
Bunga di Tembok. Perpustakaan dengan Lapak Komunitas di Bandung | Featured | Juni 2026
“Jika kami bunga, engkau adalah tembok itu. Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji. Suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan engkau harus hancur. Dalam keyakinan kami, di mana pun tirani harus tumbang” (Bunga dan Tembok, Wiji Tukul)
Rangkaian larik indah ini saya temukan di salah satu dinding perpustakaan Bunga di Tembok yang berada di Pasirluyu, Regol, Bandung. Hadir dengan cat putih dan rangkaian huruf yang tegas, tulisan ini membuat saya berpikir dan merenung. Mencoba mencari apa maksud di balik rangkaian kata yang dijahit dengan puitis nya oleh beliau dan bagaimana seorang Wiji Tukul, penyair dan pejuang hak asasi manusia yang hilang sejak 1998 dan orang penting di Partai Rakyat Demokrat (PDR) ini, menghubungkan antara bunga dan tembok.
Bunga kok tumbuh di tembok? Apa hubungan bunga dan tembok? Rangkaian pertanyaan ini muncul di benak sembari duduk di teras, menunggu perpustakaannya dibuka, di tengah rintik hujan yang tampaknya enggan berhenti.
Yak, di akhir pekan itu, selain ke Taman Bacaan Hendra di Cihapit, saya sudah menjadwalkan diri untuk menyambangi Bunga di Tembok Perpustakaan dan Toko Buku di Regol dan beberapa rumah literasi lainnya di Bandung. Niatnya bahkan ingin mengunjungi tempat-tempat itu lebih banyak lagi dalam sekali jalan. Tapi ternyata kondisi lalu lintas dan balung tua ini tak mampu menyanggah niat seheboh itu.
Di teras dengan beberapa tempat duduk inilah kemudian saya melihat tulisan/logo Bandung Bergerak berwarna keemasan dan logo Bunga di Tembok yang terlihat unik dan menarik.
“Bukanya jam satu siang,” ujar si bungsu mengingatkan saya kembali. “Lima belas menit lagi lah.” Sambungnya lagi karena melihat saya diam, tidak bereaksi. Bukan apa-apa, bukan marah, bukan kesal, dan bukan tidak mendengar tapi ibu dua orang anak ini sedang berpikir berat, berusaha mengumpulkan pemikiran yang berserak tentang bunga dan tembok itu tadi.
Karena tak kunjung paham, saya kemudian menanyakan pendapat si bungsu tentang larik di dinding itu. Tapi anak ini malah ketawa ngakak. “Ngapain dipikirin amat.” Kalimat yang kemudian membuat saya tertawa berderai-derai meski sempat kesal di awal. “Bunda kan bukan penyair. Manalah setajam itu memaknai tulisan puitis dengan maksud dan arti tersembunyi sedalam itu.”
Beuh. Generasi Z. Kalau diajak diskusi tuh ya seringkali datang dengan kalimat tajam. Tegas dan lugas.
Belum sempat menyambung perdebatan, datanglah seorang perempuan dengan mengendarai sepeda motor. Seorang librarian dan komandan operasional perpustakaan yang kemudian saya kenal bernama Nabila.
“Sebentar ya Bu. Maaf sudah menunggu.” Sapanya ramah sembari melepaskan jaket, helm, lalu membuka pintu depan perpustakaan. Saya membalas dengan anggukan tanpa suara. Masih kepikiran tentang kata bunga dan tembok.

Dalam kira-kira lima menit, saya tetap bertahan di luar karena saya yakin dia pasti butuh waktu sebentar untuk menata tempat sebelum menerima tamu. Dan senyum semringah pun tampak saat saya melenggang ke dalam ruangan.
Dalam sekian detik, saya langsung merasakan kenyamanan seperti pulang ke rumah sendiri. Suasananya mengingatkan saya akan rak-rak buku jangkung yang menghiasi ruang tamu rumah saya. Rak kayu yang sengaja dirancang suami untuk menampung koleksi-koleksi buku yang semakin bertumpuk dari hari ke hari, menjadi sebuah mini library.
Di ruangan berbentuk memanjang ini, saya melihat banyak unsur yang membangkitkan atmosphere dan semangat membaca. Banyak meja dan kayu di sana-sini mendampingi deretan rak yang eksis di beberapa dinding ruangan. Ada juga sebuah bar yang melayani tersedianya makan dan minum dalam rangka menjamu tamu. Terlihat juga beberapa pernik yang berhubungan dengan eksistensi sebuah ruang baca dan hobi membaca. Ada juga beragam merchandise seperti kaos, pin, dan lain-lain.
Dari semua yang terhidang di ruang depan ini, ada satu yang menarik perhatian saya. Itu adalah sebuah tulisan “Lapak Komunitas.” Langkah saya langsung terhenti beberapa saat sebelum akhirnya saya mendekati rak di mana tulisan ini dipajang. Saya melihat ada banyak buku yang dihadirkan dan ditulis oleh beberapa komunitas penulis. Ada yang berkonsep novel fiksi, novel non-fiksi, puisi, dan bertemakan kehidupan sosial. Menyentuh keseharian kita dalam hidup bermasyarakat, realita kehidupan, filsafat, pemikiran terbarukan, isu lingkungan, dan masih banyak lagi. Semua tampak rapi berjejer dan siap untuk diadopsi.
Melanjutkan penelusuran, saya masuk ke sebuah ruangan berbentuk persegi panjang dengan dinding kaca di sisi luar. Di dalamnya hadir meja panjang dan deretan bangku yang menghadirkan konsep sebuah meeting room untuk tim besar atau ruang pelatihan dengan peserta sekitar sepuluh hingga lima belas orang. Di dinding dalam berjejer rapi berbagai macam buku yang sudah dilengkapi dengan identifikasi. Rangkaian buku yang bisa kita baca di tempat. Jadi jika saya tidak salah asumsi, ruangan dan rak si yang yang berfungsi sebagai perpustakaan. Mau kerja pun sepertinya nyaman deh di dalam ini karena Bunga di Tembok menyediakan colokan listrik dan meja serta kursi yang comfortable untuk bekerja.

