Home Blog

Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung

26
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung

Siapa sih yang gak suka dengan mie bakso, mie ayam atau bakso nya aja? Sejauh pengalaman kuliner bareng sekian banyak orang, semua menu yang berhubungan dengan ketiga sajian yang saya sebutkan tadi, tumpah ruah penggemarnya. Banyak penggilanya malah.

Contoh tersempit di kompleks saya deh. Ada abang-abang bakso dorongan yang nangkring di salah satu sudut ruko. Tempatnya gak luas. Cuma ada 2 meja dengan 4 bangku panjang. Tapi yang ngantri. Alamak. Dengan keterbatasan seperti itu, sebagian besar pelanggan, saya perhatikan, lebih suka takeaway ketimbang dine-in. Apalagi di musim pandemi seperti ini. Meski terlihat berkurang tapi tetap aja gak berhenti orang mampir dan bungkus.

Itu baru satu contoh ya.

Ada lagi yang berada di luar kompleks. Kalau di atas sekelas abang dorongan, yang satu ini punya resto seukuran 2 ruko, berada di pinggir jalan besar, tapi olahannya tetap di dorongan/gerobak. Yang disajikan juga bukan cuma bakso. Tapi juga berbagai jenis mie ayam dengan topping yang bervariatif termasuk pilihan jenis bakso yang banyak banget. Ada yang isi telor (1 telor utuh), daging polos, daging urat, isi keju, dan masih banyak lagi. Meski diterpa isu memakai penglaris, mie bakso yang satu ini punya pelanggan yang tidak sedikit dan tetap eksis hingga saat ini.

Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung

Menemukan Mie Baso Ramdhan Lewat Google Maps

Saya sedang menikmati potongan burger yang tebal dan nikmat di Justus Steak House, Mall Festival City Link, saat suami menginformasikan bahwa berdekatan dengan Hotel Santika Pasir Koja yang berada di seberang mall dan akan kami inapi, ada sebuah resto dengan menu serba mie yang ratingnya di Google Maps lumayan tinggi. Setelah sempat melirik sebentar ke beberapa foto, kami pun bersepakat untuk makan malam disana.

Baru juga mulai makan siang udah mikir aja strategi makan malam. Demi apa coba? Entahlah. Menikmati obrolan aneka ragam antara pasutri tuh terkadang gak perlu alasan tertentu. Ya gak sih?

Baca juga: SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

Obrolan tentang resto ini pun bersambung tatkala kami gegoleran di kamar hotel. Melihat saya sudah bebersih diri, suami menawarkan solusi untuk kesana sendirian, membungkus dan makan di kamar hotel saja. Saya langsung menyetujui sebelum akhirnya tepar dengan damainya. Menikmati kasur empuk, suhu ruangan yang pas dan mengistirahatkan diri sementara jadi prioritas dulu.

Tapi entah kenapa, salah satu postingan di Google Maps yang sempat saya lihat tadi, merasuk dalam pikiran dan mampu membuat saya merubah keputusan. Ya kali sampe kepikiran sedemikan rupa. Alih-alih kepengen makan di kamar aja mendadak berubah. Saya berganti baju baru (taela), berdandan ala kadarnya seperti biasa, dan bersegera menggandeng suami yang sudah siap lebih dahulu.

Ternyata penempuan di Google Maps sungguh menginspirasi pada akhirnya.

Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung

Cuma butuh waktu 5 menit berjalan kaki untuk sampai di resto ini. Jaraknya dari hotel, seperti yang disampaikan suami, hanya 100m dengan sebuah lahan kosong diantaranya. Ruang makannya berada di bagian terdepan dari sebuah rumah mewah berlantai 2 yang kalau saya tidak salah menghitung luasnya sekitar 500 hingga 800 meter sampai bagian belakang.

Di teras depan inilah ada lumayan banyak meja untuk para tetamu. Beberapa kulkas dan pendingin khusus bahan mentah serta ice cream. Space khusus untuk kasir dan dagangan lainnya (seperti kopi, teh, dll). Open space kitchen. Lalu ada toilet dan musholla. Serta ruang kecil untuk para staff beristirahat. Dan yang paling menarik adalah sebuah kolam kecil berpagar hitam yang di dalamnya ada belasan ikan koi yang gemuk-gemuk, besar dan terlihat sehat.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan memesan Mie Yamin manis untuk saya, Mie Yamin asin untuk suami, 1 mangkok pangsit rebus dan 1 porsi bakso goreng. Lalu untuk minuman, saya memesan 1 gelas tinggi es jeruk kelapa dengan gula terpisah sebagai penawar udara yang (tetap) panas di malam itu, dan teh hangat untuk suami.

Mie Yamien yang pas dengan selera saya adalah yang versi manis. Karena sejatinya konsep mie yamien adalah versi mie ayam biasa yang kemudian dilamur atau dilumuri dengan kecap manis. Penggabungan yang sempurna antara asin dan manis yang bikin candu. Jadi setiap bertemu mie yamien saya selalu memesan yang manis tanpa ragu. Mie ini biasanya hanya dilengkapi dengan suwiran daging ayam (yang juga manis) serta potongan daun bawang yang lumayan banyak. Sesederhana itu tampilannya. Begitupun yang dihidangkan oleh resto ini. Tapi jangan salah. Tampilannya yang simpel berbanding terbalik dengan rasa lezat yang saya nikmati. Dugaan saya sih, mie mentahnya mereka bikin sendiri. Karena tekstur, kekenyalan dan kenikmatannya berbeda dari mie kebanyakan. Suami sampe heran melihat saya makan dengan semangat dan mampu menghabiskan semangkok penuh tanpa memerlukan bantuannya seperti biasa. Apalagi saat itu saya juga memesan seporsi bakso goreng (isi 4) sebagai pelengkap hidangan.

Kelaparan? Gak juga. Semua mampu saya tandaskan karena memang rasanya jempolan. Dan kebetulan pulak saya sudah berapa masehi tidak mengkonsumsi mie yamien.

Yang menjadikan makan malam kali itu semakin sempurna adalah kehadiran bakso gorengnya. Renyah sempurna dan dilengkapi dengan bumbu cocolan kental yang sarat dengan rasa lemon. Baru kali itu saya merasakan cocolan seperti itu. Enak banget deh.

Untuk kelezatan dan pengalaman perdana kami di Mie Baso Ramdhan malam itu, kami harus membayar total biaya senilai Rp 121.500,- dengan rincian Rp 29.545,- untuk seporsi bakso goreng, Rp 23.637,- untuk yamien asin, Rp 31.819,- untuk mie yamien pangsit (basah), Rp 22.728,- untuk es jeruk kelapa dan Rp 2.728,- untuk segelas teh tawar panas. Semuanya kemudian dikenakan 10% PB1.

Dalam perjalanan balik menuju hotel bahkan sampai di kamarpun, saya kerap memuji sajian yang barusan kami rasakan. Suami setuju dengan apa yang saya sampaikan hingga kami pun sepakat untuk takeway beberapa item untuk oleh-oleh anak-anak di rumah setelah check-out. Dan buah tangan inipun semakin menyelerakan saat kami menambahkan 2 porsi pangsit goreng yang super enak. Bahkan, menurut saya, lebih enak jika dibandingkan dengan pangsit goreng serupa yang dimiliki oleh sebuah jenama mie ternama di Indonesia.

Baca juga: Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya.
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Bakso goreng dengan cocolan asin manis rasa lemon yang jempolan
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Pangsit gorengnya juga juara. Garing dan sempurna untuk disajikan bersamaan dengan menu mie yamien

Yang Juga Mengesankan Dari Mie Baso Ramdhan

Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung

Setiap tempat yang bisa diakses oleh publik biasanya selalu ingin meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi para pengunjungnya. Apalagi di era kebebasan penyebaran informasi seperti saat ini. Beberapa hal yang sepantasnya mampu mendukung kesan khusus atas sajian yang dinikmati.

Begitupun dengan Mie Baso Ramdhan. Selain open kitchen yang selalu bersih di 2 kali kedatangan kami, tempat ini juga mengajak pengunjungnya untuk mencintai ikan. Kolamnya tidaklah besar. Lebih dari cukup untuk menampung belasan atau mungkin puluhan ikan koi yang gemuk-gemuk dan cantik dengan berbagai motif badan. Pihak resto menyediakan pakan kering seharga Rp 10.000,- jika tamu ingin merasakan sensasi memberikan makan ikan. Yang lucunya, meskipun kita hanya berdiri di pinggir pagar yang membatasi kolam, ikan-ikan yang menggemaskan ini langsung berenang dan mendekati kita. Akan lebih seru lagi kalau kita menyebarkan pakan kering itu dan menyaksikan mereka merapat dengan mulut terbuka dan saling berebutan mendapatkan makanan.

Kegembiraan dan antusiasme yang jarang kita saksikan. Bahkan untuk kami yang juga memiliki kolam kecil di depan rumah dan berisikan sekian banyak ikan-ikan cantik.

Satu hal lagi yang juga mengesankan adalah sebuah papan tulis yang menempel di salah satu sisi dapur. Papan tulis ini berisikan informasi tentang protokol kesehatan yang menjadi acuan resto, juga info mengenai pegawai yang sedang bertugas. Nama serta juga suhu tubuh mereka yang menandakan bahwa mereka dalam keadaan baik serta sehat. Hal kecil yang jadi perkara penting menurut saya. Setidaknya we feel safe and understand that they care.

Saat kembali untuk sekian banyak bungkusan sebagai oleh-oleh untuk anak-anak di rumah keesokan harinya, saya menyisipkan janji untuk menuliskan review singkat berisi dan beberapa foto ciamik untuk resto yang satu ini.

Dan saya menepati janji itu.

Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Baca juga: Merasakan Masakan ala Timur Tengah di ABUNAWAS BALI. Lezat Makanannya. Cantik restonya.

Galeri Foto

Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung
Menikmati Salah Satu Mie Yamin Terenak di Mie Baso Ramdhan, Pasir Koja, Bandung

#MieBasoRamdhan #KulinerBandung #MieYamien #MieBaso #BandungCulinary #RestoDiBandung #ExperienceBandung #VisitBandung

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

30
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

Dua kata yang pas buat buku ini: SAYA BANGET!!

Sudahlah sama-sama punya mimpi berkunjung ke Korea Selatan eh ternyata Rein dan saya adalah ARMY. Panggilan khusus untuk para penggemar (baca: pemuja) Bangtan Sonyeondan (BTS). Bedanya adalah Rein sudah sukses menginjakkan kaki disana berulangkali sementara saya belum pernah sekalipun (hingga tulisan ini dibuat). Rein sudah pernah nonton langsung konser BTS sementara saya (lagi-lagi) belum sekalipun. Kecuali nonton konser yang diadakan on-line beberapa waktu lalu.

Jadi saat sampai di halaman tertentu yang menyentuh soal BTS, saya langsung tambah semangat membaca dan turut larut dalam setiap cerita sampai di akhir buku yang sungguh mendebarkan. Kok ya pas pula, tempat-tempat yang diceritakan adalah destinasi yang ingin banget saya kunjungi. Dan itu sudah terbayangkan sejak saya menonton KDrama Winter Sonata yang fenomenal itu. Tahun berapa itu ya? Awal 2000-an kalau gak salah. Intinya adalah sungguh terpikat untuk menjelajah negeri ginseng karena berawal dari visual yang didapatkan dari sekian banyak drama korea. Bahkan hingga saat ini.

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

Lugas dan Informatif

Buku 194 halaman ini berisi 7 bagian tulisan. Ketika Kesempatan Itu Datang. Incheon to Busan, The Adventure Begins. Busan, City of Tomorrow. Gyeonggi, City of Nature. Seoul, City of Soul. You Only Live Twice dan Sayap Terakhir. Sebuah perjalanan selama 10 hari yang dilengkapi dengan foto-foto dan beberapa lembaran khusus yang berisikan tip dan trik perjalanan ke Korea Selatan, do and don’t yang wajib kita pahami, referensi kunjungan, konsumsi dan akomodasi. Satu paket yang sungguh sangat kita butuhkan saat negara atau tempat yang ingin kita datangi itu bagaikan hutan cantik di tengah jutaan referensi.

Terus terang, saya lebih percaya dengan tulisan jujur seorang pejalan dan mengalaminya langsung ketimbang informasi yang disampaikan lewat seorang petugas travel agency yang menceritakan sebuah tempat tanpa melibatkan rasa dan apa yang sudah dia alami sendiri di tempat tersebut.

Rein tak hanya mengulas tentang indahnya berbagai destinasi impian pelancong tapi juga bagaimana dia berdamai dengan kondisi lelah selama 10 hari perjalanan tersebut pun dengan Yul, teman seperjalanan, yang belakangan saya tahu adalah seorang laki-laki (karena mereka selalu berpisah kamar). Termasuk diantaranya adalah tidak memaksakan fisik harus ini dan itu atau terikat dengan jadwal yang mengikat.

Keputusan untuk backpacker dengan menggunakan transport umum, tinggal di guest house, berbagi kamar tidur dan kamar mandi, tentulah telah sangat menguji kesabaran dan ketelitian. Tapi jangan salah. Perjalanan tipe begini justru melahirkan banyak kisah dan pengalaman. Rein dengan lugas tak segan untuk menuangkan isi hati tanpa takut pembaca akan melabel buku ini sebagai diary pribadi semata.

Bagaimana dia bertemu dan berbagi cerita dengan para penginap dari berbagai negara juga menurut saya sungguh mengasikan. Jadi teringat kalau saya pernah mengalami ini waktu berada di Bangkok. Tinggal di sebuah guest house yang apik dan saat itu dihuni oleh berbagai tamu dari beberapa negara. Pertemuan-pertemuan disaat makan atau sekedar ngopi/ngeteh sambil ngemil pun mampu melahirkan keakraban. Banyak yang saya dengarkan, juga banyak hal yang saya bagikan untuk mereka. Begitulah sejatinya salah satu makna sebuah perjalanan.

Oke. Kembali ke buku Korea Wanderer.

Rein dari awal sudah berbagi banyak sekali informasi yang, menurut saya, bisa dijadikan referensi jika hendak berwisata ke Korea Selatan. Diantaranya adalah 3 guest house yang dia tinggal di 3 kota (Kimchee Busan Guesthouse di Busan, Egg House Namisum di Gyeonggi dan Seoul Pencil Hostel di Seoul). Dua penginapan pertama dipilih dengan mempertimbangkan harga yang murah dan akses yang mudah. Sementara untuk yang di Seoul dipilih karena menawarkan konsep yang menarik. Meskipun lebih mahal tapi Rein bisa merasakan penginapan dengan nuansa tradisional Korea dan bisa benar-benar istirahat dengan lebih nyaman di persinggahan terakhir.

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

Beberapa Tempat yang Masuk Wish List Saya

BUSAN. City of Tomorrow.

Jembatan Gwangandaegyo yang terkenal dengan pemandangan yang super indah di malam hari. Sambil menikmati banyak sajian food truck sembari berkelana dalam kehidupan malam yang disajikan di area Pantai Gwangalli. Terus terang saya belum pernah benar-benar merasakan berada di tengah kepungan food truck dalam jumlah yang banyak/besar. Dan sudah terbayangkan bagaimana maruk dan peningnya nanti harus lebih dulu makan atau minum apa. Atau bagaimana mengatur diri untuk bisa menikmati semuanya tanpa harus pingsan kekenyangan.

Kemudian Taejongdae Resort Park. Naik kereta Danubi dengan 5 pemberhentian yaitu Taejongsa Temple, Observatorium, Yeungdo Lighthouse, Gumyeongsa Temple dan Taewon Jagal Madang. Melihat pemadangan laut biru yang sempat dipotret Rein dari Observatorium sungguh menggugah saya untuk berada disana. Sementara untuk Yeungdo Lighthouse. Wah saat tahu harus mondar-mandir lewat ratusan anak tangga, kayaknya perlu saya pertimbangkan kembali. Secara, selain petir, tangga adalah satu hal yang paling saya segani di dunia (ngetiknya sambil tarik napas). Sayang dong sudah jauh-jauh ke negeri orang tapi melewatkan sesuatu yang berkesan atau fenomenal. Entahlah. Mungkin kalau teman seperjalanan mau membesarkan hati saya untuk berjuang mengalahkan tangga, akan saya pertimbangkan.

