Punya temen Travel Blogger tuh paling enak.  Apalagi dengan mereka yang gak pelit berbagi info terkait traveling.  Soal recommended  hotel contohnya.  Masukan mereka lebih bisa dipercaya ketimbang “mendengarkan” dari sumber lain karena beranjak dari pengalaman pribadi dan biasanya juga lebih kritis dalam menilai.  Lebih cepet juga ketimbang harus menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di berbagai tautan dan meneliti review nya satu persatu.  That’s true!!

Kenyamanan ini baru saya alami ketika di awal November 2018 barusan, saya harus mengajar craft (wire jewelry) untuk 30 orang anggota Dekranasda DKI Jakarta, di Dinas Perindustrian dan Energi yang berada di Jati Baru, Tanah Abang.

Karena pelatihan akan berlangsung selama 4 hari (5-8 November 2018) mulai pkl. 08:00 wib setiap harinya, nekad berangkat subuh dari rumah di Cikarang ke daerah Tanah Abang itu bakal jadi pertaruhan.  Akses jalan yang harus dilalui, tol Cikampek, sedang carut marut akibat proses pembangunan LRT plus beberapa jalur tambahan tol.   Bahkan pernah di satu waktu, ada teman yang harus menghabiskan 8 jam di jalan, dari Karawang ke Halim (saja).     Eeett daaahh.  Lah kalau dijabanin bolak balik selama 4hari apa gak rontok tuh badan? Apalagi belum lama ini saya harus “mondok” di rumah sakit plus baru aja selesai dari kehebohan acara keluarga di Palembang.

Akhirnya seperti biasa.  Saya memutuskan untuk tinggal di salah satu hotel yang dekat dengan tempat pelatihan.  Kembali lagi, atas usulan seorang teman blogger, nama Ibis Budget Hotel Tanah Abang, langsung mencuat.  Ngelirik sebentar letak dan jaraknya dari venue workshop, saya pun memutuskan untuk stay di sini dengan penuh keyakinan.

Dan bener aja, it’s much worth indeed.  Baik dari segi biaya maupun tenaga.  Hanya butuh waktu gak lebih dari 10menit (itupun kalo macet banget) untuk mondar mandir antara hotel dan tempat pelatihan.  Naik taxi, argonya cuma 15ribu. Sampe gak tega mbayarnya. Akhirnya tak kasih minimum fare (25ribu).  Begitu juga masalah tenaga.  Pagi gak perlu buru-buru bangun dan pulang ngajar juga puas beristirahat.  Untuk poin terakhir bener-bener berasa banget karena (ternyata) kondisi kesehatan saya belum lah pulih seperti sedia kala.  So, this one was the most perfect decision though.

Guling ooohh guling. Seneng banget ketemu guling di hotel. Jarang-jarang loh dapat rejeki seperti ini. Tambah nyenyak deh tidur saya

Hotel Review (General Facilities)

Saya baru check in di hari pertama mengajar.  Gak ada kesulitan yang berarti karena semua sudah ditangani dengan baik oleh suami via Traveloka.  Disokong oleh beberapa poin dan cash back karena sering bertransaksi via tautan ini, saya hanya perlu mengeluarkan biaya 600 ribu nett untuk 3 malam menginap  (belum termasuk sarapan) dari 900 ribu lebih sedikit jika bertransaksi biasa.  Lumayan banget kan?

Berada di area Ring 1 dan bertetangga dengan markas Paspampres, tidak ada kesulitan yang berarti jika kita mengarahkan tujuan dengan kendaraan umum seperti taxi regular, taxi on-line, gojek, dsb.  Hanya saja karena berada di salah satu obyek vital negara, kita gak akan gampang menemukan penjaja makanan gerobak mangkal di seputaran hotel.

Bangunannya sendiri gampang dikenali karena outlook design nya cukup atraktif dengan warna yang mencolok.  Lahan depannya tidak luas tapi cukup nyaman untuk lalu lintas kendaraan.  Welcoming spot nya pun dibuat simpel tanpa dekorasi yang mencolok.  Persis di depan parkir mobil, disediakan tempat khusus bagi para ahli hisab.  Sementara di dalam (bagian depan) ada sebuah counter makanan dan minuman  plus beberapa meja dan tempat duduk dengan shocking color untuk sekedar bercengkrama.

Counter/Food Stall ini lah yang berfungsi sebagai hotel’s restaurant/lounge yang biasa kita temukan di hotel-hotel bintang 4 atau 5.  Harganya? Cukup reasonable untuk skala hotel.  Tapi saya lebih mengajurkan teman-teman untuk lebih baik order makanan on-line atau menikmati makan di luaran.  Sekitar 300 meter ke arah Cideng, ada KFC, Sate Khas Senayan, dan Resto Sederhana.  They are much tasty and better.

Balik membahas area kedatangan, beberapa langkah dari mini restaurant di bagian depan, kita akan disambut dengan nuansa warna-warni yang mengisi interior chic, industrial, tapi tidak berlebihan.  Di beberapa sisi dinding dibuat mural dengan konsep gothic, sementara di sudut tertentu ada sentuhan garis-garis filigree yang cantik.  Ukuran space yang sangat terbatas dimanfaatkan oleh hotel ini semaksimal mungkin.  Di sini berkumpul berbagai fungsi pelayanan.  Mulai dari receptionist, internet services area, sofa untuk tamu, dan restoran yang melayani (hanya) makan pagi.  Di beberapa sudut ada coffee machine (self service), mini shop (gift, mobile phone card, cigarette), dan sebuah snack machine yang juga harus kita operasikan sendiri.

