Home Blog Page 3

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi

39

Bagaimana perasaanmu saat harus melanggar sumpah profesi?

Yang pasti secara professional tentulah salah. Apalagi sebelum menerima pekerjaan tersebut kita tahu persis resiko kerahasiaan dan keamanan yang harus dipegang dan dihadapi, selama bekerja di tempat tersebut. Tapi bagaimana jika dengan melakukan pelanggaran tersebut di atas banyak nyawa yang akan tertolong? Dilema pastinya.

Begitulah yang terjadi atas Katherine Gun (Katherine). Seorang wanita muda yang bekerja untuk GCHQ (Government Communications Headquarter) Inggris. Sebuah institusi intelijen dan keamanan yang bertanggungjawab untuk memberikan atau menyampaikan sinyal intelijen (sigint) dan jaminan informasi kepada pemerintah dan angkatan bersenjata Inggris.

Apa sebenarnya yang sudah dilanggar oleh Katherine?

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi
Katherine Gun di dalam ruang kerja (kubikal) nya

Review The Official Secrets

Masih ingat tentang penyerbuan atau agresi militer Amerika cs ke Irak, dengan persetujuan Dewan Keamanan PBB, karena alasan adanya senjata pemusnah masal di 2003?

Nah, film ini beranjak dari kisah tersebut yang kemudian dibukukan oleh Marcia & Thomas Mitchell. Sebuah hasil karya tulis yang fenomenal dengan judul The Spy Who Tried To Stop A War. Kebayang ya bagaimana apiknya sebuah hasil karya sinema yang lahir dari sebuah kisah nyata dan sudah diolah dalam sebuku literasi serius non-fiksi yang tentunya sudah dipersiapkan secara seksama, berangkat dari fakta dan menjadi topik pembicaraan hangat di seluruh dunia.

Pemicu dari rangkaian kisah panjang ini adalah saat Katherine diminta atasannya untuk menyampaikan memo rahasia dari NSA (National Security Agent) kepada pemerintah dan intelijen Inggris. NSA sendiri adalah sebuah badan intelijen dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang berada di bawah kewenangan Direktur Intelijen Nasional. NSA bertanggungjawab atas pemantuan global, pengumpulan dan pemrosesan informasi dan data untuk tujuan intelijen. Memo rahasia tersebut berisikan agar Amerika (di bawah pimpinan George W. Bush Jr.) dan Inggris (dengan Perdana Menteri Tony Blair) memantau komunikasi pribadi para petinggi dari anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB yang terdiri dari negara Kamerun, Bulgaria, Chili dan New Guinea. Lewat penyadapan inilah, mereka akan melakukan tekanan agar para petinggi ke-4 negara tersebut mau bekerjasama dan mendukung usulan Amerika dan Inggris untuk menginvasi Irak lewat voting. Usulan yang akan secara resmi disampaikan pada saat General Meeting PBB, khususnya sidang Dewan Keamanan yang membahas tentang adanya senjata pemusnah massal yang disiapkan oleh pemerintahan Saddam Husein. Seperti yang sudah jadi pengetahuan umum. Irak di bawah pimpinan Saddam Husein adalah salah satu (mungkin satu-satunya) negara di jazirah Arab yang tidak mau bekerjasama dalam bentuk apapun dengan Amerika.

Hati Katherine pun tergerak. Perasaannya terusik saat membayangkan bahwa invasi tersebut akan mengambil banyak nyawa. Katherine yang bersuamikan lelaki muslim Turki pun, turut merasakan bagaimana selama ini Amerika telah begitu turut campur dalam kehidupan negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim.

Memo tersebut digandakan dan berikan kepada Yvonne Ridley (Yvonee), seorang aktivitas anti perang, lewat seorang teman baiknya. Yvonne kemudian meneruskan memo tersebut kepada seorang journalist koran harian The Observer (Observer) bernama Martin Bright (Martin). Martin inilah yang dengan persetujuan semua petinggi di Observer, melakukan penyelidikan kemudian menaikkan isu ini untuk koran tempat dia bekerja. Karena memang tengah hangat diperbincangkan, headline Observer tentang memo ini melahirkan kontra dari berbagai media lainnya. Perbedaan spelling antara american-english dan british-english menjadikan banyak media meragukan keaslian dari memo tersebut. Observer pun langsung menghadapi tekanan. Dianggap telah melakukan pembohongan publik.

Martin yang merasa bertanggungjawab atas perkara ini pun akhirnya turun tangan melakukan investigasi. Didukung oleh editornya Peter Beaumont (Peter) (diperankan oleh Matthew Goode), mereka menggali informasi lewat MI6, English secret agent. Seorang intelijen terkenal milik Inggris yang namanya juga populer dan sering muncul lewat film James Bond 007. Meskipun MI6 tidak secara gamblang meng-iya-kan isu yang mereka bicarakan, Peter akhirnya mendapatkan nama Frank Koza, seorang petinggi NSA, yang menandatangani memo rahasia tersebut. Hingga akhirnya ketahuanlah bahwa information leaking source berasal dari GCHQ.

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi
THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi
Martin Bright (diperankan oleh Matt Smith). Journalist harian Observer

GCHQ pun gonjang-ganjing. Semua petugasnya diwawancara bahkan beberapa diantaranya mendapatkan tekanan selama investigasi. Tak tega menyaksikan ini semua, Katherine akhirnya mengaku bahwa dialah si whistleblower kasus ini. Melewati berbagai penyelidikan interpol dan berbagai pihak, Katherine akhirnya harus bekerjasama dengan Ben Emmerson (Ben) yang dilakoni sangat apik oleh oleh Ralph Fiennes. Ben sendiri adalah seorang public international lawyer, human rights, humanitarian law and international criminal law. Kepiawaiannya dalam membela kasus-kasus berskala besar termasuk diantaranya hak-hak sipil, membawa Katherine semakin yakin untuk membawa perkara ini ke pengadilan.

Asumsinya adalah bahwa jika kasus ini diangkat ke permukaan, publik akan meyakini bahwa Katherine tidak berbohong dan bahwa Amerika dan Inggris telah melakukan tindakan kejahatan publik. Keyakinan Katherine melawan pun semakin kuat karena setelah invasi berlangsung dan Irak dapat diduduki, keberadaan senjata pemusnah masal tersebut yang digadang-gadang oleh Amerika dan sekutunya, tidak dapat dibuktikan. Meski harus pula mengalami tekanan secara pribadi seperti tindakan deportasi Yasar Gun (suami Katherine), niat perempuan muda ini malah semakin berapi-api. Apalagi sang suami sangat mendukung keputusan Katherine.

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi
Yaser Gun (diperankan oleh Adam Bakri) dan Katherine Gun (diperankan oleh Keira Knightley)
THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi

Klimaks cerita sampai pada saat persidangan tertutup Katherine. Tampak sekali nuansa ketegangan di persidangan ini. Kegugupan Katherine yang sudah melanggar Official Secret Acts sebagai analyst di GCHQ tampak jelas saat dia memasuki ruang pengadilan, menaiki tangga sempit menuju ruang sidang dengan tingkat keamanan tingkat tinggi. Tapi semua mencair saat seorang Jaksa yang mewakili pemerintah berdiri dan mengatakan bahwa semua dakwaan yang ditimpakan kepada Katherine ditarik tanpa syarat.

Ben sebagai lawyer Katherine pun lantang menyatakan sikap penolakan terhadap keputusan ini. Karena dengan dibatalkannya dakwaan, nama baik Katherine akan terganggu dan pemerintah, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas rangkaian invasi gagal tersebut, akan melenggang bersih tak tersentuh.

Saya lumayan kaget saat menyaksikan babak terakhir dari film ini. Tadinya berpikir bahwa akan ada perang argumen seru antara pihak pembela dan penuntut umum selama sidang. Fase yang paling saya sukai dari film-film yang menyajikan topik hukum. Tapi ternyata harus menelan kekecewaan dari sebuah klimaks yang melempen. Namun jika dirunut dan dipikiran kembali, keputusan pemerintah Amerika membatalkan tuntutan atas Katherine adalah satu political step paling tepat yang bisa menyelamatkan muka mereka dari hadapan publik.

Kesan Pribadi

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi

Saya termasuk jarang nonton film yang bertemakan politik dan hukum. Salah satu genre yang berada di urutan terakhir dalam kualifikasi saya. Memutuskan untuk mengikuti film ini karena mendapatkan referensi dari seorang teman yang doyan banget dengan drama atau film sarat dengan political or law issues. Seneng banget dia menyaksikan argumen-argumen mendalam pada berbagai kasus yang dihadirkan oleh hasil karya sinema di lini ini. Sementara saya lebih enjoy dengan keseraman, efek deg-degan dan rangkaian misteri yang dihadirkan oleh film thriller atau horor.

Tapi saya harus berterimakasih kepada teman yang satu ini. Karena The Official Secrets sudah menghadirkan begitu banyak sensasi dan tambahan pengetahuan buat saya pribadi. Lewat film ini saya menyaksikan bagaimana serunya kehidupan dunia media cetak dan keterlibatan sisi-sisi politik dalam proses sebuah pemberitaan. Dari yang saya pahami, bisnis media bisa jadi penggerak utama dalam membangun cara berpikir publik dan mampu memberikan pengaruh besar kepada kehidupan politik itu sendiri. Dan ini panjang banget kalau ingin dibahas lebih rinci.

Bagaimana kesan untuk para pelakon?

Banjirnya aktor dan aktris senior setidaknya bisa menjamin kualitas acting dari film yang officially released di 2019 ini. Penentuan main and supporting role nya tentu telah melewati proses casting yang seksama. Tapi jujur saya kurang begitu puas dengan penampilan Keira Knightley yang berperan sebagai Katherine Gun. Pembawaannya di film ini cenderung flat dan kurang greget. Tak mewakili karakter seorang wanita pintar seperti yang biasanya dimiliki oleh seorang analyst. Apalagi ini terlibat dengan dunia intelijen. Keira secara visual juga sudah luruh kecantikannya. Berbeda dengan saat dia tampil di film Pirates of The Caribbean. Artis asal Inggris berusia 36 tahun (saat saya menuliskan ini) tampak jauh lebih tua dari perempuan seusianya.

Poin tertinggi untuk penampilan saya berikan kepada Ralph Fiennes yang memerankan Ben Emmerson. Senioritas serta pengalamannya di dunia cinematography dan teater sudah tidak diragukan lagi. Kalau buka laman profile Ralph di berbagai tautan, hanya decak kagum yang bisa kita sampaikan untuk beliau. Contoh termudah dan terpopuler adalah perannya sebagai Lord Voldemort di serial Harry Potter. Siapa yang tidak merinding liat penampilannya di sana.

Untuk The Official Secrets, Ralph dimunculkan saat film sudah menginjak pertengahan waktu. Tapi meski begitu, kehadirannya melahirkan letupan-letupan berisi dan penuh makna bagi jalan cerita. Aktor, produser dan sutradara berwarganegara ganda (Inggris dan Serbia) berusia 58 tahun ini, pada kenyataannya memang mengenyam pendidikan resmi dalam dunia peran di The Royal Academy of Dramatic Art. Jadi kekayaan ilmunya matang sebelum berangkat menjadi seorang aktor profesional.

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi
Ralph fiennes yang berwibawa

Score saya untuk film ini adalah 9/10.

Pantas untuk ditonton saat kita hendak mengisi dan atau menambah (sedikit) pengetahuan tentang kehidupan dunia media, intelijen dan politik. Setidaknya ada sebuah produk sinema yang menceritakan tentang illegal war yang diletuskan oleh Amerika dan sekutunya atas Irak di 2003. Tentunya ini menjadi bagian dari catatan kelam sejarah perang yang tak ada sedikitpun manfaatnya bagi kehidupan manusia di dunia.

By the way, jika kalian menjadi Katherine Gun dalam kehidupan nyata, apakah akan melakukan hal yang sama?

THE OFFICIAL SECRETS. Saat Nurani Memerangi Sumpah Profesi

#TheOfficialSecrets #ReviewFilm #BritishMovie #ReviewTheOficialSecrets

Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE

41

Alkisah adalah suatu sore males banget mau ngapa-ngapain. Pewe maksimal dari tempat tidur. Pas puasa dan sedang tidak ada energi tambahan untuk bahkan sekedar baca buku. Pengennya gegoleran, ngebuka HP, nonton berbagai hiburan di YouTube dan ngeliat yang lucu-lucu di timeline IG terutama update news about Bangtan Sonyeondan. Pokoknya everything about doing nothing and killing time.

Bosan melakukan itu semua, saya pun menjangkau tablet yang tergeletak manis di sisi bantal. Tetiba inget kalau suami beberapa hari yang lalu memberikan saya tambahan privilege tontonan lewat aplikasi CATCHPLAY+. Tergoda tawaran murah movies entertainment dengan biaya IDR 90K untuk 4 bulan dan IDR 30K/bulan setelahnya, aplikasi inipun tercantum manis di tablet yang memang saya gunakan untuk berbagai jenis entertainment. “Nanti nontonnya bisa tersambung ke TV. Jadi gak harus nonton di tablet,” begitu pesan sponsor suami. Ah tambah lagi alasan untuk tidak bosan di rumah selama pandemi (masih) berlangsung.

Sekilas Tentang CATCHPLAY+

Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE

Selama mengurangi mobilitas karena pandemi, berbagai aplikasi entertainment pun mendadak tumbuh subur di tanah air. Begitu banyak provider hiburan yang berlomba-lomba menarik minat publik. Termasuk memunculkan dan menawarkan fasilitas menonton berbagai streaming movies menggantikan peran bioskop yang harus dinikmati secara offline.

Sesaat setelah selesai mendaftar, kita akan diberikan password (4 digit angka yang kenalkan sebagai parental control code) yang harus selalu kita masukkan saat hendak menonton. Angka ini tidak dapat kita ganti karena, kalau saya tidak salah presepsi, dijadikan sebagai indentification number untuk setiap pelanggan.

Pilihan jenis tontonannya beragam. Mulai dari film dan drama premiere sampai koleksi-koleksi lama yang tetap enjoyable untuk ditonton. Terutama hasil karya sinema yang sempat menduduki box office atau mendapatkan perhatian banyak dari publik. Semuanya dikelompokkan dalam berbagai genre dan sub-genre yang bisa kita telusuri satu persatu. Tidak dapat dicari berdasarkan nama aktor/aktris seperti yang bisa kita lakukan di aplikasi yang lain.

Salah satu hal yang membedakan Catchplay+ dari aplikasi sejenis adalah di kolom Komentar Editor. Di bagian ini kita dapat membaca beberapa artikel yang ditulis khusus untuk beberapa produk sinema berkualitas atau sedang dalam masa promo. Hingga saat saya mengetik ini, belum begitu banyak ulasan atau artikel yang bisa kita baca di kolom ini, tapi tulisan yang sudah dihadirkan keren banget.

Resolusi gambar di aplikasi ini sudah setingkat HD (High Definition). Kualitas gambar di atas 480p atau 720p. Jenis video yang dapat diputar pada monitor dengan resolusi 1.280 x 720 pixels x 30 fps. Jadi gambarnya jernih dan jelas banget. Subtitle nya pun tersusun rapih, dengan ukuran proporsional, dan dalam bahasa Indonesia yang baku dan benar.

Sebelum kita mulai menonton film atau drama yang kita pilih, akan tersedia beberapa informasi yang bisa kita baca seperti sinopsis singkat, related clips, Cast & Crew dari film/drama tersebut, plus beberapa pilihan film atau drama lain yang memiliki genre dengan story line yang serupa. Dan yang terakhir dan paling mengasyikkan, setidaknya buat saya, adalah Related Articles. Satu ulasan yang sudah disiapkan oleh CATCHPLAY+ agar kita mendapatkan berbagai informasi yang berhubungan dengan film atau drama tersebut. Saya mendadak pengen banget melamar jadi reviewernya dan mempersembahkan hasil tulisan saya untuk aplikasi ini.

Oia, CATCHPLAY+ juga menyediakan sarana gratis dan single rental jika kita baru ingin mencoba dan tidak ingin berlangganan dulu. Tapi tentu saja, pilihan film atau serialnya tidak selengkap kalau kita sudah menjadi anggota. But it’s still okay for trial purposes.

Lengkap banget ya fasilitasnya. Paket super nyaman untuk melengkapi hiburan yang kita inginkan dari sebuah karya seni cinematography.

Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE
Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE

Review My Teacher My Love

Saya memutuskan untuk nonton yang ringan-ringan untuk first experience saya bersama CATCHPLAY+. Pilihan jatuh pada genre romance yang lucu-lucu. Seleksinya (hanya) lewat coverage picture yang ditampilkan sebagai official flyer dari film yang bersangkutan. Dan itu gak butuh waktu lama karena dalam tak lebih dari 5 menit kemudian saya kepincut dengan foto seorang lelaki imut berkacamata, berwajah mirip Iqbaal Ramadan, dan seorang cewek berambut panjang dengan ekspresi lucu. Yap. My Teacher My Love judul filmnya.

Dari judulnya aja kita dengan mudah menangkap garis besar atau benang merah utama dari film ini. Apalagi kalau bukan kisah cinta seorang murid kepada gurunya. Tema uwuw dan pastinya nggemesin banget.

Film yang diproduksi oleh para sineas Jepang pada 2018 ini diberi judul Sensei Kunshu dalam bahasa negara asalnya. Cowok yang imut tadi adalah aktor Ryoma Takeuchi yang berperan sebagai guru matematika Yoshitaka Hiromitsu (Yuki). Sementara si cewek yang mengenakan seragam dan berperan sebagai murid adalah aktris Minami Hamabe dengan nama Ayuha Samaru (Samaru).

Gak butuh proses yang lama untuk melihat kelucuan dari film ini. Dari scene awal aja sudah bikin saya ketawa geli. Samaru yang ditolak cintanya sama cowok incaran tampak desperate dan makan bermangkok-mangkok mie sampe keliyengan. Masalah kemudian muncul saat Samaru tidak menemukan dompetnya untuk membayar. Nah disinilah akhirnya muncul Yuki yang menyelamatkan Samaru. Taaraaa here comes the charming prince. Adegan pun dibuat dramatis. Mereka saling beradu pandang dengan tentu saja tingkah memalukan Samaru yang habis mabok makan kekenyangan. Sementara Yuki tampak adem ayem dengan ekspresi datar. Yang cewek terpesona, yang cowok cool habis.

Kek-uwuw-an pun hadir kembali saat Samaru terlonjak kaget saat melihat Yuki masuk ke dalam kelasnya. Menjadi guru matematika sekaligus wali kelas pengganti/sementara. Melihat Samaru tetiba berdiri dengan mata bulat membelalak bikin saya ngakak gak habis-habis. Apalagi kemudian Samaru salting. Layar pun mendadak penuh dengan fitur meletup-letup mewakili hati. Rame bukan kepalang. Sejak saat itu Samaru pun meyakini bahwa Yuki adalah cowok yang telah dikirim Tuhan untuknya dan dia bersemangat untuk menjadikan Yuki pelabuhan hati terakhirnya. Go go girl!!

Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE
Samaru yang selalu semangat mendekati Yuki dengan segala cara

Untuk mencapai tujuannya ini segala macam usaha dilakukan Samaru. Apapun itu. Namanya juga usaha yak. Kudu diniatkan habis-habisan. Mulai dari sekedar membawakan buku, ngikutin semua kegiatan yang diadakan Yuki, sampai mencucikan mobil sang guru tercinta. Semua dilakukan tentu saja dengan gaya centil Samaru yang pastinya diselipkan adegan-adegan lucu yang jelas-jelas menunjukkan cintanya. Anti malu tapi malu-maluin.

Tapi ternyata, meskipun pelan-pelan terlihat usaha Samaru mulai menampakkan hasil alias si guru mulai jatuh cinta padanya, Samaru harus menghadapi 1 pesaing ketat. Adalah seorang pianist dan teman Yuki sedari kecil bernama Saimon Aika (Saimon). Orangnya cantik, kalem alias gak pencilak’an seperti Samaru, dan memiliki passion hidup yang sama dengan Yuki. Baik fisik maupun karakternya berbeda terbalik dengan Samaru. Yuki dan Saimon malah pernah belajar musik bersama di Perancis. Jadi kedekatan merekapun tak diragukan lagi. Kasuspun jadi tambah ruwet saat Saimon menjadi pianist yang mengiringi kelompok paduan suara sekolah Samaru dimana Yuki menjadi pembimbingnya. Tambahlah kisruh hati Samaru.

Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE
Pak Guru Yuki saat menjadi dirijen paduan suara SMA nya Samaru. Ceritanya lagi lomba paduan suara nih.

Ngenes karena sang guru tak sedikitpun menunjukkan rasa cintanya kepada dirinya, plus hadirnya Saimon diantara mereka, Samaru pun akhirnya memutuskan untuk melupakan Yuki. Dalam satu adegan dimana seharusnya Yuki ingin mengutarakan isi hatinya, Samaru malah menuntaskan pertemuan tersebut dengan menyatakan bahwa dia merelakan Yuki dan mengijinkan lelaki yang diidamkannya itu untuk meneruskan pendidikan musiknya di Perancis. Duh, sedih banget deh. Apalagi liat Samaru berurai air mata, menatap gurunya dengan mata nanar, dan tak mengijinkan Yuki untuk mengungkapkan isi hatinya.

Yah Samaru. Terburu-buru dan gak mau mendengarkan Yuki. Etapi kalau gak gitu, filmnya gak punya puncak emosional dong ya hahaha. Kurang seru pastinya.

Scene berikutnya adalah lompatan 1.5 tahun kemudian dimana Samaru lulus SMA. Samaru juga tampil berbeda dengan rambut bob sebahu tapi tetap cantik menggemaskan.

Di saat Samaru kembali ke kelasnya, dia menemukan buku hariannya yang sempat hilang di meja belajarnya. Lembar demi lembar dimana Samaru sempat mencurahkan isi hatinya tentang sang guru, dibalas dengan tulisan menggunakan spidol merah yang romantis tak terkira. Samaru langsung tersentuh hatinya. Hingga di lembaran terakhir dia membaca pesan agar segera pergi ke ruangan tertentu.

Ketebak dong ah siapa yang melakukan itu. Yoa. Siapalagi kalau bukan Yuki. Si guru imut yang sudah menyelesaikan studinya dan kembali ke Jepang untuk merengkuh cinta Samaru. Jadi pas mereka berpelukan woaahh rasanya pengen tepuk tangan.

Simpel banget ya. But that’s love. That’s the real soul mate. Kalau sudah jodoh mau ngider kemanapun, mau jumpalitan kayak apapun, semua pasti kembali dan bertemu disaat atau waktu yang tak terduga.

Kesan Saya Untuk Film Romantis Ini

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, film My Teacher My Love hadir semata-mata untuk hiburan ringan. Gak perlu mikir untuk mencerna jalan ceritanya. Diimbangi dan diselipkan adegan-adegan lucu, terutama dari tingkahnya Samaru, film ini bener-bener bisa mengisi waktu-waktu kemalasan seperti yang saya alami. Pas banget pokoknya.

Karakter Samaru memang diciptakan culun, tampak polos, tapi sebenarnya justru dia ini pemberani bahkan cukup nekad. Dia loh konsisten menampakkan rasa cintanya lewat tindakan-tindakan nyata. Jadi saat akhirnya si guru menyadari bahwa diapun sesungguhnya menyukai Samaru, kita pun bisa bilang bahwa usaha tak akan menghianati hasil. Bener kan?

Aktris Minami Hamabe (Minami) yang lahir di 2000 ini (persis di usia yang sama dengan anak sulung saya), menurut saya, cukup berhasil memerankan tokoh Samaru. Visualnya masih pas untuk anak berseragam SMA. Wajahnya tentu saja cantik. Tapi meskipun masih berusia muda, Minami sudah banyak membintangi film, acara televisi, bahkan meraih berbagai penghargaan di dunia perfilman.

Gimana dengan Ryoma Takeuchi (Ryo)? Nah kalau baca profile cowok yang kelahiran 1993 ini di tautan Wikipedia, bererot bener kisah perjalanannya di dunia sinema. Sering banget memerankan tokoh-tokoh yang diambil dari karakter-karakter anime dan komik-komik Jepang. Wajahnya cenderung kalem menurut saya sih. Tapi kenapa cukup sering ya mengambil peran antagonis?

Untuk My Teacher My Love keduanya tampil maksimal. Bonding nya terbangun dengan baik. Couple feel nya juga dapet banget. Mereka nih kalau disejajarkan berdiri atau mereka berdiri berdampingan, tinggi badannya jomplang banget. Ryo sekitar 185cm sementara Minami cuma 156cm. Jadi jika di beberapa adegan, saat berdekatan, tingginya tampak gak jauh berbeda, pasti Minami pakai ganjelan kaki atau Ryo harus mengalah menunduk sedemikian rupa. Yang pasti pemilihan Minami dan Ryo untuk menjadi leading role film ini sudah pas sekali.

Yang pengen cari hiburan nggemesin dan uwuw, film ini dijamin cucok banget. Ada ketawanya, ada terharunya, ada sedihnya juga. Tapi yang pasti menghibur maksimal.

Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE
Yang Gemesin dari MY TEACHER MY LOVE

#MyTeacherMyLove #FilmJepang #FilmKomedi #FilmRomantis #SinemaJepang

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

28

Minggu 18 April 2021.

Getaran konsisten bolak balik terasa saat saya sedang asik-asiknya main game Jewel Blast Dragon di gawai. Tampak notifikasi missed free call via WA dari Katerina. Sahabat blogger cilik mentik yang sudah lebih dari 5 tahun ini menghiasi lingkaran pertemanan dunia tulis menulis. Saya langsung riweh semriweh. Secara mainnya lagi seru-serunya dan tangan uzur saya belum terlatih untuk harus mendadak pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Maklum. Lemot.

Ah, telpon balik aja, pikir saya. Dan karenanya saya pun kalah di babak yang lagi dimainkan. Eeehhh.

Saya langsung ngecek WA. Oh ternyata, ibu 2 anak itu sudah mengirimkan celotehan panjang kali lebar tapi belum saya baca. Pantes. Saya memutuskan untuk melihat pesannya dulu sebelum menelpon balik. Terlihat sebuah ajakan untuk mengikuti webinar sore itu juga. Mendadak saya terbangun. Apalagi setelah menilik judul webinarnya “Jelajah Alam dan Kuliner Wallacea”. Wah ada pengetahuan baru yang pantas dikulik nih. Jadi gak perlu waktu lama untuk saya berteriak “iya” saat kami berdua tersambung dalam sebuah percakapan.

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

Mengamati sederet informati lewat official flyer yang disebarkan, saya mencatat bahwa webinar ini diprakarsai oleh Omar Niode Foundation dan The Climate Reality Project Indonesia dan didukung oleh World Food Travel Association. Presentasi dan diskusi on line ini diadakan dalam rangka World Food Travel Day yang jatuh pada 18 April dan Hari Bumi (World Day) pada 22 April. Demikian yang disampaikan oleh Amanda Katili Niode, moderator diskusi dan juga adalah Chairwoman dari Omar Niode Foundation dan Ambassador Wold Food Travel Association – Wallacea.

Pembicaranya lumayan banyak. Berasal dari beragam institusi dan area keahlian yang berhubungan dengan isu atau topik webinar. Ada Aris Prasetyo dari Harian Kompas. Fitria Chaerani dari Campa Tour. Mohammad Firdaus dari Pangan Bijak Nusantara. Meilati Batubara dari Nusa Indonesian Gastronomy. Dan exclusively menghadirkan Erik Wolf yang menyampaikan recorded opening speech mewakili World Food Travel Association.

Yok kita kupas satu persatu!!

Wallacea

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Peta Wallacea. Sumber: Wikipedia Indonesia

Ada yang pernah mendengar kata Wallacea dan Garis Wallace (Wallace Line) ?

Jika melihat dan mengamati peta di atas, kita tentunya akan langsung mendapatkan gambaran awal mengenai hal ini. Ada sesuatu yang ingin dijelaskan dan berhubungan erat dengan sebagian dari Indonesia bagian tengah dan juga sebagian lainnya dari Indonesia bagian timur.

