Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Hari ke-2 berada di Aceh.

Hari ini jadwal perjalanan saya adalah salat dan berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Icon kebanggaan dari kota Banda Aceh dan tentu saja provinsi Aceh. Masjid raya ini berada tak jauh – sekitar 400 meter – dari Hotel Kyriad Muraya, tempat saya menginap selama tiga hari dua malam. Setelah sehari sebelumnya menginjakkan kaki di masjid ini dalam rangka salat subuh berjamaah, kali ini saya bersengaja kembali dan berkeliling masjid untuk memotret keindahannya dan mengukir kenang-kenangan selama berada di Banda Aceh bersama suami.

Hotel Review : Rehat Berkelas di Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh

Selesai merekam jejak-jejak keindahan Masjid Raya Baiturrahman, saya kemudian bergegas menuju destinasi kedua yaitu Monumen Kapal Tsunami Lampulo yang adalah salah satu keajaiban tsunami di gampong (desa) Lampulo, kecamatan Kuta Alam, kota Banda Aceh. Letaknya dekat saja dari masjid. Sekitar dua kilometer dengan jarak tempuh 15 menit-an dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Saya langsung bersemangat dan menilik beberapa tautan yang menceritakan tentang monumen ini selama dalam perjalanan. Selain kapal PLTD yang terdampar ke dalam kota, kapal nelayan di gampong Lampulo ini mendapatkan tempat yang sama menariknya sebagai destinasi wisata sejarah dan bukti peninggalan kejadian gempa besar dan tsunami di Aceh pada 2004.

Saya sangat beruntung karena meski tadi pagi langit tampak mendung dan dimulai dengan hujan kecil sehabis subuh, matahari terik mendadak muncul dan menemani saya selama berada di gampong Lampulo. Gerah sih tapi saya justru bersenang hati dengan kehadiran langit biru yang cerah dengan awan putih yang menyebar disana-sini.

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Akmal – tour guide – saya hari itu, melambatkan laju kendaraan saat mobil sudah memasuki gampong Lampulo. Jalan menuju desa ini meski tidak terlalu mulus tapi masih nyaman untuk dilewati. Hanya saja karena menuju daerah wisata di dalam sebuah kampung yang padat penduduk, ada baiknya para pengendara mengatur kecepatan kendaraan. Saya menikmati kondisi ini dengan melamati apa yang bisa saya lihat di sepanjang perjalanan.

Rumah-rumah penduduk yang sederhana dan bersahaja terlihat di hampir setiap sisi. Layaknya sebuah desa yang terletak tak jauh dari pinggir pantai, saya bisa melihat perahu-perahu kayu bermesin tunggal berjejer menanti jadwal melaut. Di beberapa sisi juga terlihat jaring-jaring dan alat penangkap ikan lainnya yang digantung di pinggir jalan. Hawa lautpun langsung terasa. Sayangnya saya tidak menemukan spot foto yang lapang saat berkendara di pinggir pantai ini. Padahal pemandangan kapal nelayan yang berjejer warna-warni, biru nya laut, dan langit yang cerah, seharusnya bisa melahirkan foto-foto yang ciamik dan sangat mengesankan.

Mobil yang dikendarai Akmal kemudian berjalan perlahan saat memasuki sebuah perkampungan padat. Dari sebuah kejauhan saya melihat kerumunan orang yang sibuk memotret dan bercengkrama. Akmal pun langsung mencari tempat parkir di salah satu rumah yang memang memiliki lahan yang cukup luas. Seorang petugas kemudian mengarahkan kami agar mengambil posisi parkir yang melegakan dan tidak mengganggu lalu lalang kendaraan lainnya.

Dari tempat parkir ini, kembali saya melihat banyak orang berkerumun. Ada sebuah warung yang menawarkan makanan tradisional, minuman, dan beberapa hasil kerajinan tangan yang bisa dijadikan oleh-oleh. Kemudian terlihat ada sebuah dinding semen tinggi yang sebagian diantaranya sudah runtuh. Lalu terlihat menara pandang yang cukup besar, terbuka, berbahan besi kokoh dan berlantai dua yang berada persis di bagian hulu kapal. Menara yang kemudian saya ketahui memang sengaja dipasang agar para wisatawan dapat memotret kapal besar itu dari satu ketinggian. Sekaligus melihat sisi teratas kapal dan lingkungan yang berada di sekitarnya.

