banget untuk nongkrong di sana, saking ga ada pemandangan indah yang bisa dilihat, dan debu yang sangat menyengat hidung.  Padahal alun-alun kan sejatinya jadi tempat nongkrong, kongkow-kongkow, atau paling enggak jadi meeting point sambil ngupi-ngupi.  Meeting point? jiaah..ketinggian kali tuh ya bahasanya hahahaha.  Tapi di awal April barusan, semuanya berubah jauh lebih menyenangkan.  Taman sudah dipenuhi rumput, sarana bermain anak, kotak-kotak semen yang ditumbuhi tanaman, dan warung-warung yang penuh melingkari bahu alun-alun, tertata rapih dan nyaman untuk duduk berlama-lama.

Perubahan lain yang sangat terasa adalah jalan inti menuju beberapa tempat wisata sudah selesai diperlebar.  Setidaknya ada beberapa kilometer lahan beraspal tebal yang diperuntukkan untuk mencapai tempat-tempat yang sudah populer di kalangan wisatawan, seperti Goa Gong dan Pantai Klayar.  Good job Pacitan!!  Saya yang sudah khatam mengunjungi beberapa tempat ini, merasakan betapa besar efek yang diberikan oleh jalanan yang mulus untuk kenyamanan berekreasi.  Okeh dah pokoknya!!!

Tanpa membuang banyak waktu dan setelah berunding dengan rekan seperjalanan dan guide super manis sejagat Pacitan, diputuskanlah kami akan pergi ke beberapa tempat yang memang belum sempat saya singgahi.  PANTAI WATUKARUNG ini salah satunya.

Berpencar dari jalan inti yang mulus, melewati jalur kecil berkelok-kelok, naik turun, kemampuan off road mengemudi citycar menjadi keasikan yang tidak terkira.  Melewati Punung dan pertigaan Bulu, kami mengikuti signage kecil menuju Watukarung.  Berkendara dengan kecepatan sedang, hampir 1 jam kemudian kami menyentuh pintu depan Desa Watukarung Kecamatan Pringkuku, disambut oleh hawa pantai dan deburan ombak yang samar-samar terdengar memanggil.

Info awal bahwa Watu Karung begitu digemari oleh wisatawan mancanegara sangat terlihat di setiap tapak jalan yang kami lewati.  Rumah-rumah yang berada di sisi kiri kanan jalan terlihat well-managed, clean and tidy.  Bahkan banyak diantaranya sudah beralih fungsi menjadi Guest House dengan rentang biaya sewa yang setara dengan beberapa Guest House populer di Bali.  Bahkan ada 1 villa di bibir pantai yang harga sewanya melebihi 1 juta rupiah dan terlihat terurus dengan baik.  Si Mbak yang berfungsi sebagai Operational Manager di situ adalah seorang guru bahasa Inggris.  Keputusan tepat agar bisa lancar berkomunikasi dengan wisatawan dari luar negri.

Villa yang berada di pinggir pantai
Villa yang berada di pinggir pantai

Selesai parkir di lapangan kecil yang terjaga, sandal jepit saya menyentuh jutaan butir pasir yang berhenti di sebuah warung di pinggir pantai.  Bukan tanpa alasan untuk duduk di warung ini.  Selain karena kehausan yang tak terhingga karena cuaca yang panas membara, cacing-cacing di perut juga mulai megap-megap minta diisi. Kami perlu tempat yang setidaknya adem, untuk kemudian menikmati suara deburan ombak sambil menghilangkan penat akibat berkendara.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan di warung ini.  Menyantap mie goreng telur dan kelapa muda dari batoknya dengan timbunan es yang munjung melewati bibir gelas, keindahan pantai seperti lukisan alam di hadapan kami, detik demi detik terpatri di dalam benak.  Tak jauh dari tempat kami duduk, 3 orang bule nongkrong tanpa suara, bertelanjang dada, dan kelihatan asik terbenam dengan suara ombak, sedikit menutupi pemandangan.  Keheningan mereka duduk dalam diam seakan mengajak kami melakukan hal yang sama.  Posisi mereka tepat membelakangi kami, membuat saya berhasil merekam siluet tubuh mereka dengan ciamik.

Mas mas bule yang asik melamun dan menikmati deburan ombak

Selesai membunuh waktu dengan melamun tanpa batasan waktu dan dengan datangnya tamu-tamu lain yang memenuhi warung, kami memutuskan untuk mulai menjelajah pantai.

Jalan menurun menuju bibir pantai yang tersentuh air menjadi perjuangan tersendiri buat saya.  Selain terjal, banyaknya kulit-kulit kerang yang patah dan tajam, seakan menjadi jebakan batman yang cukup merepotkan.  Berulang kali saya sempat tersedot lunaknya pasir pantai.  Tapi cukup beruntung karena memutuskan untuk tidak bertelanjang kaki.  Memandang ke kanan dan ke kiri, indahnya irama deburan ombak mengalahkan terik matahari yang merajam kulit.  Terbentang kokoh beberapa gundukan batu besar yang berdiri tegap terhantam ombak memperdengarkan bunyi yang menggelegar.  Beberapa kali saya terdiam hanya untuk memandangi ombak tinggi yang berakhir dengan air berbusa.  MasyaAllah pemandangan yang luar biasa.  Seperti melihat sebuah lukisan, tak salah kiranya pantainya ini menjadi favorit para pelancong yang datang dari luar negri.

Memandang ke pinggir pantai terlihat beberapa warung yang tutup karena memang saat kami berkunjung adalah hari kerja.  Beberapa bale-bale yang tersedia adem dipeluk dahan-dahan pohon.  Kami pun setengah berlari untuk melanjutkan episode melamun tahap 2 yang kebetulan agak jauh dari keramaian.  Sekali lagi, dalam diam, debur ombak menjadi hiburan jiwa yang tak terlukiskan.  Butiran-butiran peluh sebesar biji jagung tidak juga meluruhkan kenikmatan mendengarkan sonata yang diciptakan oleh ombak yang berebut bergulung mencapai bibir pantai.  Tempat yang pas banget untuk mereka yang ingin melukis atau bertapa membersihkan jiwa dan menghilangkan stress.  Apalagi buat mereka yang lebih menyukai pantai ketimbang gunung seperti saya.  Dikunjungan kembali ke sini sepertinya wajib deh bawak perlengkapan melukis dan tentu saja air putih berbotol-botol.

Satu lagi yang membuat kagum adalah bahwa area wisata ini, walaupun tidak begitu panjang berkilometer, penataannya terlihat sudah sangat memenuhi standard kelayakan.  Hasil kerja Bupati wanita muda untuk desa ini pantas diacungi jempol walaupun sempat mendapat tentangan dari penduduk setempat.    Jalan setapak untuk jogging pun disediakan.  Warung-warung ditempatkan agak ke atas agar pengunjung dapat memandang pantai dalam jangkauan yang lebih luas.  Pohon-pohon juga terlihat kokoh tertanam.  Saya yakin dalam kurun waktu 1 tahun ke depan, pohon-pohon ini bisa memayungi pengunjung yang ingin rehat, bawa tiker, buka bekal dari rumah dan menghabiskan waktu berlama-lama bercengkrama dengan keluarga.

 

Jogging Track di sepanjang pinggir pantai

I’ll certainly be back Watukarung.  Tentu saja dengan jumlah pasukan yang lebih banyak atau mungkin mmmm…sengaja menginap di sini sendiri sekedar untuk mencerahkan jiwa dan menghilangkan penat dari rutinitas…iya gak sih?