Mendapatkan kesempatan belajar GRATIS itu bener bener rejeki yang tidak dapat ditolak.  Kapan lagi coba dapat ilmu bermanfaat dari para ahlinya?  Bagaikan dapat durian runtuh [padahal liat duren di pohon aja jarang], hatiku gembira riang tak terkira [nyanyi dah tuh]

Awalnya iseng komen dari colekan status Mas Teguh Sudarisman yang malam-malam woro-woro di FB bakal ngadain workshop soal video lagi.  Eh ternyata keisengannya berbuah jadi sungguhan.  Saya terpilih dan diajak ikutan lagi workshop smartphone video 2.0 sebagai lanjutan dari pelatihan tahap 1 yang diadakan di Morrissey Hotel.

Jadilah, Sabtu, 21 Januari 2017, dengan semangat haus ilmu, saya berangkat menuju Hotel Aston Rasuna yang berada di Kuningan – Jakarta.  Acara diselenggarakan di function room The Bridge milik Aston, yang berada di jembatan penghubung antara hotel dengan apartemen yang berada di seberangnya.

Kerajinan datang pagi-pagi sekali, saya sempat mengambil beberapa foto dari teras The Bridge. Dari kaca tebal yang terbentang di depan deretan function room, pemandangan Hotel terlihat menjulang tinggi.  Jalanan kompleks apartemen Rasuna ini pun terlihat bersih dan rapih.  Diantara pintu masuk beberapa ruangan yang disediakan untuk pelatihan, terlihat beberapa lukisan warna-warni.  Suka banget dengan deretan lukisan-lukisan abstrak yang berjejer rapih di sepanjang lorong function rooms ini.  Sentuhan seni bisa menambah segarnya suasana pagi yang belum-belum sudah disirami oleh sinar matahari yang menghujan ke bumi [puitis bener].

pemandangan Hotel Aston dari depan The Bridge function room

  

 

Memulai rangkaian workshop, pagi itu, sebelum mengambil beberapa shoot video dan photo yang dibagi atas beberapa tim, kami mendapatkan pengarahan dari Kang Dudi Iskandar mengenai apa dan bagaimana menulis untuk sebuah vlog, serta beberapa tips dan trik yang perlu diperhatikan.

Beberapa catatan penting yang didapat dari penjelasan beliau adalah kata SEDERHANA.  Menulis sebuah vlog selain wajib konsisten menggunakan kalimat aktif, kita harus tetap mempertahankan kesederhanaan dan tidak bertele-tele [short & simple].  Tips ini mengarahkan kita agar selalu menulis dengan kata-kata/kalimat-kalimat yang lugas dengan maksimal 10 kata dalam 1 kalimat.  Ujung-ujungnya ya ketemu dan balik lagi ke makna “sederhana” tadi.

Selain penjelasan di atas, Kang Dudi juga menyampaikan beberapa hal yang sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya kita membuat sebuah travel and short video.

Pertama, Kenali Fitur Kamera yang kita gunakan. Masuk akal banget.  Gimana kita bisa mengoperasikan fitur kamera secara maksimal jika tidak terlebih dahulu mengenal apa saja isi dan kemampuan smartphone kita untuk memotret.

Kalau bicara soal kemampuan, jadi ingat tabungan dan niat saya untuk membeli iphone edisi terbaru, yang sampai saat ini belum tercapai [hiks].  Entahlah, dari sekian smartphone yang saya temui dan liat hasil photographynya, hati saya kok klik banget dengan iphone.  Untuk saat ini saya masih menggunakan Xiaomi Redmi Pro 3.  Menurut teman-teman yang melihat hasil foto saya, merk ini masuk dalam kualitas ok dan reliable.  Di saat shoot sedang berlangsung pun saya melihat beberapa teman menggunakan Oppo F1, wah bagus juga ternyata hasilnya. Hebat ya smartphone sekarang.

Terlepas dari perkembangan kapabilitas dan teknologi smartphone sebagai senjata motret yang semakin berkembang, nyatanya masih banyak beberapa fungsi kamera konvensional yang tidak dapat digantikan oleh smartphone manapun.  Selain lensa kamera yang belum terlindungi/terlapisi oleh pelindung anti gores, ada beberapa fitur yang bisa menciptakan efek blur dan gradasi foto yang tidak dimiliki oleh smartphone.  Aaahh bener banget.  That’s why in whatever reasons, photographer professional tetap setia dengan kamera konvensional walau berat sekalipun.

Kedua, Pilih Resolusi Tinggi.  Sebagian besar smartphone terbaru sudah menyediakan kualitas Full HD yang diperlukan untuk menghasilkan vlog yang berkualitas.  Tapi tentu saja harus dimulai dengan pengerjaan shoot yang “tidak bocor” alias tidak terjadi noise/gangguan dalam bentuk apapun, seperti gagal pencahyaan, gagal setting-an, atau tetiba ada hal-hal lain yang mengurangi kesempurnaan hasil akhir rekaman.