Saya berjalan mendekat lalu disapa oleh salah seorang petugas untuk membayar HTM sekitar Rp5.000,00/orang. Di dekat meja penjaga ini ada satu meja khusus yang menyajikan beberapa buku yang berhubungan dengan kejadian tsunami dan buku yang dilahirkan oleh dua orang penyintas tsunami. Saya langsung terpaku. Dengan biaya Rp50.000,00/buku saya mengambil buku “Nestapa Tsunami Aceh. Saksi Fakta Kapal di Atas Rumah” dan “Misteri dan Keajaiban Kapal di Atas Rumah Lampulo Banda Aceh.” Atas keterangan penjaga inilah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Nilawati dan Wak Kolak (Bundiyah Binti Sahan) yang menginspirasi lahirnya kedua buku yang saya beli ini.

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Tentang Aceh : Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Melihat kedua ibu ini masih dikelilingi oleh banyak tamu, saya kemudian memutuskan untuk melihat kapal nelayan berukuran 25.5m x 5.5m dengan berat sekitar 20 ton yang tampak baru dirapikan dan dicat kembali. Kapal nelayan yang terbuat dari kayu bungur dan tadinya berada di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di kampung Lampulo ini, tampak terlihat (masih) kokoh, sangat terawat, dan nangkring dengan manis di atas rumah milik H. Misbah dan menempel ke dinding rumah Ibu Abasiyah. Rangka-rangka rumah yang membuat kapal ini tersangkut kemudian diperkokoh dengan kehadiran beberapa besi baja penyanggah di beberapa titik krusial. Sehingga kita, para wisatawan bisa berjalan dengan aman di bawahnya dan menyusur beberapa bagian rumah tanpa rasa khawatir.

Sebelum menjelajah di bawah lambung perahu, di salah satu sisi samping rumah tampak sebuah prasasti kecil yang bertuliskan “Penataan Situs Tsunami. Kapal di Atas Rumah Lampulo. Diprakarsai oleh Kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) dan Badan Geologi.”

Tidak banyak pengunjung yang mau melangkahkan kaki di bawah kapal ini dan menyusur beberapa bagian rumah yang sudah porak poranda tersebut. Tapi saya tetap melangkah, menyusur setiap sudut rumah, hingga menemukan beberapa spot foto yang luar biasa indahnya. Dinding yang sudah terkelupas, beberapa lantai keramik yang terlepas, dan dinding serta rangka rumah yang berguguran, justru menunjukkan betapa dahsyatnya gempa dan gelombang tsunami yang telah meluluh lantakkan gampong Lampulo. Sebagian sisi kapal melekat ke rumah Ibu Abasiyah yang bertingkat dua, sementara bagian bawah atau lambung kapal tersangkut pada rangka rumah milik H. Misbah yang masih berdiri tegak.

Di dalam rumah H. Misbah yang tinggal rangka-rangka beberapa ruangan ini, terpasang daftar nama korban tsunami yang adalah warga gampong Lampulo. Nama-nama mereka terpatri, terukir, di sebuah semen dan keramik berwarna hitam yang menempel di salah satu sisi dinding rumah. Tercantum 981 nama korban, lelaki dan perempuan, yang terus terang membuat saya cukup merinding. Jumlah yang tentunya tidak sedikit. Warga kampung yang tadinya berjumlah sekitar 6.000 orang berkurang menjadi 1.500 orang. Jumlah yang menyusut karena kematian dan kehilangan.

Semoga semua korban husnul khotimah dan diterima di sisi Allah Subhannahu Wata’ala. Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Selesai menyusur lambung kapal dan rumah yang menyanggah kapal tersebut, saya menyebarkan pandangan, mendangak melihat dari bagian hilir atau buritan kapal. Saya mendekat ke beberapa lembaran informasi tentang kapal di atas rumah yang dipasang seperti sebuah mading yang disanggah oleh rangka kayu dan ditutup oleh kaca. Di sini saya melihat rangkaian foto-foto sehari setelah tsunami berakhir dan porak porandanya gampong Lampulo. Terlihat jelas kondisi kapal yang dalam keadaan tersangkut di atap rumah tersebut. Beberapa dinding lambungnya terlihat robek tapi tetap kokoh. Sementara di bawahnya berserakan patahan-patahan kayu, semen, dan berbagai sampah hasil terjangan air laut yang begitu dahsyat. Semua terlihat kacau balau dengan kondisi yang – menurut saya – sangat mencekam.

