Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Photo of author

By Annie Nugraha

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore | Travel & Featured | Juli 2026

Baca dulu tulisan sebelumnya

Saat tiba di Soa Sio siang hari itu, saya dan Anita bertamu ke Kadato Kie (Keraton Kesultanan Tidore) yang berjarak hanya sekitar 200-an meter dari Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore. Jalan kaki di tengah terik matahari itu tak menghalangi semangat saya untuk bersilaturahim dengan Jou Sultan dan Jou Boki yang kebetulan saat itu sedang menerima tamu.

Masuk melalui pagar besi samping, saya kembali bertemu dengan sebuah pohon tinggi dan kompleks kecil makam Sultan Zainal Abidin Syah yang berada di bawahnya. Beliau sempat menjadi Gubernur Irian Barat pertama dan dikenal sebagai pemimpin yang mempersatukan banyak daerah di timur Indonesia. Tak lama setelah saya pulang, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 116/TK/Tahun 2025 dan diserahkan di Istana Negara pada 10 November 2025 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Suba Jou!!

Deretan mobil TNI tampak berjejer di halaman depan Kadato Kie. Bendera Kesultanan Tidore berwarna kuning dengan lingkaran kalimat tauhid tampak berkibar menemani sang Merah Putih. Ini pertanda bahwa Jou Sultan sedang berada di istana. Mencegah “kehebohan” saya dan Anita memutuskan untuk masuk Kadato Kie dari pintu samping. Dan, bener kan, jejeritan kerinduan menggema di sana-sini. Apalagi beberapa petugas istana banyak yang sudah mengenal saya langsung menyambut dengan pelukan yang begitu hangat, termasuk Jou Boki.

Ih, sok ngetop betol saya ini ya

Maka, dalam beberapa menit kemudian, sepotong bolu lapis kenari khas Tidore, Lalampa/Dalampa (sejenis lemper), dan secangkir kopi Dabe yang hangat meluncur menuju lambung. Setelah tentu saja bergabung ngobrol dengan Jou Boki dan para tetamu.

Lambung langsung terhibur.

Apalagi kemudian sepiring besar nasi dan Sayur Lilin favorit saya menyempurnakan makan siang di Kadato Kie di hari itu. Jika orang lain segan menyendok dan mengambil Sayur Lilin dalam jumlah banyak, saya malah makan lahap tanpa malu. Lah, wong memang lagi kelaparan. Jadi acara bertamu ini selain menyambung silaturahim juga dalam rangka “numpang” makan siang.

Saya dan Anita kembali ke Rumah Tenun terhuyung-huyung kekenyangan. Mata pun mendadak minta istirahat. Kebayang perjalanan dini hari tadi yang sudah mengurangi jatah tidur. Jadi sehabis membasuh diri, berganti pakaian bersih, saya pun terlelap dengan pulasnya. Tampaknya apa yang sudah saya kunyah di Kadato Kie tadi, berhasil melemaskan semua otot dan sekujur tubuh untuk segera menyentuh kasur.

Tapi sebelum melanglang buana menembus mimpi, saya menyempatkan diri menghubungi beberapa rekan baik dan teman-teman di Tidore tentang ketibaan saya.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menjelang sore, tidur siang berkualitas berhasil saya lewati. Badan langsung segar dan bugar. Sesuai rencana, sebelum menerima beberapa tamu di malam itu, saya memutuskan untuk menyusur setiap sudut galeri Rumah Tenun. Menghayati eloknya wastra asli Tidore yang ditampilkan di galeri yang berada di lantai dua ini sembari memotret keindahannya dari berbagai sisi.

Apa saja yang ada di lantai dua Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore ini?

Layaknya sebuah galeri, berbagai produk yang dihidangkan berkonsentrasi pada Puta Dino, tenun asli Tidore. Ada yang berupa kain meteran yang bisa kita olah sendiri. Ada juga dalam bentuk jadi seperti gamis, selendang, jaket, rompi, dengan banyak model untuk lelaki maupun perempuan. Lalu ada juga ikat kepala, tas dan dompet kulit, aksesoris, yang memanfaatkan potongan-potongan kecil dari Puta Dino. Sisa-sisa kain yang bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan produk fashion tambahan.

Karena sebelum nya pernah bergelut di dunia keramik, Anita sempat juga membuat aneka aksesoris dan buah tangan berbahan dasar keramik. Warna dan visual nya disesuaikan dengan sentuhan warna dan karakter Puta Dino. Kalau lihat yang lucu-lucu seperti ini saya biasanya gampang banget jatuh hati.

Saya juga melihat banyak printilan untuk buah tangan seperti pin, topi yang mudah dilipat, minuman hangat dari rempah-rempah, camilan khas Tidore, dan papeda instan yang diproduksi oleh Kagounga. Jenama yang dilahirkan oleh dua orang penggagas (Heri dan Aiya) yang berasal dari Ternate ini juga sudah menembus pasar ekspor. Kagounga juga sempat saya tuliskan di salah satu buku yang dibuat oleh komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) dan dilahirkan oleh indie publisher Annie Nugraha Mediatama. Buku ini berjudul Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional.

