Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta

Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta
Saya di depan tempat pengolahan hidangan soto. Botol hitam di belakang saya itu biasa digunakan untuk menggebrak

Depot Soto Gebraak dan Kebersamaan

Digebrak oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta. Saya punya cerita panjang tentang kedai ini. Perkenalan pertama adalah di awal tahun 1990-an. Saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan properti yang kantornya berlokasi di Sudirman. Jadi jarak antara kantor ke depot ini sebenarnya tidak terlalu jauh. Dari kantor ada jalan belakang (jalan tikus) yang tembus ke area Setiabudi. Kira-kira butuh waktu hanya sepuluh menit aja. Tapi karena depot ini seringkali penuh pengunjung terutama di jam makan siang, saya dan teman-teman baru berani ngelencer ke sini saat bos sedang tidak di tempat. Jadi makannya gak buru-buru amat. Atau ada yang ulang tahun jadi bisa ijin nambah waktu istirahat sekitar 15 menitan.

Ada di suatu masa, di ulang tahun saya, bos langsung (Marketing Director), tak ajak makan di depot ini. Staf lain pada tertawa dan mengingatkan saya bahwa ajakan saya bisa menjadikan sang bos kapok diajak. Bahkan bisa jadi ajakan saya ditolak. Maklum lah selevel direktur masa mau nongkrong di tempat makan tanpa AC dengan suasana kek pasar gitu. Tapi yang terjadi malah kebalikan. Beliau antusias setelah mendengar cerita saya yang seru. Apalagi saat ngomongin tentang rasa sotonya dan antrian yang kadang bikin kita keringetan sebelum makan.

Habis ngomong itu dan beliau berkenan ikut, kok saya yang kemudian deg-degan. Bahkan saking antusiasnya, beliau sampe bertukar pakaian saat kita mau berangkat di Depot Soto Gebraak. Jasnya diganti dengan kaos, sepatu pantovel diganti dengan sandal (semua masih ber-merk dong). Plus ternyata membawa sebuah saputangan handuk kecil di kantong celananya. Kami, para staff nya, jadi ketawa terpingkal-pingkal. Terniat banget lah pokoknya. Yang gak bisa diganti adalah soal kendaraan. Beliau sampai mendatangkan tiga mobil mewah (dua BMW dan satu Merci), milik beliau, untuk mengantar jemput kami yang berjumlah sekitar sembilan orang. Semangat dan totalitas pokoknya.

Hasilnya? Sebagai seorang penggemar masakan berkuah, makannya lahap. Semangkok soto daging, semangkok soto campur, beberapa tusuk sate, perkedel, dan sepiring nasi. Meski harus sebentar menunggu sembari berdiri dan duduk di bangku kayu panjang, berdesak-desakan, ternyata beliau enjoy banget. Wajahnya yang putih memerah kepanasan, keringat yang bercucuran, tidak bisa mengalahkan semangat makan siang di Depot Soto Gebraak. Jadi meski balik ke kantor bagai orang yang baru selesai perang, bos saya ini kerap memuji soto gebrak ini berhari-hari kemudian.

“Nanti-nanti, biar gak keringetan, suruh aja si Yatno (supir beliau) beli ke sana. Ntar kita makan di kantor rame-rame,” ujar beliau setelah semua kembali ke kantor. Dan titah ini benar-benar kejadian. Bahkan jadi agenda rutin seminggu sekali. Kita ngumpul di ruang meeting dan makan bersama. Terkadang beberapa orang manager membawa menu tambahan dan kerupuk. Suasana ini membuat kami, Sales & Marketing Team, merasakan sebuah kehangatan dan keakraban. Tentu saja dengan perjanjian bahwa apa yang diobrolkan saat jam makan bukan tentang pekerjaan. Kita semua teguh memegang komitmen ini.

Beberapa tahun kemudian, setelah tidak lagi bekerja di perusahaan properti ini, saya kemudian ngantor di Kuningan (Rasuna Said). Lokasinya malah semakin mendekat dengan Depot Soto Gebraak. Plus nge-kos pulak di area ini. Akhirnya kunjungan ke kedai soto ini seperti jadi rutinitas bareng teman-teman kos. Pengalaman tentang kuliner di sini pun berlanjut karena lokasi tempat kerja dan tempat tinggal.

