Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore | Travel & Featured | Juli 2026

Baca dulu tulisan sebelumnya

Saat tiba di Soa Sio siang hari itu, saya dan Anita bertamu ke Kadato Kie (Keraton Kesultanan Tidore) yang berjarak hanya sekitar 200-an meter dari Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore. Jalan kaki di tengah terik matahari itu tak menghalangi semangat saya untuk bersilaturahim dengan Jou Sultan dan Jou Boki yang kebetulan saat itu sedang menerima tamu.

Masuk melalui pagar besi samping, saya kembali bertemu dengan sebuah pohon tinggi dan kompleks kecil makam Sultan Zainal Abidin Syah yang berada di bawahnya. Beliau sempat menjadi Gubernur Irian Barat pertama dan dikenal sebagai pemimpin yang mempersatukan banyak daerah di timur Indonesia. Tak lama setelah saya pulang, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 116/TK/Tahun 2025 dan diserahkan di Istana Negara pada 10 November 2025 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Suba Jou!!

Deretan mobil TNI tampak berjejer di halaman depan Kadato Kie. Bendera Kesultanan Tidore berwarna kuning dengan lingkaran kalimat tauhid tampak berkibar menemani sang Merah Putih. Ini pertanda bahwa Jou Sultan sedang berada di istana. Mencegah “kehebohan” saya dan Anita memutuskan untuk masuk Kadato Kie dari pintu samping. Dan, bener kan, jejeritan kerinduan menggema di sana-sini. Apalagi beberapa petugas istana banyak yang sudah mengenal saya langsung menyambut dengan pelukan yang begitu hangat, termasuk Jou Boki.

Ih, sok ngetop betol saya ini ya

Maka, dalam beberapa menit kemudian, sepotong bolu lapis kenari khas Tidore, Lalampa/Dalampa (sejenis lemper), dan secangkir kopi Dabe yang hangat meluncur menuju lambung. Setelah tentu saja bergabung ngobrol dengan Jou Boki dan para tetamu.

Lambung langsung terhibur.

Apalagi kemudian sepiring besar nasi dan Sayur Lilin favorit saya menyempurnakan makan siang di Kadato Kie di hari itu. Jika orang lain segan menyendok dan mengambil Sayur Lilin dalam jumlah banyak, saya malah makan lahap tanpa malu. Lah, wong memang lagi kelaparan. Jadi acara bertamu ini selain menyambung silaturahim juga dalam rangka “numpang” makan siang.

Saya dan Anita kembali ke Rumah Tenun terhuyung-huyung kekenyangan. Mata pun mendadak minta istirahat. Kebayang perjalanan dini hari tadi yang sudah mengurangi jatah tidur. Jadi sehabis membasuh diri, berganti pakaian bersih, saya pun terlelap dengan pulasnya. Tampaknya apa yang sudah saya kunyah di Kadato Kie tadi, berhasil melemaskan semua otot dan sekujur tubuh untuk segera menyentuh kasur.

Tapi sebelum melanglang buana menembus mimpi, saya menyempatkan diri menghubungi beberapa rekan baik dan teman-teman di Tidore tentang ketibaan saya.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Menjelang sore, tidur siang berkualitas berhasil saya lewati. Badan langsung segar dan bugar. Sesuai rencana, sebelum menerima beberapa tamu di malam itu, saya memutuskan untuk menyusur setiap sudut galeri Rumah Tenun. Menghayati eloknya wastra asli Tidore yang ditampilkan di galeri yang berada di lantai dua ini sembari memotret keindahannya dari berbagai sisi.

Apa saja yang ada di lantai dua Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore ini?

Layaknya sebuah galeri, berbagai produk yang dihidangkan berkonsentrasi pada Puta Dino, tenun asli Tidore. Ada yang berupa kain meteran yang bisa kita olah sendiri. Ada juga dalam bentuk jadi seperti gamis, selendang, jaket, rompi, dengan banyak model untuk lelaki maupun perempuan. Lalu ada juga ikat kepala, tas dan dompet kulit, aksesoris, yang memanfaatkan potongan-potongan kecil dari Puta Dino. Sisa-sisa kain yang bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan produk fashion tambahan.