Sebagian besar display yang ada di dalam galeri menggunakan bambu totol yang memang sering digunakan di kawasan Tidore. Unik dan terlihat kokoh. Meski galeri produk ini tidak begitu luas, beragam produk yang ditawarkan terlihat sangat menarik untuk ditelusuri dan dilamati satu persatu. Penyusunan produk begitu rapi. Kain meteran tergantung rapi dan disusun berdasarkan kualifikasinya. Beragam motif terdahulu yang pertama kali direvitalisasi di awal-awal tahun ditemukannya kembali Puta Dino, digantung dalam deretan yang sama. Sementara motif-motif baru yang menggunakan benang dari warna alam, juga dideretkan dalam kualifikasi yang sama. Produk fashion/ready to wear juga dikelompokkan mengikuti gender. Jadi pengunjung tidak akan get lost saat menyusur setiap sudut atau hanya mau mencari apa yang diinginkan.

Begitu pun dengan barang-barang lain yang non fashion. Wadah-wadah apik tertata dan tersusun dengan baik serta dikelompokkan pada tempat nya.

Saat Anita berulangkali menyampaikan apa yang dia rasakan tentang anak-anak penenun, hati saya langsung tergerak.

“Apa yang saya siapkan sekarang Mbak adalah seutuhnya untuk mereka. Biar mereka tidak hanya menenun tapi juga bisa membangun bisnis selayaknya sebuah perusahaan professional. Galeri dan tenun yang mereka kerjakan adalah sesungguhnya milik mereka juga. Mereka masih muda dan pastinya punya rencana masa depan yang lebih panjang.”

Kalimat ini tidak sekali dua kali saya dengar dari ibu tiga orang anak-anak yang sudah beranjak dewasa ini. Karena jika saya berada di atas tapak yang sama dengannya, saya akan melakukan hal yang sama, dengan porsi semangat yang sama juga. Apa yang sudah dan sedang dia lakukan sesungguhnya adalah sebuah legacy terbaik yang ingin dia tinggalkan untuk anak keturunan Tidore. Negeri yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbaik di jamannya. Negeri yang dulu menjadi rebutan bangsa Eropa karena kualitas rempahnya dan yang berusaha menduduki Tidore sebagai lahan jajahannya.

Sebagai salah seorang kerabat dekat dari Jou Sultan H. Husain Sjahโ€”Sultan yang berkuasa dan yang sekarang memimpin Tidore secara adat saat ini, Anita tentu nya punya tanggung jawab yang lebih dari sekedar rakyat biasa. Di pundaknya saat ini terdapat banyak tanggung jawab dan nama baik kesultanan Tidore pun nama baik seluruh masyarakat Tidore di mata nasional maupun internasional.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Yok sekarang saya ingin mengajak pembaca untuk lebih jauh berkenalan dengan para penenun.

Keramahan para penenun untuk para tetamu juga patut saya acungi jempol. Mei yang memegang kontrol setiap transaksi juga sigap dalam bekerja. Meski masuk dalam kategori bungsu dari sekian banyak penenun, Mei bagi saya adalah seorang organizer yang rajin dan suka dengan kerapihan. Yang lebih menyenangkan lagi, Mei tuh rumahnya persis bersebelahan dengan Rumah Tenun. Jadi jika ada keadaan darurat, urgent, dan butuh bantuan segera, gadis kecil mungil ini selalu siap untuk membantu.

Pujian terbaik saya berikan kepada Wani. Istri dari Iswanto yang juga menyumbangkan tenaganya untuk Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore ini, cerdas dan gampang mengadaptasi sekian banyak tanggung jawab yang dibebankan kepadanya sebagai kepala rombongan penenun. Wani juga begitu responsif dan adaptif pada setiap instruksi, arahan, dan bimbingan dari Anita. Tak hayal jika nama baik Wani selalu muncul di setiap obrolan kami tentang Rumah Tenun.

Courtesy penuh hormat juga saya sampaikan kepada para penenun muda lainnya. Ayu, Ima, Defy, dan Risna. Anak-anak yang selalu hadir dengan semangat luar biasa saat melahirkan kain tenun terbaik untuk Puta Dino.