Tentang Sebuah Depot yang Melegenda

Menurut informasi atau tautan tentang Depot Soto Gebraak, kedai ini sudah ada sejak 1973. Jadi saat saya masih balita, Cak Anton – sang pemilik – sudah bekerja meracik dan berdagang soto. Dari beberapa orang yang lebih tua dari saya dan tinggal di seputaran Jakarta Selatan, dulu Cak Anton menjual soto dengan alat panggulan gitu. Berkeliling berjalan kaki sebelum akhirnya mengontrak sebuah tempat, rumah kecil, di sebelah SMA 3 Teladan Setiabudi. SMA yang populer karena murid-muridnya banyak yang berprofesi sebagai artis, anak-anak orang kaya, dan belakangan menjadi public figure. Sama seperti SMA 6 dan SMA 7 yang di Bulungan, daerah Blok M, Jakarta Selatan.

Saat pertama saya kenal dengan Depot Soto Gebraak ini ya di lokasi rumah kecil itu. Sekitar tahun 1990-an. Tempatnya hanya ruangan kecil setengah terbuka berbentuk kotak. Hanya ada tiga deret bangku dan meja panjang, sementara tempat mengolah sotonya merapat ke dinding belakang ruangan. Sesak dan gang senggol banget. Karena ruangannya padat, saat pengolah soto selesai meracik dan membanting/menghantam botol kecap, suara bantingannya langsung menggema memenuhi ruangan. Saya kebetulan bukan orang kagetan tapi sering melihat beberapa orang tamu yang sampai beristighfar karena kaget. Bahkan ada yang refleks mengucap kata-kata yang kurang sopan karena kaget gak ketulungan. Biasanya setelah kejadian ini, orang-orang yang ada di ruangan akan tertawa dan yang ditertawakan ya santai aja. Jadi selingan hiburan.

Botol yang digunakan untuk menggebrak, setiap saya lihat, warnanya selalu hitam atau setidaknya gelap. Belingnya tebal dengan ujung botol yang dipasang tutupan atau moncong plastik dengan lobang yang pas untuk cairan kecap. Botol ini beralaskan kayu yang tampak mulai retak dan melengkung. Mungkin karena sering diadu dengan pantat botol yang super tebal.

Serulah pokoknya. Setidaknya pengunjung jadi paham dari mana asal muasal kata GEBRAAK yang dihadirkan sebagai jenama dari kedai soto ini.

Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta
Soto daging pesanan saya

Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta
Sate usus kegemaran saya di Depot Soto Gebraak

Hidangan yang Ditawarkan dan Lingkungan Sekitar Depot

Selain soto ayam, Depot Soto Gebraak, juga menawarkan soto daging sapi, soto jeroan, dan soto campur. Harganya Rp25.000,00/porsi dengan kondisi nasi terpisah. Harga nasinya sendiri Rp5.000,00/porsi. Tapi jika nasi langsung dicampurkan dengan soto, maka harganya menjadi Rp27.000,00/porsi. Hampir semua menu tambahan seperti perkedel, sate usus, telor asin, kerupuk, semua di harga Rp5.000,00/satuan. Kecuali ati ampela di harga Rp8.000,00/bh dan paru goreng serta jantung goreng di harga Rp10.000,00/bh. Harga-harga ini belum termasuk PPn 10%.

Soto ini tidak bening tapi juga tidak pekat atau heavy di lidah karena kandungan santannya. Jadi kenyangnya gak bikin kita begah. Campuran atau isi soto nya sendiri standard aja. Seperti potongan kol, bihun, tomat, daun bawang, tauge. Saya selalu minta tambahan potongan tomat. Lalu lebihan bawang goreng untuk topping pembangkit rasa di atas nasinya. Potongan jeruk nipis dan sambal biasanya diletakkan di meja bersamaan dengan kecap dan segala macam menu tambahan. Jadi kita bebas meracik rasa jika apa yang sudah dihidangkan belum pas dengan indera pengecap kita.

Oia, di sini juga ada pilihan hidangan Rawon. Tapi saya belum pernah sekalipun mencobanya.

Ada beberapa dagangan gerobak yang selalu berada di dekat Depot Soto Gebraak yaitu rujak buah potong dan es podeng. Pihak depot biasanya mengizinkan kita untuk menikmati makanan dan minuman ini di dalam resto mereka. Anggap aja sebagai dessert ya. Pelengkap dan penutup acara makan sembari ngobrol ngalor ngidul. Tidak perlu khawatir untuk tergesa-gesa karena jumlah meja dan kursi di tempat yang baru ini cukup luas.

Di sepanjang jalan yang mengelilingi beberapa sisi SMA 3 Teladan juga banyak sekali jualan di atas gerobak. Ada bakso, pempek, batagor, asinan, berbagai jenis minuman segar, dan lain-lain. Ada satu toko kue dan pisang coklat yang masih bertahan di tempat yang lama. Tokonya sama sekali tidak berubah. Baik dari segi fisik atau tampilan luar hingga kondisi di dalamnya. Saya yakin toko kue ini umurnya lebih tua atau setidaknya setara dengan Depot Soto Gebraak.