Dari mading ini saya membaca selembar besar informasi lengkap yang membahas tentang kapal kayu ini. Sebelum musibah tsunami ini terjadi, kapal kayu ini berada pada sungai Krueng Aceh pada tempat docking kapal di gampong Lampulo. Hasri Yulian bersama Saiful Bahri, selaku pengurus kapal tersebut, menginstruksikan kepada Adun – si penjaga kapal – agar pada 26 Desember 2004 bersiap-siap menurunkan kembali kapal tersebut ke sungai karena telah menyelesaikan berbagai perbaikan yang dibutuhkan. Teungku Zulfikar – selaku pemilik kapal – yang tinggal di Komplek Cemara Hijau, Medan, juga sudah meminta kepada adik ipar sekaligus pengurus kapal agar membawa kapal ke Lhoknga (Aceh Besar) untuk diisi pukat. Tetapi ternyata Allah Suhannahu Wata’ala berkehendak lain.

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh
Mading yang memperlihatkan foto-foto di hari tsunami surut.
Terekam oleh kamera betapa kacaunya kondisi gampong Lampulo.
Khususnya area yang berada di sekitar rumah H. Misbah.

Mendengar Kesaksian Ibu Nilawati

Usai merampungkan pengamatan saya di sekeliling kapal yang tersangkut di atap rumah ini, saya melihat Ibu Nilawati yang tampak terpekur di dudukan semen yang tertata seperti sebuah theatre. Saya menyapa beliau, bersalaman, lalu memberikan pelukan hangat layaknya dua orang ibu yang sudah saling mengenal puluhan tahun lamanya. Saya kemudian memperlihatkan buku yang sudah saya beli dan beliau pun berkenan menceritakan kembali apa yang tersurat di dalam buku tersebut.

Seperti sebuah cerita yang sarat akan memori yang melekat di dalam pikiran, saya melihat sorot mata yang begitu dalam. Kesedihan itu sudah lama berlalu. Terjadi sekitar 19 tahun yang lalu (26 Desember 2004 – Maret 2024 – saat penulisan artikel ini). Tapi bagi Ibu Nilawati, banyak jejak-jejak terpatri begitu mengesankan di ingatannya. Hal inilah yang kemudian mendorong Ibu Nilawati dan suaminya – Syaifun bin Muhammad Yusri – untuk membuat sebuah buku. Selain sebagai warisan tertulis, buku ini menjadi catatan resmi agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi tentang apa dan bagaimana gelombang tsunami telah menghancurkan gampong Lampulo. Lewat seorang penulis dan editor profesional – Yusuf Al-Qardhawy Al-Asyi – Pak Syaifun dan Ibu Nilawati, menceritakan apa yang telah mereka alami sebelum, di saat, dan sesudah tsunami mengguncang gampong tempat mereka tinggal.

Ibu Nilawati bercerita bahwa sekitar tujuh hari sebelum 26 Desember 2004, warga Lampulo dikunjungi oleh seorang Kakek yang mencari bantuan berupa uang senilai Rp500,00 yang katanya akan digunakan untuk membangun masjid. Salah satunya adalah ke Ibu Abasiyah yang rumahnya tertempel kapal nelayan. Setiap orang yang didatangi, tentu saja berkenan memberikan bantuan. Meski semua bersedia memberikan uang dengan jumlah yang lebih besar, sang kakek menolaknya. Tak lama, setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, si kakek hilang tak tentu rimbanya. Tapi kepada yang memberikan uang, beliau selalu berkata tentang adanya musibah besar dan mendoakan agar yang bersangkutan diberikan keselamatan. Kehadiran atau cerita tentang si kakek ini, justru menjadi perbincangan warga gampong, beberapa hari setelah tsunami terjadi.

Lewat Ibu Nilawati kemudian saya akhirnya tahu bahwa setelah gempa terjadi, sesungguhnya sudah banyak bangunan yang runtuh atau setidaknya retak-retak berat. Tapi yang kemudian menjadi ketakutan mereka adalah suara gemuruh yang begitu kencang setelahnya. Sama seperti dengan apa yang saya lihat dan dengar di film dokumenter yang diputar di ruang audio visual dan Lorong Renungan di Museum Tsunami Aceh. Hati saya bergetar bukan kepalang. Apalagi saat Ibu Nilawati menceritakan bahwa sebagian berlari terbirit-birit menuju rumah Ibu Abasiyah yang memiliki dua lantai. Apalagi dalam beberapa waktu kemudian, ada sebuah kapal nelayan yang tersangkut di sebelah rumah H. Misbah yang persis bersebelahan dengan rumah Ibu Absiyah. Mereka pun, sekitar 48-49 orang, akhirnya berpindah menyelamatkan diri dengan naik ke atas kapal tersebut. Hal ini dilakukan dengan asumsi, jika air bah semakin meninggi, setidaknya mereka sudah berada di dalam kapal yang bisa terapung di atas air.