Gamcheon Culture Village. Yang dikenal sebagai Machu Picchu nya Busan. Memulai titik perjalanan dari Maru Tourist Information Centre and Observatory yang berada di pintu masuk, para pelancong dapat membeli peta seharga 2.000W sebagai panduan untuk berkeliling Gamcheon. Kebayang nih serunya mengumpulkan stempel di beberapa titik yang telah ditentukan di dalam peta. Bener kata Rein. Kegiatan ini seperti mengumpulkan harta karun. Serunya. Terus ada juga beberapa pos diantaranya akan memberikan kita kartu pos. Bahkan di pos Haneul Maru, pengunjung bisa mendapatkan kartu pos kemudian mengirimkan. Yang terlintas dalam pikiran saya ada 3. Pertama mengirimkannya untuk diri sendiri jika teman perjalanan adalah orang lain (bukan keluarga). Kedua, mengirimkannya untuk suami jika pergi ke tempat ini bersama anak. Ketiga, untuk anak-anak jika perginya bareng suami. Aaahhh bakalan terkenang sepanjang masa itu sih.

Mau belanja? Ah tenang. Rein mereferensikan BIFF (Busan International Film Festival) Square yang menyediakan beragam produk untuk kita adopsi, street food yang berjajar di sepanjang jalan, tempat bermain hingga stan peramal. Berbeda dengan Myeongdong yang didominasi oleh toko kosmetik, outlet di BIFF Square ini lebih bervariasi. Mulai dari tas, baju, sepatu, hingga pernak-pernik lainnya. Jiiaaahh. Feeling belanja langsung melonjak nih kayaknya.

Berikutnya adalah Haedong Yonggungsa. Kuil paling terkenal di Busan dan terletak di pinggir laut. Yang menarik untuk dikunjungi ditempat ini adalah patung emas Budha, 12 patung zodiak yang berderet di dinding menuju kuil utama, kolam permohonan, miniatur patung biksu, Eight Story Pagoda, patung naga dan Daengjeon Main Sanctuary yang merupakan tempat paling tenang. Saya sama seperti Rein. Tidak membatasi diri dalam hal tempat kunjungan. Terutama untuk area ibadah. Justru kadang atau seringnya menemukan ketenangan melihat mereka yang berbeda keimanan bisa beribadah tanpa gangguan. Melihat mereka dari satu jarak tertentu dan mengamatinya bisa menggugah kesadaran akan kayanya cara manusia untuk menyadari kehadiran Sang Pencipta.

The last but the most important part dari kunjungan ke Busan adalah Masjid Busan Al-Fatah. Mengunjungi masjid di sebuah bagian minoritas di sebuah negara, adalah salah satu impian saya. Dan itu sudah saya lakukan di beberapa negara yang sempat saya datangi. Apalagi jika menyempatkan diri setidaknya numpang sholat 2 rakaat. Ada haru menyeruak di dada. Begitupun yang Rein rasakan saat mendengarkan adzan yang dikumandangkan. Nangis, terharu? Siapa yang enggak. Apalagi ini kita berada ribuan kilometer dari rumah. Jauh dari orang-orang tercinta yang disebut keluarga.

Lupakan soal perasaan saya ya. Di dekat masjid ini, Rein bercerita ada sebuah resto yang dijamin kehalalannya. Resto Turki yang bernama Cappadocia Turkish Kebab House. Alamak. Saya mungkin akan kalap kalau di resto kebab.

Not to forget to mention, Busan ini adalah kampungnya Park Ji-min dan Jeon Jung-kook. Tau kan? Duo maknae dari BTS yang lucu-lucu dan berbakat itu.

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

GYEONGGI. City of Nature

City of Nature? Yap. Karena di provinsi ini tempat wisata memang didominasi oleh wisata alam.

Yang sudah terbayangkan akan saya hampiri adalah Jarasum Park. Tempat yang cocok untuk pemandangan langit malam, bebas dari polusi cahaya dan sangat tenang. Dan akan lebih sempurna jika menyempatkan diri untuk menyewa caravan di Jarasum Campground. Asik banget kali ya duduk melamun memandangi keindahan langit. Lalu menikmati bergelas-gelas kopi dan berbanyak nguyah yang enak-enak.

Berikutnya adalah Nami Island. Yang ini kayaknya beneran gak boleh terlewatkan. Apalagi buat saya dan mungkin teman-teman lain yang pernah larut menikmati KDrama Winter Sonata. Di pulau inilah ada Pine Tree Lane. Jalan panjang yang disamping kiri dan kanannya ditumbuhi oleh deretan pohon cemara. Lalu ada beberapa titik atau spot dimana berbagai adegan romantis tercipta dari Winter Sonata dengan waktu terbaik kunjungan adalah saat musim dingin atau musim gugur. Persis seperti dramanya.

Garden of Morning Calm juga masuk nih dalam wishlist saya. Yang sudah menikmati KDrama Love In The Moonlight, sepertinya wajib nih sampe sini. Salah satu tempat terindah di Gyeonggi yang menjadi venue shooting drama yang cukup menyita perhatian para drakor mania.

Oia selama di Gyeonggi kita bisa menggunakan fasilitas Gapyeong City Tour Bus. Bus ini akan berhenti di Gapyeong Rail Park, Nami Island, Petite France dan Garden of Morning Calm. Harga tiket terusannya adalah 6.000W. Worth to try though.

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
Nami Island. Sangat indah dan mengesankan. Wajib nih sampai kesini kalau sudah di Gyeonggi. Photo source: SCMP.com
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

SEOUL. City of Soul

Ibukota yang bukan cuma wish tapi a must visit menurut saya. Dari uraian artikel yang diuraikan oleh Rein di dalam buku ini, berikut adalah some valuable places yang bakal saya hampiri.

Sungai Cheonggyecheon. Meskipun sudah ada Taman Kumbasari, tiruan atau setidaknya mirip seperti sungai ini di Denpasar dan sempat saya buatkan artikelnya, mengunjungi tempat aslinya masuk daftar wajib. Sungai yang terkenal sangat bersih, jernih dengan banyak ikan yang hidup sehat di dalamnya. Sepakat dengan Rein. Buat saya “pemandangan” seperti ini punya kesan yang luar biasa. Apalagi saat mengingat rangkaian kalimat tentang sungai dan dampak lingkungan, “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa ia tidak dapat memakan uang”.

Baca juga: TAMAN KUMBASARI. River Walk Cantik di Tengah Kota Denpasar, BALI

Dongdaemun Design Plaza (DDP). Suka dengan rancang bangun dan dunia arsitektur. Mengunjungi DDP pasti mengasikkan. Bangunan ini rancangannya dipegang oleh Zaha Hadid. Seorang arsitek berkelas dunia yang berdarah Irak dan Inggris. Konsep bangunannya futuristik, mengejawantahkan sejarah, budaya, dinamika perkotaan, sosial dan geliat ekonomi Korea Selatan. Sungguh satu paket kombinasi antara teknologi kekinian dan kearifan lokal. Tempatnya sendiri meliputi 5 bagian utama yaitu Art Hall, Museum, Design Laboratory, Design Market dan Dongdaemun History and Culture Park. Dari penamaannya saja kita pasti sudah paham ya.

Kemudian ada Ilsan Lake Park yang memiliki taman buatan terbesar di Asia. By the way, Rein juga terdorong untuk sampai sini mengingat Ilsan adalah tempat/kota kelahiran Kim Nam-joon. Rapper dan group leader BTS.

Beberapa tempat lain di Seoul yang ingin saya gapai adalah Gyeongbokgung Palace sembari mengenakan Hanbok, baju khas/tradisional Korea Selatan. Terus pengen juga ke N Seoul Tower. Menginjakkan kaki di observatory, tempat dimana kita bisa melihat ke segala penjuru kota Seoul dan meninggalkan jejak cinta di Love Padlocks Area. Pengen banget lah membeli gempok yang besar dan menuliskan nama saya, suami dan anak-anak tercinta. Berdoa agar kami dilimpahkan kesehatan, rejeki dan kebahagiaan dunia akhirat.

Tapi di atas semua tempat yang dituliskan diatas, satu daerah yang sangat ingin saya kunjungi adalah Itaewon. Yup. Bukan hanya karena drama Itaewon Class yang menyemangatinya tapi juga karena Itaewon adalah lokasi yang menerima manusia dari berbagai ras dan negara. Terutama masyarakat muslim yang mendiami dan berkunjung ke Seoul. Karena disinilah berdiri Seoul Central Mosque. Bahkan kita dengan mudah akan bertemu dengan komunitas orang-orang Arab bahkan bisa menikmati makanan khas Mesir yang sudah mendunia yaitu The Halal Guys. The most wanted ini sih. Apalagi setelah melihat peliputannya di Travel Log nya Jung Hae-in dan berbagai channel TV luar negeri.

Belanja barang yang unik dan lucu, shop hopping, street food, menyaksikan street performer dan cafe hopping adalah juga deretan kegiatan yang ingin saya lakukan saat di Seoul. 3 tempat yang direferensikan oleh Rein adalah Hongdae, Namdaemun dan Myeongdong. Tempat-tempat yang juga begitu populer dan sering diliput oleh banyak youtuber.

Menikmati kuliner khas Korea Selatan di Seoul? Ho oh kudu pake banget itu sih. Rein mengusulkan Mok Myeok San Bang. Salah satu resto terbaik di Seoul yang terkenal dengan Bibimbap nya yang super enak. Lebih mahal dibandingkan dengan resto lain yang menyajikan menu yang sama. Tapi kualitasnya bikin kita melupakan banyak lembaran Won yang sudah kita keluarkan.

Mendekatkan diri pada budaya Korea Selatan? So pasti bisa. Adalah Bukchon Hanok Village. Satu dari empat tempat wisata yang direkomendasikan untuk dikunjungi oleh pewisata internasional. Destinasi wisata yang satu ini penuh berisi bangunan tradisional Korea (Hanok) yang dioperasikan sebagai pusat budaya, penginapan, restoran dan tea house (kedai teh). Sempurna. Membaca kompleksnya jenis wisata yang dihadirkan lewati buku ini aja, rasa penasaran saya meluap-luap. Tinggal sehari sampai 3 hari pun rasanya bakal istimewa. Apalagi buat saya si penyuka sejarah dan budaya.

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
Seoul Central Mosque, Itaewon. Photo source: indozone.id

2 Bagian Penutup yang Menyentuh Hati

Di 2 bagian/bab penutup yang berjudul You Only Live Once dan Sayap Terakhir, Rein banyak menghubungkan kekayaan pemikiran pribadinya saat dan setelah merasakan kehadiran Korea Selatan di hati dan relung jiwa. Banyak sekali perenungan yang merasuk kedalam benak dan terpatri dengan erat di sanubari. Banyak quote yang ingin saya bagi disini. Semuanya termasuk apa dan bagaimana Rein mengidolakan BTS. K-Pop yang menghadirkan lagu-lagu bermakna termasuk hebatnya Rein berjuang mendapatkan tiket konser terakhir dari rangkaian Wings Tour dunia dengan sesi terakhir yang diadakan di Seoul. Bahkan saking niatnya dan karena sudah melewatkan episode Wings Tour yang diadakan di Jakarta (karena sedang berlibur ke Korea Selatan di atas), Rein dan seorang temannya bahkan rela menghabiskan dana puluhan ribu Won demi berjumpa dengan 7 orang idola serta menyaksikan penampilan langsung menggetarkan BTS di atas panggung. Daebak!!

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
Bangtan Sonyeondan. Photo source: soompi.com via Pinterest
Baca juga: BANGTAN SONYEONDAN di mata READER’S DIGEST. A Force for Good BTS ARMY
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang
KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

#KoreaWanderer #BukuKoreaWanderer #ReviewBuku #KisahPerjalananKorea #BukuSolo #ReviewBuku

SCARLETT dan TWICE Berkolaborasi? Wah Bakal Seperti Apa ya?

24
SCARLETT dan TWICE Berkolaborasi? Wah Bakal Seperti Apa ya?

Siapa Itu Twice 트와이스 ?

Ada yang suka dengan Girl K-Pop yang cantik-cantik dengan wajah glowing dan tampilan yang bikin mata segar dan body yang bikin kaum hawa sirik? Kalau kamu salah seorang diantaranya, kemungkinan kamu sudah tahu dengan TWICE.

Yup. Girl K-Pop dari Korea Selatan dan debut di 2015 ini baru saja came-back setelah beberapa bulan hiatus karena pandemi. Beranggotakan 9 (sembilan) orang, Im Na-yeon (Nayoen 나연) – Yoo Jeong-yeon (Jeongyeon 정연) – Momo Hirai (Momo 모모) – Sana Minatozaki (Sana 사나) Park Ji-hyo (Jihyo 지효) (leader) – Mina Sharon Myoi (Mina 미나) Kim Dah-yun (Dahyun 다현) – Son Chae-young (Chaeyoung 채영) – Chou Tzu-yu (Tzuyu 쯔위), Twice berada di bawah naungan JYP Entertainment. Salah satu artist label besar yang berhasil melahirkan artis/aktor berkualitas dalam bidangnya masing-masing.

Beberapa lagu dan movie video (MV) mereka yang pernah mencetak hits diantaranya adalah Cheer Up yang released pada 2016 dengan MV yang sudah ditonton sebanyak 50 juta kali. Lalu ada single berjudul TT yang menjadi salah satu Best Performing Song 2016, serta berhasil menduduki posisi kedua dan ketiga di Billboard Chart World Digital Songs dan Billboard Japan Hot 100 di tahun yang sama.

Twice juga beberapa kali tercatat melakukan konser di beberapa kota/negara besar di dunia yaitu 2 kali di 2017, 3 kali di 2018, 2 kali di 2019 dan 1 kali di 2020. Mereka juga pernah meraih penghargaan sebagai Best Female Artist di 2015 Mnet Asian Music Awards dan New Artist Award di ajang 2016 Golden Disc Awards.

Seiring dengan kesuksesan mereka, Twice tercatat 30 kali menjadi bintang iklan (representative) untuk berbagai jenama dan produk di lini kosmetik, produk fashion, minuman dan makanan, games (Nintendo Korea) dan lain-lain. Termasuk diantaranya menjadi “wajah” dari Lotte Duty Free. Rangkaian prestasi dan business contracts yang mendongkrak “nilai jual mereka” dibawah management JYP Entertainment.

Scarlett X Twice – Reveal Your Beauty

SCARLETT dan TWICE Berkolaborasi? Wah Bakal Seperti Apa ya?

Jadi apa nih berita terbaru tentang Twice? Woho. Bakal ada yang seru loh dalam waktu dekat. Yang pasti 9 bidadari Bubblegum Pop asal Korea Selatan dan Jepang ini akan berkolaborasi dengan Scarlett dan mengusung tema Reveal Your Beauty. Seperti apa kerjasama antara dua jenama ini? Saya juga sudah gak sabar nih menunggu info kelanjutannya. Bener-bener bikin penasaran.

Yang pasti dengan bergabungnya Twice sebagai Star Ambassador, Scarlett ingin mengajak para Sahabat Scarlett agar lebih percaya diri untuk menunjukkan versi terbaik diri sendiri. Karena Scarlett percaya bahwa semua orang sejatinya memiliki pesonanya masing-masing dan kita harus bangga dengan apa yang kita miliki.

Ingin tetap up-date akan berita terbaru dari Scarlett? Jangan lupa tune-in semua aktivitas promo Scarlett lewat official IG mereka @scarlett_whitening yang sudah diikuti oleh lebih dari 4.9 juta pengguna media sosial.

SCARLETT dan TWICE Berkolaborasi? Wah Bakal Seperti Apa ya?
SCARLETT dan TWICE Berkolaborasi? Wah Bakal Seperti Apa ya?

#ScarlettXTWICE #RevealYourBeauty

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

26

Setelah 2 minggu yang lalu ke Bandung untuk koordinasi dengan kurir/jasa angkut muatan berat dalam rangka pengiriman motor anak, saya dan suami akhirnya harus balik lagi ke Bandung untuk urusan yang sama. Pertama datang karena harus bertemu dengan supirnya langsung, plus sekalian jalan-jalan memecah kebosanan. Jadi ngajak anak-anak. Tapi di weekend selanjutnya, saya akhirnya pergi berdua saja dengan suami karena si bungsu mau UTS, sementara si sulung sedang banyak tugas kuliah.