Di samping depot juga sekarang sudah banyak berubah. Dulu berderet rumah mewah dengan area tanah yang cukup luas. Mungkin sekitar 250-300m2. Tapi sudah belakangan tahun, rumah-rumah ini menjadi resto, mini market, kost exclusive, dan home stay. Saya tidak kaget dengan kondisi ini karena lingkungan Setiabudi berada tak jauh dari pusat kegiatan bisnis, ekonomi dan perkantoran di Jakarta. Tempat ini memiliki akses ke Sudirman, Thamrin, Kuningan, Menteng, dan lingkungan ring 1 Jakarta.

Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta
Suasana di dalam Depot Soto Gebraak

Perubahan yang Saya Rasakan

Terakhir saya bersantap di sini adalah sekitar dua bulan yang lalu. Melewati jam makan siang, saya berada di tempat ini dengan suasana yang tidak terlalu sibuk. Waktu kantor saya berpindah dari H.R. Rasuna Said (Kuningan) ke Cikarang, bertahun-tahun saya nyaris tak pernah ke Depot Soto Gebraak lagi. Kebiasaan jajan di resto ini kembali menggeliat saat saya sudah pensiun, sering ke Jakarta, dan menerima tamu dari luar daerah. Keunikan Soto Gebraak dengan hantaman botolnya itu sepertinya seru juga jika dikenalkan kepada mereka.

Setelah tahunan tidak berkunjung, saya cukup kaget saat tahu bahwa Depot Soto Gebraak sudah berpindah tempat. Kalau dulu hanya ruangan sepetak dan sempit, sekarang sudah punya rumah sendiri dengan lahan parkir di depan rumah tersebut. Areanya masih yang sama. Masih di seputaran SMA 3 Teladan Setiabudi. Pindah dengan jarak hanya 100 meter. Tapi dengan lokasi yang baru ini, saya menyadari bahwa Depot Soto Gebraak telah berhasil membangun bisnis dalam hitungan puluhan tahun yang sangat berarti. Salut untuk Cak Anton dan siapa pun yang meneruskan usaha kuliner ini.

Tempat yang lebih lapang dan luas tentunya memberikan efek kenyamanan bagi para tetamu. Tapi Depot Soto Gebraak sepertinya lupa bahwa tempat yang apik dan strategis yang mereka miliki seharusnya bisa dirawat sebaik mungkin. Saat saya melangkah masuk ke dalam depot, sisi kebersihan sepertinya kurang diperhatikan. Harus ada seseorang yang mengontrol dan beberapa orang yang memang ditugaskan untuk menjamin bahwa kebersihan depot selalu terjaga. Jadi jangan hanya fokus pada pelayanan makanan dan minuman saja.

Meja-meja tampak menua, dinding tampak lusuh, foto-foto yang dipajang kelihatan berdebu, wastafel yang tak terurus, musala yang pengap, dan toilet yang tak terjaga higienitasnya. Saya sampai sengaja menahan pipis karena melihat toilet yang ngap dan tak bersih. Untungnya datang ke arah toilet setelah makan. Jika itu terjadi sebelumnya, mungkin saya batal pesan soto. Sempat duduk sekian lama karena menunggu mobil sewaan anak saya datang, saya melihat tak satupun petugas depot – yang semuanya adalah laki-laki – ringan tangan dan peduli pada kebersihan. Yuk ah. Bisnis kuliner kan identik dengan kebersihan bukan? Pelanggan pasti betah duduk dan bersantap jika melihat ruangan yang bersih, nyaman, dan bikin betah. Beberapa poin penting, yang menurut saya, adalah hal-hal yang wajib terus terjaga.

Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta
Situasi di dalam Depot Soto Gebraak

Setelah puluhan tahun menjadi konsumen Depot Soto Gebraak bukan hanya perubahan fisik tempat yang saya lihat. Tapi juga tentang rasa sotonya. Jika dulu begitu tasty dengan sentuhan rempah-rempat serta bumbu yang membangkitkan rasa, wangi saat kita menghirup asap soto yang menari-nari, belakangan bulan rasanya semakin menurun. Ada “sesuatu yang hilang” yang entah di bagian mana. Greget umami yang biasanya menggoda kok gak muncul di indera penciuman maupun perasa saya.

Saat hal ini saya ceritakan kepada salah seorang teman yang memiliki bisnis kuliner, ada satu jawaban yang membuat saya berpikir.