Wallacea adalah kawasan biogeogratif yang mencakup sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah, terpisah dari paparan benua-benua Asia dan Australia oleh berbagai selat di dalamnya. Wallacea adalah zona transisi antara daerah biogeografi Indo-Malaya Raya dan Australia (Wikipedia Indonesia)

Kawasan Wallacea meliputi Sulawesi (terbesar dalam kelompok ini), Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, Halmahera, Buru, Seram serta banyak pulau-pulau kecil diantaranya. Secara umum dapat dikatakan bahwa kawasan Wallacea memuat seluruh pulau Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Wilayah ini terletak diantara Paparan Sunda atau dangkalan Sunda di sebelah barat dan Paparan Sahul atau dangkalan Sahul di bagian timur. Total luas daratan kawasan Wallacea diperkirakan sekitar 347.000 km2. Di kawasan ini pulak terdapat 697 spesies burung dengan 249 (36%) diantaranya endemik. Di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya ada 328 spesies burung dengan 230 diantaranya tidak bermigrasi dan 97 spesies endemis (contohnya burung Maleo).

Nama atau penamaan Wallacea sendiri diambil dari seorang naturalis Alfred Russel WALLACE yang telah mendiskripsikan batas-batas biologis kawasan zoogeografis yang dikenal sebagai Garis Wallace (Wallace Line).

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

Lalu siapakah Alfred Russel Wallace ini?

Alfred Russel Wallace (Wallace)

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

Saya membaca paragraf demi paragraf tautan jelajah.kompas.id saat ingin mengulik siapa sebenarnya Wallace. Saya mendadak tergugu dan tak henti berdecak kagum saat mengetahui bahwa Wallace adalah salah seorang ilmuwan yang sepantasnya disejajarkan dengan Charles Darwin (Darwin), seorang yang telah mengguncang dunia dengan teori evolusinya dan juga adalah panutan Wallace.

Lahir di Great Britain pada 8 Januari 1823, Wallace dikenal sebagai seorang Naturalis. Seorang yang mengadakan penyelidikan atau penelitian khusus mengenai binatang dan tumbuhan. Tapi seiring dengan pengembangan dari ilmu yang sudah beliau hadirkan, Wallace juga dikenal sebagai seorang Antropolog, ahli bidang antropologi, ilmu yang mempelajari tentang manusia. Lalu kemudian dianugerahi gelar sebagai Bapak Biogeografi, salah satu cabang dari ilmu biologi yang mempelajari tentang keanekaragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu.

Sempat menyampaikan Early Evolutionary Thinking dan teori tentang seleksi alam kehadapan Darwin, Wallace semasa hidupnya telah mengelilingi nusantara sejauh 22.400km dalam sebuah ekspedisi khusus mengenai kehidupan binatang dan tumbuhan yang dinamakan Operation Wallacea. Ekspedisi mengelilingi Indonesia ini dimulai dari Singapura menuju Sawarak, Kalimantan pada 29 Oktober 1854 hingga berakhir di Bangka pada Januari 1862.

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Lini Mas Wallace di Nusantara (1854-1862). Sumber jelajah.kompas.id
WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Rincian perjalanan Wallace di Nusantara. Sumber: jelajah.kompas.id

Dari penjelajahan di Indonesia selama 8 tahun ini beliau berhasil menemukan 310 spesimen mamalia, 100 spesimen reptil, 8050 spesimen burung, 7500 spesimen kerang dan 109.700 spesismen serangga (kupu-kupu, lebah atau ngengat).

Satu yang juga sempat tercatat dalam sejarah adalah Wallace sempat menerbitkan sebuah buku berjudul The Malay Archipelago: The land of the orang-utan and the bird of paradise. A narrative of travel with sketches of man and nature pada 1869. Buku ini berisikan petualangan keilmuan beliau selama 8 tahun penjelajahannya di Nusantara (1854-1862). Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan pada 2009 oleh Komunitas Bambu buku ini lahir dengan judul Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam.

Atas sumbangsihnya pada dunia ilmu pengetahuan, Wallace mendapatkan sederetan penghargaan. Dua diantaranya yang saya intip lewat Wikipedia adalah:

  • Royal Medal. Sebuah award yang diinisiasi oleh Raja George IV dari Inggris dan dipersembahkan untuk mereka yang menyumbangkan atau melahirkan penemuan istimewa yang berkaitan dengan biologi, fisika dan ilmu-ilmu terapan lainnya. Wallace mendapatkan penghargaan ini pada 1868;
  • Darwin Medal. Sesuai dengan namanya, penghargaan ini diberikan untuk mengenang ilmuwan luar biasa, Charles Darwin. Wallace adalah orang pertama yang menerima penghargaan ini setelah berhasil menghadirkan sebuah teori yaitu Theory of Evolution by Natural Selection. Award ini diberikan kepada Wallace pada 1890;

Selain penghargaan yang berderet banyaknya, Wallace juga menulis banyak jurnal ilmiah (dulunya sepertinya berupa surat-surat yang ditulis tangan), serta meninggalkan spesimen-spesimen serangga dan kupu-kupu yang sudah diawetkan di British Library, London, Inggris.

Bumi Nusantara pun secara khusus memberikan penghargaan untuk Wallace. Digagas oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yayasan Wallacea dan Komunitas Bambu, acara yang diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan pada 2008 ini diadakan dalam rangka memperingati 150 tahun lahirnya teori evolusi. Mulai saat itu Ternate, salah satu kota di Maluku Utara yang sempat ditinggali selama 4 tahun oleh Wallace, ditetapkan sebagai tempat lahirnya teori seleksi alam yang digagas oleh Wallace. Turispun akhirnya banyak berdatangan ke Ternate hanya untuk mencari tahu dimana Wallace pernah tinggal.

Kontribusi lain dalam rangka mengenang keberadaan Wallace di nusantara adalah dengan kehadiran Monumen Wallace yang berada di daerah cagar alam Gunung Tangkoko yang berada di Bitung, Sulawesi Utara dan diresmikan pada 17 Juni 2019.

Merinding rasanya membayangkan bahwa dahulu, ratusan tahun yang lalu, ada seorang ilmuwan fenomenal yang pernah tinggal dan melakukan penelitian di bumi Nusantara. Seseorang yang berhasil menorehkan sejarah ilmu pengetahuan yang hingga saat ini membawa banyak manfaat bagi manusia lain di muka bumi. Jadi meskipun beliau sudah wafat sejak 1913, meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak, apa yang telah dipersembahkan bagi dunia akan terus dikenang dan bermanfaat sepanjang masa.

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Monumen Wallace. Sumber foto: jelajah.kompas.id
Baca juga: TIDORE FESTIVAL 2017. Travel Blogger Goes to Tidore (Hari ke-2 Episode 1)

Jelajah Alam Wallacea

Ekspedisi Wallacea. Aris Prasetyo (Aris), Harian Kompas

Lewat penuturan Aris, para peserta webinar mendapatkan tambahan pengetahuan bahwa Kompas telah mengadakan Ekspedisi Wallacea selama 6 bulan (Februari hingga Agustus 2019). Menelusuri 11 provinsi yang menjadi jalur atau zona dari ekspedisi yang pernah dilakukan oleh Wallace. Berbagai hal baru pun ditemukan selama dalam perjalanan, di setiap tempat yang mereka kunjungi. Termasuk diantaranya menemukan 17 macam sambal saat berada di Bacan dan berbagai jenis tumbuhan yang menjadi makanan utama khas daerah yang bersangkutan.

“Keragaman Adalah Takdir Nusantara(Paul Smith, British Council)

Mengusung tema “Perjalanan Jurnalistik Harian Kompas. Memaknai Kembali The Malay Archipelago, buku AR Wallace yang Terbit 150 Tahun Lalu”, ekpedisi yang didukung oleh British Council dan Donggi Senoro LNG ini berhasil mencatatkan kisah petualangan ilmu pengetahuan. Rangkaian educational traveling ini dituangkan lewat berbagai artikel berbobot yang dirangkum dalam sebuah tautan https://jelajah.kompas.id/episode/ekspedisi-wallacea

Membuka tautan ini bagai membuka puluhan buku baru yang ditumpuk dengan rapi di dalam sebuah gudang ilmu. Berbagai pengetahuan tentang Ekspedisi Wallacea yang dilakukan 1/2 tahun itu, terbentang luas untuk kita baca dan lahap berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari. Terbagi atas 8 episode tulisan, ekspedisi ini memecah setiap pengalaman berdasarkan daerah yang dikunjungi. Episode 1 tentang Ternate, basis dari petualangan Wallace. Episode 2 tentang Pulau Seram, eksplorasi sagu dan keunikannya. Episode 3 tentang Sulawesi Utara, daerah pertahanan terakhir satwa endemik khas Indonesia. Episode 4 tentang Sulawesi Selatan, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Episode 5 tentang Sumba. Episode 6 tentang Nusa Tenggara Barat. Episode 7 tentang Manggarai Barat, Flores. Episode 8 tentang Sulawesi Barat, Taman Nasional Gandang Dewata.

Masing-masing episode pun terbagi atas beberapa tulisan yang ringkas dan sangat informatif. Dijamin. Siapapun yang membuka tautan di atas akan larut dalam ruang ilmu yang ingin diserap lagi dan lagi. Kita pun dapat membayangkan betapa luasnya ruang gerak ekspedisi Wallacea yang dilakukan oleh Wallace pada ratusan tahun yang lalu. Plus, tentu saja, menambah catatan pengetahuan akan destinasi wisata bagi kita yang tinggal di Indonesia barat.

Baca juga: TIDORE FESTIVAL 2017. Travel Blogger Goes to Tidore (Hari ke-2 Episode 2)

Wisata Hemat ke Kawasan Wallacea. Fitri Chaerani (Fitri), Campa Tour

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

Fitri membuka sesi dengan menampilkan beberapa foto tempat wisata yang ada di kawasan Wallacea. Sungguh bikin ngiler maksimal. Ngencesnya luar biasa apalagi di saat webinar ini diadakan kita masih terpenjara oleh pandemi Covid-19 (Corona) dan sangat disarankan untuk mengurangi mobilitas. Traveling beserta semua bisnis yang tersangkut di dalamnya pun masih belum kembali normal.

Selain menampilkan beberapa foto yang “menyelerakan” tadi, Fitri, seperti para traveler yang lain, termasuk kami para blogger yang mengikuti webinar ini, menyadari bahwa untuk mencapai berbagai daerah di Indonesia tengah dan timur butuh modal yang tak sedikit. Terutama untuk urusan transportasi udara. Jadi agar impian menjelajah kawasan ini bisa tercapai, ada rangkaian kebijakan pengeluaran yang harus kita susun terlebih dahulu.

Salah satunya adalah dengan membuat perencanaan cermat dan teliti yang meliputi transportasi (udara dan darat), akomodasi, makan, tiket untuk masuk tempat wisata, dan lain-lain. Untuk menyiasati penghematan di tempat yang dituju adalah dengan melibatkan orang-orang lokal. Karena bisa saja lewat mereka kita bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas dengan harga murah atau setidaknya, jika beruntung, kita akan diundang makan gratis di rumah warga atau meminjam/menggunakan kendaraan untuk menunjang mobilitas dengan harga khusus.

Kalau sudah gini urusannya memang harus ya bekerjasama dengan tour and travel yang sering mengadakan paket perjalanan ke destinasi wisata yang dituju seperti Campa Tour ini.

Baca juga: TIDORE FESTIVAL 2017. Travel Blogger Goes to Tidore (Hari ke-1 Episode 1)

Jelajah Kuliner Wallacea

Baca juga: TIDORE FESTIVAL 2017. Travel Blogger Goes to Tidore (Hari ke-1 Episode 2)

Pangan Bijak Dalam Kuliner Indonesia. Mohammad Firdaus (Firdaus), Pangan Bijak Nusantara

Saya sempat membaca tentang konsep Pangan Bijak beberapa waktu yang lalu, sebelum mengikuti webinar ini. Jadi presentasi yang disampaikan oleh Firdaus kembali melengkapi ilmu yang sudah saya dapatkan sebelumnya.

Dari selembar presentation sheet yang berjudul Pangan Bijak Sarat Nilai, beberapa hal penting yang wajib kita perhatikan akan konsep ini benar-benar jadi satu rangkuman atau kesimpulan penuh makna. Semua hal yang seharusnya menjadi pembiasaan dan aturan yang harus dijalankan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya. Poin-poin penting tersebut adalah:

LESTARI
  • Menggunakan varietas lokal;
  • Alami (termasuk organik);
  • Ramah lingkungan;
  • Berkelanjutan (memperhatikan keanekaragaman hayati, ketahanan ekosistem dan kesejahteraan produsen serta menghormati hak asasi manusia)
LOKAL
  • Bukan impor;
  • Diproduksi di daerah tersebut dan sekitarnya;
  • Mencantumkan identitas daerah termasuk identitas komunitas;
  • Bagian dari budaya dan kearifan masyarakat lokal;
SEHAT
  • Dari pangan alami;
  • Tidak mengandung pengawet buatan;
  • Bersih;
  • Bernutrisi
ADIL
  • Adil untuk lingkungan;
  • Dapat diakses konsumen;
  • Produsen sejahtera;
  • Harga pasar adil bagi produsen dan konsumen

Melengkapi 4 konsep di atas, Firdaus juga ingin menyampaikan agar setiap peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah menyangkut pangan lebih dahulu merujuk pada kebijakan dan kearifan lokal. Apalagi untuk daerah-daerah yang terbiasa mengkonsumsi atau memiliki makanan utama berupa non-nasi (beras). Hal ini bukan hanya menyangkut kebiasaan tapi juga memanfaatkan budidaya lokal yang sudah tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah tersebut.

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

Pangan Bijak Aspek yang Tak Terpisahkan di Wisata Kuliner. Poin-poin tersebut di atas menjadi rangkuman yang melengkapi presentasi Firdaus. Yang paling penting dan menarik adalah poin terakhir yang menjadi satu kesatuan dengan topik webinar kali ini. Pangan Bijak Nusantara berharap agar lewat World Food Travel Day, keragaman hayati dan pangan atau kuliner setiap daerah di kawasan Wallacea dapat lebih dikenal.

Kita pun diajak untuk mengkampanyekan kesadaran mengkonsumsi produk pangan lokal di kawasan ini, yang bersinergi dengan unsur alam dan kesehatan, dan melibatkan komunitas atau pengusaha lokal, agar tetap tumbuh dan berkembang.

Seperti produk sagu dengan jenama SAGUKU yang sudah beredar di pasaran domestik, bahkan mungkin sudah dikenal, beredar dan dikonsumsi oleh warga internasional. Yang perlu kita ingat, sagu ini adalah salah satu bahan pangan utama yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di Indonesia timur.

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Baca juga: KASBI, SAGU SINGKONG. Roti Panggang ala Tidore

Ragam Kuliner Wallacea. Meilati Hutabarat (Mei), Nusa Indonesian Gastronomy

Kehadiran Mei dari Nusa Indonesian Gastronomy melengkapi seluruh sajian dari Jelajah Kuliner. Presentasinya sungguh menggugah pengetahuan kita akan dunia pangan khususnya apa yang ada di kawasan Wallacea dan semua bahan alam yang digunakan untuk memproduksi sajian kuliner yang ada di sana.

Mei, istri dari Chef Ragil, dan sudah mengelilingi ratusan kabupaten yang ada di Indonesia ini, begitu lugas menyampaikan pengalaman beliau saat menjelajah dan menemukan rangkaian sumber daya alam di kawasan Wallacea. Ada berbagai bahan baku (bahan dasar) yang digunakan oleh masyarakat setempat sebagai materi utama dari produk kuliner mereka. Produk akhirnya pun tentu memiliki kekhasan tersendiri, baik dalam sajian visual maupun rasa dan mencerminkan identitas mereka sebagai daerah yang kaya akan rempah dan beberapa item yang hanya ada di sana.

Beberapa makanan yang ditampilkan Mei dan dibagi berdasarkan daerah asalnya adalah sebagai berikut. Di Sulawesi ada Kapurung, hidangan khas Bugis yang umum didapatkan di Luwu, Sulawesi Selatan. Terbuat dari bubur sagu yang disajikan dengan kuah ikan atau ayam serta sayur-sayuran dan jagung. Di Maluku ada Kue Bagea, kue khas Maluku Utara (yang masuk dalam zona Wallacea). Kue ini menggunakan bahan dasar utama tepung sagu, kenari, kayu manis, cengkeh, gula dan soda kue. Di Nusa Tenggara ada Se’i. Hidangan khas pulau Rote berupa daging asap yang sebelumnya diberi bumbu bawang merah, bawang putih, dan garam. Direndam selama satu malam, melewati proses pendinginan, lalu diasap sampai matang. Se’i bahkan sekarang lagi populer di tanah air. Saya termasuk salah seorang yang sering mengkonsumsinya karena di Cikarang sudah ada beberapa restoran yang menghidangkan khusus Se’i (Se’i sapi).

Menelusuri lebih lanjut tentang berbagai kuliner di zona Wallacea, Mei menemukan berbagai kekhasan yang wajib kita ketahui. Diantaranya adalah:

  • Menggunakan UMBI sebagai bahan utamanya. Seperti singkong, ubi, talas/ubi jalar. Disajikan dengan dicampur di dalam sup, dikukus maupun digoreng;
  • Jika warga di pinggir laut lebih banyak mengkonsumsi ikan dan hasil laut lainnya, warga di pedalaman memilih untuk menyantap DAGING (babi atau kerbau) yang umumnya dihidangkan dalam acara-acara adat;
  • JAGUNG khususnya di Nusa Tenggara digunakan sebagai hidangan utama untuk beberapa resep dan staple food seperti Jagung Titi;
  • Bahan lainnya adalah PISANG. Buah, bunga dan batangnya, bisa dijadikan bahan makanan. Sementara daunnya digunakan sebagai bagian dari proses memasak.

Lewat webinar ini juga, Mei yang sekarang sedang menyusun buku tentang resep tradisional nusantara, ingin menyampaikan beberapa isu tentang wisata yang sepertinya (sangat) tepat dan penting untuk disampaikan ke publik. Beberapa hal yang menurut saya akan menjadi faktor penentu dalam pelestarian kuliner nusantara.

  • Menggunakan BAHAN LOKAL yang tersedia di masing-masing daerah. Selain menjadi pengalaman tersendiri bagi para penikmat, bahan lokal juga bisa menjadi ciri khas yang akan dikenal dan dikenang;
  • Mengangkat RESEP LOKAL. Sehingga sajian yang disajikan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan;
  • PRODUK ARTISAN. Daripada menggunakan produk sachet, ada baiknya jika menghadirkan minuman-minuman lokal dalam wadah yang menarik. Selain lebih berkesan, cara seperti ini akan mengurangi penggunaan plastik. Salah satu wujud dari tindakan mencintai dan menjaga keterbelangsungan bumi;
  • STANDARD HIGIENIS. Menjaga kebersihan tentunya adalah hal penting yang wajib dijaga. Terutama untuk daerah-daerah wisata yang sarat akan pengunjung. Bersih tentu saja menciptakan kenyamanan, keamanan dan kesehatan. Menjaga kebersihan juga akan mencerminkan identitas diri kita.
Baca juga: Nikmatnya Panganan Tradisional Tidore
WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Salah satu ingredients, KETAM KENARI, adalah binatang langka yang wajib dilindungi. Kalaupun akan digunakan sebagai bahan makanan, pengolahannya hanya diperbolehkan di daerah setempat saja atau tidak boleh dibawa keluar pulau dimana terdapat penangkaran/pemeliharaan dari ketam ini.
WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA
Sumber foto: Kapurung (hesty-myworkofart.blogspot), Se’i Sapi (annienugraha.com), Bagea (santhiserad.com)
“On the spiritual theory. Man consists essentially of a spiritual nature or mind intimately associated with spiritual body or soul. Both of which are developed in and by means of a material organism” (Afred Russel Wallace)

Terimakasih saya sampaikan untuk Omar Niode Foundation, The Climate Reality Project Indonesia, dan World Food Travel Association atas penyelenggaraan webinar yang berlimpah pengetahuan ini. Semoga event berkualitas seperti ini bisa lebih mengenalkan Wallacea secara lebih luas lagi, khususnya kepada masyarakat tanahair. Kecintaan terhadap keindahan alam dan kekayaan kuliner (khususnya di zona Wallacea) akan semakin bertumbuh dan melahirkan para petualang dan penulis materi kuliner yang handal dan berkualitas.

WALLACEA, WALLACE dan NUSANTARA. Rangkaian Pengetahuan dari Webinar JELAJAH ALAM dan KULINER WALLACEA

#JelajahAlamDanKulinerWallacea #OmarNiodeFoundation #TheClimateRealityProjectIndonesia #WorldFoodTravelDay2021 #WorldDay2021 #EkspedisiWallacea #KawasanWallacea #AlfredRusselWallace

SERENADE 2020. Mendalami 46 Kisah Inspiratif dari Para Penulis Writerpreneur Club.

34
RENTANG WAKTU. Waktu terus berjalan tanpa pernah pamit. Tak juga mau menunda. Meski kadang kita membutuhkan jeda antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Mungkin kadang tak mengerti sedang berada dimana. Rentang waktu yang mengentak. Menyadarkan kita. Jika masa lalu sudah selesai, masa kini harus dihadapi dan masa depan hanya harapan yang belum pasti. Menguatkan diri untuk tidak pernah menyerah. Terus melangkah, menjalani apa yang harus dijalani dengan hati bersih dan semangat penuh bara (Deka Amalia)

Rangkaian kalimat sarat makna di atas menjadi bagian pembuka, mengiringi kita yang ingin dan akan membaca lembar demi lembar buku antologi SERENADE 2020 (Serenade). Buku yang lahir dari komunitas Writerpreneur Club bimbingan Deka Amalia (Deka) dan diisi oleh 46 orang penulis dengan latar belakang profesi, status dan cerita yang berwarna-warni bagai pelangi.

Bertujuan untuk melahirkan berbagai kisah dan karya tulis khusus dalam suatu masa tertentu, Serenade 2020 ingin menyajikan ragam pengalaman para penulis pada saat virus Covid-19 atau Corona sedang meliputi Indonesia di 2020. Melewati proses bimbingan mulai dari mengajukan ide, mengurai tahap-tahap penulisan (awal, tengah dan akhir), hingga pengiriman naskah terakhir, semua kontributor melewati masa-masa belajar yang penuh dengan cerita. Judul Serenade 2020 yang mengusung arti perjalanan hidup bagai sebuah simfoni pun akhirnya dipilih untuk mewakili seluruh makna mendalam yang terlukiskan di dalam buku yang sarat inspirasi ini.

Saya dan Serenade

Saya menceburkan diri dalam Serenade yang akhirnya menjadi kali pertama melahirkan buku antologi bersama Writerpreneur Club. Serenade adalah buku antologi ke-3 saya setelah TO ADO RE, rangkaian tulisan tentang Tidore bersama beberapa blogger Tidore Untuk Indonesia, serta 1 buku antologi lainnya yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Barat atas kemenangan saya pada lomba yang diadakan oleh institusi ini pada 2018.

Baca juga: TO ADO RE. Antologi Kaya Rasa, Sarat Cinta, dan Penuh Makna Untuk Tidore

Serenade mempunyai ruang khusus di hati saya. Bahkan menjadi sejarah dan tonggak estafet penerbitan buku antologi bersama Writerprenuer Club yang saya ikuti hampir 1 tahun belakangan ini. Komunitas satu frekuensi yang telah membuka jalan lebar bagi saya untuk mewujudkan rangkaian harapan di 2021 berupa menerbitkan 3-4 buku antologi dan 1-2 buku solo. Wish List yang juga adalah sebuah janji pada diri sendiri. Plus tekad kuat setelah mengalami proses belajar menulis selama sekitar 4 (hampir 5) tahun dari beberapa guru hingga saat ini.

Kenapa buku? Tak bisa dinafikan bahwa bagi seorang penulis menerbitkan buku adalah satu pencapain khusus dan bisa jadi sebagai ajang pembuktian diri. Tidak ada salahnya dan saya juga memikirkannya. Tapi buat saya pribadi tujuan utama membuat buku (antologi maupun solo) adalah salah satu langkah menjejakkan legacy dan warisan kepada garis keturunan saya. Jika orang lain bisa meninggalkan warisan harta dunia, saya hanya mampu menghadirkan jejak tulisan tentang berbagai cerita, dan kisah perjalanan yang saya alami semasa hidup. Nawaitu yang sama saat saya memutuskan menjadi blogger sejak 2017 dan membindani lahirnya akun blog ini.

Bismillah. Semoga Serenade 2020 menjadi pelita dari semua asa saya. Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramudya Ananta Toer)
Baca juga: Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Sebuah Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa

30 Tahun Dalam Kenangan

SERENADE 2020. Mendalami 46 Kisah Inspiratif dari Para Penulis Writerpreneur Club.

Untuk Serenade 2020, saya memutuskan menghadirkan artikel 30 Tahun Dalam Kenangan. Sebuah kisah menyentuh dari sejarah persahabatan saya dan Jenta. Lebih tepatnya cerita tentang pecahnya jalinan kasih sepasang suami istri (Jenta dan Azka) yang telah terajut selama 30 tahun dan terjadi pada 2020. Tahun dimana bumi pertiwi sedang bergulat dengan pandemi virus Covid-19 (hampir) sepanjang tahun.

Tanpa saya ketahui, pergulatan itupun terjadi pada kehidupan rumah tangga Jenta, sahabat saya selama 32 tahun belakangan. Proses pengadilan bahkan pembacaan talak pun baru saya ketahui sebulan setelahnya. Itupun disampaikan dengan sangat hati-hati oleh Jenta mengingat saya sering bereaksi terlalu sensitif untuk setiap berita duka. Kamipun menghabiskan satu waktu khusus untuk bercerita via telepon sekaligus menuntaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu karena pandemi.

Pelan Jenta menceritakan bahwa sebenarnya keputusan dia untuk bercerai telah mengalami proses pemikiran dan pertimbangan yang tidak gampang. Termasuk diantaranya memupuk pengertian dari ke-2 anak Jenta yang sudah dewasa dan berumahtangga. Prosesnya mungkin hampir 2-3 tahun lamanya. Tepatnya sejak Ibunda Jenta wafat.

Sudah 30 tahun? Apa gak sayang? Apa gak lebih baik dikompromikan karena masing-masing sudah di usia menjelang senja? Serangkaian pertanyaan yang juga muncul di benak saya. Tapi ketika menyelami pergolakan yang dihadapi Jenta, saya pun paham. Berbagai tekanan bathin yang dia rasakan karena masalah kepercayaan urusan finansial, menjadi momok yang terus berkembang hingga akhirnya Jenta merasa bahwa perkara ini sudah sampai pada tahap serius. I must do something about this. Itu tekad Jenta.

Tak jelas apa yang saya rasakan setelah Jenta bercerita panjang lebar. Bahagia? Mungkin iya. Sebagai teman baik, apa yang dia rasakan adalah juga rasa yang hinggap di hati saya. Menyayangkan? iya juga. 30 tahun tentunya bukan waktu yang pendek. Tapi mungkin untuk sebuah keputusan berat, 30 tahun bukanlah apa-apa.

Jenta, sahabatku, buku ini saya persembahkan untukmu. Terimakasih sudah mengijinkan saya menuliskannya dan membagikannya kepada publik melalui sebuah buku antologi. Rangkaian kalimat menyentuh yang engkau tuliskan melalui WA turut saya abadikan sebagai penutup.

“Jangan mencariku di tengah pesta atau ribuan tawa. Datanglah padaku ketika hatimu luka dan sebuah pelukan bisa meredakan segalanya” (Annie Nugraha, Serenade 2020)
Baca juga: PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
SERENADE 2020. Mendalami 46 Kisah Inspiratif dari Para Penulis Writerpreneur Club.

Ulasan Buku

Sebelum berusaha mengulas beberapa tulisan yang ingin saya bagikan, berikut adalah rangkaian dari keseluruhan tulisan dan para penulis yang bergabung dalam Serenade 2020.