Kok gak koordinasi via telepon aja? Gak bisa karena harus serah terima STNK asli sebagai syarat membawa motor via darat. Jadi ya pilihan balik (lagi) ke Bandung adalah yang terbaik dan satu-satunya saat itu. Tapi memang pada dasarnya saya excited bisa balik lagi ke Pasir Koja, Bandung, setelah menemukan banyak hal menarik di sekitar situ, termasuk Mall Festival Citylink, beberapa highly-recommended resto, dan sebuah taman besar yang sayangnya tidak sempat saya kunjungi.

Saya pun merayu suami supaya bisa menginap aja instead of bolak-balik Cikarang – Bandung yang lumayan melelahkan untuk kami. Dan tak disangka hotel yang awalnya saya incar sudah fully booked. Seriously? Suami yang mengatur reservasi pun sama terkejutnya dengan saya. Tapi karena wes kadung pengen nginep, akhirnya kami memutuskan menginap di SANTIKA Hotel yang berada di lingkungan yang sama.

Hotel Bintang 3 yang Bersih dan Nyaman

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Area lobby dan receptionist dengan lantai marmer mengkilat bagai kaca

Suami menemukan Hotel Santika Pasir Koja dan memutuskan untuk melakukan reservasi setelah melihat poin review 8.5/10 (impressive) lewat aplikasi booking on-line. Hotel dengan layanan yang memuaskan banyak orang tentunya. Sementara kalau ditilik dari harga yang kami dapatkan, nilai sewa kamar sudah kembali seperti semula. Saat sebelum pandemi menyebar di tanah air dan pembatasan mobilitas diberlakukan di hampir semua lini, kegiatan dan tempat. The business is coming back as usual.

Selesai makan siang di Festival Citylink Mall yang jaraknya tak lebih dari 300 meter, saya dan suami datang tepat saat jadwal check-in berlangsung. Menunggu sekian banyak tetamu yang juga akan menikmati akhir pekan dan lebih dulu datang, saya menikmati nyamannya udara yang ada di lobby. Ruangan yang tidak terlalu besar ini tampak sederhana dengan beberapa bangku kayu dengan sentuhan rustik dan lantai mamer mengkilat hingga kita bisa berkaca. Backdrop/dinding belakang meja penerima tamunya tampak indah dengan garis-garis kayu tipis yang memberikan kesan luas dan beberapa lampu gantung yang warnanya senada dengan ambience yang ada disana.

Dominasi warna ruangan terlihat lembut dan melahirkan kesan adem. Mengalahkan rasa gerah saat kita berada diluar. Bahkan saat menurunkan koper dari parkiran mobil yang berada persis di depan pintu masuk dan pertama kali menginjakkan kaki di area penerimaan tamu ini, wajah bersih dan nyaman hotel sudah terasa. Saya sangat menikmati waktu menunggu sambil memberikan waktu untuk keringat saya mengering.

Di saat menunggu, saya tersenyum-senyum saat melihat 2 bocah, kakak dan adik, asik memainkan koper cabin saya. Mereka tampak riang berkejar-kejaran dan jejeritan seperti penyanyi yang akan konser di panggung yang luas. Saya cukup memandangi tingkah mereka. Kesal? enggak lah. Been there before. Keseruan sama yang dulu saya rasakan saat anak-anak saya seusia mereka dan kami sering menghabiskan libur akhir minggu dengan menginap di hotel, belasan tahun yang lalu. Sayangnya keriangan mereka berhenti saat salah seorang diantaranya tergelincir di atas marmer yang sungguh terlihat sering dipoles.

Dan saya pun tak dapat menahan ketawa.

Baca juga: JAMBULUWUK Thamrin Jakarta. Staycation ditengah Kerisauan Pandemi

Kamar Tipe Superior yang Suitable Untuk 2 Tamu

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

Dengan luas sekitar 18m2, kamar tipe Superior Hollywood di lantai 7 ini berbentuk persegi panjang dengan ruang kosong yang tidak begitu luas. Mungkin karena kami memesan king-size bed yang dominan menguasai keseluruhan ya. Pewarnaan ruang diisi dengan abu-abu dan coklat kayu tersebar di segala penjuru. Termasuk untuk bed-head, dinding di belakang tempat tidur, side lamp, sebuah hiasan dinding yang di bawahnya ada nampan yang berisi electric kettle, beberapa sachet kopi, brown sugar, white sugar, creamer dan teh. Ada juga 2 botol mineral water dan 2 lagi di kamar mandi sebagai compliment. 4 botol air putih yang cukup banget untuk melewati malam dan pagi. Serta 2 slippers yang melegakan saya untuk tidak menginjak langsung lantai parquette kamar.

Untuk pelayanan gratis di dalam kamar, hotel hanya menyediakan gelas kertas untuk menikmati minuman dan 2 gelas plastik di kamar mandi untuk menampung sikat gigi dan odol. Sesuatu yang baru bagi saya karena biasanya ada 2 cangkir dan 2 gelas kaca untuk keperluan itu. Tapi mungkin kebijakan ini karena efisiensi. Atau memang perlengkapan dining memang yang belum mencukupi karena hotel ini baru beroperasi di 2020.

Ada sebuah roller blind/vertical blind dengan kaca dan ukuran yang tidak terlalu besar. Peletakan yang miring, membuat jendela ini tidak mengganggu pemandangan atau kesan silau dari cahaya matahari langsung. Kamar kami kebetulan menghadap jalan raya di depan hotel. Memungkinkan saya menyaksikan sedikit kesibukan warga Bandung yang melintas di Jl. Peta, area tempat hotel ini berada.

Tempat tidurnya nyaman dengan kasur yang empuk dan bedsheet serta bedcover yang bersih. Pendingin ruangan pun cukup memberikan kenyamanan maksimal karena usai mandi, berganti baju, dan sempat membaca sebentar, saya langsung lelap hingga adzan maghrib terdengar. Tidur nyenyak yang tentunya sangat diharapkan semua orang, terutama di usia saya yang seringnya sulit gampang terlelap.

Mengingat padatnya peralatan yang ada di dalam kamar, unit tipe superior ini sangat pas untuk 2 orang tamu atau 2 orang dewasa saja. Jikapun membawa anak-anak, 2 orang berusia dibawah 10 tahun masih accomodated. Sementara untuk perlengkapan mandi ada baiknya membawa amenities pribadi juga. Karena bath gel, shampoo dan lainnya hanya cukup untuk 1 kali mandi orang dewasa. Ah padahal saya ingin banget mengguyur diri dengan sebanyak mungkin busa mandi di bawah pancuran yang setelan dingin dan panasnya pas banget.

Saya mulai beranjak dan melanjutkan membaca saat suami memberitahu bahwa dia melihat via pencarian on-line bahwa ada 1 restoran dengan penilaian bagus. Resto ini berjarak hanya 100 meter dari hotel. Menunya berkisar antara mie, pelengkapnya dan juga ada bubur ayam. Review dari para pengunjungnya juga bagus-bagus. Awalnya suami aja yang kesana dan take away. Tapi setelah melihat beberapa foto, saya memutuskan untuk dine-in aja. Satu keputusan yang tepat banget pada akhirnya. Meski harus mengulang acara mandi. Tulisan tentang resto ini akan saya buat terpisah ya.

Jadi untuk yang menginap disini, jangan khawatir akan urusan lambung ya. Selain menu yang disediakan hotel, ada juga resto mie yang saya sebutkan diatas, atau jika berkenan jalan kaki sedikit lagi bisa berpuas memilih aneka hidangan yang ada di Festival Citylink Mall.

Baca juga: HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

Makan Pagi yang Terbatas

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

Sarapan atau makan pagi adalah salah satu kegiatan yang paling ditunggu saat menginap di hotel. Sebagian besar pelancong bahkan menentukan penilaian terabsolut dari sebuah hotel melalu hidangan-hidangan yang disajikan di pagi hari. Disamping tentu saja unsur kebersihan, pelayanan dan keramahan.

Saya termasuk salah seorang diantaranya.

Mengingat bahwa ada beberapa tempat yang ingin kami datangi sebelum pulang, saya dan suami sepakat sarapan sekitar pkl. 08:00 wib. Menghabiskan sekitar 1 jam setelahnya untuk berkeliling dan memotret. Lalu pkl. 10:00 wib langsung check out.

Resto Pakuwon yang berada di lantai 3 ini sudah penuh dengan pengunjung saat kami datang. Kesibukan para petugas pun sangat terasa karena tamu tidak diperkenankan mengambil sendiri hidangan yang ada. Semua dilayani bahkan untuk mengambil air putih sekalipun.

Hanya ada 3 area untuk peletakan makanan dan minuman. 1 space khusus untuk lontong sayur lengkap dengan aneka gorengan dan seorang petugas yang siap menerima orderan masakan telur. Layanan bubur lengkap di tempat yang sama. Lalu 1 deret area untuk minuman dingin, minuman hangat, susu dan sereal, serta buffet yang berisikan nasi goreng, sayuran, ayam masak kecap dan mie goreng. Disamping buffet ini ada cilok dengan panci gede jadul yang bolak-balik diisi ulang saking larisnya. Lihat pancinya mendadak saya teringat dengan Ibu saya. Panci besar yang biasa beliau pake untuk memasak ketupat atau makanan berkuah dalam jumlah banyak disaat/waktu-waktu tertentu saja. Saat lebaran misalnya.

Satu area terakhir adalah aneka kue, salad dan roti. Di sini saya terkesan dengan kue talam bulat 3 warna nya. Kenyal dan manisnya pas banget. Kebetulan pula kue ini adalah salah satu jajan pasar favorit saya. Niatnya sih ingin saya ambil ulang tapi ternyata sudah keburu kehabisan. Dan saya tidak berniat bolak-balik karena sudah kekenyangan.

Tidak ada yang salah tentang rasa dari semua hidangan. Hanya perlu penataan yang lebih apik, mewah layaknya sebuah hotel, supaya acara makan lebih menyenangkan dan menyelerakan. Sistem pelayanan seperti ini ada plus minus tentunya. Plusnya adalah selain tidak banyak waste/sisa makanan. Tamu pun tinggal menyampaikan apa yang diinginkan untuk kemudian dibawa. Tapi cara seperti ini justru mengurangi keseruan saat mengelilingi restoran dan menyendok/mengambil makanan sesuai selera. Cara pelayanan dengan sebagian besar wadah menghadap ke dalam juga menyulitkan saya untuk memotret. Jadilah harus cukup puas menyimpan foto sarapan dari piring-piring yang ada di meja kami saja.

Bagaimana dengan rasanya? Dominan menu yang kami rasa sepagian itu tidaklah istimewa tapi juga tidak buruk. Kalau dari sudut penilaian, setara dengan bintang 3, sarapan di hotel ini ada di angka 6/10.

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Cilok yang diminati oleh banyak tamu. Rasanya memang enak dengan kuah kacang yang tidak terlalu kental pun tidak terlalu encer. Kami sempat 2 kali mengambil mesti harus sedikit menunggu saat pengisian kembali

Fasilitas Lain yang Ada di Hotel

Saat saya mengambil kue, saya melihat area makan outdoor yang juga penuh oleh pengunjung. Sebagian besar memilih tempat ini dan memilih sarapan disini karena bisa sekaligus menunggui anak-anak yang sedang asyik berenang. Sebuah kolam renang dengan ukuran lumayan besar ada di bagian belakang lantai 3 dan persis berdampingan dengan Pakuwon Resto. Jarang sekali saya lihat ada hotel bintang 3 yang memiliki kolam renang seluas itu.

Rame? So pasti. Jejeritan anak-anak yang tak peduli dengan tajamnya sengatan sinar matahari sepagian itu, menambah cerahnya suasana pagi. Salah satu aktivitas yang saya rindukan saat memiliki anak-anak yang masih dalam periode tumbuh kembang. Masih lekat dalam ingatan bagaimana susahnya menyuruh mereka berhenti. Sementara para orang tua cuma bisa memandangi, terkadang harus berteriak karena anak-anak melebihi batas dan bolak-balik merayu supaya anak-anak berhenti berenang. Apalagi setelah melihat mereka kedinginan dengan wajah kebiruan dan jari-jari yang mulai berkerut. Dan seperti biasa setelah itu kelaparan, makan lagi sebanyak-banyaknya, mandi, hingga akhirnya harus check-out.

Di lantai ini juga, di dekat pintu masuk utama Resto Pakuwon, saya menemukan satu sudut kecil nan cantik yang melayani konsultasi dan atau reservasi acara pernikahan serta meeting. Sudutnya tidak terlalu luas tapi cukup nyaman untuk ngobrol-ngobrol sembari menikmati berbagai minuman dan panganan ringan. Saya sendiri tidak bersengaja melihat ruangan-ruangan yang bisa disewakan untuk kepentingan ini. Cukup mengambil foto dan sibuk dengan bayangan aneka dekorasi yang ingin dipasang seandainya saya diijinkan untuk mempercantik sudut unik ini.

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

Kesan Pribadi untuk Hotel Santika Pasir Koja

Untuk setara hotel bintang 3, Santika Pasir Koja, bisa jadi pilihan terasik saat kita berada di seputaran/area Pasir Koja. Banyak fasilitas umum yang bisa kita nikmati. Termasuk diantaranya aneka rumah makan, pusat perbelanjaan yang cukup besar dan lengkap, Taman Petra (yang sayang tidak sempat saya singgahi), pasar ikan hias, pasar burung, dan lain-lain yang bisa mengisi waktu-waktu kita berkunjung ke Bandung.

Rancang bangun hotel ini sederhana dan minimalis tapi menyediakan banyak tempat parkir di area yang cukup luas. Fasilitasnya ramah untuk pengguna kursi roda dan tentu saja mereka melengkapi diri dengan protokol kesehatan yang dibutuhkan selama pandemi.

Dengan ukuran kamar yang terbatas, sayangnya tidak dilengkapi dengan penahan/peredam suara yang belum memadai. Selama di dalam kamar, saya bisa dengan jelas mendengar percakapan tamu yang bersebelahan dengan saya. Apalagi jejeritan anak-anak yang sibuk mondar-mandir, berlarian dari satu kamar ke kamar yang lain.

Selainnya sudah lebih dari cukup buat saya dan suami.

Koleksi Foto

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Floor alley di depan kamar di lantai 7. Masih didominasi dengan rancangan simple dan warna netral
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Halaman depan hotel yang simple. Ada jalur khusus untuk para pengguna kursi roda
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Aneka gorengan yang diletakkan berdampingan dengan lontong sayur
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Kue Talam yang enak itu
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Resto Pakuwon di lantai 3 tempat kami sarapan. Dining area yang cukup luas untuk hotel bintang 3
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Area parkir yang luas
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Pemandangan jalanan yang berada di depan hotel
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Semua gorengan dan kuenya so so. Tapi yang enak saya putuskan jatuh pada kue talamnya. Salah satu jajan pasar yang saya sukai sejak kecil.
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Sarapan kami di Minggu pagi, 10 Oktober 2021
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober
Kolam renang di lantai 3
SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal Oktober

#SantikaHotel #SantikaHotelPasirKoja #WeekendGateaway #HotelDiBandung #WeekendStaycation #OneNightStaycation

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021

35

Saya tak pernah menyangka bahwa Jumat sore, 1 Oktober 2021, sekitar pkl. 16:00 wib, salah satu berita tersedih akan mampir dalam hidup saya dan keluarga. Ica Marisa, kucing cantik kesayangan kami, harus berpulang/mati karena sakit. Pneumonia telah merenggut nyawanya dan memisahkan kami di dunia.