Karena sebelum nya pernah bergelut di dunia keramik, Anita sempat juga membuat aneka aksesoris dan buah tangan berbahan dasar keramik. Warna dan visual nya disesuaikan dengan sentuhan warna dan karakter Puta Dino. Kalau lihat yang lucu-lucu seperti ini saya biasanya gampang banget jatuh hati.

Saya juga melihat banyak printilan untuk buah tangan seperti pin, topi yang mudah dilipat, minuman hangat dari rempah-rempah, camilan khas Tidore, dan papeda instan yang diproduksi oleh Kagounga. Jenama yang dilahirkan oleh dua orang penggagas (Heri dan Aiya) yang berasal dari Ternate ini juga sudah menembus pasar ekspor. Kagounga juga sempat saya tuliskan di salah satu buku yang dibuat oleh komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) dan dilahirkan oleh indie publisher Annie Nugraha Mediatama. Buku ini berjudul Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional.

Sebagian besar display yang ada di dalam galeri menggunakan bambu totol yang memang sering digunakan di kawasan Tidore. Unik dan terlihat kokoh. Meski galeri produk ini tidak begitu luas, beragam produk yang ditawarkan terlihat sangat menarik untuk ditelusuri dan dilamati satu persatu. Penyusunan produk begitu rapi. Kain meteran tergantung rapi dan disusun berdasarkan kualifikasinya. Beragam motif terdahulu yang pertama kali direvitalisasi di awal-awal tahun ditemukannya kembali Puta Dino, digantung dalam deretan yang sama. Sementara motif-motif baru yang menggunakan benang dari warna alam, juga dideretkan dalam kualifikasi yang sama. Produk fashion/ready to wear juga dikelompokkan mengikuti gender. Jadi pengunjung tidak akan get lost saat menyusur setiap sudut atau hanya mau mencari apa yang diinginkan.

Begitu pun dengan barang-barang lain yang non fashion. Wadah-wadah apik tertata dan tersusun dengan baik serta dikelompokkan pada tempat nya.

Saat Anita berulangkali menyampaikan apa yang dia rasakan tentang anak-anak penenun, hati saya langsung tergerak.

“Apa yang saya siapkan sekarang Mbak adalah seutuhnya untuk mereka. Biar mereka tidak hanya menenun tapi juga bisa membangun bisnis selayaknya sebuah perusahaan professional. Galeri dan tenun yang mereka kerjakan adalah sesungguhnya milik mereka juga. Mereka masih muda dan pastinya punya rencana masa depan yang lebih panjang.”

Kalimat ini tidak sekali dua kali saya dengar dari ibu tiga orang anak-anak yang sudah beranjak dewasa ini. Karena jika saya berada di atas tapak yang sama dengannya, saya akan melakukan hal yang sama, dengan porsi semangat yang sama juga. Apa yang sudah dan sedang dia lakukan sesungguhnya adalah sebuah legacy terbaik yang ingin dia tinggalkan untuk anak keturunan Tidore. Negeri yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbaik di jamannya. Negeri yang dulu menjadi rebutan bangsa Eropa karena kualitas rempahnya dan yang berusaha menduduki Tidore sebagai lahan jajahannya.

Sebagai salah seorang kerabat dekat dari Jou Sultan H. Husain Sjahโ€”Sultan yang berkuasa dan yang sekarang memimpin Tidore secara adat saat ini, Anita tentu nya punya tanggung jawab yang lebih dari sekedar rakyat biasa. Di pundaknya saat ini terdapat banyak tanggung jawab dan nama baik kesultanan Tidore pun nama baik seluruh masyarakat Tidore di mata nasional maupun internasional.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Yok sekarang saya ingin mengajak pembaca untuk lebih jauh berkenalan dengan para penenun.

Keramahan para penenun untuk para tetamu juga patut saya acungi jempol. Mei yang memegang kontrol setiap transaksi juga sigap dalam bekerja. Meski masuk dalam kategori bungsu dari sekian banyak penenun, Mei bagi saya adalah seorang organizer yang rajin dan suka dengan kerapihan. Yang lebih menyenangkan lagi, Mei tuh rumahnya persis bersebelahan dengan Rumah Tenun. Jadi jika ada keadaan darurat, urgent, dan butuh bantuan segera, gadis kecil mungil ini selalu siap untuk membantu.

