Home Blog Page 29

Cerita Dibalik Sebuah Design

0
WJ hasil karya saya di 2015

Ketika hendak memulai mengerjakan sebuah produk (dalam topik ini adalah wire jewelry), banyak hal-hal lain yang terlibat di dalam setiap prosesnya. Mix and match alias padu padan bentuk, warna dan komposisi materi, kondisi fisik kita, sampe mood yang seringkali naik turun karena terpengaruh banyak hal, termasuk berbagai pengalaman yang menjadi guru sambil berjalan.

Pada tahun-tahun awal, ketika baru mengenal wire jewelry dan hanya bisa beberapa teknik tertentu, mengerjakan sebuah design justru tanpa beban. Kerjakan sebisanya saja karena memang kemampuan terbatas, tapi tetap dengan mempertahankan kualitas kerapihan yang memang sudah jadi pakem untuk karya saya.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, meningkatnya pengetahuan dan kebisaan, apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah murid, desakan untuk menjadi “lebih mampu” dan “harus bisa menjadi contoh” serasa mendorong-dorong di belakang. Kedua hal yang memberikan efek positif juga negatif untuk diri saya.

Efek positifnya adalah saya jadi terdorong untuk meningkatkan kualitas dengan terus berinovasi dan mengolah teknik-teknik yang ada menjadi tampilan-tampilan baru. Untuk tujuan ini, biasanya saya luangkan waktu khusus 1hari, semaksimal mungkin. Entah sudah berapa meter kawat yang terbuang dalam proses uji coba dan berapa tumpuk emosi dan kesabaran yang terlibat di sana. Apalagi pada tahun-tahun dimana saya mulai mengenal jenis perhiasan ini, hanya ada beberapa orang wire worker saja di Indonesia.  Jadi gak banyak yang bisa dijadikan teman bertukar ilmu dan pengalaman.  Bergurupun kebanyakan dari youtube dan tutorial berbayar, yang disediakan oleh para designer dari luar negri.  Itupun juga gak gampang, karena terkadang, bahkan seringnya, tidak semua petunjuk dapat dipahami dengan mudah, bahkan untuk seorang self-learner sekalipun.

Semangat untuk mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan murid juga menjadikan saya terpecut untuk menabung ilmu. Dan kalaupun ketika ditanya saya belum memiliki jawabannya, paling tidak ada beberapa clue yang menjadi pijakan teori untuk kembali kepada yang bertanya dengan beberapa alternatif pemecahan masalah yang sedang didiskusikan.  Di tahap inilah, ilmu saya sendiri jadi bertambah dengan sendirinya.

Efek negatifnya adalah ketika diri sendiri mentok dengan beberapa hambatan. Buntu ide. Kesehatan sedang drop. Kesibukan-kesibukan lain yang lebih urgent dan lebih membutuhkan perhatian. Hingga akhirnya mengacaukan mood yang ingin dibangun.  Entah ini terjadi sama teman-teman yang lain atau tidak.  Tapi jika fisik saya sudah (terlampau) lelah, misalnya mengurus rumah dan anak-anak karena tidak ada yang membantu, nyentuh kawat aja seperti gak ada energi.  Yang ada malah akhirnya belanja on line dengan alasan nyetok bahan baku hahahaha.  Penyakit dompet yang sepertinya menjadi kutukan dan terjadi pada setiap newbie/new comer.

Last but not least, dari semua uraian di atas, intinya ADA serangkaian proses naik turun dan perjuangan yang terjadi ketika sebuah karya itu dihidangkan ke publik.  Mungkin beberapa teman perajin memiliki pengalaman yang sama dengan saya.  Mungkin juga ada yang lebih berat, lebih menyiksa dan lebih berkesan.  Bahkan mungkin ada juga yang ceritanya biasa-biasa alias mulus-mulus saja tanpa kejadian luar biasa selama merintis karir dan muncul menjadi seorang wire jewelry designer.

Namun apapun itu, sebuah karya, tidak mungkin muncul begitu saja.  Tidak mungkin langsung jadi seperti Bandung Bondowoso yang membangun candi untuk Roro Mendut dalam semalam.  Let’s say untuk seorang artist yang mengenyam pendidikan seni secara teoripun, butuh rentang waktu yang tidak sedikit, hingga akhirnya benar-benar menemukan jati diri dalam berkarya.  Apalagi buat saya, yang dulunya pekerja kantoran, mantan kuli sekuli-kulinya, TANPA background ilmu seni sedikitpun.

B’joy Cafe & Steak – Resto Berkualitas yang Tidak Kami Duga

0

BJOY STEAK 2-crop

Liburan tahun baru 2015 ini saya dan keluarga besar suami habiskan dengan “mondok” di salah satu villa di daerah Lembang – Jawa Barat.  Kok dibilang mondok sih? Yoa .. “mondok terpaksa” lebih tepatnya.  Tempat menginap yang ternyata jauh dari mana-mana akhirnya bener gak bisa kemana-mana karena di depan jalan villa tersebut “terkunci” kemacetan.  Letak villa yang kebetulan berada di atas bukit, bener-bener butuh effort yang luar biasa jika ingin mencapai pintu keluar.  Belum lagi titik-titik wisata yang harus melewati jalan naik turun dan macet tak berkutik. Duh, malesin banget deh.  Mau jalan kaki kok ya jauh banget.  Mau bawa kendaraan juga gak bakalan bergerak karena macet yang berjam-jam tak terurai.  Walhasil jadilah waktu yang ada kami gunakan untuk mengobrol ria, makan-makan, dan berkaraoke.

Menghabiskan waktu mondok 3hari 2malam di villa tersebut, tibalah waktunya kami pulang.  Tadinya saya berfikir jalan raya di depan villa sudah lancar kembali karena waktu itu sudah tanggal 2.  Tapi ternyata …wwuuaaahh …macetnya tetap bertahan.  Di depan gerbang keluar galau pun melanda.  Belok kanan ke arah Setiabudi jelas gak mungkin.  Posisi mobil-mobil tak bergerak walaupun sebenarnya lewat jalan ini kami lebih dekat untuk pulang.  Belok kiri berarti menuju Cimahi.  Itupun banyak angkot yang nutup jalan, muter dulu ke Cimahi kota, baru setelah itu masuk tol Cileunyi di Padalarang.  Jarak tempuh yang lebih jauh tentunya.  Tapi ya apa boleh buat, daripada gak bergerak sama sekali, mending melewati rute yang lebih jauh tapi merambat.

Karena waktu check-out yang harus pas jam 12 siang, kami sekeluarga berencana makan siang bersama di salah satu resto yang kami temui di sepanjang jalan menuju pulang.  Alih-alih menghindari macet dengan harapan bisa nemukan resto dengan gampang, ternyata malah harus menghabiskan waktu berlipat-lipat karena banyak motor yang maksa ngambil jalur kami.  Ketemu beberapa resto juga gak bisa parkir sama sekali, saking penuhnya kendaraan yang tidak bergerak dan banyaknya orang-orang yg akhirnya menyerah dengan nongkrong berlama-lama di resto. Haddeehh….

Walhasil perut yang sedari pagi cuma diisi roti bakar, sudah melilit gak karuan.  Naga, pengemis, ular dan segala macam peliharaan di lambung juga mulai menjerit-jerit.  Beberapa rumah makan yang tadinya kami harapkan buka, ternyata malah tutup liburan tahun baru.  Akhirnya cuma bisa beli gorengan tahu yang itupun kudu rebutan sama segerombolan pelibur yang lain.

Muter sana sini mencari celah menuju tol Padalarang, dengan sistem buka tutup jalan di sana sini, akhirnya menggiring kami ke Mall Cimahi yang berada di Jl. Gandawijaya.  Di tengah hujan rintik-rintik dan terpaksa parkir di luar gedung, kami pun turun dan berharap bisa menemukan tempat makan yang menyenangkan.  Yah, jikapun harus menikmati fast food, apa boleh buat lah, daripada menahan kelaparan sepanjang sisa perjalanan yang masih 2-3 jam lagi.

Mall ini sebenarnya bukan hal baru bagi kami, karena sebelumnya sudah pernah berkunjung kemari.  Setting up mall lebih ke konsep trade centre dengan kios-kios yang sudah dikelompokkan berdasarkan jenis produk jualan.  Perjuangan mencari makanpun di sini ternyata gak mudah.  Beberapa fast food yang ada dikerumuni pengunjung.  Antrian mengular di sana sini.  Gak hilang akal, saya bertanya kepada satpam tentang tempat makan yang ada di dalam mall.  Dari referensi beliaulah akhirnya menemukan B’JOY CAFE & STEAK yang berada di mezzanine lantai 1-2.  Alhamdulillah tanpa kesulitan kami pun mendapatkan tempat duduk menghadap ke jalan raya di depan mall.

BJOY STEAK 1-crop

Membuka lembar demi lembar buku menu yang diberikan, saya tercenung-cenung menatap rangkaian foto-foto makanan dan minuman yang ada.  Perut yang sudah sekarat jadi tambah koma menanti diisi (lebay!!).  Alhamdulilah, setelah melewati perjuangan menempuh perjalanan yang panjang, ternyata di cafe ini saya bisa menemukan makanan favorit saya.  IGA.  Yes, IGA…horeee.

Sebagai penggemar iga sejati, berbagai opsi menu yang lain pun langsung lewat hahahahaha.  Yang bikin saya semangat adalah tawaran penyajian iga nya pun bermacam-macam.  Mulai dari yang penyet, hidangan sop, barbeque sampe ke iga bakar.  Setelah heboh tanya bolak balik, akhirnya saya putuskan untuk pesan iga bakar yang sudah dihidang dalam mangkok dengan kuah pindang campur asem manis dan dilengkapi dengan sayur-sayuran segar.  Di fotonya sih menyelerakan buanget. Ddduuuhh gak sabar rasanya pengen ngeliat hasilnya hahahaha.