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021

Saya mengadopsi Ica di saat dia berusia sekitar 5 bulan dari seorang teman, Dwilina (Lina), yang saya kenal dari dunia wire jewelry. Lina seringkali memposting foto beberapa kucing cantik lewat media sosialnya. Di satu waktu, saya melihat Lina membagikan foto seekor kucing miliknya melahirkan beberapa anak yang lucu-lucu dalam berbagai warna bulu. Seketika itu juga saya langsung jatuh hati pada salah seekor diantaranya. Kucing imut berwarna putih bersih dengan mata yang sangat bulat. Saya pun menyampaikan keinginan untuk mengadopsi si putih ini yang pada awalnya diberi nama Neng oleh Lina. Kesepakatan pun dicapai dengan catatan bahwa Neng akan diberikan kepada saya saat sudah lepas persusuan pada induknya.

Saya mendukung keputusan itu karena selain tubuhnya akan semakin kuat, menyusu pada induk adalah gizi terbaik yang bisa didapatkan. Lagian kalau masih bayik banget kayak gitu, saya rasanya belum sanggup dan telaten untuk mengurusinya. Saya bersabar menunggu hingga waktu yang tepat itu datang. Dalam periode menunggu itu, Lina mengatakan bahwa dia akan melatih Neng tentang kebiasaan buang air (besar dan kecil) serta mengenalkan berbagai jenis makanan. Selama itu pula saya terus ter-update mengenai perkembangan Neng. Lina bahkan menyampaikan bahwa dari 4 anak kucing yang baru dilahirkan itu, Neng lah kucing terpintar dan selalu duluan bisa dalam segala hal dibandingkan dengan saudara-saudaranya.

Info ini saya sampaikan kepada anak-anak yang sudah jauh lebih tidak sabar untuk mengambil Neng. Aaahhh sudah kebayang senangnya menambah anggota keluarga, meski berupa kucing, anak berbulu, yang tentunya akan jadi mainan dan sumber hiburan bagi kami serumah.

Waktu yang ditunggu itu pun tiba. Sekitar Maret 2017, Neng kami jemput di sebuah restoran. Tempat dimana kami bertemu Lina. Melihat matanya yang bulat dan sikapnya yang tenang, Fiona, anak saya, langsung berbinar-binar. Perasaan bahagia begitu nampak meluap-luap dari ekspresinya.

Setelah sekian lama anak-anak menginginkan punya peliharaan, saya rasa itulah saat yang tepat untuk memenuhi permintaan mereka. Saat dimana mereka sudah cukup besar dan dewasa untuk menerima tanggungjawab memelihara binatang. Jadi bukan hanya senang karena memiliki tapi juga harus mau ikut merawat dan memenuhi semua tugas yang dibebankan.

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021

Dalam perjalanan menuju rumah, Fiona memutuskan untuk mengganti nama Neng menjadi Ica (yang ternyata sudah disiapkan oleh Fiona berbulan-bulan sebelumnya). Sementara Marisa adalah nama pilihan saya yang menyempurnakan cantiknya kata Ica. Tidak ada makna khusus dari dua kata tersebut. Tapi yang pasti nama tersebut saling melengkapi, terdengar indah, dan tentu saja istimewa karena biasanya orang-orang hanya memberikan 1 kata nama panggilan bagi peliharaannya.

Sesampai di rumah, Ica langsung berlari kencang dan sembunyi di kolong tempat tidur. Kami terus memanggil tapi dia terdiam dan duduk sendiri dalam keadaan bingung. Seperti yang sudah kami duga. Ica pasti butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, keluarga baru yang dia kenal, plus tentu saja membiasakan diri dengan apa yang ada di rumah. Saya memutuskan untuk mendiamkan kelakuannya. Sembari meninggalkan semangkuk makanan kering dan air yang juga saya letakkan di bawah tempat tidur, dekat dengan lokasi dia duduk.

Setelah hampir seharian membeku, Ica akhirnya keluar pelan-pelan. Saya intip makanan dan minumannya habis tapi saya belum berani mendekat. Lamat saya perhatikan, Ica tampak keluar kamar, berjalan pelan-pelan dan menemukan sendiri baskom kecil berisi pasir yang memang sudah disediakan untuk dia membuang hajat. Sudah kebelet rupanya dia. Seperti yang disampaikan Lina, kucing cantik yang satu ini memang pintar.

Selesai buang hajat saya perhatikan Ica mulai berjalan kesana kemari. Sepertinya dia berusaha meng-explore apa yang ada di rumah. Tapi karena tubuhnya masih kecil dengan jangkauan kaki yang terbatas, Ica belum bisa atau berani naik tangga menuju lantai ke-2 rumah.

Tapi meskipun sudah berani, Ica bukan kucing yang gampang untuk didekati. Dengan sorot mata raut wajah yang kata kebanyakan orang cenderung jutek/judes, Ica sangat menjaga dengan siapa dia berinteraksi. Gak sembarangan mau dipegang bahkan digendong oleh orang yang tidak dia kenal. Dia pemantau yang sangat baik. Jadi dia tahu sendiri dimana makanannya ditaruh, dimana litter box nya, meskipun sempat kami pindah-pindahkan. Ica tahu persis dengan siapa dia harus meminta bantuan. Sungguh luar biasa kepintarannya.

2 bulan setelah tinggal di rumah, Ica langsung kami steril. Setelah proses itu berlangsung, pertumbuhan fisik Ica pun sangat cepat. Sejak itu Ica punya buku kesehatan sendiri (seperti buku bayi). Karena ini sudah komitmen saya sebelum benar-benar mengadopsi kucing. Saya dan Fiona begitu memperhatikan kapan selanjutnya harus minum/suntik obat cacing (3 bulan sekali atau setidaknya 2 kali dalam setahun), kapan minum/suntik vitamin dan kapan juga harus regular grooming.

Ica juga pembersih. Jika litter box nya penuh atau belepotan, Ica gak mau buang hajat. Kalau sudah lihat begitu, orang-orang di rumah langsung bersih-bersih. Dan itu ditunggu di depan mata Ica. Dan dia juga tidak mau jika pasirnya tidak diganti setelah digunakan lebih dari 3 hari.

Dia juga tak pernah berontak jika dimandikan. Jika disuruh berdiri atau meletakkan kaki depannya di ember, dia akan langsung melakukannya. Bahkan untuk sekedar duduk diam pun, dia langsung mengerti arahannya. Begitupun yang dia lakukan saat perawatan di klinik. Dia menurut tanpa banyak tingkah. Ini yang selalu mendapat pujian dari setiap dokter hewan dan anggota tim di klinik tersebut.

Jadi gak salah ya, kalau kami memutuskan untuk mencantumkan kata Princess di depan nama Ica Marisa.

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021

Makna Ica Marisa dalam Hidup Saya

Semua anggota keluarga (suami, saya, dan kedua anak saya) sangat menyayangi Ica. Dia adalah anggota keluarga ke-5 dalam hidup kami. Suami, dulu saat Ica belum ada, setiap pulang kantor selalu memanggil Fiona dari depan pintu. Tapi sejak Ica hadir, kucing inilah yang dipanggil duluan dari teras. Dan yang dipanggil pun sopan. Meski kadang tidak langsung menyambut di depan pintu depan rumah, Ica selalu duduk dan menatap suami yang melangkah masuk. And it’s a good manner menurut saya.

Buat saya sendiri Ica pribadi yang sangat istimewa. Kami pun memiliki banyak kebiasaan yang tak akan pernah saya lupakan dan menjadi sebuah bonding tak ternilai.

Setiap pagi, setelah subuh, Ica biasanya mendatangi saya untuk sarapan. Kalau saya sulit atau kesiangan bangun, Ica tidak segan naik ke kasur dan menepuk-nepukan tangan kanannya ke wajah atau kaki saya. Tak pernah pakai tangan kiri. Jika sudah bangun, dia mengikuti saya hingga ke dapur dan menunggu dengan manis sampai makanannya siap disajikan. Kadang saat saya bangun, tidak langsung ke dapur tapi ke toilet dulu, Ica ikut masuk menunggu saya buang hajat. Perhaps, she wanted to make sure that she was still in a good attention.

Rutinitas lain yang hingga saat ini belum terhapus dari ingatan saya adalah ritual duduk dalam pangkuan saya. Hal ini saya lakukan setiap hari, sekitar 2 kali sehari atau setidaknya sekali sehari (pagi dan sore/malam). Ica saya pangku, saya peluk erat dan Ica tidak pernah berontak. Bahkan saat saya memeluk, Ica merapatkan wajahnya ke dada saya. Kegiatan ini berlangsung setidaknya 10-15 menit. Namun meskipun singkat, pelukan ini begitu bermakna bagi saya. Dan saya berharap Ica pun merasakannya. Semua akan lebih bernilai saat saya kembali dari traveling atau kembali dari berbagai kegiatan luar rumah. Meskipun saya peluk dengan lebih erat bertenaga demi melepaskan rindu, Ica tidak pernah protes. Dia hanya diam, sesekali menengok ke arah saya, bahkan terkadang lehernya melengkung karena senang saya garuk-garuk (duh airmata saya menetes saat menulis ini).

Setiap saya pangku, peluk dan cium, saya selalu membisikkan doa agar Ica selalu sehat dan berbahagia. Malah sempat bahkan kerap mengucapkan “Ica jangan buru-buru mati ya. Ica tenemin Bunda sampai tua. Sampai keluarga ini semakin banyak anggotanya”. Serangkaian doa dari hati terdalam mengingat bahwa nantinya anak-anak akan punya hidup sendiri, menyongsong takdir mereka masing-masing dan tentu saja sibuk dengan ribuan renda kegiatan hidup.

Tapi harapan itu terputus di awal Oktober 2021.

Hari di Saat Ica Meninggalkan Kami

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021

Kamis sore, akhir September 2021, saya dan Fiona mulai menyadari bahwa Ica malas bergerak dan menolak untuk makan. Meski tak terlihat berontak, Ica saya perhatikan sangat gelisah dengan nafas yang terengah-engah. Karena dokter langganan tidak berada di tempat hari itu, Fiona akhirnya menyuapinya makanan basah dan kami membuat janji untuk memeriksa Ica keesokan harinya setelah sholat Jumat. Melihatnya akhirnya dia terlelap tidur, saya meneruskan pekerjaan yang memang waktu itu lagi banyak-banyaknya.

Jumat pagi saat saya panggil untuk sarapan, Ica tidak meresponse. Saya lihat dia duduk rapi di bawah gantungan baju di dressing room saya. Badannya hangat. Saat saya gendong dia tidak berontak. Matanya sudah sayu. Ketika saya peluk lebih erat, mendadak dia terkencing-kencing di pangkuan saya. Saya langsung memanggil Fiona untuk membersihkan badannya dan memberi makan. Tapi kali ini, Ica nampaknya menolak untuk makan. Dia berjalan gontai ke tempat yang sama dan beberapa kali saya lihat kembali kencing tidak karuan.

Perhatian saya langsung terbagi gak karuan. Sembari menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus selesai hari itu dan menerima beberapa tamu, saya semakin gak sabar agar dokter langganan kami segera memeriksa Ica. Disela persiapan saya mengadakan acara bedah buku solo perdana, saya mengantar Fiona ke klinik untuk berkonsultasi dengan dokter. Karena mengingat kondisinya, Ica akhirnya diinfus dan sementara waktu diawasi perkembangannya di klinik.

Saya sedang IG Live saat Ica akhirnya harus dibawa ke klinik yang lebih besar untuk dirontgen karena sesak napasnya semakin menjadi-jadi. Saya pun langsung mengiyakan. Do whatever you can to safe her life and whatever it will cost us. Itu yang saya sampaikan kepada dokternya. Dari dokter ini jugalah saya mendapatkan info bahwa Ica sempat muntah darah, langsung tergolek lemas dan menghembus napas terakhir beberapa menit setelah selesai rontgen.

Saat waktu itu tiba saya sedang ada tamu di rumah. Rampung urusan dengan tamu ini, tangis saya langsung pecah dan terisak-isak tak terkendali. Begitupun Fiona. Sementara suami dan Fauzi terduduk lemas. Tidak ada seorangpun dari kami yang menemani saat-saat terakhir hidup Ica. Dan itu sungguh membuat saya sangat terpukul.

Setelah beberapa menit sudah lebih tenang, saya dan kedua anak saya menjemput Ica di klinik sementara suami menggali makam Ica di halaman depan rumah. Adzan maghrib berkumandang dari masjid di dekat rumah, saat Ica dimasukkan ke liang lahat. Jazadnya telah dibungkus kain putih, rapat terikat dan tidak lagi bisa dibuka. Suami tidak mengijinkan saya memotret karena takut akan memberikan efek duka yang mendalam buat saya.

“Selamat jalan Ica sayang. Kita akan bertemu lagi di surga ya”. Dua kalimat yang meluncur berulang kali dari mulut suami saat menguburkan. Dua kalimat yang kembali membuat saya tak bisa menahan derasnya airmata yang jatuh.

Berakhir sudah masa dan kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada kami untuk mengasuh dan membesarkan seekor kucing kesayangan, Ica Marisa. Kucing yang sekitar 5 tahun telah memberikan kebahagiaan dan keceriaan, serta memberikan makna cinta dan kasih sayang yang sebenar-benarnya.

Berbahagialah engkau di surga Ica sayangku. Tunggulah kami untuk berkumpul dan bermain kembali di rumah kita di surga.

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021
ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal Oktober 2021

#IcaMarisa #KucingKesayangan #KucingPersia #PeliharaanKesayangan

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

50
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

Menginap over the weekend biasanya saya lakukan dalam rangka liburan singkat. Kegiatan ini sempat menjadi kebiasaan dan rutinitas saat anak-anak masih kecil-kecil. Selain suka dengan sarapan ala hotel, anak-anak juga ingin selalu berenang berjam-jam, dilanjut dengan sarapan ke-2 sebelum check-out. Heboh pangkat lima pokoknya. Maklum, di rumah gak punya kolam renang. Kerempongan akhir pekan yang selalu saya nikmati meski harus berkurang masa istirahat karena tak memiliki waktu berkualitas bersama anak-anak selama hari kerja.

Tapi sejak anak-anak beranjak dewasa kegiatan ini berubah visinya. Acara menginap menjadi agenda kegiatan traveling khusus untuk blog saya. Dan lebih kerap saya lakukan hanya bersama suami. Apalagi sejak banyak berbagai pihak yang mengundang dan mengijinkan saya menuliskan review tentang tempat mereka.

Akhir pekan minggu lalu, membalas kangen “pindah tidur” di hotel dan selepas yakin tentang keamanan dan kepedulian pihak hotel akan pandemi, kami bertiga (saya, adik ipar dan Fiona) memutuskan untuk menginap 1 malam di Harper Hotel Cikarang (Harper) yang berada di dalam kompleks Lippo Cikarang, sekitar 4 km dari rumah saya. Deket banget kan? Jarak yang kalau ngojek itu sekitar 25ribu saja.

Lokasi Strategis dan Sarat Fasilitas

Harper sangat mudah digapai. Jika kita berkendara di sepanjang tol Jakarta – Cikampek, ada 2 alternatif keluar tol yang bisa digunakan. Pertama dan terdekat adalah Tol Cibatu. Sementara yang kedua adalah Tol Cikarang Barat. Jika pilihan kedua harus melewati kompleks perumahan Lippo Cikarang, pilihan pertama justru jauh lebih praktis. Begitu keluar dari Tol Cibatu, tinggal lurus, lalu belok kanan di pertigaan ke-2. 500 meter dari belokan ini kita akan langsung menemukan Harper di sisi kanan jalan. Persis bersebelahan dengan Starbuck dan deretan resto Korea dan Jepang yang berada di segaris dengan Harper. Gampang banget. Gak pake bantuan mbah google juga bakal sampe dengan selamat. Saking mudahnya.

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Tampak luar Hotel Harper Cikarang

Hotel yang masuk dalam grup Aston ini dekat dengan berbagai fasum (fasilitas umum) yang menunjang kegiatan dinas atau liburan singkat selama berada di Cikarang. Buat sekedar nongkrong-nongkrong dan ngobrol atau makan bareng, ada 3 resto Jepang dan Korea yang cukup nyaman dan bisa dicapai dengan jalan kaki. Termasuk diantaranya Starbuck. Persis di depan hotel ada ruko yang lengkap dengan berbagai fasilitas seperti mini market, restoran padang, travel agent, dan lain-lain.