Pujian terbaik saya berikan kepada Wani. Istri dari Iswanto yang juga menyumbangkan tenaganya untuk Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore ini, cerdas dan gampang mengadaptasi sekian banyak tanggung jawab yang dibebankan kepadanya sebagai kepala rombongan penenun. Wani juga begitu responsif dan adaptif pada setiap instruksi, arahan, dan bimbingan dari Anita. Tak hayal jika nama baik Wani selalu muncul di setiap obrolan kami tentang Rumah Tenun.

Courtesy penuh hormat juga saya sampaikan kepada para penenun muda lainnya. Ayu, Ima, Defy, dan Risna. Anak-anak yang selalu hadir dengan semangat luar biasa saat melahirkan kain tenun terbaik untuk Puta Dino.

Lewat tangan-tangan kreatif mereka lah, Puta Dino akan semakin dikenal dunia. Tenun yang sempat hilang selama ratusan tahun lamanya ini akan menjadi salah satu wastra asli Nusantara yang diperhitungkan di kancah dunia. Rangkaian warisan yang sudah dan sedang dikerjakan Anita yang nanti akan diteruskan oleh mereka.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Berbagai koleksi pakaian pria dan wanita yang ada di galeri Rumah Tenun

Langsung terhubung dengan tangga yang berukuran besar yang dibangun dari titik terdepan Rumah Tenun, destinasi wisata budaya yang satu ini memiliki teras yang sangat lengang dan begitu lega di lantai dua. Bisa untuk menerima tamu dalam jumlah banyak bahkan untuk mengadakan pelatihan yang bisa mengakomodir sekitar 20-an hingga 30-an peserta. Saat saya berada di sini, Anita dan Ellen mengadakan dua sesi pelatihan untuk anak-anak SD dan para penenun muda. Yaitu pelatihan bahasa Inggris dan merajut yang dibimbing oleh Ellen. Suara riang dan irama keseruan pun terasa sepanjang pelatihan berlangsung.

Berminat untuk berlatih menenun? Boleh banget loh. Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore seringkali membangun kerjasama dengan banyak pihak โ€”swasta maupun kedinasanโ€”yang ingin mendalami apa dan bagaimana tentang wastra asli Tidore ini. Bahkan untuk sekedar ingin tahu pun, Anita berkenan memberikan rangkaian risalah penting yang layak untuk kita dengarkan dan pahami.

Asyik banget kan?

Oia, di teras yang luas ini juga, saya menikmati sarapan beragam asupan tradisional yang dibeli oleh Anita di pasar tradisional di kawasan Tugulufa. Salah satu pantai yang seru untuk menyore atau menikmati pagi. Duh, menyenangkan banget deh. Selain sayur lilin favorit saya, Anita juga membeli singkong rebus, sayuran hijau yang dicampur dengan daging ikan, ketupat santan (beras yang dibungkus anyaman jamur kemudian dimasak dengan menggunakan air santan), dan masih banyak lainnya yang benar-benar hanya bisa saya nikmati saat bertandang ke Tidore.

Makan sepagian itu terasa nikmat luar biasa. Apalagi di saat bersamaan saya bisa menghabiskan waktu mengobrol panjang lebar dengan Heru dan Aiya yang dengan semangat menceritakan tentang jenama Kagounga milik mereka. Berikut kehadiran Alex dan Oji yang akan seharian menemani saya dan Ellen menjelajah beberapa tempat wisata di Tidore.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore di Soa Sio ini telah menjadi saksi bagaimana deretan kenangan indah saya akan Tidore sekali lagi terpatri dalam ingatan.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Teras depan dan samping di lantai dua Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Sajian menu tradisional yang saya nikmati saat sarapan

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Berbagai koleksi aksesoris dan pin yang ada di galeri Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Koleksi kain meteran dan beberapa pernak-pernik lainnya yang tersedia di Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Berbagai produk fashion dan turunannya yang menampilkan aksen Puta Dino
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Barisan foto kenangan bersama para pengunjung yang beranjangsana ke Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Barisan rak dari bambu totol yang menyanggah banyak produk yang ditampilkan di Rumah Tenun

Nginap Yok di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

Memperluas pelayanan dan mengajak wisatawan merasakan menginap di rumah yang nyaman dengan lingkungan budaya sejengkal tangan, Rumah Tenun sekarang membuka layanan sewa kamar. Ada satu kamar di lantai satu dan satu lagi di lantai dua. Twin bed dan single bed. Lengkap dengan AC, toiletries, meja rias, sambungan internet, kamar mandi dengan air bersih, serta teras dengan meja kecil dan bangku untuk nongkrong-nongkrong menikmati waktu.