Tidak sampai 15-20 menit kemudian, iga yang saya pesan pun datang. Olalala …ternyata sajiannya sama persis dengan foto di dalam menu.  Wah kesan pertama yang jarang saya dapatkan di kebanyakan resto di Indonesia. Coelan pertama saya putuskan untuk menikmati kuahnya.  Maknnyyuusss …edan …endes pol.  Taste pindang kecap berbaur dengan asem manis dan tom yam. Potongan-potongan sayurnya pun masih segar-segar terutama tomatnya.  Wortelnya pun direbus masih krenyes-krenyes.  Suka banget.  Daging iga yang dibakar well-done juga sangat empuk dan mudah dipotong.

Walaupun daging iga yang dihidangkan ada beberapa yang terisi lemak di sana sini, koki cafe ternyata pintar banget menyiasati lemak tersebut agar tidak eneg dimakan.  Ketika melewati kerongkonganpun gak seret dan susah dikunyah.  Setiap potongan daging bener-bener saya nikmati.  Sendok demi sendok kuah yang seger pun bikin mata merem melek hihihihihi.  Pujian pun mengalir selama kami makan, sampe akhirnya saya ketawa ketika suami nyeletuk “Halah, kamu itu, makan apapun, yang ada kan enak dan sangat enak aja” …. saya pun ngakak terpingkal-pingkal.

Iiiissss, tapi ini beneran loh ….this is the best iga bakar kuah yang pernah saya coba seumur hidup.  Yang justru bisa saya nikmati di sebuah resto yang awalnya cuma pelarian karena kelaparan yang amat sangat…hahahahaha.  Ternyata ya…perjuangan menahan lapar berjam-jam berbuah hasil yang luar biasa.

Oia, selain iga, resto ini juga menghidangkan aneka makanan pembuka, makanan penutup dan minuman yang beraneka ragam.  Anak perempuan saya yang memang gemar dengan sandwich atau burger lengkap pun puas dengan pesanannya.  Sementara anak cowok yang kalo belum makan nasi berarti belum makan, memesan ayam goreng kriuk yang ternyata juga endes.  Suami yang harus membatasi makanan berat dengan memesan gado-gado juga puas dengan apa yang dipesan.  Jadi intinya …pesanan-pesanan kami gak ada yang gagal.

BJOY STEAK 3-crop

Minuman pun bisa request keasaman ataupun kemanisannya.  Saya yang memang sudah manis (awas muntah!!) dan tidak suka minuman yang manis-manis, meminta pelayan menaruh sedikit gula cair di juice kedondong yang saya pesan.  Dan benar, rasanya pas sesuai permintaan.  Begitupun teh yang diminta suami.  Aromanya wangi dan kualitas tehnya pun disukai oleh suami.

Rangkaian makan di jam yang serba tanggung itu kami tutup dengan memesan ice cream coklat dan vanilla.  Mmmmm…yummi …bener-bener cafe & steak resto berkualitas yang tidak kami duga….  Once, jika punya kesempatan ke Cimahi kembali, bisa dipastikan kami akan nongkrong di sini lagi.

BJOY STEAK 4-crop

Belanja di Supermarket

0

SUPERMARKET 2

Terus terang saya bukan tipe orang yang senang berlama-lama belanja pun sekedar window shopping.  Pergi ke Mall dan sejenisnya biasanya bener-bener karena sedang ada kebutuhan, atau diajak menemani suami dan anak-anak or sekedar janjian hang-out makan-makan sama teman-teman dekat.  Yang paling sering adalah ke supermarket jika ada keperluan dapur yang memang tidak dijual oleh pasar-pasar tradisional.  Itupun untuk membeli hal-hal yang menurut suami justru lebih murah jika dibeli di sana.

Waktu yang dipilih pun biasanya bukan saat-saat yang populer ketika orang belanja bulanan.  Gak tahan sama penuh dan lama ngantri ketika membayar.  Kalau sudah terlihat sesak dan antrian di kasir sudah mengekor, saya lebih milih pulang aja dah.  Jadi, jika memutuskan untuk ke sana, saya lebih memilih pada tengah bulan atau di tanggal-tanggal yang bukan hari gajian dan di jam-jam yang sekiranya tidak penuh, seperti tepat saat supermarket buka dan pulang ketika pengunjung mulai ramai berdatangan.  Memang sih konsekuensinya stok barang tidak “sepenuh” jika tiba masanya orang-orang sibuk belanja bulanan.  Tapi paling tidak saya sudah tidak buang-buang waktu untuk ngantri.  Entah itu ngantri menimbang, ngantri dilayani ketika ingin beli sesuatu di bagian froozen foods (seperti daging, ayam, ikan dll), tapi juga nungguin bayar yang seringnya bener-bener menyita waktu.

Tapi ternyata strategi seperti ini tidak selamanya mulus. Pernah suatu kali, di saat yang tidak ramai, ternyata kasir yang buka cuma sedikit.  Sudah milih ngantri yang paling sedikit, eeehh ternyata malah lama karena yang belanja lupa nimbang atau ada barang yang dibeli tidak ada atau susah dibaca barcode nya.  Duh, kalo sudah begitu biasanya bawa’annya bete deh.

Pernah juga kejadian, ada yang belanja sampe beberapa keranjang tapi akhirnya batal belanja karena ketika menggesek credit card ternyata ditolak. Coba lagi pake credit card lain, ditolak juga.  Kasir sudah menawarkan membayar dengan debit, customer menolak karena dananya tidak cukup.  Alamaaaakk, sedari tadi nungguin lama, akhirnya sia-sia.  Kasirpun saya liat menarik napas panjang.  Hakul yakin pasti ngedumel tuh di hati.  Yang belanja juga langsung kabur menahan malu.  Dduuhh apa gak ngecek-ngecek dulu toh yaaaaa ….  Waktu nunggu jadi lebih lama karena kasir harus manggil supervisornya untuk ngebatalin semua transaksi yang sudah terketik.

Ada juga satu kejadian, pembeli asik aja nambah2in belanjaan sambil mbayar.  Ternyata si emak sengaja ngantri duluan, sementara suami bolak-balik nyari barang yang mau dibeli.  Gilak nih orang. Terpaksalah, proses transaksi nunggu si bapak yang berkali-kali ngambil barang baru, sementara kita-kita yang ngantri pasang muka jengkel. Egois bener ya orang tipe begini.

Seperti kata pepatah, dimanapun kita berada, adab tetap harus dijaga.  Jadi ketika saya melihat orang belanja tidak menggunakan adab yang baik, wwwuiihh gatel deh pengen negor.  Di lorong toiletries misalnya.  Beberapa kali saya lihat orang-orang tidak beradab menyemprotkan wewangian atau mencoba materi jualan yang jelas-jelas bukan tester.  Membuka casing, semprot sana sini, kemudian ditaruh lagi karena tidak jadi dibeli.  Pernah juga liat, ada ibu-ibu yang membuka plastik bungkusan pembalut hanya untuk sekedar ngecek apakah pembalut itu gampang lecek.  Terus dengan cueknya melempar kembali bungkusan tersebut dan ngomong “aaahh ini sih daya serapnya gak bagus nih…” …haaa?? yang bener aja Buk, emang situ langsung nyoba? Terus taunya daya serap gak bagus darimana coba? haddeehh

Memang sih, pemilik supermarket adalah kerjaan duit, tapi biar bagaimanapun jika kita merusak segel atau melakukan sesuatu yang tidak patut, kita sudah tidak berlaku adil dan sopan, termasuk tidak menghargai orang lain yang mungkin justru membutuhkan atau sedang mencari barang yang sudah kita rusak segel atau bungkusnya.

Ada lagi 1 cerita yang saya dapat dari penjaga jualan ayam, ikan, daging, di froozen area.  Satu ketika ada seorang Ibu yang membeli 1kg ikan mas dan meminta si Mas membersihkan apa yang dia beli.  Saya pun mengantri karena beliau memang sudah menimbang duluan.  Menunggu dengan sabar, saya perhatikan si petugas dengan cekatan membersihkan kemudian membungkus kembali, sementara si Ibu, mungkin karena ada barang lain yang ingin dibeli, meninggalkan area itu dalam rentang waktu yang cukup lama.  Ketika tiba giliran saya, Ibu tersebut nongol dan mengambil ikan yang sudah diplastikkan.  Tidak ada sekian detik, si Ibu nampak marah-marah, “kok mahal amat sih Mas?”, dengan sopan si petugas menjelaskan bahwa barcode yang dia kasih sudah sesuai dengan harga yang tertera.  Saya otomatis juga ikut melirik.  Tanpa rasa bersalah, si Ibu balik menimpali.  “Itu kan harganya Rp 1.900,-“.  Eits, saya langsung senyum-senyum (padahal sumpah pengen ngakak).  “Itu kan harga per ons Bu, sementara Ibu beli 1kg”.  Entah kesel atau malu si Ibu langsung melengos pergi, meninggalkan petugas yang bengong.  Aeeeehh …teganyaaaa ….  gimana tuh nasib si ikan? Wah seandainya saya memang butuh, tak beli deh, tapi berhubung stok ikan mas masih banyak di kulkas, ya ogah juga buang-buang duit atas nama orang yang tidak saya kenal.

SUPERMARKET 3  SUPERMARKET 4

Di balik cerita-cerita yang kurang menyenangkan di atas, ada 1 hal yang bikin saya betah berlama-lama di supermarket.  Suka banget ngeliat jejeran sayur atau aneka buah yang disusun rapi, bersih dan berwarna-warni.  Terutama di saat-saat tahun baru cina.  Stok buah impor biasanya berjejer rapih, penuh, berwarna-warni dan dengan harga yang miring dibanding buah lokal. Buat yang tinggal di perkotaan, pemandangan hijau royo-royo begini serasa memandang ke kebun sayur atau buah yang memang jarang bahkan hampir tak bisa tiap hari dinikmati.