Reception Area. Ruang dengan lahan terbatas dengan berbagai fungsi

Karena tidak memiliki dapur besar, untuk makan pagi harus dipesan jauh-jauh hari (ketika booking) atau paling tidak jam 8 malam sehari sebelumnya.  Kita akan dikenakan biaya 40 ribu/orang dengan hidangan yang gak berbeda jauh dengan apa yang biasa ada di rumah, seperti nasi, lauk, sayur, kopi, teh, air putih, juice/healthy drinks.  Kemudian roti dengan 2 jenis topping dan cereal dengan 2 botol susu besar.

How was it? Menurut saya lumayan karena gak ada pilihan lain.  Daripada ribet nyari tukang dagang sepagi itu di seputaran hotel.  Tapi untuk saya, yang beberapa hari itu sedang kehilangan nafsu makan, semua yang dihidangkan saya telan aja hahahaha.  Gak main perasaan.  Mungkin karena lidah saya sedang tasteless ya.  Tapi kalau liat beberapa mas-mas (baca: bapak bapak semlohai) yang nyendok nasi gorengnya sampe membunjung kek perut emak-emak lagi hamil 6bulan, keliatannya rasanya (mungkin) cukup diterima.  Entahlah.

 

Hotel Review Untuk Kamar

Satu yang sangat menggembirakan hati ketika ngeliat tempat tidurnya adalah Guling. (ditebalkan dan dihighligt nulisnya ya hahahaha).  Sepanjang sejarah per-penginapan dari Sabang sampai Merauke, bertahun-tahun, baru kali ini ketemu guling di dalam kamar hotel.  Beneran.  2 buah pulak.  Biasanya kan di hotel-hotel cuma disediakan bantal.  Kalaupun ada bonus, palingan ya guling-guling kecil yang seukuran anak sulung saya ketika berusia 5 bulan.  Jadi, buat saya yang selalu nyenyak tidur karena guling, ketemu selongsong seukuran 3/4 bodi yang satu ini, bikin hati riang tak terkira (lebay).

Persis ketika kita membuka pintu, yang pertama terlihat adalah wastafel dengan tumpukan handuk untuk 2 tamu.  Nempel di sebuah tiang, wastafel ini berpunggung-punggungan dengan meja kecil yang menyediakan 2 botol air mineral dan 2 gelas kecil.  Di sisi kanan pintu ada 2 ruangan menyerupai tabung kecil.  Satu untuk buang hajat dan satu lagi untuk mandi.  Ruangan untuk buang hajat tertutup sampai ke langit-langit, sementara untuk mandi dindingnya menyisakan ruang untuk sirkulasi udara.

Boleh juga ide begini.  Terkadang kan, kalau menginap berdua, closet duduk sering menyatu dengan shower.  Jadi kalau ada salah seorang kebelet sementara satu lagi sedang mandi, yang kebelet kudu berjuang nungguin temennya selesai mandi.  Nah, kalau dipisah begini kan jadi enak ya.

Layaknya budget hotel, toiletries hanya ada shower gel dan shampoo liquid yang menempel permanen disebuah tube dekat shower.  Sementara yang lainnya, seperti sikat gigi, odol, dan sliper tidak disediakan.  Ada beberapa gantungan baju dari kayu di dekat sebuah kaca besar.  Lumayanlah untuk menggantung outfit resmi saat business traveling seperti saya.

Untuk kebersihan patut diacungi jempol.  Selama menginap 3 malam, kamar selalu rapih dan bersih setiap sore saya kembali.  Air minum selalu diisi dan kasur selalu tertata prima. Bed head nya juga cantik loh.  Warnanya dibuat sama dengan warna tampak luar gedung.

Denah/peta lokasi Hotel Ibis Budget dan tempat-tempat wisata yang berada di seputaran hotel

Di hari ketiga ketika saya sedang menunggu pesanan taxi, saya bertemu dengan segerombolan emak-emak yang buanyak banget bawaannya.  Gembolannya segunung.  Dari obrolan singkat dengan salah seorang diantaranya, ternyata emak-emak ini habis  belanja di Tanah Abang.  “Buat dijual lagi di kampung Bu.  Dagang kita hahahaha”.  Saya nyengir penuh makna.  Aaahhh pantes.  Saking hebohnya, 5 ibu-ibu ini sampe memesan 3 mobil menuju airport.  1 mobil untuk mereka dan 2 mobil khusus untuk membawa dagangan.  Top laaahh.

Lain hari, menghabiskan sore sambil ngopi di cafe yang ada di ground floor, saya bertemu dengan 8 orang bule berasal dari Italia.  Sempat ngobrol singkat dengan salah seorang diantaranya yang kebetulan juga ikutan ngopi.  Ini kunjungan mereka pertama ke Jakarta, setelah berkali-kali ke Bali.  Mereka memilih Ibis Budget karena banyak tempat wisata yang bisa mereka capai hanya dengan berjalan kaki.  Salut ya.  Gak heran kalau mereka tampak bugar dan gagah.  Saya tanya apa tidak lelah jalan di tengah panas yang terik dan dia menjawab justru keringat yang mereka cari.  Sinar penuh vitamin yang jarang mereka dapatkan di negara mereka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here