“Saya tak sempat memikirkan apapun Bu. Yang penting menyelamatkan diri. Entah siapa yang berteriak. Tapi yang pasti ada seseorang yang mengajak semua yang masih hidup atau yang sedang berjuang menyelamatkan diri untuk segera naik ke kapal.” ujar Ibu Nilawati. “Sudah gak keruan Bu suasana saat itu,” lanjutnya dengan raut muka prihatin. Saya tak menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk meresponse apa yang disampaikan Ibu empat orang anak ini. Tapi yang pasti, karena sehari sebelumnya saya hampir setengah hari berada di Museum Tsunami Aceh, saya bisa membayangkan kepanikan penduduk Aceh. Gempa 9.3 SR aja sudah bikin panik. Apalagi setelahnya muncul tsunami.

Di saat berada di atas kapal itulah, Ibu Nilawati baru sempat sadar tentang anak-anaknya. Dari keempat anak yang dia miliki, anak ketigalah yang tidak ditemukan. Sementara yang lain selamat. Jadi saat air mulai surut, Ibu Nilawati langsung melihat korban-korban bergelimpangan. Sebagian besar sudah tidak dalam kondisi sempurna. Kondisi gampong pun porak poranda. Saa itulah mereka – yang menyelamatkan diri ke atas kapal – baru sadar bahwa barusan mereka berada di dalam kapal atau perahu nelayan yang tersangkut di sebuah atap rumah. Berjam-jam mereka “tertahan” di sana. Kehausan dan kelaparan pun mereka rasakan. Kondisi ini kemudian terbantu dengan kehadiran setandan kelapa muda yang datangnya entah dari mana.

Ibu Nilawati mencurahkan semua pengalaman ini di buku “Misteri dan Keajaiban. Kapal di Atas Rumah Lampulo Banda Aceh.” Dari sekian banyak hal yang diceritakan oleh Ibu Nilawati, saya tertegun saat menggapai halaman 31 yang membahas tentang hikmah tsunami bagi penulis (Ibu Nilawati dan suami) dan keluarga. Pada bagian ini, penulis mencoba mengambil banyak hal bermanfaat bagi hidupnya setelah tertimpa musibah (gempa dahsyat dan tsunami). Diantaranya adalah teguran Allah Subhannahu Wata’ala kepada masyarakat Aceh yang tidak memperhatikan adat istiadat, pengabaian terhadap hukum Allah, dan perang yang terus menerus terjadi di Aceh. Sebelum tsunami kesenjangan sosial terlalu mencolok, tetapi pasca tsunami kehidupan sudah setara. Rumah yang dibangun oleh NGO dan pemerintah, tipenya semua sama. Masyarakat pun hidup dalam pengungsian berbulan-bulan setelah musibah tersebut. Kondisi yang mengharuskan siapapun untuk saling menerima, hidup bagai keluarga dekat karena banyak yang kehilangan anggota keluarga atau terpisah dari keluarga.

Ada sebuah adagium yang kemudian juga saya catat di halaman 33. “Apabila kita menanam padi, rumput pasti akan ikut tumbuh. Tapi sebaliknya, kalau kita menanam rumput, pada tidak akan ikut tumbuh.” Pepatah ini dapat diartikan sebagai apabila kita hidup mengejar akhirat, tentu dunia akan mengikutinya dari belakang. Dan apabila hidup mengejar dunia, maka akhirat akan tinggal di belakang. Orang yang mengejar akhirat akan mendapatkan kedua-duanya. Kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat sekaligus.

Cerita yang hampir sama juga saya dapatkan saat membaca buku yang dipersembahkan oleh Wak Kolak yang berjudul “Nestapa Tsunami Aceh. Saksi Fakta Kapal di Atas Rumah.” yang disusun dan diedit oleh orang yang sama dengan buku milik Ibu Nilawati dan Pak Syaifun. Wak Kolak saat gempa terjadi sedang berjualan di makanan (salah satunya adalah kolak) di dekat para nelayan bekerja. Setelah gempa, beliau berlari kembali ke gampong, di mana rumahnya berada, lalu bersama dengan banyak orang menyelamatkan diri menaiki kapal yang tersangkut tersebut.