  1. Rentang Waktu – Deka Amalia
  2. 30 Tahun Dalam Kenangan – Annie Nugraha
  3. Segelas Ibadah – Tutih Riri Ayu
  4. Nostalgia Pena – Karinka Ngabito
  5. Akhirnya. Kumenemukanmu – Nevi Rosnida
  6. Sempurna dalam Ketidaksempurnaan – Laila Alhikmah
  7. Tahun 2020, Tahun Teristimewa – Rara Nurendah Fitriyana
  8. Menghitung Hari – Gema Runi
  9. Tak Harus Menangis di Masa Krisis – Indriyas Wahyuni
  10. Pelita di Ujung Temaram – Sophia Aga
  11. Meniti Zona “Quantum Leap” – Daty DH
  12. Khatam – Ardhya K
  13. Korea, Corona dan Cita-cita – Palupi Utami
  14. Teras Bunda – Noor Yani
  15. The Next Chapter – Martina
  16. 2020 Hikmah di Balik Wabah “Sajadah Putih Itu” – Pantjarini Trisnaning S
  17. The Missing Heart – Maryam Aziz
  18. Filosofi Tumakninah – Nilam Septiani
  19. Rindu Tak Akan Kembali – Seila Aini
  20. Episode Kehidupan di Tengah Pandemi – Agnes R
  21. 2020-ku dalam Cerita – Nadia Zee
  22. Bahagia Itu Pilihan – Emmy S. Sakya
  23. Memoar Kepergian Mbah Sri – Ika Setya Mahanani
  24. Sudut Kenangan – Vita Mei
  25. Dancing With The Corona Storm – dr. Rini Susanti
  26. Abu-Abu 2020-ku – Tyas Poerwanto
  27. Menjalani Hari yang Harus Dilewati – Jullie Hakim
  28. Menghimpun Asa Menyimpan Kenangan – Meiti Zaini
  29. Akademi Covid Membawa Berkah – Nia Refana
  30. Sedikit Jeda untuk Mencintai Diri Sendiri – I Gusti AAA Ratih
  31. Setahun dalam Kisah – Helniat “aNetH”
  32. Kenyamanan Itu Milik Kita – Eny Rosa
  33. Rembulan Merindu – Asih Mufisya
  34. Ternyata Bisa – Lide Gantari
  35. Tak Ada Kesia-siaan di Bawah Langit – Lulu Arsyad
  36. Inginnya Aku – Halimah Rose
  37. Cintai Diriku, Selalu – Akhmad Gafuri
  38. Dua Ribu Dua Puluh, Aku Punya Cerita – Soraya Almeera
  39. Roller Coaster – PW Widayati
  40. Saat Kau Pergi – Irma Mayra
  41. Harta yang Paling Berharga – Meliya Asidah
  42. Fabiayyi’ Aalaa’i Rabbikumaa Tukadzibaan – Endah Widowati
  43. Di Suatu Senja – Frida Aulia
  44. Pandemi Mendekatkan Kami – Efi R. Suwandy
  45. Tujuh Purnama Tanpamu dan Bersama Virus Corona – Minarni Merry Yanti
  46. Pandemic Insight – Runny

Membaca judulnya, publik tentu bisa menerka apa yang tertuang di dalam buku ini. Yup. Buku 46 kisah inspiratif ini berisi rangkaian nada (Serenade) yang terjalin di 2020. Tahun dimana tanah air tercinta dilingkupi oleh pandemi yang diakibatkan oleh sebuah virus kasat mata yang dikenal dengan nama Covid-19. Jadi saat membuka lembar demi lembar buku ini, semua kisah yang ditorehkan berkaitan erat dengan pandemi.

Tapi meskipun memiliki benang merah yang sama, setiap artikel dari masing-masing penulis memiliki keunikan sendiri dengan tentu saja gaya bertutur yang berbeda-beda. Itulah seni literasi istimewa yang bisa kita dapatkan dari sebuah buku antologi. Yang pasti semua penulis ingin menyampaikan apa yang dihadapi, dialami, dan dirasakan begitu mendalam selama harus menerima pandemi sebagai bagian dari cerita hidup di 2020. Satu living memorable episod yang tak akan terlupakan sepanjang hayat.

Dari sedemikian banyak artikel yang ada, berikut adalah beberapa dari kisah inspiratif Serenade 2020 yang ingin saya bagikan.

Nia Refana (Nia). Akademi Covid Membawa Berkah

“Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-hambaNya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri tersebut. Dan apabila wabah itu berjangkit di tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Satu haditz yang saya percaya dan ikuti selama pandemi berlangsung. Rangkaian kata yang Nia sampaikan dari awal sampai akhir tulisan pun sungguh pas dan turut mewakili apa yang saya rasakan sejak pandemi dikenal dan merasuk ke segala sendi kehidupan tanah air.

Pandemi yang mulai merebah pada Maret 2020 melahirkan tekanan psikologis, juga memberikan efek perubahan yang luar biasa. Yang tadinya bebas beraktivitas akhirnya harus mengalah untuk tidak beranjak dari rumah. Bahkan kitapun jadi lebih aware dengan masalah kebersihan dan hal-hal yang menyangkut kesehatan. Berbagai macam hal pun mendadak berhenti, diam, dan diselimuti oleh berbagai ketakutan. Terutama takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Semua hal mendadak berubah dan berbenah diri.

Tak ingin lari dari ketakutan yang mau tidak mau harus dihadapi, ada sudut-sudut positif yang ingin dihadirkan oleh Nia. Karena ternyata dalam banyak keterbatasan selama pandemi berlangsung, kita akhirnya diberi kesempatan untuk berbenah diri dan lebih memaknai arti kehidupan dari sudut yang berbeda. Bersabar untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak, melakukan kegiatan on-line yang bermanfaat seperti mengikuti kelas-kelas belajar atau diskusi lewat webinar, bahkan mengisi waktu yang tersisa dengan menambah ilmu pengetahuan umum dan agama agar semakin dekat kepada Allah. Semua hal-hal bermanfaat yang memberikan energi positif dan imunitas diri.

“Sebelum terjadi pandemi, Allah sudah siapkan perangkat untuk menghubungkan satu dengan yang lainnya tanpa harus bertemu. Allah tidak pernah menyulitkan hambaNya. Setiap kejadian selalu diberikan berbarengan, satu kesulitan diiringi dengan dua kemudahan. Menadaburi kejadian yang mampir dalam kehidupan, kita akan meningkatkan ketakwaan. Semakin takjub dengan kebesaran Allah. Akademi Covid memberikan banyak kesempatan berinvestasi leher ke atas” (Nia Refana, Serenade 2020)

Kembali saya merenungi rangkaian kalimat di atas. Perlahan hati saya terketuk dan meng-iya-kan semua yang sudah ditulis oleh Nia. MashaAllah. Sungguh hebat rencana Allah untuk umatnya yang mau menyadari dan mengambil hikmah dari semua yang sudah, sedang dan akan terjadi. Tiada ada yang lebih Maha Mengetahui atas apa yang terbaik bagi manusia kecuali Allah SWT semata.

Indriyas Wahyuni (Indri). Tak Harus Menangis di Masa Krisis

Dari Indri saya mendapatkan suntikan energi agar kita tak harus menangis di masa krisis pun menangisi keadaan yang harus kita terima. Pengalaman dan kesempatannya bekerja sebagai seorang freelancer di UpWork, ternyata harus tergerus karena pandemi. Meskipun work from home untuk berbagai pekerjaan dalam skala global dengan client yang berada di negara yang berbeda, Covid-19 juga menghantam bisnis mereka yang mempekerjakan Indri. Otomatis penghasilpun langsung menurun drastis.

Tak ingin larut dalam tekanan, Indri memutuskan untuk kembali menyentuh blog yang sudah lama dia tinggalkan. Mengaktifkan kembali blog yang sempat mati suri dan memaksimalkannya sebagai ajang untuk mendulang penghasilan. Termasuk diantaranya memanfaatkan waktu luang untuk belajar hal baru, aktif berkomunitas dan membangun jejaring yang membawanya terasa “hidup” kembali.

Satu pelajaran yang ingin patut kita pelajari dari Indri adalah bahwa sumur rejeki di dunia itu seluas samudra. Satu tertutup dan terpaksa berhenti, ada sumur lain yang bisa kita gali. Dan untuk menyempurnakan kesempatan untuk menggali rejeki di setiap sumur yang kita datangi, pertinggikan dulu kemampuan dan ilmu pengetahuan kita. Tampilkan bahwa kita layak untuk berusaha menjadi orang yang pantas meraih hidup yang (jauh) lebih baik.

Temen-temen blogger yang ingin bersilaturahim dan membaca tulisan-tulisan Indri yang menginspirasi, bisa nih berselancar ke-3 akunnya, www.indriariadna.com, www.prodigitalmom.com atau www.ulemanonline.com. Atau bisa juga mengintip IG @indriyasw yang sarat dengan postingan yang gak kalah inspiratif.

“Krisis tidak harus membuat kita menangis. Kita bisa memilih, merenungi nasib atau bangkit serta mencoba lagi dan berani mencoba hal baru” (Indriyas Wahyuni, Serenade 2020)
Baca juga: Travellers On Fire. Buku Antologi Sarat Cerita Dari 35 Orang Penulis

Akhmad Gafuri (Akhmad). Cintai Diriku, Selalu.

Akhmad adalah satu-satunya penulis pria yang hadir untuk Serenade 2020. Dan kalau saya tidak keliru, beliau adalah suami dari dr. Rini Susanti yang juga menjadi kontributor buku ini. Akhmad adalah seorang pilot sebuah maskapai penerbangan dengan headquarter yang berada di Malaysia. Beliau juga adalah Training Captain dan Human Factor Specialist. Tentunya di maskapai yang sama.

Seperti yang (pasti) sudah kita ketahui, pandemi pun menyentuh sektor pariwisata. Dan ini dampaknya beranak pinak. Mulai dari usaha penerbangan, perhotelan, kuliner, jasa tour and travel, transportasi dan masih banyak usaha lain yang erat hubungannya dengan pariwisata. Jadi saat arus pemutusan hubungan kerja menyentuh organisasi dimana dia mengabdi, Akhmad pun mempersiapkan mental untuk menerima kenyataan ini.

Meskipun akhirnya tidak terjaring dalam gelombang PHK sepertinya banyak teman-teman lainnya, Akhmad atau tokoh Elang yang disebutkan dalam artikel, sempat mengalami efek menyentak dari sebuah the defeaning silence. Khususnya rangkaian tekanan yang menyentuh sisi kepercayaan diri, tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan tentu saja kemungkinan kehilangan semangat hidup. Sederetan reaksi manusiawi saat kita dihadapkan pada situasi yang tak terduga dan akan memberikan efek yang merasuk pada pikiran. Apalagi sempat dinyatakan terpapar virus yang menyebabkan dirinya harus terpisah sementara dengan anak dan istri dalam waktu cukup lama.

Kembali kepada Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui kemudian menjadi jawaban yang tak pernah salah. Pasrah, bersujud di atas sajadah, adalah kunci dari semua pemecahan masalah. Saya lalu tergugu saat membaca beberapa paragraf yang terurai di bagian akhir dari tulisan Akhmad.

“Perlahan air mata membasahi sajadah Elang. Badai yang sempurna di tahun ini, The Perfect Storm. Kehilangan kepercayaan diri akan profesi dan karir yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Rasa takut akan berkurangnya pendapatan. Kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan. Terlebih lagi ketakutan akan kehilangan hidupnya. Semuanya adalah jawaban dari doa Elang. Berdoa untuk selalu dicintai. Ini adalah bentuk cinta dan kasih sayang dari Sang Maha Pencipta” (Akhmad Gafuri, Serenade 2020)
Baca juga: DANCING SNAIL. Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja. Kekayaan Literasi dan Ilustrasi Dalam Satu Wadah

Nilam Septiani (Nilam). Filosofi Tumakninah

Kehilangan pekerjaan (PHK) sepertinya sudah menjadi berita yang merebak di 2020. Gegar ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi mengakibatkan banyak perusahaan gulung tikar. Daya beli yang menurun diikuti dengan ketakutan berinteraksi, menyebabkan roda ekonomi dari hulu ke hilir mengalami goncangan yang sangat berarti. Ini juga yang dialami oleh suami Nilam. Seorang guru bahasa Inggris, warga negara asing, yang harus menerima kenyataan pahit harus dirumahkan hingga berbulan-bulan lamanya.

Akrobat emosi. Dua kata yang bergitu sarat makna menurut saya dan sangat mewakili apa yang saat itu dirasakan Nilam. Apalagi ketika harus menerima kenyataan suami telah melewatkan kesempatan emas sebuah pekerjaan yang ditawarkan oleh seorang sahabat suami yang berada di Inggris. Penolakan suami yang dilandaskan akan masalah kesehatan dan beratnya biaya yang harus ditanggung jika sekeluarga harus hijrah ke Inggris, menjadi pertimbangan yang membuat sang suami harus menolak tawaran tersebut. Kejadian ini membuat Nilam takut akan kehidupan mereka. Reaksi manusiawi mengingat mereka sudah memiliki 2 anak yang menjadi tanggungan mereka.

Namun pada suatu waktu, saat sholat malam, sanubari Nilam pun tersentuh dan menyadari bahwa selama ini logikanya sudah tertutup oleh ketakutan padahal ketakutan itu adalah ujian yang harus dikelola, bukan dilawan. Kesadaran akan tumakninah, berhenti sejenak, telah menerobos kalbunya. Sayapun ikut terhenyak. Statement ini bener banget. Selain memohon bantuan Yang Maha Kuasa, tetap berikhtiar, kita pun wajib “mengelola” diri kita sendiri.

Alhamdulilah akhirnya, sejak September 2020, suami Nilam bekerja kembali.

“Dalam salat, tumakninah artinya diam sejenak setelah gerakan sebelumnya. Bisa juga berarti diam sejenak dan berusaha menyempurnakan gerakan kita. Betapa aku telah banyak melupakan makna dan filosofi gerakan dalam salat. Betapa seringnya aku bertindak gegabah tanpa menyempatkan diri untuk diam sejenak dan berpikir matang sebelum memutuskan untuk bertindak” (Nilam Septiani, Serenade 2020)
Baca juga: BONTANG Dalam Potret dan Kata. Khazanah Literasi Sejarah Sebuah Kota di Kalimantan Timur

Nevi Rosnida (Nevi). Akhirnya Kumenemukanmu

Tulisan ini saya persembahkan untuk Nevi. Ibu rumah tangga dari 4 orang anak yang wafat pada awal April 2021 karena terinfeksi virus Covid-19. Beliau juga adalah salah seorang kontributor dari buku Serenade 2020 dan aktif mengikuti beberapa kelas menulis yang diadakan oleh Writerpreneur Club.

Saya tidak mengenal Nevi secara pribadi. Bahkan belum pernah bertemu langsung. Kami hanya bertukar sapa dan cerita lewat WAG serta berteman lewat media sosial. Tapi berita tentang wafatnya Nevi sudah mengguncangkan komunitas kami karena Nevi memang aktif di sana. Alfatihah untuk Nevi. Semoga almarhumah husnul khotimah dan diberikan tempat terbaik disisiNya. Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.

Kembali ke Serenade 2020. Untuk buku antologi ini Nevi menghadirkan artikel yang berjudul “Akhirnya Kumenemukanmu”. Apa yang Nevi temukan selama terikat pada kondisi pandemi di 2020 lalu? Aahh ternyata simpel banget loh. Layaknya ibu rumah tangga lainnya, Nevi mendadak harus jadi guru segala mata pelajaran sekolah untuk anak-anaknya yang harus belajar dari rumah saja. Fulltime. Jadi waktu yang ada benar-benar dilimpahkan untuk keluarga, di dalam rumah.

Diantara semua kesibukan domestik yang ada, Nevi justru menemukan waktu dan kesempatan untuk menggeluti kembali dunia menulis. Dalam satu paragraf di halaman 53, saya menemukan kesan yang begitu mendalam dari seorang Nevi untuk dunia literasi.

“Banyak manfaat yang kudapatkan dari menulis. Kadang kita merasa tertekan karena ketidakmampuan dalam mengungkapkan emosi negatif seperti kecewa, sedih, serta marah, dan menulis menjadi sarana yang kupakai untuk menuangkan emosi atau perasaan tersebut hingga merasa lebih baik. Dengan demikian, menulis mengurangi stres dan rasa cemas karena “benang kusut” yang ada dalam pikiran bisa terurai. Lewat menulis, sisi kreatif dan intuitif kita dapat terasah. Kita belajar melihat berbagai hal dari sudut pandang yang lebih luas” (Nefi Rosnida, Serenade 2020)

Selamat jalan Nevi. Engkau telah meninggalkan sebuah legacy untuk suami, anak-anak, dan seluruh teman-teman di komunitas kita. Semoga apa yang sudah engkau lakukan untuk dunia literasi membawa kenang-kenangan yang tak terputus bagi siapapun yang membaca tulisanmu.

SERENADE 2020. Mendalami 46 Kisah Inspiratif dari Para Penulis Writerpreneur Club.

Yang ingin memiliki Serenade 2020, silahkan langsung menghubungi saya di WA 0811.108.582. Buku ini masih terbuka untuk pemesanan dengan harga Rp 135.000,-/buah. Belum termasuk ongkos kirim. Sudah termasuk bonus wire jewelry berupa 1 buah gelang atau mask connector yang saya bikin sendiri dan merupakan produk dari FIBI Jewelry. Jenama perhiasan milik saya.

Kesediaan teman-teman untuk membeli adalah wujud dari dukungan atas usaha kami, para penulis, dalam melestarikan dunia literasi. Plus tentu saja terus memberikan semangat pada kami untuk melahirkan buku-buku lainnya. Terutama untuk saya pribadi yang saat ini sedang berjuang mewujudkan mimpi-mimpi dalam menerbitkan buku antologi lainnya, terutama buku solo yang sampai saat saya menulis ini masih dalam proses penyelesaian naskah dan konsep buku secara keseluruhan.

SERENADE 2020. Mendalami 46 Kisah Inspiratif dari Para Penulis Writerpreneur Club.

#Serenade2020 #BukuAntologi #WriterpreneurClub #KomunitasMenulis #AnnieNugraha

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

26
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

Buku ini sampai di rumah tepat 2 hari sebelum saya opname karena DBD. Bungkusnya belum sama sekali dibuka saat saya harus dilarikan ke UGD. Hingga akhirnya menjadi hiburan berkualitas selama terpaksa “dipenjara” dalam sebuah ruangan 20m2 di RS Siloam Lippo Cikarang.

Meski harus dipegang dengan susah payah karena tangan kiri terhubung dengan infus cabang 3, isinya yang sangat menarik membuat saya tak mampu berhenti membaca hingga tuntas hanya dalam 3 jam saja. Itupun diselingi oleh kunjungan perawat yang bolak-balik mengukur tensi, suhu tubuh, serta menyuntik/memberikan obat bahkan mengambil darah untuk kepentingan mengontrol trombosit dan gula darah. Dan tentu saja ditambah dengan kondisi kepala oleng karena lemas oleh tensi yang cenderung rendah.

Tapi Jerome Polin Sijabat (Jerome), meskipun baru penulis pemula, berhasil menggiring saya untuk menikmati setiap lembar buku ini dengan rasa sukacita. Selain terurai dengan untaian kalimat yang mudah dicerna serta (sangat) komunikatif, buku Mantappu Jiwa dilengkapi dengan rancang visual yang atraktif dan menarik hati. Ada berbagai rumus matematika, karikatur lucu, potongan-potongan quote bermakna ala Jerome (#rumusjerome), lembaran berwarna yang mencerahkan mata, yang kesemuanya sangat menghibur dan begitu menyenangkan untuk bahkan sekedar dilihat.

Saya harus bilang terimakasih banyak nih untuk Jerome. Karena buku ini bukan hanya menghibur hati yang sedang gundah tapi juga memberikan sentilan semangat selama menikmati sakit dengan penuh keterbatasan gerak, hiburan, bahkan seseorang untuk diajak bicara. Sekedar info, saat saya dirawat adalah masa-masa dimana virus Covid-19 masih beredar dengan dahsyatnya di bumi pertiwi. Satu hal krusial yang menyebabkan pasien tidak diperkenankan menerima tamu dan harus dijaga oleh orang yang sama (tidak boleh berganti-ganti) dan hanya diperkenankan berada di kamar tidak lebih dari 5jam setiap harinya. Jadi bisa terbayangkan betapa sepi dan sunyinya masa-masa yang harus saya lewati meski berada di sebuah kamar VIP yang sarat fasilitas.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

Pembagian Cerita di Dalam Buku

Buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor Gramedia Pustaka Utama ini sudah mencapai periode cetak yang ke-13, Januari 2021. Jadi buku yang sampai di tangan saya ini adalah episode cetak yang terbaru. Berisi 224 halaman, buku yang hadir dengan judul lengkap BUKU LATIHAN SOAL, MANTAPPU JIWA (Mantappu Jiwa), sudah bikin saya tersenyum-senyum dengan hanya membaca judulnya.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, buku perdana Jerome ini hadir dengan konsep cerah ceria dengan berbagai sentuhan tambahan berbagai lembar yang eye-catchy dan yang kesemuanya terhubung dengan pelajaran matematika. Satu mata pelajaran yang menjadi favorit Jerome tapi adalah momok terhebat saya selama jadi murid. Untuk mapel yang satu ini hanya cukup nilai 6 sepanjang masa (halah).

Hadir tanpa Daftar Isi, setelah selesai saya baca, buku Mantappu Jiwa terbagi atas 3 episode cerita. Yang pertama adalah masa-masa perjuangan mendapatkan beasiswa. Kedua adalah saat-saat sudah berada di Jepang dan bergumul dengan semua ujian masuk universitas. Sementara yang ketiga adalah edisi khusus berupa cerita singkat tentang hadirnya channel Youtube Nihongo Mantappu yang pertama kali rilis pada 23 Desember 2017. Setiap episode hadir dengan begitu lugas dan kaya akan makna. Ditulis dengan diksi memikat gaya anak muda kelahiran 1998.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

Rangkaian Perjuangan Sebelum Berangkat ke Jepang

Beranilah bermimpi karena melalui mimpi kita memiliki asa untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik (Annie Nugraha)

Rangkaian kalimat di atas sepertinya pas banget untuk mewakili apa yang ditulis oleh Jerome tentang mimpinya untuk bersekolah di luar negeri. Lahir pada 2 Mei 1998, saat Indonesia sedang mengalami krisis, dari seorang Ayah pendeta dan seorang ibu rumah tangga biasa, nyatanya Jerome tak menyerah dengan keterbatasan yang dimilikinya. Terutama untuk masalah finansial.

Satu demi satu langkah dia lewati. Mulai dari rajin mencari informasi tentang beasiswa yang ditawarkan oleh berbagai universitas dan institusi/organisasi, termasuk diantaranya rajin mengikuti lomba/olimpiade mapel IPA (khususnya matematika) yang diadakan oleh berbagai sekolah, universitas dan organisasi. Hal terakhir ini nyatanya sangat membantu Jerome dalam mengejar beasiswa. Karena dengan rajin mengikuti lomba, skill menghadapi dan memecahkan soal ujian seleksi jadi semakin terlatih. Practise makes perfect and experiences will lead you better.

Bukan itu saja. Mental pejuang pun bisa didapatkan dari lomba ini. Itupun tak langsung berhasil jadi juara. Semua berproses dengan segala cerita kekecewaan atau kekalahan. Hingga akhirnya usaha tersebut membuahkan hasil. Jerome jadi juara 3 pada olimpiade matematika tingkat nasional yang diadakan oleh Universitas Brawijaya, Malang. Kemenangan pertama yang membawa langkah-langkahnya lebih mantab untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai macam ujian untuk meraih beasiswa. Intinya gila belajar kapanpun dan dimanapun.

Setelah sempat gagal mendapatkan apa yang diinginkan di 2 universitas bergengsi di Singapura, Jerome, anak lelaki ke-2 dari 3 bersaudara itu, mendapatkan kesempatan emasnya saat mengikuti Mitsui Busan Scholarship for Indonesian Student dari Mitsui & Co (sebuah perusahaan raksasa milik Jepang). Satu kesempatan yang sangat kompetitif karena hanya meloloskan atau memberikan beasiswa untuk 2 orang saja dari sekian banyak pelamar.

Belajar dari kegagalan, Jerome pun lebih mempersiapkan dirinya untuk mengikuti seleksi dokumen yang kemudian dilanjutkan dengan tes matematika dan bahasa Inggris. Dari tes 2 mapel ini dipilih 22 orang dari ratusan pelamar. Kemudian dilanjutkan dengan tes tulis psikologi, diskusi kelompok, wawancara singkat dan tes kesehatan yang mengerucutkan semua candidate menjadi 14-15 orang. Yang terakhir adalah wawancara per orang sebagai tahap final terpilihnya 2 orang.

Ada 1 fase tulisan yang sungguh mencuri perhatian saya dari serangkaian proses di atas. Pada saat wawancara terakhir Jerome yang ditanya soal pilihannya pada Matematika Terapan mengungkapkan cita-cita dan mimpinya untuk menjadi Menteri Pendidikan Indonesia. Alasannya sungguh inspiratif. “Karena guru PKn saya saat SMA mengatakan bahwa kunci dari kemajuan suatu negara adalah pembangunan. Kunci dari pembangunan adalah pendidikan. Jadi jika tidak ada pendidikan yang baik, maka tidak ada pembangunan dan tidak ada kemajuan negara. Maka itu saya ingin menjadi menteri pendidikan untuk bisa memajukan Indonesia” Saya rasa inilah jawaban kunci yang menguatkan terpilihnya Jerome sebagai salah seorang penerima beasiswa dari Mitsui.

Jadi ketika 3 hari berikutnya kabar lulusnya Jerome menerima full scholarship dari Mitsui, saya, pembaca yang ikut berdebar-debar jadi terlonjak bahagia, seperti kedua orangtua Jerome. Jawaban diplomatis sarat motivasi seperti ini kayaknya patut dijadikan inspirasi bagi anak-anak yang sedang memburu beasiswa. Tentu saja diikuti oleh persiapan matang atas semua mapel yang akan diuji dalam tes tertulis.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

Perjuangan Selama di Jepang Hingga Diterima di Waseda University

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

22 September 2016 menginjakkan kaki di Tokyo, Jepang

Dijemput oleh pihak Mitsui Jepang, Jerome dan Imam (scholarship awardee yang lain), memulai sejarah baru dalam hidup mereka. Tinggal di asrama dan belajar di Tokyo Japanese Language Education Centre selama kurang lebih 1.5 tahun, Jerome harus berjibaku kembali dengan perjuangan penuh tantangan sebelum akhirnya diterima oleh universitas pilihannya.

Jadi ceritanya sebelum masuk ke perguruan tinggi, setiap calon mahasiswa asing (non warga negara Jepang) wajib mengikuti salah satu tahap ujian yang dikenal dengan nama EJU. The Examination for Japanese University Admission for International Student yang meliputi Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika dan Matematika. Semua mapel disajikan dalam bahasa Jepang tentunya.

Oia sebelum berangkat, Jerome dan Imam sempat mengikuti kursus bahasa Jepang selama kira-kira 1 bulan yang dibimbing oleh 2 orang Japanese Sensi (native speaker). Tentu saja tujuannya adalah agar mereka mudah beradaptasi dan bersosialisasi saat sudah berada di Jepang dan dapat mengikuti EJU dengan lebih maksimal.

Angka yang diraih melalui EJU akan mempengaruhi universitas mana yang akan menampung atau menerima calon mahasiswa yang datang dari negara lain. Semakin tinggi nilai EJU maka akan semakin tinggi kualifikasi atau level dari universitas yang dituju. Berdasarkan urutannya ada 4 perguruan tinggi yang menjadi pilihan. Tokyo University, Tokyo Institute of Technology, KEIO University, WASEDA University dan HOKKAIDO University. Kesemuanya hanya menampung sedikit mahasiswa internasional dengan rate angka hasil ujian yang sangat tinggi dan ketat. Itupun harus bersaing dengan anak-anak lain yang berasal dari negara Asia lain seperti China, Taiwan dan Korea. Yang menurut penuturan Jerome, mereka ini memiliki kemampuan berbahasa Jepang lebih mumpuni dengan jumlah peminat yang jauh lebih banyak.