Saya juga suka melihat jejeran minuman-minuman yoghurt, susu dan sejenisnya, yang juga nampak cantik disusun.  Warna-warna buah yang keluar dari packaging yang transparan sangat menggoda selera.  Seringnya sih saya beli karena tertarik dengan kemasan atau warna buah yang muncul hasil dari olahan hahahaha…. Untung gak punya penyakit diabetes, jadi masih bebas bisa menikmati minuman-minuman tersebut, walaupun juga masih dalam jumlah yang terbatas.  Secara dengan umur segini, harus pilih-pilih produk dairy yang aman buat badan, terutama lambung dan maag saya yang sering tidak bisa diajak kompromi.

SUPERMARKET 1

Selebihnya yang juga saya suka adalah ketika ada produk-produk tertentu yang sedang promo.  Naah yang begini ini nih, saya gak bakalan lewatkan kesempatan untuk mencoba biarpun testernya dipotong kecil-kecil seujung kuku..hihihihihi…

Above all, saya dan keluarga menganggap bahwa supermarket (besar) adalah hiburan sendiri bagi kami ketika tidak punya tujuan lain untuk refreshing.  Jadi biasanya, setelah keliling-keliling di supermarket, kami mengaso dulu di resto yang ada di mall tersebut, baru kemudian pulang ke rumah.

Nasi Goreng – Menu mati gaya yang gak ada “matinye”

2
Komposisi nasgor favorit saya
Komposisi nasgor favorit saya

Malam ini, gegara anak perempuan di rumah ribut aja pengen makan nasgor pete, saya jadi tergerak untuk nulis soal makanan yang satu ini.  Menu makan utama yang paling banyak ditemui di setiap restoran, penjajanya berseliweran mulai dari pedagang jalanan sampe masuk hotel-hotel ternama, plus bejibun ragamnya.

Kalau di keluarga kami, edisi nasgor yang paling favorit dan sering dibuat adalah nasgor polos (tanpa campuran sayur maksudnya), yang dilengkapi dengan telor ceplok/dadar, ayam goreng, tomat, timun dan kerupuk. Tingkat kepedasan dalam level sedang karena mbelain tuan putri yang gak bisa makan pedas.  Karena belakangan bumbu nasgor instan sudah menjamur, kami sudah tidak lagi ngulek-ngulek bumbu sendiri.  Paling-paling cuma ditambahi dengan bawang goreng (bawang putih atau merah).  Nggorengnya pun lebih sering pakai margarin/mentega ketimbang minyak goreng.  Segala macam bumbu instan nasgor sudah kami coba.  You name it lah ….hahaha… Tapi akhir dari kesimpulan mencoba sekian banyak adalah kami lebih menyukai bumbu instan yang bubuk ketimbang yang lembek atau yang sedikit berminyak.  Alasannya? Karena anak-anak tidak suka bumbu-bumbu yang cenderung lengket, yang saya perhatikan mengandung terasi.

Di rumah yang paling sering berhubungan dengan kompor, panci, dkk adalah suami.  Sedangkan saya cukup bagian bersih-bersih aja dah hehehehe … secara yak, kaga betah dan kurang suka berlama-lama di dapur, berdiri masak terus mencium bau bumbu segala macam bener-bener bikin saya mual.  Kalo boleh memilih, saya lebih suka nggali sumur 10meter dibanding harus masuk dapur.  Catet!!

Awalnya request masak nasi goreng menjadi pekerjaan yang menghibur bagi suami, tapi belakangan semenjak ada abang-abang penjual nasgor dan migor yang mangkal di kompleks dan mulai sering dipesan oleh anak-anak, kondite nasgor ala Ayah pun mulai memudar.  Selain memang waktu dan kesempatan yang terbatas, suami jadi suka dongkol karena orderan anak-anak mulai macem-macem, ngikutin ala si abang-abang, dan mulai membanding-bandingkan…hahahahaha….  Duh, ini bocah-bocah, pleaseeee deehh….Ayahmu kan bukan penggoyang panci naaakk …

Tapi, kalau nyatanya ingin makan nasi goreng di pagi hari sebelum berangkat sekolah, nasgor Ayah tetap jadi idola.  Biasanya kalo sudah gini, malam sebelum tidur, saya sudah siapkan nasi di dalam magic jar buat dioleh besok pagi.  Atau terkadang pagi memang terpaksa masak nasgor karena nasi sehari sebelumnya masih tersisa cukup banyak.

Nasgor Telor Ceplok
Nasgor Telor Ceplok

Kalo denger-denger cerita sih, memang nasgor ini pada awalnya adalah strategi orang Tionghoa yang sayang membuang nasi dingin sisa-sisa dalam jumlah yang banyak.  Jurus yang jitu daripada harus membuang nasi, sementara (mungkin) di dunia atau di tempat lain banyak orang yang gak bisa menikmati nasi.  Dari kecil ibu sayapun mengajarkan demikian.  Masaklah nasi sesuai kebutuhan.  Jika kurang, gampang tinggal nambah.  Dan kalo berlebih, jangan dibuang.  Simpan di dalam kulkas untuk digoreng.  Bener banget.  Fisolosofi yang terasa mendesak ketika saya sudah tidak jadi orang kantoran dan bertanggung jawab penuh atas tersedianya makanan bagi seluruh anggota keluarga, di tengah harga-harga bahan pokok yang semakin meroket saat ini.

Nasgor Ayam topping Nugget favorit anak-anak
Nasgor Ayam topping Nugget favorit anak-anak

Bagi sebagian besar orang, nasgor ini adalah pilihan pamungkas jika berada di sebuah restoran yang belum diketahui kualitas atau mutu masakannya.  Atau jika sederetan menu yang ditawarkan terasa garing dan tidak menyelerakan.  Jikapun ada berbagai versi, paling tidak modifikasinya pun standard aja.  Bisa dicampur dengan sea food, ikan asin, ati ampela, daging kambing, daging sapi, atau ayam.  Penyajiannya pun terkadang dibuat unik.  Yang sering terlihat sih, nasgornya dibungkus sama telor dadar tipis.  Nah, untuk finishing touch penghidangan, biasanya sih dilengkapi dengan potongan timur, tomat atau acar, terus dikasih keturunan kerupuk (emping, kerupuk bawang, kerupuk udang) dan terakhir dengan taburan bawang goreng.

Buat saya pribadi, kalo lagi kepengen nasgor ala resto, selalu pesen nasgor yang paling special.  Special tambah telor, gorengan ayam/udang, dikasih sate, terus dihias dengan daun selada yang jadi tatakan potongan timur atau tomat.  Kerupuk kudu ada.  Biasanya sih saya order kerupuk tambahan untuk meyakinkan bahwa kecepatan ludes nasgor dan kerupuk sebanding lurus ..hahahaha. Tapi kalo mesennya di abang-abang, saya lebih memilih nasgor pete atau ikan asin.  Dan kalo boleh, saya selalu minta ditambahkan ati/ampela. Hahahahaha…rakus amat yak.

Sepanjang sejarah perjajanan saya akan nasgor, ternyata tempat dan kerennya chef bukanlah jaminan nasgor yang akan kita pesan bakalan enak.  Pernah nyobain nasgor di hotel bintang 5. Wuiikk, gak lagi-lagi dah.  Nasinya pucet dan bumbunya gak terasa blas.  Menangnya cuma di penataan doang.  Dan yang paling ngenes, udah harganya mahal, eh cuma cukup untuk setengah lambung doang hehehehehe.  Sementara abang-abang dorongan deket rumah, cuma pake kaos tipis, campuran/isi nasgor sesuai request, dibungkus, taaappiii enaknya sejagat raya. HIhihihihi … berlebihan yak.  Eeeh tapi bener loh ….jualan abang-abang pinggir jalan banyak loh yang enak-enak….

Pandawa – The Hidden Beach – Bali

0

Kemampuan Pemda Bali mengembangkan dan membuka area-area wisata baru memang patut diacungi jempol.  Bahkan untuk sebuah pantai, yang tadinya tersembunyi, dengan sebagian besar area adalah bukit kapur dan dijadikan tambang pasir dan batu untuk materi/bahan bangunan.  Hal ini terlihat sepanjang jalan menuju pantai.  Banyak beberapa spot pengerukan batu kapur yang terlihat semakin menipis dengan bongkahan-bongkahan kecil yang tersebar dimana-mana.

Diapit oleh 2 bukit batu kapur yang sudah dibelah dan diaspal dengan rapih, kita akan memasuki area wisata ini dengan rasa penasaran yang membuncah. Pada kunjungan kali pertama saya ke pantai ini, sambil menikmati jalan menurun sedikit berkelok, setidaknya saya punya perasaan penasaran seperti itu. Walaupun sebelumnya sudah pernah dikirim foto-foto pantai ini pada waktu uji coba pembukaan dan dari beberapa teman yang sudah berkunjung terlebih dahulu.

Saya pun terbuai dengan de ja vu, ketika menikmati jalan baru lintas selatan dari Pacitan menuju Ponorogo yang juga membelah bukit (tapi bukan bukit kapur) dengan pemandangan pantai di sisi kanan (jika kita berkendara dari arah Pacitan).  Bedanya adalah jika di sini suasana kering perbatuan kapur terlihat di berbagai sudut, sementara di Pacitan pemandangannya jauh lebih hijau.  Meskipun masih tergolong baru, jalur selatan tersebut mulai ditumbuhi pohon-pohon, bahkan terlihat banyak pohon kelapa ketika kita sudah mendekati Jembatan SOGE, yang menyisir pantai.

PANDAWA 9  PANDAWA 8PANDAWA 7

Berada di wilayah Kuta Selatan kabupaten Badung, tadinya saya mengira Pandawa adalah bagian dari Uluwatu.  Tapi ternyata saya salah.  Pandawa masih tergabung dan lebih dekat ke arah Nusa Dua.  Wah, pelajaran peta saya tentang wilayah Bali harus diupgrade nih hehehehehe.

