Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Photo of author

By Annie Nugraha

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Bakso dan Mie Ayam “Gerobak Pantjoran” Enaknya Bikin Kangen | Culinary and Restaurant Review & Travel | Juni 2026

The power of social media. Yup. Saya lagi-lagi terpengaruh pada unggahan seorang food vlogger yang belakangan hari lagi hunting tempat makan enak di kawasan Lippo Cikarang. Lewat unggahan inilah kemudian saya ngeh kalau di area dekat Apartemen Meikarta ada kedai bakso dan mie ayam seenak Gerobak Pantjoran

Saya pun mengatur rencana. Kapan ya kira-kira bisa mampir ke Gerobak Pantjoran? Pengennya sih sekalian pas jalan ke luar rumah. Hemat tenaga dan hemat waktu. Hingga akhirnya saya dan suami harus ke Bandung dan esoknya langsung pulang di pagi hari karena ada janji lainnya. Setelah menghitung waktu tempuh, saya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Cikarang pada pukul 09.30 WIB supaya pas sampe di Cikarang sekitar waktu-waktu makan siang.

Ah udah pas banget lah. Bersengaja tidak menikmati brunch time supaya rasa lapar dan enak itu bisa terlampiaskan saat makan di Gerobak Pantjoran.

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Ruko Baru yang Sudah Ramai

Perjalanan dari Bandung menuju Cikarang di Minggu pagi itu terasa lengang. Tidak ada kemacetan di titik manapun. Jadi saya berani berhenti dulu di rest area Travoy km. 88A tol Cipularang untuk ke toilet dan mampir ke mini market untuk membeli minuman dingin serta belanja sebentar di kedai tahu susu buat camilan sepanjang perjalanan. Padahal di rencana awal gak mau ngemil sesuatu tapi kalau sudah ketemu tahu susu yang lembut dan tasty itu, sayang rasanya dilewatkan. Beberapa potong yang sudah digoreng untuk dimakan di perjalanan, lalu sebungkus panjang yang rebus untuk stok di rumah.

Beberapa jam sebelum melangkah pulang ke Cikarang, saya sempat sekali lagi mengecek lokasi Gerobak Pantjoran dan memastikan bahwa mereka siang itu buka. Tentang lokasi ini memang tricky banget karena belakangan tahun, Lippo Cikarang gencar melahirkan banyak tempat berdagang (baca: ruko) di hampir setiap sudut lahan “yang nganggur” di beberapa titik. Beberapa lahan hijau pun dipangkas berubah menjadi hutan beton.

Setiap kompleks ruko diberi nama dengan kosakata bahasa Inggris. Dan karena semakin menjamur, saya rada sulit mengenali. Jadi saat melihat posisi mereka di peta lalu kemudian diperbesar, barulah saya bisa menandai dan memahami lokasi tepatnya.

Untuk menggapai ruko Cendana Spark North di mana Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran ini berada, sesungguh nya gampang banget. Dengan adanya exit tol Cibatu yang terhubung langsung dengan Apartemen Meikarta, jalan menuju kedai ini tuh hanya sekitar 300an meter. Setelah keluar tol dan menemukan pertigaan di antara bangunan apartemen yang menjulang, kita tinggal mengikuti arah jalan yang berbelok ke kanan. Ikuti aja jalur ini, nanti tak lama kita akan bertemu ruko Cendana Spark North di sisi kanan jalan.

Saya sesungguhnya sering melewati jalur ini karena ini jalan ternyaman dari rumah menuju Deltamas di mana pertokoan grande sekelas AEON berada. Hanya memang tidak menandai satu persatu karena maraknya pembangunan fisik yang dilakukan Lippo Cikarang. Tapi yang paling mudah menandai posisi Bakso Pantjoran di antara tenant lain di dekatnya adalah tulisan besar-besar, gabungan warna hijau – merah – dan putih lah yang membuat kedai ini mudah menangkap sudut pandang kita dari kejauhan. Sederetan tulisan dengan huruf besar-besar di spanduk pun menambah mudahnya identifikasi tempat ini bagi tamu pemula.