Kebayang ya gimana level persaingan dan tekanan psikologis yang harus dihadapi dan dialami. Sebagai seorang yang lahir dari bukan bahasa Jepang sebagai bahasa Ibu dan tahu persis sulitnya mempelajari dan memahami huruf-huruf Jepang (Katakana, Hiragana dan Kanji), proses belajarpun tentunya bukan hal yang remeh temeh. Terutama Kanji yang sulitnya nauzubillah. 1 huruf tunggal bisa mewakili 1 ungkapan atau perbendaharaan kata dengan arti yang cukup panjang.

Saya sampai bertanya-tanya. Seandainya nilai EJU tidak seperti yang diharapkan, dalam artian tidak menembus ke-empat universitas ini, bagaimana tindak lanjut dari pemberi beasiswa kepada para awardee ya? Satu hal yang tidak dijelaskan di bukunya Jerome.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Gigih belajar dan belajar terus demi nilai EJU yang tinggi

Menyadari hal ini, Jerome pun memprioritaskan waktu belajar ketimbang sebelum-sebelumnya. Gigih belajar bukan hanya di Tokyo Japanese Language Education Centre saja tapi juga membabat habis waktu-waktu bersenang-senang, bersosialisasi dan bermedia sosial. Setidaknya lolos persyaratan administrasi dan minimum angka yang dibutuhkan oleh universitas tujuan, sebelum akhirnya tetap harus ikut ujian tertulis kembali yang diadakan oleh universitas yang dimaksud. Jadi ujian tertulisnya 2 kali lipat loh. Satu sebagai syarat administrasi. Kedua untuk persyaratan penerimaan.

Dan itu super sulit. Bisa dibayangkanlah ya. Jangankan soal dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa sendiri pun mapel bidang ilmu eksakta itu luar binasa maboknya. Apa karena saya anak ilmu sosial ya? Tapi gak juga sih. Orang sepintar Jerome aja selalu menulis kata “sulit atau susah” untuk setiap ujian kimia, fisika, dan matematika yang harus dia hadapi. Entahlah. Membayangkannya aja saya gak sanggup (haaalaah).

Singkat cerita, berkat kegigihan yang tanpa henti, Jerome pun lolos aplikasi administrasi (berkas) untuk melamar ke Waseda University (Waseda) dengan total nilai EJU 197/200. Top banget dah. Lanjut dengan ujian yang diadakan Waseda, Jerome pun kembali mengikuti ujian tertulis kimia, fisika, matematika dan ditutup dengan seleksi wawancara plus menulis Essay tentang mengapa dia ingin masuk Waseda. Karena memiliki pengalaman interview saat proses aplikasi beasiswa di Jakarta lalu, Jerome pun menutup sesi wawancara dengan hasil yang mengagumkan. Impian menjadi Menteri Pendidikan pun jadi andalan. Diperkuat lagi dengan tekad ingin melahirkan SDM berkualitas melalui semua yang dia dapatkan dari belajar di Jepang. Tentu saja diikuti dengan sebuah janji bahwa kedepannya Jerome ingin memperkuat hubungan kerjasama dalam bidang pendidikan yang sudah terbangun dengan sangat baik antara Indonesia dan Jepang. Lagi-lagi, menurut saya, presentasi mimpi inilah yang akhirnya melahirkan keputusan Waseda untuk menerima Jerome sebagai mahasiswa di jurusan Matematika Terapan.

Aaahh sungguh saat menginspirasi. Hebat kamu Jerome.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Sekilas wawancara saat melamar ke Waseda University

Lewat buku ini pula Jerome bercerita tentang 2 prestasi yang dia raih selama tahun-tahun awal berada di Jepang. Kalau tidak salah terjadi sebelum aktif kuliah di Waseda.

Pertama adalah menjadi juara dan meraih sertifikat Yuushuu (luar biasa) dalam lomba pidato bahasa Jepang. Mengulik tema “Hal Kecil Itu Penting”, lewat lomba yang diadakan oleh Tokyo Suginami Rotary Club ini, Jerome berhasil mendapatkan hadiah berupa jam tangan, voucher untuk membeli buku, uang dan tentu saja sertifikat tadi.

Kedua adalah berhasil mengantongi sertifikat N1. Tes bahasa Jepang untuk orang asing dengan level tertinggi setelah N5, N4, N3 dan N2. Nilainya pun di atas rata-rata. 180 dari minimum 100 yang harus dikantongi. Materi tesnya sendiri meliputi reading, listening, grammar dan vocabulary. Kerennya lagi, Jerome mendapatkan sertifikat N1 ini hanya dalam 6 bulan periode belajar bahasa Jepang. Sementara orang lain baru bisa meraihnya setelah 3 tahun belajar. Gilak. Encer banget ya otaknya.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Saat menerima sertifikat Yuushuu dalam lomba pidato yang diadakan oleh Tokyo Suginami Rotary Club

Lahirnya YouTube Channel NIHONGO MANTAPPU

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
WASEDA BOYS. Dari kiri ke kanan: Yusuke, Otsuka, Tomo dan Jerome. 3 orang bujangan asli Jepang yang jadi teman baik Jerome selama tinggal di negeri Sakura. Mereka jugalah yang menjadi rekan terbaik Jerome dalam membuat aneka video untuk akun Youtube NIHONGGO MANTAPPU

Youtube Channel inilah yang pertama kali mengenalkan saya pada sosok Jerome. Adalah suatu hari, Fiona, putri saya, memperlihatkan sebuah video dimana Jerome sedang mengajak ke-3 teman Jepangnya (Yusuke, Otsuka dan Tomo) untuk menikmati masakan Padang saat mereka berada di Surabaya, kota dimana keluarga Jerome berada. Videonya sungguh seru dengan percakapan dalam bahasa Jepang dan keseruan menikmati kuliner khas Indonesia yang cenderung oily dan pedas untuk standard orang Jepang. Dari sini saya hampir tidak pernah absen menonton video-video yang dilahirkan oleh Jerome yang kemudian mentasbihkan diri sebagai Waseda Boys bersama Yusuke, Otsuka dan Tomo.

Menyempatkan diri menulis tentang lahirnya Nihongo Mantappu di buku ini, kita bisa membaca uraian sarat pengalaman Jerome dalam membidani munculnya YouTube channel yang membawanya begitu populer hingga saat ini.

Channel ini awalnya lahir dari kerjasama Jerome dan Kevin. Saat dimana Jerome merasakan ada waktu luang sebelum aktif kuliah di Waseda dan sebagai sarana menyalurkan hobinya di bidang sosial. Mereka meluncurkan video pertama pada 23 Desember 2017. Opening speech MINNASAN – KONNIJWA dan closing speech MANTAPPU JIWA pun mulai dikenal oleh publik. Tapi sayang kerjasama mereka sempat terhenti saat akhirnya Kevin menyatakan diri keluar pada pertengahan 2018.

Takdirlah yang ahirnya mempertemukan Jerome dengan Yamashita Tomohiro (Tomo). Seorang teman di kampus yang sama dan dia kenal saat mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Tomo, menurut Jerome, memiliki kepribadian yang sangat berbeda dengan orang-orang Jepang lainnya. Pengalaman pernah tinggal di Amerika dan Kanada selama 5 tahun menjadikan Tomo orang yang lebih terbuka, lebih aktif dan talkative plus tentu saja fasih dalam bahasa Inggris. Karakter yang jarang dimiliki oleh orang Jepang kebanyakan. Mereka berdua membuat vlog pertama bersama yang berjudul Waseda University Campus Tour. Persahabatan mereka akhirnya semakin kuat dengan hadirnya Yusuke dan Otsuka. Teman baik yang mereka kenal dari kelas bahasa Mandarin.

Beranjak dari visi misi ingin menghadirkan video yang menyampaikan pelajaran bahasa Jepang bagi publik, Jerome akhirnya menambahkan pengetahuan tentang kehidupan di Jepang, motivasi dan opini terhadap suatu fenomena atau permasalahan yang sedang terjadi, di dalam konten YouTube Nihongo Mantappu. Tapi selain hal-hal yang disebutkan terdahulu, Jerome juga sering berkolaborasi dengan teman-teman yang lain yang tinggal di Jepang dan berasal dari berbagai negara. Pernah juga diundang secara khusus oleh Raffi Ahmad saat sedang berkunjung ke Tokyo dan berkolaborasi dengan berbagai youtuber dan vlogger ternama dari Indonesia. Bahkan seiring dengan menaiknya jumlah subscriber, Jerome menerima kerjasama promosi dengan berbagai perusahaan asal Indonesia (seperti Tokopedia dan Roma Biskuit).

Dari kesemuanya, kalau saya tidak salah hitung, vlog bersama dengan Waseda Boys lah yang paling dominan. Selain acara makan-makan (baik di resto maupun di rumah), wisata ke berbagai destinasi menarik di Jepang, kegiatan-kegiatan konyol seperti mukbang plus game seru dan lucu, percakapan dan diskusi mengenai banyak hal, vlog bersama Waseda Boys lah yang menurut saya paling seru. Kerjasama asyik mereka sebagai satu kesatuan Waseda Boys lah yang akhirnya menyadarkan Jerome tentang betapa penting dan berharganya sebuah team work. Jerome yang dahulunya selalu mengedepankan ego dengan pembuktian bahwa kesuksesan dapat diraih dengan perjuangan sendiri, menjadi (lebih) melunak dengan hadirnya para sahabat ini, dan memahami bahwa bekerja dalam sebuah teamwork akan mendapat lompatan kesuksesan yang lebih bernilai dan tinggi. Apalagi dalam proses perkembangan awalnya, Jerome dibantu oleh banyak pihak untuk mempromosikan channel YouTubenya.

The truth is that teamwork is as the heart of great achievement (John C. Maxwell)

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Waseda Boys in Batik. Foto-foto mereka mengenakan Batik adalah salah satu favorit saya.

Saya, Jerome dan Mantappu Jiwa

Sekali lagi saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Jerome, seorang pelajar Indonesia di Jepang yang sedang berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya. Lewat buku ini, meskipun Jerome seumuran dengan anak sulung saya, saya memahami lebih banyak lagi tentang arti sebuah kegigihan. Saya pun bisa membayangkan betapa bangganya orang tua Jerome mendapati anak lelakinya, di usia awal 20an, sudah begitu matang dalam menentukan jalan hidupnya. Apalagi ditambah dengan pencapaian channel Nihongo Mantappu yang sudah mencapai 6 juta-an subscriber hingga saat saya menulis artikel ini. Keberhasilan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebuah popularitas tak main-main diimbangi dengan kemapanan finansial.

Menelusuri buku ini kembali saat sudah keluar dari rumah sakit, saya tak henti mesem-mesem tertawa saat melihat karikatur lucu dan berbagai rumus matematika yang njlimet setengah mampus itu. Bahkan saking cintanya Jerome pada dunia matematika, dia tak rela kalau para pembaca bisa lolos dari mapel pengencer otak itu. Di bagian akhir buku, lelaki bermarga Sijabat ini, menuliskan 10 soal matematika untuk dikerjakan. Saya sih boro-boro bisa menjawabnya, membaca soalnya pun gak mengerti.

Sukses terus untuk Jerome. Tetap kreatif dan gigih menimba ilmu sebanyak mungkin di negeri orang. Tabunglah banyak kebaikan dan pelajaran hidup sepanjang jalan. Jadilah generasi penerus bangsa yang menginspirasi. Dan semoga cita-citanya untuk menjadi Menteri Pendidikan Indonesia bisa tercapai. BTW, titip salam untuk Tomo ya. Suka banget kalo Jerome sudah kolaborasi dalam vlog dengan Tomo dan aktif menggunakan bahasa Inggris sebagai media komunikasi utama.

Tak ingin membiarkan para pembaca artikel saya ini berakhir tanpa suatu kesan istimewa, berikut saya tampilkan beberapa quote #rumusjerome yang sangat inspiratif.

Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.
Belajar Memaknai Arti KEGIGIHAN dari Seorang Jerome Polin. Sebuah Review dari Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa.

#JeromePolin #JeromePolinSijabat #BukuLatihanSoalMantappuJiwa #MantappuJiwa #NihongoMantappu

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in’s Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)

16
Niagara Falls State Park- Oldest State Park in America , Greater Niagara Region

Hai semuanya!!

Senang akhirnya rangkaian tulisan Jung Hae In’s Walk Cumentary ini tiba di bagian terakhir setelah sebelumnya melewati 3 bagian dengan 6 episode yang penuh dengan cerita tentang berbagai tempat yang menjadi destinasi wisata dunia di New York City (NYC). Travel documentary ini, seperti yang sudah saya sampaikan, adalah reality show jalan-jalan yang diproduseri dan dibintangi oleh Jung Hae-in (Hae-in) bersama dengan 2 sahabat aktor Korea lainnya yaitu Im Hyun-soo (Hyun-soo) dan Eun Jong-geon (Jong-geon). Dua Oppa sahabat Hae-in yang pernah bekerjasama dalam 2 project KDrama atau film yang berbeda.

Sebelum lanjut ke bagian ke-4 ini, yang berisikin episode 7 dan 8, teman-teman bisa lebih dulu membaca Bagian 1 (episode 1 dan 2), Bagian 2 (episode 3 dan 4) dan Bagian 3 (episode 5 dan 6) yang telah saya tulis sebelumnya. Monggo tinggal klik aja yah. Setiap bagian yang terdiri dari 2 episode itu memiliki cerita dan keseruan masing-masing. Tempat yang dikunjungi dan kegiatan yang dilakukan pun beragam. Mulai dari yang lucu, menyentuh hati sampe pengalaman mengangetkan dan menggelitik waktu ke-3 aktor Korea Selatan ini mengunjungi Blood Manor, rumah hantu yang selalu hadir mengiringi musim Halloween.

Episode 7. The Reason Why We Need Personal Time

Setelah beberapa hari melewati waktu bersama, ketiga Oppa ini memutuskan untuk menikmat me time dengan jadwal dan acara yang berbeda-beda. Hae-in memutuskan untuk menghabiskan waktu di Central Park dan mencoba The Ride bus. Jong-geon menikmati waktu dengan jogging di sepanjang Andrew Haswell Green Park yang katanya lokasi jogging terbaik yang dimilik NYC. Sementara si bungsu, Hyun-soo berwisata kuliner dengan menikmati burger dan french fries di Five Guys Burgers and Fries. Mereka sempat saling kontak via VCall meskipun harus berkegiatan terpisah. Tapi konsentrasi utama untuk rekaman yang dihadirkan kepada penonton hari itu adalah tentang apa yang dilakukan oleh Oppa Hae-in.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Bermimpi bisa berfoto di sini. Pasti keren tak terkira
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
FIVE GUYS Burgers and Fries. Salah satu dari sekian banyak resto burger terbaik di NYC. Nglier gak liat ini? Saya sih iya

Langkah-langkah riang dan senyum cerah ceria menemani Hae-in memasuki Central Park. Sebuah taman kota yang terletak diantara Upper West dan Upper East Sides of Manhattan dengan luas sekitar 341 hektar. Meskipun tampak berjalan sendirian, terpisah dari 2 orang temannya, Hae-in kelihatan begitu bahagia dan semangat untuk menjelajah setiap sudut taman terbesar ke-5 di Amerika ini. Dari beberapa tautan yang sempat saya baca, Central Park setiap tahunnya dikunjungi oleh hampir 38 juta orang dan merupakan lokasi yang paling banyak difilmkan di dunia. Jadi no wonder, saat mengikuti Hae-in berkeliling, taman ini terlihat padat orang pengunjung dengan berbagai aktivitas photography.

Central Park pun ditetapkan sebagai National Historic Landmark pada 1963 dan New York City Scenic Landmark pada 1974. Taman ini dikelola oleh Central Park Conservancy sejak 1998 dibawah kontrak antara pemerintah kota dan kemitraan publik-swasta. The Conservacy, perusahaan non-laba (NGO), menyumbang setidaknya 75% atau setara dengan USD 65 milyar setiap tahunnya dan menjadi pihak yang bertanggungjawab atas kepengurusan taman ini.

Mengintip sebuah tautan www.centralpark.com, saya menemukan bertumpuk-tumpuk informasi tentang apa yang ada di dalam taman dan apa saja yang bisa kita lakukan di tempat ini. Termasuk diantaranya beberapa petunjuk lokasi yang bisa kita telusuri satu persatu. Seperti misalnya kebun binatang, Belvedere Castle (yang dalam bahasa Italia berarti pemandangan yang indah), pelayanan jasa tur, penyewaan sepeda, konser musik, camping dan banyak lagi lainnya.

Selama menikmati waktu-waktu berkeliling, Hae-in menyaksikan berbagai kegiatan humanis yang membuat dia terlihat begitu gembira. Saat ada pengamen, dia berhenti, mendengarkan sajian musiknya lalu memberi tip. Ketemu lagi ada yang tampil dengan permainan gelembung sabun, Hae-in juga berhenti, memotret, tak lupa memberikan tip dan diminta oleh si penampil untuk merasakan berada di tengah atau tersentuh gelombang sabun. Senyum lebar tak kunjung berpindah dari wajahnya yang super terawat itu. Capek jalan, ya udah ndeprok aja di rerumputan. Bentang kain dan menikmati me time. Piknik sambil dengerin musik, makan bekal burger yang dia bawa, sambil melihat sekitar yang penuh warna. Ada yang asik membaca, bekerja di laptop, sekedar tidur-tiduran, atau anak-anak yang gembira berlarian kesana-kemari. Hae-in sendiri niat banget loh bawa music box. Acara duduk-duduknya pun jadi sempurna sambil mendengarkan lagu yang dihadirkan oleh penyanyi favoritnya.

Menuntaskan piknik, Hae-in pun membawa langkah menuju Bethesda Terrace. Satu spot yang sangat populer dikalangan pengunjung Central Park dan sering dipakai untuk shooting film. Melewati sebuah terowongan lawas dengan beberapa gerbang terbuka, di bagian ujung teras ada sebuah kolam yang disebut sebagai Bethesda Fountain. Di tengah kolam ini ada patung berwarna hitam yang diberi nama Angel of Waters. Tempatnya memang unik dan istagenic banget deh. Apalagi berfoto dengan latar belakang terowongan itu. Foto prewed atau fashion dengan tema gothic pasti cakep banget hasilnya. Ingin baca rincian tentang Bethesda Terrace, sila langsung meluncur ke official website nya www.centralparknyc.org ya. Foto-foto dan tulisannya juara banget.

Baca juga : Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya. Jejak Kejayaan Maritim Indonesia
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Terowongan di Bethesda Terrace yang sesuatu banget
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Bethesda Fountain dan Angels of Waters

Tuntas dengan kekaguman di Bethesda Terrace, Hae-in mendadak tertarik untuk massage kepala dan badan bagian belakang. Ada 2 orang (bapak-bapak dan seorang ibu tua) membawa bangku besi dengan sandaran/hadapan kepala bolong dan melakukan pelayanan urut selama 10 menit dengan biaya USD 10. Lumayan juga ya. Kalau dirupiahkan kira-kira sekitar Rp 150.000,-. Dan itu untuk 10 menit saja. Cukup untuk ongkos lulur saya selama 2 jam. Hae-in tidak banyak berkomentar soal biayanya. Dia tampak menikmati. Pasrah dipijit oleh si ibu di bagian badan belakang, tangan, leher dan kepala. Heboh banget mijitnya. Komentar Hae-in sih biasa aja. Tapi herannya lumayan laris itu. Banyak yang ngantri.

Tak jauh dari tempat pijitan ini, Hae-in memutuskan untuk naik perahu dayung di danau yang bersebelahan dengan Bethesda Terrace. Awalnya sempat kerepotan tuh megang dayungnya. Glotak-glotak gak jelas. Gerakin dayung yang bolak-balik gak berhasil menyentuh air. Gimana sih Oppa? Saya sampe ngakak gak ketulungan. Setelah bisa pun ndayungnya kayak orang blingsatan, lupa bahwa besok belum kiamat. Tapi akhirnya dia ngeh juga setelah ngeliat ke kiri dan kanan. Ternyata caranya adalah dayung serentak digerakkan pelan dengan sudut 45 derajat lalu tarik ke arah badan. Gituloh Oppa.

Rampung urusan menguasai teknik mendayung, Hae-in mulai merasakan dirinya berbeda. Rasanya cuma Hae-in yang di perahu sendirian. Merana amat hahaha. Seandainya bisa saya temani ya Oppa. Mendadak raut wajahnya berubah. Langsung sentimental apalagi dia sempat berhenti sambil mendengarkan lagu dari salah seorang penyanyi kesukaannya, Paul Kim. Lagunya mendayu-dayu pulak. Hae-in, yang sejauh saya tahu memang tak pernah diberitakan betul-betul berkencan atau belum ketahuan punya pacar, keliatan banget berubah ekspresi wajahnya. Seperti ada sesuatu yang mendalam yang begitu dia rasakan tapi tidak bisa dia bagikan, demi menjaga personal image nya sebagai seorang aktor. Rontok hati liatnya.

Saya jadi ingin kembali ke judul episode ini, The Reason Why We Need Personal Time. Mungkin ada satu benang merah yang ingin disampaikan oleh program ini bahwa terkadang kita memang perlu punya waktu sendiri untuk mengevaluasi diri dan menikmati sebuah perjalanan dan pengalaman dalam kesendirian. Buat orang yang terbiasa mandiri hal seperti ini sudah biasa. Karena memang ada atau banyak hal yang memang lebih menyenangkan jika kita nikmati sendiri. Makan mie ayam sepiring lengkap misalnya. Saya mah ogah bagi-bagi. Pengennya ya dihabisin sendiri lah. Duh analoginya maksa bener hahahaha.

Baca juga: Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS’ NOTES

Ayok lanjut ke urusan dan kegiatan Oppa Hae-in.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Penampakan luar The Ride bus. Ide bagus nih untuk keliling NYC dalam sekali jalan

Acara jalan-jalan di hari itu ternyata masih berlanjut loh. Malamnya Hae-in mencoba bis teatrikal yang bernama The Ride. Bisnya gede ukuran 45 seats dan seru banget loh untuk diikuti. Dudukan dalamnya di set seperti kita mau nonton bioskop. Bertingkat tiga gitu. Jendela yang terbuka hanya 1 sisi. Jendela kaca segede gaban dan persis berhadapan dengan tempat duduk. Jadi kalau pas lampu di dalam bis dinyalakan penuh, para pejalan kaki bisa melihat penumpang bis seperti berada di dalam aquarium tanpa air. Seperti foto yang saya hadirkan di atas lah.

Dikawal oleh 2 orang guide (cowok dan cewek) yang super heboh, semua penumpangpun diajak bersukacita dan hore-hore macam tak ada hari esok. Serasa diskotik berjalan saat lampu dalam bisnya ajeb-ajeb (baca: remang-remang). Beneran persis kayak mau ajojing. Bedanya posisi hadirin duduk semua alias penumpang tak bisa bebas berdiri dan gak ada dance floor nya.

Bis ini rutenya melewati berbagai tempat yang biasa dijadikan destinasi wisata NYC dan dijelaskan sejarahnya satu persatu oleh para guide. Konsepnya persis seperti bis hop on hop off yang beroperasi di beberapa negara Eropa. Tempat-tempat yang dilewati sudah dikunjungi oleh Hae-in beberapa hari belakangan. Yang menjadi tambahan adalah entertainmentnya. Setiap melewati tempat atau sudut pemberhentian, penumpang akan disuguhkan performance teatrikal dari para aktor/aktris yang bekerja untuk The Ride. Sebagian besar adalah menari dengan sentuhan pantomim dan breakdance. Energik dan seru banget untuk dilihat.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Dancer yang perform untuk para penumpang The Ride

Yang ingin membaca lebih lanjut tentang layanan bis wisata kota ini, silahkan coba klik www.viator.com ya. Ada beberapa informasi layanan yang bisa kita dapat meskipun saat saya klik mereka sedang menghentikan pelayan tur karena pandemi masih berlangsung.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Suasana di dalam bisa yang selalu dibuat riang gembira oleh para guides

Di bagian akhir dari Episode 7, ketiga Oppa tampak sibuk mengangkut koper dalam gelap, naik mobil mini van, meninggalkan rumah sewaan di tengah kota Manhattan menuju JFK International Airport. Sepagi itu (sekitar jam 4 pagi) mereka akan terbang menuju Buffalo Niagara International Airport dan langsung menuju Niagara Falls (Air Terjun Niagara) lewat jalan darat selama 40 menit.

Hujan lebat menyambut mereka saat mendarat di Buffalo Niagara International Airport. Lengkap sudah rasa lapar setelah melewatkan waktu 1 jam terkurung di dalam badan pesawat. Merekapun menikmati chicken wing yang katanya adalah menu andalan hampir semua restoran yang berada di Cheektowaga. Jadilah, mereka nongkrong di sebuah resto yang berlokasi di bandara, memesan 3 piring besar chicken wing, mulai dari yang versi original, manis dan yang paling pedas (suicidal wings). Plus tentu saja bergelas-gelas bir, minuman kesukaan Hae-in. Saat ditanya rasanya, Hae-in berkomentar bahwa sayap ayamnya terlalu asin. Masih jauh lebih enak Gocujangnya Korea. Baiklah.

Melanjutkan perjalanan dengan sebuah mini-van, ketiga Oppa ini asyik mengobrol tentang passport (terutama passport Hae-in yang fotonya ganteng nauzubillah) dan ribuan pohon Maple yang berdiri tegak serta daun-daunnya yang berguguran sepanjang jalan bebas hambatan yang membawa mereka menuju Niagara Falls. Pohon yang identik dengan lambang negara Canada ini, memang tampak indah dalam balutan warna beragam mulai dari coklat, merah, kuning dan jingga. Cantik banget meski tampak berantakan berserakan di setiap sudut jalan. Bertemu dengan Maple Tree adalah pertanda bahwa rombongan sudah mendekat ke Canada. Tepatnya di perbatasan yang menghubungkan antara USA dan Canada.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Baca juga : LEEBONG Island Belitung. Pulau Dimana Keindahan Alam Menjadi Satu

Episode 8. The Journey Will Continue

Bertandang ke Niagara Falls adalah salah satu impian Hae-in. Sengaja disematkan di agenda terakhir perjalanan karena Hae-in ingin agar waktu-waktu indah yang dinikmati di sini bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan baik untuknya maupun untuk Hyun-soo dan Jong-geon.

Turun dari bis dan berjalan kaki mendekati kawasan Niagara, mereka langsung menginjakkan kaki di area Observatorium 1. Satu spot yang cukup strategis untuk memandang hampir semua sudut air terjun dan beberapa fasilitas umum yang berada di sekitarnya. Meski masih dalam titik yang cukup jauh.

Niagara yang dikenal sebagai 1 dari 3 air terjun terbaik di dunia ini, memiliki 2 air terjun yang masuk dalam kawasan USA atau yang sering disebut Niagara Falls State Park/American Falls, The Bridal Veil Falls yang bersisian dengan American Falls, dan 1 air terjun yang masuk dalam kawasan negara Kanada yaitu Horseshoe Falls atau Canadian Falls yang jika dilihat dari atas bentuknya seperti telapak/tapal kaki kuda. Hae-in menyampaikan bahwa dia ingin mereka menikmati destinasi wisata dunia ini dengan 3 cara yaitu lewat darat, air, dan udara. Darat dengan berdiri dari kejauhan dan beberapa titik strategis untuk memandangi keindahan air terjun dari berbagai sisi seperti yang mereka lakukan. Air dengan menumpang kapal Hornblower Niagara Cruises yang memang diperuntukkan untuk berlayar mendekati air terjun. Udara dengan merasakan flying-fox (Zip Line) yang terbentang disepanjang sisi American Falls. Keseruan yang pastinya sempurna banget dan menjadi impian para pejalan.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Niagara Falls State Park-American & Bridal Falls
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
ZIP LINE Flying Fox yang seru habis

Teriakan dan ketawa renyah mengihiasi kegembiraan tiga sekawan ini saat mencoba flying fox Zip Line. Tampaknya sih berusaha meredakan rasa takut yang mendadak muncul. Lumayan memang ketinggiannya. Cukuplah buat nyali ciut. Tapi perkara itu gak bakalan kita pikirin kalo khusuk menikmati pemandangan yang ada. Di bawah kaki ada hutan pohon Maple yang indah tak terkira. Di depan dan di samping kiri terlihat ke-3 air terjun dengan dentuman yang berdetak kencang di telinga. Hiburan visual yang maha dahsyat dan tercipta oleh kepintaran dan akal manusia. Di sesi shoot yang satu ini, saya bolak balik memutar balik videonya berkali-kali. Seneng aja ngeliatnya. Apalagi buat saya yang penyuka (baca: penggila) flying fox. Merasakan bebas terbang di satu ketinggian itu rasanya merdeka banget. Duh. Iri banget saya sama mereka. Apalagi saat melihat Hae-in menikmati duduknya dengan tenang, mengikat action cam nya di pergelangan tangan kanan yang ditengadahkan, agar mendapatkan sudut rekaman yang epic antara dirinya dan American Falls. Keren tak terkira.