Sayangnya saya tidak sempat terlibat pembicaraan dengan Wak Kolak karena saat beliau datang ke lokasi saya sudah bersiap-siap hendak menuju ke tujuan wisata berikutnya. Tapi saya tetap menyambangi Wak Kolak saat beliau duduk di salah satu bangku dekat meja penjualan buku dan berfoto bersama. Wak Kolak saat bertemu saya usianya sudah 70an tahun. Tapi beliau masih terlihat sehat, gagah, dan lincah. Jalannya pun masih tegak dan terlihat tidak pikun. Sempat mengucapkan terimakasih berkali-kali karena melihat saya memegang buku yang dia tulis.

Saya tersenyum dan mencium tangan beliau. Menyampaikan doa agar biar selalu dilimpahkan rezeki kesehatan, panjang umur, dan menikmati sisa hidup dalam kelimpahan kebahagiaan dan lindungan Allah Subhannahu Wata’ala.

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh
Bersama Ibu Nilawati. Salah seorang penyintas serangan tsunami di desa Lampulo

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh
Bersama Wak Kolak. Salah seorang penyintas tsunami di desa Lampulo

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh
Dua buku yang terinspirasi dari pengalaman Ibu Nilawati dan Wak Kolak

Tentang Aceh : Nyak Mu. Legenda Tenun Songket Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Sebongkah Besar Kenangan Akan Gampong Lampulo

Saya menyempatkan diri mampir ke warung yang ada di dekat lokasi monumen. Warungnya sungguh sederhana. Masih berdinding kayu dan atap seadanya. Di warung ini menyediakan aneka makanan kecil dan minuman dingin. Saya juga sempat melihat beberapa suvenir khas Aceh seperti gantungan kunci yang cukup untuk dijadikan oleh-oleh. Pedagangnya pun ramah dan mengijinkan saya melihat-lihat isi warung. Saya berharap ada CSR atau bantuan dari mana pun agar warung ini terlihat lebih tertata. Jika bisa malah dibuat bangunan yang lebih permanen dengan pencahayaan yang bright, tata susun barang dagangan lebih rapi, bersih, dan kalau bisa dengan ukuran yang lebih besar. Semoga ada yang berkenan membantu.

Cuaca panas mengiringi mobil yang saya tumpangi meninggalkan gampong Lampulo. Saat keluar parkiran saya masih membuang pandangan takjub ke arah kapal di sela-sela reruntuhan dinding semen yang dibiarkan gompel karena terjangan gempa dan air bah yang bergulung-gulung. Saya yakin suatu saat ada tangan-tangan peduli yang membuat lingkungan gampong Lampulo lebih tertata, tanpa meninggalkan jejak-jejak orisinalitasnya. Terlepas dari pemeliharaan kapalnya sendiri. Masyarakat terus bersatu padu menjaga destinasi wisata ini. Bukan hanya menjadi saksi bisu akan kejadian di 26 Desember 2004 tapi juga menjadikan kapal di atas rumah ini sebagai salah satu keajaiban tsunami yang patut dikenang sepanjang masa.

Saat pamit pulang ke Ibu Nilawati, beliau menyampaikan bahwa nantinya tulisan saya bisa menjadi salah satu penyampai tentang gampong Lampulo. Bahwa di gampong ini ada sebuah bukti keajaiban tsunami yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan dalam dan luar negeri. Tak hanya tentang keunikan dan jejak sejarahnya, tapi juga mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kekuasaan Allah Subhannahu Wata’ala itu tiada batas. Siapa yang menyangka bahwa kapal nelayan seberat 20 ton ini bisa tergulung, terhempas, oleh tsunami kemudian “terjebak” di atap rumah yang memiliki dinding yang sesungguhnya tipis.

Keajaiban ini juga mungkin menjadi berkah bagi warga gampong. Karena dengan adanya kapal ini gampong Lampulo menjadi populer dan mereka bisa mencari nafkah di dunia wisata, selain menjadi nelayan seperti yang sudah lama menjadi mata pencaharian utama sejak masa lampau.

Meninggalkan gampong Lampulo, saya membawa sebongkah besar kenangan akan tempat ini. Semoga gampong ini selalu dalam perlindungan Allah Subhannahu Wata’ala dan dilimpahkan rezeki seluas samudra. Masyarakatnya hidup sejahtera dan saling menjaga.

