Mendapatkan kesempatan berkunjung ke Tidore/Kepulauan Tidore itu seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Sesuatu yang sepertinya sulit diwujudkan karena letaknya yang sangat jauh dari tempat saya tinggal, dan hampir tak pernah mendapatkan atau mendengar promosi wisata tentang kepulauan ini.  Jadi ketika teman crafter saya, Anita Gathmir, bercerita panjang lebar mengenai obsesinya untuk “lebih mengenalkan” kota seribu masjid ini ke publik, saya langsung menyambut dengan semangat 45.

Meeting awalpun kami adakan di FOLA BARAKATI (Rumah Yang Terberkati) milik Anita, di daerah Cibubur dengan tim inti yang berjumlah 6 (enam) orang termasuk Anita dan suami.  Dari obrolan panjang sekaligus melihat beberapa foto, video dan slide koleksi pribadi, rasa cinta tanah airpun membuncah di dada. MasyaAllah, ternyata Allah mewariskan salah satu lukisan alam yang indah di Tidore.  Anita, yang adalah salah seorang putri daerah, begitu concern akan perkembangan wisata kota kelahirannya, yang dirasa lambat dan semakin meredup terkikis waktu.

Diskusi demi diskusi berlangsung secara bertahap.  Pertimbangan apa dan bagaimana bentuk aksi nyatapun dilakukan berkali-kali, hingga akhirnya kami memutuskan untuk fokus mengedepankan kegiatan yang melibatkan para TRAVEL BLOGGER dengan mengadakan LOMBA MENULIS BLOG TENTANG TIDORE (VISIT TIDORE) yang bertemakan TIDORE UNTUK INDONESIA Pilihan ini kami rasa tepat mengingat pesatnya pengaruh sosial media dan tentu saja dengan melihat betapa besar pengaruh para Travel Blogger dalam dunia pariwisata di Indonesia.  Selain itu, bergerak “sendiri” tanpa menunggu bantuan Instansi manapun pada akhirnya wajib memperhitungkan kemampuan diri sendiri termasuk urusan pendanaan yang menjadi pertimbangan utama.

Dengan mengucapkan Basmallah didukung dengan keinginan kuat mengangkat TIDORE KEPULAUAN sebagai salah satu tujuan wisata yang menjanjikan, kami bergerak dan terus bergerak tanpa henti, tanpa lelah.

Melanjutkan technical meeting yang sudah kami lakukan, langkah selanjutnya adalah merasakan sendiri aura Tidore dengan cara tinggal di sana langsung sambil membungkus apa yang sudah disediakan alam dalam berbagai bingkai foto.  Terutama untuk saya yang memang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kepulauan ini. Sayapun berangkat dengan Gathmir (suami Anita) dan 2 (dua) orang photographer melengkapi keluarga Anita yang sudah lebih dulu berada di sana.

Sabtu, 24 Desember 2016, Burung besi Batik Air membawa kami mengudara dari Soekarno Hatta sesudah subuh. Terbang 2 jam Jakarta – Makassar dilanjutkan dengan bonus 2 jam Makassar – Ternate, memanjangkan kegiatan menjahit mata yang sempat terpotong.  Berangkat pkl. 02:00 pagi dan bangun 1 jam setelah tengah malam, memaksa saya nyaris tidak tidur malam itu. Bukan karena grogi akan terbang jauh dari sisi barat menuju sisi timur Indonesia, tapi karena biasanya memang setelan mata baru menyentuh alam mimpi pada saat hari berganti.

Layar video yang ternyata rusak selama terbang dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Sultan Hasanuddin di dalam pesawat, nyatanya tidak mengganggu dan mengalahkan rasa kantuk yang tak tertahankan.  Terbangun untuk sarapan nasi, salad, kue dan ikan goreng, malah memberikan supply tambahan kelopak mata yang terus ingin tertutup.  Yasudlah, mari melayang ke alam mimpi sampai Sulawesi.

Mendarat di bandara Sultan Hasanuddin – Makassar dengan proses turun pesawat, lapor transit, buang hajat, dan antri kembali untuk ke ruang tunggu berikutnya, ternyata memakan waktu lebih dari 1jam. Waktu transit 50menit, nyatanya membuat kami harus lari terbirit-birit dipanggil untuk boarding, demi meneruskan perjalanan ke Ternate dengan aircraft yang berbeda.  Olah raga pagi  yang tidak terduga.  Selamat untuk Batik Air yang sudah berhasil membuat saya ngos-ngosan di pagi hari dan gak bisa melanjutkan upacara tutup mata dalam 2 jam berikutnya menuju Ternate karena keringat yang mulus mengalir sekujur badan.