Menginjakkan kaki di titik finish Zip Line, mereka melangkah ke sebuah funicular (kereta kecil yang biasanya beroperasi di sebuah tebing) dan membawa mereka ke sebuah atap gedung yang berada persis berseberangan dengan American Falls. Dari sini lanjutlah dengan pengalaman lainnya yaitu bersentuhan langsung dengan air milik Niagara dengan berlayar bersama Hornblower Niagara Cruises.

Meski harus berjibaku dengan hempasan air terjun yang menghujan ke wajah serta menahan kekuatan berdiri seiring dengan guncangan kapal yang bergoyang-goyang karena arus air yang begitu kencang, para Oppa rupawan ini tampak tetap riang gembira. Meski mengenakan jas hujan plastik yang membungkus kepala dan badan, tampaknya debit lompatan air dari air terjun terlalu gahar untuk dilawan. Mereka pun tetap basah kuyup. Apalagi saat kapal terus bergerak maju semakin mendekat ke air terjun. Lagi-lagi saya iri maksimal. Kebayang ya bisa teriak-teriak kesenangan sambil terhempas-hempas di atas dek kapal yang menari di atas gelombang. Halaahh.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Hornblower Niagara Cruises, Niagara
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Dari kiri ke kanan: Jong-geon, Hae-in dan Hyun-soo

Perjalanan seru pun masih berlanjut setelah cruises.

Berjalan beriringan menuju Journey Behind The Falls yang berada di sisi negara Kanada, Hae-in dan teman-teman bertemu dengan burung gagak yang dengan susah payah ingin mereka ajak untuk berfoto bersama. Lucu banget. Foto yang berhasil diabadikan selalu dalam pose gak genah. Tapi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan pengalaman melihat pelangi yang terbentang di depan air terjun. Hyun-soo sampai tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak-teriak norak. Dan itu dia lakukan berulang-ulang sampai kedua temannya sadar.

Journey Behind The Falls sendiri adalah salah satu spot yang tak terlukiskan serunya. Melewati terowongan dengan beberapa lorong menuju pinggir bagian dalam air terjun, Hae-in, Hyun-soo dan Jong-Geon menuju jalan keluar yang membawa mereka ke sebuah teras terbuka yang lokasinya sangat dekat dengan Horseshoes Falls. Naik cruise aja sudah terhempas, nah di tempat ini hantaman airnya lebih heboh lagi. Alih-alih mengenakan jas hujan plastik, mereka memutuskan untuk melepasnya dan menikmati basah kuyup dengan sukacita dan berfoto sepuasnya dengan wajah, rambut dan badan yang basah. Hasil foto Hae-in yang dicapture di videonya keren banget loh. Asli membuktikan betapa photoghenic dan good looking nya aktor 32 tahun ini. Tapi sayang saya tidak bisa menemukan foto tersebut dimanapun. Termasuk di IG nya Hae-in. Padahal kerennya tak terbilang. Semoga foto berikut ini bisa mewakili bayangan tentang serunya Journey Behind The Falls ya. Walaupun gak ada Oppa Hae-in nya.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Journey Behind The Falls, Horseshoe (Canadian) Falls, Niagara

Langit sudah pekat dan gelap saat mereka tiba di salah satu hotel di sekitar komplek Niagara. Dari kamar grande yang mereka tempati, ada 2 jendela besar dengan 2 teras yang memungkinkan mereka mendapatkan 2 view yang berbeda. Pertama menghadap ke Niagara. Sementara yang kedua menghadap ke dalam kota. Semua tampak sangat sangat sangat (sengaja disebutkan 3 kali) istimewa terlihat dari kamar. Indah dengan balutan lampu warna-warni yang tak terbayangkan banyaknya. Melihatnya sekilas aja tak henti saya berdecak kagum. Apalagi kalau benar-benar berada di hotel terus duduk di teras-teras yang sungguh memanjakan mata dan mengademkan hati. Kebayang ya duduk-duduk di situ, mengamati indahnya Niagara Falls sambil ngopi, ngemil dan ngobrol dari Sabang sampai Merauke. Duduk sendiri aja juga udah cukup asyik kayaknya. Menghayati dan menikmati satu keberuntungan yang belum tentu bisa dirasakan oleh banyak orang.

Baca juga : Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLER’S NOTES
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)
Horseshoes (Canadian) Falls, Niagara

Friends Talk

Sebagai penutup dari rangkaian Jung Hae-in’s Walk Cumentary, Hae-in dan kedua sahabatnya menikmati makan malam bersama di hotel tempat mereka menginap di kompleks Niagara Falls. Dinner terakhir sebelum besoknya mereka akan kembali ke Seoul.

Ada haru menyeruak saat Jong-geon menyampaikan apa yang dia rasakan selama bertahun-tahun bersahabat dengan Hae-in. Jong-geon merasa beruntung meskipun karirnya tidak secemerlang Hae-in, lelaki tampan, salah seorang aktor drama populer Korea dan selalu menganggap dirinya setara dalam hal apapun. Padahal kalau dihitung dari jumlah tahunnya, Jong-geon sesungguhnya adalah senior Hae-in dalam dunia entertainment khususnya seni peran. Dengan air mata yang menetes, Jong-geon mengucapkan terimakasih yang mendalam dan berharap bahwa hubungan persahabatan mereka dapat terus berjalan meski mereka tidak terlibat dalam kegiatan atau project yang sama. Saat ditanya tempat mana yang ingin dia kunjungi kembali, Jong-geon langsung menjawab Stardust Dine-O-Mat. Resto yang saya tuliskan di bagian ke-2 dari rangkaian tulisan ini. Dia merasakan satu energi kegembiraan dan keseruan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Apa pendapat Hyun-soo akan perjalanan mereka? Dalam beberapa detik Hyun-soo tampak terdiam. Berusaha meredam, menahan getaran suaranya. Yang pasti Hyun-soo turut merasakan kebahagiaan bisa mendapatkan kesempatan menginjakkan kaki di NYC. Yang menurutnya tidak akan terjadi jika tidak diajak oleh Hae-in. Tampaknya keakraban yang terbangun saat mereka bermain bersama di drakor One Spring Night, menjadi semakin kokoh karena program ini. Hyun-soo berharap suatu saat dia bisa kembali ke USA bersama dengan orang-orang hebat seperti Hae-in dan Jong-geon.

Hae-in sendiri begitu terkesan dengan Niagara dan berharap bisa kembali. Memposisikan diri sebagai produser dari reality program ini, Hae-in tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Jong-geon dan Hyun-soo karena sudah berkenan menemaninya. Acara yang sesungguhnya tak mudah untuk dia tangani secara pribadi. Banyak hal, khususnya dalam proses produksi yang dirasakannya sebagai proses learning by doing dan banyak menyita pikirannya. Rangkaian pengalaman baru yang memberikan pelajaran banyak bagi dirinya.

Saya bisa merasakan atmosphere apa yang sedang menyeruak diantara mereka. Saat kita berada dalam sebuah perjalanan, rekan-rekan yang berada bersama kita ketika itu akan menjadi orang yang akhirnya banyak tahu tentang kita. Walaupun hanya dalam hitungan hari. Hubungan pun bisa jadi lebih dekat karena kualitas kebersamaan. Tapi bisa juga jadi pemicu keretakan jika masing-masing menemukan sesuatu yang tidak berkenan di hati, yang sebelumnya mungkin tidak diduga. Apalagi ini bukanlah sebuah perjalanan atau liburan murni. Tapi ada sebuah tanggungjawab yang berhubungan dengan profesionalitas mereka sebagai aktor.

Aahh mendadak saya rindu traveling bersama teman-teman blogger.

Terimakasih Hae-in yang sudah menghadirkan sebuah travel documentary yang begitu seru dan bermakna untuk ditonton. Meskipun entah kapan saya bisa sampai ke New York, tapi paling tidak saya bisa turut merasakan rangkaian energi keceriaan saat menyaksikan Hae-in menjelajah ke setiap tempat-tempat menarik di NYC. Termasuk diantaranya pengalaman di sisi kuliner yang bikin saya tak berhenti berdecap dan merasakan nikmatnya setiap hidangan.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 4/Terakhir)

#JungHaeIn #WalkCumentary #WalkDocumentary #TravelLog #TravelDocumentary #RealityShow #KoreanRealityShow

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS’ NOTES

20

Menghadirkan banyak kisah dari rangkaian perjalanan tentunya butuh effort yang tidak sedikit. Apalagi jika sumber tulisan berasal dari berbagai personal yang berangkat dari ragam pengalaman. Tapi saat beraneka cerita tersebut bercampur dengan manisnya dalam sebuah buku antologi, pembaca serasa dimanjakan oleh tebaran informasi bermanfaat di setiap lembaran yang terhidang di depan mata.

Buku The Travellers’ Notes adalah bagian dari rangkaian rasa tersebut di atas. Dibimbing, diarahkan dan diedit sendiri oleh Mbak Deka Amalia (Deka), buku antologi ini resmi diluncurkan pada Desember 2020. 34 (tiga puluh empat) penulis yang terlibat adalah teman-teman saya yang tergabung dalam Writerpreneur Club yang dipimpin oleh Mbak Deka. Satu komunitas khusus untuk mereka yang mencintai dunia literasi dan bersemangat mewujudkan hasil karya tulis mereka dalam sebuah buku. Jadi semua yang tergabung di sini adalah mereka yang punya frekuensi dan minat yang sama.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES

Mengurai The Travellers’ Notes

Buku kumpulan catatan perjalanan ini terdiri dari berbagai pengalaman menjelajah berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri. Beberapa diantara penulisnya pernah bergabung dalam buku antologi dengan tema yang sama yaitu Travellers On Fire. Buku yang sudah lebih dahulu terbit pada Juni 2020 dan sudah saya buatkan ulasannya melalui tautan di bawah ini.

Baca juga: Travellers On Fire. Buku Antologi Sarat Cerita Dari 35 Orang Penulis

Jika pada Travellers On Fire saya mengulas semua tulisan yang ada, satu persatu, dari halaman depan sampai belakang, saya memutuskan melakukan hal yang berbeda untuk The Travellers’ Notes. Meskipun melewati proses semedi dan pembacaan sama yang biasa saya lakukan saat ingin mereview sebuah buku, saya menemukan sebuah semangat mengulas lebih mendalam dan rinci untuk beberapa tulisan yang (sangat) menarik perhatian. Terutama artikel yang ide atau topiknya jarang dibahas. Bisa juga tentang suatu atau beberapa tempat dengan pengalaman menjelajah yang istimewa. Plus khususnya bahasan mengenai berbagai premises atau destinasi wisata yang belum pernah saya kunjungi.

Dunia Yang Hilang di Mentawai

Saya menemukan tulisan istimewa tentang Mentawai dari seorang Sulistianing Dian Ratnasari (Sulis). Mantan orang kantoran yang memutuskan untuk usaha mandiri di bidang traveling. Sulis menceritakan tentang misi penjelajahannya bersama 5 orang teman ke sebuah pedalaman yang ada di Mentawai. Tepatnya ke Dusun Rokdok yang masyarakatnya hidup bersahabat dengan alam, jauh dari teknologi modern, nun jauh di sana di provinsi Sumatera Barat.

Ada yang pernah ke dusun Rokdok? Saya? Dengar namanya aja baru setelah baca tulisan Sulis ini. Membayangkan jalur perjalanannya aja saya sudah takjub bukan main. Belum sebandinglah dengan pengalaman trip ke Pulau Pisang (Krui, Lampung) yang pernah saya alami. Yang pasti perjuangan untuk mencapai dusun yang menjadi tujuan akhir Sulis dan teman-teman ini memerlukan persiapan matang, serta hati dan mental yang jembar untuk melakukannya.

Baca juga: Hatiku Tertambat di Pulau Pisang. Kisah Perjalanan Seru di Pesisir Barat Lampung.

Jalur perjalanannya membutuhkan 3 moda transportasi. Udara, darat dan laut. Terbang dari bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta menuju Bandar Udara Internasional Minangkabau di Padang, lanjut perjalanan darat menuju pelabuhan Muara Padang, disambung 5 jam melaut ke Pulau Siberut, dan 8 jam naik perahu jukung menuju Desa Rorogot. Yang kalau ditotalkan mungkin setara dengan perjalanan udara (direct flight) dari Jakarta menuju Eropa Timur. Alamak. Padahal ini masih Pulau Sumatera loh. Waktu Indonesia Bagian Barat. Yang dalam imajinasi kita tentunya tak lah begitu jauh dari ibukota negara.

Sampai di desa Rorogot rombongan istirahat dan menginap di sebuah rumah adat (Uma). Sebuah rumah panggung yang tidak memiliki fasilitas seperti layaknya rumah biasa. Sulis, yang adalah satu-satu perempuan dalam rombongan tentunya mengalami satu pengalaman yang luar biasa. Saat istirahat/tidur mengenakan sleeping bag, kalau dangak/telentang pemandangannya adalah langit-langit atau plafon rumah yang dihiasi dengan koleksi tulang hewan yang diawetkan. Miring ke kanan, penuh dengan teman-teman lelaki yang bergabung dalam rombongan. Miring ke kiri terlihat hutan belukar. Kalau dah gitu sih biasanya kebayang empuknya kasur di kamar sendiri atau bisa jadi menikmati saat-saat istimewa yang justru tidak akan bisa terjadi jika tidak menjadi bagian dari ekspedisi ini.

Hari berikutnya, rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju Dusun Rokdok dengan trekking selama 2 jam. Kedamaian dan ketenangan pun langsung merasuki jiwa saat tiba di dusun yang hanya terdiri dari 12KK dan dengan deretan rumah panggung berjarak 3-4 meter satu dengan lainnya. Sulis dan teman-teman disambut oleh seorang Sikerey, seorang dukun adat Mentawai, tabib yang mampu menyembuhkan orang sakit menggunakan obat-obatan yang berasal dari alam/hutan. Sikerey Aman Gresy nama lengkapnya. Selain Sikerey ini ada juga pemuka adat muslim yang membimbing warga dusun untuk mendalami agama Islam. Warga yang sekarang mayoritas muslim dan dulunya menganut animisme. Ada sebuah mushola kecil untuk beribadah tapi baru digunakan untuk sholat Jumat. Mereka, menurut istri dari pemuka adat tersebut, belum paham akan perintah sholat 5 waktu.

Baca juga: 25 Situs Purbakala dan Reruntuhan Bangunan yang Mengukir Sejarah Peradaban Manusia di Dunia

Beberapa pengalaman lain yang tidak akan Sulis lupakan adalah menyaksikan tradisi berburu yang dilakukan oleh warga dusun. Untuk berburu ini mereka menggunakan panah beracun yang bisa melemaskan hewan yang diburu sebelum akhirnya hewan tersebut mati. Tentunya hasil buruan tetap aman untuk dikonsumsi manusia. Yang bisa mengikuti tradisi berburu ini hanyalah para lelaki dengan usia minimum 10 tahun. Dan sebelum berangkat berburu mereka biasanya mengadakan upacara adat supaya terhindar dari bahaya.

Hal menarik lainnya adalah menyaksikan apa dan bagaimana Tatto Mentawai yang dikenal sebagai tatto tertua di dunia. Tatto yang disebut sebagai Titi ini, menurut warga dusun adalah pakaian abadi yang dibawa mati, menyatu dengan kulit mereka dan dipercayai mempunyai jiwa raga yang sama dengan pemiliknya. Satu konsep pemikiran yang sangat kuat dan telah mendarah daging sepanjang hidup mereka. Tatto yang terbuat dari serbuk/asap dari obor yang telah dikeruk dan dicampur dengan air tebu ini juga menunjukkan jati diri, status sosial dan profesi dari yang bersangkutan. Rombongan pun diajak untuk melihat proses pembuatan Titi yang dilakukan secara manual dengan peralatan tradisional yang sederhana yaitu jarum, kayu pemukul dan kain lap/tisu.

Satu hal yang juga seru dari kisah perjalanan Sulis dan rombongan selama di Mentawai adalah saat semua peserta diajak untuk mencicipi ulat sagu. Ulatnya dibakar terlebih dahulu (tentunya gak sampai gosong) sebelum dikonsumsi. Saat sudah masuk mulut dan dikunyah, ada sensasi ulat tersebut pecah di mulut dengan rasa seperti mentega tawar. Saya pernah mengalami ini saat berada di Maluku Utara. Bahkan dengan ulat yang masih bergerak saat dimasukkan ke mulut. Langsung aja digigit. Jangan kelamaan mikir dan libatkan perasaan hahahaha. Bener loh rasanya seperti mentega. Asin-asin, gemuk dan gurih gitu. Saat ditanya kenapa mau mencoba? Jawaban saya simpel aja. Yang makan duluan bertahun-tahun aja gak mati, mosok saya takut?

Menutup serangkaian kunjungan ke dusun Rokdok, masyarakat setempat mengadakan pesta perpisahan yang diadakan di Uma (rumah adat). Selain menyajikan beberapa makanan khas Mentawai, warga pun menampilkan tarian dan nyanyian adat Mentawai, yang tentunya khusus dipersembahkan untuk para peserta ekspedisi.

KEDIRI Ecocraft Waving Trip

Dari Mentawai di ujung Barat Sumatera, saya melompat ke sebuah tulisan perjalanan domestik lainnya yang dikoordinir oleh Siendy, founder E3Trip. Sebuah jasa perjalanan yang menghadirkan kegiatan traveling sarat makna sambil menambah pengetahuan, khususnya di dunia kerajinan tangan.

Baca juga: Menikmati Hujan Ilmu Wewangian di RUMAH ATSIRI Indonesia Bersama E3Trip

Nah kali ini, Siendy mengajak kita menelusuri Kediri, sebuah kota yang menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Tema utama dari perjalanan kali ini adalah belajar Ecocraft atau Ecoprint yaitu teknik memberi pola pada bahan atau kain dengan menggunakan bahan-bahan alami. Sebagian besar yang saya lihat adalah menggunakan aneka jenis daun. Ecocraft atau Ecoprint ini adalah salah satu craft yang merupakan bagian dari green jobs. Alternatif pekerjaan atau kerajinan tangan yang berangkat dari pemanfaatan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Wajah-wajah bahagia setelah berhasil membuat ecoprint

Selain menabung ilmu tersebut di atas, tujuan utama ke-2 dari perjalanan ke kota Kediri adalah mengunjungi sentra tenun ikat yang berada di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto. Di tempat ini, sejak 1989, telah berdiri CV Medali Emas, salah satu UMKM andalan kota Kediri yang konsisten memproduksi tenun khas Kediri. Sebuah usaha yang sukses berkembang, mempekerjakan masyarakat sekitar, dan mendapatkan piala Upakarti dalam kategori Kepeloporan pada 2010.

Ibu Roqayah, sang pemilik, mengajak rombongan untuk melihat dan mengenal lebih dekat tentang proses pembuatan tenun ikat dari awal pencelupan benang, proses desain motif sampai ke tahap akhir menjadi tenun ikat. Selain dalam bentuk kain dalam berbagai motif dan warna, di tempat ini juga tersedia berbagai finished products dengan menggunakan tenun ikat Kediri sebagai materi utama. Diantaranya adalah sepatu dan baju. Kita bisa loh memilih langsung dan membeli kainnya di sini kemudian meminta mereka menjahitkannya menjadi baju dengan rancangan atau model yang kita inginkan. Tinggal lakukan pengukuran lalu baju akan dikirim setelah selesai. Mau belajar bikin tenunnya juga bisa. Tempat ini memberikan kita kesempatan seluas-luasnya untuk lebih mendalami apa dan bagaimana itu tenun ikat Kediri dengan mengolah dan membuat sendiri kainnya. Satu kesempatan yang sangat berharga bagi para pecinta wastra Indonesia tentunya.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Benang-benang tenun yang sudah melewati proses pewarnaan
Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Berbagai kain tenun ikat khas Kediri yang dijual oleh CV Medali Emas. Cantik-cantik ya motifnya
Baca juga: Revitalisasi PUTA DINO. Tenun Tidore yang Telah Punah

Melengkapi kesempatan berkunjung ke Kediri, tak lengkap rasanya jika tidak menikmati berbagai destinasi wisata yang menjadi kebanggaan warga Kediri. Rombongan pun menyempatkan diri pergi ke berbagai tempat berikut ini:

  • Daerah Gunung Klotok dimana terdapat obyek wisata Goa Selomangleng yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto. Menurut cerita rakyat setempat, goa ini diperkirakan dibuat pada abad 10-11 Masehi dan dipercaya dulu adalah tempat pertapaan Dewi Kilisuci (Sanggramwijaya Tunggadewi), putri dari Raja Airlangga (Kerajaan Kahuripan);
  • Kelenteng Tri Darma Tjoe Hwie Kiong yang berada di jalan Yos Sudarso dan sudah tercatat sebagai kawasan cagar budaya;
  • Simpang Lima Gumul (SLG). Salah satu spot foto kekinian dengan menghadirkan sebuah bangunan yang menyerupai Arch de Triomphe yang ada di Paris. Diresmikan pada 2008, monumen ini berada di desa Tugurejo daerah Ngasem. Bangunannya sendiri berlokasi di pertemuan 5 jalan yaitu Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten;
  • Keboen Kopi Karanganyar. Tempat ini menjadi salah satu tujuan yang dinantikan rombongan karena selain tempatnya indah dan bersejarah, para pengunjung juga diajak untuk belajar tentang sejarah kopi, menanam, memelihara bibit kopi serta mencicipi rasa dan menilai kualitas kopi. Ladang kopi yang dibuka pada 1874 ini pada awalnya dimiliki oleh Belanda hingga akhirnya jatuh ketangan salah seorang pegawainya yaitu Denny Roshadi. Di dalam perkebunan ini juga terdapat 3 museum yaitu Museum Purna Bakti, Museum Pusaka dan Museum Mblitaran. Lalu ada juga Roemah Lodji yang mencatat tentang sejarah keluarga Roshadi dan kamar 806 milik Bung Karno. Ada juga cafe dan restoran dengan nuansa tempo doeloe yang berada di perbukitan. Satu yang unik dari area kuliner ini adalah bahwa pegawai magangnya ada orang Belanda;

Melengkapi semua cerita di atas, rombongan tentunya tak melupakan jelajah kuliner. Terutama untuk berbagai jajanan yang hampir tidak bisa atau (sangat) sulit kita temukan saat berada di kota besar. Seperti Pecel Tumpang dengan Sambal Tumpang (campuran tempe segar dan tempe lama) yang memang khas Kediri. Kemudian ada klepon, lopis, cenil, dan berbagai jenis jajan pasar yang mencerminkan kekayaan kuliner pulau Jawa.

Baca juga: Masjid dan Makam SUNAN AMPEL. Sekilas Menyisir Wisata Qalbu di Utara Surabaya

Bosnia dan Herzegovina. Tanah Para Syuhada

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Pemandangan kota dari Apartemen Salim di Sarajevo. Hamparan keindahan yang pastinya tak akan terlupakan. Rumah-rumah dan berbagai kubah Masjid yang diselimuti salju tampak begitu cantik sejauh mata memandang.
“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah (kamu kembali) setelah dibangkitkan” (QS Al Mulk Ayat 15)

Rini Susanti (Rini) mengawali rangkaian cerita penjelajahannya bersama keluarga ke negara ini dengan sebuah sentuhan ayat dari kitab suci AlQur’an yang mengingatkan kita untuk melihat indahnya dunia. Seperti sebuah pepatah “Jika kamu ingin mengetahui indahnya dan luasnya dunia selain tanah yang kau injak sekarang, pergilah, jelajahi setiap sudut dunia dan kumpulkan jutaan makna yang didapatkan dari perjalanan tersebut”.

Selain untaian kalimat sarat makna tersebut di atas, perjalanan Rini dan keluarga mengunjungi negara yang berada di bagian tenggara Eropa ini juga berawal dari sebuah kenyataan dan cerita sejarah yang mendunia. Perang antar etnis selama 3 tahun (April 1992 – Desember 1995) yang meluluhlantakkan penduduk mayoritas muslim, sisa kejayaan Dinasti Ottoman, menjadi satu alasan diantaranya. Seperti yang juga kita ketahui, perang antara etnis ini tercatat sebagai genosida terburuk setelah Perang Dunia II. Merenggut 100.000 jiwa yang 80% diantaranya adalah muslim Bosnia. Serangan dilakukan oleh Tentara VRS (Pasukan Militer Serbia – Kroasia) dibawah komando Presiden Republik Srpska Radovan Karadzic. Tujuannya adalah memusnakan muslim Bosnia sebagai balas dendam di masa lalu terhadap bangsa Turki yang mereka sebut sebagai Turks.

Baru beranjak dari paragraf awal dari tulisan Rini ini, saya mendadak teringat dan menahan pilu di hati. Ditahun-tahun itu, saat saya sudah dewasa dan telah bekerja, saya menyaksikan sendiri rangkaian ulasan tentang perang ini yang terus menerus tampil di berbagai stasiun TV dunia. Termasuk TVRI. Stasiun TV Nasional milik negara kita. Rangkaian kekejaman yang tak henti-henti dilakukan oleh Tentara VRS kala itu mendapatkan kecaman dari banyak negara di dunia. Terutama dari semua negara yang tergabung di dalam persekutuan negara-negara NON BLOK, dimana Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pencetusnya.

Bapak H. M. Soeharto (Pak Harto), presiden kita kala itu, yang memegang tampuk tertinggi kepemimpinan Non-Blok, berinisiatif terbang langsung ke Sarajevo dalam rangka misi perdamaian. Perjalanan beresiko yang dilakukan pada 14 Desember 1995 tersebut menjadi pusat perhatian media dunia karena Sarajevo masih dalam kondisi tak aman untuk didatangi. Tapi berkat niat yang baik dan dikawal oleh pasukan perdamaian PBB, Pak Harto berhasil mengajak pihak-pihak yang bertikai untuk menandatangani piagam gencatan senjata dan perjanjian perdamaian yang di tandatangani di Ohio, Amerika Serikat.

Saya sempat tercenung mengingat peristiwa ini kembali karena dari apa yang disampaikan oleh berbagai media, Pak Harto ketika itu tak memiliki keraguan sedikit pun untuk menginjakkan kaki di Sarajevo. Beliau tiba dengan senyum yang khas, tanpa mengenakan baju anti peluru, berjalan tegap didampingi oleh Jend. Sjafrie Syamsudin yang saat itu menjabat sebagai pengawal pribadi/kepresiden RI. The smiling general yang kemudian sangat dihormati dunia.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Pemandangan di sisi jalan dalam perjalanan Sarajevo-Mostar.

Rini dan keluarga memulai perjalanan menuju tanah para syuhada ini dari Kuala Lumpur. Kota dimana mereka bermukim saat itu. Dari KL mereka melewati 13 jam waktu penerbangan menuju Dubai untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil sewaan ke Milan. Di salah satu kota terindah dunia ini kita bisa menemukan beberapa destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh para pelancong. Seperti Galleria Vittoro Emmanuelle dan Duomo. Naik bis Hop On Hop Off kemudian jadi alternatif yang efisien dan efektif untuk menikmati keliling kota tanpa salah arah. Setelah Milan, Rini dan keluarga menuju Venice, salah satu kota cantik tujuan wisata dunia yang dikelilingi oleh transportasi air, lalu berlanjut mengunjungi Budapest, Hungaria. Salah satu kota terindah di Eropa Timur yang sempat saya singgahi selama hampir 2 minggu di pertengahan 2016.