Terima kasih gampong Lampulo, Ibu Nilawati, dan Wak Kolak yang sudah menambah banyak insight baru untuk saya di saat usia sudah melewati setengah abad. Sujud syukur pada Allah Subhannahu Wata’ala yang memberikan rezeki kesempatan dan usia agar saya menjadi penyaksi di mana sebuah kejadian maha dahsyat pernah terjadi di salah satu sudut tanah air ini.

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

29 thoughts on “Keajaiban Tsunami di Gampong Lampulo Aceh”

  1. Nano-nano aku baca tulisan ayuk ini. Banyak banget yang mau aku komentarin. Pertama jelas, jadi teringat lagi bencana tsunami itu dulu. Ah, semoga semua korban husnul khotimah. Trus, aku tahu kapal ini. Banyak diberitakan di mana-mana dulu sekaligus mempertegas lagi kalau kapal seberat 20 ton aja bisa sampai “nangkring” di atas rumah, kebayang besarnya sapuan ombak saat itu.

    Di sisi lain aku salut dengan bu Nila, yang sedemikian tabah dan berkenan membagikan kisah hidupnya dalam buku. Salut dengan ide ini karena dari tulisan, kisah yang mau disampaikan terasa lebih kekal detailnya. Bisa dibaca ulang kembali jika butuh mengingat lebih rinci. Semoga aku bisa main ke desa ini nanti, amiiin.

    Reply
    • Merinding ya Yan membayangkan kapal seberat 20ton bisa kebawa air sejauh 500m. Dan akhirnya tersangkut di atap rumah orang sebagai sarana menyelamatkan puluhan warga gampong yang kebetulan ada di sekitar situ. Waktu dengar cerita dari Ibu Nilawati langsung mengenai ini, aku semakin takjub. Apalagi saat di atas kapal itu, para warga sempat melihat korban-korban bergelimpangan dengan tubuh yang sudah tidak utuh. Innalilahi wa’innailahi rojiuun.

      Itulah pentingnya menulis ya Yan. Lewat buku para penyintas ini menyampaikan apa yang mereka alami dan rasakan langsung. Sebuah legacy seumur hidup yang akan terus menjadi kenangan dan jejak sejarah.

  2. Sedahsyat itu emang Tsunami. Mbak, mampir ke kapal PLTU juga gak? Itu lebih gede lagi kapalnya. Dan bisa masuk daratan puluhan kilo meter dari laut.

    Reply
    • Betul. Kapal nelayan ini pun terbawa arus hingga 500 meter. Padahal beratnya 20 ton. Luar biasa pokoknya. Nah aku belum sempat ke PLTU itu karena di hari-hari aku keliling itu, hujan deras menyertai tak henti-henti. Jadi banyak destinasi wisata di alam terbuka gak bisa aku kunjungi termasuk pantai dan ke Sabang.

    • meskipun mengundang rasa sakit ketika membongkar lagi kenangan saat tsunami. Melalui bukubu Nilawati, adalah saksi sebelum, saat kejadian dan sesudahnya menjadi perjalanan hikmah yang luar biasa menempel di hati. mewakili rasa sekaligus membuat kita berkaca, betapa istimewanya aceh

  3. Seru juga perjalanan Mbak Annie kali ini, yaitu ke tanah rencong. Bisa menikmati alam yang indah sekaligus napak tilas kejadian tsunami Aceh. Jadi ikut terharu dan sekaligus berharap agar kita selalu dijauhkan dari berbagai bencana.

    Reply
  4. Saya pernah juga ke Aceh tapi nggak sempat berkunjung ke monumen kapal Tsunami Lampulo ini, ternyata menyimpan kisah yang luar biasa ya, apalagi setelah membaca kisah yang dibagikan ibu Nilawati sungguh ikut merinding. Jadi pengen baca bukunya juga.

    Reply
    • Buku itu juga jadi legacy bagi sejarah. Ke depannya masyarakat jadi mendapatkan referensi yang sahih akan apa yang terjadi di gampong Lampulo termasuk kapal nelayan yang nyangkut di atas rumah ini.