Bandara Sultan Babullah di Ternate. Berada di bibir pantai dengan berbagai pulau mengelilingi. Indah tak terkira

Tiba dengan selamat di bandara Sultan Babullah TERNATE, dijemput mobil yang sudah dipersiapkan, perjalanan kami lanjutkan selama 30menit kedepan menuju Pelabuhan Bastiong Ternate.  Sambil menunggu persiapan loading barang-barang di dalam speed boat menuju Pelabuhan Rum di Tidoresaya sempat merekam keindahan Pelabuhan Bastiong dalam berbagai bingkai foto.

Pelabuhan Bastiong Ternate

 

Pelabuhan Bastiong Ternate

Selama 6 (enam) hari kedepan, saya berhasil mengumpulkan puluhan foto-foto cantik dibantu dengan kedua rekan, Abdi dan Ade.  Foto-foto inilah yang nantinya akan menjadi bahan tulisan para peserta lomba Menulis Blog Tentang Tidore.  Selain akan dibagikan melalui IG : visit.tidoreisland, rekan-rekan travel blogger juga diperkenankan surfing ke IG saya : annie_nugraha atau Facebook saya: Annie Nugraha.

Pelabuhan Kesultanan Tidore di Tanjung Soasio

Bagaimana menulis tentang sesuatu yang kita sendiri belum merasakan? Justru disanalah tantangan Lomba kali ini. Hasil jepretan kami dari berbagai tempat cantik di Tidore akan dipersiapkan semaksimal dan seindah mungkin, agar para peserta lomba dapat merasakan aura keindahan spot-spot wisata dalam rangkaian kalimat-kalimat yang juga sama indahnya.

Fokus penulisan pun tidak kami batasi sepanjang tulisan tersebut masih mengenai Tidore Kepulauan.  Bisa jadi membahas wisata daratan, seperti gunung, benteng, ataupun tentang makanan-makanan khas.  Bisa juga membahas mengenai wisata perairan, seperti snorkling, diving, tanjung/pelabuhan atau pulau-pulau kecil yang secara administratif masuk dalam Tidore Kepulauan.  Atau membahas mengenai wisata-wisata sejarah karena menurut dokumentasi Tidore sempat beberapa kali dijajah oleh Spanyol, Portugis, dan Jepang, selain oleh Belanda.  Terbukti dengan adanya Benteng Tahula yang dibangun oleh Portugis yang berada paling menjorok ke laut dan Benteng Torre yang adalah hasil pekerjaan Spanyol.

Dari berkunjung ke pasar tradisional aja, banyak banget materi yang bisa diangkat karena keunikan-keunikan khas Tidore yang tidak kita temukan di pasar-pasar tradisional daerah lain.  Seperti kangkung berdaun lebar, potongan sagu dari pohon sagu, rokok tradisional yang masih dilinting manual, bahkan ketemu dengan banyak bentor (becak motor) yang jadi alat transportasi darat andalan selama di Tidore.

Untuk membantu teman-teman dalam menulis, semua hal-hal yang sekiranya menarik, akan saya bahas satu persatu dalam tulisan yang berbeda-beda

Bagaimana dengan persyaratan lomba?

Semua persyaratan akan diuraikan panjang lebar pada saat BLOGGER GATHERING atau LAUNCHING PROGRAM LOMBA MENULIS BLOG yang akan diadakan di FOLA BARAKATI pada Minggu, 12 Februari 2017.

Undangan selain akan diberikan kepada Travel Blogger juga akan diberikan kepada awak media dan masyarakat umum yang berminat mengikuti lomba ini.  Diharapkan dengan semakin tingginya antusiasme terhadap program ini, kami dapat menyaring sekian banyak tulisan-tulisan yang berkualitas untuk perkembangan wisata Tidore Kepulauan pada khususnya dan kecintaan akan tanah air Indonesia pada umumnya.

Apa hadiah yang didapat dari lomba?

Panitia akan memilih 5 (lima) orang pemenang yang kesemuanya akan diajak BERWISATA KE TIDORE selama kurun waktu 6 (enam) hari 5 (lima) malam, GRATIS ALL IN (tiket, penginapan, konsumsi, dan transportasi selama berada di dalam program perjalanan), dengan program perjalanan yang sudah disusun oleh Panitia.  Biaya-biaya perjalanan yang menjadi tanggungan panitia adalah tiket pesawat, transportasi selama berada di Tidore (dalam rangka program) dan konsumsi yang sudah disediakan oleh Panitia.

Para pemenang akan menemani Tim Inti yang berjumlah 6 (enam) orang termasuk saya untuk menjelajah SEMUA titik wisata yang terurai di bawah ini.

 

Selamat mengikuti Lomba. Semoga Anda terpilih dan menjadi salah seorang saksi perayaan/peringatan berdirinya Tidore sebagai bagian dari sejarah yaitu HARI JADI TIDORE Ke 909 DI BULAN APRIL 2017!!

Short video mengenai keindah Pulau Maitara yang berhasil saya rekam dari Puncak Jaya Tidore. Silahkan klik disini