Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Menikmati dan menyesap wanginya kopi di sebuah kedai yang estetik seperti di Kopi Toko Djawa, Braga – Bandung ini, setiap hirupan rasanya terasa begitu sempurna. Nyaman di lidah dengan visual yang entertaining serta merabuk jiwa. Ambiance tempat yang menyenangkan, membuat kita merasa pulang sembari menyeruput kopi hitam dengan sedikit gula di rumah.

Saya baru saja rampung mengantar suami ke kampus Ganesha (ITB) untuk reuni di pagi hari itu, hingga kemudian sepakat dengan si bungsu untuk jalan-jalan setelahnya. Kami punya banyak waktu untuk menjelajah Bandung dengan mengandalkan google maps dan referensi lewat Instagram. Setidaknya hingga pkl. 14:00wib, limitasi waktu check in di Kollektiv Hotel yang sudah dipesan beberapa hari sebelum berangkat.

Keputusan kami cuma dua yaitu ke Braga lalu ke Paris Van Java Mall (PVJ Mall) di Setiabudi yang mendekat ke arah hotel.

Baca Juga : Semalam Betah Menginap di Kollektiv Hotel Bandung

Mengandalkan Google Maps Menuju Braga

Saya sering ke Bandung karena di kota inilah suami melewati banyak waktu dalam hidupnya. Terutama saat remaja hingga lulus S1 dan membeli rumah di Cimahi, Bandung Barat. Sebagian keluarga (uwak, bibi, sepupu, ipar) juga masih tinggal di Bandung dan sering mengadakan arisan atau pertemuan keluarga untuk beberapa alasan. Seperti yang terakhir adalah munggahan dalam rangka puasa ramadan 1445H (2024).

Saya tak pernah sekalipun nyetir mobil sendiri di Bandung meski sudah tak terhitung seringnya ngelencer di kota Paris van Java ini. Tapi di kunjungan kali ini, saya harus melakukan itu. Biarpun saya termasuk pembaca peta yang baik, hal ini tak berlaku untuk Bandung. Saya kok tetap aja gak mudah mengingat alur lalu lintas dan pemetaan setiap tempat. Apalagi di Bandung banyak jalur yang searah. Jadi kalau sudah salah jalan, muternya bisa jauh banget.

Tabiat nekad dan bantuan Google Maps serta support si bungsu di bangku depan lah yang akhirnya membuat saya yakin untuk nyetir. Tak apa. Setidaknya jika pun “terpaksa nyasar,” saya tidak sendirian.

Semesta sepertinya begitu menyambut saya. Selain langit yang cerah ceria, jalanan pun sama sekali gak macet. Gak sampe 30 menit kemudian mobil yang saya kendarai pun sudah mengaspal di Jl. Braga dan parkir di bahu jalan yang memang disediakan untuk pengunjung. Senengnya luar biasa.

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Estetika Sebuah Kedai Kopi di Lahan Terbatas

Saya tiba di waktu yang tepat. Langit cerah, jalanan belum terlalu ramai, dan sudah banyak toko yang buka. Menyisir salah satu bahu jalan, wangi kopi mendadak menyeruak ke indera penciuman saya. Ya ampun. Tolong. Wanginya sungguh menggoda. Apalagi saya sempat mendengar nada dan getaran indah dari sebuah brewing machine. Suara khas yang begitu saya kenali.

Kok ya pas banget. Niat ngopi dan menikmati penganan ringan serasa komplit saat saya menuju dua tempat yang memang sudah lama saya incar. Toko Kue Lakker dan Kopi Toko Djawa. Tempat-tempat asik yang sudah lama direferensikan oleh beberapa travel and food blogger Bandung. Akun IG merekapun sering mendapatkan like ratusan dan puluhan komen yang komunikatif dari puluhan ribu followers nya. Jadi patut banget digunakan sebagai panutan dan acuan.

Setelah puas memamah biak dengan jajan pasar di Toko Kue Lakker, saya melangkah ke Kopi Toko Djawa yang terhubung oleh sebuah pintu tanpa pembatas diantara keduanya. Ini memang disengaja, keduanya punya hubungan kekeluargaan atau memang pemiliknya sama? Kemudahan akses ini justru jadi plus point buat keduanya. Mereka bisa saling melengkapi, berintegrasi, dan tentu saja bekerja sama. Bahkan waktu saya menyelesaikan makan-makan di Toko Kue Lakker, petugasnya menyarankan saya untuk menikmati kopi di Kopi Toko Djawa untuk menyambung waktu.