Nama Pandawa sendiri tentunya diambil dari pewayangan yang begitu populer dalam budaya Hindu.  Tampaknya, untuk mensosialisasikan nama Pendawa itu sendiri, pada bagian sisi kiri jalan dinding batu, dengan jalan aspal menurun, kita dapat melihat ke-enam patung besar (sekitar 7-9meter) dari masing-masing anggota Pandawa.  Menurut info dari pecalang setempat, urutan patung adalah berdasarkan pangkat dan hirarki atau kedudukan. Jadi wayang dengan posisi tertinggi berada di tempat yang paling tinggi.  Ini berarti dari titik pertama kali kedatangan.  Berturut-turut patung yang nampang di situ adalah DEWI KUNTI, DHARMA WANGSA (yang kalo gak salah sering juga disebut YUDHISTIRA), BIMA, ARJUNA, NAKULA dan SADEWA.  Ketika saya berkunjung ke sana, patung-patung tersebut sedang dipoles dan dirapihkan, sehingga menutup kemungkingan bagi saya untuk mendapatkan foto terbaik.  Daaann…ini artinyaaaa…saya harus balik lagi ke pantai ini …hehehehehe….

PANDAWA - The HIdden Beach
PANDAWA – The HIdden Beach
PANDAWA - The Hidden Beach
PANDAWA – The Hidden Beach

Menuju pinggir pantai, memandang luas dari berbagai arah, kita disajikan bentangan payung-payung besar dengan puluhan tempat duduk. Angin panas terasa menampar-nampar pipi siang itu.  Bergelas-gelas soft drink dengan es pun asyik saya seruput sambil menunggui anak-anak yang larut bermain pasir bersih dan menikmati sentuhan busa-busa air laut.  Penjual minuman menuturkan bahwa biasanya pantai ini penuh mulai jam 3 sore, karena diantara jam 3sore menuju maghrib, pantai lebih berasa adem dan kulit tak terbakar panas matahari.

Di pelataran parkir, ada satu aula terbuka, yang digunakan oleh para penjaja makanan.  Karena terbilang masih baru, hanya 1/2 gedung yang sudah dipakai.  Jualan-jualan pun beragam.  Ada camilan anak-anak, rujak, gado-gado, nasi goreng, lotek lengkap dengan menu makan besar.  Yang merajai adalah penjaja minuman dingin terutama es kelapa muda.  Di seberang jalan dari aula ini, ada beberapa kios permanen berdinding semen yang sepertinya sudah disiapkan untuk kios cenderamata.  Terakhir saya kesana, akhir November 2014, kios-kios tersebut belum terisi.

Apa sih yang istimewa dari pantai ini?

Kalo menurut pendapat saya sih, karena uniknya batu kapur yang terbelah di sisi kanan dan kiri area masuk.  Jalan yang sedikit berkelok memberikan kesan tersendiri. Bahkan di ujung kelokan, disediakan space untuk parkir, sehingga kita dapat berhenti sebentar, berfoto dan memandang laut dengan scene yang lebih luas.

Selain itu, landainya area pantai terbentang panjang, bersihnya pasir dengan background dinding karang dan batu kapur, menjadikan lokasi ini bagus banget untuk foto-foto.  Pengelolapun telah secara permanen membuat pijakan semen dengan 1 level lebih tinggi dari bibir pantai, membuat kita sangat leluasa nongkrong menikmati deburan ombak, tanpa harus berbasah-basah ria terkena air.

Bertanya pada beberapa orang yang berada di sana (bukan pengunjung tentunya), saya tidak menemukan jawaban kenapa pantai ini dinamakan PANDAWA.  Tapi paling tidak, dengan adanya jejeran patung anggota Pandawa, memberikan kesan kuat dan sedikit tambahan pengetahuan kita tentang pejuang-pejuang legenda perwayangan dalam kepercayaan Hindu.

Mudah-mudahan dikunjungan saya berikutnya, daerah wisata ini sudah dilengkapi dengan beberapa guest-house atau hotel-hotel kecil untuk menginap, plus beberapa permainan water sport untuk keluarga dengan KEBERSIHAN yang tetap terjaga.  At least bagi para pecinta pantai (seperti saya) bisa menghabiskan waktu lebih lama di sini.

PANDAWA 4  PANDAWA 5  PANDAWA 6

Bebek Tepi Sawah – Restaurant and Villas

0

BTS 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhir November 2014 lalu, atas undangan sebuah vacation club, saya bisa berkunjung (lagi dan lagi) ke Bali.  Judulnya gak ada kata bosan dan gak pernah nolak kalo diajak ke sini.  Paling tidak dalam 1 tahun ada 1 kali ke Bali sekedar untuk menikmati waktu leyeh-leyeh di tepi pantai atau melihat tempat-tempat baru yang tumbuh dengan cepat dan menjamur hampir merata di seluruh bagian Bali.  Entah itu hotel, restoran, bahkan titik-titik wisata yang tadinya belum terekspos.  Bener-bener perubahan yang suka bikin takjub sendiri.

BEBEK TEPI SAWAH Restaurant and Villas ini salah satu tempat nongkrong dan resto yang paling suka saya kunjungi.  Bukan karena pada dasarnya saya suka sama bebek goreng garing yang menjadi menu jagoan resto ini, tapi karena enjoy menikmati pemandangan sawah yang mengiringi waktu makan dan ditemani oleh angin semilir sepoi-sepoi, yang tidak mudah saya dapatkan ketika kembali ke rumah.  Tapi kalo boleh jujur sih ya, berhubung dalam pedoman per-maknan-nan dalam hidup saya hanya ada 2 pilihan, enak dan sangat enak, plus hobi orasi berjam-jam (terutama jika ketemu temen ngobrol yang klop), njagong di tempat ini bener-bener terasa pas.

bebek goreng garing favorit (foto diambil dari website resto)
bebek goreng garing favorit (foto diambil dari website resto)

Perubahan lain yang saya lihat adalah setting-up area restoran.  Dulu area hanya mencakup rumah inti dengan pemandangan sawah yang subur dan luas banget.  Beberapa kali datang lagi, pelan-pelan area sawah tergantikan dengan gubuk-gubuk kecil, hingga akhirnya gubuk tersebut dibangun berjejer pada sisi kanan.  Kemudian dilengkapi dengan beberapa area tempat duduk dengan meja besar atau daya tampung yang lebih banyak di sebelah kiri dan depan, yang membentengi beberapa petak sawah yang masih dipertahankan sebagai pemandangan “di dalam” area restoran.

Di bagian sisi kiri, mendekati kamar-kamar toilet, tersedia meja tanpa atap yang sepertinya memang disediakan untuk orang-orang yang tahan duduk berpanas-panas dan lebih bisa menikmati angin.  Di dekatnya ada 2 gubuk dengan design panggung.  Cocok untuk keluarga kecil dan ingin merasakan sensasi duduk-duduk lesehan, senderan di dinding kayu sambil merem melek menikmati angin yang mampir hihihihihi.  Kalo saya yang duduk di situ, kemungkinan besar, sudah asyik nggoler menjuntai di dinding arah luar pondokan.  Nyangkutin badan disitu, merem melek, have a nap, dan bangun-bangun tinggal nggarap makanan yang sudah dihidangkan. Wwwesss..nikmat bener deh hidup….

BTS 3  BTS 4

BTS 5  BTS 6

Melewati petak-petak sawah yang berada di tengah-tengah area resto, ternyata adalah jalan menuju Villas yang melengkapi restoran. Jalan sepanjang petak-petak sawah sebagian besar sudah disemen atau dipasang batu pijakan yang cantik, sehingga memudahkan para pengunjung untuk tetap bisa menikmati sawah tanpa harus berbecek-becek ria, terutama saat musim hujan.  Sayangnya saya tidak sempat mengambil beberapa shoot area villas.  Tapi jika teman-teman ingin melihat fasilitas di vlla ini, bisa langsung menuju ke official website mereka, www.bebektepisawahvillas.com.  Berikut adalah beberapa foto yang saya coba tampilkan dari gallery foto yang berada di dalam website tersebut.  Mudah-mudahan suatu saat, saya diberi kesempatan nginap di sini dan meliput plus foto-foto dengan lebih lengkap.

BTS 7

BTS 8

BTS 9

Yang saya perhatikan tetap tidak berubah adalah crowded yang tetap terjaga dari tahun ke tahun.  Kebijakan pemilik/pengelola untuk bekerjasama dengan banyak travel agent di Bali, sekiranya menjadi keputusan yang tepat untuk mempertahakan banyaknya kunjungan ke resto ini.  Hal ini terlihat dari panjang dan penuhnya parkir. Sebagian besar parkir diisi oleh bis wisata dan mobil-mobil MPV 9seats milik travel agent.  Posisi halaman parkir resto yang sedikit membukit dan selebihnya hanya bisa parkir di pinggir jalan terus terpaksa berjalan menuju resto dengan sedikit mendaki, ternyata tidak menyurutkan antusias para tamu.

patung menari dan kolam kecil di halaman parkir resto
patung menari dan kolam kecil di halaman parkir resto

Oia, di halaman parkir (atas) ada bangunan rumah yang digunakan sebagai galeri seni.  Boleh juga dikunjungi, terutama apabila kita harus mengantri mendapatkan meja.  Ada juga pelukis yang suka berjualan di sini, tapi dalam beberapa kali kunjungan, mereka sudah tidak keliatan. Satu hal lagi yang tetap dipertahankan oleh resto adalah beberapa orang gadis cantik berbaju tradisional Bali yang selalu siap sedia menyambut tamu di pintu atau gerbang depan. Cantik-cantik tampil dengan baju adat merah, kuning, rambut digelung ke samping dan lengkap dengan dandanan khas penari Bali.