Atau kalau mau sedikit berkendara, kita bisa berkunjung ke District One Meikarta, mengunjungi berbagai outlet atau jenama warung kopi yang selalu padat pengunjung setiap sore menjelang malam atau selama akhir pekan. Sekitar 300 meter dari hotel juga ada kolam renang ukuran olympic. Ada resto Abuba Steak, Bebek Kaleyo, toko buah Total, bahkan warung-warung makan yang tasty dan recommended. Mau nge-mall juga bisa meski agak sedikit lebih jauh dari Harper. Di dalam lingkungan kompleks Lippo Cikarang ini ada Mall Lippo Cikarang yang sering menjadi pusat hiburan bagi warga. Di dalam pusat perbelanjaan ini ada bioskop, Hypermart, food court, toko buku, toko roti/kue, outlet fashion dan tentu saja berbagai jenama resto yang sangat beragam (KFC, Steak 21, Pizza Hut, Hanamasa, Solaria, dll.). Lengkap lah pokoknya.

Baca juga: ABUBA STEAK. Surga Bagi Para Carnivor yang Sekarang Hadir di Lippo Cikarang

Selain semua fasilitas di atas, Harper juga berada di lingkungan kantor dan pabrik yang memang mendominasi kehidupan di Cikarang dan Jababeka. Banyak usaha, terutama dari Korea dan Jepang, yang menjalankan proses produksi di lingkungan ini. Karena itu komunitas warga Jepang dan Korea disini cukup banyak. Berbagai fasilitas khusus untuk kedua warga negara ini menyebar di seluruh kompleks. Seperti supermarket, restoran dan toko perlengkapan yang sengaja diimport dari Jepang atau Korea.

Baca juga: Food Traveling Menguras Selera di PAPAYA Japanese Supermarket Cikarang

Jadi kalau boleh saya bilang sih, Cikarang khususnya kawasan Lippo sudah bisa digolongkan sebagai kompleks satelit yang sudah memiliki berbagai kelengkapan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi jika memutuskan untuk tinggal sementara karena urusan dinas atau sekedar menghabiskan weekend di sini, Harper bisa dijadikan salah satu referensi tempat tinggal yang tepat.

Fasilitas lain yang ada di Harper adalah ruang pertemuan dan meeting facilities. Ada juga kolam renang di basement yang ukurannya paslah untuk melempengkan otot. Ada juga fitness centre. Lalu Arcadia Bar and Lounge yang menyatu dengan Rustik Bistro di ground floor. Yang paling menarik sebenarnya fasilitas onsen (mandi air hangat ala Jepang). Saya dan Fiona padahal dah semangat nih pengen onsen-nan. Tapi ternyata tempatnya ditutup demi alasan keamanan dan kesehatan. Masih pandemi lah ya.

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

Kamar yang Kami Tempati

Baca juga: Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya

Selesai acara makan keluarga di Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang dan mengantar pulang suami dan Fauzi, saya, Fiona dan adik ipar (Metty) bersegera menuju Harper. Waktu sudah menginjak lebih dari pkl. 14:30wib saat check-in dan beristirahat, menjauh dari teriknya matahari serta menikmati tidur sore yang lelap lagi menenangkan.

Pemeriksaan suhu tubuh dan cairan pencuci tangan sudah disiapkan di selasar depan hotel. Prokes yang kudu wajib ada ya. Sambil menunggu adik ipar mengurus administrasi dengan tim penerimaan tamu, saya larut menikmati infused water dingin yang dihidangkan di dekat sofa tunggu. Entah karena udaranya yang terik nauzubillah atau sayanya yang haus sangat, minuman dengan potongan berbagai jenis buah itu tandas saya habiskan sampai 3 gelas. Bahkan mungkin bisa lebih dari itu jika ga ada tamu lain yang tampak melirik-lirik ke arah saya. Barangkali dalam hatinya “Itu emak-emak apa onta? Minumnya banyak bener”.

Oia, meja resepsionisnya mengikuti protokol kesehatan loh. Ada pembatas plastik tebal diantara petugas dan tamu. Semua pun disiplin mengenakan masker lalu kerap mencuci tangan setiap terjadi interaksi atau mengunakan/memegang barang yang sama seperti pulpen.

Beres urusan check-in, kami pun melangkah ke lantai 7.

Menempati salah satu unit suite yang tersedia di Harper, perasaan nyaman langsung menyeruak saat kami membuka pintu. Dengan luas sekitar 50m2, unit ini terbagi atas 2 bagian yang dibatasi oleh sebuah pintu yang bisa dikunci. Saat datang kita akan langsung berada di sebuah living room yang lengkap dengan toilet, sofa panjang (3 dudukan dan cukup untuk tiduran), meja bulat untuk makan, 1 unit TV layar datar, wastafel, dispenser, kulkas dan microwave yang berukuran cukup besar.

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

Di sebelah living room, ada bed room dengan kasur berukuran king size. Ruang tidur ini dilengkapi dengan lemari baju dengan 2 pasang slipper dan 1 buah jubah mandi, sebuah TV layar datar, kaca berhias berbentuk lonjong, dan sebuah meja panjang yang menampung ketel penanak/penghangat air, air putih dalam botol kaca, gelas dan berbungkus-bungkus teh, kopi dan gula. Kamar ini memiliki kamar mandi dengan bathtub, jamban dan powdering area dalam satu ruangan yang cukup besar. Kami disediakan 3 handuk yang mana salah satunya dilipat cantik berbentuk seekor gajah.

Melepas penat dan agar bisa menikmati istirahat dengan badan yang bersih, saya bersegera mandi dan menikmati air hangat dari shower yang mengalir sempurna dan terpasang di atas bathtub. Duh berasa banget enaknya. Selain air dengan kehangatan yang pas, bathtub ini sengaja dibuat berdampingan dengan jendela yang menghadap ke area terbuka, sebuah tanah luas, di sekitaran hotel. Tadinya pengen sih berendam dan berlama-lama mandinya, tapi rasa kantuk sudah terlalu berat untuk ditahan.

Jadilah, tak sampai 30 menit kemudian, saya sudah terlelap di atas kasur yang empuk, lampu yang temaram dan dengan suhu udara yang sangat memanjakan tubuh.

It’s just a perfect conveniences though.

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Tempat tidur king size dengan kasur dan bantal yang empuk serta lampu temaram yang bener-bener nyaman untuk menemani tidur atau sekedar leyeh-leyeh nonton TV sampai ketiduran

Selain kamar suite sebanyak 2 unit, Harper juga memiliki 66 unit Superior Hollywood, 49 unit Superior Double, 7 unit Deluxe, dan 7 unit Deluxe Premier. Semua dapat kita lihat secara rinci di official website cikarang.harperhotels.com atau agen-agen wisata dan perjalanan on-line. Setiap kamar terlihat simpel, tidak sesak dengan furniture dan dengan sentuhan dominan warna abu-abu.

Awalnya, sesuai rencana, kami akan ke Resto Ramen YA yang berada selemparan sandal dari Harper dilanjut dengan ngopi-ngopi malam mingguan di Starbuck. Tapi ternyata kenyamanan berada di dalam kamar berhasil membuyarkan segala rencana. Magernya jadi nambah-nambah setelah memikirkan harus mandi lagi setelah kembali dari luar. Yahh sutralah.

Jadi akhirnya acara malam mingguan kami isi dengan ngendon di kamar aja sambil pesan Bento Box ala Harper. Masing-masing dari kami memesan jenis makanan yang berbeda. Kami memilih nasi goreng buntut, nasi chicken karage (potongan ayam goreng tepung), dan nasi chicken avocado (ayam goreng dengan lapisan daging alpukat). Setiap paket dilengkapi dengan sayur campur, telor dimasak pedas, gorengan tempe dicampur kacang, segelas orange juice (sirup jeruk lebih tepatnya), segelas susu (pengganti yoghurt), roti dan potongan buah.

Porsinya sungguh diluar dugaan. Banyaknya ampun-ampunan. Tapi kok saya habis ya? Jangan ditanyakan. Saya juga bingung karena gak tahu jawabannya (pasang muka lempeng). Yang menyenangkan dari Bento Box ini adalah harganya yang (sangat) ramah di kantong. Sajian lengkap dan banyak segitu harganya cuma 35K ++ (nettnya sekitar 50k). Untuk mengakali pemborosan alias biar hemat, menurut hemat saya, 2 porsi Bento Box bisa untuk 2 orang perempuan dewasa dan 1 anak-anak. Kalau untuk porsi cowok keliatannya pas 1 paket.

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Menu makan malam mingguan kami. Nasi goreng buntut, nasi chicken karage dan nasi chicken avocado.

Sarapan yang Ramai

Harusnya dan pengennya sih Minggu pagi hari itu saya puas-puasin ngukur kasur, merenda bulu mata atau setidaknya leyeh-leyeh sambil nonton film dari channel HBO yang tersedia di kamar. Tapi mendadak teringat pesan mbak-mbak receptionist bahwa acara sarapan sudah dibagi berdasarkan jam dan jumlah orang untuk setiap sesinya. Lagi-lagi dalam rangka prokes tentu saja. Dan karena dapat jadwal jam 8 pagi, jadilah sekitar 30 menit sebelumnya saya terlonjak bangun, mandi, dan mendadak amnesia bahwa malam sebelumnya saya tepar kekenyangan.

Baiklah. Sebagai mantan anak kolong, disiplin waktu adalah wajib hukumnya.

Diluar dugaan, meski sudah ada pembatasan jumlah manusia dan waktu, Rustik Bistro, restoran tempat kami sarapan, sudah dipenuhi para penginap dan semakin meriah dengan jejeritan bocah-bocah yang tampak riang gembira. Wah rame juga rupanya. Jika melihat kondisi seperti ini tampaknya tingkat occupancy hotel bisa jadi mencapai 80%.

Sementara Fiona berkeliling menjelajah setiap menu yang ditawarkan, saya mencari meja dan kursi yang strategis untuk memotret. Tapi tampaknya kecepatan penginap “memborong” makanan tidak terkejar dengan pengisian kembali semua sajian. Terutama pada layanan buffet. Saya bolak balik kecolongan karena selalu kehabisan. Jadi musti sedikit (sabar) menunggu supaya potret menu sarapannya terlihat lebih mantab.

Saya akhirnya berhasil menuang nasi goreng ditambah dengan cap cay goreng seadanya ditambah dengan omelet dari egg stall. Lalu semangkuk bubur dengan topping telur rebus, suwiran ayam, kacang. Lalu semangkuk soto ayam lengkap. Keindahan foto sarapan ditambah dengan kehadiran semangkok kecil ketan hitam tanpa santan.

Baca juga: SAHID JAYA Lippo Cikarang. Hotel Bintang 5 yang Melegenda di Kawasan Industri Cikarang
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Sarapan saya dan Fiona. Nasi goreng dengan lauk ayam dan sayuran (capcay), soto ayam, omelet + pasta, bubur dan ketan item.

Untuk ruang makannya sih cukup luas. Selain indoor, ada juga area outdoor yang bisa dijadikan tempat untuk sarapan. Apalagi untuk mereka para ahli hisap. Bisa tuh melanjutkan sarapan sambil ngopi dan ngudut. Tapi sepagian itu saya tidak melihat kegiatan ini karena udara panas gak ketulungan. Sempat ngecek suhu udara dari HP. Pagi itu aja sudah 38dc. Astagaaa.

Gimana rasa masakannya? Selain nasi goreng yang menurut saya sama persis dengan yang saya konsumsi semalam, makanan lainnya terasa biasa saja. Malah beberapa diantaranya tasteless. Kekayaan sajian bakery yang selalu saya harapkan setiap mengingap di hotel tidak berhasil saya temukan. Untuk hidangan buffet menurut saya adalah kunci penting dari layanan makanan. Kualitas tentunya lebih penting dari kuantitas. Meskipun pilihan banyak tapi jika rasanya kurang mengesankan, hidangan buffet akan terasa seperti hidangan rumah ketimbang sajian hotel.

Yang menyenangkan dari pengalaman sepagian itu adalah layanan egg stall. Si Mas nya cekatan banget. Omelet yang dibuat terasa pas tingkat kematangannya dan rapi pulak gulungannya. Rasanya juga jempolan. Bagi sebagian orang mungkin menganggap masak telur itu sama dan simpel aja. Tapi bagi saya tidak. Bahkan untuk telur rebus sekalipun. Rasa dan kematangannya akan berbeda pada setiap hitungan waktu.

Baca juga: BUMI SAMPIREUN Cikarang. Jelajah Masakan Tradisional Indonesia di Kabupaten Bekasi
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

Kesan Pribadi untuk Harper Cikarang

Hotel ini tidak memiliki lahan besar yang bisa menghadirkan kelegaan atau space khusus untuk duduk-duduk di area terbuka. Keterbatasan seperti ini lebih cocok untuk para pebisnis yang memiliki urusan dengan kantor atau pabrik yang ada di daerah industri Cikarang. Selain karena konsep kamarnya yang simpel, sambungan/jaringan internetnya kenceng seperti tarikan Fabio Quartararo, pembalap GP dari Monster Yamaha yang saat ini menempati klasemen 1 di MotoGP 2021. Satu poin penting yang tentunya jadi pertimbangan utama jika tamu ingin tetap bekerja di dalam kamar.

Kalau ingin tetap bersosialisasi juga mudah. Ada Starbuck di sebelah. Pas buat duduk bareng tamu atau rekan bisnis sambil ngopi, ngeteh, sambil ngunyah camilan berat. Kalau buat saya sih, segelas tinggi kopinya Starbuck dengan 2 potong cake, roti atau croissantnya, sudah lebih dari cukup untuk makan malam.

Room servicenya juga lumayan. Dan karena menempati kamar suite, ketersediaan water dispencer dan microwave, pastinya sangat menyenangkan. Bisa terus merasakan minuman dan makanan hangat tanpa harus bertemu dengan kompor. Di seberang hotel juga ada mini market. Jadi kalau ada yang ketinggalan dibawa dari rumah atau ingin nyetok berbagai snack dan minuman untuk kamar jadi gampang. Yang suka serba dingin, tentunya bisa menyimpannya di kulkas mini yang sudah disediakan hotel.

Staff yang bertugas juga ramah-ramah. Meski hanya punya 1 kartu kunci kamar, saat ingin kembali, saya bisa minta bantuan receptionist untuk memencetkan tombol lantai di lift. Yang perlu ditambah anggota tim nya adalah mereka yang bertugas untuk sarapan. Mungkin karena kekurangan tenaga lah yang membuat layanan sarapan jadi sedikit terhambat free flow nya.

Mau nginep lagi di Harper? Jelas mau dong. Apalagi kalau nanti onsennya sudah dibuka. Penasaran banget deh pengen nyobain.

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

Galeri Foto

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Saya dan buku solo perdana Tetangga kok Gitu. Senang bisa mengabdikannya di salah satu sudut Rustik Bistro Harper Cikarang Hotel
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Piring pertama sarapan saya. Nasi goreng, ayam masak kecap, cap cay, omelette dan secungkup kerupuk, ketan hitam tanpa santan, segelas air putih dan juice jeruk
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Piring/mangkok ke-2 sarapan saya. Bubur dengan suwiran ayam, kacang, telor rebus
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Bento Box makan malam. Yang tampak disini adalah chicken karage (kanan) dan chicken avocado (kiri). Kuantitasnya heboh sureboh pokoknya. Dan harganya murah. 2 paket begini bisa untuk sharing 3 orang.
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Morning has broken. Tampak depan hotel yang saya potret dari kaca depan kamar di lantai 7.
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Kolam renang yang berada di basement
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Salah satu sudut Rustik Bistro di ground floor
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
Si Mas yang telaten dan cekatan banget bikin omelette
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang
HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo Cikarang

HARPER Cikarang. Jl. Mataram Kav. 37-39, Cibatu, Cikarang Selatan, Cikarang 17530. Official website https://www.cikarang.harpershotels.com. T. +62 21 3971 8888

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea

27

Sebagai penggemar Jung Hae-in (Hae-in), menantikan setiap film atau drama yang diperankan oleh aktor imut ini hukumnya adalah wajib. Dalam beberapa waktu belakangan, saya sebenarnya menunggu drama Snow Drop yang menurut informasinya diperankan oleh Hae-in bersama dengan Kim Ji-soo, salah seorang anggota K-Pop Girl, Red Velvet. Drama ini sempat mengalami masa-masa cobaan pada saat produksi karena bersinggungan dengan kisah perjuangan demokrasi rakyat Korea yang terjadi pada tahun 80-an. Tapi tak lama yang lalu kasus ini sudah usai.