Hanya dalam hitungan belasan menit selama berada di sini, saya merasakan sebuah lingkungan yang kondusif untuk berkegiatan di dunia literasi. Saya seperti sedang berada di rumah kesekian yang mengakomodir hobi membaca dan bersosialisasi dalam skala atau audiensi terbatas. Konsepnya juga akomodatif. Bukan hanya datang untuk membaca, tapi perpustakaan dan toko buku independen di Bandung ini juga menyediakan waktu dan tempat untuk kegiatan-kegiatan yang melebur dengan aktivitas pendukung lainnya.
Bunga di Tembok cukup sering menjadi wadah berkegiatan bagi para pecinta buku dan kegiatan komunitas lainnya. Coba deh buka akun resmi IG @bungaditembok Intip dan lamati sekian banyak informasi yang menghadirkan mereka saat menjadi tuan rumah sekian banyak aktivitas yang menyegarkan pengetahuan dan berjejaring yang hakul yakin bisa menjadi manfaat untuk siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Sedikit menyusur lebih jauh tentang profil Bunga di Tembok Perpustakaan dan Toko Buku ini, saya menemukan informasi bahwa tempat yang berlokasi di Pasirluyu Bandung ini telah aktif beroperasi sejak 16 November 2024. Usia yang sesungguhnya masih muda.
Tapi saat menemukan bahwa pendirinya adalah Tri Joko Her Riadi kemudian menyusur profilnya, perpustakaan dan toko buku independen ini dimiliki oleh seseorang yang punya latar belakang yang kuat di dunia kepenulisan dan berorganisasi. Beliau juga adalah seorang inisiator, editor in chief untuk media Bandung Bergerak, dan sudah malang melintang di dunia jurnalisme. Beliau juga aktif menjadi pembicara dan berbagai event yang berkaitan dengan buku dan kepenulisan. Inspiratif.
Semoga suatu saat semesta mengijinkan saya bertatap muka dan bertukar sapa dengan orang sehebat beliau. Menabung ilmu dan belajar banyak pastinya.

Menutup kunjungan saya di tempat ini, saya menyempatkan diri ngobrol dengan Nabila yang di awal tadi menyambut kedatangan saya. Menyadari bahwa Bunga di Tembok punya atau menyediakan wadah untuk komunitas, saya mendadak punya ide kolaborasi. Mengajukan proposal langsung untuk kerja sama lebih tepatnya.
Usulan ini ternyata disambut dengan tangan terbuka. Saya ceritakan tentang komunitas penulis Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) yang saya inisiasi, tentang visi dan misi komunitas, sekaligus menghadirkan beberapa karya buku yang sudah diproduksi oleh PAPI. Sekaligus orasi panjang kali lebar bagaimana PAPI memiliki program tahunan melahirkan buku di ranah non-fiksi dan saat ini terus mengembangkan networking agar bisa lebih dikenal oleh orang banyak.
Sebagai founder dan memegang langkah operasional dari sebuah komunitas yang masih seusia balita dengan pengalaman sebiji jagung, terus terang PAPI butuh banyak tangan yang menyokong banyak gerakan berarti dari mereka (pribadi maupun institusi) yang sudah mapan dan memiliki fasilitas mumpuni. Khususnya dari sudut penjualan buku yang menjadi salah satu sales and marketing tools sekaligus wadah branding PAPI sendiri.
Kerja sama ini sendiri sudah berlangsung dengan harapan bahwa akan semakin berkembang di masa mendatang. Malah saya berharap lewat Bunga di Tembok, PAPI menemukan jalan setapak demi setapak yang menjadikan setiap langkah kecil itu akan semakin berarti.
Terima kasih buat Bunga di Tembok Perpustakaan dan Toko Buku independen yang sudah menyediakan lapak bagi komunitas kecil seperti PAPI. Terima kasih juga atas sambutan penuh keramahan dan begitu hangat untuk saya sebagai pribadi. Semangat untuk terus berkarya di dunia kepenulisan menjadi semakin bangkit setelah meninggalkan tempat yang begitu bersahaja ini.