Dari kota yang terpisah antara Buda dan Pest ini, rombonganpun terbang menuju Sarajevo. Sebelum sampai ke Sarajevo, Rini dan keluarga sempat menikmati waktu transit di Turki dengan tour gratis yang difasilitasi oleh maskapai penerbangan. Memanfaatkan waktu transit tersebut, mereka mengunjungi beberapa tempat wisata yang populer di Turki seperti Blue Mosque, Hippodrome, Hagia Sophia dan Arasta Bazaar. Sekedar informasi. Untuk bisa menikmati kegiatan mampir ini, Rini mengajukan aplikasi visa on-line via www.turkeyvisa.com.tr dengan biaya USD 35/orang.

Di Sarajevo, mereka menginap di sebuah apartemen duplex (Apartemen Salim) milik Muhamed Ajdinovic. Apartemen 3 kamar dengan fasilitas lengkap seperti ruang keluarga, ruang makan, dan dapur plus peralatan memasak dan makan yang lengkap. Biaya sewa yang relatif murah. Hanya Rp 880.000,-/malam. Masih jauh lebih murah dibandingkan dengan kamar executive hotel bintang 5 di Jakarta.

Menuju Mostar, Bosnia, Rini bersama suami dan ke-2 anaknya menikmati cerita perjalanan dengan pemandangan yang tak akan terlupakan. Lembah, bukit dan hutan pinus, serta sungai yang berwarna biru turquoise hadir mengademkan hati. Rombongan pun menyempatkan diri mampir ke Stari Most/Old Bridge dan menghabiskan waktu berharga di pinggir jembatan ini. Sebuah jembatan bersejarah yang dibangun pada abad ke-16 oleh Dinasti Ottoman. Jembatan yang melintasi Sungai Neretva ini sempat hancur akibat perang tapi kemudian dibangun kembali oleh pemerintah Bosnia. Hingga akhirnya, pada 2005, dinobatkan sebagai salah satu World Heritage dan destinasi wisata utama di Bosnia.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
The Old Bridge yang menyimpan begitu banyak sejarah

Melengkapi kesempurnaan berada di tanah para syuhada ini, Rini dan keluarga menyempatkan beribadah, bersujud di hadapan Allah SWT di salah satu masjid bernama Masjid Koski Mehmed Pasina Dzamija. Masjid kelima terbesar di Bosnia yang dibangun pada 1617 oleh bangsa Turki. Sebuah masjid cantik dengan desain dan ornamen khas Ottoman. Sentuhan visual yang sama bisa kita nikmati saat berada di beberapa bangunan bersejarah yang ada di Turki.

Rangkaian perjalanan estafet inipun kemudian berakhir dengan penerbangan menuju Athena dan Santorini di Yunani.

Pada 2 lembar terakhir tulisan Rini, saya mencatat berbagai rangkaian tulisan yang patut kita garis bawahi. Melakukan perjalanan bersama keluarga nyatanya memang mampu memperkuat bonding diantara semua anggota yang terlibat dalamnya. Saling membantu jika menghadapi kesulitan. Berpelukan tatkala jatuh dalam sebuah kekaguman. Dan kesadaran akan keberuntungan untuk bisa melihat sisi lain dunia yang mungkin tidak banyak orang yang bisa menikmatinya. Semua sumber kekayaan hati yang akan menjadi unforgettable memory ever. Selain tentu saja dari setiap langkah dan tempat yang dikunjungi, banyak ilmu, kebudayaan, adaptasi terhadap lingkungan dan pengetahuan yang nantinya akan menjadi bagian dari rangkaian kenangan yang tak terlupakan itu.

Baca juga: Sepenggal Peninggalan Sejarah Kejayaan Imigran Tionghoa di Tjong A Fie Mansion, Medan.

CASINO. Serpihan Cerita Tentang Indonesia yang Terlupakan di Pedalaman Australia

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Pemakaman para pejuang Indonesia yang berada di Victory Camp

Saya membaca artikel ini berulangkali sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Amy Koko (Koko), si penulis, via Whatsapp. Sambutan hangat pun saya dapatkan sebelum akhirnya asik dan larut dalam obrolan tentang blog, being blogger dan tentu saja mengenai topik yang diangkat dalam tulisan ini. Saya sempat meminta beberapa referensi tertulis tentang Casino, kota yang dibahas, tapi ternyata harus mengubur harapan itu dalam-dalam. Blas tidak ada satupun catatan resmi tentang tempat yang menjadi topik tulisan Koko.

Bagaimana mungkin catatan sarat sejarah ini tidak tercatat secara resmi di tautan manapun? Duh sayang banget ya.

Yang pernah tinggal atau lama menginjakkan kaki di Australia, mungkin pernah mendengar nama Casino. Bukan kasino yang memiliki arti harafiah sebagai tempat berjudi ya. Tapi sebuah kota kecil, kawasan pinggiran (suburb) di pedalaman New South Wales, Australia dan dikenal sebagai penghasil daging sapi terbesar di negara tersebut. Kota yang kemudian diberi julukan sebagai The Beef Capital of Australia. Bahkan sebagai tonggak pembuktian atas gelar ini, Casino secara rutin, sekali dalam setahun, mengadakan event yang berjudul Casino Beef Week selama 11 hari. Acara yang tentunya bagaikan surga kuliner bagi para carnivor sejati.

Tapi bukan itu yang sesungguh ingin Mas Koko ceritakan di buku antologi ini.

Adalah Pak Ilman, candidate S3 di University of Brisbane, yang menginformasikan Koko bahwa Casino sesungguhnya menyimpan rekam jejak sejarah kelam atas ratusan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Tak ingin melewatkan kesempatan menjadi saksi dari keberadaan tempat ini, Koko pun berkendara dari Lismore (tempat tinggalnya) ke Casino setelah sebelumnya menghubungi salah seorang teman di sana yang bisa menghadirkan saksi hidup yang melihat dan mengalami langsung peristiwa tersebut.

Tiba di Casino, rombongan pun langsung dibawa ke sebuah komplek pemakaman yang sangat tertata rapi, dengan nisan berbatu indah dan cantik dilengkapi beberapa hiasan bunga imitasi berwarna-warni. Tak terlihat kesan angker layaknya sebuah komplek pemakaman. Dari foto yang diberikan kepada saya, terlihat pohon-pohon rindang dan tinggi menjulang mengelilingi komplek pemakaman yang terlihat begitu terawat plus terurus dengan baik.

Dari seorang saksi hidup yang mendampingi mereka inilah, semua cerita itu berawal. Pada 1942, saat invasi Jepang ke Indonesia, pasukan Belanda kabur ke Australia untuk menyelamatkan diri sembari membawa ratusan tentara Indonesia, pelaut, pejabat pemerintah, serta beberapa pelarian politik yang sempat dipenjara di Indonesia dan dianggap berbahaya. Mereka tiba di Casino pada Desember 1943 dan tinggal di sebuah kawasan (kamp). Laporan yang disampaikan ke pihak pemerintah Australia adalah bahwa semua orang Indonesia ini adalah batalyon tekhnis angkatan senjata Belanda. Jadi tak heran jika mereka akhirnya dilatih, bekerja dan dipersiapkan untuk memperkuat rencana tentara Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Mereka pun mendapatkan bayaran, diijinkan untuk meninggalkan kamp, pergi ke pusat kota Casino dan berinteraksi dengan para penduduk lokal.

Kamp ini kemudian dikenal sebagai Victory Camp atau Javanese Camp atau Casino Camp atau Concentration Camp. Tapi kemudian julukan Black Hole of Casino lah yang disematkan dan terpatri di benak semua warga Casino dan negara Australia.

Baca juga: Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah). Kantung Peninggalan Sejarah Terbesar di Tanah Air

Keadaan kemudian berputar 180 derajat saat 2 tahun kemudian Indonesia mengumumkan/memproklamasikan kemerdekaannya. Berita luar biasa yang kemudian sampai ke Victory Camp pada September 1945. Sesuatu yang menggugah dan menumbuhkan rasa nasionalisme bagi orang Indonesia yang berada di kamp ini. Apalagi berita tersebut disertai dengan sikap tegas pemerintah Indonesia yang pada saat itu menentang kembalinya penjajahan Belanda. Seketika itu juga, semua orang Indonesia yang berada di Victory Camp, berjumlah sekitar 400 orang, mengajukan permintaan untuk dibebaskan dan dipulangkan ke tanah air.

Sayangnya reaksi Belanda atas keadaan dan permohonan ini menjadi triger perubahan besar yang terjadi di Victory Camp. Beberapa diantara orang Indonesia yang berkeras ingin pulang tersebut ditembak atau dibunuh. Kamp pun mendadak dijaga dengan ketat oleh pasukan Belanda layaknya sebuah komplek penahanan. Suasana mendadak mencekam. Tapi berkat desakan warga dan pers yang ada di Casino kepada pemerintah Australia, Victory Camp akhirnya dibubarkan pada Oktober 1946. Hukuman dan penindasan terhadap orang-orang Indonesia pun berakhir. Semua kemudian dipulangkan ke tanah air via transportasi laut pada 21 November 1946 dan kamp pun resmi ditutup pada 14 Desember 1946.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Pondokan kecil yang dipercaya dulunya adalah gudang amunisi

Berkesempatan mengelilingi area kamp yang dimaksud, Koko dan rombongan tidak menemukan jejak fisik bangunan dari Victory Camp. Pun tidak ada kehidupan manusia di dalamnya. Hanya berupa puing-puing yang kesemuanya sudah rata dengan tanah. Yang tersisa adalah sebuah pondokan kecil yang dipercaya dulunya adalah gudang amunisi.

Rombongan kemudian melangkah menuju Casino Folk Museum. Tempat dimana mereka mendengarkan rekaman siaran BBC berbahasa Indonesia. Terdengar sang broadcaster, dengan suara lantang dan artikulasi berat serta logat bicara khas orang Sulawesi, mengabarkan berita tentang proklamasi RI. Lalu mereka juga diperlihatkan sebuah kliping atau buku tipis tentang Victory Camp berikut dengan nama-nama orang Indonesia yang dikuburkan di tempat itu.

Hingga pada 24 Oktober 2015, Asosiasi Indonesia Australia (AIA), Komunitas Sejarah Casino dan Richmond Rivers Council mengadakan seminar untuk mengenang atau memperingati 70 tahun peristiwa di atas. Acara yang dihadiri oleh Bapak dan Ibu Konsulat Jendral Indonesia sebagai tamu kehormatan.

Lewat rangkaian tulisan Koko yang menggambarkan pengalaman hidupnya di Australia, dia juga melukiskan kesan yang begitu mendalam atas ketulusan warga di sana. Sikap mereka memang terkesan individualis dalam artian tidak ingin ikut campur dalam urusan orang lain. Akan tetapi sangat total dan tulus ketika membantu sesama tanpa memandang darimana mereka berasal. Satu rasa yang tentunya sangat berharga saat kita berada atau hidup negara orang lain. Been there before.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Baca juga: DANCING SNAIL. Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja. Kekayaan Literasi dan Ilustrasi Dalam Satu Wadah.
Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES
Daftar nama-nama orang-orang Indonesia yang dimakamkan di Victory Camp. Lengkap dengan alasan/penyebab kematiannya

Beberapa Artikel Lain Yang ada di The Travellers’ Notes dan Resensi Pribadi

Selain 4 artikel yang saya ceritakan kembali di atas, berikut adalah beberapa tulisan yang turut hadir dan menjadi bagian penting dari buku antologi The Travellers’ Notes:

  1. Travel Writing ke Negeri Sakura – Deka Amalia;
  2. Kawah Ijen: Mission Impossible, Blue Fire – Nanik Nadira;
  3. Jelajah Tokyo Tanpa Tur – Decy Indrawati;
  4. Cerita Kuala Lumpur – Hasna Nabilah;
  5. Nusa Penida: Setitik Surga yang (Belum) Dirindukan – Enya Anggia;
  6. Umroh Bersama Orangtua ke Kota Suci – Siti Jumsiah;
  7. Pesona Jepang Selatan di Kagoshima – Emmy W. Sakya;
  8. Istanbul, Kota Persinggahan Penuh Makna – Rohmah Rahmawati;
  9. We Should Be So Lucky – Lulu Arsyad;
  10. My First Tour Go To Vietnam – Retno Palupi;
  11. Persinggahan di Wellington – Nilam Septiani;
  12. Wisata Kaki Gunung – Wika Wijaya;
  13. Menengok Kota Tua – Utari Giri;
  14. Serba Terbatas, Ternyata Mereka Lebih “Kaya” Dariku – Irene Gianov;
  15. Badindin In My Mind – Novica Armayanti;
  16. Jepang Kawah Adaptasi Keluarga – Jullie Hakim;
  17. Salam Cinta Dari Quantum of The Sea – Widyana Abdullah;
  18. Perjalanan Dinas ke Kota Tuba – Nur Indah Yunita;
  19. City Tour di Masa New Normal: Menyusuri Eksotika Jalan Kamojang – Bunda Nada;
  20. Semangat Dari Copenhagen – Shofa Ubbada;
  21. Beach Paradise – Vita Mei;
  22. Adelaide Kota Sepi Yang Menyenangkan – Ajeng Kusumasari;
  23. Sydney – Brisbane Kami Datang Kembali – Nia Refana;
  24. Weekend Ke Jogya ala AADC – Sis Meilan;
  25. Menyambangi Kuil Dewa Matahari. Berwisata Minim Sampah – Wrenges
  26. Tour De Village – Sophia Aga;
  27. Perjalanan di Waktu Yang Salah – Gema Runi;
  28. Negeri di Atas Awan – Nur Syamsiah;
  29. One Day in Selchuk – Anit Djaelaini;
  30. Romantisme Ala Istanbul – Ika Setya Mahanani

Semua tulisan di atas hadir dengan kekayaan cerita yang membimbing pikiran kita akan sebuah ilustrasi tempat. Terutama (sangat) menggoda keinginan untuk sampai di tempat-tempat wisata yang diceritakan oleh masing-masing penulis dan belum pernah kita alami secara pribadi. Sebagian besar menghadirkan rincian ini dan itu, apa dan bagaimana untuk sampai ke tempat tersebut, apa saja yang ada di sana, hingga gambaran lengkap tentang destinasi yang mereka nikmati kala itu.

Jalinan kalimat tersebut di atas, tentunya akan terasa lebih sempurna saat kita melibatkan beberapa hal seperti menguraikan pengalaman yang mendalam, mampu merekam hal/data sebanyak mungkin dan menghidupkan pengalaman perjalanan tersebut melalui ungkapan rasa. Karena sejatinya cerita perjalanan adalah kumpulan peristiwa yang bergerak mengikuti momentum dan membawa pembaca pada suatu kesimpulan dan point of view yang ingin dibangun oleh penulisnya.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES

Selamat untuk komunitas Writerpreneur Club yang sudah berulangkali melahirkan buku antologi dengan ragam tema, topik dan materi bahasan yang indah bagai pelangi. Semoga kehadiran The Travellers’ Notes bisa menjadi salah satu dari warna pelangi tersebut dan mencatatkan diri sebagai satu titik dari ribuan dot ranah kekayaan literasi Indonesia.

Special thanks and appreciation saya ucapkan kepada Sulis, Siendy, Rini dan Koko atas waktunya menanggapi kecerewetan saya bertanya ini dan itu. Termasuk diantaranya kebaikan hati mengijinkan saya untuk meminjam serta menampilkan beberapa foto yang turut mendukung lengkapnya ulasan mini ala saya atas kisah-kisah indah mereka.

Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS' NOTES

#WriterpreneurClub #KomunitasMenulis #BukuAntologi #TheTravellersNotes #Antologi #BukuPerjalanan #KisahPerjalanan #AntologiPerjalanan #KomunitasMenulisIndonesia

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in’s Walk Cumentary (Bagian 3)

32

Hello everyone!! How’s life? So glad to have you in my blog again.

Saya mau ngelanjutin kisah perjalanan Jung Hae-in (Hae-in) bersama 2 orang temannya Im Hyun-soo (Hyun-soo) dan Eun Jong-geon (Jong-geon) selama mereka menelusuri New York City (NYC).

Bagian ke-3 ini berisi episode 5-6 dari rangkaian reality show Jung Hae-in’s Walk Cumentary yang berjumlah total 8 episode. Bagian ke-1/pertama (episode 1 dan 2) dapat dibaca di sini dan bagian ke-2 (episode 3 dan 4) dapat dibaca di tautan ini. Supaya teman-teman dapat mengikuti tulisan bagian ke-3 ini, sila berselancar dan baca dulu 2 bagian cerita yang sudah saya tuliskan sebelumnya ya. Jadi bisa mengikuti banyak keseruan yang dialami oleh ketiga aktor KDrama ini sebelum terngiler dengan beberapa keseruan di Bagian 3 nya.

Episode 5. How To Spend Weekend in New York

Hyun-soo Breakfast, Williamsburg, Smorgasburg, Bushwick, and Brooklyn Brewery

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall Mural di Williamsburg Brooklyn | Photo source : Brooklyneagle.com

Sabtu pagi di episode ke-5 ini dibuka dengan Hyun-soo memasak sarapan untuk kedua temannya. Menunya adalah sup rumput laut, daging sapi goreng dengan bumbu/saus khusus khas neneknya Hyun-soo yang sengaja dibawa dari rumah. Nama sausnya adalah saus ikan asin tombak pasir (namanya heboh bener yak hahaha). Saus turun temurun yang sudah ada di keluarga Hyun-soo dan (katanya) endes luar biasa. Bisa buat berbagai jenis masakan pulak. Wooaaa.

Semua menu yang dimasak Hyun-soo, layaknya orang Asia, dilengkapi dengan nasi putih. Karena tidak ada magic jar, Hyun-soo terpaksa memasak nasinya di panci. Dia sempat grogi dan gak percaya diri untuk masak nasinya karena memang gak pernah masak nasi di panci. Tapi mau gimana lagi wong gak ada peralatan lainnya. Oia, semua bahan-bahan ini sudah mereka beli semalam sebelumnya di supermarket khusus masakan atau bahan makanan Korea seputaran Manhattan, tempat mereka tinggal.

Baik Hae-in dan Jong-geon sangat menikmati apa yang dimasak oleh Hyun-soo. Hanya nasinya sepertinya kelembekan sampe Hae-in bilang bahwa nasinya mirip Risoto hahahaha. Tapi kalo ngeliat lahapnya mereka makan sih sepertinya enak banget. Sepertinyaaaaa. Soalnya semua habis, tandas, tak bersisa. Apalagi liat Jong-geon yang semangat mengangkat mangkok dan menghabiskan sup rumput lautnya. Atau bisa jadi gak terlalu enak tapi tetap mereka habiskan karena menghargai usaha Hyun-soo. Entahlah. Yang pasti jika tebakan ke-2 benar adanya, berarti that was gentleman respectful attitude. Sikap menghargai atas apa yang sudah dilakukan oleh teman kita.

Sambil menunggu ke-2 temannya bersiap-siap dan tak ingin melewatkan persiapan jalan kaki ke beberapa tempat seputaran Brooklyn, Hae-in menyiapkan kopi di sebuah termos kecil. Minuman hangat melengkapi sarapan yang sudah ngenyangin banget kata Hae-in. Biar jadi tambah semangat untuk menelusuri beberapa tempat di weekend pertama mereka di NYC.

By the way, mau kemana aja nih hari ini Mas Hae-in? Dari agenda yang sudah disusun, seperti yang disampaikan Hae-in sambil berjalan kaki, mereka akan mengunjungi Williamsburg, Smorgasburg, Bushwick dan Brooklyn Brewery. 3 tempat yang disebutkan pertama adalah sudut-sudut kreatif warga Brooklyn yang disajikan dalam bentuk grafitti, wall mural, street art dan para penjual jalanan (street seller) yang sebelumnya tidak mereka duga.

Yok kita ikut kisah perjalanan mereka kali ini.

Williamsburg

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall mural di Williamsburg, Brooklyn, NYC | Photo source : Malkinphoto.blogspot

Mengintip sebuah ulasan yang tertulis di laman Tripadvisor, ternyata Williamsburg ini terbagi atas 2 yaitu area lama yang banyak dihuni oleh orang Yahudi plus beberapa etnis lainnya. Mereka yang terlihat sering berpakaian tradisional. Sementara satu lagi adalah area yang sudah modern lengkap dengan toko dan bermacam-macam restoran yang berada di area Bedford.

Sejak akhir 1990-an, Williamsburg telah mengalami gentrifikasi (proses perubahan suatu tempat yang tadinya miskin menjadi maju atau lebih maju karena banyak orang kaya yang pindah ke tempat tersebut. Penduduk baru ini membawa bisnis baru, memperbaiki rumah dan lingkungan dan biasanya pelan-pelan akan menggusur mereka yang sudah tinggal di sana terlebih dahulu). Perubahan atmosphere di tempat ini ditandai dengan hadirnya berbagai seni kotemporer, budaya hipster dan kehidupan malam yang semakin semarak mewarnai lingkungan. Banyak etnis yang tinggal di daerah ini. Diantaranya adalah Italia, Yahudi, Hispanik, Polandia, Puerto Rico dan Dominikan.

Jadi gak kaget saat kita menyaksikan ketiga Oppa ini sangat menikmati waktu-waktu mengamati setiap karya seni yang mereka liat di sepanjang jalan. Termasuk diantaranya para penjual jalanan dengan pernak pernik beraneka ragam. Kalo saya ada disitu, musti deh bolak balik berhenti untuk mengamati. Secara ya ngeliat produk perintilan yang sejatinya minim kegunaan itu rasanya nyengengin banget. Kalau akhirnya membeli, sepertinya sih karena laper mata aja. Tapi tetap aja menghibur hati. Ya kan? (iya in aja deh hahaha).

Acara keliling Williamsburg kemudian ditutup dengan belanja topi di sebuah toko yang mereka lewati menuju Smorgasburg. Banyak banget pilihannya. Berbagai model, bentuk dan warna. Tapi ke-3 lelaki Korea ini memilih topi dengan jenis yang sama hanya berbeda warna. Kompakan nih ye. Lucunya lagi mereka membeli ornamen-ornamen topi yang bisa diselipkan di sebuah pita yang melingkari lipatan topi. Ada yang berbentuk bulu, ada yang seperti pendant berbentuk tengkorak, bebungaan dan lain-lain. Keren ih.

Baca juga: 25 Situs Purbakala dan Reruntuhan Bangunan yang Mengukir Sejarah Peradaban Manusia di Dunia

Smorgasburg

Saya terus terang penasaran dengan akhiran BURG yang tersemat di ke-2 nama tempat ini. Tapi tidak menemukan satupun petunjuk atau jawaban mengenai itu. Mungkin karena mereka sebenarnya terletak sangat berdekatan dan sama-sama menghadirkan street art di hampir setiap sudut area. Atau bisa jadi karena penyeragaman nama untuk satu daerah tertentu. Sama dengan yang terjadi di lingkungan kita. Seringkali dalam satu kompleks misalnya, semua nama jalan menggunakan nama bunga, nama sungai atau nama-nama lain yang menjadi ciri khas daerah itu. Gitu kali ya (udah iya-in aja).

Lewat tautan www.smorgasburg.com, kita dapat mengulik informasi bahwa ternyata Smorgasburg ini jadi tempat diadakannya festival/bazar makanan terbuka (open-air food market festival) yang diadakan di akhir pekan dan diikuti oleh setidaknya 100 penjaja makanan yang ada di NYC. Acaranya sendiri menarik banyak pengunjung. Bahkan penyelenggaranya meng-claim ada sekitar 20.000-30.000 pengunjung di setiap event. Keren bener.

Bazar yang sudah diadakan sejak 2011 diantara Maret sampai Oktober dan diprakarsai oleh Jonathan Butler dan Eric Demby ini, setiap tahun berpindah-pindah lokasinya. Saat Hae-in datang pun tidak disebutkan lokasi persisnya. Tapi saat itu, dengan duduk di salah satu meja dan bangku kayu ukuran besar, mereka dapat melihat pemandangan borough Manhattan dari pinggir sungai Hudson.

Kalau melihat tenda yang sebagian besar terlihat biasa saja dengan layout yang mepet satu sama lain, bener membuktikan bazar ini padat banget peminatnya. Banyak foto-foto yang bisa kita dapat via google yang menunjukkan kepadatan pengunjung. Jenis makanan yang ditawarkan pun beragam dengan deretan antrian di hampir semua stand. Tak ingin membuang waktu karena ngantri yang mengular, apalagi saat itu sudah terlalu sore dan mereka sudah kelaparan, ke-3 Hyung ini pun memutuskan untuk berpencar dan membelinya berbagai jenis makanan yang unik, jarang dilihat atau belum pernah dinikmati. Setelah, tentu saja, menghabiskan 2 mangkok oyster (tiram) yang hampir tiap hari mereka makan.

Hae-in memutuskan untuk membeli jagung bakar yang adalah referensi dari salah seorang pengunjung. Hyun-soo membeli sate udang dan mie ala Sinchuan. Sementara Jong-geon membeli burger ayam pedas dari jenama Blue Chicken. Lucunya di stand Blue Chicken ini, pengunjung diajak untuk menandatangani selembar surat pernyataan pengabaian (Sign Waiver) yang kalimatnya adalah “You are (customer) idiot for the damage you will be causing your mind, body and spirit for attempting to eat the Blue Chicken’s Nashville Extra Hot”. Satu tantangan yang membuat Jong-geon akhirnya memutuskan untuk membeli burger ayam goreng dengan level terjahanam.

Karena tantangan itulah, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba Blue Chicken terlebih dahulu diantara semua yang sudah dibeli. Hasilnya? Hanya Hae-in, si penyuka makanan pedas, yang berhasil bertahan dan menghabiskan burgernya. Sementara Hyun-soo dan Jong-geon langsung menyerah setelah gigitan ke-2. Duh mendadak ikut kepedasan dan mules saya ngeliatnya. Apalagi crew video sempat merekam bagaimana proses ayamnya digoreng lalu dicelupkan ke baskom berisikan sambal cair berulang kali sebelum ditaruh di dalam roti bulat itu. Edun ah. Untunglah hanya burger itu yang cukup menyiksa. Yang lainnya sih sukses enaknya. Kalo saya sih menetes liur melihat sate udangnya. Ukurannya gede-gede dan tampak menggoda dengan bumbu yang bolak-balik dioleskan. Tapi lucunya, ketiganya sepakat bahwa sate udangnya itu mirip sate ayam. Setidaknya mereka bilang rasa udangnya seperti rasa ayam hahahaha. Kok bisa ya? Kocak banget deh.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Padatnya Smorgasburg Food Festival | Photo source : blog.jovempan.uol.com.br
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Nachos | Menetes liur liat fotonya aja ya | Photo source : Pinterest
Baca juga : Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah). Kantung Peninggalan Sejarah Terbesar di Indonesia

Bushwick

Baca juga : Sepenggal Peninggalan Sejarah Kejayaan Imigran Tionghoa di Tjong A Fie Mansion, Medan

Dari beberapa artikel saya baru ngeh kalau Bushwick di Brooklyn ini adalah salah satu sudut kota yang pertama kali didirikan oleh Belanda. Negara yang sempat menjajah Amerika pada abad ke-17. Hingga 2 abad kemudian Bushwick tumbuh menjadi lingkungan yang diisi oleh para imigran Jerman dan keturunannya. Lalu masuk juga imigran Italia di 1970-an dan etnis Hispanik pada akhir abad ke-20. Dan bertambah lagi dengan kedatangan etnis Puerto Rico dan sebagainya. Jadi gak salah ya kalau kita berasumsi bahwa salah satu bagian dari NYC ini adalah ranahnya para perantauan.

Dinamika budaya pun berkembang di komunitas Bushwick. Dari sedikit penjelasan Hae-in kepada teman-temannya, dia mengutarakan bahwa area ini dulunya rawan sekali dengan kejahatan. Tapi akhirnya mulai membaik dan kondusif. Street art nya pun semakin berkembang karena 2 area lain yang berada di dekat Bushwick yaitu Williamsburg dan Smorgasburg sudah sangat padat.

Jadi saat menelusuri jalan di Bushwick, ketiga lelaki Korea ini menemukan lebih banyak wall mural yang jauh lebih bervariasi. Asiknya lagi mereka bertemu dengan Jeff yang mengaku sebagai guide grafitti tour. Keseruan pun sangat terasa dengan hadirnya Jeff. Mereka bisa lebih memahami berbagai lukisan yang mereka nikmati.