Di periode menunggu inilah, Netflix memberikan surprise istimewa bagi penggemar Hae-in. Channel dan rumah bagi berbagai produk sinema dari belahan dunia ini, menghadirkan D.P (Deserter Pursuit) untuk para penggemar drama korea. Yang lebih menyenangkan lagi adalah, menurut pendapat pribadi saya, setiap drama korea yang diproduksi oleh Netflix selalu menarik. Bukan hanya menarik dari segi tema, tapi selalu (setidaknya sebagian besar) mampu mengangkat popularitas dari para pelakon yang terlibat.

Asiknya lagi, drakor yang dihadirkan Netflix tidak pernah berlama-lama. Ceritanya juga gak bertele-tele. Apalagi sengaja dipanjang-panjangkan demi kepentingan rating. Dari yang pernah saya tonton, jumlah episodenya kebanyakan 10 atau 12. Nah untuk D.P, Netflix menyiapkan 6 episode dengan jalan cerita yang berbeda-beda. Meskipun berbeda, pada intinya atau secara keseluruhan, D.P mengisahkan tentang betapa kerasnya hidup menjalani wajib militer dan mereka yang “terpaksa” desertir karena berbagai alasan.

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Photo Source: IG @netflixkr
D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Adegan prajurit Anh Jun-ho menoleh saat berbaris di sebuah hall besar tertutup ini, menurut saya, adalah satu bagian dari sekian banyak shoot yang ikonik. Ada makna yang begitu dalam saat menyaksikan sorot mata Anh Jun-ho | Photo source : IG @netflixkr

Beberapa Fakta di Balik Pembuatan D.P

Jung Hae-in berlatih tinju. Drama atau film yang diperankan Hae-in didominasi oleh genre drama romansa mendayu. Ada beberapa yang ada laga nya tapi gak banyak. Seperti contohnya The Three Musketeers, drama yang dia lakoni saat awal-awal menjadi aktor. Untuk D.P, Hae-in berperan sebagai seorang tamtama/prajurit, warga negara Korea berusia 20an yang harus menjalankan wajib militer bernama Anh Jun-ho (Jun-ho).

Jun-ho digambarkan sebagai pribadi yang tenang dan cenderung pendiam. Karena kesabaran dan kemampuannya dalam mengamati situasi, Jun-ho ditugaskan sebagai salah seorang anggota tim D.P yang dipimpin oleh Sersan Park Bum-go (Bum-go) yang diperankan oleh aktor senior Kim Sung-kyun. Yang pernah nonton serial Reply 1988, pasti dah kenal dengan aktor berkarakter yang satu ini. Selain Bum-go, Jun-ho didampingi dan dipimpin oleh Kopral Han Ho-yeol (Ho-yeol) yang diperankan oleh Goo Kyoo-hwan. Mereka bertiga inilah yang menjadi motor pergerakan tim D.P.

Tugas tim D.P adalah mencari dan menyeret kembali mereka yang disertir atau melarikan diri dari kesatuannya demi berbagai alasan. Cerita dari masing-masing kejadian inilah yang diuraikan mulai dari episode 1 hingga episode 6.

Jun-ho, dibalik kemampuannya mengontrol emosi, ternyata serem banget jika sudah terpojok atau terinjak-injak harga dirinya. Dia semerta-merta bisa memukul atau beradu kekuatan dengan lawannya. Pukulannya juga mematikan. Kuat, membabi buta tanpa ampun. Bahkan hingga korbannya KO tak berdaya. Untuk mendalami karakter orang yang diperankan inilah, Hae-in berlatih tinju selama 3 bulan. Pantesan aja saya sempat melihat, dalam beberapa scene singkat, Hae-in tampak lebih gagah dan tegap. Otot-otot lengan dan bahu nya menandakan bahwa dia sudah atau sedang berlatih fisik yang berkonsentrasi pada kekuatan lengan.

Jung Hae-in sering terpecah konsentrasi dengan menyebutkan nama dirinya saat bersikap tegak di depan pimpinan militer. Alih-alih menyebutkan Anh Jun-ho, dia malah menyebutkan Jung Hae-in. Ini tentunya menghadirkan tawa di tengah-tengah proses shooting. Dari yang saya ketahui memang Hae-in menyelesaikan wajib militernya sebelum debut (jauh sebelum drama ini dibuat). Dia pernah bercerita saat ngobrol dengan 2 temannya di New York bahwa dia, saat wamil, ditugaskan menjadi supir dari seorang perwira tinggi.

Disutradarai oleh Han Jun-hee yang sudah terbiasa mengarahkan film laga. Dengan pengalamannya ini D.P akhirnya menjadi salah satu film laga dengan banyak arahan yang ciamik dan artistik. Saya merasakan itu. Adegan kejar-kejaran dan berkelahi heroik banget.

D.P diangkat dari serial webtoon populer berjudul D.P (Dog Days) karya Kim Bo-tong. Serial ini sudah dibaca oleh sekitar 10 juta orang. Kim Bo-tong jugalah yang menuliskan naskah film D.P dengan alur kisah yang sama persis.

Membangun setting shooting yang sama persis dengan barak wajib militer yang sesungguhnya. Dengan setting yang sedemikian rupa, penonton bisa menyaksikan kehidupan dan budaya wamil seperti nyata di Korea Selatan. Dan para pemain yang sudah melewatkan wamil pun seperti kembali bisa bernostalgia. Jadi gak aneh ya kalau Hae-in seringkali salah dalam mengucapkan nama.

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Ke-3 tokoh dominan untuk D.P (prajurit Anh Jun-ho, Sersan Park Bum-goo dan prajurit Han Ho-yeol). Mereka bertigalah yang menjadi petugas lapangan. Chemistry ketiganya sangat apik terbangun. Khususnya antara Jun-ho dan Ho-yeol yang sering tertawa, berdiskusi dan melewati waktu-waktu genting bersama.

Kisah Seru di Setiap Episode

Seperti yang diuraikan oleh beberapa media on-line, D.P menghadirkan berbagai konflik fisik dan batin para tokoh yang sedang dibahas dalam setiap episode. Termasuk perjuangan tim D.P dalam melaksanakan tugasnya. Terkadang begitu mencekam, beberapa waktu lucu bikin ngakak, tapi ada juga yang mampu mengajak kita menitikkan airmata.

Saya coba bahas singkat satu persatu ya.

Episode 1. A Man Holding Flowers (Pria yang Memegang Bunga)

Layaknya episode awal, penonton diajak untuk mengenal profile pemeran utama dan mereka yang ada di sekitarnya. Jun-ho dikisahkan harus meninggalkan rumah dan mendaftar wamil karena terdesak oleh situasi ekonomi dan keluarga yang tidak kondusif. Mendapatkan pekerjaan menjadi petugas food delivery, Jun-hoo malah mengalami penindasan. Baik dari pelanggan maupun dari boss nya yang sudah sangat lama tidak membayar upahnya.

Singkat cerita Jun-ho pun bergabung di angkatan darat, menjadi anggota polisi militer dan melewati berbagai tempaan fisik dari para senior yang sudah lebih dulu wamil. Penonton yang tidak biasa atau mengenal dunia kemiliteran, sepertinya akan langsung ngilu liat adegan tampar menampar, pemukulan, bahkan kelakuan senior yang tampak mengada-ada agar juniornya teraniaya.

Karena ketenangannya dalam menghadapi proses penggemblengan ini, Jun-ho akhirnya ditarik menjadi tim D.P dan menemani Kopral Park Sung-woo (Sung-woo) yang diperankan sangat apik oleh Gong Kyung-pyo, untuk menangkap seorang desertir. Alih-alih langsung melaksanakan tugas, Jun-ho malah diajak bersenang-senang, mabuk-mabukan. Kelalaian mereka ini akhirnya mengakibatkan desertir yang tadinya mau ditangkap keburu bunuh diri.

Jun-ho yang sejak awal sudah kesal dengan Sung-woo mendadak mengamuk saat Sung-woo tidak peduli dengan keadaan yang mereka hadapi. Sung-woo malah terkesan menganggap enteng kesalahan mereka dan tertawa bagai tak ada salah. Padahal karena kesalahan mereka, ada nyawa yang harus hilang. Jun-ho pun memukuli Sung-woo habis-habisan, hingga lelaki berkacamata itu terpakar bersimbah darah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Jun-ho sendiri mendapatkan hukuman penjara militer dan dibebastugaskan sementara karena hal ini.

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Kopral Pak Sung-woo. Partner pertama Jun-ho dalam melaksanakan tugas sebagai anggota tim pencari para desertir | Photo source : IG @netflixkr

Episode 2. Daydream (Lamunan)

Di episode ini Jun-ho mulai bekerjasama dengan Ho-yeol. Tugas mereka saat itu adalah menangkap prajurit Choi Jun-mok (Jun-mok) yang melarikan diri karena tak kuat terus dibully gegara tidurnya ngorok dan mengganggu teman-teman sebarak.

Lewat penelusuran via kekasih, ibu kandung dan tempat penyewaan internet, Jun-ho dan Ho-yeol berhasil melacak keberadaan Jun-mok. Lelaki desertir ini sering berkeliaran malam hari, tepatnya tengah malam agar tidak menarik perhatian. Sengaja mencari tempat sepi agar dia bisa tidur dengan tenang. Salah satunya adalah di gerbong kereta. Disinilah akhirnya dia ditangkap kembali.

Di episode ini pulalah kita mulai melihat chemistry yang begitu erat antara Jun-ho dan Ho-yeol. Meski Ho-yeol tampak selengek’an dan terlihat pandir, tapi sifatnya yang periang bisa mengimbangi Jun-ho yang cenderung kaku. Bahkan Ho-yeol juga mengajarkan Jun-ho berbagai seni white-lies agar bisa menggali informasi dari berbagai sumber.

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Penangkapan kembali Choi Jun-wok di kereta pada tengah malam | Photo source: IG @netflixkr

Episode 3. That Woman (Wanita Itu)

Mulai episode 3 penonton mulai dikenalkan dengan seperti apa dan bagaimana keluarga Jun-ho. Terutama bagaimana KDRT yang dilakukan oleh Ayah Jun-ho terhadap ibunya. Dipukul habis-habisan, Jun-ho hanya mampu melihat tanpa bisa melakukan pembelaan apapun.

Terlepas dari hal di atas, karena keberhasilan menarik balik beberapa desertir, Jun-ho dan Ho-yeol diperkenankan mengambil hari libur/cuti. Tapi baru saja menikmati sarapan bersama, Bum-go, atasan mereka, menelepon dan meminta mereka mengejar seorang desertir, Jeong Hyeon-min (Hyeon-min), yang berada di Busan.

Tanpa melewati kesulitan berarti, mereka berhasil menemukan lokasi Hyeon-min, tapi sang desertir berhasil melarikan diri. Usut punya usut, akhirnya mereka bertemu dengan kekasih Hyeon-min bernama Mun Yeong-ok (Yeong-ok) yang seringkali dimanfaatkan oleh Yeon-min dalam banyak hal termasuk soal uang. Singkat cerita Yeong-ok dijadikan pancingan agan Yeon-min keluar dengan membawakan uang cash 3juta Won. Uang yang dipinjamkan dari tim D.P. Penangkapan sukses tapi uang cash tersebut dibawa lari oleh Yeong-ok yang sudah letih dengan hidup susahnya.

Di episode ini juga, Hae-in yang sempat berlatih tinju memerankan tokoh Jun-ho mempraktekkan latihannya. Di perkelahian pertama dia kalah lawan Hyeon-min. Sampai akhirnya dia pingsan dan Ho-yeol terkilir pinggangnya. Keduanya akhirnya harus berobat ke RS. Nah, dipertemuan kedua (saat penangkapan terakhir), Hyeon-min tersungkur digebuk oleh Jun-ho. Seru pokoknya.

Episode 4. The Monty Hall Problem (Masalah Monty Hall)

Kisah lebih lanjut tentang keluarga Jun-ho dikupas lagi di episode ini. Jun-ho menemui Ayahnya yang dirawat di RS karena dipukuli orang. Pertemuan ini justru menambah kebencian Jun-ho terhadap Ayahnya karena sang Ayah malah meminta uang ketimbang bertanya soal kabar Jun-ho. Lelaki tangguh ini juga jadi semakin gemas pada ibunya karena masih saja mempertahankan rumah tangganya, padahal sang Ayah sudah tak pantas untuk dirawat.

Episode kali ini bercerita tentang Sersan Heo Chi-do (Chi-do) yang desertir demi menyelamatkan neneknya, yang rumahnya akan digusur demi pembangunan gedung. Chi-do sengaja masuk wamil supaya dengan melihat seorang nenek dimensia tinggal sendirian, penggusur tidak akan tega.

Chi-do sangat mencintai neneknya dan satu-satunya keluarga yang ada. Chi-do juga bela-belain mengikuti beberapa program berbayar yang diadakan oleh tentara, supaya bisa mengumpulkan banyak uang. Uang inilah yang ingin dia gunakan untuk mengirimkan neneknya yang sudah pikun itu agar bisa masuk panti jompo. Saat berhasil ditangkap Jun-ho dan Ho-yeol, Chi-do menceritakan alasan yang menyebabkan dia desertir. Dan dia butuh 2 bulan lagi untuk bekerja agar uang yang dibutuhkan bisa terkumpul. Di titik ini rasa kemanusiaan yang sesungguhnya hadir di nurani Jun-ho dan Ho-yeol. Apalagi mereka berdua sendiri sempat bertemu sang nenek yang melihat kondisi tempat tinggalnya. Merekapun rela melepaskan Chi-do dan meminta sang desertir menyerahkan diri setelah 2 bulan tersebut.

Dari pengalaman ini, Jun-ho mendadak ingat dengan ibunya. Yang awalnya kesal karena ibunya terlalu baik pada Ayahnya yang kejam, sampai akhirnya dia merasa kasihan pada wanita yang sudah melahirkannya. Dia pun bersegera menelpon Ibunya dan membangun komunikasi yang lebih baik.

Disamping cerita tentang Chi-do, episode ini juga semakin menampilkan watak Jang-soo, si senior yang jahat dan sudah dikenalkan di awal-awal episode, yang kerap menyiksa Cho Suk-bong (Suk-bong), senior Jun-ho yang tampak memperhatikan Jun-ho. Tak kuat menahan siksaan Suk-bong pun desertir.

Episode 5. Military Dog (Anjing Militer)

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Suk-bong yang gigih mengejar Jang-soo karena ingin balas dendam atas penyiksaan yang kerap dilakukan Jang-soo selama wamil | Photo source: IG @netflixkr
D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Jang-soo, si senior yang terkenal sering mengerjai juniornya. Termasuk kepada Suk-bong yang akhirnya dendam kesumat sampai ke ubun-ubun

Episode khusus yang membahas tentang desertirnya Suk-bong. Kita juga diberikan berbagai kilas balik peristiwa yang menampilkan kekejaman Jang-soo selama dia menjadi senior selama wamil. Kalau ngeliat adegan-adegan yang disajikan, paham rasanya kalau Suk-bong desertir dan berniat banget ngejar Jang-soo. Lelaki terkejam di barak dan sering merendahkan prajurit-prajurit lain dan tampak tidak merasa bersalah saat bebas tugas wamil.

Pengejaran Suk-bong gak main-main. Bahkan hingga menyebabkan seorang anggota D.P wafat tertabrak bis karena bergulat dengan Suk-bong. Tapi Suk-bong sangat ulet. Dengan kemampuannya yang lebih dari cukup dalam hal militer, membuatnya gampang menelusuri keberadaan Jang-soo. Suk-bong sudah siap dengan segala peralatan berat untuk membalas dendam.