BEBEK TEPI SAWAH Restaurant and Villas, Jl. Raya Goa Gajah, Peliatan, Ubud, Bali.  Official website: www.bebektepisawahrestaurant.com

Klayar – Pantai Landai Berbatu

0
KLAYAR di sore hari
KLAYAR di sore hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyambung perjalanan singkat ke BANYU TIBO dengan air terjun ke pasir pinggir pantainya, kami tergesa melajukan mobil ke  KLAYAR yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Banyu Tibo.  Karena waktu nongolnya matahari sudah semakin sempit, jalan terjal menurun dikebut tanpa rasa takut hehehehe.  Padahal turunannya menukik banget itu…iihhh….

KLAYAR terletak di Desa Kalak Kecamatan Donorojo. Jika datang bukan dari arah Banyu Tibo, jalur termudah menuju pantai ini adalah melalui jalur ke Goa Gong. Dari jalan utama Pacitan – Solo, tepatnya di pertigaan dekat Masjid Besar Punung (jika dari arah Kota Pacitan berarti setelah SPBU Punung), kita akan ketemu pertigaan besar. Dari pertigaan ini jika dari arah Pacitan kota, selanjutnya adalah belok kiri, sampai ketemu pertigaan lagi ambil kanan, ikuti terus jalan aspal jalur Goa Gong. Setelah sampai kompleks Goa Gong, terus ambil jalan jurusan Kalak (ada papan penunjuk arah). Sampai di perempatan Balai Desa Kalak, belok kiri setelah melewati Pasar Kalak sampai kembali bertemu dengan pertigaan, kemudian lanjut ambil jalan yang kiri. Ikuti jalan beraspal dan sampailah di pantai Klayar.

Jalan menuju beberapa pantai yang berdekatan di area ini tidak begitu besar tapi cukup untuk menampung lalu lintas 2 arah.  Tapi kalau ketemu bis atau truk besar, yaaahh terpaksa salah satu harus lebih minggir sedikit.  Aspal yang dilintasi juga lumayan.  Ketika terakhir saya berkunjung ke Pacitan di akhir September 20114 yang lalu, beberapa jalur utama menuju wisata Goa (terutama Goa Gong), sedang diperluas dan diaspal kembali oleh Pemda setempat.  Truk-truk besar pengangkut bongkahan batu kapur, mesin press timbunan dan kerukan yang kokoh dan nampak mampu nggaruk mobil kami, terlihat aktif bekerja sepanjang jalan.  Karena pembangunan jalan ini, waktu yang kami tempuh untuk ke area wisata dalam beberapa titik jadi lebih panjang dan lama.

Ada beberapa signage yang mengarahkan kita ke beberapa pantai, tapi sebagian besar hanya terbuat dari tripleks, dengan tulisan sederhana dan berukuran kecil. Kalau buat saya sih, dengan mata yang sudah komplit dengan minus, plus dan silinder, signage model begini bakalan tidak terlihat kalo sedang nyetir.  Jadi kalau boleh usul, supaya gak nyasar muter-muter ketemu pertigaan yang banyak, mending berwisata dengan mengajak orang lokal atau menyewa mobil dengan supir lokal.

Ada juga beberapa tempat yang menyewakan motor walaupun tidak banyak.  Sehari antara Rp 50.000,- – Rp 75.000,-  untuk kendaraan roda dua atau Rp 350.000,- – Rp 450.000,- untuk roda empat, belum termasuk bensin.  Jika ingin mencari tempat-tempat penyewaan seperti ini, kita harus ke kota Pacitan atau di jalur utama jalur lintas provinsi.  Biasanya akan terlihat beberapa plang penyewaan kendaraan dari pinggir jalan.  Atau bisa juga minta bantuan hotel untuk membantu menghubungi penyewaan, tapi kudu ditawar yak karena biasanya kalo yang mesen tamu hotel harga suka dinaikin sesukanya.  Apalagi kalo tau tamunya dari Jakarta…jiiiaaahh….rental di Bali aja kalah jauh….

Lanjut soal perjalanan ke Klayar.

Berkendara sekitar 15 menit dari arah Banyu Tibo, sampailah kami di jalur utama menuju Klayar.  Sebelum melewati jalan yang menurun, di sisi kanan kiri jalan kita akan melihat beberapa guest-house sederhana. Kalau tidak salah hitung sih ada sekitar 3 guest-house yang nampak berpenghuni.  Biaya sewa sekitar Rp 75.000,- – Rp 150.000,-/malam.  Harga tergantung pada fasilitas kamar mandi.  Tentunya dengan kamar mandi yang keroyokan, harganya jadi lebih murah.  Tapi yang pasti tidak ada kamar yang berAC.  Posisi penginapan yang berada di atas bukit dan tidak jauh dari pantai, tentunya kondisi udara masih comfortable lah.

Karena hari sudah terlalu sore menuju maghrib, beberapa toko craft, asesoris, busana dan lain-lain yang berada di pinggir area parkir, sebagian besar sudah tutup. Hanya ada 2 warung yang berada di bibir pantai yang masih terus buka (katanya sih 24 jam).  Tanpa buang waktu, memanfaatkan cahaya matahari yang tinggal beberapa menit bersinar, kami segera berfoto ria baik cover sampul kaset jaman dulu.  Pengennya sih sok candid gitu …hahahaha.  Sekedar info tambahan, di foto ini, saya belum menggunakan hijab, jadi jangan kaget yak heheheehehe

KLAYAR 1   KLAYAR 2  KLAYAR 6

Selain warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman, di sini juga tersedia penyewaan motor ATV.  Untuk 15menit berkendara, kita perlu merogoh kocek Rp 50.000,-.  Biasanya sih pengunjung menggunakan ATV tersebut untuk meraih ujung pantai yang memiliki karang batu yang menjorok ke arah laut.  Kalau dari titik kedatangan atau penyewaan ATV, karang batu tersebut berdiri sekitar 500meter dengan jarak tempuh pas 15menit bolak balik, kalau …ini yaah…kalau yang bersangkutan pinter nyetir ATV nya …hehehehe.  Maklum lintasan berpasir dengan bebatuan besar kecil di sepanjang pantai, kita harus punya trik jitu berkelok-kelok cari jalur yang tidak berat untuk mengendarai ATV.

KLAYAR 5

Seperti jargon yang saya tulis di atas, KLAYAR ini adalah pantai yang sarat dengan batu.  Dari beberapa meter kita menginjakkan kaki di bibir pantai, langkah kaki kita masih akan dipenuhi oleh bebatuan, bahkan hingga genangan air laut dengan kedalaman selutut. Sebagian besar batu sudah berlumut, jadi hati-hati kalau melangkah, kalo sedikit berlarian aja pasti deh kepleset.  Jadi jangan coba-coba bikin pelem ala Bollywood di sini ya.  Dijamin bakalan take-sceen berkali-kali karena tergelincir atau bisa jadi batal total karena pemainnya benjol akibat jatuh.  Catet!! Tadinya saya berharap bisa menikmati sunset di sini, tapi ternyata gak bisa.  Karena memang memang pantainya tidak menghadap Barat, jadi mo ditunggu sampe jenggotan dan ganti Presiden 30x juga gak bakalan bisa nongkrong menanti sunset.  Jadi waktu bener-bener kami habiskan untuk jalan-jalan di pantai, nikmati deburan ombak, foto-foto narsis ala artis gak laku…mantab.

KLAYAR 7  KLAYAR 8  KLAYAR 9  KLAYAR 10

Kunjungan kami ke KLAYAR kami tutup dengan menikmati semangkuk mie goreng atau mie rebus, ngupi, ngeteh plus ngepul buat saya, sambil ngobrol ngarol ngidul, ngakak-ngakak di warung dengan pencahayaan yang minim banget.  OK lah!!

KLAYAR 11  KLAYAR 12  KLAYAR 13

Unique Roof Top Bar and Restaurant – Rimba – Bali

0
Comfortable Seats
Comfortable Seats

Salah satu kegiatan yang paling saya sukai ketika liburan di Bali adalah menikmati sunset.  Duduk-duduk, ngobrol, ngemil-ngemil cantik sambil nungguin matahari terbenam itu rasanya gimanaaa gitu.  Apalagi tempatnya nyaman, cozy, camilan (makanan dan minumannya) enak dan ditemani oleh orang-orang yang kita sayangi.  Klop deh rasanya.

Atas usulan seorang teman di Bali, saya dan keluarga memutuskan untuk menikmati 1x sunset di resto ini, yang kebetulan (pada waktu saya ke sana) memang masih baru.  Berlokasi dalam satu lingkungan dengan AYANA RESORT, UNIQUE ROOF TOP resto and bar ini exactly satu kompleks dengan bangunan RIMBA HOTEL.  Jadi buat teman-teman yang mungkin sudah pernah ke Rock Bar dan Ayana Resort, kita hanya perlu berkendara sekitar 2-3 km setelah pintu masuk kompleks Ayana, kemudian belok kiri di pertigaan pertama.  Tidak ada bangunan lain selain menuju ke Rimba Hotel.

Setelah sempat lost mencari entrance gatenya, kami akhirnya nekad masuk melalui area lobby Rimba Hotel.  Dan ternyata bener memang bangunannya jadi satu paket.  Melewati lobby hotel, belok ke kiri kemudian naik lift ke lantai paling atas (di lift juga tertera dengan jelas) dan begitu keluar kita akan disambut dengan wall art work yang unik dan menarik, sementara pintu masuk bar ada di sisi kanan setelah menapaki beberapa anak tangga.

Entrance Area (depan lift)
Entrance Area (depan lift)

Kesan pertama yang saya dapatkan dari tempat ini adalah suasana open and half-roof bar yang cocok banget untuk private party.  Kalo boleh jujur, kurang pas kalo bawa anak-anak di bawah 17th.  Bukan karena kesan yang macam-macam ya, tapi sentuhan susunan fasilitas tempat duduk, bar dengan sajian liquor berbagai merk dan tempat leha-leha yang sepertinya lebih cocok dinikmati oleh pasangan-pasangan dewasa.