  5. jujur ga bisa dipungkiri kejadian gempa besar dan tsunami di Aceh pada 2004 hingga kini masih membekas, meski saya sendiri tidak berada di sana. Sebagai manusia saya juga ngeri membayangkan kondisi tersebut, apalagi dengan baca artikel ini jadi tau bagaimana dahsyatnya sebagaimana kapal yang memiliki berat puluhan ton bisa sampai ke daratan. Namun masyarakat dan pemerintah Aceh tentunya terus kembali membangun negerinya salah satunya melalui tempat ini yang turut mengedukasi para pengunjung atau wisatawan untuk aware ke depannya pada tsunami melalui di Gampong Lampulo.
    Sejak beberapa waktu lalu, saya ingin banget ke Aceh, tapi lom ada kesempatan.. Mudah mudahan nanti bisa juga mengunjungi beragam tempat di Aceh termasuk Gampong Lampulo ini.

    Reply
    • Nanti jika ada rezeki menjejakkan kaki di Banda Aceh, jangan lupa mampir ke Museum Tsunami Aceh Mas. Banyak jejak sejarah baik berupa tulisan maupun visual yang bisa kita jelajahi. Semua tersimpan dan terekam dengan baik di sana, termasuk kapal nelayan di atas rumah yang ada di gampong Lampulo ini.

  6. Masyaallaah… mataku berkaca2, Bu. Hanya berkaca2 sebab saat baca tulisan ini posisi lagi di kantor. Kalo sendirian mungkin udah deras mengalir.
    Meski dekat dengan Medan, tapi saya sama sekali belum pernah ke Aceh (Alasannya karena ngga terlalu suka pantai)
    Tapiiii, baca tulisan ini, saya mendadak pingin kesana khususnya berkunjung ke kapal nyangkut ini, Bu.
    Duuuh, pingin dengar langsung ceritanya dari Bu Nilawati / warga setempat.
    BTW, kalau setiap pengunjung nanya, seperti membuka luka masa lalu, ga, sih?
    Rada segan juga ya…

    Tapi mereka kan sudah iklas dan justru merasakan hikmahnya, ya, Bu.
    Semoga ada rejeki dan waktu saya bisa berkunjung ke Aceh, khususnya museum dan kapal ini. Oiya mau ikut beli buku dan mudah2an ketemu langsung sama penulisnya. Aamiin…

    Saya pikir Wak Kolak itu tadinya laki-laki, hehee

    Reply
    • Ibu Nila sepertinya sudah siap mental untuk menceritakan apa yang pernah beliau alami. Apalagi kemudian beliau berani menuliskannya menjadi sebuah buku yang bisa dibaca orang banyak. Dan menurut saya ini adalah sebuah legacy yang akan terus diingat oleh generasi berikutnya. Setelah 20 tahun berlalu tentunya penerimaan akan apa yang sudah terjadi telah merasuki jiwanya.

  7. Setiap baca tentang tsunami Aceh, saya selalu sedih
    Waktu itu kan sumbangan dari luar negeri banyak banget
    Saking banyaknya, kata seorang teman yang bekerja di NGO
    jika dirata-rata, setiap orang orang Aceh mendapat Rp 300 juta
    Sayang donasi luar negeri tersebut wajib dikumpulkan di pemerintah pusat
    sebelum dibagikan ke masyarakat Aceh (sesuai peruntukannya)
    Dann… bisa ketebak kan endingnya?

    Reply
    • Merinding saya mendengar kondisi ini Mbak karena kebetulan saat itu saya juga sedang bekerja untuk sebuah NGO yang terlibat pada pengurusan korban-korban tsunami. Semoga intrik apapun itu tidak merusak misi utama dari mereka yang berjibaku menolong ratusan ribu nyawa yang sudah terenggut.

  8. Abang tua saya tinggal gak jauh dari museum kapal di atas rumah itu, Bu Annie.
    Melihat artikel ini jadi ingin berkunjung ke sana, sekaligus silaturahmi ke abang.
    Dari kapal tersebut, jadi memberikan insight yang membuat hati merinding ya, “Kalau sudah kuasa Allah Swt, apapun bisa terjadi”

    Reply
    • Oya? Wah berarti kapan waktu bisa datang ke Aceh dan langsung berkunjung ke destinasi wisata sejarah yang satu ini ya Fen.

  9. Tsunami Aceh ini terus terekam di benak saya, Mbak, karena bertepatan dengan tanggal dan bulan lahir saya. Bagaimana dahsyatnya tsunami di Aceh. Namun Pasti ada pelajaran dari kejadian ini. Salah satunya memperlihatkan secara nyata kekuasaan Allah SWT. Kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Termasuk menghempaskan kapal seberat 20 ton, sampai ke atap rumah.

    Reply
    • Berarti tanggal lahir Mas Bambang sama dengan kakak saya. Dia juga lahir di 26 Desember.

