
Rumah Makan Hj. Ine Naripan Bandung. Kelezatan Sop Buntutnya di Level Premium | Restaurant and Culinary Review, Travel | June 2026
Kira-kira pembaca sudah ngiler belum lihat semangkok besar sop buntut yang saya foto di atas?
Jika jawabannya “YA” berarti Anda sama dengan saya. Dan itu semua berawal dari eksistensi media sosial.
Ketenaran tentang kelezatan dan berada di level premium itu sudah membuat saya penasaran banget. Apalagi setelah beberapa kali melihat unggahan beberapa food blogger dan vlogger yang sudah mampir di rumah makan Hj. Ine yang berada di kawasan Naripan Bandung ini. Baik foto maupun video nya ciamik betul. Bikin selera langsung meleleh tanpa bisa ditangguhkan.
Buat saya yang menggilai aneka asupan berbahan dasar iga sapi atau buntut sapi, semua unggahan itu benar-benar menantang untuk dicoba langsung. Dan akhir pekan bulanan yang lalu suami bersengaja mengajak saya berkelana di Bandung sembari mengunjungi beberapa tempat yang sudah lama masuk dalam daftar kunjungan wajib. Termasuk Rumah Makan Hj. Ine.

Kawasan Naripan yang Padat Pengunjung
Saya beranjak ke kawasan Naripan setelah usai mengobrak-abrik Taman Bacaan Hendra yang berada di Cihapit. Serangkaian waktu berharga yang memberikan kesempatan bagi saya untuk lebih mengenal sebuah perpustakaan yang sudah berusia puluhan tahun dan melegenda di kota Bandung.
Sembari melangkah di tengah hari yang panas dan kepadatan Cihapit membuat saya menghabiskan air putih dingin berbotol-botol. Keringat pun mengucur deras dari ujung rambut hingga ujung kaki karena harus berjalan lumayan jauh untuk mencapai parkiran yang didapat suami di hari itu.
Naga di lambung pun mendadak mulai berontak karena saya bersengaja melewatkan jajan di Cihapit demi makan enak di Rumah Makan Hj. Ine.
“Gak jauh kok dari sini. Dengan catatan gak macet,” ujar suami saat melihat wajah saya matang memerah karena kepanasan. Dia tahu persis bahwa salah satu kondisi yang selalu bisa memporak porandakan mood saya adalah kepanasan. Dia langsung nyetel AC maksimum dan membiarkan saya membuka hijab demi bisa mengusap kepala dengan handuk kecil yang biasa ada di dalam mobil.
Perjalanan hari itu memang perjuangan bagi saya yang gampang gerah.
Untungnya kemacetan kota Bandung di akhir pekan itu tidak separah biasanya. Hanya sempat tersendat karena motor yang melawan arah dan beberapa mobil serta motor yang tampak parkir tidak pada tempatnya. Begitu pun saat kami sampai di kawasan Naripan. Salah satu area tersibuk di kota Bandung karena berlimpahnya tempat wisata jajan dan belanja. Saya bahkan melihat banyak perapihan yang dilakukan oleh pemkot Bandung yang membuat Naripan menjadi lebih bersih, lebih tertata, dan kelihatan lebih ciamik. Vibes nya terasa berbeda dibandingkan dengan terakhir saya melintasi kawasan ini.
Petunjuk lokasi di GMaps menandakan bahwa kami sudah mendekat ke Rumah Makan Hj. Ine. Tapi sedari tadi tak ada satu slot pun area parkir yang tersedia. Saya dan si bungsu pun turun lebih dahulu dan seperti biasa mengizinkan suami menjelajah tempat parkir.
Dari berjalan kaki inilah akhirnya saya melihat fasad rumah makan dari kejauhan. Tulisan jenama nya menjulang tinggi dengan huruf yang besar-besar dan warna cat yang mentereng. Di bawah tulisan jenama itu tertera beberapa menu andalan seperti dendeng batokok, sop iga sapi, dan masih banyak lagi. Ukuran resto nya terlihat besar karena menempati dua buah ruko.