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen
Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Disambut dengan Keramahan dan Keindahan Mural

Ruko dua lantai milik Gerobak Pantjoran ini warnanya sungguh menarik. Saya suka dengan penggabungan hijau, merah, dan sedikit putihnya. Mungkin karena tiga warna ini adalah salah tiga dari warna favorit saya.

Sesuai dengan penamaan rumah makannya, di pintu depan ada sebuah gerobak kayu yang cukup besar dengan kompor besar yang terdengar mendesis pelan. Saya sempat berhenti dan melirik sebentar. Melihat ke sebuah pusat pengolahan yang terlihat sangat terjaga kebersihannya. Gerobak ini berfungsi sebagai dapur yang memroses pesanan kita. Seorang petugas tampak lincah menyusun sekaligus merapikan gulungan mie, bihun, dan kwetiau di satu sudut gerobak. Pemandangan yang sering saya lihat saat berkunjung ke abang-abang mie ayam gerobakan yang sering berkeliling kompleks perumahan. Bedanya hanya di ukuran. Yang di sini, ukurannya lebih besar sedikit aja. Selebihnya ya sama persis.

Disambut oleh keramahan seorang petugas, rasa nyaman pendingin ruangan langsung menyambut. Dan menjadi satu decak kagum saat saya melihat bagaimana rapinya kedai ini menata ruangan. Mural penuh warna tampak terpajang memanjang di salah satu sisi kedai. Mengusung tema kegiatan jajan di warung mie ayam dan bakso, mural ini begitu pas dihadirkan untuk Gerobak Pantjoran.

Perhatian saya langsung teralihkan.

Pilihan warna untuk meja dan kursinya juga apik. Meja dan bangku besi yang dikombinasikan dengan kayu serut. Ringan dengan motif warna muda yang pas banget untuk jadi tatakan atau alas food photography.

Serangkaian lampu dalam ruang juga sederhana tapi apik. Setidaknya melengkapi sudut estetika yang sudah dibangun untuk mural dan furniture yang digunakan. Dari keseluruhan interior design yang disajikan, kuncinya cuma dua yaitu menjaga kebersihan dan kerapian. Semua apa yang sudah ditata dan dipasang sebagus ini semoga bisa terjaga dengan baik. Sehingga bisa awet bertahun-tahun.

Oia, saat bertanya ke petugas, saya akhirnya memutuskan untuk makan di lantai dua. Di bagian ini tempat dialokasikan hanya untuk area makan. Berbeda dengan di lantai bawah dengan meja dan tempat duduk terbatas dan counter serta area pelayanan yang mengambil sekitar 1/3 ruangan. Jadi suasana di bawah lebih hiruk pikuk.

AC di lantai dua ini juga lebih terasa karena pintu tidak terlalu sering dibuka tutup seperti halnya di lantai bawah. Untuk saya kondisi seperti ini tuh menyenangkan. Kita bisa merasakan kenyamanan makan dengan sedikit suara bising dan gak mudah keringetan.

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Menu yang Umami dan Bikin Kangen

Sementara suami dan si bungsu berkutat dengan memilih pesanan, saya malah heboh memotret mural. Mumpung sedang minim tamu. Karena lebar ruangan cukup terbatas, mural panjang ini harus difoto dalam posisi atau sudut agak miring supaya sebagian besar gambar masuk dalam satu frame.

Untuk menu, daripada mabok dengan daftar yang panjang, saya menggunakan strategi ask a friend (baca: tanya petugas). Kuncinya cuma satu. Yang paling favorit atau paling sering dipesan oleh pelanggan. Ternyata dijawab dengan kalimat “Tergantung selera masing-masing Bu.” Pingsan.

Ah yasudlah, akhirnya si bungsu langsung berinisiatif memesan bihun bakso yang sama dengan apa yang dia pesan. Tapi buat saya dia tambahkan tetelan/urat. Kegemaran dan incaran saya setiap kali makan bakso di mana pun.