      Bener banget Mas. Dari tsunami kita semakin sadar bahwa kuasa Allah Subhannahu Wata’ala itu sungguh luar biasa. Tak ada yang tak mungkin bagi Nya. Kita pun juga diingatkan bahwa harta dunia itu adalah semata-mata titipan.

  10. Wahh panjang banget dan aku merinding bacanya… ngebayangin sedahsyat apa yang digambarkan di tulisa ini, tsunami yang gakan pernah dilupakan… kapal sebesar dan seberat itupun bisa terbawa ke tengah kota apa kabar kita yang cuma puluhan kilo… banyak banget istighfar bacanya.. mungkin aku gakan kuat kalo ngalaminnya.

    Reply
    • Inilah salah satu dari keajaiban tsunami ya. Jika bukan karena kuasa Allah Subhannahu Wata’ala, gak mungkin kapal seberat 20 ton bisa hanyut sejauh sekitar 500 meter dari pinggir pantai. Hingga akhirnya kapal ini berhasil menyelamatkan puluhan warga gampong Lampulo.

  11. Baca ini beneran menguras perasaan kalau pengen nangis karena nggak bisa bayangin betapa kreditnya suasana waktu Tsunami Aceh tahun 2004 itu. Belum lagi pas Kak Annie nulis di dalam rumah H. Misbah terpasang daftar nama korban tsunami sebanyak 981 korban. Ternyata 7 hari sebelum kejadian ada ibu-ibu yang diperingatkan oleh kakek yang meminta sumbangan buat masjid ya kak, bahwa akan ada bencana besar :(

    Reply
    • Sungguh sebuah keajaiban ya Mbak. Tersangkut kapal nelayan ini ternyata berhasil menyelamatkan puluhan warga dari tsunami.

  12. Allahumma firlahum warhamhum wa’afihi wa’fuanhum.
    Semoga para korban tsunami khusnul khatimah.

    Ka Annie, kalau ke Gampong Lampulo selalu bisa bertemu dengan Ibu Nilawati dan Wak Kolak atau harus ada janji dahulu?
    Rasanya memaknai sebuah perjalanan ini menjadi lebih berat ketika ada duka di atasnya.

    Semoga Ibu Nilawati dan Wak Kolak senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan karena telah berbagi pengalaman yang bisa menjadi perenungan bagi kita semua.
    Haturnuhun ka Annie sudah menuliskannya secara lengkap.

    Reply
    • Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.

      Menurut info sih, Ibu Nila dan Wak Kolak sering berada di lokasi wisata ini. Mereka biasanya sembari menjaga jualan buku itu. Alhamdulillah sih bukunya laku. Hingga dicetak sampai tujuh kali. Waktu ngobrol dengan Ibu Nila sih beliau sudah tidak terjebak dalam suasana emosional. Saya yang malah deg-degan dengar ceritanya. Apalagi ada kejadian yang di luar nalar yang akhirnya dishare oleh kebanyakan warga gampong Lampulo.

  13. Wah, ada banyak hal-hal yang susah dijelaskan di gampong ini, ya. Dimulai dari datangnya kakek tua, ada kapal yang tersangkut sehingga bisa dijadikan tempat evakuasi, sampai kemunculan kelapa setandan. Berapa lama ya mereka menunggu bantuan datang saat itu?

    Kalau bicara dosa, rasanya ada banyak kota, provinsi, dan negara yang lebih lalim mbak. Aku percaya ada maksud di balik tsunami Aceh, namun aku tak percaya itu hukuman Allah.

    Reply
    • Selalu ada hikmah di balik peristiwa dan itu biasanya berbeda-beda bagi setiap pribadi. Yang pasti hikmah tentunya membawa kita untuk menjadi lebih baik lagi. Khususnya untuk urusan akhlak dan pendekatan diri pada Sang Pencipta.

  14. Aku orang sumatera yang belum pernah ke ke sana, Baca perjalanan mba Annie kali ini ke Aceh . Aku merasakan betapa indahnya Sumatera, sekalian napak tilas kejadian tsunami Aceh. Aku jadi ikut terharu.

    Reply
  15. Wahh acehh, tempat yang masuk wishlist saya karena pantainya yang cantik2 cocok untuk snorkeling dan juga ingin mengunjungi tempat2 peringatan tsunami Aceh dan membaca sejarah disana. Semoga saat ke sana, saya bisa mengunjungi tempat yang mbak kunjungi itu ya hihi.

    Reply

Leave a Comment