Di kunjungan terakhir saya ke Tidore tahun lalu, tinggal di Rumah Tenun ini terasa berada di rumah sendiri. Saya, Anita, dan Ellen, tidur di lantai dua dengan pemandangan kebun dan hamparan lautan luas yang menghubungkan pantai di Soa Sio yang berseberangan langsung dengan Halmahera. Langit biru dan awan putih yang berarak selalu menjadi pemandangan terindah saat saya membuka mata. Hiburan mata yang sama dan yang saya dapatkan saat berada di teras lantai dua yang langsung terhubung dengan kamar yang saya tempati.

Satu lagi hal penting tentang Rumah Tenun ini adalah tentang lokasinya yang sangat strategis. Berada di kelurahan Soa Sio, area pusat pemerintahan adat Tidore, Rumah Tenun ini dekat dengan berbagai tempat wisata. Seperti Kadato Kie (Istana Kesultanan Tidore), Benteng Torre peninggalan Portugis, Benteng Tahula warisan dari Spanyol, Masjid Sigi Kolano (Masjid Kesultanan), Dermaga Kesultanan, dan tentu saja pemandangan pesisir pantai yang indah dan bersih.

Semua bisa dicapai dengan berjalan kaki. Siapkan tenaga dan kaki yang kokoh untuk menikmati sedikit jalan turun naik sembari merasakan dan melihat kehidupan bersahaja masyarakat Tidore. Khususnya yang tinggal di kelurahan Soa Sio.

Menyenangkan banget kan kalau kita tinggal di tempat yang dekat kemana-mana?

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang penyewaan kamar ini, kita bisa menghubungi Risna di 0812-4328-8518 atau Mei di 0822-9121-7135.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Salah satu kamar yang disewakan di Rumah Tenun
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Salah satu kamar yang disewakan di Rumah Tenun

Memotret

Mumpung berada di sini, saya mengajak anak-anak penenun untuk merekam keindahan banyak kain yang mereka hasilkan dalam serangkaian foto. Mereka mengenakan kain yang mereka buat sendiri dan kemudian saya abadikan dalam banyak sesi pemotretan. Tempat yang kami kunjungi saat itu adalah Benteng Torre, Pantai Tuguiha, dan desa Kalaodi. Tiga tempat yang berbeda dan memiliki karakter serta keistimewaan masing-masing. Benteng Torre mewakili peninggalan sejarah, Pantai Tuguiha mewakili birunya pantai (dan baru saya kunjungi saat itu), dan desa Kalaodi yang merepresentasikan kecantikan dan indah nya pemukiman penduduk yang berada di pegunungan, di bahu Kie Marijang.

Saat foto ini saya rapikan, mendadak rangkaian rasa haru itu kembali menyeruak ke dalam hati. Keindahan setiap tempat membawa saya merasakan betapa istimewanya Bumi Limau Duko ini. Masih mempertahankan diri jauh dari polesan modernitas, nyatanya setiap tempat yang kami hampiri sangat mendukung proses pemotretan itu sendiri. Ketiga tempat ini membuat sesi pemotretan turut membawa keindahan alam yang dimiliki oleh Tidore.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Acara pemotretan di Benteng Torre
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Acara pemotretan di Benteng Torre
Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Saya dan selembar Puta Dino di Pantai Tuguiha

Acara Potong Kain

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore punya acara khusus yang diadakan di tanggal 15 setiap bulannya. Di masa ini, para penenun yang sudah menyelesaikan pekerjaan tenunnya, akan melakukan pemotongan kain di titik terakhir ikatan.