Jalan di depan Rumah Makan Hj. Ine dipenuhi oleh barisan pedagang asongan, warung tenda, dan kesibukan lain yang membuat teras di seputar resto semakin padat. Saya memutuskan untuk menunggu suami sebentar sebelum masuk ke dalam resto. Yang pasti dari teras depan ini saya bisa melihat kesibukan yang tercipta di dalam. Tempat duduk yang banyak dan sebuah ruang terbuka pelayanan di sisi kanan saat kita masuk.
Petugas berseragam tampak menyambut dan menanyakan jumlah tamu, tapi mata saya malah terpaku pada sebuah wajan super besar yang diletakkan di sisi depan. Suara berdesis terdengar dari bagian bawah wajan ini. Sesuatu yang menandakan bahwa pihak resto menjaga agar masakan yang ditaruh di dalam wajan untuk tetap hangat sepanjang waktu.
Saya mendadak penasaran dan bergerak mendekat ke arah wajan ini.
Dengan kuah yang berlimpah dan terlihat sarat dengan kaldu, berpuluh-puluh daging buntut sapi “berenang” di sana. Alamak. Mata saya langsung membelalak dengan sukacita. Apalagi tak lama kemudian, seorang petugas datang untuk mengaduk dan menuang sop iga ini ke sebuah mangkuk besar. Saya terjebak mengamati hingga akhirnya berjalan masuk saat suami berdiri di samping saya.
“Wow. Menyelerakan sekali ya!” Ujar suami setengah menjerit.
Saya tergugu dengan karena kaget plus lambung yang semakin meronta minta diisi.

Sajian yang Sempurna
Gak butuh lama untuk menentukan apa yang akan dimakan siang itu.
Saya memesan sop iga sapi, sementara si bungsu mencoba dendeng batokok, suami menikmati salad sayur yang didominasi oleh timun (karena sedang diet), keripik kentang pedas, es teh tawar untuk saya dan si bungsu, teh hangat untuk suami, lalu ditutup dengan semangkuk Es Campur Seribu Dinar. Untuk yang terakhir ini adalah pilihan sajian penutup yang visualnya sangat menggoda. Apalagi di tengah cuaca panas yang begitu menerjang.
Oia, aneka sajian yang ditawarkan oleh Rumah Makan Hj. Ine, mudah sekali dikenali. Mulai dari banyak foto besar-besar yang ditempelkan di dinding serta kertas printing yang dilaminasi. Sederhana banget. Tidak ada buku menu yang besar dengan food photography yang mewakili karakter setiap masakan atau minuman.
Tapi yang pasti dari apa yang saya baca, semua pilihan adalah menu rumahan, sajian nusantara yang biasa kita nikmati di hampir semua rumah makan di tanah air tercinta. Terselip juga beberapa asupan asal Minangkabau yang bisa kita jumpai di restoran Padang. Termasuk kuah kuning khas Padang yang selalu berhasil membangkitkan selera.
Saat pesanan datang, indra penglihatan saya tak beranjak dari semangkuk besar sop buntut sapi lengkap dengan banyak potongan sayur seperti tomat dan kentang yang masih terlihat segar. Menyeruput kuahnya jadi kenikmatan tersendiri. Selain kaya rempah, kuah nya ngaldu banget. Terasa begitu gurih, tasty dan tidak terasa berat di lidah. Daging buntut sapi nya juga lembut betul. Mudah hancur dan dikunyah. Comfort food yang berhasil meninggalkan kesan yang luar biasa. Jadi saat banyak orang menjuluki sop buntut sapi ini berada di level premium, saya sangat setuju dan tentu saja tidak menolak. This menu absolutely deserve it.
Ketika si bungsu memberikan saya sepotong kecil dendeng batokok, pujian yang sama juga saya berikan. Taburan potongan bawang putih serta sambal hijau yang menyertai membuat sajian ini terangkat kualitas nya. Tapi meskipun penasaran dengan kelezatannya dan ingin mencobanya kembali, saya mendadak ingat ada semangkuk besar sop iga sapi yang harus saya tandaskan. Itu pun akhirnya tidak bisa saya habiskan karena potongan daging iganya banyak banget.