Ketiga, Atur Jarak Ideal dengan Obyek.  Ini benar-benar butuh perjuangan ekstra ketika shooting diadakan di tempat yang sempit dan sulit mendapatkan angle yang ciamik.

Keempat, Arah Cahaya.  Meng-capture obyek yang tidak bergerak, tentunya akan lebih mudah menentukan posisi jepret yang menyesuaikan dengan arah atau sumber cahaya.  Kesulitan kemudian timbul, ketika kita harus meliput tempat atau obyek yang diletakkan dengan subsidi cahaya yang minim.  Mengatasi ini, sesuai arahan Kang Dudi, menggunakan lampu sorot adalah solusi yang tepat.

Kelima adalah memastikan bahwa Lensa Kamera Bersih.  Gambar yang clear tentunya dimulai dari lensa yang bersih dan tidak cacat atau penuh/ada goresan.  Membiasakan diri membersihkan lensa sebelum melakukan shooting, membantu kita memproduksi vlog dengan kualitas prima.

Keenam, Mencoba Berbagai Sudut Pemotretan.  Jangan enggan dan malas untuk melakukan ini.  Terkadang sebuah atau beberapa kejutan kita dapatkan dari beberapa sudut pemotretan yang tidak kita duga.  Dan ini pernah bahkan sering saya alami, baik itu waktu memotret alam atau mencoba merekam wire jewelry buatan saya.

Ketujuh dan yang terakhir adalah Perbaiki Dengan Software Digital.  Apalah gunanya high-technology kalo kita tidak bisa memanfaatkannya.  That’s why it’s discovered.  Sekian banyak software editing yang bisa digunakan untuk menyempurnakan hasil kerja kita.  The most important thing adalah kita mau belajar dan terus mencoba alias rajin ngulik-ngulik.  Yang gini nih butuh waktu banyak dan effort yang tinggi.  Tapi kalau sudah berhasil, pasti seneng rasanya.

Selesai mendapatkan wejangan-wejangan dari Kang Dudi, kelas kemudian dibagi menjadi 4 grup dengan project yang berbeda-beda.  Satu grup meliput proses check in, room making/room service dan shoot fasilitas kamar.  Satu grup lagi meliput restoran, mulai dari dapur, proses menyambut dan melayani tamu, hingga shoot untuk makanannya sendiri.  Sementara 2 grup yang lain meliput Swarga Spa, Salon & Wellness, yang berada di Lantai 5.  Naah saya masuk nih di tim ini.

  

Kesulitan terberat yang saya hadapi ketika shoot adalah pencahayaan, ruang yang sempit, dan banyaknya kaca yang sering membuat beberapa shoot jadi “bocor”.  Sepertinya saya butuh lebih banyak waktu untuk latihan menerapkan trik-trik yang sudah disampaikan oleh Kang Dudi.  Waktu 1 jam yang diberikan terasa masih belum cukup.  Waahh saya masih gagap banget nih dengan shoot video.

Selesai meliput, kami kembali ke ruang pelatihan, untuk kemudian mendapatkan pengarahan langsung dari Mas Teguh Sudarisman untuk menggunakan 3 aplikasi dalam pembuatan vlog, yaitu Power Director, Legend, dan Quik.

Di sesi ini terasa keheningan dan keseriusan para peserta dalam mengikuti arahan Mas Teguh.  Sementara sang guru asik merepet di depan, para murid kutak katik aplikasi, khusuk kek anak SD lagi ulangan matematika.  Begitupun saya hahahaha.  Power Director sudah tak jajal waktu mengikuti workshop video 1.0.  Nah di workshop ke-2 ini, kita diajak untuk mengenal dan  nyoba aplikasi Legend dan Quik yang ternyata lebih mengasyikkan.

Kalau sebelumnya kita belajar meng-edit setiap hasil shoot, sekarang mulai dilengkapi dengan berbagai tulisan/copy writing yang bisa membantu kita membuat video yang lebih informatif.  Pilihan setting-annya pun banyak dan bervariasi.  Aplikasinya pun sudah dilengkapi dengan backsound dengan musik yang bisa kita sesuaikan dengan object video kita.  Semuanya bisa didapatkan FREE di google play.

Berikut adalah vlog hasil pertama kali belajar.  Masih jauh banget dari kata sempurna [ngumpet].  Saya jangan diomelin ya Bapak2 guru hahahaha

Last but not least, terimakasih untuk Mas Teguh Sudarisma dan Kang Dudi Iskandar, yang sudah membagi ilmunya.  Seneng banget bisa menjadi bagian dari workshop ini.  Selain ketemu teman-teman blogger yang sudah kenal sebelumnya, saya juga jadi nambah network bertemu dengan para blogger lain.  Rasa terimakasih yang sama juga saya ucapkan untuk Hotel Aston Rasuna yang sudah memfasilitasi terlaksananya pelatihan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here