Saya lagi-lagi beruntung. Tepat di dua hari terakhir kedatangan saya, acara potong kain ini diadakan. Saya memperhatikan bagaimana terharunya untuk bisa menikmati momen berharga ini. Satu persatu para penenun melebarkan dan mengunci kain yang masih terkait di alat tenun (ATBM), kemudian pelan-pelan memotong menggunakan gunting tajam hingga titik terakhir dari ujung kanan ke ujung kiri. Saya tak dapat menahan keharuan yang singgah di dalam hati. Bersyukur bisa menjadi saksi lahirnya helaian kain tenun Puta Dino, yang baru lahir dan akan disajikan ke hadapan publik.

Sembari merekam setiap detik momen potong kain ini, saya membayangkan bagaimana sebelumnya ribuan hentakan kayu, kesabaran, dan ketelitian yang sudah dan harus mereka lalui untuk menghasilkan selembar kain. Itu belum termasuk saat-saat “menikmati” sakit pinggang, konsentrasi yang kadang bahkan sering terganggu, dan menjaga emosi saat menata benang mengikuti pola yang sudah ditetapkan. Dan itu tidak semua orang bisa melakukannya.

Saat menghadirkan mereka di rangkaian memori video yang saya buat, hadir rangkaian doa terbaik agar merekaโ€”para penenun muda iniโ€”senantiasa sehat, bugar, konsisten, dan setia menenun. Menghasilkan karya yang indah dan kerap melahirkan decak kagum bagi semua yang menatapnya.

Tetaplah setia berkarya anak-anakku. Kukuhkan hati untuk setia menenun selama mungkin, sepanjang hayat, karena dari tangan-tangan terampil kalianlah, dunia akan semakin mengenal Puta Dino.

Semoga Yang Maha Pemurah melimpahi kalian dengan ribuan kebahagiaan kini dan nanti.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore
Acara pemotongan kain yang diadakan setiap tanggal 15

Untuk mendapatkan rangkaian informasi tentang aktivitas Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, silakan mengunjungi IG @putadinokayangan atau berkunjung ke tautan resmi www.putadinokayangan.com

Menenun Warisan Merajut Harapan.

Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

20 thoughts on “Menghayati Eloknya Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore”

  1. Selalu menarik baca cerita tentang wastra Nusantara, apalagi yang belum banyak dikenal seperti Puta Dino dari Tidore. Bukan cuma soal motif dan keindahannya, tapi ada cerita, identitas, dan proses panjang di balik setiap kainnya. Duh, pengen main lagi ke Tidore, yuk.

    Reply
    • Betul nian Ded. Semoga terwujud untuk menginjakkan kaki lagi di Tidore yo Ded. Aku bae yang sudah berkali-kali datang, selalu kangen untuk main ke sini. La banyak yang sudah berubah sekarang Ded.

  2. Duh, bacanya sambil nelen ludah pas bagian nyantap bolu lapis kenari, lalampa, sama Sayur Lilin ๐Ÿคค Paket komplet banget nih ada wisata budaya, napak tilas sejarah, plus kulineran khas Indonesia Timur hahaa

    Reply
    • Masih banyak cerita tentang Tidore yang “bersemanyam” di bank foto saya Mbak. Pelan-pelan nanti akan saya tuliskan satu persatu. Supaya lebih banyak orang yang kenal Tidore secara lebih dekat.

  3. Salut sekali melihat perjuangan revitalisasi kain Puta Dino yang sempat hampir punah hingga kini menjadi kebanggaan kembali bagi masyarakat Tidore. Semakin salut karena anak-anak muda yang peduli akan hal ini. Ssaya jadi lebih menghargai keindahan dan filosofi di balik setiap lembar wastra Nusantara.

    Reply
    • Semoga para penenun muda ini senantiasa sehat dan terus berkarya ya Myr. Karena di tangan merekalah saat ini warisan budaya tenun itu akan tetap lestari.

  4. Yang belum pernah berkunjung ke Tidore, jadi merasakan ikut menghayati tjantiknya wastra asli Tidore lewat tulisan dan foto2 Mba Annie. Terkagum-kagum dengan kreativitas tenun di Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, hasil kerajinan tenunnya wow banget.
    Kebayang betapa betahnya juga bisa menginap di sana. Sukses terus untuk penggiat tenun di Tidore.