Penyempurna dari apa yang sudah saya makan adalah sepiring kecil kentang goreng pedas. Saya tadinya tidak berharap apa pun dengan menu ini tapi ketika mencoba sepotong, indra perasa saya langsung melejit. Kentangnya tetap garing dan gurih meski diliputi oleh cabe berbalut gula. Kentang ini pun langsung tandas dalam sekali makan hingga akhirnya saya memutuskan untuk memesan sepiring lagi. Sementara saya mengikhlaskan sopi iga sapi tadi kepada suami yang terlihat tersenyum gembira dan mendadak membatalkan dietnya.
Semua kelezatan ini kemudian ditutup dengan semangkuk Es Campur Seribu Dinar. Apa yang ada di dalam es campur ini sama persis dengan apa yang disajikan oleh tempat makan lainnya. Bonus kacang yang ditaburkan membuat es campur ini punya sentuhan garing dan gurih yang berbeda. Tapi terus terang saya tidak berani menghabiskan karena rasa manis yang lebih dari biasanya dan ternyata lambung saya sudah over load. Semua akhirnya ditandaskan oleh si bungsu.

Pendapat Pribadi untuk Rumah Makan Hj. Ine
Rumah Makan Hj. Ine ini menorehkan serangkaian pengalaman berwisata kuliner yang begitu menyenangkan di Bandung. Terbayar sudah rasa menahan lapar selama menyusur Pasar Cihapit, dalam perjalanan ke Naripan, hingga mencari parkir yang tak mudah. Puas juga karena apa yang direferensikan oleh beberapa rekan food blogger dan food vlogger di media sosial dan platform penulisan, akhirnya terbukti.
Namun perihal ini juga kembali ke selera ya.
Saya pernah mengalami datang ke satu resto yang banyak didatangi oleh rekan restaurant reviewer. Secara narasi saya pahami bahwa sebagian besar mereka memberikan pujian yang tidak sedikit. Inilah yang kemudian mendorong saya untuk mendatangi tempat tersebut. Bahkan memesan menu yang sama yang disebutkan di dalam barisan pujian. Tapi ternyata skala enak saya berbeda dengan mereka yang sudah mencoba terlebih dahulu. Meski dalam rumus per-mamah biakan saya hanya ada makanan enak dan sangat enak, rumus ini ternyata tidak berlaku saat itu.
Tapi tak apa, ini jadi pengalaman berharga yang tidak mungkin saya buktikan kecuali datang dan langsung merasakannya sendiri. Dari pengalaman ini, saya kemudian bisa menyortir siapa rekan seprofesi yang memiliki standard penilaian yang sama dengan saya. Termasuk saat dia menilai tempat tersebut secara fisik dan visual. Jadi tidak sekedar menghadirkan kata estetik, instagenic, instagrammable, hidden gem, dan lain-lain dengan makna setara.
Penilaian saya untuk Rumah Makan Hj. Ine ini ada di peringkat baik. Dari segi ketepatan pelayanan, kualitas masakan, kebersihan tempat, dan lokasi. Lingkungannya menarik meski ada satu pe-er khusus untuk urusan parkir karena memang Naripan adalah salah satu kawasan padat di kota Bandung.
Masukan saya cuma dua aja.
Pertama adalah meningkatkan keramahan para petugas. Biasanya ini terlihat saat mereka terjebak pada kesibukan pelayanan. Suasana huru-hara sering “menjebak” petugas untuk mengucapkan “terima kasih”
Yang kedua adalah tentang ruang makan itu sendiri. Bandung – menurut saya – cuacanya tidaklah seperti dulu. Jika dulu orang datang ke Bandung dengan harapan bisa merasakan udara sejuk, air yang dingin, dan lalu lintas yang bersahabat, sekarang-sekarang sudah tidak lagi. Jadi sepertinya pas jika rumah makan ini menyediakan ruangan ber-AC demi kenyamanan tamu.
Ada yang sudah pernah bertamu dan menyantap sajian tempat ini? Cerita dong ke saya di kolom komen.