Beberapa yang tema lukisan yang dijelaskan Jeff antaralain adalah Phetus (monster face), Espatarco (people expressions), Space Invader (yang idenya diambil dari sebuah game on line berjudul World Invasion Map). Kemudian ada Bombing (paper and painting yang tidak hanya di dinding tapi juga di atas jalan setapak), Names Grafitti (sign of the artist), dan Notorious Big Face/Biggie (seorang rapper terkenal yang wajahnya dilukis dengan teknik 3D). Masih banyak lagi yang mereka lihat sesiangan itu di Bushwick. Bahkan sebagian besar diantaranya adalah collective works dari beberapa orang mural artist yang hasil karyanya bernilai seni tinggi. Sangat mengagumkan. Dan yang pasti instagramable banget untuk diabadikan di media sosial.

Oia, saat asik berjalan mereka bertemu dengan sekelompok anak muda yang akan membuat video (musik) dengan latar belakang sebuah lukisan. Mereka tampil dengan dandanan hip-hop yang cerah ceria. Beberapa dari mereka mengenak kalung rante tebal berwarna keemasan. Hyun soo sempat meminjam, mencoba dan berfoto mengenakan kalung itu. Dan gak berhenti tertawa saking senengnya. Tau bahwa Hae-in dan teman-teman datang dari Korea, mereka langsung mengucap BTS. Wow!! kalimat “Who doesn’t know BTS. They are very popular here” pun membuat saya terhenyak. Tapi emang mungkin sih pada kenal karena nyatanya fans base BTS atau anggota ARMY yang terbesar jumlahnya adalah di Amerika. Salut ah.

Baca juga : BANGTAN SONYEONDAN di mata READER’S DIGEST. A Force For Good BTS A.R.M.Y
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Salah satu wall mural di Bushwick | Photo source : Playgrounddetroit.com
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall mural di Bushwick | Photo source : Clydefitchreport.com
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall mural di Bushwick | Photo source : Trover.com

Brooklyn Brewery

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Attractive beer drums | Photo source : Enterpreneur.com

Sebagai salah seorang penggemar dan pecinta bir, sayang rasanya jika Hae-in melewatkan tempat yang satu ini. BROOKLYN BREWERY. Satu jenama produsen bir yang bermarkas di Brooklyn dan sudah berdiri sejak 1984. Brooklyn sendiri adalah pusat produksi bir di Amerika dengan berbagai jenis bir yang sudah menjelajah di hampir setengah bagian dari Amerika serta lebih dari 30 negara di dunia. Eksperimen yang berani, kolaborasi dengan para pembuat bir, inovasi yang terus menerus, membuahkan banyak prestasi untuk Brooklyn Brewery, khususnya bagi Garrett Oliver sang peracik utama untuk tempat ini.

Hingga saat ini, Brooklyn Brewery sudah menciptakan dan menghasilkan setidaknya 20 jenis bir yang dapat dinikmati oleh para pelanggan. Di mother store mereka, tempat yang dikunjungi oleh Hae-in dan temannya, tersedia ruang incip, factory outlet (souvenir, outfit, dan lain-lain), ruang duduk yang sangat luas, dan kesempatan untuk mengikuti factory tour khusus untuk akhir pekan. Ketiganya pun tak melewatkan kesempatan untuk menikmati layanan tur yang ada. Setidaknya bisa melihat bergentong-gentong besar bir yang sedang diolah dan langsung disajikan di tempat.

Decak kagum pun terus bermunculan dari mulut ketiganya terutama saat menikmati berbagai macam jenis bir yang mereka pesan. Dan para Oppa ini sepakat bahwa Brooklyn Larger lah yang terbaik. Pendapat yang jitu karena memang Brooklyn Larger sangat populer, paling digemari oleh para peninum bir sejati dengan tingkat penjualan yang tinggi. The best in taste and sales point.

Sungguh penutup acara jalan-jalan yang begitu sempurna untuk mereka bertiga.

Yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Brooklyn Brewery, silahkan meluncur ke official website mereka, www.brooklynbrewery.com. Banyak banget informasi tentang sejarah berdirinya, ragam pencapaian dan berbagai kegiatan mereka dari awal hingga kini.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Bar dan area duduk yang terlihat sangat luas. Perhatikan deh tuas-tuas yang ada di dekat meja bar. Masing-masing tuas dilengkapi dengan nama jenis bir yang mereka sediakan. Efektif dan efisien banget untuk melayani tamu | Photo source : brooklynbrewery.com
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Gelas plastik yang digunakan untuk konsumen dan beberapa tuas keran bir dengan berbagai nama dan warna yang sangat menarik | Photo source : Yourbrooklynguide.com

Episode 6. Endless Saturday Night

Homemade Dinner, Driving on Rainy Day and Blood Manor

Setelah tadi pagi Hyun-soo memasak sarapan untuk mereka bertiga, kali ini Hae-in dan Jong-geon memutuskan untuk membuat makan malamnya. Heboh banget pokoknya. Dari semua bahan-bahan yang dibeli kemarin, mereka berdua membayar kangen akan makanan rumah. Ada Tteokbokki, iga dan daging sapi goreng, pangsit, sup Jjamppong dan Ramyeon. Buanyak pulak porsinya. Maklumlah standard quota 3 lelaki dewasa.

Oia, kalau Hyun-soo membawa saus buatan neneknya, Jong-geon sengaja membawa Kimchi buatan mertuanya. Ah serunya. Lengkap sudah menu Koreanya ya. Dan semakin menarik karena mereka melakukan kebiasan suap menyuap yang sepertinya, kalau saya tidak salah, sering banget dilakukan di Korea. Satu sentuhan yang menurut saya bisa melahirkan keakraban dan kedekatan. Di kita rasanya hampir gak pernah ya? Kecuali ya untuk bayi dan balita atau untuk orang sakit yang tidak bebas bergerak.

Makan malam di rumah ini menutup rangkaian kegiatan mereka di Sabtu itu.

Rampung melihat mereka yang begitu lahap, keesokannya, Minggu pagi, Hae-in memutuskan untuk mengajak kedua temannya berkendara di tengah hujan mengelilingi pusat kota dan menelusuri sungai Hudson, dari New Jersey hingga Manhattan. Menyewa MPV mewah (sepertinya merk Ford), Hae-in menjadi supir pribadi dan menikmati asiknya berkendara dengan udara yang nyaman di pagi hari.

Selama perjalanan inilah mereka bertiga, khususnya Hae-in dan Hyun-soo, mengulas tentang pengalaman mereka selama melaksanakan wajib militer. Hae-in yang ditempatkan di Angkatan Darat menceritakan bahwa dia ditugaskan untuk menjadi supir dari seorang Komandan Bintang 2 (sekelas Letnan Jendral). Sempat mengalami kecelakaan karena kelalaiannya. Sementara Hyun-soo bergabung dengan Marinir dan bertugas untuk menjaga mortir (yang bentuknya bulat-bulat dengan ukuran lebih besar sedikit dari bola bowling). Terus terang, sampe mereka selesai ngobrolin ini, saya belum kebayang gimana tugas menjaga mortir itu hahahaha.

Menyambung pembahasan di atas, frankly, saya pribadi setuju loh dengan program wajib militer ini. Malah berharap agar hal serupa bisa dilakukan di Indonesia. Diwajibkan untuk setiap pria selama 2 tahun sebelum mereka menginjak usia 30 tahun. Salah satu titik krusial yang bisa menumbuhkan rasa cinta akan tanah air dan tahu bagaimana rasanya bekerja dalam satu tim di bidang militer. Pengetahuan dan pengalaman yang mungkin suatu saat (sangat) dibutuhkan dalam bela negara.

Tidak ada kelanjutan tentang kemana mereka berkendara atau menghabiskan siang ke sore di hari itu. Tapi yang pasti Hae-in, selama di mobil, sempat mengungkapkan bahwa dia ingin menyempatkan diri untuk berbelanja. Dan sepertinya di-iya-kan oleh Hyun-soo dan Jong-geon.

Kegiatan berikutnya, tepatnya di malam hari, mereka mengunjungi Blood Manor The Haunted House. Rumah Hantu yang hanya dibuka di bulan Oktober, waktu-waktunya perayaan Halloween. Sebuah lorong meliuk di dalam dinding 359 Broadway, bangunan yang sekarang ditetapkan sebagai tempat atraksi hantu Halloween yang paling mengganggu dan paling mengerikan di NYC. Kalau ingin membaca cerita lengkapnya, mulai dari sejarah berdiri dan those incredible stories behind it developed, bisa teman-teman baca di kanal resmi mereka, www.bloodmanor.com. Info lengkap tentang harga tiket, waktu buka, events yang sedang akan akan mereka adakan, beberapa petunjuk resmi pun dapat ditemukan di website yang halaman depannya saja sudah banjir warna darah hahahaha.

Yang pasti The Hyungs ganteng-ganteng itu banjir kaget dan dikagetin zombie dalam berbagai bentuk dan jenis kelamin hahahaha. Nyaris tak ada jeda. Oia, sebelum mulai petualangan yang seru ini, ada satu aturan yang wajib dipatuhi selama di dalam arena adalah untuk tidak menyentuh semua hantu dan setiap aktor hantu pun tidak diperkenankan untuk bersentuhan dengan para tamu. Kalau disimak sih sebenarnya bukan rasa takut yang timbul tapi lebih pada kaget karena semua aktor/hantu itu sembunyi lebih dulu atau mereka acting jadi patung terus tetiba bergerak. Kalau ada yang latah nabok bahaya banget loh itu. Lucunya Hae-in, karena keliatan makin pucat, di pintu keluar sempat dikagetin lagi oleh salah seorang penjaga. Saya mendadak ketawa ngakak. Apalagi liat ekspresinya yang kaget luar biasa dan langsung lemes terduduk.

Saya rasa, dari pengalaman di atas, mungkin itulah kali pertama dan terakhir bagi Hae-in untuk mengunjungi Blood Manor (nulisnya sambil ketawa).

Wes aaahh. Sampai ketemu di episode 7 dan 8 yang akan menjadi bagian ke-4 (bagian terakhir dari rangkaian Walk Cumentary ini. See you!!

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)

#JungHaeInWalkCumentary #WalkCumentary #JungHaeIn #ImHyunSoo #EunJongGeon #WalkDocumentary #TravelVlog

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

28
“Selain kecantikan fisik, kecantikan psikologis dan kesehatan mental perlu untuk dirawat dan diperhatikan oleh wanita. Seseorang dengan kesehatan mental yang baik akan mempunyai kesadaran untuk memutuskan jalan hidupnya. Berani gagal dan berhasil serta belajar dari kesalahan, kemudian berani bertanggungjawab terhadap kehidupannya” | Intan Maria Halim, S.Psi, CH (Ruang Pulih)

Saya mendadak termenung membaca rangkaian kalimat pembuka yang disampaikan oleh Intan Maria Halim, S.Psi., CH, Founder Ruang Pulih, dalam lembar Pengantar untuk buku antologi PULIH.

Damn, it’s so true!! (pardon my language) Klise? Nope. Nyatanya rangkaian kalimat itu memang benar kok. Fisik itu cuma tampak luar. Bisa dipoles dengan apapun. Bahkan hanya dengan sebuah senyuman. Tapi yang terpenting diantara kesemuanya adalah kecantikan psikologis dan kesehatan mental. Your inner. Your psychic.

Sama halnya saat kita membicarakan soal celak, pupur, bedak, gincu dan yang lainnya. Untuk orang-orang yang mementingkan inner health, pasti akan memilih caring (baca: skin care) lebih dulu ketimbang make-up. Merawat itu jauh lebih penting ketimbang dempulan. Karena kulit dan atau tubuh yang terawat akan lebih mudah dipoles menuju hasil yang maksimal. Well oke, sekarang banyak celak yang easily cover everything, bahkan hingga bopeng sekalipun. Tapi berapa lama kita akan bertahan dengan beratnya dempulan itu? Sekuat apa?

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
Baca juga : DANCING SNAIL. Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja. Kekayaan Literasi dan Ilustrasi Dalam Satu Wadah.

Sekilas Tentang Buku Antologi PULIH

Saya memutuskan untuk memiliki dan membaca buku PULIH setelah menelusuri ulasannya di salah satu artikel seorang teman blogger. Hati saya langsung terpaut. Ada sesuatu yang istimewa di sini meskipun baru berupa feeling aja pada awalnya. Something yang menyentil jiwa tapi sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata dan diwakilkan oleh kalimat apapun. Apalagi lewat beberapa sumber informasi yang sempat saya telusuri, buku antologi dari komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) ini bukan project yang terbit dan terang tanpa sebuah konsep dan serangkaian persiapan yang well-managed.

Dari kelahiran idenya, IIDN akhirnya membentuk mutual partnership dengan Ruang Pulih yang digawangi oleh Intan Maria Halim, S.Psi., CH (counselor and founder Ruang Pulih). Lalu hadirlah dr. Maria Rini Indriarti, Sp.Kj, M.Kes, untuk melengkapi pembahasan dari sudut kejiwaan agar apa yang disajikan kepada publik menyentuh sisi ilmiahnya. Sebuah proses yang tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya yakin, begitu rencana itu terbangun, kemudian mengumpulkan 25 orang penulis dalam satu visi dan misi, rangkaian pengalaman istimewa pun perlahan muncul satu persatu. Karena kita semua pasti paham, menulis sesuatu yang terkubur dalam jiwa dan (pernah) mempengaruhi hidup kita, pastilah bukan pekerjaan mudah.

Well, tidak mudah tapi bukan berarti tak mungkin kan ya? Lewat kematangan dan kedewasaan berpikir, kemampuan mengolah diksi, dan kenyang pengalaman di dunia literasi, ke-25 sahabat-sahabat blogger ini, akhirnya mampu melewati proses pulihnya masing-masing, satu demi satu.

Seperti yang disampaikan oleh Widyanti Yuliandri, Ketum IIDN, kelahiran buku antologi ini ternyata tidaklah secetek yang dibayangkan. Langkah free writing, curcol, atau menulis bebas tentang apa yang dirasakan, pada tahap awal toh akhirnya perlu didukung oleh rangkaian bimbingan dari para professional di bidang kejiwaan. Penyembuhan luka pun melewati prosesnya. Mulai dari art teraphy, ikhlas menuliskan luka yang lama tersimpan di dalam hati, hingga menjadi satu tulisan yang menginspirasi.

Luar biasa.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
Baca juga: TRAVELLERS ON FIRE. Buku Antologi Sarat Cerita Perjalanan Dari 35 Orang Penulis
PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

Pulih Yang Saya Pahami

Ada, mungkin banyak, buku psikologi atau kegiatan pembahasan masalah psikologis yang sudah saya baca dan perhatikan bahkan ikuti. Tak ada satupun yang tidak menyentuh hati. Satu dunia dan keilmuan yang dulu sebenarnya jadi cita-cita saya. Kenapa? Karena saya merasa, menekuni dunia psikologi akan melatih saya untuk lebih banyak mendengarkan daripada bersuara. Satu hal yang pastinya membentuk kita menjadi manusia yang tangguh dan kuat mental. Jadi ketika membatalkan keputusan untuk menjadi seorang psikolog dan psikiater itu terjadi, saya menyesal hingga belasan tahun kemudian.

Di masa itu, dunia psikologi yang saya kenal dan terlintas di dalam benak adalah memperkaya kegiatan “menampung” ketimbang “menumpahkan”. Mengisi tapi tidak banyak membuang. Belajar lebih bijak lagi menjadi telinga dan bahu untuk mereka yang menitipkan kisah sedih dan duka melalui diri kita. Hidup yang sarat dengan misi mulia dan kemuliaan itu sendiri.

Tak jadi duduk sebagai mahasiswa psikologi, nasib ternyata tetap membawa saya sebagai teman cerita bagi siapa saja. Teman sekolah, rekan kantor, temannya teman, bahkan dengan orang yang belum lama kenal sekalipun. Awalnya tidak terbiasa tapi akhirnya justru lewat cerita dan atau curahan hati itulah, saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang banyak hal. Termasuk diantaranya memegang kepercayaan dari mereka yang menitipkan kisah hidupnya.

Jujur. Tidak gampang menjadi “tong sampah” nya orang lain. Sebagai pusat penampungan dan penitipan cerita, seringkali saya begitu terlibat secara emosional terhadap masalah yang disampaikan. Kadang ada yang cuma sepele tapi gak sedikit juga yang sulit dan pelik tak terkira. Saya, sebagai manusia biasa, terpancing untuk turut memikirkan penderitaan orang yang bercerita hingga merasa bertanggungjawab untuk memberikan pemecahan masalah. Padahal mungkin hanya hadir sebagai pendengar saja bagi mereka sudah cukup. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia dan pengalaman, semua jadi begitu ringan dan enjoyable.

Jadi ketika membaca dan menikmati lembar demi lembar kisah yang tertulis di buku PULIH ini, saya merasakan dejavu atas beberapa kisah permasalahan yang dulu sempat saya dengar, terlibat secara emosional, hingga hadir untuk membantu mencarikan solusi yang terbaik. Masalah bisa jadi sama tapi pemecahannya bisa jadi berbeda. Tapi setidaknya semua bisa menghadirkan solusi yang melegakan hati.

Baca juga: TO ADO RE. Antologi Kaya Rasa, Sarat Cinta, dan Penuh Makna Untuk Tidore
PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

Beberapa Tema Tulisan yang Bermakna

Dari 25 tulisan yang hadir untuk buku antologi PULIH, ada 4 tema cerita yang bermakna. Kisah yang pernah dan bahkan banyak banget menjadi bagian dari isi tong sampah saya dalam beberapa tahun yang lalu. Berbagai cerita similar yang ingin saya angkat dan urai kembali. Tentu saja akan ditambahi dengan review dari sudut pandang pribadi.

Rumah Tangga, Finansial dan Kehidupan Emosional

Saat ketidakstabilan finansial berpengaruh pada kehidupan emosional. Ada hubungannya? Ada banget. Bahkan sangat kuat terikat satu sama lain.

Lalu mana yang bener? Membangun rumah tangga saat sama-sama nothing (baca: crowling from zero) atau baru menikah setelah kita settle? Come on. Dunia minta kita mengurangi drama dan air mata. Ikutkanlah logika. Except you’re born rich atau (akan) mewariskan kekayaan yang tak habis hingga 7 turunan. If not, taruhlah pertimbangan finansial secara obyektif di depan. Baru setelah itu hadirkan rasa dan cinta setelahnya.

Poin soal finansial adalah salah satu hal yang wajib diurus, dipertimbangkan, dan diputuskan di bagian depan seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Diskusikan terbuka dengan pasangan. Sadari kemampuan diri dan berhitunglah dengan cermat sebelum memulai dan menghabiskan hidup bersama di sebuah bahtera pernikahan. Bahkan ada seuntai kalimat yang menohok dan sering kita dengar, “Emang berumahtangga cuma makan cinta doang”. Ups. Sombong amat ya? Eits jangan salah. Pepatah itu, menurut saya, banyak loh benernya. Dan itu sangat realistis. Setidaknya, once we decide to tie the knot, dua orang dewasa dipastikan mandiri secara emosional, cara berpikir dan tentu saja siap secara finansial.

Kenyataan yang tidak boleh terlewatkan ketika memulai langkah-langkah baru dalam hidup. Apalagi kemudian diikuti oleh berbagai kebijakan keuangan yang tidak seimbang dengan pemasukan yang ada. Kacau dan hancurlah semua. Derita keuangan yang menimpa dari transaksi kartu kredit dan keberanian mengambil asuransi tanpa mempertimbangkan kemampuan, akhirnya menjebak diri dalam keruwetan berkepanjangan. Semua akhirnya menjadi beban pikiran dan menguras emosi.

Keinginan untuk bangkit dari keterpurukan dan hidup sehat dalam hal ekonomi lah yang akhirnya mendorong salah seorang penulis dalam buku ini untuk melunasi rentetan hutang kartu kredit, menutup asuransi, dan lebih cermat lagi mengatur masalah keuangan. Semua tindakan dewasa yang tentu saja diiringi oleh keinginan kuat untuk mengurai benang kusut yang sudah terjadi. Menentramkan hati dengan mengikuti art therapy dan menenangkan jiwa, mempasrahkan diri kepada Sang Pencipta sembari membaca lembar demi lembar Qur’an, akhirnya menjadi cara untuk pulih. Semua akhirnya bisa berlalu dan memberikan kesempatan kedua bagi hidupnya.

Kejadian sama juga pernah menimpa salah seorang teman saya. Alih-alih gegayaan memiliki kartu kredit, gesek sana-sini, belanja ini itu tanpa batas hingga akhirnya kebablasan. Yang lebih parah lagi hanya mampu melunasi pembayaran minimum setiap bulannya. Akhirnya terjerat dengan bunga yang terus bertambah setiap waktu dan harus berhadapan dengan debt collector. Hal ini terjadi hingga bertahun-tahun sampai suatu saat ada keinginan untuk bunuh diri karena sempat mendapatkan teror dari para penagih hutang. Hidupnya diselimuti masalah, menyerang ke psikis dan mengacaukan kehidupan kerja plus tentu saja menjadikannya tertekan lahir dan bathin. Jadi jangan main-main dengan urusan finansial. Bertindaklah bijak pada hal satu ini jika tidak ingin terjerat dengan berbagai permasalahan di dalamnya.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
Baca juga : BONTANG Dalam Potret dan Kata. Khazanah Literasi Sejarah Sebuah Kota di Kalimantan Timur

Sesuatu Yang Terjadi Kepada Kita Adalah Skenario Nya

La Yukallfillahu Nafsan Illa Wusahaa (Al-Baqarah Ayat 286). Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Jika didalami makna yang tersirat di dalam ayat di atas, dengan sebuah keimanan yang kuat, kita tentunya atau seharusnya bisa berdamai dengan hati kala tertimpa musibah. Satu hal yang wajib kita ingat saat sebuah atau mungkin rentetan ujian mampir ke dalam hidup kita. Bahwa apapun yang terjadi atas kita adalah atas seijin Yang Maha Kuasa dan semua yang terjadi tentunya sesuai dengan kemampuan kita.

Perceraian orang tua dan kehilangan mereka untuk selamanya adalah dua hal yang begitu menggetarkan jiwa. Ketika dihadapkan pada kondisi dimana orang tua berpisah, rasa terpukul tentunya akan menghinggapi kejiwaan anak. Untuk alasan apapun perpisahan itu harus terjadi. Apalagi untuk anak yang sudah baliqh dan mengerti akan apa yang sedang terjadi. Tidak sedikit yang ikut terguncang jiwanya. Ada yang langsung bereaksi dalam tindakan nyata (yang biasanya cenderung destruktif). Tapi ada juga yang memendam di dalam hati hingga akhirnya menganggu kehidupan psikis.

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi hal sedemikian? Menerima dan ikhlas. Gampang ya untuk diucapkan tapi ternyata tidak segampang dalam kenyataannya. Tapi bukan gak mungkin untuk dilakukan. Kecewa? Tentu. Sedih? Pasti. Itu manusiawi. Bagaimana caranya kembali? Nikmati tangismu tapi jangan terjebak di dalamnya. Move on dan percaya bahwa everything will be alright. Because we are the one whose responsible to ourselves. Karena toh, kembali lagi ke ayat suci di atas. Allah tidak pernah membiarkan kita mengalami kesusahan yang berada di luar kesanggupan kita.

Saat membuka lembaran yang berjudul Everything Happens For A Reason, yang menjadi bagian dari buku PULIH, saya mendadak teringat dengan seorang teman yang beruntun mengalami kesedihan dan kepedihan. Terlahir sebagai anak tunggal dan introvert, dia harus mengalami kisah cinta kedua orang tuanya yang rumit bagai benang kusut. Perceraian orang tua pun tak terhindarkan. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa dia harus menerima kenyataan harus hidup mandiri, tak bisa bersama Ayah ataupun Ibunya.

Jadi sejak SMA dia dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa hubungan darah tidak menjadi jaminan bahwa dia akan mendapatkan haknya sebagai anak. Setidaknya hak untuk dicintai. Waktu demi waktu dia lalui dalam kesendirian. Tak boleh mengeluh. Tak bisa protes. Yang mampu dia lakukan saat itu adalah bercerita pada saya. Dan karena sifatnya yang cenderung tertutup, terkadang susah untuk menggali apa yang dia rasakan. Tapi by the time, ketertutupan itu menemukan pancinya. Hampir tiap hari saya mendengarkan, mendengarkan dan mendengarkan. Karena hanya itu yang sesungguhnya dia butuhkan.

Keadaanlah yang akhirnya membuat dia kuat dan semakin tangguh. Lulus SMA membuat kami berpisah. Saya harus kembali ke Jakarta. Sementara dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Satu doa yang selama ini terus dia panjatkan. Karena hubungannya dengan kedua orangtua tak kunjung membaik, menjauh sepertinya adalah salah satu solusi yang tepat. Saya setuju. Hingga kini dia tetap di luar negeri dan hidup berbahagia dengan istri dan kedua anaknya yang sudah dewasa.

Hikmah tentang kehidupan yang ternyata sangat berharga.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

Berani Melawan KDRT

Menikah itu seperti memilih kucing dalam karung. Pepatah yang benar adanya. Seberapa jauh sih kita benar-benar kenal dengan kepribadian pasangan kita? Bahkan saudara sekandung yang jelas-jelas terlahir dari rahim yang sama pun kita kadang tak memahami. Apalagi dengan orang lain yang notabene baru kita kenal ketika usia kita beranjak dewasa.

Tidak sedikit kita mendengar cerita kegagalan rumah tangga dari sebuah cinta yang salah. Bukan cintanya yang salah, tapi hubungan cintanya yang tak sehat. Bisa jadi pada awalnya terlihat sehat atau merasa sehat karena sudah dibutakan oleh cinta. Saking cintanya mata, hati dan perasaan sudah tak bernalar. Hingga nasihat orang sekitarpun seperti angin lalu.

Tapi saat kemudian keadaan merubahnya menjadi satu hubungan yang sarat toxic, pertolongan pun harus membantunya bangkit. Kejadian KDRT beruntun pun akhirnya melengkapi hubungan yang sudah tidak sehat itu. Menimbulkan efek yang juga sama tidak sehatnya bagi orang tua dan anak yang sedang dalam kandungan.

Lepaskan dan tinggalkan karena kita berhak mendapatkan kebahagiaan.

Dari satu artikel yang ditulis oleh seorang penulis senior di dalam buku PULIH, saya tercenung. Tetiba teringat akan seorang teman wanita saya yang juga mengalami hal yang sama. Siksaan dari suami bukan hanya berupa hantaman fisik tapi juga kata-kata dan kalimat yang tajam bagai sembilu. Sangat menyakiti hati. Bertubi-tubi sampai akhirnya hati, pikiran dan fisiknya sudah tak mampu menahannya lagi. Alasan “demi anak-anak” pun akhirnya terkoyak sudah. Keputusan untuk berpisah yang menurut saya harusnya sudah diambil 10 tahun yang lalu akhirnya datang dengan sendirinya. Setelah teman-temannya, termasuk saya, sudah lelah memberikan masukan.

Semua orang berhak mendapatkan perlakuan layak. Semua orang tak boleh dihinakan oleh orang lain. Dengan alasan apapun dan oleh siapapun itu. Jadi saat teman ini bertekad mendaftarkan perceraiannya di Kantor Urusan Agama, saya lah yang dengan langkah tegap menemaninya. Meski harus mendadak cuti kantor sekalipun. Karena berada di sisi orang yang sangat membutuhkan kehadiran saya jauh lebih penting dari urusan berbagai pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
Baca juga : Revitalisasi PUTA DINO. Tenun Tidore yang Telah Punah

Bersepeda. Menyehatkan Badan, Meringankan Beban, dan Membawa Kebaikan.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

Banyak cara untuk menuntaskan masalah. Salah satunya adalah bersepeda untuk menenangkan pikiran. Bonusnya juga banyak. Badan jadi lebih sehat, pikiran dan mental pun bertambah kuat. Tindakan positif yang mampu melahirkan banyak hal bermanfaat lainnya.