Jadi pesanan kami di kunjungan pertama ini adalah Paket Pantjoran 3 Bihun (35K), Mie Ayam + Urat Potong (33K), Pangsit Kuah 2bh (10K), Paket Pantjoran 5 Bihun (Bakso Urat 3, Bakso Halus 3) dengan minuman Es Teh Tawar (5K), Es Jeruk (25K) dan tambahan Kerupuk Udang (10K).

Gimana rasanya?

Dari sekian yang masuk ke mulut, saya ajukan pujian untuk bakso urat dan tetelannya. Keduanya lembut dan mudah dikunyah. Olahan daging dan kuah di bakso nya gak ngaldu banget dan gak over expose. Jadi gak bikin neg. Potongan urat atau tetelannya rapi banget. Kecil-kecil dan lembut. Gak bikin kita repot dan lama ngunyah.

Kuahnya gak kita ramu lagi juga sudah enak. Saya hanya menambahkan sedikit sambal biasa (sambal botolan) sedikit aja. Itu saja sudah cukup untuk saya merasakan kaldunya. Beda banget dengan kuah yang berhamburan potongan atau serpihan lemak. Seperti apa yang biasa saya nikmati di Bakso Samrat. Keduanya sama enaknya. Bihunnya juga terproses dengan sempurna. Lembut dan gampang hancur saat digigit.

Saya mencoba Mie Ayam yang dipesan suami. Umami betul. Ah, tau gitu tadi saya pesan Mie Ayam edisi lengkap. Porsinya juga lumayan banyak. Satu lagi yang menggoda selera adalah pangsit kuahnya. Kulit pangsit dan isiannya lumer di mulut. Belakangan saya jadi ingat kenapa gak mesan pangsit gorengnya ya? Biasanya kalau yang edisi kuah aja sudah seenak itu, yang goreng pasti garing. Iya gak sih?

Lalu apa yang bikin saya kangen?

Selain bakso urat dan potongan uratnya yang bikin nagih, saya kangen dengan suasana tenang dengan keindahan ruangannya. Ukuran ruangan yang tak terlalu luas justru bikin kita lebih nyaman menikmati makan. Apalagi di lantai atas. Sentuhan senyap nya bikin saya betah. Tidak bising. Yang bawa anak kecil, pasti lebih milih makan di bawah karena tangga yang menghubungkan kedua lantai cukup tajam menukik.

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran ini saya rekomendasikan sebagai salah satu tujuan kuliner saat berada di Cikarang. Khususnya untuk kawasan Lippo dan Deltamas yang terkoneksi satu sama lainnya. Setidaknya selain rumah makan yang eksis di beberapa mall sekitar, seperti Mall Lippo Cikarang dan AEON Delta Mas, Gerobak Pantjoran hadir sebagai opsi sajian yang membangkitkan selera.

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

12 thoughts on “Bakso dan Mie Ayam Gerobak Pantjoran Cikarang, Enaknya Bikin Kangen”

  1. Terima kasih atas kedatangan ibu dan bapak ke tempat kami. Salah satu kebanggaan kami atas review ibu. Kami berharap ibu akan mendapatkan pengalaman yang lebih baik lagi untuk kedatangan selanjutknya

    Reply
    • Dengan senang hati Ibu Vivi. Semoga Gerobak Pantjoran semakin laris dan sukses kedepannya. Terima kasih juga sudah mampir ke blog saya.

  2. Pas baca review Mba Annie bagian “Kuahnya ngaldu, ” Imajinasiku langsung ke tukang bakso favorit deket rumah mbaaaaa…
    Wkwkkw langsung ngiler, membayangkan sruput kuah hangat srupppp. Behhh mantappp.

    Apalagi makannya sama orang spesial, trus latar belakangnya ada mural apik tenan itu, Mba…

    Reply
    • Buat jajanan bakso, kuah megang kunci nya ya Ga. Kenikmatan menikmati bakso tuh memang di kuah itu. Aku aja terus kepikiran pas lagi nulis artikel ini hahahaha.