Berbagai scene perkelahian sangat seru terjadi di episode ini karena memang dalam skenarionya Suk-bong adalah seorang juara karate. Jun-ho pun sampai terseok-seok berusaha mengalahkan Suk-bong. Tapi karena dendam yang begitu dalam, Suk-bong selalu berhasil melepaskan diri dari kejaran tim D.P. Bahkan saat sudah tertangkap pun, diborgol tangannya di mobil, tetap berusaha melepaskan diri hingga terjadi kecelakaan. Luar biasa.

Jun-ho sebenarnya sempat mengingatkan Jang-soo bahwa Suk-bong sedang bergerak mengejar dirinya. Tapi kesombongan Jang-soo tak surut. Bahkan hingga benar-benar bertemu Suk-bong, Jang-soo masih terlihat pongah dan menghina Suk-bong. Ini yang menyebabkan Jun-ho dan Ho-yeol sebenarnya ingin memukul Jang-soo

Episode 6. Onlookers (Pengintai)

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Suk-bong mencengkram lengan atas Jang-soo. Meminta agar seniornya itu meminta maaf sebelum pulang atau keluar dari barak wamil

Cerita Suk-bong desertir ini sepertinya menjadi puncak dari seluruh rangkaian cerita di drama D.P. Di episode terakhir (episode 6) kita disuguhkan bagaimana sebuah penganiayaan bisa begitu membekas dalam hati seseorang. Menimbulkan dendam yang sangat berurat berakar. Apalagi ternyata sang pelaku penganiayaan merasa tidak bersalah dan menganggap apa yang sudah dilakukannya itu adalah sebuah “hal biasa” di perploncoan atau pengujian mental dari seorang senior kepada juniornya.

Sepanjang episode ini diputar, siap-siap tarik napas dalam. Ketegangan Suk-bong yang berhasil menyandera Jang-soo semakin mendebarkan. Apalagi dilain pihak bukan hanya tim D.P yang mengejar Suk-bong. Tapi juga tim Polisi Militer dan pihak kepolisian. Pemukulan berdarah-darah pun begitu seru ditampilkan.

Pihak D.P yang berusaha agar Suk-bong tidak ditangkap oleh Polisi Militer atau polisi karena mereka paham bagaimana dulu kejamnya Jang-soo pada Suk-bong. Apalagi ada di satu kejadian dimana Jang-soo pernah membakar, maaf, bulu kemaluan Suk-bong dengan lighter. Menonton bagian ini saya rasanya pengen mites si Jang-soo. Ambil beceng dengan peredam dan nembak Jang-soo dari jarak dekat. Kejam yak.

Tapi seperti yang disampaikan oleh Sersan Bum-goo, seekor anjing itu akan menggigit manusia karena dia dianiaya oleh manusia tersebut. That makes sense.

Suk-bong yang berhasil menawan Jang-soo dan terkepung banyak pihak akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol yang dipegangnya.

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea
Duet Jun-ho dan Ho-yeol. Chemistry diantara keduanya keren banget.

KDrama yang Sarat Pesan Moral

Sebagai seorang pribadi yang sempat/pernah dibesarkan dalam lingkungan militer, banyak sekali hal-hal yang pernah saya lihat dalam rangka pematangan mental dari seorang prajurit. Bahkan saya pernah mengikuti serangkaian pelatihan militer dalam rangka bergabung dengan salah satu kelompok kepemudaan. Dari apa yang saya alami, pendadaran yang saya ikuti memang cukup berat, mulai dari rangkaian kegiatan outdoor hingga indoor. Tidak hanya secara fisik tapi juga dari lengkingan suara para pelatih yang sangat menguji kesiapan raga dan mental. Tapi tidak sekalipun melihat atau mengalami hal-hal yang sifatnya menyentuh tubuh apalagi tindakan yang mengarah kepada pelecehan.

Drama ini yang temanya mengarah kepada pengejaran pelaku desertir, mengajarkan kepada kita tentang menghormati orang lain secara pribadi dan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak melakukan perundungan kepada orang lain meski dalam rangka latihan mental sekalipun.

Wamil menurut saya bagus untuk memahami arti kesiapan fisik, berinteraksi dalam sebuah kedisiplinan dengan orang atau sekelompok orang dan menumbuhkan kecintaan pada tanah air. Apalagi saat rasa nasionalisme mulai meluntur di kalangan generasi penerus yang lebih banyak memikirkan kepentingan pribadi dengan waktu yang habis untuk rangkaian kesibukan. Korea Selatan tentunya memiliki banyak pertimbangan saat memutuskan bahwa lelaki di usia 20-30tahun harus mengikuti wajib militer selama 2 tahun.

Yang meng-idola-kan aktor Hae-in, tak boleh melewatkan KDrama ini. Disini Hae-in tampil beda dari sebelumnya. Kalau di beberapa KDrama lampau, aktor charming dan baby-face ini sering memerankan tokoh-tokoh romantis, kali ini kita melihat sisi lain acting Hae-in. Dan ternyata oke pake banget. Apalagi melihat tampannya Hae-in dalam seragam militer. Daebak!!

D.P (Deserter Pursuit). Drama Menegangkan Dalam Kehidupan Wajib Militer Korea

#D.P #KDrama #ReviewKDrama #DramaKorea #JungHaeIn #DramaMiliter

Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya

39

Weekend minggu lalu jadi kali pertama kami sekeluarga keluar rumah dan menikmati wisata kuliner di Cikarang. Terakhir keluar bareng itu sekitar pertengahan Mei 2021 dalam rangka perayaan ulang tahun adik ipar saya. Kami makan bersama dan staycation di sebuah hotel di seputaran Jakarta Pusat.

Setelah memikirkan beberapa pertimbangan khususnya pandemi, kami memutuskan untuk mencari tempat yang memiliki private area/room untuk makan sekeluarga. Jadi bukan tempat terbuka yang bisa bersinggungan dengan banyak orang. Setidaknya dengan begini, bisa meminimalisir kemungkinan berkumpul dan berada dekat dengan orang lain yang bukan serumah dan tidak kita tahu kondisi kesehatannya. Plus satu lagi yang juga penting adalah tempat ini belum sempat saya foto dan tulis sebelumnya.

Setelah browsing sana-sini, pilihan pun jatuh kepada Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang (Mang Engking) yang berada dekat dengan kompleks besar Jababeka dan sekolah SMP anak bungsu saya dulu.

Yuk kita kemon!!

Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya

Sedap Masakannya

Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Gubug No. 5 | Estetik dengan dominan bambu untuk rangka utamanya

Panas mendera saat kami tiba di Mang Engking. Saking panasnya, semen injakan dan batu-batu koral di lahan parkir pun terlihat berkilauan memantulkan cahaya yang silau menghujan mata. Keringat saya mendadak bercucuran membasahi jidat jenong yang manis tiada tara. Melirik sekilas, saya melihat jumlah kendaraan nyaris memenuhi setiap sudut lahan yang cukup luas ini. Wah, ternyata tamunya banyak juga ya. Gak menyangka. Kerisauan untuk keluar rumah ternyata mulai meredup. Apa pasal? Entahlah. Tapi buat kami, makan siang keluarga kali ini dalam rangka mengusir kebosanan yang mulai memuncak selama berbulan-bulan tak pernah lagi keluar rumah. Tepatnya sedari saya dan suami terpapar Covid-19 di Juli 2021 yang lalu.

Melangkah ke pintu masuk, pihak resto sudah menyediakan berderet wastafel lengkap dengan sabun pencuci tangan. Spanduk himbauan untuk menjaga jarak dan (tetap) mengenakan masker pun dipasang di bagian depan resto. Setidaknya inilah usaha pihak Mang Engking untuk kepedulian mereka atas pandemi.

Berjalan ke bagian penerimaan tamu, saya dan keluarga disambut oleh seorang waitress leader berseragam lengkap dengan earphone mic dan 2 buku menu berwarna hitam. Usai membalas sapaannya yang ramah, saya langsung menyampaikan keinginan meminta gubug kecil yang bisa diisi setidaknya 5 orang dan tidak bergabung dengan siapapun. Rezeki banget. Meski tanpa reservasi, kami langsung mendapatkan tempat yang dimaksud. Gubug No. 5 dengan dinding terbuka dan beratapkan rumbia dan tampak indah dengan hampir sebagian besar rangkanya adalah bambu.

Tak butuh waktu lama untuk memutuskan apa yang akan kami konsumsi. Mengingat perut sudah meronta dan bernyanyi juga dalam rangka menghemat waktu, kami memutuskan untuk memesan menu paket yang memang dipersiapkan untuk 6 orang. Isinya dan pilihannya lengkap. Setidaknya bisa mengakomodir selera kami semua.

Paket seharga 679K ini terdiri dari udang bakar madu, udang goreng, udang saus tiram, gurame bumbu cobek, gurame bakar kecap, tumis kangkung, karedok, nasi untuk 6 porsi, sambal terasi dadak 2 porsi, sambal tomat, es jeruk 3 porsi dan esi teh manis 3 porsi. Itu pun kami tambah dengan otak-otak 1 piring, pete goreng, pete bakar, dan kepiting saus tiram, plus bergelas-gelas minuman dingin. Semuanya sedap, kaya rasa dan tidak pelit bumbu. Yang paling jagoan enaknya itu adalah 2 jenis gurame. Kedua ikan ini, meski ukurannya cukup besar, nyatanya amblas tak bersisa. Nasi dalam bakul pun tandas dan tersisa sedikit (sengaja kami sisakan) untuk diberikan ke ratusan ikan koi yang berenang di kolam besar resto.

Baca juga: PADANG MERDEKA Cikarang. Satu Lagi Pilihan Kuliner Berkualitas di Kabupaten Bekasi
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Udang goreng yang gurih dan renyah
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Gurame bumbu cobek. Masakan yang paling saya sukai. Satu sajian berbeda dari gurame yang baru kali itu saya rasakan. Bumbunya pas, sangat meresap dan tingkat kematangan gorengannya juga mantab banget.
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Udang Bakar Madu. Manisnya pas bercampur dengan rasa gurih yang melekat di lidah.
Baca juga: ABUBA STEAK. Surga Bagi Para Carnivor yang Sekarang Hadir di Lippo Cikarang

Tempat yang Nyaman dan Menyenangkan

Sembari menunggu makanan datang, seperti biasa, saya bergegas mengitari resto untuk memotret dan lebih memperhatikan sekitar. Seperti layaknya resto sunda yang berkonsep family gathering, Mang Engking lebih memprioritaskan ketersediaan gubug untuk para tetamu. Mungkin ini alasannya kenapa Mang Engking meletakkan jargon Gubug Makan di bagian depan jenama restonya.

Lahan atau ruang makan inti yang luas dengan beberapa meja besar ada di bagian tengah bagian depan. Sementara gubug dalam berbagai ukuran mengitari danau buatan. Jumlah gubugnya lumayan banyak. Saya lupa menghitung. Tapi setidaknya adalah belasan.

Bener aja, rata-rata tamu memang memilih untuk bersantap di gubug. Terlepas dari masa pandemi, menurut saya, makan di gubug tuh lebih asik. Kebersamaan keluarga lebih terasa. Suasana lebih private meski gubugnya tak berdinding. Dan tentu saja tidak terganggu dengan kegiatan atau suara orang lain karena jarak antar gubug juga tidak terlalu dekat. Setiap gubug juga punya wastafel masing-masing dan selasar kecil untuk menjulurkan kaki ke arah danau. Area duduk yang asik banget buat mengamati sekitar, melihat dan memberi ratusan ikan koi yang berenang lincah, mendekat dan berebut makanan. Yang gini ini kan yang tidak kita miliki di rumah?

Baca juga: Rasa Ala Sunda yang Menggoda Selera di Resto MANG KABAYAN
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Asiknya duduk di pinggir gubug sambil mengamati dan memberi makan ikan

Yang kangen dengan nuansa pedesaan tanpa sawah dan ingin menikmati waktu-waktu makan bersama keluarga atau orang-orang terdekat dalam atmosphere yang berbeda, duduk manis di dalam gubug seraya mengobrol bebas, bisa jadi solusi yang pas. Meski udara begitu panas menerpa, nyatanya atap rumbia dengan kemiringan yang sangat menjorok, bisa mengurangi rasa panas yang muncul persis di tengah hari saat kami berkunjung.

Disaat saya mengitari resto, hampir semua gubug terisi. Sebagian besar membawa anak-anak yang tampak heboh berteriak ingin nyebur atau memberi makan ikan. Pihak resto menyediakan panganan khusus untuk ikan-ikan peliharaan ini dalam bungkusan plastik. Sayangnya kesadaran pengunjung agar tidak sembarangan membuang bungkus plastik ke dalam danau itu masih minim. Padahal apalah susahnya membuang sampah plastik itu di kotak sampah yang banyak tersedia di sekitar gubug. Jikapun hal itu dilakukan anak-anak, alangkah baiknya jika para orangtua mengingatkan. Great things happen from hundreds awareness though.

Terimakasih untuk Mang Engking yang sudah menyempurnakan acara makan siang keluarga saya. Rencana sih, jika waktu memungkinkan, saya ingin kembali kemari untuk menikmati hidangan seafood dalam wadah besar bersama keluarga. Atau botram dengan lebih banyak lagi sanak saudara yang berkenan beranjangsana ke Cikarang. Kabupaten kecil dimana saya dan keluarga tinggal lebih dari 20 tahun belakangan ini.

Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya

Galeri Foto

Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Ruang makan utama besar dan luas yang ada di bagian depan dan beberapa gubug yang berada di seberang gubug yang kami tempati
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Keasikan anak-anak melihat ratusan ikan mendekati mereka untuk berebut makanan. Satu pemandangan yang mengademkan hati.
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Saya di jalan kecil yang menghubungkan antar gubug dan mengitari danau
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Saya di pintu masuk utama
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya
Saya dan keluarga. Mumpung ada adik ipar, jarang-jarang kami bisa berfoto dalam formasi lengkap.
Gubug Makan MANG ENGKING Cikarang. Sedap Masakannya. Nyaman dan Menyenangkan Tempatnya

Gubug Makan Mang Engking Cikarang. Jl. Raya Lemahabang No. 88, Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, BEKASI 17530, Jawa Barat. Buka setiap hari mulai pkl. 10:00 wib. Melayani reservasi di nomor telepon 0821-1363-2688 atau 021-8932-3488. IG @mangengkingcikarang.

#GubugMakanMangEngkingCikarang #MangEngkingCikarang #RestoDiCikarang #KulinerCikarang #AcaraKeluarga #MasakanSunda #AlaSunda

GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

19

Siapa sih yang gak kepengen kulit wajahnya glowing, bersinar indah, bersih tanpa flek-flek yang terlihat mengganggu penampilan? Kalau saya sih yes. Pengen pake banget. Apalagi dengan semakin bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk menghasilkan kolagen yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecerahan kulit mulai berkurang.

Jadi wajar kalau semakin hari, semakin bertambahnya umur, kita wajib menjaga kebersihan dan kesehatan kulit. Terutama kulit wajah yang tentunya menjadi perhatian utama bagi kaum perempuan.

Perawatan. Yup. Itulah inti dari segalanya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pihak Scarlett kembali menghubungi saya dan memperkenalkan Scarlett Glowtening Serum sebagai pelengkap dari rangkaian perawatan kulit wajah, setelah sebelumnya saya memakai rangkaian Brightly Ever After face care series yang meliputi facial wash, day cream, night cream dan serum.

Baca juga: Merawat Kesehatan Kuli Wajah di Usia Keemasan Bersama SCARLETT Brightly Face Care Series

GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum
GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

Dengan berat bersih 15ml, tampilan botol Glowtening Serum ini sama persis dengan Brightly Ever After Serum yang pernah saya terima. Body botolnya dove dengan tutup berpipet putih susu yang jika ditekan/dipencet akan menarik isi dari serum di bagian batang pipetnya. Serumnya berwarna putih susu, tidak berbau dan terasa sangat lembut saat saya coba oleskan.