DSC_0044  DSC_0048

Di lantai dasar, begitu masuk, kita dimanjakan dengan bar di sisi kiri, kursi leyeh-leyeh yang ngundang tidur di bagian tengah, dan kolam renang kecil di sisi  kanan.  Di depan kolam, disediakan beberapa couch yang diatur berkelompok, bisa dipake sambil tidur-tiduran atau ngumpul bersila, sehingga kalo kita memang datang dengan rombongan sirkus tapi tetep gak mau diganggu sama tetangga meja, ya bisa banget.  Tempat duduk-duduk ini berlantaikan kayu, menghadap langsung ke pegunungan Uluwatu dan pemandangan laut yang jauh.  Bagian pinggir dibatasi oleh pagar kaca tebal dan tiang besi yang kokoh bukan main.  Lantai kayu juga dihiasi dengan lampu-lampu unik berwarna warni.  Suka banget deh liat ornamen lampu-lampu kacanya.  Sayang waktu itu saya datangnya bukan di waktu malam hari, jadi gak bisa nikmati indahnya lilin yang dipasang di dalam lampu-lampu kaca-kaca itu.

DSC_0012  DSC_0018  DSC_0024

DSC_0023  DSC_0030

Soal menu, menurut saya sih so-so lah, kualitas sih setara dengan harga tapi masalah porsi yang jadi kasus hehehehe. Porsinya terlalu sedikit ya bok.  Jadi jangan datang ke sini dalam keadaan perut kosong dan berharap sekali makan langsung kenyang yak.  Gak bakalan terkabul dah hahahaha.  Tapi kalo tujuan seperti tadi yang saya sebutkan, cuma ngemil-ngemil cantik, ya bolehlah.  Apalagi buat yang sengaja diet …mmmm…cucok banget.  Kalo buat saya sih, bener-bener cuma 1/2 lambung tuh porsinya.  Resto sebenarnya menawarkan paket Rp 40.000,- ++ untuk ukuran kecil, Rp 50.000,- ++ untuk porsi sedang dan Rp 60.000,- ++ untuk porsi besar, tapi berhubung pilihan menu paketnya gak ada yang sreg, jadilah kami memesan ala carte aja.

Anak saya yang memang cenderung takut salah pesan alias kurang berani berpetualang dengan aneka kuliner, memutuskan untuk memesan 1 porsi nasi goreng.  Hahahaha….bener-bener menu andalan di saat kita mati gaya.  Begitu pesanan datang…mmmm…penampakannya sih standard hotel bintang 4…tersusun rapi dan menarik.  Saya yang awalnya under-estimate sama menu “mati gaya” ini, akhirnya tergoda untuk mencicipi setelah melihat anak saya yang anteng melahap butir demi butir nasi goreng.  Oooohh pantesan….ternyata nasgor nya endes pake banget. Sebelas duabelas sama abang-abang dorongan tapi penampakannya jauh lebih mewah … yaaeyalaahh…wong seporsinya puluhan ribu rupiah….hehehehe.

Selesai makan setengah kenyang, saya coba menjelajah lantai atas dengan harapan menemukan beberapa spot indah seperti yang mereka up-load di official websitenya.  Waaahh….bener banget.  Dari lantai atas ini, pegunungan Uluwatu dan laut lepas, serta keindahan kolam renang dan taman Hotel Rimba, terlihat jelas dari sini.  Teras lantai 2 yang mendekat ke kaca pinggir serasa pas banget dengan kursi-kursi bar dan meja-meja kecil untuk nongkrong dan minum-minum.  Ada juga meja panjang dari kayu yang unik, dilengkapi dengan kursi-kursi yang menghadap ke arah pegunungan.  Pastinya cucok banget untuk ngobrol-ngobrol sambil menikmati sunset atau menghabiskan malam dan ngobrol berlama-lama.

DSC_0033   DSC_0038  DSC_0032

Sayangnya niat ngambil beberapa spot foto yang bagus selama sunset tidak saya dapatkan karena kondisi cuaca yang gak jelas.  Aeeehh…gagal dah misi utama ke sini.  Anak-anak juga sudah ribut pengen lanjut jalan-jalan karena gak betah dengan suara jembrang-jembreng house music yang diputar selama berada di sana.  Well, like I said, tempat ini wayahnya memang bukan buat anak-anak hihihihihi.

Buat temen-temen pekerja event, kalo mo ngadain private party, tempat ini highly-recommended deh.  Lantai bawah bisa buat full hang-out, sementara lantai atas bisa buat ketemuan orang-orang yang ingin diskusi-diskusi lebih serius.  Dengan catatan JANGAN pas musim hujan yak.  Apalagi hujan plus bonus angin.  Jangan dicoba deh.  Karena atapnya cuma half-part.  Kebayang kalo orang-orang berlarian mepet ke arah dalam terus tetep kuyup karena angin.

Someday, anyway, busway, saya ingin balik lagi ke sini for sure!! Tanpa anak-anak pastinya hihihihihi …… Aaaahh…Bali, my most-dream place to be.  Apa sih yang gak berasa liburan terus di sini……

Link untuk Unique Rooftop Bar and Restaurant : http://rimbajimbaran.com/en/dining/unique-rooftop-bar-restaurant#content

Yangshuo – Kota Kecil Seribu Bukit

0

YANGSUO

Pada kunjungan ke-2 saya ke NANNING dalam rangka mengikuti pameran CAEXPO (China Asean Expo) di September 2014, alhamdulillah akhirnya bisa meluangkan 2-3 hari waktu free untuk menjelajah sebuah kota kecil, YANGSHUO, bagian dari Provinsi GUILIN.  Ketika berangkat, terus terang, kami belum punya agenda perjalanan atau informasi yang lengkap mengenai kota ini.  Hasil nanya di Nenek Google juga sedikit, hanya berupa keterangan-keterangan ala wikipedia plus foto-foto indah hasil jepretan photographer profesional. Nanya ke pusat informasi turis di sana pun (via email) tidak begitu meyakinkan.  Jawaban-jawaban yang diberikan via email  bahasa Inggrisnya juga ambigu.  Aeeehhh.  Jadi selama pameran, di sela-sela waktu yang ada, sibuk tanya kesana kemari, ujung-ujungnya malah bingung sendiri wakakakaka, karena setiap orang yang kami tanya penjelasannya berbeda-beda.  Jiiiaaah capcay dah ah.  Belum lagi tawaran transportasi dengan berbagai versi yang tambah bikin galau.  Ada sih jasa tour yang oke, tapi setelah hitung-hitungan dengan kocek yang ada kok mahal bingit yak.  Bisa pergi gak bisa pulang entar …..

Pilihan pertama adalah sewa mobil selama 3 hari 2 malam senilai berkisar antara Rp 5.000.000,- – Rp 6.000.000,- (dihitung dengan kurs yang berbeda-beda).  Tapi itu belum termasuk duit tol, tip, konsumsi dan nginap semalam di hotel.  Pilihan kedua adalah naik bis, murah meriah tapi bonus fasilitas jorok…yeeaayy….dan ini bener-bener gak diusulkan oleh beberapa rekan karena melihat saya yang sensitif sama bau dan kebersihan.  Pilihan ketiga adalah naik kereta sampe stasiun KA Guilin, habis itu nyambung jalan darat menuju Yangshuo, setelah itu ya atur sendiri dah ….  Akhirnya, setelah rembukan dan nekad pengen jalan-jalan ala bekpeker, pilihan ketiga telah disepakati oleh kami ber-empat.  Yang penting sampe Guilin dulu.  Sisanya bener-bener modal keberanian, tanya-tanya lagi, baru ambil keputusan berikutnya.

Atas usulan salah seorang petugas hotel yang lumayan komunikasi bahasa Inggrisnya, kami memesan tiket kereta senilai sekitar  Rp 250.000,-/orang (atau RMB 111), sehari sebelum keberangkatan.  Eh, bukan memesan ding, karena memang gak bisa booking dulu atau beli secara on-line, tapi dengan membeli langsung di counter khusus yang justru bukan di Terminal Kereta Api.  Itupun sempat bingung karena tidak ada arahan-arahan dalam bahasa Inggris, jadi bener-bener menggandalkan bahasa tarzan dan kemampuan supir taxi mencerna apa yang kami mau ..hehehehe….  Begitu sampe counter, surprise berikutnya sudah menanti.  Counter yang dimaksud ternyata hanya sebuah ruangan kecil dengan jendela berjeruji dan cuma satu-satunya.  Ngantri sih gak begitu panjang, tapi prosesnya yang bikin pegel.  Kudu setor passport dan menunggu pengetikan tiket yang sempat jadi bahan tertawaan karena Mbak-mbak yang melayani kesulitan mengeja dalam huruf latin.  Kasuspun terjadi ketika mereka in-put nama saya yang cuma sebatangkara.  Seperti biasa, pasti ditanya kok namanya cuma 1, terus nama keluarganya apa? yeeaaahh right ….abis bijimana dong, secara ortu cuma ngasih nama segitu-segitunya yak …..  Buat saya yang sudah beberapa kali menghadapi masalah ini ketika bepergian ke luar negri sih sebetulnya biasa, yang luar biasa adalah orang yang diajak bicara susah (pake banget) untuk diajak berkomunikasi dalam bahasa internasional, sementara saya sendiri gak ngerti bahasa Cina.  Klop sudah.  Aniwei, akhirnya urusan ini pun dianggap selesai karena sama-sama gak nyambung. Dan seperti biasanya akhirnya nama saya diketik 2x agar dapat ter-input dengan baik di dalam sistem pencatatan.