“Bisa jadi bukan kualitas mereka yang menurun Nie. Tapi bisa jadi karena penilaian rasa lo pada soto sudah begitu luas dan terus menaik. Dengan seringnya lo merasakan soto sejenis di tempat lain, lidah lo refleks menemukan pembanding. Dulu rasa enak Soto Gebrak cukup buat lo, tapi ternyata seiring dengan pengalaman, lo kemudian menemukan soto yang ternyata lebih baik. Tentu saja sifatnya subyektif karena menuruti selera pribadi.”

Pandangan atau pendapat ini sepertinya betul. Sama seperti saat dulu, ketika kita terbiasa jajan gado-gado di abang gerobakan, tapi ketika kita lebih mampu dan makan gado-gado ala restoran dan cocok dengan selera kita, maka turunlah penilaian kita atas jualan si abang-abang.

Tapi, lagi-lagi sependek pemahaman saya, bisnis kuliner atau bisnis apapun itu, sebaiknya juga berimprovisasi dan semakin berkembang mengikuti pergerakan zaman, selera publik, dan kebutuhan kekinian. Jika tidak, mungkin usaha kita masih jalan tapi bisa jadi ketinggalan kereta karena usaha lain sudah “berlari” dengan konsep terbarukan. Kita masih menapak di tempat dan berkutat di hal yang itu-itu saja.

Namun semoga pemikiran saya ini tidak terbuktikan karena Depot Soto Gebraak sudah melebarkan sayap dengan membuka tiga kedai di Tebet – Jakarta Selatan, Pondok Kelapa – Jakarta Timur, dan BSD – Tangerang. Tiga tempat strategis yang memang sering menjadi lokasi bisnis yang menjanjikan.

Semoga Depot Soto Gebraak tetap kokoh tegak berdiri dan konsisten menyajikan soto dengan kualitas yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Mereka adalah legenda, bahkan living legend yang terus mengepakkan sayap di usaha kuliner, khususnya soto, salah satu sajian orisinal tanah air yang berlimpah peminat.

Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

17 thoughts on “Digebrak Oleh Depot Soto Gebraak Setiabudi Jakarta”

  1. Sama, Bu. Saya sering nahan pipis kalau udah liat kondisi toilet bikin ngga nyaman.
    Mau itu cari kosan, nginep dimana, yang jadi perhatian utama adalah toilet.
    Makanya sering kena ISK (infeksi saluran kemih) gara2 kebiasaan itu.

    Apalagi bisnis kuliner, ya…
    Bukan hanya rasanya, yang utama kebersihan tempat makan kudu paket komplit.
    Syukurnya saya ngga terllau doyan soto, Bu, jadi ngga ada kebayang2 lezatnya deh, hehee

    Smoga pengelola bisa menyeimbangkan penyediaan makanan lezat beserta fasilitas yang bikin nyaman..

    Reply
    • Wah sama kita ya. Saya juga paling aware sama soal kebersihan. Karena dari sini semua kenyamanan itu berasal. Makanya, jujur, saya gak bisa backpacking Ci. Pengalaman pernah ikut tapi akhirnya tersiksa. Karena ngikutin traveling dengan cara ini, jarang sekali menemukan unsur kebersihan yang dijadikan pilihan utama. Baik dalam fasilitas maupun servicenya.

  2. Hallo kak Annie apa kabar?
    Sayang sekali ya tidak terurus soto Gebraak legendaris ini. Aku juga sama masalah higenis itu sensitif banget. Bahkan pernah selera makanku berhenti di tengah jalan ketika melihat pelayannya kukunya hitam-hitam, duh jorok banget ya.
    Soal taste bisa jadi juga penerusnya tidak mengikuti resep yang sudah ada. Mungkin ada bumbu yang dihilangkan dan diinovasi dengan bumbu lain yang rasanya jadi berubah, justru tidak medok seperti aslinya ya

    Reply
    • Alhamdulillah kabar baik Kak Dennise. Sudah lama ya gak mampir di blog saya.

      Sama kita Kak. Bagi saya masalah higienitas adalah salah satu hal penting yang wajib diperhatikan oleh mereka yang berbisnis kuliner. Duh aku juga Kak. Lihat orang masak dengan kuku panjang bersih aja aku geli apalagi yang hitam-hitam. Itu kan bibit kotoran banget. Kebayang kan kalo kotorannya jatuh ke piring atau mangkok kita. Aaaiihhh geli ah.