Dalam sebotol kecil serum yang terlihat mewah ini, ada beberapa jenis kandungan manfaat seperti:

  1. Tranexamide Acid yang berfungsi meredakan peradangan kulit, melindungi kulit dari sinar UV dan meratakan warna kulit;
  2. Niaciamide yang bertujuan untuk melembabkan kulit, menyamarkan noda hitam dan mengendalikan produksi minyak pada wajah;
  3. Geranium Oil yang berfungsi menyamarkan garis halus pada wajah serta mengencangkan kulit dan memperlambat penuaan;
  4. Allantoin yang kaya akan antioksidan sehingga mampu merangsang pertumbuhan kolagen pada kulit

4 kebutuhan dasar yang memang sangat dibutuhkan oleh kulit wajah kita agar terlihat bersih dan cerah.

Kabar gembiranya serum ini sesuai untuk segala jenis kulit. Jadi bisa kita kombinasikan dengan rangkaian Acne Serum ataupun Brightly Ever After Serum yang sudah kita miliki. Kehadirannya tentu saja melengkapi semua perawatan yang sudah kita aplikasikan. Prosesnya gampang banget. Bersihkan wajah dengan facial wash, lalu gunakan kedua serumnya (secara bergantian), kemudian akhiri dengan penggunaan krim (day untuk pagi dan night untuk malam atau sebelum tidur).

GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

Penggunaan brightly series dan glowtening serum dalam satu paket, dapat memaksimalkan usaha kita untuk mendapatkan kulit wajah yang lebih cerah, glowing dan sehat. Sementara untuk yang menggunakan acne series, glowtening serum dapat membantu memaksimalkan efek memudarkan jerawat/noda hitam yang bertengger di wajah.

Satu lagi hal istimewa tentang glowtening serum ini adalah sangat aman untuk dikombinasikan dengan acne series. Jika pada umumnya kulit yang berjerawat tidak disarankan memakai produk mencerahkan, untuk produk Scarlett, pemakaian acne serum dapat dikombinasikan dengan glowtening serum. Jadi penggunaan acne series + glowtening serum justru dapat membantu menyembuhkan atau meredakan peradangan jerawat/beruntusan, bahkan bisa membantu mencerahkan kulit dan memudarkan bekas jerawat/noda hitam. Benar-benar jadi bonus perawatan yang banyak sekali manfaatnya.

GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum
GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

Saat artikel ini saya susun, saya sudah efektif menggunakan Glowtening Serum selama 12 (dua belas) hari. Tentu saja dikombinasikan dengan brightly series yang pernah diperkenalkan ke saya terlebih dahulu. Pemakaiannya menjadi lebih efektif karena sebelum menggunakan rangkaian perawatan dari Scarlett ini saya pakai kembali, saya sempat melakukan perawatan intensif khusus untuk mengurangi beberapa flek (dengan laser) di sebuah klinik kecantikan. Wajah saya pun sempat dipeeling supaya kulit wajah yang mati dan menebal dapat dikikis. Karena itu saya merasakan efek yang lebih menyenangkan dan memuaskan.

Efek yang sangat saya rasakan adalah kulit wajah saya menjadi lebih kenyal, tone/warna kulit wajah saya juga terlihat setingkat lebih cerah. Megang wajah juga terasa banget halusnya. Lembut sekali. Asiknya yang ngomong kalau wajah saya jadi lebih cerah tuh adalah seorang teman yang sempat mengunjungi saya di rumah sehari setelah perawatan di klinik dan datang bertamu lagi ke rumah kemarin. Tentunya omongan orang yang beberapa waktu tidak bertemu pastinya lebih bisa dipercaya. Kedatangannya malah bikin kami berdiskusi soal urusan perawatan wajah ini.

Yang pasti, dari semua yang saya dapat, ada beberapa poin penting dan wajib kita lakukan dalam merawat kulit wajah:

  1. Melakukan perawatan wajah secara konsisten dan teratur;
  2. Menggunakan setiap item sesuai dengan aturannya dan tidak berlebihan;
  3. Memastikan bahwa wajah sudah bersih dari kotoran sebelum menggunakan rangkaian perawatan
GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

Dengan berbagai perubahan yang saya rasakan di atas, so pasti saya bakal menggunakan rangkaian brightly series plus glowtening serum untuk jangka waktu yang panjang. Kebayang dong. Baru 12 hari aja efeknya sudah terasa. Apalagi kalau lebih lama ya? Impian mendapatkan kulit wajah yang lebih sehat dan cerah tentunya bisa tercapai. Sesuai dengan harapan saya, dengan bare-face pun, saya yang memang gak lihai memoles wajah ini, bisa tampil bersih, bersinar tapi tetap sederhana. Sesuai dengan usia lah ya. Kan segen juga jika harus terlihat dengan berbagai permak wajah yang seharusnya sudah tidak saya lakukan di usia ke-emas-an seperti saat ini.

By the way, Glowtening Serum ini sudah secara resmi terdaftar dan mendapatkan sertifikat Halal dari BPOM loh. Harganya pun ramah di kantong. Untuk 1 botol serum ini, kita cukup mengeluarkan dana sebesar Rp 75.000,- (tujuh puluh lima ribu rupiah) saja.

Untuk pemesanan bisa lewat Line @scarlett_whitening, akun Shopee Mall dengan nama Scarlett Whitening Official Shop atau bisa WA ke 0877-0035-3000. Gampang banget kan?

Saya loh sudah membuktikan kualitas Glowtening Serum. Kamu kapan?

GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum
GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum
GET GLOWING Bersama SCARLETT Glowtening Serum

#Scarlett #ScarlettGlowteningSerum #ScarlettGlowteningSeries #ScarlettSkinCare

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku

59
TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku

Hidup bertetangga itu banyak cerita, dinamika dan lika-likunya. Mulai dari hal remeh temeh hingga sesuatu yang serius untuk dibahas. Semua seru untuk diceritakan tanpa terkecuali. Topiknya juga beragam. Bisa soal anak, kehidupan percintaan suami istri, sampai beberapa kejadian yang bikin heboh orang sekompleks. Yang pasti, dari apa yang sudah kita alami, tentunya banyak hikmah yang bisa didapat dari bergaul dan hidup bersama dengan tetangga.

Beberapa di antara keseruan itu terekam dengan baik dalam ingatan saya dan begitu menggoda untuk dihadirkan ke hadapan publik. Jadi, sewaktu menuliskan kisahnya satu demi satu, saya diliputi oleh nostalgia berkepanjangan diiringi dengan senyum sumringah, dada berdebar, bahkan merinding takut akan sebuah kejadian mistis yang di luar nalar.

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku

Sebelum beranjak lebih jauh menjelajah ke dalam isi buku, ijinkan saya bercerita lebih dahulu tentang beberapa tetangga yang menjadi obyek cerita untuk buku solo perdana saya ini.

Mereka adalah beberapa pribadi, keluarga, dan sekelompok orang yang tinggal berdekatan, satu kompleks dengan rumah saya dan rumah orang tua saya. Cerita tentang mereka adalah 90% kisah nyata dengan 10% diantaranya adalah hal-hal yang menyangkut ranah privacy. Seperti nama asli (nama pribadi), lokasi asli atau letak rumah, dan rincian tempat tinggal yang tentunya tidak elok jika saya sampaikan sebagaimana adanya. Ada diantaranya yang masih berstatus tetangga hingga saat, tapi lebih banyak yang sudah pindah rumah dan tidak bisa saya hubungi lagi.

Berkat merekalah lahir beberapa artikel yang ada di dalam buku ini. Naskah yang sudah saya pilih diantara puluhan materi tulisan mentah yang masih bersemayam di dalam desktop laptop saya. Awalnya saya ingin mematangkan semuanya serentak tapi tenaga dan waktu belum mengijinkannya. Beberapa diantaranya malah harus diolah kembali karena banyak bagian yang mulai tergerus dari ingatan saya.

Terimakasih para tetangga saya.

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku
Arisan Oh Arisan. Acara kumpul yang selalu seru dan jadi alasan kuat untuk membangun silaturahim. Banyak cerita kocak dan seru dari artikel saya yang satu ini. Termasuk salah satunya kisah arisan per-tetangga-an di seputaran rumah Ibu saya. Ngakak habis setelah selesai nulis cerita itu. Mudah-mudahan semua pembaca buku ini pun akan tersenyum-senyum penuh arti.
TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku

Semua kisah yang saya recall dari ingatan ini, dikejar proses pembacaan kembali dan penyelesaiannya dalam waktu hampir 4 bulan. Beberapa diantaranya mengalami proses personal editing yang cukup panjang supaya tidak menimbulkan sejarah berliku dalam tahap proof reading antara saya dan publisher. Sebagian besar koreksi adalah karena mengikuti ejaan baru (yang tidak saya ketahui) dan tata letak menerangkan dan diterangkan yang harus lebih saya perhatikan.

Tapi yang pasti semua pengalaman yang ingin saya bagikan lewat buku Tetangga Kok Gitu adalah rangkaian cerita yang patut dikenang dan diceritakan kembali. Rata-rata kisahnya terjadi sekitar 2-3 tahun yang lalu. Bahkan ada yang lebih lama dari itu. Karena itulah, saya perlu merangkai serpihan-serpihan ingatan akan berbagai peristiwa itu agar semua bisa tersaji dengan apik.

Saya sengaja memilih topik yang beragam agar pembaca tidak terpaku pada pola pikir tertentu. Ada cerita yang konyol, lucu, romantis, tragis, bahkan menyentuh dunia mistis. Ada juga gabungan dari semua rasa itu. Nano nano lah pokoknya.

Cerita Rumah Kontrakan: Kisah Tentang Dea misalnya. Tulisan ini pernah dibagikan di akun Facebook pribadi saya. Banyak sekali yang memberikan tanggapan. Ada yang berupa komen panjang kali lebar di postingan yang bersangkutan, ada yang ngirim pesan inbox (messenger), bahkan ada yang mengirim WA langsung ke nomor saya. Beberapa dari mereka ada yang menganggap bahwa apa yang saya tulis itu fiksi. Tapi ada juga yang bercerita pernah memiliki pengalaman serupa. Tidak masalah bagi saya. Karena kisah kehidupan itu banyak sekali yang mirip. Yang membedakan adalah reaksi/tanggapan, penanganan, dan pemecahan/solusi jika memang butuh penyelesaian plus tempat kejadian. Dan nyatanya, dunia mistis itu banyak terjadi di sekitar kita. Tapi lagi-lagi semua hal tentang yang satu ini punya versi masing-masing untuk setiap orang. Saya yang pernah mengalami tetap menghormati mereka yang tak tersentuh sama sekali. Karena toh takdir dan nasib saya berbeda dengan orang itu.

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku
Rumah Kontrakan: Kisah Tentang Dea. Satu bagian cerita yang melengkapi buku dengan nostalgia yang beragam ini. Mengajak kita untuk berpikir dan mengevaluasi diri bahwa hal-hal di luar nalar bisa terjadi pada kita. Bahkan untuk sesuatu yang tidak kita percayai dan kita imani.

Saat saya menyusun kalimat untuk artikel Yang Mana Istrimu? Ada banyak partikel cerita yang harus hati-hati saya rekatkan kembali. Di masa saya jobless waktu itu (sekitar 3 bulan), sesungguhnya banyak sekali cerita tentang tetangga yang dapat saya rekam dalam ingatan. Masa-masa dimana saya punya sedikit banyak waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga. Apalagi waktu itu kompleks saya penghuninya masih sedikit. Belum serame sekarang. Karena dikit inilah, kami relatif saling kenal satu sama lain. Bahkan dengan mereka yang tidak tinggal di blok/jalan yang sama.

Kondisi sedikit manusia itulah yang membuat saya kenal dengan Imam. Bapak satu anak ini adalah seorang dari beberapa orang yang membuat masa-masa pengangguran saya jadi berwarna (ngakak penuh arti). Dari seorang Imam jugalah, ibu saya selalu memberikan wejangan tentang “memelihara cinta” suami dan harus punya insting yang tajam soal masalah krusial yaitu kesetiaan.

Romansa dan kehidupan percintaan suami istri juga saya tuangkan bukan hanya di artikel di atas. Beberapa kisah tentang perselingkuhan juga hadir di artikel Selingkuh Kok Sama Tetangga. Cemen ah!! atau artikel Selingkuh Itu Terjadi Karena Ada Kesempatan. Terus terang saat menyusun berlembar-lembar cerita tentang perihal sensitif ini, saya diliputi banyak perasaan. Kadang meringis, berpikir, tapi lebih sering ketawa. Ternyata menuliskan kisah dengan topik yang satu ini, seru juga loh.

Kisah tentang anak-anak juga salah satu obyek menarik. Saya menuliskan artikel berjudul Anto dan Dodo setelah kedua bocah menggemaskan tersebut mampu menghadirkan warna tersendiri di kompleks kami. Artikel ini sedikit banyak berbicara tentang masalah pengasuhan dan bagaimana orang tua harus mampu bersikap bijak tentang pergaulan anak-anak. Ada etika tidak resmi tertulis yang harus kita jalankan dalam kehidupan bertetangga. Tapi ada juga hal-hal yang justru dengan keribetannya bisa melahirkan rasa kebersamaan yang tinggi.

Cerita pilu dan sendu juga saya rasakan saat menulis artikel yang berjudul Ketika Ibu Tiada. Salah satu cerita favorit yang saya dahulukan penyelesaiannya. Saya sempat beberapa kali termenung mengenang seorang teman yang sudah tiada dan meninggalkan 3 anak-anak yang masih butuh bimbingan dan kehadiran sang Ibu. Anak-anak piatu ini kemudian melewati sebuah fase kehidupan yang sepatutnya tidak terjadi pada mereka. Saya dan beberapa ibu-ibu tetangga berusaha sekuat tenaga agar anak-anak ini tetap merasakan kebahagiaan, meskipun hanya didapat dari teman-teman almarhum ibu mereka.

Apa lagi cerita yang ada?

Yang pasti saya sudah mempersiapkan 12 artikel untuk dibaca publik. Tidak banyak memang karena seperti yang saya sampaikan di atas, saya memiliki waktu dan ingatan yang sangat terbatas. Tapi mudah-mudahan dengan total 131 halaman, semua cerita yang ada bisa menghangatkan hati para pembaca dan mengisi setiap jengkal waktu dengan bacaan yang menyegarkan.

Ingin membaca kisah seru sebelum buku ini terbit? Mari silahkan baca tulisan Dibalik Lahirnya Buku Solo TETANGGA KOK GITU

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku
Balada Parkiran Mobil. Salah satu masalah bersama yang dirasakan orang sekompleks yang tinggal di pemukiman padat. Jalan di dalam kompleks sempit tapi setiap penghuni memiliki kendaraan lebih dari satu. Akibatnya mereka pun harus memarkirkan kendaraan di bahu jalan. Masalah serius pun muncul saat kondisi seperti ini menimbulkan kecelakaan yang keributan di antara para penghuni.
TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku

Buku yang saya terbitkan bersama Stiletto Book ini siap ditawarkan kepada publik dengan proses PO mulai dari 9 hingga 23 September 2021 di harga Rp 60.000,- (enam puluh ribu rupiah) dan Rp 70.000,- (tujuh puluh ribu rupiah) setelah masa PO telah selesai. Proses cetak untuk setiap periode pemesanan adalah 2-3 minggu setelah pembayaran dilakukan oleh para pembeli.

Setiap pemesanan lewat Stiletto Book (Publisher) atau langsung ke Penulis (saya) akan mendapatkan bonus 1 buah wire jewelry (jenisnya random) seharga Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah). Jadi silahkan kontak saya via WA di nomor 0811-108-582. Untuk pemesanan lewat Stiletto, bisa menghubungi nomor dan link media sosial pada flyer di bawah ini.

Semua harga yang disebutkan belum termasuk ongkos kirim.

Oia, terimakasih sebelumnya atas perkenan untuk tidak memesan SELAIN di 2 jalur yang ada yaitu saya dan Stiletto Book. Membeli buku asli tentunya adalah bentuk dukungan yang sportif atas hasil karya penulis dan menghargai perkembangan dunia literasi tanah air.

TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku
TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku
TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku
TETANGGA KOK GITU. Kisah Dinamika Hidup Bertetangga yang Penuh Warna Dalam Sebuah Buku

#AnnieNugraha #BukuSolo #TetanggaKokGitu #ReviewBuku #StilettoBook #PenerbitIndie #PenulisIndonesia #IndonesianAuthor @BukuSoloPerdana