Bangkit dari 2 pilihan yang sama sulitnya dan sama pentingnya. Mempertahankan karir yang sudah lama diperjuangkan sementara di satu pihak ada anak-anak yang harus tinggal terpisah serta suami yang sedang bekerja di negara lain. Dilema yang membebani pikiran, mengacaukan ketenangan bekerja, hingga harus mendapati kenyataan sebuah sakit yang berasal dari pikiran. Kesulitan yang jamak terjadi pada ibu-ibu dengan anak-anak yang masih menuntut perhatian sementara di tangan yang lain ada sebuah karir yang patut dipertahankan. Posisi penting yang didambakan dan sudah diperjuangkan bertahun-tahun.

Naluri seorang ibu lah yang akhirnya mengalahkan segalanya. Termasuk diantaranya memutuskan bersepeda, melakukan olah raga, dan berdamai dengan hati lewat celah-celah bermakna yang ada di dalamnya. Hasilnya? semua masalah jadi terasa ringan, badan dan pikiran sehat, pun mampu mengambil keputusan yang terbaik. Bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang yang berada di sekitar termasuk anak-anak.

Bonusnya lagi, selama melakukan kegiatan bersepeda ini, sang penulis diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang dan melewati tempat-tempat yang mengajarnya untuk bersyukur dan memaknai hidup. Mengatur waktu kegiatan fisik sembari memberikan nafas bagi kesehatan dan kualitas iman. Satu titik balik yang menyentuh nurani dan membangkitkan rasa syukur yang sempat terabaikan.

Tulisan yang istimewa dan sangat menginspirasi.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

Personal Review untuk Antologi PULIH

Antologi PULIH, menurut saya, adalah hadiah sarat makna bagi semua yang terlibat dalam kelahiran bukunya. Kenapa saya katakan hadiah? Karena dengan keberadaan buku ini, mereka telah melahirkan sebuah kado berupa legacy di dunia literasi yang akan terus dikenang sepanjang masa, dan sebuah buku yang sangat pantas untuk dimiliki oleh siapapun juga tanpa terkecuali.

Dari cerita lembar demi lembar, saya bisa merasakan bagaimana antologi ini berproses. Sesuatu yang pastinya meninggalkan arti yang begitu mendalam bagi semuanya. IIDN secara organisasi, para koordinator komunitas yang gak lelah untuk bekerja, Ruang Pulih yang meracik before dan after nya, dan tentu saja semua penulis yang telah berjuang mencari jalan untuk pulih.

Selain misi berbagai kebaikan untuk mereka yang disebutkan di atas, IIDN tentunya berharap bahwa buku antologi PULIH ini dapat dibaca dan menjadi satu inspirasi bagi publik. Terutama bagi mereka yang saat membaca masih berjuang untuk melepaskan diri dari kesehatan mental. Bisa jadi dengan memahami cerita, kesulitan yang sedang dihadapi akhirnya menemui jalan solusinya. Karena semua pasti mengerti bahwa solusi untuk setiap permasalahan itu bisa dari mana saja. Berkonsultasi dengan pakarnya, meningkatkan volume ibadah dan menangis dihadapan Nya, berbicara dengan orang tua, keluarga, dan sahabat, bahkan bisa jadi dari sumber tulisan yang sahih dan menenangkan hati.

Selamat untuk komunitas IIDN. Semoga kedepannya bisa melahirkan banyak karya tulis dengan tema membumi dan menumbuhkan kecintaan yang mendalam pada dunia pengolahan diksi.

Secara fisik buku ini enak banget dipegang dan dibolak-balik juga font yang nyaman untuk dibaca. Banyak kalimat-kalimat bijak (quotes) yang sarat ilham, mengiringi rangkaian cerita dan beberapa diantaranya saya hadirkan di sini. Yang butuh diperindah adalah covernya saja. Akan lebih cantik jika covernya dibuat lebih cerah dengan design yang dipegang oleh professional dalam bidang rancang visual.

PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

#Pulih #BukuAntologiPulih #BukuAntologi #IIDN #KomunitasMenulis

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.

23

Menemukan film dengan tema yang berbeda dari biasanya itu bikin penasaran. Karena dari film-film seperti ini biasanya lahir banyak pengetahuan baru meskipun alur ceritanya adalah sebuah fiksi atau gabungan dari fiksi dan non-fiksi. Begitupun untuk The Royal Tailor. Korean movie yang meluncur ke khalayak pada 2014 yang menceritakan pergolakan dunia fashion dan sekelumit kisah cinta yang terjadi pada lingkungan keluarga kerajaan di masa dinasti Joseon, Korea.

Dibuka dengan sebuah press conference yang dihadiri puluhan wartawan, seorang official tampak sedang mempresentasikan sebuah gaun haute couture milik seorang Ratu bernama Jeongseong 정성 atau Jung-sung , istri dari Raja Yeongjo 조영 Raja ke-21 dari dinasti Joseon. Sekilas tampil di layar kaca sebuah gaun dengan keindahan rancangan dan warna yang indah tak terkira. Gaun yang dipercaya menjadi titik awal munculnya design adidaya selama dinasti Joseon menguasai dan memimpin Korea.

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Busana haute couture untuk Ratu Jeongseong | Photo source : crazyjcgirl.com

Sekilas Tentang Aktor dan Aktris Serta Peran yang Dimainkan

The Royal Tailor menghadirkan 4 orang tokoh penting yaitu Park Shin-hye sebagai Ratu Jeongseong, Han Suk-kyu sebagai Jo Dol-seok (fashion designer dan tailor utama kerajaan), Go Soo sebagai Lee Gong-jin (fashion designer dan tailor muda yang berbakat), dan Yoo Yeon-seok yang memerankan tokoh Raja Yeongjo.

Park Shin-hye (Shin-hye), Queen Jeongseong/Jung-sung

Buat para penggemar KDrama dan KMovie, nama Shin-hye sudah tidak asing lagi. Banyak drakor dan film yang dia perankan dan rata-rata mendapatkan perhatian yang besar dari publik. Mengutip dari tautan brilio.net 10 film dan drama terbaik yang diperankan oleh Shin-hye adalah Memories of The Alhambra, Heart Blackened, My Anoying Brother, Doctors, Pinocchio, The Heirs, Miracle in Cell No. 7, Flower Boys Next Door, Heartstrings dan You’re Beautiful. Saya sendiri sudah menonton The Heirs, My Anoying Brother dan The Call. Semuanya jempolan. Satu yang paling saya suka dari acting nya Shin-hye adalah sorot matanya. Berbicara banget. Terutama saat dalam kesedihan atau tekanan.

Selain sukses sebagai aktris, Shin-hye juga ternyata bersinar dibidang tarik suara dengan menyanyikan beberapa OST (Original Sound Track) dari sederetan KDrama. Dia juga sering menjadi Ambassador dari beberapa kegiatan seni termasuk untuk Universitas Chung-Ang dimana dia pernah menuntut ilmu. Membuka laman tentang dirinya di Wikipedia, gadis yang satu ini (ternyata) sudah sarat berita dan prestasi yang runut bisa kita baca. Profile nya sebagai aktris sudah gak kaleng-kaleng lah pokoknya.

Di film The Royal Tailor, Shin-hye, aktris kelahiran 1990 ini, berperan sebagai Ratu Jeongseong/Jung-sung. Seorang Ratu yang cantik berusia 20an tahun, istri pertama seorang Raja, tapi hidup dalam kesedihan karena ketidakpedulian Raja (si suami) padanya. Bahkan dikisahkan tidak pernah disentuh sang Raja sejak resmi menjadi Ratu. Entah apa yang membuat Raja memperlakukannya seperti itu. Sampai di klimaks ceritapun saya tetap tidak begitu paham akan alasan yang disampaikan oleh Raja. Karena toh sebenarnya, sang Raja sudah menyukai Ratu saat dia entry sebagai calon Ratu untuk Kakaknya (Raja sebelumnya) tapi tidak lolos.

Baca juga : THE TRUTH BENEATH. Kuatnya Kasih Ibu yang Mampu Mengungkap Sebuah Misteri

Han Suk-kyu (Suk-kyu), Jo Dol-seok (Dol-seok)

Aktor senior berusia 56 tahun ini berperan sebagai Jo Dol-seok. Seorang fashion designer dan tailor yang jasanya sudah dipakai oleh pihak kerajaan selama 30 tahun (3 dekade). Saat Raja Yeongjo naik tahta, Dol-seok dipanggil ke istana untuk menjadi Kepala Sanguiwon (departemen/bagian/kelompok kerja khusus yang menangani busana Raja, Ratu dan keluarga kerajaan).

Dol-seok ditampilkan sebagai orang yang perfeksionis, kaku dan keras hati. Satu-satunya orang yang berhasil melunakkan hatinya adalah Gong-jin. Seorang pria yang berprofesi sama dengannya tapi jauh lebih muda. Dol-seok berubah menjadi seseorang yang berhati kelam setelah terperangkap oleh sifat iri dan ketakutan yang dibangunnya sendiri.

Suk-kyu, menurut saya, berhasil banget memerankan tokoh Dol-seok. Gak heranlah. Karena Suk-kyu sebelumnya banyak memenangkan Daeksang Arts Awards (penghargaan tinggi untuk dunia seni di Korea) dan beberapa festival seni lainnya. Deretan filmography nya pun bererot kayak semut panjang berbaris. Sekali scroll down satu halaman itu gak cukup untuk membacanya.

Baca juga : THE CLASSIC. Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye dan Sang-min
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Gong-jin mengajarkan teknik penenangan diri kepada Dol-seok | Salah satu scene yang saya paling suka | Photo source : hancinema.net

Go Soo, Lee Gong-jin (Gong-jin)

Lelaki kelahiran 1978 ini nyenengin banget deh ekspresi wajahnya. Kalau dalam bahasa Jawa itu sebutannya sumeh (gampang tersenyum) dengan garis muka yang warm dan friendly. Daftar film, drama, dan pencapaian awards nya juga bererot. Kalau ngeliat gayanya yang petantang petenteng di film ini, gak bakalan nyangka kalau dalam real life nya Go Soo sudah memiliki 3 anak dan sudah berusia 40an tahun.

Pemilihan Go Soo sebagai Gong-jin menurut saya pas banget. Bermodalkan wajah yang rupawan bonus gesture dan body language layaknya seorang lelaki flamboyan dan high quality jomblo, karakter Gong-jin berhasil diperankan dengan begitu baiknya. Penonton langsung dibuat gemes saat tokoh tampan ini pertama muncul di layar. Asik ngumpul, becandaan, kegatelan dengan banyak perempuan yang banyak mengidolakannya karena ketampanannya. Perempuan disekitarnya itu pun sangat bergantung pada Gong-jin karena lelaki inilah yang membuat mereka fashionable mengenakan busana dengan rancangan yang out-of-the-box dan tentu saja sexy buat dipakai.

Baca juga : THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju). Mengungkap Kisah Sejarah Ye Deok-hye. Putri Bungsu dari Kaisar Terakhir Joseon, Korea.
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Gong-jin | Sang fashion designer and tailor yang revolusioner dan flamboyan dengan gadis-gadis penghibur yang jadi pelanggan baju rancangannya | Photo source : fareastfilm.com
Baca juga : ENCOUNTER. Romansa Cinta Mengharu Biru

Yoo/Ahn Yeon-seok (Yeon-sok), King Yeongjo

Aktor kelahiran 1984 ini ternyata juga bererot loh prestasinya. Tak kalah jika dibandingkan dengan 3 pemeran utama yang sudah disebutkan di atas. Banyak penghargaan yang telah diraihnya dari dunia perfilman. Yeon-seok bahkan sempat menulis sebuah buku berjudul Yoo Yeon-seok’s Dream di 2014. Suatu pencapaian yang berbeda dari aktor-aktor Korea kebanyakan.

Saya pertama kali nonton aktingnya Yeon-seok adalah di KDrama Mr. Sunshine. Di drama ini Yeon-seok memerankan karakter seorang samurai tapi memiliki garis darah atau keturunan Korea. Dia tampil layaknya gangster yang menjadi mata-mata bagi pemerintahan Jepang yang saat itu begitu getol menguasai Korea. Wajahnya yang cenderung Japanese dengan tinggi yang menjulang dan ukuran badan yang proporsional, menjadikan Yeon-seok cocok ditampilkan sebagai jagoan yang memakai busana tradisional. Termasuk sebagai Raja Yeongjo yang dia bawakan untuk film The Royal Tailor ini.

Tak kalah dengan 3 pemain inti di atas, Yeon-seok berhasil menjiwai karakter yang dipercayakan kepadanya yaitu sebagai Raja Yeongjo. Raja ke-21 dari Dinasti Joseon yang memiliki kepribadian labil dengan suasana hati yang sering berubah-rubah, uncapable dalam memimpin negara, dan cenderung kejam. Sejak kecil sang Raja sebenarnya sudah banyak mengalami tekanan sebagai pewaris tahta ke-2 setelah kakak lelakinya. Kakak lelaki inilah yang sering melakukan beberapa hal yang merendahkan harga dirinya. Mungkin ini yang akhirnya membentuk dia menjadi seorang pribadi yang tak elok untuk dijadikan contoh.

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Baju berburu yang dirancang oleh Gong-jin untuk Raja Yeongjo | Photo source : pinterest.co.uk

Resensi The Royal Tailor

Rangkaian konflik dimulai saat Jubah Naga atau Gon-bok 곤복 milik Raja terkena api lilin saat sedang dirapihkan oleh beberapa orang petugas wanita di dalam istana Ratu. Jubah yang seharusnya dipakai keesokan harinya itu tampak mengalami kerusakan di sana-sini.

Ratu memanggil Dol-seok, si kepala Sanguiwon, untuk melakukan perbaikan tapi lelaki itu menyatakan tidak sanggup. Masalah ini akhirnya terpecahkan setelah salah seorang petugas keamanan kerajaan mereferensikan Gong-jin kepada Ratu. Karena waktu sudah sangat mendesak, Gong-jin pun diajak menghadap Ratu hingga menyatakan kesanggupannya untuk memperbaiki Gon-bok Raja itu dalam semalam saja.

MYEON-BOK 면복 adalah pakaian seremonial Raja yang dipakai untuk upacara pengorbanan kenegaraan yang diadakan di Kuil Jongmyo atau Altar Sajikdan atau untuk upacara resmi lainnya di Jeongjo (Pagi Bulan Pertama), Dongji (Titik Balik Matahari Musim Dingin), Johoe (Audiensi Istana) atau Napbi (Pernikahan) | Pranala : aindhae.com
MYEON-BOK 면복 dikenakan bersamaan dengan MYEOLLYUGWAN 명류 관 (mahkota Raja dengan manik-manik) dan jubah yang disebut GON-BOK 곤복, yang meliputi GONUI 고누이 (jubah dengan sulaman desain naga), JUNGDAN 중단 (jubah bagian dalam), PYESEUL 피슬 (ornamen sabuk), ikat pinggang, PAEOK 패옥 (ornamen giok), DAEDAE 대대 (sabuk lebar), SU (hiasan warna-warni), MAL (kaus kaki), SEOK (sepatu) dan GYU (pita jubah luar) | Pranala : aindhae.com
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Dol-seok mengenakan Myeon-bok dan perlengkapannya untuk Raja Yeongjo | Photo source : koreaifilmdrama.blog.hu

Awalnya Dol-seok meragukan kemampuan Gong-jin dan pengetahuannya tentang Myeon-bok. Tapi ternyata Gong-jin menguasai semua informasi tentang Myeon-bok. Bahkan berkat bakat dan keahliannya Gong-jin bisa melaksanakan tugasnya tepat waktu dengan tetap mengikuti pakem dan aturan adat baku untuk sebuah Jubah Naga. Hasil jahitannya pun dipuji oleh Raja Yeongjo. Raja sempat berucap bahwa Jubah Naga yang dikenakannya terasa berbeda dari yang biasa dikerjakan oleh Dol-seok. Begitu halus jahitannya dan pas di tubuh. Mendengar ini Dol-seok hanya menggangguk tanpa suara.

Ada satu kejadian yang juga sangat menarik adalah pada awalnya Gong-jin mengira bahwa Ratu pastilah orang yang sudah berumur dan tidak menarik. Jadi dia sempat pesimis dan underestimate tentang fisik Ratu saat diajak masuk ke dalam istana. Maklum Gong-jin kan biasa bergaul dengan cewek-cewek penuh polesan dan dengan tubuh aduhai. Alih-alih stuck dengan pemikiran itu, Gong-jin malah langsung jatuh terpesona saat matanya pertama kali melihat Ratu dari jarak dekat. Sejak itulah Gong-jin meneguhkan cintanya untuk Ratu Jeongseong. Dan bertambah cinta setelah tahu bahwa sang Ratu idamannya tak diperlakukan selayaknya oleh Raja Yeongjo. Apalagi ketika dia diinformasikan akan kehadiran seorang selir utama, anak kepala keamanan Raja, yang sering menghembuskan hasutan ke telinga Raja dan berlaku semena-semena dalam lingkungan kerajaan.

Berhasilnya Gong-jin memperbaiki Jubah Naga akhirnya membawa dia menjadi bagian dari Sanguiwon. Jadi anak buahnya Dol-seok. Ada satu scene yang menunjukkan ruang kerja Sanguiwon. Menarik banget deh untuk diamati. Di sebuah rumah khusus terdapat beberapa orang (mungkin puluhan) bekerja dengan semangatnya. Bagian tengah, dengan area yang lebih rendah, diisi oleh banyak orang dengan meja kayu dan keliatannya sedang menggambar atau menggunting pola. Sebagian besar pegawai di bagian ini adalah perempuan. Sementara di atasnya terdapat beberapa ruang bersekat untuk para penjahit. Kebanyakan penjahitnya adalah laki-laki. Mereka duduk khusuk dengan tumpukan benang dan kain yang siap dijahit. Nah salah satu ruang sekat tersebut ditempati oleh Gong-jin. Sementara di luar gedung/rumah ada sebuah halaman luas untuk memintal benang, pewarnaan dan pengeringan kain serta gentong-gentong besar yang berisikan air yang sudah diwarnai.

Duh keren banget deh. Baru kali ini loh saya nonton film Saeguk yang menghadirkan scene dengan latar belakang kisah mereka yang bertanggungjawab atas royal attire dari sebuah kekaisaran. Sesuatu yang berbedalah pokoknya.

Oiya, setelah menjadi anggota Sanguiwon, hubungan persahabatan antara Dol-seok dan Gong-jin pun semakin berkembang erat. Gong-jin sering mengajak Dol-seok yang berkepribadian kaku untuk lebih rileks menikmati hidup dengan salah satu caranya adalah menutup mata, mendangak dan mendengarkan semilir angin. Gong-jin pun diajarkan beberapa trik dan tip tentang menjahit pakaian resmi kerajaan dan memperhatikan bagaimana pintarnya Dol-seok dalam hal membuat hand embroidery. Gong-jin pun sempat memperhatikan jari jemari Dol-seok yang bentuknya rada aneh dengan ujung dan seputar kuku yang rusak akibat menjahit. Persahabatan yang terlihat begitu sempurna, saling mengisi dan saling mengagumi.

Baca juga : THE HYMN OF DEATH. Tragedi Cinta Seorang Soprano dan Sastrawan Korea
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Gong-jin yang dengan khusuk memperhatikan Dol-seok mengerjakan hand embroidery | Photo source : hancinema.net
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
SANGUIWON untuk Kekaisaran Joseon | Photo source : hancinema.net

Setelah bergabung dengan Sanguiwon, nama Gong-jin pun semakin tenar dan berkibar di masyarakat. Gong-jin membuat Hanbok untuk Ratu dengan rancangan yang garis potongannya sangat jauh berbeda dengan yang biasa dipakai. Keceh tak terbilang pokoknya. Kecantikan busana Ratu ini akhirnya menjadi trend fashion baik di lingkungan dalam kerajaan (baca: ibu-ibu pejabat istana) maupun sampai di masyarakat umum khususnya kaum wanita. Baju-baju buatan Gong-jin yang nyentrik pun laris bak kacang goreng. Rancangannya pun akhirnya menyentuh kaum lelaki. Banyak diantara kaum ini menikmati jahitan Gong-jin yang ternyata sesuai dengan bentuk tubuh dan tidak mengganggu gerakan di saat mereka berjalan maupun bekerja.

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Hanbok rancangan Gong-jin untuk Ratu Jeongseong | Speechless deh dengan kecantikan design, bahan, serta padupadan warnanya | Photo source : hancinema.net

Mendengar berita bahwa selir yang jahat itu sering menyombongkan diri di hadapan Ratu bahwa dia telah berkali-kali tidur dengan Raja, Gong-jin membalaskan sakit hati Ratu dengan caranya sendiri. Dengan sengaja Gong-jin membuatkan baju Hanbok dengan model yang mempertunjukkan bagian dada untuk para pelayan wanita istana. Tujuannya hanya satu yaitu merontokkan iman Raja. Akibatnya Raja pun tak kuat menanggung godaan dan meniduri banyak perempuan berbusana yahud tersebut sehingga strata mereka yang tadinya pelayan mendadak naik menjadi selir. Kenyataan ini membuat si selir utama geram bukan kepalang.

Kekesalan dan rasa persaingan selir utama mendadak terlonjak pongah saat mengetahui akan ada acara penting dalam menyambut tamu Raja. Si Selir, yang akan mendampingi Raja dalam acara itu, meminta Dol-seok membuatkan gaun terindah supaya bisa menarik kembali perhatian Raja dan tentu saja semua undangan yang hadir. Gong-jin yang mendengar bahwa Ratu Yeongseong tidak diharapkan kehadirannya, mendesak wanita yang dicintainya itu agar mau datang ke acara tersebut dan berjanji akan mempersembahkan sebuah adibusana bagi Ratu jika dia meng-iya-kan permintaannya. Ratu pun setuju meski dengan keraguan dan berat hati.

Kesepakatan ini melahirkan satu scene yang sarat arti banget. Potongan adegan yang meskipun tidak lebih dari 10 menit tapi penuh dengan kesan istimewa. Apa sih adegannya? Itu loh saat-saat mendebarkan ketika Gong-jin harus mengukur tubuh ratu dalam rangka membuat busana yang dijanjikan untuk pesta yang disebutkan di atas.

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Adegan saat Gong-jin mengukur tubuh Ratu Jeongseong | Photo source : viewofthearts.com

Awalnya Ratu meminta salah seorang gadis pelayan yang seukuran tubuhnya untuk melakukan pengukuran. Tapi Gong-jin menolak karena dia ingin mendapatkan ukuran presisi tubuh sang Ratu. Jadilah Ratu, yang tak pernah dekat dengan lelaki ini, tampak begitu gemetaran ketika Gong-jin pelan-pelan mendekatinya. Scene pun dibuat a bit slow motion dengan perpaduan sorot mata Ratu dan Gong-jin yang sesungguhnya sarat cinta terpendam. Meleleh hati ngeliatnya.

Gong-jin tampak menarik tali ukur, hingga hampir bersedekap dengan Ratu. Acting Shin-hye di bagian ini keren banget loh. Gerak tubuh tanpa suara, sorot mata, dan kerutan dahinya, bener-bener bisa menyampaikan pesan betapa groginya dia berdiri berdekatan dengan lelaki ganteng itu. Lelaki yang sesungguhnya juga (mulai) mengisi relung hatinya.

Berita tentang Gong-jin yang membuatkan Ratu sebuah adibusana inipun sampai ke telinga Dol-seok. Karena takut kalah pamor dan bersaing, apalagi Dol-seok hanya membuatkan baju untuk seorang selir, lelaki penjahit senior inipun didera ketakutan yang muncul dari dirinya sendiri. Dia diam-diam mengejar dan mencari tahu lembaran-lembaran rancangan Gong-jin dan riweh semriweh, tak percaya diri dengan kemampuannya sendiri.

Dan ketakutan itu pun terjadi.

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Ratu Jeonseong yang tampil dengan busana haute couture rancangan Gong-jin | Busana yang menghentak kekaguman Raja dan semua orang yang hadir di acara itu | Photo source : frockflicks.com
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Photo source : frockflicks.com

Tidak ada kata atau kalimat yang mampu mewakili keindahan busana yang dikenakan Ratu. Saat Ratu muncul dari sudut pintu itu dan baru terlihat dari kejauhan aja, mata ini langsung terbelalak. It’s so fabolous yet stunning. Cutting, ornamen (kristal dan high-quality pearls yang tersemat), handmade embroidery, hingga sebuah bros besar di bagian dada, terlihat sangat sempurna. Perpaduan apik antara warna emas dan putih gading untuk adibusana dengan sentuhan laksana gaun pengantin Monarch ini, membuktikan bahwa rona kehidupan dunia fashion di jaman lawas sudah eksis memesona.

Yok. Lanjut dan balik lagi ke cerita filmnya.

Telak dikalahkan oleh Gong-jin karena kejadian di atas, ketakutan Dol-seok pun semakin menjadi-jadi. Takut kalah pamor, kalah pengaruh, kalah pembuktian skill dan kapabilitas di dunia fashion. Dol-seok akhirnya gelap mata dan memunculkan rangkaian fitnah atas Gong-jin. Menyebarkan info bahwa Ratu telah merajut cinta dengan Gong-jin dan lelaki fashionable itu sudah membuat pakaian Raja dengan menyelipkan jarum beracun di bagian dalamnya.

Gong-jin keras membantah. Tegas dia menyebutkan bahwa setiap baju hasil pekerjaannya selalu ada cap/logo Daun Pakis sebagai ciri khas. Dan ternyata benar tidak ada di jubah yang dimaksud.

Tapi meskipun tak ada bukti secara fisik tentang niat Gong-jin untuk membunuh, sang Raja sudah kadung sangat emosional, memutuskan untuk memenggal kepala Gong-jin. Atmosphere ruangan tempat mengadili pun mendadak kelam. Ratu yang turut hadir demi membela Gong-jin tak pun mampu melunakkan hati Raja. Bahkan Raja semakin geram begitu melihat Ratu mengenak Binyeo emas di sanggul kepalanya. Binyeo yang sesungguhnya adalah kado Ratu untuk Gong-jin dengan pesan “Berikanlah Binyeo ini untuk orang yang mendapatkan kasih sayang mu”. Duh menyentuh hati banget.

Baca juga : BINYEO. Yang Rupawan dari Fashion Klasik Korea

Beberapa Hal yang Berkesan Dari The Royal Tailor

Setiap hasil karya sinema yang saya tonton dan tuliskan di dalam blog, biasanya adalah sebuah karya seni layar lebar yang selalu meninggalkan kesan khusus di hati. Bisa jadi dari alur ceritanya, tema-tema unik, para pemerannya (aktor dan aktris yang berkualitas dalam standard penilaian saya), penokohan dan hal-hal lain yang membuat film atau drama tersebut jadi satu hidangan sinema yang patut untuk dipuji. Untuk The Royal Tailor berikut adalah beberapa keistimewaan yang begitu berkesan di hati saya pribadi:

  1. Tema unik tentang fashion. Mungkin sudah banyak film-film lain yang mengangkat tema ini. Tapi baru kali ini saya menonton film Saeguk Korea yang menghadirkan dunia fashion dan tailoring dengan bumbu kisah percintaan tersembunyi dan persahabatan yang hancur karena ambisi;
  2. Produk fashion, terutama adibusana atau haute couture yang ditampilkan;
  3. Kehadiran 2 orang tokoh fashion designer and tailor yang memiliki dunianya masing-masing. Seorang senior dengan pengalaman dan pengetahuan klasik dan otentik. Sementara di pihak lain ada si junior tapi besar dan berkembang dengan karya-karya busana yang cantik tak terbilang;
  4. Kenyataan bahwa ambisi pribadi mampu mengalahkan rasa kesetiakawanan, pertemanan, bahkan baiknya hubungan kerja yang sudah terbangun. Kadang ada sebab musabab nya tapi kadang juga hanya terpicu oleh sebuah kecemburuan, ketakutan diri sendiri dan alasan lain yang mengacaukan logika dalam berpikir.

Score saya untuk film ini adalah 9/10.

Layak banget untuk ditonton karena saratnya pesan moral yang ingin disampaikan dan tentu saja kehadiran busana-busana istimewa yang melengkapi tema utama dari film ini.

The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.
Photo source : Pinterest.com
The Royal Tailor. Sekelumit Kisah Tentang Fashion dan Sepotong Cinta di Masa Dinasti Joseon, Korea.

#TheRoyalTailor #FilmKorea #ResensiFilm #KoreanMovie #ReviewFilmKorea