Tentang Bandung : Rela Mengantri Demi Dim Sum Enak di Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Atas usulan itulah, akhirnya saya ke Kopi Toko Djawa yang dimaksud. Gak perlu keluar lagi karena langsung terhubung oleh pintu tanpa pembatas tadi. Satu pemandangan baru kemudian menyergap indera penglihatan saya. Persis di dekat pintu, tepatnya di sisi kanan, ada satu konter khusus yang melayani para tetamu. Di sini selain beberapa tanaman, beberapa lampu sorot, dan lampu-lampu bulat gantung, ada dua petugas yang luar biasa sibuk melayani permintaan customer yang sudah mengantri panjang. Baik untuk minuman maupun aneka penganan yang disusun di dalam sebuah kotak kaca.

Di titik ini nafas kehidupan Kopi Toko Djawa terlihat begitu dominan. Selain mesin pemroses kopi, tersedia juga aneka roti yang melengkapi waktu-waktu berharga untuk menyesap wanginya kopi. Ini nih tadi yang sempat tercium dan terdeteksi oleh radar pemikiran saya. Saat saya melangkah ke depan, terlihat tulisan-tulisan cantik yang memperlihatkan beragam jenis roti yang bisa kita beli. Di samping juga tersedia berkotak-kotak kopi dengan penamaan yang tertulis di bagian depan kotak tersebut. Penyusunannya menarik banget. Meski kecil dan padat dengan ruang gerak yang (sangat) terbatas, semua terlihat tertata dengan baik dan fungsional.

Di lantai bawah ini, saya merasakan ambience tempat nongkrong yang asik banget. Pewarnaan ruangan juga membumi. Tersedia bangku panjang tempat menunggu, meja-meja kayu yang sudah divernis yang salah satunya diberi taplak kain tenun. Di salah satu sudut ada sebuah rak dinding besi hitam tempat menaruh banyak buku yang bisa kita pinjam. Tanaman-tanaman gantung pun ditaruh di sini. Satu kondisi yang membuat Kopi Toko Djawa semakin terlihat natural dan menyatu sempurna dengan warna alam yang menyelimuti kedai. Di sisi paling ujung, ada juga ruang makan dengan sentuhan interior design yang sama dengan bagian depan kedai. Karena cukup tertutup, di sini sepertinya cocok buat diskusi, ngobrol lebih private, atau bahkan bekerja. Asik juga kali ya menulis di ruang makan ini. Ruangan semi kedap suara. Tenang dan sedikit menjauh dari kesibukan yang tercipta di bagian depan.

Saya langsung membayangkan punya satu waktu khusus untuk ngopi, makan roti sembari membaca atau bekerja di laptop. Bisa jadi dengan nuansa yang tercipta, bisa lahir banyak tulisan, atau setidaknya produktif dalam bekerja. Tempat senyaman dan seestetik itu biasanya mampu mendorong kita untuk (lebih) konsentrasi bekerja.

Tentang Bandung : Bakmi Ayam dan Bakso Goreng Anugerah. Kuliner Kaya Rasa dari GOR Pajajaran Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Tentang Bandung : Nikmat Serundai Hidangan Hachi Grill Sutami Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sebelum melangkah keluar Kopi Toko Djawa, saya sempat memotret secuil bagian dalam kedai dari sebuah pintu masuk yang unik dengan wall mural kecil. Tadi pun saya juga memperhatikan ada sebuah pintu yang memperlihatkan sebuah tangga untuk menggapai lantai atas kedai. Pengen sih melangkah ke sana dan menengok apa yang ada di atas. Yang saya asumsikan adalah sebuah ruang yang cukup luas dengan jumlah meja dan kursi yang lebih banyak dari lantai bawah. Tapi si bungsu mengajak saya untuk berpindah tempat, ingin mencari sebuah counter khusus yang menjajakan ice cream, yang sudah lama dia incar.

Saat berada di luar, persis di sidewalk depan Kopi Toko Djawa, sayang melihat sebuah papan yang cukup menarik perhatian. Di papan itu tertulis “Kopi. Kue. Buku. Toko. Braga.” Empat elemen yang mewakili apa yang bisa kita dapat saat mengunjungi Kopi Toko Djawa. Termasuk salah satunya, dan yang menurut saya menjadi unsur terpenting adalah bisa memiliki waktu khusus untuk sesaat menyesap wanginya kopi saat berada di Braga, Bandung.

Ada tiga filosofi kopi yang terus saya ingat. Pertama, kopi merupakan karya yang bernilai, dihasilkan dari sebuah proses yang panjang dan bukan instan. Kedua, kopi merupakan penyemangat. Ketiga, kopi merupakan pengikat rasa.