Tiket KA cepat Nanning - Guilin

Menempuh perjalanan darat dengan kereta api ekspres dari NANNING selama kurang lebih 5 jam, perjalanan menuju GUILIN jadi suatu pengalaman yang luar biasa.  Kami yang awalnya takut tidak bisa menikmati perjalanan dengan fasilitas bersih, ternyata tidak terbukti ketika naik kereta ini.  Bukan apa-apa, selama tinggal di NANNING, nyaris tidak pernah sekalipun menemukan fasilitas umum, terutama MCK, yang bersih, tidak bau amis (jangan harapkan wangi ya) dan menyenangkan.  Bahkan untuk sekelas restoran yang bonafid sekalipun.  Tapi ternyata di kereta ekspres ini, semua serba bersih dan terlihat baru.  Tempat duduk yang nyaman, ketersediaan air minum (air putih) di setiap gerbong, colokan listrik di setiap slot tempat duduk, pelayanan restorasi yang cukup dan yang juga penting adalah gulungan-gulungan tissue yang selalu penuh tersedia di toilet sepanjang perjalanan.

Selama di kereta jangan harap bisa menikmati pemandangan dari jendela.  Kenapa? lah wong keretanya ngebut je …kecepatan yang tercatat dari dinding depan gerbong itu, sekali tancap aja bisa 100km/jam, jereng dong kalo nekad natap keluar dengan bayangan yang cepet kek halilintar (lebay gak ya?) hahahaha.  Tapi, saya cukup terhibur dengan musik tradisional khas Cina yang terus diputar selama perjalanan.  Musik khas yang sering banget diputar oleh almarhum Ayah saya semasa hidupnya.  Akhirnya yaaahh…tedor sajalah…wong selama jadi SPG Pameran badan serasa remuk redam.  Jadi gak ada cerita khusus soal pemandangan selama perjalanan kereta yak.  Yang dilihat juga standard aje, lebih indah pemandangan jalur utara/selatan kereta di Jawa soalnya.

Keluar dari stasiun KA yang berjubel, kami disambut dengan tawaran-tawaran Mas-mas yang menyewakan kendaraan.  Persis kek airport Soetta Terminal 1.  Sempat terpikir untuk naik bis.  Tapi niat itu kami batalkan karena gak ada penjelasan akurat (yang bisa kami mengerti dengan baik) tentang dimana naik dan berhentinya bis tersebut di Yangshuo.  Akhirnya, dengan modal bahasa Cina yang pas-pasan, salah seorang rekan seperjalanan berhasil bernegosiasi dengan rental mobil sambil memperlihatkan tulisan-tulisan Cina tentang tempat-tempat yang ingin kami kunjungi di Yangshuo.  Kesepakatan pun tercapai.  Sewa mobil mini-van 24 jam dengan harga sekitar Rp 1.500.000,- sudah termasuk bensin dan kami tidak menanggung biaya penginapan dan konsumsi supir selama di sana. Eng ing eeengg tancap gas menuju Yangshuo selama 6-7 jam ke depan.

Banyak sebenarnya area-area wisata di dalam kota Guilin sendiri, yang sebagian besar adalah wisata goa/gua, tapi dengan pertimbangan efesiensi kami memutuskan untuk ke Yangshuo dulu dan melanjutkan wisata dalam kota Guilin keesokan harinya sambil menunggu kereta yang akan memulangkan kami kembali ke Nanning.  5 jam berlalu, nyaris tidak ada hal-hal istimewa yang bisa kami lihat.  Tapi ketika 2 jam memasuki Yangshuo, barulah pemandangan-pemandangan indah bisa kami nikmati.  Ribuan bukit-bukit kecil dengan segala bentuk berjejer rapih dan hijau.  Ada yang ujung bukitnya lancip, ada yang bulat, bahkan ada yang berbaris seperti gambar-gambar standard jaman sekolah SD dulu.  Gak kehitung banyaknya (iseng amat kalo sambil ngitung yak).  Saya jadi teringat pemandangan yang hampir mirip ketika memasuki kabupaten Pracimantoro menuju Pacitan.  Cuma bukit-bukitnya tidak sebanyak ini.

Ketika memasuki gerbang kota, kami dibuat berdecak kagum dengan tata kota yang sangat unik.  Bangunan-bangunan dibuat menempel pada badan bukit, dibuat seragam dan area pejalan kaki yang cukup luas.  Berkali-kali seliweran sepeda-sepeda tandem yang ternyata adalah sewaan dari hotel.  Oooh ok, terlintas di benak saya, berarti untuk keliling kota ini cukup pake sepeda aja nih…hehehehe.  Tapi layaknya kelakuan orang Indonesia, mana mau sih mandi keringet ngontel sepeda kesana kemari? bener kan?  Dan terus terang karena banyaknya sudut-sudut kota yang sedang dibangun atau direnovasi, debu yang bertebaran tentunya kurang nyaman juga buat sepedaan.

Menelusuri jalan-jalan di dalam kota, saya jadi dejavu dengan Bali.  Penataan toko-toko, restoran, area-area umum dan tempat-tempat nongkrong, persis banget dengan yang terlihat kalo kita keliling Bali (terutama daerah Kuta, Sanur dan Seminyak).  Bedanya adalah kalo Yangshuo dikelilingi bukit, sementara Bali dikelilingi oleh pantai.

YANGSHUO 01  YANGSHUO 02  YANGSHUO 03

Berhubung hari sudah terlalu sore (menjelang malam), kami memutuskan untuk check-in dulu.  Rejekinya, hotel tempat kami menginap di Nanning, JINJIANG INN, ternyata juga buka di Yangshuo.  Jadilah kami dapat rate khusus tanpa jaminan dengan harga sekitar Rp 175.000,-/malam (kamar aja).  Di lobby hotel, saya dibuat takjub dengan suguhan PETA TOUR yang terpampang lebar di dinding depan (3 gambar di atas).  Waaahh…ini sih gak bisa dilahap dalam 1 hari perjalanan.  Melihat banyaknya foto-foto area wisata sih, harusnya dijabanin nginep paling enggak 3 hari 2 malam.

Melepas kepenatan beberapa saat, kamipun melanjutkan perjalanan menelusuri kota yang berhias lampion sepanjang jalan sambil berusaha mencari makan malam.  Ternyata untuk urusan perut, kondisi di Yangshuo sungguh sulit buat muslim.  Kalo di Nanning kami bisa menemukan beberapa restoran halal (gak lebih dari 5 jari hitungannya), tapi di Yangshuo nyaris tidak ada.  Kami mencoba sebuah resto seafood yang menurut Pak Supir harusnya tidak menyajikan b2, tapi nyatanya berujung kasus yang bikin kami emosi.  Salah seorang teman sudah bertanya berkali-kali meyakinkan bahwa tidak mengandung daging ataupun minyak b2.  Dijawab dengan anggukan yakin dari pelayan.  Taaappiii begitu dihidangkan … tttaaarraaaa….jelas banget potongan-potongan daging b2 terhidang di atas piring.  Kami pun sigap angkat kaki dan marah sejadi-jadinya.  Yaaahh….gatot dah impian menikmati sea food ala Yangshuo.  Kamipun akhirnya menyerah beli mie instan, roti dan aneka camilan di sebuah mini market.  Nasib naassiib.  Jadi buat teman-teman muslim yang berminat ke Yangshuo, sepertinya harus bawa bekel nasi dan lauk pauk kering kalo mau nginap di sana.  Jangan harap bisa menikmati makanan halal, karena setelah berkali-kali berkeliling, bau anyir khas b2 menyengat dimana-mana. Ddduuuhhh …..

YANGSHUO 04  YANGSHUO 05  YANGSHUO 06

Selain urusan perut yang butuh perhatian, hal lain yang harus disiapkan sebelum berwisata ke Yangshuo adalah baju hangat.  Ketika kami berkunjung, suhu di sana berkisar antara 20-22 derajat Celcius. Pagi-pagi buta malah lebih turun lagi. Dan karena hotel-hotel di sana sebagian besar adalah budgeted hotel dengan area yang sempit, jangan harap bisa mendapatkan paket makan pagi di restoran milik hotel.  Ada sih penjaja sarapan di berbagai sudut, tapi lagi-lagi ya itu, kehalalannya sangat diragukan.  Ngiler deh ngeliat orang-orang di pinggir jalan nyeruput mie ayam … aaeeehh…. secara ya…mie ayam kuah anget pake bakso atau pangsit bener-bener paket lengkap buat sarapan kenyang, tapi yaaahh…cukup ngiler aja dulu …hehehehe….

Perjalanan kami lanjutkan dengan menikmati keindahan kota yang masih tertidur di tengah pagi-pagi buta.  Udara segar khas pegunungan memenuhi paru-paru.  Beberapa bangunan unik khas Cina yang kemaren tidak bisa kami nikmati, pagi itu terlihat indah dipandang mata.  Kami sempat berhenti di sebuah jembatan yang di bawahnya terhampar sungai yang tenang dan luas.  Di sepanjang sungai terlihat, lagi-lagi, jejeran bukit yang kali ini masih tertutup embun pagi.  Gak bosan saya memandang sambil menunggu sun-rise.  Sayang kami tidak sempat berlama-lama karena harus mengejar beberapa tempat wisata yang begitu banyak.

YANGSHUO 07

JINJIANG INN HOTEL 

Liao Cheng Li, Senior Manager, JINJIANG INN HOTEL – Nanning, email: 735918321@qq.com, Phone: +86-15877178095

BANYU TIBO | Pantai Indah Menyatukan Sungai dan Laut di Pacitan, Jawa Timur

0

BANYU TIBO 1_Fotor Setelah berhari-hari berkutat dengan tanggungjawab mengajar wire jewelry untuk 50 crafter di Kota Pacitan, lega rasanya bisa punya sisa waktu yang cukup untuk mengunjungi pantai yang indah ini.  Lebih tepatnya sih disebut air terjun di bibir pantai dengan pemandangan tebing yang sedikit menjorok ke daratan. Satu ekspresi yang paling tepat adalah LUAR BIASA karena terus terang baru di sini, sepanjang hidup saya,  saya temukan ada air terjun setinggi kira-kira 4-5m yang jatuh ke pasir yang bersahut-sahutan dengan debur ombak di garis akhir pantai.  MasyaAllah!! sungguh Allah begitu indahnya menggoreskan lukisan alam yang tiada tara dan saya telah diberikan kesempatan untuk menikmatinya dengan decak kagum tanpa jeda.