      Nah bisa jadi itu. Aku ngerasain banget kalau kuahnya itu tidak selezat dulu. Beda banget yang aku rasakan,

  3. Haha.. mejanya ampe melengkung kebayang sekeras apa ngegebraknya..
    Tapi kayanya memang selain botolnya tebal karena diadunya ke kayu kebayang kalo mejanya bukan kayu auto pecah yaa

    Soto gebrak sering banget aku liat kabarnya, orang-orang datang karna penasaran. Tapi baca review mami annie aku tau ternyata worthed dengan rasanya yang konsiten selama bertahun-tahun meakipun mungkin sudah ganti generasi. Mantap sih, kudu nyoba

    Reply
    • Gebrakannya itu jadi ciri khas akhirnya. Pengunjung baru pasti pada kaget. Kadang seru banget lihat mereka yang istighfar hahahaha.

      Untuk penggemar soto, soto gebraak salah satu yang recommended. Apalagi ditambah dengan menu-menu tambahan seperti sate-satean.

  4. Hehehe kembali lagi ke ibukota setelah berpetualang ke tanah Sumatera ya Mbak. Kalo soal soto nih saya sueneng bingitz. Jadi ngiler lihat foto2 Mbak Annie. Mantabz.

    Reply
  5. seru memang ngajak keluarga ke kuliner legend ini, apalagi buat yg belum pernah, kocak aja lihat mereka terkaget2 denger suara gebrakannya tuh, plus sotonya juga okelah rasanya

    Reply
  6. Dulu sering nonton liputan Soto Gebraak di televisi. kemudian unggahan foodstagram

    pengen nyoba tapi kebeneran gak punya temen di daerah sana, untunglah

    hahaha karena ternyata gak seenak itu

    kebetulan saya habisn nonton obrolan Chef Renatta di channelnya Kemal Palevi

    Dia bilang, jangan heran kalo rasa masakan berubah karena beda tangan beda rasa

    Walau resepnya sama, bahkan diukur sesuai pemilik resep

    mungkin hal tersebut yang membuat Mbak Annie bilang rasa Soto Gebraak udah berbeda

    Reply
    • Wah bener juga ya Mbak. Racikan yang diwariskan Cak Anton tentunya sama, dengan rumus dan resep yang sama. Tapi siapa tahu, orang yang meneruskan usaha ini punya idenya sendiri. Atau menggunakan resep yang sama tapi beda sentuhan seperti yang Chef Renata sampaikan. Sama dengan sambal. Meski bahan sama, belum tentu rasanya sama.

  7. asiik ada di sekitaran Pondok Kelapa ya?
    wuah boleh nih mampir, karena masih terhitung terjangkau dari tempat daku.
    penampakan sotonya nikmat kali itu Bu hehe

    Reply
  8. Baru tau ada tempat soto namanya Gebraak unik juga ya mba hehe boleh nih kapan2 mampir karena di Jakarta. Saya setuju sih sama mba klo bisnis itu harus improve apalagi ini kan offline ya, sekarang orang2 nyarinya yang nyaman kalau tempatnya kurang bersih kurang di minati. Saya paling gak bisa makan kalau tempatnya jorok soalnya apalagi kamar mandinya

    Reply
  9. Hahha.. ka Annie setiap ke sini menantikan “Gebrakan” dari sang pembuat Soto Gebraak yaa..
    Ya itu, mungkin gebrakan rasa dari generasi ke generasi yang bikin pengunjung tertantang.
    Tapi ini aslik sii.. soto jatim yaa.. Rasanya kalo dari fotonya “kuah” sotonya aga kotor, ga bening kaya soto jabar.
    Menurutku, pasti enaaaakk~

    Reply
  10. Cak Anton termasuk luar biasa untuk mempertahankan depot soto gebraaak. Enggak mudah memang, dari sejak tahun berdiri pada tahun 1973 hinigga sekarang tetap eksis. Dan mbak annie sebagai penikmat sotonya, tetap ingat betul ya mbak, walau dalam hitungan tahun tidak kesana. dan kini bisa bersuara akan depot tersebut. Aku baca , jadi banyak insgiht, meski bukan sebagai pemilik depotnya. Semoga cak anton bisa baca tulisan mbak annie ini. Bisa jadi bahan evaluasi agar depotnya bisa kelihatan bersih dan perlu di renov dikit temboknya agar pengunjung semakin terpikat.

    Reply
  11. Cak Anton sudah merintis usaha soto ini jauh sebelum saya lahir, dan sudah banyak kemajuannya ya.
    Walau sudah menempati bangunan milik sendiri, tapi emang kebersihan tuh harus di jaga. Kalau tempat makannya bersih, kan pembeli juga jadi betah

    Reply

Leave a Comment