Untuk saya pribadi, kopi adalah bagian dari sejarah hidup sebagai seorang anak berdarah Sumatra dengan garis keturunan yang adalah daerah produsen kopi. Kopi hitam adalah favorit saya. Salah satu surga dunia adalah menikmati secangkir kopi hitam dengan sesendok kecil gula dalam kondisi sehat.

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

25 thoughts on “Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung”

  1. Kopi, kue dan buku.
    Beneran paduan yang pas buat pecinta bacaan ya mbak.

    Dari kopi Djawa langsung ada tembusan ke toko Kue Lakker, bahkan keduanya saling merekomendasikan. Kerja sama yang bagus ini.
    Jadi ingat kalau di pasar, pedagang dengan dagangan yang sama, tak ada persaingan. Bahkan kalau dagangan X di penjual A habis, dia tetap menawarkan pada pembeli, kalau ada yang tertarik untuk beli, akan diambilkan dari penjual B.

    Reply
    • Iya Mbak Nanik. Mereka tuh sebenarnya saling melengkapi. Kue-kue di Toko Kue Lakker itu sedap bener kalo sembari ngopi. What a perfect combination lah pokoknya.

  2. kemarin pas aku ke Bandung, Braga cuma dilewati. Entah kenapa Braga sekarang area yang semakin ramai dan kurang nyaman buat singgah wkwk..

    Aku minum kopi Djawa ini di Pasar Cihapit, suasana lebih tenang.

    Reply
    • Setuju Ded. Braga sekarang sudah hiruk pikuk luar binasa. Kebersihan dan kerapihannya menurun. Satu yang paling mengganggu adalah parkiran motor di bahu jalan. Bikin susah untuk motret dan menghasilkan foto yang apik.

  3. Baru ngeh kalo Toko Djawa juga nyediain kopi dan camilan
    Rupanya Toko Djawa paham, harus berevolusi agar tetap eksis
    Saya sendiri kalo ke Braga biasanya berlama-lama di toko roti Sumber Hidangan
    Berlama-lama membayangkan para noni Belanda nongki-nongki cantik di sepanjang jalan Braga
    Sayang pemda gak berusaha agar jalan Braga terlarang untuk mobil
    dan menyiapkan jalan-jalan alternatif di sekelilingnya

    Reply
    • Iya Mbak makanya dinamakan Kopi Toko Djawa. Sumber Hidangan kalo gak salah ada di paling ujung ya Mbak. Dekat Circle K. Enak juga sih makanan dan camilan di sana. Dan bener. Saya juga berharap Braga lebih dijaga kebersihan, keindahan, dan penataannya. Akan lebih cantik dan terurus jika memang bebas dari kendaraan. Terakhir saya ke sana pemandangan paling parah dan bikin ilfil adalah parkiran motor yang makan jalan, bertumpuk tidak keruan. Sangat mengurangi estetika serta keunikan Braga. Semoga pemkot setempat aware akan ini dan segera melakukan tindakan pengaturan semestinya.

  4. selain Google Maps, juga bisa pakai aplikasi Waze, mbak
    Biasanya saya pakai ketika transportasi online atau anak saya kebingungan arah

    Bandung emang surganya ngopi-ngopi ya
    Sesuai dengan budayanya, ada istilah opieun yang artinya malah bukan kopi tapi kudapan penyerta kopi (atau malah bisa teh)
    Tapi tentunya hanya Urang Sunda asli yang mengenal opieun

    Reply
    • Iya Mbak. Menyesap kopi seperti sudah jadi budaya nusantara. Hampir di setiap daerah punya keunikan ngopi sambil menikmati kudapan khas daerah tersebut. Aaahh nanti tak tanya suami apa artinya opieun hahaha.

  5. Jalan-jalan di sepanjang jln Braga tuh menyenangkan, tata ruangnya teratur dan rapi (terakhir kesana beberapa thn lalu) konsep toko2 yg memanjang di sepanjang jln tuh juga estetik.
    Blm pernah mampir ke Kopi Toko Djawa tapi dari temen yg pernah kesana kopi awan nya enak. Agak penasaran sih, konsep kedainya juga vibes vintagenya cukup terasa

    Reply
    • Sentuhan vintagenya memang terasa banget karena memang menggunakan bangunan zaman kolonial Belanda. Saya berharap Braga bisa lebih rapi dan bersih serta bebas dari parkiran kendaraan – khususnya motor – supaya lega dan lowong untuk merekam keindahan Braga.