    Reply
  5. Menikmati banget ulasannya mbak Anie. Sadar betul Indonesia itu kaya akan kekhasannya ya. Dari Puta Dino aku jadi tahu, kalau ada kain tenun khas yang dipelihara dari tahun ke tahun. Sebagai bentuk karya nusantara yang wajib dijaga. Hangat sekali ceritanya. Btw, lama nggak berkunjung ke blog Mbak Annie, ada banyak yang baru…he

    Reply
    • Halo Mbak Windi. Sudah lama tak menyapa secara on-line ya. Alhamdulillah saya beruntung bisa berulang kali bertandang ke Tidore dan menyajikan pengalaman itu di sini.

      Mbak Windi, keep writing dan blog walking ya. Saling up date.

  6. Aku membayangkan betapa rumitnya proses menenun yang dilakukan oleh mereka, sampai kemudian ikut dalam proses potong kain.

    Kelestarian wastra nusantara asli begini memang harus diupayakan. Kalau nggak, sayang banget kalau harus hilang ditelan zaman.

    Reply
  7. Asik bener sih ini Rumah Tenun buka layanan sewa kamar juga ๐Ÿ˜.
    Jadinya biji betah buat para pecinta wastra melihat aneka hasil kerajinan dan juga kain tenun. Tapi keknya kalau bisa pas ke sana bawa bujet yang lebihan ya Bu Annie, soalnya biar ga melewatkan koleksi apik dan belum tentu ada kesempatan lagi itu kain tenun masih ada, bisa jadi udah ada yang beli duluan hehe

    Reply
  8. Selain salut dengan gaya liputan Ayuk yang mengalir seolah kita ikutan mengunjungi, saya salut banget sama para penenun muda yang mau melanjutkan melestarikan salah satu kekayaan kebudayaan Nusantara ini.

    Motif kain Puta Dino cantikkk banget

    Reply
  9. aduh ngiri banget Mbak Annie bisa ke Tidore, salah satu destinasi yang saya impikan. Karena selama ini kaya katak dalam tempurung, cuma tau Jabar, khususnya Bandung, hiks

    malah sahabatan dengan Anita pemilik Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, sehingga bisa mencium aroma dan merasakan jiwa suku Tidore yang sesungguhnya.

    Andai Indonesia punya banyak sosok seperti Anita ya?

    Reply
  10. Asli, narasi perjalanannya selalu sukses bikin yang baca ikut larut dalam suasananya!

    Kebayang banyak hal seketika deh gw.. mulai dari pengen punya koleksi wastranya, pengen ke kotanya, pengen tiduran di penginapannya yang estetik….

    Kebayang banget hangatnya keramahan di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan ini, apalagi pas dikau cerita tentang keasrian galerinya yang pakai display bambu totol dan deretan ATBM-nya. Senang banget melihat warisan budaya yang sekian lama tertidur bisa kembali berkibar indah bahkan di tangan generasi muda Tidore. Travel writing khas Annie style memang nggak pernah gagal ngasih wawasan baru yang bikin bangga sama kekayaan Nusantara. Ditunggu cerita kisah inspiratif selanjutnya ya, An!

    Reply
  11. Dari opening ceritanya pun, aku serasa diajak explore langsung lho. Salut banget sama leading nya.

    Makanan yang lezat, sedap, nikmat, di tempat yang sangat indah mempesona. Jiwa kreatif seolah berkumpul di Wastra Asli Tidore di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore. Jujur, aku suka banget sama pakaian yang di potret, aksesoris dan kain tenun nya ๐Ÿคฉ selalu salut sama wastra Nusantara. Apalagi owner mikirin banyak hal untuk keberlanjutan bisnis. Bukan untuk diri sendiri tetapi buat para penenun, salut, mulai hatinya.

    Reply
  12. Cantiknya wastra Tidore ini ya. Kepengen deh aku pakai dan punya rok dengan motif wastra Tidore ini. Dan aduuuh…. alam Tidore juga gak kalah indah dengan bagian lain dari nusantara yang selama ini terkenal ya. Aamiin… semoga bisa berkesempatan kayak Mbak Annie juga. Bisa menjejakkan kaki di tanah Tidore. Tanah indah yang kaya yang selama ini cuma kukenal dari buku sejarah. :)

    Reply

Leave a Comment