BANYU TIBO 3_Fotor

Untuk orang Jawa, sebutan BANYU TIBO tentunya bisa langsung dimengerti.  Banyu berarti AIR, sementara tibo artinya JATUH.  Jadi kalo disinkronisasikan Banyu Tibo artinya AIR JATUH.  Cuma arti jatuh yang diambil benar-benar mengkiaskan arti jatuh yang sungguh unik.  Seperti yang saya sebut sebelumnya, air tersebut jatuh di butiran pasir yang kemudian meresap dan ditarik oleh akhir gelombang air laut yang mencapai titik jatuh air.  Begitulah kira-kira gambarannya.

PACITAN, salah satu kabupaten yang merupakan bagian dari provinsi Jawa Timur ini, tadinya dikenal sebagai surga batu-batu alam, kota seribu goa dan batik yang masih mencari jati diri dalam goresannya, kini mulai dikenal sebagai salah satu pusat wisata pantai.  Banyu Tibo ini adalah salah satunya selain Pantai Klayar yang sudah lebih dulu populer dan akan diikuti oleh beberapa pantai lain yang aksesnya sekarang masih/sedang diolah oleh pemerintah daerah setempat.  Bahkan saat terakhir saya mengunjungi pantai ini (kunjungan yang ke-2 kalinya di minggu ke-3 September 2014), jalan menuju pantai-pantai ini (yang kebetulan saling berdekatan), sedang di rombak dengan menanamkan bongkahan batu kapur yang kuat, diperlebar jangkauannya luasnya kemudian di over-lay menggunakan aspal.  Hal ini membuktikan betapa seriusnya Pemda Pacitan untuk menjadikan kota ini sebagai surga kunjungan pantai setelah Pantai Baron dan pantai-pantai sekitarnya yang berlokasi di Jogjakarta.

BANYU TIBO 8_FotorUntuk mencapai Pacitan, saya sendiri lebih memilih melewati jalur darat dari Jogjakarta ketimbang datang dari arah Solo.  Selain jarak tempuh yang lebih pendek, jalan yang dilalui juga tidak terlalu berkelok-kelok, dan bisa mampir ke beberapa rumah murid-murid saya yang kebetulan berada di beberapa Kecamatan sebelum mencapai pusat kota.  Jalan besar dan mulus akan menyambut kita begitu sampai di pintu desa Donorojo. Untuk sekelas kabupaten bagi saya ini cukup istimewa.  Apalagi 10tahun belakangan, salah seorang putra daerah menjadi orang no 1 di Indonesia.  Jadi rasanya adalah sesuatu yang biasa jika Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Presiden RI yang ke-7 dan 8, berusaha mempercantik tanah kelahirannya sendiri.

 

BANYU TIBO 6_FotorJika teman-teman ingin langsung menuju ke Pantai Banyu Tibo, ambillah jalan menuju desa Donorojo, satu garis lurus dari arah Jogjakarta setelah pasar rakyat yang berada di per-empat-an Pracimantoro.  Terletak di desa Widoro, Kecamatan Donorojo, untuk menuju lokasi, jalur yg paling mudah adalah melalui jalur Goa Gong. Dari jalur utama Pacitan Solo, tepatnya di pertigaan dekat masjid Besar Punung. Jika dari arah Solo atau Jogjakarta, pertigaan belok kanan. sampai ketemu per-tiga-an lagi belok kanan, ikuti terus jalan aspal arah Goa Gong, yang adalah salah satu goa paling fenomenal di Pacitan.

Setelah sampai kompleks Goa Gong, terus ambil jalan jurusan Kalak. Sampai di per-empat-an balai desa Kalak, ambil kiri setelah melewati pasar kalak ketemu per-tiga-an, ambil jalan yang kanan arah desa Widoro. Ikuti terus jalan ini sampai ketemu petunjuk di depan bak besar penampungan air yang mengarahkan ke Pantai Banyu Tibo. Dari petunjuk arah ini selanjutnya melewati jalan yang sudah dirabat 2 jalur. Jika bertemu per-tiga-an, ambil jalan yang kanan, ikuti terus jalan ini maka akan sampai di Banyu Tibo.

BANYU TIBO 7_FotorKalau masih bingung dengan arahan di atas, paling makjleb ya tanya penduduk setempat hahahaha.  Tapi jangan khawatir penduduk desa pasti khatam arah menuju ke pantai ini, asal kita mampu mengadaptasi petunjuk arah angin yang sering digunakan oleh orang Jawa ketimbang menyebutkan belok kanan, lurus atau belok kiri. Pengalaman saya sih jarang pengunjung yang nyasar walaupun petunjuk arah menuju beberapa lokasi wisata ditulis sangat minim. Yeaah setidaknya kita kan masih di NKRI, jadi gak usah pusing mengenai komunikasi. Ya enggak? Yang bikin mumet itu adalah kalo kita merasa sok tau dan malas bertanya.  Seperti kata pepatah “malu bertanya, sesatlah di jalan”.

Nah, yang mungkin butuh sedikit perjuangan adalah ketika kita sudah sampai di jalan satu-satunya menuju pantai.  Jalan dibuat dua tapak ukuran roda mobil dan benar-benar memang buat 1 mobil.  Jadi kalau kebetulan papasan dengan mobil lain yang berbeda arah, yah terpaksa harus ada yang merapat ke kiri atau ke kanan, disesuaikan dengan kondisi jalanan.  Yang pasti persis seperti gang senggol ala mobil, semepet-mepetnya, sampe berasa kalo penumpang di mobil yang amprok-kan dengan kita serasa ada di bangku sebelah mobil kita sendiri.  So buat yang belum lihai nyetir, jangan coba-coba deh.  Atau mau mencoba nyali sih boleh aja asal jangan mencelakakan orang lain.

Sejatinya Banyu Tibo ini adalah wisata tebing karena titik akhir parkir mobil adalah di atas tebing.  Disediakan sedikit lahan yang agak landai di tebing tersebut untuk parkiran jika kita beruntung datang dalam kondisi sepi pengunjung.  Kalau dalam musim liburan, bisa dipastikan harus parkir di lahan berpohon-pohon dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Di depan ujung parkiran inilah kita bisa menikmati suara deburan ombak dari pantai yang berada di bawah.  Di sisi kanan berderet warung-warung yang menyajikan makanan-makanan ringan maupun berat (seperti nasi dan lauk pauk), air minum dingin atau hangat, bahkan untuk sekedar menikmati rujak yang sambelnya nauzubillah minzalik pedesnya.  Saya sempat duduk-duduk sambil mengobrol dengan beberapa teman ditemani kopi tubruk yang luar binasa manisnya.  Iseng memesan mie instan goreng dengan harapan bisa memuaskan selera, tapi ternyata gagal.  Ternyata yang dijadikan mie goreng adalah mie rebus dan difinalisasi tanpa sentuhan kuah.  Alamak, terbayang dong ya asinnya itu bumbu.  Saya nyengir menyerah karena setelah terkena jebakan betmen pedesnya rujak eeeh dilanjut dengan jebakan keasinan mie goreng bumbu kuah. Gagal sudah acara makan.  Selidik punya selidik, ternyata si Ibu pedagang buta huruf.  Begitulah kira-kira kesimpulan kami, karena setelah dicoba memesan satu kali lagi (oleh teman saya yang lain), teman saya ini mengambil sendiri bungkusan mie goreng untuk dimasakkan.  Dengan menggunakan bahasa Jawa yang kromo (sopan) barulah tersibak rahasia bahwa biasanya tamu sendirilah yang memilihkan mie mana yang akan dimasak dan bagaimana mie itu akan dimasak. Eeeeaallaaahh …..

Kegagalan mengisi perut nyatanya tidak bisa mengalahkan sensasi luar biasa yang saya rasakan ketika mendengar dentuman ombak dan menikmati bermenit-menit nongkrong di bukit, memandang ke sisi kiri, melihat air jatuh yang tiada putus ke pasir yang masih bersih dan putih di bawahnya.  Sekelompok remaja terlihat menuruni tangga bambu yang dipasang tidak jauh dari air terjun dan bersenda gurau menikmati kucuran air di atas kepala ketika sudah menyentuh pasir di telapak kaki.  Ngiri banget ngeliatnya.  Tapi saya cukup berbesar hati menerima kenyataan bahwa jika saya paksakan diri mengikuti mereka, bukan tidak mungkin tangga bambu itu akan rubuh, saya terjengkang ke belakang (ya iyalah masak terjengkak ke depan) dan mendarat di pasir pantai karena tidak kuat menopang tubuh saya yang langsing ke arah luar.  Lagipula, kalo terjadi apa-apa dengan saya (amit2), siapa dong yang ngurusin suami dan anak-anak saya di rumah hehehehehe (alasan).

Siang itu kunjungan ke Banyu Tibo kami tutup dengan gelak tawa karena menemukan supir yang kami sewa tertidur di jok depan dengan kaki diangkat ke atas setir dan indehoi terbuai menikmati lagu-lagu dangdut yang lagi happening.  Saya terpaksa membangunkan dia karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar on-time agar terkejar agenda makan ikan nila bakar di depan kantor Kecamatan setelahnya.  Maapin aye ya Mas …hihihihihi

BANYU TIBO 4_Fotor  BANYU TIBO 5_Fotor

BANYU TIBO | Pantai Indah Menyatukan Sungai dan Laut di Pacitan, Jawa Timur