    • Betul. Salah satu sudut bangunan Eropa dari Hindia Belanda yang masih dilestarikan. Tegel lama memang. Terlihat masih kuat juga. Dulu, rumah instansi tempat alm. Ayah saya bekerja di Medan juga seperti ini. Rumah peninggalan Belanda dengan kualitas bangunan yang luar biasa kokoh. Tegelnya mirip seperti ini.

  6. Saya juga sering ke Bandung, Mbak. Dan perasaan itu jalannya muter-muter. Naik ojek saja saya masih bingung, jadi belum bisa jalan sendiri. Solusinya naik bandros hehehe. Dan sepertinya pernah lihat Toko Jawa Braga Bandung ini. Tapi memang kalau tempat nongkrong di Bandung asyik-asyik dengan suasana yang menyenangkan. Sedia buku bacaan juga. Cuma kayaknya harus diperbaharui bacaannya ya.

    Reply
    • Iya Mas Bambang. Jalanan di Bandung memang gak mudah dihafal. Saya meski termasuk sering ke Bandung, tetep aja gak gampang mengenali setiap sisinya. Masih banyaknya bangunan2 zaman Hindia Belanda, bikin Bandung tetap cantik. Semoga bisa dan selalu dirawat agar tetap lestari.

  7. Wah, konsep Kopi Toko Djawa Braga Bandung asik banget ya mbak Annie. DI satu tempat kit abis amenikmati berbagai aktivitas jadinya, mulai dari minum Kopi. menikmati Kue, baca Buku dan menikmati atmospher dan layout Toko yang asik banget. Braga.

    Reply
  8. Nah kan tebakan ku pas nih seperti yang Bu Annie bilang, aromanya bakalan seger deh antara roti dan kopi. Ini jadi dua pasangan tak terpisahkan yang memang enak disantap dan seruput

    Reply
  9. Membaca bagian ini:

    Saya langsung membayangkan punya satu waktu khusus untuk ngopi, makan roti sembari membaca atau bekerja di laptop. Bisa jadi dengan nuansa yang tercipta, bisa lahir banyak tulisan, atau setidaknya produktif dalam bekerja.

    Langsung teringat diri sendiri, yang saat butuh konsentrasi bekerja, pasti melipir ke tempat ngopi favorit. Ditemani secangkir kopi, aroma kopi, sendiri, mendukung sekali untuk menyelesaikan tulisan di blog. Kadang tektokan juga dengan waktu pas anak-anak sekolah, suami ngantor, ya saya ke sini. Hehehe. Emang senyaman itu sih.

    Reply
  10. Waaa unik banget ada pintu tanpa sekat yang menghubungkan dari Toko kue Lekker ke Kopi Toko DJawa. Jadinya habis belanja oleh-oleh langsung bisa ngopi. Mana tempatnya Kopi Toko Djawa estetik juga dan bisa sambil pinjem buku buat dibaca di tempat ya kak. Beuh surga banget

    Reply
  11. Sepertinya pemkot BDG kudu belajar dari pemkot Jogja yg mengelola malioboro….atau pemkot Sby yg kelola jalan tunjungan.
    parkir kendaraan diatur sedemikian rupa, supaya engga menuh2in jalan.

    hmmm moga2 semester 2 th ini aku ada rezeki ngeBandung.
    mupeeenggg bgt wiskul sepuasnyaaaaaa

    Reply
  12. Wah asyik banget datang kesini
    Nggak hanya menikmati kopi, tapi juga ada kue ya
    Interiornya juga estetik
    Bikin betah lama nongkrong disini ya mbak
    Apalagi buat pecinta kopi

    Reply
  13. Aku pernah kesini juga ini di Braga kan, estetik yaa ini tempatnya plus kopinya juga oke sih kalo aku, duh Bandung emg bikin kangen

    Reply
  14. Kalau penampilan dari tampak luar, Kopi Toko Djawa Braga Bandung ini sederhana banget yaa..
    Aga jomplang sama sebelah sebelahnya yang modern. Tapi karena ini lokasinya di Braga, jadi masih berasa vintage-nya.

    Nyetir di Bandung tuh kota paling enak dan nyaman, ka Annie.
    Hehehe, orangnya sabar-sabar.. meskipun memang jalannya kadang mbuletisasi terutama daerah Jalan Jawa, Lombok, Riau, dkk ituh..
    hehehe..

    Reply
  15. Mba Annie ini kalau cerita jago bener deh, aku jadi berasa ikut mencium aroma kopi di dalam Toko Kopi Djawa ini, asik, hahaha. Apa karena udah kangen juga menyesap kopi di tengah ruang yang cozy seperti itu, hening, tenang. Sayangnya perut ini udah gak bersahabat dengan kopi, huhu

    Reply

Leave a Comment