      Nah bener gak. Muralnya juga senada seirama dengan konsep kedai bakso nya. Jadi bukan sekedar pelengkap. Warna yang dihadirkan juga apik banget. Bikin adem.

  3. omaygat bihun bakso!
    Tadi kulineran sendiri di Bandung saya bigung antara pingin yamin, bihun bakso atau Chicken cordon bleu , akhirnya mie dan bihun bakso mengalah tapi terbayang-bayang dalam perjalanan pulang

    ditambah review Mbak Annie, bakalan gak bisa tidur nanti malam nih ngebayangin seger dan umaminya bihun bakso :D :D
    sayang Mie Ayam Gerobak Pantjoran ini gak ada cabangnya di Bandung. kayanya harus hunting untuk nyari yang mirip-mirip

    Reply
    • Bihun selalu jadi pilihan saya kalau pengen makan bakso Mbak. Lebih suka bihun ketimbang mie kuning. Itu pun sebenarnya gak banyak karena pengen lebih menikmati bakso dan kuahnya. Kapan nih ke Cikarang. Tak ajak makan di sini.

  4. Memang ya, kuliner sederhana seperti bakso dan mie ayam gerobakan sering punya rasa yang bikin kangen.

    Aku tuh termasuk tim yang gampang luluh sama mie ayam dan bakso gerobakan. Kadang justru yang sederhana begini rasanya malah ngangenin banget. Ada sensasi comfort food yang susah dijelaskan, apalagi kalau kuahnya gurih, baksonya kenyal, terus mie ayamnya pas bumbunyaโ€ฆ aduh fixed bahaya ini buat yang baca malam-malam ๐Ÿ˜„

    Suka banget sama cara Annie ceritain pengalamannya, jadi berasa ikut duduk di sana sambil nunggu semangkuk mie ayam datang. Jadi pengen nyobain juga kalau main ke Cikarang!

    Reply
    • Setuju pake banget. Tapi kalau boleh memilih, aku lebih naksir sama mie ayam dengan bakso sebagai pelengkap. Dan soal mie ayam gue gak picky. Abang-abang gerobakan yang lewat depan rumah aja sering gue panggil hahahahaha. Terus ditambah ceker. Alamak salah satu surga dunia banget itu hahahaha.

      Yuk. Kapan lo ke Cikarang, kita makan di sini ya.

  5. Buat saya apapun baksonya, yang penting airnya panas dan sambalnya segar
    Kalau dua point itu udah lolos berarti enak lah itu bakso dan jadi rekomendasi

    Soqlnya sering ngebakso di tempat yg orang bilang keren, tapi buat saya malah enek karena airnya tidak mendidih (udah lama gak dipanasin mungkin penghematan gas?) jadi bumbunya gak larut. Terus sambalnya bukan sambal fresh, jadi malah asam dan pedas tidak alami. Bukannya pengen balik lagi, kalau ingat malah gedeg saya karena udah merasa maaf mual duluan

    Terus saya kurang suka dengan bihun. Malah lebih suka mie aci alias mie golosor. Tapi bukan berarti gak suka terus jadi pantangan ya. Sesekali boleh lah makan bakso dengan mie bihun (ada yg bilang mie putih) seperti di bakso gerobak pantjoran ini

    Reply
    • Woaahhhh. Teh Okti tampaknya memang ahli soal per-bakso-an. Rinci banget njelasinnya. Saya kagum banget dengan do and don’t soal jajanan yang satu ini.

  6. Mural-nya kece Yo yuk. Vibrant, cocok buat latar berfoto.

    Amen kuahnyo dak perlu diracik lagi tandonyo lah sesuai slero Bakso Pantjoran ni.

    Lah lamo Idak makan bakso selain yang dibuat dewek. Sebelum pandemi di tempat tinggal ortu ku ini pernah rame nian beredar isu bakso dioplos daging tikus. Jadi warung bakso sampe mak ini sepi-sepi bae.

    Reply
    • Alamak. Alangke ngerinyo Nis. Aih jadi merinding. Kebayang wong yang sudah ketipu fatal cak itu.

Leave a Comment