Lewat tangan-tangan kreatif mereka lah, Puta Dino akan semakin dikenal dunia. Tenun yang sempat hilang selama ratusan tahun lamanya ini akan menjadi salah satu wastra asli Nusantara yang diperhitungkan di kancah dunia. Rangkaian warisan yang sudah dan sedang dikerjakan Anita yang nanti akan diteruskan oleh mereka.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Berbagai koleksi pakaian pria dan wanita yang ada di galeri Rumah Tenun

Langsung terhubung dengan tangga yang berukuran besar yang dibangun dari titik terdepan Rumah Tenun, destinasi wisata budaya yang satu ini memiliki teras yang sangat lengang dan begitu lega di lantai dua. Bisa untuk menerima tamu dalam jumlah banyak bahkan untuk mengadakan pelatihan yang bisa mengakomodir sekitar 20-an hingga 30-an peserta. Saat saya berada di sini, Anita dan Ellen mengadakan dua sesi pelatihan untuk anak-anak SD dan para penenun muda. Yaitu pelatihan bahasa Inggris dan merajut yang dibimbing oleh Ellen. Suara riang dan irama keseruan pun terasa sepanjang pelatihan berlangsung.

Berminat untuk berlatih menenun? Boleh banget loh. Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore seringkali membangun kerjasama dengan banyak pihak โ€”swasta maupun kedinasanโ€”yang ingin mendalami apa dan bagaimana tentang wastra asli Tidore ini. Bahkan untuk sekedar ingin tahu pun, Anita berkenan memberikan rangkaian risalah penting yang layak untuk kita dengarkan dan pahami.

Asyik banget kan?

Oia, di teras yang luas ini juga, saya menikmati sarapan beragam asupan tradisional yang dibeli oleh Anita di pasar tradisional di kawasan Tugulufa. Salah satu pantai yang seru untuk menyore atau menikmati pagi. Duh, menyenangkan banget deh. Selain sayur lilin favorit saya, Anita juga membeli singkong rebus, sayuran hijau yang dicampur dengan daging ikan, ketupat santan (beras yang dibungkus anyaman jamur kemudian dimasak dengan menggunakan air santan), dan masih banyak lainnya yang benar-benar hanya bisa saya nikmati saat bertandang ke Tidore.

Makan sepagian itu terasa nikmat luar biasa. Apalagi di saat bersamaan saya bisa menghabiskan waktu mengobrol panjang lebar dengan Heru dan Aiya yang dengan semangat menceritakan tentang jenama Kagounga milik mereka. Berikut kehadiran Alex dan Oji yang akan seharian menemani saya dan Ellen menjelajah beberapa tempat wisata di Tidore.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore di Soa Sio ini telah menjadi saksi bagaimana deretan kenangan indah saya akan Tidore sekali lagi terpatri dalam ingatan.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Teras depan dan samping di lantai dua Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Sajian menu tradisional yang saya nikmati saat sarapan

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Berbagai koleksi aksesoris dan pin yang ada di galeri Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Koleksi kain meteran dan beberapa pernak-pernik lainnya yang tersedia di Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Berbagai produk fashion dan turunannya yang menampilkan aksen Puta Dino
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Barisan foto kenangan bersama para pengunjung yang beranjangsana ke Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Barisan rak dari bambu totol yang menyanggah banyak produk yang ditampilkan di Rumah Tenun

Nginap Yok di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Memperluas pelayanan dan mengajak wisatawan merasakan menginap di rumah yang nyaman, Rumah Tenun sekarang membuka layanan sewa kamar. Ada satu kamar di lantai satu dan satu lagi di lantai dua. Twin bed dan single bed. Lengkap dengan AC, toiletries, meja rias, dan sambungan internet, kamar mandi dengan air bersih di luar kamar, serta teras dengan meja kecil dan bangku untuk nongkrong-nongkrong menikmati waktu.

Di kunjungan terakhir saya ke Tidore tahun lalu, tinggal di Rumah Tenun ini terasa berada di rumah sendiri. Saya, Anita, dan Ellen, tidur di lantai dua dengan pemandangan kebun dan hamparan lautan luas yang menghubungkan pantai di Soa Sio yang berseberangan langsung dengan Halmahera. Langit biru dan awan putih yang berarak selalu menjadi pemandangan terindah saat saya membuka mata. Hiburan mata yang sama juga saya dapatkan saat berada di teras lantai dua yang langsung terhubung dengan kamar yang saya tempati.

Satu lagi hal penting tentang Rumah Tenun ini adalah tentang lokasinya yang sangat strategis. Berada di kelurahan Soa Sio, Rumah Tenun ini dekat dengan berbagai tempat wisata. Seperti Kadato Kie (Istana Kesultanan Tidore), Benteng Torre peninggalan Portugis, Benteng Tahula warisan dari Spanyol, Masjid Sigi Kolano (Masjid Kesultanan), Dermaga Kesultanan, dan tentu saja pemandangan pesisir pantai yang indah dan bersih.

Semua bisa dicapai dengan berjalan kaki. Siapkan tenaga dan kaki yang kokoh untuk menikmati sedikit jalan turun naik sembari merasakan dan melihat kehidupan bersahaja masyarakat Tidore. Khususnya yang tinggal di kelurahan Soa Sio.

Menyenangkan banget kan kalau kita tinggal di tempat yang dekat kemana-mana?

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang penyewaan kamar ini, kita bisa menghubungi Risna di 0812-4328-8518 atau Mei di 0822-9121-7135.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment